Claim Missing Document
Check
Articles

PROGRAM PPG UNTUK MEMBANGUN KOMPETENSI GURU GEOGRAFI (STUDI KASUS DI UNIVERSITAS NEGERI MALANG) Mega Prani Ningsih; Achmad Fatchan; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.10, Oktober 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.368 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i10.7582

Abstract

The purpose of rhe research to explain PPG SM3T Program designs for building the grogrphy teacher competences, the graduates of  SM3T’s Program. The design implementation of PPG SM3T includes curriculum development process till the evaluation of geography teacher competences. Competence referred to are competence pedagogical, competence personality, social competence, and professional competency. The research is a case study researchs in Malang State University. Technique the data collection was done through in-depth interviews and documentation. Data analysis use the interactive model Miles and Huberman. This research result indicates that an implementation program PPG includes several stage are: (1) the developmental syllabus stages by the appropriate policy regarding university, (2) the pre the condition stages as the combined with plenary 1, (3) the learning system stages are consist of several stage and learning activities, thy are: (a) workshop SSP stages consist of the stage activity: plenary 2 namely the deepening of material curriculum 2013; pre-test; focus group discussion are the subject matter of geography and pedagogical that have not understood, yet; independent working group is composing device learning, combined the stage of plenary 3, revision and approval lesson plans that is peer teaching, formative tests , KKL and doing incidental activity such as writing journals and scientific paper; (b) the stage of PPL consist of procession submission the PPL students to school, KMD trainings by the PPG, doing some teaching and non teaching activities, PTK researchs, and a test of the performance by lesson study; (c) the competency test stages which are consist of intensification of the subtansial geography materials, also the local and national examination test. The implementation directed in developing geography teacher competences which are consist of pedagogik, personality, social and professional competences.Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bentuk implementasi Program PPG SM3T dalam membangun kompetensi guru geografi alumni program SM3T. Bentuk implementasi Program PPG SM3T meliputi proses pengembangan kurikulum hingga penilaian kompetensi guru geografi. Kompetensi yang dimaksud adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus di Universitas Negeri Malang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk implementasi Program PPG meliputi beberapa tahapan, yaitu (1) tahap pengembangan silabus oleh pihak terkait sesuai kebijakan universitas; (2) tahap pra kondisi sebagai gabungan tahap pra kondisi dan pleno 1; (3) tahap sistem pembelajaran yang terdiri dari beberapa tahapan dan kegiatan pembelajaran, yaitu (a) tahap workshop SSP terdiri atas tahapan kegiatan pleno 2, yaitu pendalaman materi kurikulum 2013, pre-test, diskusi kelompok yaitu diskusi materi geografi dan pedagogik yang belum dipahami, kerja kelompok mandiri yaitu menyusun perangkat pembelajaran, gabungan tahap pleno 3, revisi dan persetujuan RPP, yaitu peer teaching, tes formatif, KKL dan melakukan kegiatan insidental seperti menulis jurnal dan artikel ilmiah; (b) tahap PPL terdiri dari tahapan prosesi penyerahan mahasiswa PPL ke sekolah, pelatihan KMD oleh pihak PPG, melakukan kegiatan mengajar dan non mengajar, penelitian PTK, dan uji kinerja berupa Lesson Study; dan (c) tahap uji kompetensi terdiri dari, pendalaman materi subtansial geografi, Ujian Tulis Lokal, dan Ujian Tulis Nasional. Tahapan implementasi diarahkan dalam membangun kompetensi guru geografi, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
PENGEMBANGAN BUKU TEKS GEOGRAFI SMA/MA PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS POLA PERSEBARAN DAN INTERAKSI SPASIAL DESA DAN KOTA Akhmad Munaya Rahman; Budijanto Budijanto; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.1, No.6, Juni 2016
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.565 KB) | DOI: 10.17977/jp.v1i6.6454

