Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Dampak Pariwisata Waduk Kedung Ombo (WKO) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Lokal Widodo, Yoto; Fandeli, Chafid; Baiquni, M; Damanik, Janianton
WIDYATAMA Vol 20, No 2 (2011)
Publisher : WIDYATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak Pariwisata Waduk Kedung Ombo (WKO)Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Lokal Yoto Widodo1, Chafid Fandeli2, M. Baiquni3, dan Janianton Damanik4  1 FISIP, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Jl.Let.Jend.S.Humardani No 1 Sukoharjo Jawa Tengah 2,4 Prodi Kajian Pariwisata, Universitas Gadjah Mada3 Pusat Studi Pariwisata, Universitas Gadjah Mada Abstrak Pada saat ini pariwisata merupakan suatu kegiatan yang memiliki perkembangan yang sangat cepat. Pariwisata diyakini memiliki potensi besar meningkatkan pendapatan  masyarakat disekitar daya tarik wisata (DTW). Realitas tersebut menarik perhatian para pimpinan pemerintah daerah dalam rangka  meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) di daerah masing-masing. Pergeseran minat kunjungan wisatawan dari tujuan pariwisata tradisional ke pariwisata alam, sangat menguntungkan bagi daerah yang banyak memiliki destinasi wisata alam. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka untuk menjawab pertanyaan, Apakah keberadaan Obyek Wisata Alam Waduk Kedung Ombo (WKO) dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu  dengan  tujuan untuk  mengadakan  penjajagan  (eksploratif). Penelitian ini dilakukan di dusun Geneng, desa Rambat, kecamatan Geyer, kabupaten Grobogan dan dusun Boyolayar, desa Ngargosari, kecamatan Sumberlawang, kabupaten Sragen. Dua dusun tersebut merupakan dua daerah yang masyarakatnya terkait langsung dengan keberadaan obyek pariwisata alam Waduk Kedung Ombo (WKO). Hasil penelitian menunjukkan masyarakat di dua dusun mengakui manfaat positif keberadaan Obyek Wisata Alam Waduk Kedung Ombo (WKO). Mereka secara tidak langsung telah melakukan diversifikasi mata pencaharian, untuk responden dusun Geneng para isteri berjualan barang kelontong sedangkan untuk responden dusun Boyolayar para isteri berjualan ikan hasil tangkapan suami. Keberadaan obyek wisata alam WKO dapat meningkatkan pendapatan mereka sehari-hari.  Kata-kata kunci: Pariwisata alam, Kesejahteraan, Masyarakat lokal
KARAKTERISTIK MASYARAKAT DI SEKITAR DAERAH TUJUAN WISATA (Studi Kasus : Taman Wisata Mekarsari, Desa Mekarsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor) Suryono, Chondro; Sudarmadji, Sudarmadji; Martono, Edhi; Fandeli, Chafid
Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah Vol. 9 No. 03 (2015): Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47256/kepariwisataan.v9i03.138

Abstract

This article aims to analyze the characteristics of the community around tourist sites. This research uses descriptive study where data obtained from direct interviews with sources of data and direct observation in the study site. Methods of data collection is the way researchers get the data required in the conduct of research on sources of research data. It was concluded that the characteristics of the surrounding communities with the development of attractions like Mekarsari showed the positive impact, more choice of livelihood for the inhabitants of surrounding areas such as whether they wish to be employees, as entrepreneurship, or as traders. However, these positive effects are not accompanied by increased levels of public education around the village Mekarsari. This is due to the understanding of higher education has not been considered important, and also the villagers consider that the modest education (elementary, senior high school, high school) has been able to earn money, whether as laborers, trade or wiraswata (open stalls). Keywords: Characteristics, Public, Mekarsari park
Carving The Future of Nature Ecotourism in Indonesia: Case of Taman Wisata Alam Telogo Warno Telogo Pengilon Tri Satyatama; Lies Rahayu Wijayanti Faida; Ris Hadi Purwanto; Chafid Fandeli
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 26 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1277.904 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.26.1.80

