p-Index From 2021 - 2026
5.553
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi, Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Khazanah Theologia Khazanah Theologia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Jurnal Shanan Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Sabda : Jurnal Teologi Kristen DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Davar: Jurnal Teologi Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Millah: Journal of Religious Studies Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Theologia Insani: Jurnal Theologia, Pendidikan, dan Misiologia Integratif Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan REI MAI: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen VOX VERITATIS: JURNAL TEOLOGI DAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN Nabisuk: Jurnal Teologi dan Pelayanan Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Silih Asah Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Jurnal Transformasi: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Kurios

Penderitaan tidak kasat mata di tengah pandemi: analisis naratif Hakim-hakim 19:1-30 dalam perspektif feminis Nixon, Grant; Sabdono, Erastus; Novalina, Martina
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.252

Abstract

Statistics show an increase in violence against women during a pandemic. Violence experienced by women is invisible and silent suffering that can be heard on humanitarian issues during a pandemic. This article intends to contribute to theological thinking as well as advocacy for women suffering during the pandemic. This theological thinking is built through a narrative analysis of Judges 19: 1-30 using a feminist perspective narrative analysis. This analysis aims to critically review the text of violence from a pro-women perspective. It is hoped that this analysis will be useful in enriching the treasures of theological thought related to the narrative of Judges 19: 1-30 and emphasizing the importance of discussing gender-based violence in theological thinking and ecclesiastical ministry. In the end, violence against women in Judges 19: 1-30 cannot be separated from the phenomenon of moral degradation among the Israelites. So contextually, the existence of gender-based violence, especially against women, can be seen as a moral crisis that must be seriously confronted during a pandemic. Abstrak Statistik menunjukkan adanya peningkatan kekerasan terhadap perempuan pada masa pandemi. Kekerasan yang dialami perempuan adalah penderitaan yang tidak kasat mata dan sunyi terdengar pada isu kemanusiaan di masa pandemi. Artikel ini hendak memberi kontribusi pemikiran teologis sekaligus advokasi terhadap perempuan yang menderita di masa pandemi. Pemikiran teologis ini dibangun melalui analisis narasi Hakim-hakim 19:1-30 dengan menggunakan analisis naratif berperspektif feminis. Analisis ini bertujuan untuk meninjau dengan kritis teks kekerasan dengan perspektif yang berpihak pada perempuan. Analisis ini diharapkan bermanfaat memperkaya khazanah pemikiran teologis terkait narasi Hakim-hakim 19:1-30 dan memberi penekanan bagi pentingnya pembahasan mengenai kekerasan berbasis gender dalam pemikiran teologis serta pelayanan gerejawi. Pada akhirnya, kekerasan terhadap perempuan dalam Hakim-hakim 19:1-30 tidak dapat dilepaskan dari fenomena degradasi moralitas di antara bangsa Israel. Sehingga secara kontekstual, eksisnya kekerasan berbasis gender, khususnya kepada perempuan, dapat dilihat sebagai krisis moralitas yang harus dikonfrontasi dengan serius pada masa pandemi.
Nostra Aetate: Sebuah alternatif menuju keharmonisan di tengah suburnya intoleransi dan diskriminasi Novalina, Martina; Nixon, Grant; Sabdono, Erastus; Eli Zaluchu, Sonny; Christabella Phuanerys, Eliza
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.340

Abstract

Pandemi Covid 19 memberi dampak di berbagai lini kehidupan. Salah satunya adalah meningkatnya angka diskriminasi dan intoleransi yang dialami oleh berbagai kalangan masyarakat dari berbagai penganut agama maupun golongan. Banyak cara telah dilakukan demi hilangnya intoleransi dan diskriminasi di Indonesia namun masih saja terdapat tindakan-tindakan tersebut. Paper ini mengusulkan konsep dialog yang bertumpu pada deklarasi Nostra Aetate. Pendekatan utama yang dilakukan dalam paper ini adalah teori-kritik (critical theory) untuk menganalisa secara deskriptif konsep-konsep utama yang dibahas yakni Nostra Aetate dan dialog kerukunan. Hasil yang didapat adalah bahwa deklarasi Nostra Aetate merupakan sebuah tawaran alternatif yang dapat diambil di Indonesia guna menyampaikan kasih Allah kepada manusia melalui beberapa cara dialogis, pastoral dan harmonis. 
Spiritualitas egaliter mengantisipasi eksklusivitas budaya di lingkungan gereja pada wilayah Sumba Timur: Refleksi teologis Filipi 2:1-8 Gultom, Joni Manumpak Parulian; Pramini, Pramini; Novalina, Martina
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.482