Abstract

The purpose of this study is to produce a geography text book on the material of distribution pattern and spatial interaction of rural and urban. This study was designed with the approach of research development using the model of Dick & Carey which simplified into five phase; the first phase: setting standards competencies, basic competencies, and indicators on the geography syllabus of twelve grade. The second phase: analyzing the learning materials, the third phase: the development and preparation of geography text book, the fourth stage: validation of the expert and testing of the product, and the fifth phase: product revision of geography text book. The quality of products is known through the results of the teacher’s response in school and students during the field trial. The subject of the test is the students of Private Madrasah Aliyah Bustanul Ulum. Based on the results of field trial showed that the results of the development get positive response by teacher and students with a percentage of achievement level are 88.2% and 80.2% and are on a good qualifying and ineligible for use.Tujuan penelitian ini ialah menghasilkan buku teks geografi pada materi pola persebaran dan interaksi spasial desa dan kota. Penelitian ini didesain dengan pendekatan penelitian pengembangan yang menggunakan model Dick & Carey yang disederhanakan menjadi lima langkah, yaitu tahap pertama, menentukan SK, KD, dan Indikator pada silabus geografi kelas XII, tahap kedua: menganalisis materi pembelajaran, tahap ketiga: pengembangan dan penyusunan buku teks geografi, tahap keempat: validasi ahli dan uji coba produk, dan tahap kelima: revisi produk buku teks geografi. Kualitas produk diketahui melalui hasil tanggapan guru di sekolah dan siswa pada saat uji lapangan. Subjek uji coba yakni siswa Madrasah Aliyah Swasta Bustanul Ulum. Berdasarkan hasil uji coba lapangan menunjukkan hasil pengembangan mendapat respon yang positif oleh guru dan siswa dengan persentase tingkat pencapaian 88,2% dan 80,2% dan berada pada kualifikasi baik dan layak untuk digunakan.
Peningkatan Kreativitas Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Geografi melalui Model Blended Learning di Sekolah Menengah Atas Noor Liana Waty; Sumarmi Sumarmi; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 1: JANUARI 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.943 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i1.10353

Abstract

The process of developing the activity and creativity of learners can be achieved through various learning interactions. This research aims to improve students' learning creativity through blended learning model. The method used in this research is classroom action research. Instrument of data collection using observation sheet to 30 students of class XI IPS 2. Technique of data analysis using descriptive quantitative. The results showed the average response of creativity in the first cycle of 54.58% and in the second cycle of 76%. Based on these results can be concluded that learning geography using blended learning model can improve students' learning creativity.Proses mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik dapat dicapai melalui berbagai interaksi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas belajar peserta didik melalui model blended learning. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar observasi terhadap 30 orang peserta didik kelas XI IPS 2. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan respon rata-rata kreativitas pada siklus I sebesar 54,85% dan pada siklus II sebesar 75,95%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran geografi menggunakan model blended learning dapat meningkatkan kreativitas belajar peserta didik.
Efektivitas Media Pembelajaran Geography Critical Game Berbasis Komputer Dalam Pembelajaran Geografi SMA Windya Wahyu Lestari; Sugeng Utaya; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 10: OKTOBER 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.073 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i10.11600

Abstract

Abstract: Geographic learning in Senior High School is less motivating, because there is no proper learning media. The learners need appropriate learning media especially on the material dynamics of population in Indonesia. One of the appropriate learning media is Geography Critical Game learning media based computer. The learning media is needed to study the effectiviness of learning in geography, so that students are motivated to learn geography. This research conducted by product test, then presented in descriptive technique. Based on test result, it can be concluded that Geography Critical Game learning media based computer is effective and able to be used in geographic learning for Senior High School.Abstrak: Pembelajaran geografi di SMA kurang memotivasi, karena belum adanya media pembelajaran yang tepat. Peserta didik membutuhkan media pembelajaran yang tepat, khususnya pada materi dinamika kependudukan di Indonesia. Salah satu media pembelajaran yang tepat digunakan pada materi tersebut ialah media pembelajaran Geography Critical Game berbasis komputer. Media pembelajaran tersebut diperlukan kajian untuk mengetahui keefektifan dalam pembelajaran geografi, sehingga peserta didik termotivasi untuk belajar geografi. Penelitian ini dilakukan dengan uji coba produk, kemudian dipaparkan dengan teknik deskriptif. Berdasarkan hasil uji coba dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Geography Critical Game berbasis komputer ini efektif dan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran geografi SMA.
Makna Konsep Catur Guru bagi Suku Tengger sebagai Upaya Pendewasaan Usia Perkawinan (Perspektif Fenomenologi) Alfyananda Kunia Putra; Sumarmi Sumarmi; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 1: JANUARI 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.97 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i1.11668

