Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Women writers’ profiles of Soenting Melajoe Newspaper (1912-1921) Maimon Herawati; Siti Karlinah; Herlina Agustin; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v10i2.41934

Abstract

Soenting Melajoe Newspaper (1912-1921) was Indonesia’s first indigenous women’s newspaper during the Dutch colonial period. Its readers considered this newspaper as a command in the women’s movement in the Minangkabau society. Editors were deemed as generals, readers as soldiers. The articles in Soenting Melajoe were submitted by women from various regions. The newspaper became a means of exchanging ideas and debating between women, moderated by female editors; Rohana Kudus and Ratna Juwita. This writing constructed the profile of writers based on their writings in Soenting Melajoe. The theory used in this research was the feminist communication theory, focusing on the revalorism aspect of it. This research employed a historical method. Data collection was done through literature study. The subjects of this research are the writings of Indonesian women in Soenting Melajoe. The female writers of Soenting Melajoe came from the administrative center of the Hindia Dutch, port cities, and coffee warehouse regions. Most backgrounds of the writers of Soenting Melajoe were from families of Dutch employees, families managing educational institutions, and families of tribal leaders. Some of the writers of Soenting Melajoe learned to read and write at school. Others studied with family members. Further research can be done on the life of these female writer pioneers and the connection between ideas in Soenting Melajoe and other colonial newspapers.
Bahasa Minang Pondok dalam Komunikasi Antarbudaya Masyarakat Tionghoa Kota Padang Riniwaty Makmur; Engkus Kuswarno; Evi Novianti; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 6, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.516 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v6i2.15302

Abstract

Etnik Tionghoa telah ada di Indonesia selama ratusan tahun, tetapi menghadapi beragam permasalahan dalam penerimaan mereka sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Di sisi lain, adaptasi masyarakat etnik Tionghoa di tiap-tiap daerah di Indonesia, memiliki lokalitasnya masing-masing, seperti di Kota Padang dengan evolusi Bahasa Minang Pondok; yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan menggambarkan faktor-faktor pendorong terjadinya fenomena Bahasa Minang Pondok di Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat; dan pola pergeserannya dari bahasa asal, yakni Bahasa Minang. Bahasa Minang Pondok merupakan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa di Padang, dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Bahasa Minang sebenarnya merupakan bahasa dari etnik Minang, kelompok mayoritas di Kota Padang. Penelitian ini merupakan bagian dari sebuah penelitian besar yang menggunakan pendekatan kualitatif/konstruktivis dan metode studi kasus. Pengumpulan data berlangsung secara intermiten/berjeda pada Januari 2016 hingga Juni 2017, melalui observasi di daerah Kampung Pondok/pecinan Kota Padang, wawancara dengan 39 orang informan etnik Tionghoa dan Minang, dan studi literatur. Komunikasi antarbudaya mengenai adaptasi kelompok minoritas, teori kelompok dan batasan etnik dari Frederik Barth, dan Hipotesis Sapir-Whorf, menjadi pijakan teoretis dalam analisis. Penelitian menyimpulkan bahwa Bahasa Minang Pondok terbentuk sebagai produk/hasil penyesuaian masyarakat Tionghoa terhadap etnik mayoritas Minang di Kota Padang agar mendapatkan pemahaman yang sama/komunikasi yang efektif. Bahasa Minang Pondok dicirikan oleh dialek Tionghoa; dengan menghilangkan beberapa cengkok yang ada pada pengucapan/lafal dalam Bahasa Minang. Pola pergeseran dari Bahasa Minang ke Bahasa Minang Pondok terjadi pada aspek fonologis (suara) dan morfologis (bentuk).
PENGALAMAN KOMUNIKASI PELAKU BISNIS KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN BISNIS KULINER DI KOTA SUKABUMI Rima Nurani Sukma; Suwandi Sumartias; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.112 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i1.7853

