Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

SUPLEMENTASI EKSTRAK KASAR BONGGOL NANAS (Ananas comosus L) PADA PEMELIHARAAN BENIH IKAN LELE (Clarias sp.) DI KOLAM TANAH GAMBUT Ricky Djauhari; Maryani Maryani; Shinta Sylvia Monalisa; Mohamad Rozik; Ivone Christiana; Matling Matling; Diah Ayu Satyari Utami
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 4 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i4.702

Abstract

Salah satu kendala dalam budidaya ikan lele (Clarias sp.) adalah efisiensi pakan yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan dalam budidaya ikan lele guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan yang berujung pada peningkatan produksi dan profit usaha budidaya ikan lele. Penelitian ini bertujuan bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh dari suplementasi ekstrak kasar bonggol nanas terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele di kolam tanah gambut tergenang. Pada penelitian ini ekstrak kasar bonggol nanas dicampurkan ke dalam pakan dengan dosis 0 (A), 3 (B), 6 (C), dan 9% (D) dengan ulangan tiga kali. Ikan dengan bobot awal 0,63-0,88 g ditebar secara acak pada 12 hapa berukuran 1 x 1 x 1 m3 yang dipasang pada kolam tanah dengan kepadatan 40 ekor/hapa. Ikan diberi pakan uji secara ad satiation dengan frekuensi dua kali sehari selama 14 hari. Suplementasi ekstrak kasar bonggol nanas pada dosis 6% (perlakuan C) menunjukkan hasil yang optimal pada kinerja pertumbuhan ikan lele dibanding perlakuan lainnya. Perlakuan C menghasilkan biomassa akhir (203,33 g), laju pertumbuhan (0,32 g/hari), laju pertumbuhan spesifik (13,69 %/hari), dan tingkat kelangsungan hidup (97,5%) yang lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Suplementasi ekstrak kasar bonggol nanas juga menunjukkan pengaruh positif pada efisiensi pemanfaatan pakan yang ditunjukkan dengan nilai rasio konversi pakan (0,77) yang lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Suplementasi ekstrak kasar bonggol nanas dapat menjadi terobosan baru pada pemeliharaan ikan pada kolam tanah gambut mengingat perannya yang signifikan dalam reduksi stress oksidatif selama pemeliharaan ikan.
Mortality and condition factor of juvenile green catfish (Hemibagrus nemurus c.v) on different bottom substrat Dualantus, .; Djauhari, Ricky
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.746 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.136-139

Abstract

The research was aimed to determine the type of substrate that is suitable for juvenile of green catfish in a container after transportation. This research used completely randomized design with 3 treatments and 3 replications.  Treatments are bottom substrates of white sand, 1 inch piece of  PVC pipes, and pieces of the tree roots submerged in river water. The result of the analysis of survival rate data variability of green catfish juvenile showed no significantly different among treatments. Similar result was also showed in mortality rate that was not affected by substrate type used. Thus, substrates of white sand, 1 inch piece of PVC pipes and tree roots submerged in water provided similar opportunity to green catfish to survive. The range of condition factor obtained was 2.3 to 3.9. That value was in the common range, which means that the weight gain was greater than the length. Keywords: Substrate, juvenile, Hemibagrus nemurus. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis substrat dasar yang paling cocok bagi benih ikan baung dalam wadah penampungan setelah pengangkutan.  Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan.  Perlakuan tersebut berupa  pasir putih,  potongan pipa paralon berdiameter 1 inci dengan panjang 10-15 cm dan potongan akar tanaman yang terendam di air sungai. Hasil analisis keragaman data terhadap sintasan ikan baung menunjukkan tidak ada perbedaan antara perlakuan.  Hasil yang sama juga ditunjukkan pada tingkat mortalitas yang tidak dipengaruhi oleh substrat yang digunakan. Dengan demikian, media substrat dasar pasir putih, potongan pipa paralon 1 inchi dan akar tanaman yang terendam di air sungai  memberikan peluang hidup yang sama terhadap juvenil ikan baung.  Kisaran nilai faktor kondisi (FK) yang diperoleh adalah 2,3-3,9. Nilai tersebut berada dalam kisaran umum, yang berarti bahwa pertambahan bobot lebih besar dibandingkan dengan pertambahan panjang.  Kata Kunci: Substat dasar, benih, Hemibagrus nemurus.
IMPROVING THE REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF SNAKEHEAD FEMALE BROODSTOCK (Channa striata) USING A COMBINATION OF DIET WITH SUPPLEMENT PROBIOTIC EM4 (EFFECTIVE MICROORGANISM-4) AND NONI FRUIT (Morinda citrifolia) Telaumbanua, Tuti Feberiani; Djauhari, Ricky; Yusuf, Noor Syarifuddin
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 3 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i3.1501

