Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Strategi Komunikasi dalam Membangun Awareness Wisata Halal di Kota Bandung Soraya Ratna Pratiwi; Susanne Dida; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.024 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i1.12985

Abstract

Wisata halal saat ini menjadi fenomena baru dalam dunia pariwisata dan mulai dikembangkan di beberapa negara. Wisata halal merupakan wisata yang pada pelaksanaannya mengacu pada syariat Islam, baik akomodasi, atraksi, dan objek wisata itu sendiri. Di Kota Bandung, wisata halal belum banyak dikenal dan masih pada tahap persiapan pengembangan, sehingga perhatian dan kepedulian terhadap wisata halal di kota ini masih belum terbangun. Dalam menangani masalah tersebut, diperlukan sebuah strategi komunikasi untuk membangun perhatian dan kepedulian di kalangan para pemangku kepentingan termasuk masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi komunikasi dalam rangka membangun perhatian dan kepedulian para pemangku kepentingan termasuk masyarakat terhadap pengembangan wisata halal di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan teori Konstruksi Sosial Atas Realita yang dicetuskan oleh Burger dan Luckmann. Penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus instrumental tunggal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisata halal di Kota Bandung dikembangkan melalui dukungan dari berbagai lintas lembaga, yang disebut strategi penta helix. Strategi komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dalam mempersiapkan Kota Bandung sebagai destinasi wisata halal dengan melakukan sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) kepada SKPD terkait. Selain Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, beberapa lembaga lain seperti Enhaii Halal Tourism Center (EHTC) dan Salman Halal Center melakukan awareness building kepada para pemangku kepentingan dan juga masyarakat. Diperlukan strategi komunikasi yang lebih kompleks untuk mengkomunikasikan wisata halal kepada stakeholders dan juga masyarakat.
Makna Simbol Budaya Lokal Bagi Komunitas Tanah Aksara Dhita Prasanti; Nuryah Asri Sjafirah
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 11 No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.687 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v11i2.1366

Abstract

In this modern era, as culture evolves into a popular culture mixed with western culture, there is still a community that wants to maintain the tradition of local cultural heritage, in the field of literacy. This is also reflected in a study that will raise researchers this time. The community is called “Tanah Aksara”. Researchers raised research on the Meaning of Local Culture Symbol for “Tanah Aksara” Community in Bandung. “Tanah Aksara” has its own characteristic in Bandung, which upholds the cultural heritage of the local script. They have peculiarities that characterize their identity through the attributes of clothing or other symbols that characterize the main individual in the “Tanah Aksara” community. In this study, researchers used a qualitative approach with qualitative descriptive method. Data collection techniques used were interviews, observation and documentation. Data analysis techniques used are observation persistence, data triangulation, and referential adequacy. Researchers use communication theory to analyze this research is the theory of symbolic interaction. The results of research that has been done by the researcher shows that the meaning of local culture for the Tanah Aksara community include: (1) Symbol as the formation of identity for the Tanah Aksara community; (2) Symbols as preservation of local traditions and cultures for Tanah Aksara communities; (3) Symbols as preservation of the script of the archipelago; (4) Symbols as symbols of ancestral heritage/ ancestors; (5) Symbols as an encouragement of social activities.
Pemahaman petugas kehumasan Kementerian Dalam Negeri tentang peran Humas Pemerintah Anwar Sani; Mien Hidayat; Nuryah Asri Sjafirah
PRofesi Humas Vol 4, No 2 (2020): PRofesi Humas Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 10/E/KPT/2019
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.047 KB) | DOI: 10.24198/prh.v4i2.23528

Abstract

Pelaksanaan tugas pokok Pemerintah yakni Pelayanan, pemberdayaan dan pembangunan yang dilakukan pada masyarakat berusaha dioptimalkan melalui berbabagi revitalisasi salah satunya adalah dengan membuat Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13/2011 dimana dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa Humas Pemerintah termasuk Humas Kemendagri berperan sebagai tempat komunikasi Pemerintah kepada masyarakatnya sekaligus menjalankan peran Pemerintah untuk memberikan informasi yang transparan sesuai dengan tuntutan publik. Lahirnya Permendagri 13/2011 menuntut Kemendagri untuk melakukan pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia yang menempati posisi di lembaga Kehumasan di lingkungannya termasuk pmenanamkan pemahaman peran Humas Pemerintah pada tenaga Humas di Kementrian Dalam Negeri. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Pemahaman petugas kehumasan Kementerian Dalam Negeri tentang peran Humas Pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang tergolong sebagai satu objek (single case study) dengan penentuan key informan yakni purposif. Hasil dan pembahasan dari penelitian ini diketahui bahwa pemahaman petugas kehumasan Kementerian Dalam Negeri tentang peran Humas Pemerintah adalah sebagai berikut: 1) Menciptakan goodwill; 2) Menjaga hubungan baik dengan Stakeholder; 3) Membangun pemahaman masyarakat tentang kebijakan Pemerintah; dan 4) Membangun kepercayaan (trust) masyarakat terhadap sebuah pemerintahan. Simpulan dan saran dari penelitian ini adalah Humas Pemerintah Kemendagri telah menyadari pentingnya peran Humas dalam sebuah lembaga Pemerintahan dan perlu dilakukan revitalisasi untuk mengoptimalkan peranannya. Sebaiknya Humas Pemerintah Kemendagri melakukan revitalisasi berupa penempatan SDM yang berlatarbelakang Humas dalam struktur Humas Pemerintah, dilakukan inovasi dalam mengoptimalkan peran Humas.
STUDI KASUS PERGULATAN PEREMPUAN SELAKU LEGISLATOR ACEH DI PANGGUNG POLITIK PASCA ORDE BARU Ainol Mardhiah; Dadang Rahmat Hidayat; Agus Rahmat; Nuryah Asri Sjafirah
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2021): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 36/E/KPT/2019
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v7i1.1978