Abstract

Keluarga sebagai sistem lebih bersifat emosional, karena disatukan oleh ikatan mendalam yang mempengaruhinya dalam berbisnis. Komunikasi bisnis keluarga memiliki hubungan yang erat dengan pertentangan, perbedaan serta penolakan pendapat atau ide, ketidakpercayaan antara sesama anggota, bahkan memicu konflik. Penelitian ini menggunakan pendekatan jenis penelitian kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Penentuan sumber data penelitian, menggunakan teknik purposive dengan 5 informan yang mengelola bisnis keluarga dibidang kuliner yang telah berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif-motif yang mendorong pelaku melakukan bisnis keluarga, mendeskripsikan makna komunikasi bisnis keluarga serta mendeskripsikan aktivitas komunikasi bisnis yang dilakukan oleh pelaku bisnis keluarga dalam menjalankan bisnis kulinernya. Hasil penelitian ini adalah motif yang mendorong pelaku untuk melakukan bisnis keluarga diantaranya: motif kepatuhan (obedience motive), motif aktualisasi diri (self actualization motive), motif ekonomi (economic motive) dan motif bakat (aptitude motive). Makna komunikasi bisnis keluarga bagi pelaku adalah sebuah tantangan dan kepatuhan. Makna yang dikonstruksi tersebut, dapat dinetralisir dengan melakukan obrolan ringan, pertemuan bisnis keluarga, rapat keluarga yang dapat menghasilkan beberapa point, seperti pengambilan keputusan yang dapat dilakukan secara diskusi dan professional, melakukan pelaporan kegiatan bisnis, dan pemecahan dari perbedaan pendapat bahkan konflik. Aktivitas Komunikasi pelaku bisnis keluarga mencakup promosi, membangun hubungan dengan karyawan, supliyer dan memfasilitasi pelanggan restoran dengan acara karaoke, happy hours, nonton bareng, serta membina hubungan dengan partner bisnis dengan membangun perjanjian kerjasama pembukaan cabang baru. DOI: 10.24198/jkk.vol4n1.3 
Analisis Jejaring Sosial Peran Pers dalam Penyebaran Informasi Terkait Kebijakan PPKM Putri Nur Aisyah; Gema Nusantara Bakry; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Komunikasi Global Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.848 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v11i1.24555

Abstract

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat pandemi dilakukan untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Efektivitas aturan pemerintah ini perlu diimbangi dengan pemberitaan pers yang masif untuk memberikan edukasi dan mitigasi kepada masyarakat terkait pembatasan aturan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pers dalam mendistribusikan informasi kebijakan PPKM di Twitter. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Social Network Analysis (SNA) dengan plug in Twitter Streaming Developer untuk melakukan penambangan teks terkait dengan aturan PPKM. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peran pers dalam jaringan sosial PPKM di Twitter adalah sebagai penyebar informasi. Hal ini ditunjukkan dari hasil nilai sentralitas yang didapatkan yaitu degree centrality, closeness centrality, betweenness centrality dan eigenvector centrality. Aktor pers yang memiliki nilai popularitas paling tinggi pada jaringan sosial PPKM ini adalah @detikom diikuti oleh @cnnindonesia, @asumsico, @nuicemedia, dan @kumparan. Pola relasi yang terbentuk adalah pola komunikasi roda asimetris yang sangat efektif untuk penyebaran informasi. Penelitian ini menemukan bahwa pers dalam penyebaran informasinya disarankan untuk lebih peduli dalam mencari sudut pandang dan judul yang akan diberikan di media sosial karena jumlah followers tidak mempengaruhi penyebaran informasi di Twitter. The implementation of Community Activity Restrictions (PPKM) during a pandemic was implemented to control the spread of COVID-19. The effectiveness of this government regulation needs to be balanced with massive press coverage to provide education and mitigation to the public regarding the restrictions on the rule. This study aims to find out how the role of the press in distributing policy information on PPKM on Twitter. The research method used in this research was Social Network Analysis (SNA) with the Twitter Streaming Developer plug-in to perform text mining related to PPKM rules. The results showed that the role of the press in the PPKM social network on Twitter was as a disseminator of information. This was shown from the centrality values obtained, namely degree centrality, closeness centrality, betweenness centrality, and eigenvector centrality. The press actor with the highest popularity value on the PPKM social network was @ detikom followed by @cnnindonesia, @asumsico, @nuicemedia, and @kumparan. The relationship pattern was an asymmetric wheel that was very effective for information dissemination. This study found that the press, in disseminating information, is advised to be more concerned about finding the point of view and titles given on social media because the number of followers does not affect the dissemination of information on Twitter.
POTENSI DAN PELUANG RADIO KOMUNITAS DI JAWA BARAT Dian Wardiana Sjuchro; Agus Rusmana; Nuryah Asri Sjafirah; Nadhifa Viannisa
Metacommunication: Journal of Communication Studies Vol 8, No 2 (2023): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/mc.v8i2.17155