Abstract

Abstract: The development rate was hampered by high population growth, uneven distribution and the explosion of the young population which one of them caused by early marriage. The effort in maturing the age of marriage to decrease the number of early marriage, need to involving the local wisdom in the society. One of local wisdom in Tengger Tribe to maturing the age of marriage is Catur Guru consept. The purpose of this research is to reveal the meaning of Catur Guru in maturing the age of marriage. The research design is qualitative research with Alfred Schutz phenomenological perspective. The research result revealed that Catur Guru play an important role to maturing the age of marriage in Tengger Ngadisari Tribe, so there is no longer an early marriage happen. Advice from the results of research maturing the age of marrige should not only a policy that issued because certain interest, but also must formulated based on the local wisdom owned by the community.Abstrak: Laju pembangunan terhambat akibat tingginya pertumbuhan penduduk, persebaran yang tidak merata dan ledakan penduduk di usia muda yang salah satunya disebabkan oleh pernikahan dini. Dalam upaya mendewasakan usia perkawinan agar mengurangi pernikahan dini, perlu melibatkan kearifan lokal yang ada di masyarakat. Salah satu kearifan lokal Suku Tengger dalam mendewasakan usia perkawinan yakni konsep Catur Guru. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap makna Catur Guru dalam mendewasakan usia perkawinan. Desain penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan perspektif fenomenologi Alfred Schutz. Hasil penelitian mengungkapkan Catur Guru berperan penting dalam pendewasaan usia perkawinan Suku Tengger Ngadisari, hingga tidak lagi terjadi kasus pernikahan dini. Saran dari hasil penelitian pendewasaan usia pekawinan seharusnya tidak hanya sebuah kebijakan yang dikeluarkan karena kepentingan tertentu, melainkan juga harus dirumuskan berdasarkan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat.
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Kemampuan Memecahkan Masalah Geografi pada Siswa SMA Klotilda Margareta Woa; Sugeng Utaya; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 3: MARET 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.806 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i3.10709

Abstract

This research was conducted at SMAN 1 Bajawa with the aim to know the effect of Problem Based Learning model of learning to solve the problem of geography in high school students. This type of research is quasi experiment with pretest and posttest control group design. The results of this study indicate that the average value of the ability to solve the problem of experimental class geography using Problem Based Learning model is higher and increased compared to the control class using the conventional learning model. This is proven also through hypothesis testing with independent samples test the ability to solve the problem of geography obtained results 0.030 <0.05 then the model of learning Problem Based Learning has a significant effect on the ability to solve the problem of geography of high school students. Based on the results of hypothesis testing can be concluded that the model of Problem Based Learning effective learning is used to improve the ability to solve the problem of geography of high school students. For Geography educator, it is suggested to use Problem Based Learning model to improve students' geography problem solving ability.Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Bajawa dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi pada siswa SMA. Jenis penelitian ini eksperimen semu (quasi experimen) dengan desain pretest and posttest control group. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan memecahkan masalah geografi kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih tinggi dan mengalami peningkatan dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran yang konvensional. Hal ini dibuktikan juga melalui uji hipotesis dengan independent samples tes kemampuan memecahkan masalah geografi diperoleh hasil 0,030 < 0,05 maka model pembelajaran Problem Based Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan memecahkan masalah geografi siswa SMA. Berdasarkan hasil uji hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan memecahakan masalah geografi siswa SMA. Bagi tenaga pendidik Geografi disarankan untuk menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah geografi pada siswa.
Makna Rendahnya Motivasi Siswa Belajar Geografi Dalam Pendekatan Fenomenologi Farina Amelia; I Nyoman Ruja; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 9: SEPTEMBER 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.248 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i9.11585

Abstract

Abstract: Schutz perspective phenomenological approach becomes an appropriate alternative to this research because understanding not apart from because motive and in order to motive. Research subjects in this study were students of class XII. Data collection techniques used include observation, interviews, and documentation. The results showed that the meaning of geography learning for students who have low motivation to learn geography is geography is a difficult subject, boring, and less perceived benefits for everyday life but must be studied in order to get a good value.Abstrak: Pendekatan fenomenologi perspektif Schutz menjadi alternatif tepat pada penelitian ini karena pemahaman tidak terlepas dari motif sebab dan motif tujuan. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswa kelas XII. Teknik pengumpulan data yang digunakan, meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna pembelajaran geografi bagi siswa yang memiliki motivasi rendah belajar geografi adalah geografi merupakan mata pelajaran yang sulit, membosankan, dan kurang dirasakan manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari, namun harus dipelajari supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus.
Arsitektur Rumah Balla Lompoa Galesong Suku Makassar sebagai Sumber Materi Geografi Budaya Syamsuriadi Syamsuriadi; I Komang Astina; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 4, No 12: DESEMBER 2019
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/jptpp.v4i12.13063