Abstract

Hasrat menjadi legislator bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba pada diri seorang perempuan, namun semuanya melalui proses pemikiran yang matang, Keinginan yang kuat dari dalam diri, memiliki kompetensi komunikasi politik yang baik dan baru menentukan pilihan dalam mengisi ruang publik. Selama ini politik diidentikkan dengan dunianya laki-laki, karenanya butuh motivasi yang kuat dari dalam diri calon legislator perempuan untuk mengisi ruang ini dan diperkuat dengan motivasi dari luar dirinya, ini yang kemudian akan membuat legislator perempuan akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Adapun Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Fenomenologi. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus, kajian ini bermaksud untuk mendeskripsikan motivasi perempuan Aceh hadir di ruang publik dengan menjadi seorang legislator di dalam parlemen lokal Aceh. Hasil kajian menyimpulkan bahwa: 1). Ada dua motivasi yang mendorong perempuan Aceh untuk hadir dalam ruang politik dengan menjadi anggota legislatif dalam parlemen Aceh, yaitu motivasi interen dan motivasi ekstern. 2) motivasi interen itu adalah rasa empati,  kesadaran pada perempuan akan pentingnya kehadiran mereka dalam politik dan pengalaman organisasi. 3). Motivasi eksteren itu adalah; motivasi emosional, motivasi sosial, motivasi agama, motivasi politik dan motivasi ekonomi.  
PELATIHAN PRESS RELEASE BAGI KOMUNITAS PENDUKUNG PROGRAM CITARUM HARUM DI KABUPATEN BANDUNG Yanti Setianti; Nuryah Asri Sjafirah; Diah Fatma Sjoraida; Heru Ryanto Budiana; Achmad Abdul Basith
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 8: Januari 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v1i8.965

Abstract

Banyak Banyak sekali informasi seputar kegiatan organisasi yang dapat dijadikan sebagai sumber berita untuk dibuatkan menjadi sebuah press release yang bisa dikirim ke media massa. Pelatihan penulisan press release yang berbasiskan pada realitas kegiatan komunitas citarum harum yang berguna bagi publikasi organisasi, dengan metode ceramah dan diskusi. Pelatihan penulisan Press Release dengan sumber nya dari perkembangan kegiatan komunitas Citarum harum di Kabupaten Bandung menjadi sangat urgen dilaksanakan dan dibutuhkan. Pelatihan penulisan press release dalam upaya menyebarluaskan informasi publik tentang program citarum harum dapat menumbuhkan minat dan motivasi para peserta khususnya dalam menulis naskah berita yang disertai foto-foto kegiatan. Hal ini terlihat dari sikap antusias para peserta pelatihan ketika mengikuti pelatihan berupa ide-ide tulisan mereka yang kaya dan bervariasi, serta keinginan untuk menulis sebuah press release di media massa. Pelatihan penulisan naskah berita dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta dalam menulis naskah berita.
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK ANGGOTA LEGISLATIF PEREMPUAN DI TINGKAT KOMISI PADA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH Ainol Mardhiah; Dadang Rahmat Hidayat; Agus Rahmat; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Komunikasi dan Budaya Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Komunikasi dan Budaya
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.818 KB) | DOI: 10.54895/jkb.v1i1.307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai strategi komunikasi yang dilakukan legislator perempuan di dalam komisi. Kehadiran legislator perempuan dengan jumlah yang sedikit (12 orang) dari 81 Kursi membuat legislator perempuan yang duduk di dalam komisi tidak merata di dalam Alat Kelengkapan Dewan di DPRA, membuat legislator perempuan tidak mampu berkiprah banyak dalam komisi, apalagi ditambah dengan tidak adanya legislator perempuan di dalam komisi yang terkait dengan perempuan dan anak dalam komisi F (Kesehatan dan Kesejahteraan). Penelitian ini menggunakan Teori Interaksi simbolik. Penelitian ini menggunakan Metode kualitatif diskriptif, kajian ini bermaksud untuk mendeskripsikan strategi komunikasi politik anggota legislatif perempuan di dalam parlemen Aceh di tingkat komisi. legislator perempuan dalam menjalankan strategi komunikasinya menyesuaikan dengan visi fraksi dan dapilnya, mereka memiliki strategi komunikasi sendiri dalam membangun komunikasi yang baik dengan sesama anggota komisinya dan juga dengan anggota komisi yang lain, mereka mampu berkomunikasi dengan baik dengan anggota legislatif yang lain juga dengan konstituennya. Sehingga komunikasi politik yang terjadi di dalam komisi berlangsung komunikatif, dialogis, komunikasi berlangsung dengan semi formil, lobbi dan negosiasi kuat, keordinasi berlangsung baik, kompetensi komunikasi legislator perempuan baik, aktif dalam memberikan argumentasi, komunikasi yang terjadi dinamis dan humanis, secara personal antar anggota komisi dekan namun secara profesioanal mereka membawa panji partai masing-masing, pola komunikasi yang terjadi di dalam komisi yaitu antarpribadi, kelompok dan komunikasi organisasi.
Women writers’ profiles of Soenting Melajoe Newspaper (1912-1921) Maimon Herawati; Siti Karlinah; Herlina Agustin; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v10i2.41934