Abstract

ABSTRACT One of the main limiting factors in the reproduction of snakehead fish (Channa striata) is that the female broodstock fails to spawn, because they cannot complete the final stages of vitellogenesis and ovulation naturally. Therefore, a breakthrough is needed in snakehead fish hatchery to increase the percentage of female broodstock successfully spawning. The aim of this study was to evaluate the effect of providing fermented products combined with probiotic EM4 (Effective Microorganism-4) and noni fruit in feed on the reproductive performance of female broodstock snakehead fish. This research uses non-factorial experimental methods. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments and three replications, namely treatment A (feed without supplementation of the fermented product with a combination of EM4 probiotics and noni fruit), treatment B (feed with supplementation of the fermented product with a combination of EM4 probiotics and noni fruit at a dose 10%), and treatment C (feed supplemented with fermented products combined with EM4 probiotics and noni fruit at a dose 20%). The results of the research showed that the addition of snakehead female broodstock feed with a fermented product combining EM4 probiotics and noni fruit at a dose of 10% gave the best results, namely an average gonad maturity index (IKG) value of 2.56%, relative fecundity of 3562 eggs per female broodstock, fertilization rate 87.33%, hatching rate 91.67%, and egg yolk absorption time 78 hours, and prolarva survival rate 98.67%. Keywords: female broodstock of Channa striata, noni fruit, reproduction performance, probiotic EM4.
Pertumbuhan Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Yang Diberi Pakan Fermentasi Berbasis Air Kelapa Markhamah, Markhamah; Djauhari, Ricky; Yasin, Muhamad Noor
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 3 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i3.1597

Abstract

Research on fermented feed based on green coconut water combined with molasses and EM4 in the maintenance of tilapia (Oreochromis niloticus) fry in flooded soil ponds has not been conducted until now. Therefore, research using fermented feed needs to be conducted to obtain the right usage technique. This study aims to determine the effective dose of coconut water to improve the growth performance of tilapia fry maintained in soil ponds. This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications. The treatments given in this study consisted of treatment A (Treatment without giving green coconut water, commercial pellet feed 1 kg + 200 mL boiled water + 20 mL molasses + 10 mL EM4 probiotic), B (Treatment commercial pellet feed 1 kg + 150 mL boiled water + 50 mL  coconut water + 20 mL molasses + 10 mL EM4 probiotic), C (Treatment commercial pellet feed 1 kg + 100 mL boiled water + 100 mL coconut water + 20 mL molasses + 10 mL EM4 probiotic), and D (Treatment commercial pellet feed 1 kg + 200 mL coconut water + 20 mL molasses + 10 mL EM4 probiotic). Tilapia seeds measuring 2.66-3.06 g were randomly spread into 12 hapa nets measuring 1x1x1 m3, which were installed in an earthen pond with a stocking number of 30 fish/hapa net. The test fish were kept for 28 days and given test feed with a frequency of 1 time/day. The research parameters consisted of harvest biomass (Bt), daily growth rate (DGR), feed conversion ratio (FCR), feed efficiency (EP), and survival rate (SVR). Providing fermented feed based on green coconut water with the lowest and highest doses did not provide optimum results on the growth of catfish. Optimum results were obtained in treatment B.  
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN LELE (Clarias sp.) DENGAN PADAT TEBAR EKSTREM Djauhari, Ricky; Sylvia Monalisa, Shinta; Rozik, Mohamad; Noor Yasin, Muhamad; Christiana, Ivone; Farhan, Ahmad
JOURNAL OF TROPICAL FISHERIES Vol. 20 No. 1 (2025): Journal of Tropical Fisheries
Publisher : Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (UPR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/jtf.v20i1.19345

Abstract

Intensifikasi budidaya ikan lele dengan kepadatan ekstrem tanpa disertai teknologi akuakultur tepat guna berdampak sangat serius pada kesejahteraan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepadatan ekstrem terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele yang diujikan di jaring hapa pada kolam beton sistem air tergenang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan tingkat kepadatan berbeda, yaitu 100 ekor per m2 (perlakuan A), 200 ekor per m2 (perlakuan B) dan 300 ekor per m2 (perlakuan C), masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pemeliharaan benih ikan lele dilakukan selama 56 hari di dalam jaring hapa berukuran (1x1x1) m3 yang ditempatkan pada kolam beton dengan sistem air tergenang. Selama kegiatan penelitian ikan lele diberi pakan dengan tingkat pemberian pakan 5% dan frekuensi 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Tingkat kepadatan ikan lele 100 ekor per m2 menghasilkan nilai laju pertumbuhan harian individu, pertumbuhan bobot mutlak dan tingkat kelangsungan hidup signifikan lebih tinggi dibandingkan padat tebar 200 dan 300 ekor per m2.
EFFECTS OF FEEDING RATE REDUCTION ON THE GROWTH PERFORMANCE AND FEED UTILIZATION OF PACIFIC WHITE SHRIMP REARED USING BIOFLOC SYSTEM Kusmiatun, Anik; Utami, Diah Ayu Satyari; Firnaeni, Tata; Kaborang, Yasinta Ega; Harijono, Teguh; Tangguda, Sartika; Triyastuti, Meilya Suzan; Djauhari, Ricky; Tantulo, Uras; Sihombing, Mika Azarya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.4.2024.331-343