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to describe the meaning of the balla lompoa symbol Galesong in the Makassar tribe while still looking at the geographic context behind the shape of the balla lompoa house. This type of research is qualitative descriptive using an ethnographic approach with a perspective of symbolic interaction. The results of this study indicate that the symbols on balla lompoa have a meaning that is guided by the philosophy of the Makassar tribe, namely sulapa appaka (square). The form of balla lompoa Galesong Makassar tribe is also motivated by the location of the Galesong region which is the coastal area of the Makassar Strait. The meaning and value of the balla lompoa is very relevant to be used as a source of material in the Culture Geography Course, Department of Geography, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Makassar State University.Abstrak: Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan makna simbol balla lompoa di Galesong pada suku Makassar dengan tetap melihat konteks geografi yang melatarbelakangi bentuk rumah balla lompoa itu. Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif  menggunakan  pendekatan  etnografi dengan perspektif interaksi simbolik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simbol pada balla lompoa memiliki makna yang berpedoman pada falsafah suku Makassar yaitu sulapa appaka (persegi empat). Bentuk balla lompoa Galesong Suku Makassar juga dilatarbelakangi oleh letak  wilayah Galesong yang merupakan wilayah pesisir pantai selat Makassar. Makna dan nilai balla lompoa tersebut sangat relevan untuk dijadikan sumber materi pada matakuliah Geografi Budaya Jurusan Geografi Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar.
Pengaruh Gender terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Program IPS pada Mata Pelajaran Geografi Wahyu Wardani; I Komang Astina; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 12: DESEMBER 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.514 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i12.11786

Abstract

Abstract: This research was aimed to determine the effect of gender on the ability and the difference of critical thinking skills. Data collection methods used a test of critical thinking skills with essays to 71 students. It consists of 35 male and 36 female students. The analysis of the test result is done using descriptive quantitative. The result shows that gender has a weak effect on critical thinking skills. Gender has a high enough influence on critical thinking skills with correlation coefficient value of 0.421. Female students have better critical thinking skills than male students. Thus, it can be concluded that gender is one of the factors that influence differences in critical thinking skills of male and female students.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gender terhadap kemampuan serta perbedaan berpikir kritis. Metode pengumpulan data menggunakan tes kemampuan berpikir kritis dengan soal esai yang diujikan pada 71 siswa, dengan rincian 35 siswa laki-laki dan 36 siswa perempuan. Analisis hasil tes dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan gender pengaruh lemah terhadap kemampuan berpikir kritis. Gender memiliki pengaruh cukup tinggi terhadap kemampuan berpikir kritis dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,421. Siswa perempuan memiliki kemampuan berpikir kritis lebih baik daripada siswa laki-laki. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gender merupakan salah satu faktor yang memengaruhi perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa laki-laki dan perempuan.
Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing Berbasis Lesson Study terhadap Motivasi Belajar Geografi di SMA Anandika Okta Riandanu; Sugeng Utaya; Singgih Susilo
Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 3, No 9: SEPTEMBER 2018
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.063 KB) | DOI: 10.17977/jptpp.v3i9.11576

Abstract

Abstract: The application of active and innovative learning model is an important factor to cultivate student learning motivation. The guided inquiry model based on lesson study is designed to maximize the students' ability to investigate so they can find their own learning materials with confidence. Lack of student confidence in following learning is a problem that occurs in the classroom associated with learning motivation. The purpose of this research is to know the influence of guided inquiry model based on lesson study on student learning motivation. The design of this study used quasi experiments. Data collection uses questionnaires to measure learning motivation. The result of the research shows that there is influence of guided inquiry model based on lesson study on learning motivation.Abstrak: Penerapan model pembelajaran yang aktif dan inovatif merupakan faktor penting untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Model inkuiri terbimbing berbasis lesson study dirancang untuk memaksimalkan kemampuan siswa dalam hal menyelidiki sehingga mampu menemukan sendiri materi pembelajaran dengan percaya diri. Kurangnya kepercayaan diri siswa dalam mengikuti pembelajaran merupakan permasalahan yang terjadi di kelas yang berhubungan dengan motivasi belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model inkuiri terbimbing berbasis lesson study terhadap motivasi belajar siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan eksperimen semu. Pengambilan data menggunakan angket untuk mengukur motivasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh model inkuiri terbimbing berbasis lesson study terhadap motivasi belajar.