Abstract

The phenomenon of religious exclusivity does not only occur with other religions but in one religion. The phenomenon of religious exclusivity does not only occur between religious adherents but also between groups of people within the same religion. This phenomenon can be seen in the district of East Sumba, where there is still persecution of priests of different denominations, bullying related to the caste of the congregation, and pastors are higher than others, in local culture. This article provides an understanding of the spirituality of the church's egalitarianism in anticipating Sumba's socio-cultural institutions in placing equal values and rights of everyone in the eyes of God and others, according to Philippians 2:1-8. Research with a qualitative descriptive approach through a literature review found that churches in East Sumba Regency must be inclusive by opening themselves up to existing differences, not just doctrinal differences, but also ethnicity and caste egocentricity which must be minimized. The spirituality of the egalitarianism of the church is a divine value to continue to work on, through the existing local culture with the leaders of the people and the nobles (maramba), who sit together in divine leadership. Whole human development in the work of Christ's salvation is the focus of the church, with equal actions by leaders from any caste, open and providing equal opportunities for every believer in the local culture.  AbstrakFenomena eksklusivitas beragama bukan saja terjadi dengan agama lainnya tetapi dalam satu Fenomena eksklusivitas beragama bukan saja terjadi antarpemeluk agama, namun juga antarkelompok umat dalam satu agama. Fenomena ini dapat dilihat di daerah Kabupaten Sumba Timur, di mana masih terjadi persekusi terhadap pendeta yang berbeda denominasi, perundungan terkait kasta jemaat, bahwa pendeta lebih tinggi dari yang lain, dalam budaya lokal. Artikel ini memberikan pemahaman spiritualitas egalitarianisme gereja dalam mengantisipasi pranata sosial budaya Sumba dalam mendudukakn kesejajaran nilai dan hak setiap orang yang sama di mata Tuhan dan sesama, menurut Filipi 2:1-8. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian literatur menemukan bahwa gereja di Kabupaten Sumba Timur harus bersikap inklusif dengan membuka diri terhadap perbedaan yang ada, bukan sekadar perbedaan doktrin, tetapi juga egosentris sukuisme dan kasta yang harus diminimalisir. Spiritualitas egalitarianisme gereja menjadi nilai ilahi untuk terus dikerjakan, melalui budaya lokal yang ada dengan para pemimpin umat dan para bangsawan (maramba), yang duduk bersama dalam kepemimpinan Ilahi. Pembangunan manusia seutuhnya di dalam karya keselamatan Kristus menjadi fokus utama gereja, dengan tindakan kesetaraan para pemimpin dari kalangan kasta apa pun, terbuka dan memberi kesempatan yang sama untuk setiap orang percaya dalam lingkup budaya lokal.
Co-Authors Ampinia Rahap Wanyi Rohy Andri Andri Andri Pasaribu Andries Yosua Anjaya, Carolina Etnasari Anwar Three Millenium Waruwu Anwar Three Millenium Waruwu Damanik, Piter Imanson Daniel Martin Tamera Darlene Nathana Ndun Darman Syah Putra Zendrato Dessy Sababalat Edwin Goklas Silalahi Elieser R. Marampa Esther Natasaputera Flegon, Akedka Starde Fredric Novando Suhartono Gea, Erniwati Gea, For Sukur Iman Grace Melisa Grant Nixon Gultom, Joni Manumpak Parulian Hanry Chandra Hasiholan Sihaloho Hasiholan Sihaloho Hedianto, Lonato Indra Gunawan, Yehuda Indria Samego Indria Samego Jemy Saleky Combi Joni MP Gultom Juliana Loes Koswanto, Alvin Kusumo, Yusuf Setiawan Sudarso Lahagu, Niwanti Lawolo, Andianus Lidya Rundu'Padang Marampa, Elieser R Mario Alberto Manodohon Marisi, Candra Gunawan Mark Phillips Eliasaputra Marta Regina Martin Putra Hura Meilani Meilani Mesiwarati Waruwu Natassha, Yohana Nove Kristiani Zai Orianto Hura Pasaribu, Andri Perlius Telaumbanua Phuanerys, Eliza Christabella Pogo, Patrecya Pramini, Pramini Prasetya, Didimus Sutanto B Radja Gae, Evi Rohy, Ampinia Rahap Wanyi Ronald Sianipar Ruth Judica Siahaan Sabdono, Erastus Salcido, Sidney Selfina Selan Senopati Salomo Olimbovo Sidney Salcido Silalahi, Edwin Goklas Simanjuntak, Eddy Suandar Simanungkalit, Marta Regina Silvi Situmorang, Ester Lina Soni Laiju Malana Steni Soloha Suardin Zai Suhartono, Fredric Novando Sunardi, Philipus Trecilia Dwi Lestari Sababalat Valentino, Benaya Viona Wong Walui, Donny Ardo Eka Dharma Putra Waruwu, Anwar Three Millenium Waruwu, Lenny Widjaja, Fransiskus Irwan Wirda Febrianti Tatubeket Yohana Natassha Zaluchu, Sonny Eli