Abstract

Biofloc in shrimp aquaculture provides natural food and reduces the reliance on commercial feed. The extent to which biofloc can optimize feeding management is not, however, fully understood. This study aimed to evaluate the effects of reducing feeding rates on the growth performance and feed utilization of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) reared in a biofloc system. A completely randomized design was used with four treatments: K (standard feeding, clear water), N (standard feeding, biofloc), NA (25% feeding reduction, biofloc), and NB (50% feeding reduction, biofloc). Shrimp were stocked at 40 individuals per tank and fed commercial feed containing 40% protein over a 30-day period. Results showed that shrimp in the NA treatment (25% feed reduction with biofloc) had the highest final weight (8.66 ± 0.03 g), biomass (306.13 ± 14.27 g), and weight gain (5.74 ± 0.25 g) compared to other treatments (P<0.05). NA also exhibited a higher specific growth rate (3.63 ± 0.27 %/day) than K and NB. Feed utilization improved with a lower feed conversion ratio and higher protein retention in the NA group. This study highlights that a 25% feeding rate reduction in biofloc systems optimizes shrimp growth and feed utilization. Future research should explore long-term sustainability, biofloc composition variations, and technological integration for scaling up efficient and environmentally sustainable shrimp farming operations.Penggunaan bioflok dalam budidaya udang memberikan makanan alami dan mengurangi ketergantungan pada pakan komersial. Namun, sejauh mana bioflok dapat mengoptimalkan manajemen pakan belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pengurangan laju pemberian pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang dibudidayakan dalam sistem bioflok. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu: K (pemberian pakan standar, air jernih), N (pemberian pakan standar, bioflok), NA (pengurangan pakan 25%, bioflok), dan NB (pengurangan pakan 50%, bioflok). Udang ditempatkan sebanyak 40 individu per tangki dan diberi pakan komersial yang mengandung 40% protein selama 30 hari. Hasil menunjukkan bahwa udang pada perlakuan NA (pengurangan pakan 25% dengan bioflok) memiliki berat akhir tertinggi (8,66 ± 0,03 g), biomassa (306,13 ± 14,27 g), dan kenaikan berat (5,74 ± 0,25 g) dibandingkan perlakuan lainnya (P<0,05). NA juga menunjukkan tingkat pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi (3,63 ± 0,27 %/hari) dibandingkan K dan NB. Pemanfaatan pakan meningkat dengan rasio konversi pakan yang lebih rendah dan retensi protein yang lebih tinggi pada kelompok NA. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan feeding rate pakan sebesar 25% dalam sistem bioflok mengoptimalkan pertumbuhan udang dan pemanfaatan pakan. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi keberlanjutan jangka panjang, variasi komposisi bioflok, dan integrasi teknologi untuk meningkatkan praktik budidaya udang yang efisien dan ramah lingkungan.
PREVALENSI ORGANISME PENEMPEL PADA INDUK TIRAM MUTIARA (Pinctada maxima) Utami, Diah Ayu Satyari; Kusmiatun, Anik; Sufiati, Anisa; Wati, Komang Sika; Djauhari, Ricky
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2023): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jr.v11i2.5297

Abstract

Salah satu masalah utama yang dihadapi dalam budidaya tiram mutiara (Pinctada maxima) adalah adanya organisme penempel yang melekat pada keranjang maupun pada cangkang tiram mutiara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi organisme penempel pada induk tiram mutiara yang dipelihara dengan metode long line. Obyek penelitian yang diamati adalah induk tiram mutiara yang dipelihara dengan metode long line pada kedalaman 3-5 m. Induk tiram mutiara yang diamati sebanyak 46 induk yang berumur 3-14 tahun dengan panjang, lebar, dan ketebalan cangkang 11-16,5 cm, 11,8-17,5 cm, dan 0,21-0,40 cm. Induk tiram mutiara yang diambil sebagai sampel diambil secara acak dengan mengambil 1 sampel induk/pocket net. Parameter kualitas air yang diamati terdiri atas suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas, kecerahan, total amoniak nitrogen (TAN), nitrit, nitrat, dan fosfat. Organisme penempel yang menyerang induk tiram mutiara selama penelitian terdiri atas Polydora sp., Balanus sp., Ascidian sp., Nereis sp., Cliona sp., dan Mytilus sp. Organisme penempel yang memiliki prevalensi tinggi pada induk tiram mutiara yaitu Ascidian sp. (85%), kemudian diikuti oleh Polydora sp., Balanus sp., dan Nereis sp. dengan prevalensi 80%. Cliona sp. dan Mytilus sp. menunjukkan prevalensi yang rendah pada induk tiram mutiara yaitu 37,5 dan 10%. Kualitas air pada lahan pemeliharaan induk tiram mutiara berada pada kisaran normal untuk pemeliharaan tiram mutiara.