Abstract

Soenting Melajoe Newspaper (1912-1921) was Indonesia’s first indigenous women’s newspaper during the Dutch colonial period. Its readers considered this newspaper as a command in the women’s movement in the Minangkabau society. Editors were deemed as generals, readers as soldiers. The articles in Soenting Melajoe were submitted by women from various regions. The newspaper became a means of exchanging ideas and debating between women, moderated by female editors; Rohana Kudus and Ratna Juwita. This writing constructed the profile of writers based on their writings in Soenting Melajoe. The theory used in this research was the feminist communication theory, focusing on the revalorism aspect of it. This research employed a historical method. Data collection was done through literature study. The subjects of this research are the writings of Indonesian women in Soenting Melajoe. The female writers of Soenting Melajoe came from the administrative center of the Hindia Dutch, port cities, and coffee warehouse regions. Most backgrounds of the writers of Soenting Melajoe were from families of Dutch employees, families managing educational institutions, and families of tribal leaders. Some of the writers of Soenting Melajoe learned to read and write at school. Others studied with family members. Further research can be done on the life of these female writer pioneers and the connection between ideas in Soenting Melajoe and other colonial newspapers.
Bahasa Minang Pondok dalam Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Tionghoa Kota Padang Riniwaty Makmur; Engkus Kuswarno; Evi Novianti; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.516 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i2.15302

Abstract

Etnik Tionghoa telah ada di Indonesia selama ratusan tahun, tetapi menghadapi beragam permasalahan dalam penerimaan mereka sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Di sisi lain, adaptasi masyarakat etnik Tionghoa di tiap-tiap daerah di Indonesia, memiliki lokalitasnya masing-masing, seperti di Kota Padang dengan evolusi Bahasa Minang Pondok; yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan menggambarkan faktor-faktor pendorong terjadinya fenomena Bahasa Minang Pondok di Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat; dan pola pergeserannya dari bahasa asal, yakni Bahasa Minang. Bahasa Minang Pondok merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Padang, dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Bahasa Minang sebenarnya merupakan bahasa dari etnik Minang, kelompok mayoritas di Kota Padang. Penelitian ini merupakan bagian dari sebuah penelitian besar yang menggunakan pendekatan kualitatif/konstruktivis dan metode studi kasus. Pengumpulan data berlangsung secara intermiten/berjeda pada Januari 2016 hingga Juni 2017, melalui observasi di daerah Kampung Pondok/pecinan Kota Padang, wawancara dengan 39 orang informan etnik Tionghoa dan Minang, dan studi literatur. Komunikasi antarbudaya mengenai adaptasi kelompok minoritas, teori kelompok dan batasan etnik dari Frederik Barth, dan Hipotesis Sapir-Whorf, menjadi pijakan teoretis dalam analisis. Penelitian menyimpulkan bahwa Bahasa Minang Pondok terbentuk sebagai produk/hasil penyesuaian masyarakat Tionghoa terhadap etnik mayoritas Minang di Kota Padang agar mendapatkan pemahaman yang sama/komunikasi yang efektif. Bahasa Minang Pondok dicirikan oleh dialek Tionghoa; dengan menghilangkan beberapa cengkok yang ada pada pengucapan/lafal dalam Bahasa Minang. Pola pergeseran dari Bahasa Minang ke Bahasa Minang Pondok terjadi pada aspek fonologis (suara) dan morfologis (bentuk).
PENGALAMAN KOMUNIKASI PELAKU BISNIS KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN BISNIS KULINER DI KOTA SUKABUMI Rima Nurani Sukma; Suwandi Sumartias; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.112 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i1.7853