Abstract

Kehadiran radio komunitas yang tidak lepas dari semangat demokratisasi berfungsi sebagai media informasi juga bertujuan untuk mengajak komunitas dalam meningkatkan daya saing, partisipasi aktif dalam penyelesaian masalah, serta menjaga dan merawat kearifan lokal yang ada di daerahnya. Namun di era digitalisasi dengan kecanggihan teknologi seperti saat ini menjadikan peran dan keberadaan radio komunitas semakin tersisihkan. Hadirnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta rancangan Peraturan Pemerintah Pos, Telekomunikasi, dan Penyiaran semakin membuat eksistensi radio komunitas terkikis. Penelitian ini menjadi penting untuk dikaji karena ketersisihan radio komunitas saat ini harusnya di dukung oleh pihak Pemerintah dengan aturan-aturan yang dapat melindungi dan memberikan manfaat bagi keberlangsungan radio komunitas. Penelitian ini ingin membuktikan bahwa radio komunitas masih banyak diminati oleh masyarakat pedesaan sebagai sumber mendapatkan informasi, hiburan, memberi banyak manfaat bagi individu maupun kelompok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam menentukan informan, peneliti memilih radio komunitas sebagai perwakilan dari: Pass FM Kabupaten Bandung, Rasi Garut, Abilawa Tasikmalaya, Kujang Sumedang, dan Sportif FM Cirebon. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa radio komunitas di wilayah Jawa Barat memiliki banyak potensi dan peluang bagi masyarakat sekitarnya, radio komunitas yang sudah diteliti di wilayah yang telah dipilih peneliti berfungsi sebagai sarana pendidikan dan peningkatan standar hidup, berbagi informasi, administrasi pedesaan, mempromosikan budaya dan hiburan, serta kohesi atau perekat sosial. Dengan kata lain, radio komunitas memiliki potensi dan peluang untuk memberikan manfaat pada masyarakat sekitarnya. Perkembangan radio komunitas harus di dukung oleh pihak Pemerintah lewat regulasi yang dapat melindungi keberlangsungan radio komunitas.
STRATEGI KOMUNIKASI POLITIK ANGGOTA LEGISLATIF PEREMPUAN DI TINGKAT KOMISI PADA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT ACEH Ainol Mardhiah; Dadang Rahmat Hidayat; Agus Rahmat; Nuryah Asri Sjafirah
Jurnal Komunikasi dan Budaya Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Komunikasi dan Budaya
Publisher : Universitas Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54895/jkb.v1i1.307

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai strategi komunikasi yang dilakukan legislator perempuan di dalam komisi. Kehadiran legislator perempuan dengan jumlah yang sedikit (12 orang) dari 81 Kursi membuat legislator perempuan yang duduk di dalam komisi tidak merata di dalam Alat Kelengkapan Dewan di DPRA, membuat legislator perempuan tidak mampu berkiprah banyak dalam komisi, apalagi ditambah dengan tidak adanya legislator perempuan di dalam komisi yang terkait dengan perempuan dan anak dalam komisi F (Kesehatan dan Kesejahteraan). Penelitian ini menggunakan Teori Interaksi simbolik. Penelitian ini menggunakan Metode kualitatif diskriptif, kajian ini bermaksud untuk mendeskripsikan strategi komunikasi politik anggota legislatif perempuan di dalam parlemen Aceh di tingkat komisi. legislator perempuan dalam menjalankan strategi komunikasinya menyesuaikan dengan visi fraksi dan dapilnya, mereka memiliki strategi komunikasi sendiri dalam membangun komunikasi yang baik dengan sesama anggota komisinya dan juga dengan anggota komisi yang lain, mereka mampu berkomunikasi dengan baik dengan anggota legislatif yang lain juga dengan konstituennya. Sehingga komunikasi politik yang terjadi di dalam komisi berlangsung komunikatif, dialogis, komunikasi berlangsung dengan semi formil, lobbi dan negosiasi kuat, keordinasi berlangsung baik, kompetensi komunikasi legislator perempuan baik, aktif dalam memberikan argumentasi, komunikasi yang terjadi dinamis dan humanis, secara personal antar anggota komisi dekan namun secara profesioanal mereka membawa panji partai masing-masing, pola komunikasi yang terjadi di dalam komisi yaitu antarpribadi, kelompok dan komunikasi organisasi.
Local wisdom-based tourism development and communication strategy in Sayang Heulang beach Nuryah Asri Sjafirah; Achmad Abdul Basith; Efi Fadilah; Dian Wardiana Sjuchro; Isni Nurfauzia; Nadhifa Viannisa
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v8i1.7321

Abstract

Sayang Heulang Beach, a tourism destination on the southern coast of Garut Regency, holds a significant intangible cultural heritage encompassing the local wisdom of Mancagahar Village, Pameungpeuk Sub-District, and Garut in general. This research explored communication and promotional strategies for the development of Sayang Heulang Beach, using a qualitative approach based on its local wisdom. By conducting interviews with seven informants and validity data using the triangulation technique with Focus Group Discussion (FGD), the study revealed that the destination fulfilled the requirements of nature-based tourism, offering authenticity, uniqueness, locality, and an immersive cultural experience among the community. However, there were areas for improvement. The local wisdom from cultural, historical, and mythical perspectives was still in the exploration process, and budget limitations resulted in the absence of thorough target market identification. Moreover, communication messages and promotions did not address tourists' fundamental needs regarding functionality, symbolism, and memorable experiences.
Visual Representation of Election News Reporting on Kompas.id Infographics: A Social Semiotic Analysis Based on Kress and Van Leeuwen Kharina Putri Rosdiana; Nuryah Asri Sjafirah; Achmad Abdul Basith
CONVERSE Journal Communication Science Vol. 3 No. 2 (2026): October
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/converse.v3i2.6289

Abstract

The use of news visualization through infographics in online media has become increasingly important in simplifying the complexity of political data related to general elections. This study aims to analyze the representation of messages, interactions, and visual composition in the infographic series of the 2024 Election published by Kompas.id. This research employs a descriptive qualitative method within a constructivist paradigm using the Social Semiotics approach developed by Gunther Kress and Theo Van Leeuwen. The data consist of five infographics from the 2024 Election series published on Kompas.id and were collected through documentation studies and visual observation. The results and discussion show that Kompas.id applies mixed visual strategies in presenting election information. In the conceptual metafunction, the identity of political officials is constructed in a formal and authoritative manner through an inclusive analytical structure and the equal positioning of political actors with audiences through covert taxonomy. In the narrative metafunction, fluctuations in line graphs are interpreted as storylines that illustrate electoral dynamics, while human contexts are represented through participants’ real actions. In the dimensions of interaction and composition, Kompas.id predominantly employs the offer viewpoint and open framing to create an objective impression of election data. This study contributes to the field of visual communication and digital journalism by demonstrating that infographic-based election reporting can transform abstract political data into informative and educational constructions of political reality.