Abstract

Keluarga sebagai sistem lebih bersifat emosional, karena disatukan oleh ikatan mendalam yang mempengaruhinya dalam berbisnis. Komunikasi bisnis keluarga memiliki hubungan yang erat dengan pertentangan, perbedaan serta penolakan pendapat atau ide, ketidakpercayaan antara sesama anggota, bahkan memicu konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Penentuan sumber data penelitian, menggunakan teknik purposive dengan 5 informan yang mengelola bisnis keluarga dibidang kuliner yang telah berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif-motif yang mendorong pelaku melakukan bisnis keluarga, mendeskripsikan makna komunikasi bisnis keluarga serta mendeskripsikan aktivitas komunikasi bisnis yang dilakukan oleh pelaku bisnis keluarga dalam menjalankan bisnis kulinernya. Hasil penelitian ini adalah motif yang mendorong pelaku untuk melakukan bisnis keluarga diantaranya: motif kepatuhan (obedience motive), motif aktualisasi diri (self actualization motive), motif ekonomi (economic motive) dan motif bakat (aptitude motive). Makna komunikasi bisnis keluarga bagi pelaku adalah sebuah tantangan dan kepatuhan. Makna yang dikonstruksi tersebut, dapat dinetralisir dengan melakukan obrolan ringan, pertemuan bisnis keluarga, rapat keluarga yang dapat menghasilkan beberapa point, seperti pengambilan keputusan yang dapat dilakukan secara diskusi dan professional, melakukan pelaporan kegiatan bisnis, dan pemecahan dari perbedaan pendapat bahkan konflik. Aktivitas Komunikasi pelaku bisnis keluarga mencakup promosi, membangun hubungan dengan karyawan, supliyer dan memfasilitasi pelanggan restoran dengan acara karaoke, happy hours, nonton bareng, serta membina hubungan dengan partner bisnis dengan membangun perjanjian kerjasama pembukaan cabang baru. DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.3 
Analisis Jejaring Sosial Peran Pers dalam Penyebaran Informasi Terkait Kebijakan PPKM Putri Nur Aisyah; Gema Nusantara Bakry; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Komunikasi Global Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.848 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v11i1.24555

Abstract

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat pandemi dilakukan untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Efektivitas aturan pemerintah ini perlu diimbangi dengan pemberitaan pers yang masif untuk memberikan edukasi dan mitigasi kepada masyarakat terkait pembatasan aturan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pers dalam mendistribusikan informasi kebijakan PPKM di Twitter. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Network Analysis (SNA) dengan plug in Twitter Streaming Developer untuk melakukan penambangan teks terkait dengan aturan PPKM. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peran pers dalam jaringan sosial PPKM di Twitter adalah sebagai penyebar informasi. Hal ini ditunjukkan dari hasil nilai sentralitas yang didapatkan yaitu degree centrality, closeness centrality, betweenness centrality dan eigenvector centrality. Aktor pers yang memiliki nilai popularitas paling tinggi pada jaringan sosial PPKM ini adalah @detikom diikuti oleh @cnnindonesia, @asumsico, @nuicemedia, dan @kumparan. Pola relasi yang terbentuk adalah pola komunikasi roda asimetris yang sangat efektif untuk penyebaran informasi. Penelitian ini menemukan bahwa pers dalam penyebaran informasinya disarankan untuk lebih peduli dalam mencari sudut pandang dan judul yang akan diberikan di media sosial karena jumlah followers tidak mempengaruhi penyebaran informasi di Twitter. The implementation of Community Activity Restrictions (PPKM) during a pandemic was implemented to control the spread of COVID-19. The effectiveness of this government regulation needs to be balanced with massive press coverage to provide education and mitigation to the public regarding the restrictions on the rule. This study aims to find out how the role of the press in distributing policy information on PPKM on Twitter. The research method used in this research was Social Network Analysis (SNA) with the Twitter Streaming Developer plug-in to perform text mining related to PPKM rules. The results showed that the role of the press in the PPKM social network on Twitter was as a disseminator of information. This was shown from the centrality values obtained, namely degree centrality, closeness centrality, betweenness centrality, and eigenvector centrality. The press actor with the highest popularity value on the PPKM social network was @ detikom followed by @cnnindonesia, @asumsico, @nuicemedia, and @kumparan. The relationship pattern was an asymmetric wheel that was very effective for information dissemination. This study found that the press, in disseminating information, is advised to be more concerned about finding the point of view and titles given on social media because the number of followers does not affect the dissemination of information on Twitter.