Abstract

Indonesia has potential ecotourism spots that are need to be utilized as well as to increase the value of forest benefits from the aspect of environmental services while maintaining the function of the area. However, there are contraints in managing natural tourism in conservation areas according to the concept of sustainable tourism. This study focuses on the performance of sustainable nature tourism management applied in Taman Wisata Alam Telogo Warno Telogo Pengilon (TWA TWTP) that is carried out in the form of a partnership between the Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (Central Java Natural Resources Conservation Office; BKSDA) and PT. Alam Indah Bonbin Lestari (AIBBL) as the holder of Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (Business License for the Provision of Nature Tourism Facilities; IUPSWA). The results show positive improvement in the management of TWA TWTP. However, several issues that require immediate improvement still remain. In general, all of the aspects are categorized in to four scopes: (1) management of effective sustainable tourism destination, (2) the optimization of economic benefits for local communities, (3) the optimization of cultural preservation for the communities and visitors, and (4) environmental conservation.
MOBILITAS KELAS BARU DI DUNIA INDUSTRI PARIWISATA Bambang Suharto, Janianton Damanik, M.Baiquni, dan Chafid Fandeli
Jurnal Kawistara Vol 4, No 3 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.348 KB) | DOI: 10.22146/kawistara.6384

Abstract

The main study of this research solves the researchers empirically debate about the source of in justice inthe world tourism industry because of the class structure. First, the theory of post industrial related classshould look more human. The second, related theory of Marx saw class more regularly and degraded.This study used a mixed methods concurrent triangulation. Results of the analysis relationship betweenclasses show that there was a new class strengthened, namely the professional classes (54.5%) that havea high bargaining power against capital classes (1.5%) and the proletariats (44%). These conditionsreinforce the post industrial theory which shows that the system is open, technological advances, andspecifications facilitate mastery of the field of expertise towards a higher level of professionalism basedproclean care era cross borders and not consistent proletarianization process. This studies timated thetransformation of the proletariat in to a new class structures end to be stronger, in line with the directionof the professional class distributed double post status other than capitalist-professional worker as wellsmall to large scale.
Serious Leisure:Menelisik Profesi Travel Influencer Saepulloh Saepulloh; Hendrie Adji Kusworo; Chafid Fandeli
Jurnal Kawistara Vol 11, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.v11i3.69303

Abstract

Seiring perjalanan pertumbuhan peran media digital, travel influencer menjadi sektor pariwisata yang semakin penting. Mereka merupakan orang yang berpengaruh dalam kegiatan promosi destinasi dan produk-produk wisata. Mengawali karirnya dari hobi pelesir dan membagikan cerita perjalananannya di media sosial Instagram, hobi pelesir dan cerita perjalanan tersebut menarik pengguna Instagram lain untuk menjadi pengikut travel influencer. Hal ini akhirnya menjadi sebuah karir yang cemerlang dengan model kerja yang dilakukan para travel influencer secara profesional sebagai bagian dari pekerjaan utamanya (serious leisure). Pekerjaan sebagai travel influencer penuh-waktu membuka peluang kerjasama bisnis dengan pihak ketiga (endorsement), sehingga mobilitas menjadi padat karena jadwal perjalanan. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan netnografi. Selain itu, penelitian ini berfokus pada model kerja dengan konsep serious leisure. Hasil dari penelitian ini adalah menjadi seorang travel influencer membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan ketekunan dan kesabaran lebih. Selain itu, meningkatkan kemampuan diri menjadi sebuah kewajiban saat menjalani karir sebagai seorang travel influencer. Studi ini mengungkap enam kualitas yang menjadi karakter serious leisure yaitu: (1) ketekunan, (2) karir , (3) usaha serius, (4) etos unik, (5) identitas, (6) keuntungan jangka panjang menjadi komponen yang saling berkaitan di dalam menekuni karir sebagai seorang travel influencer. Hal ini perlu diterapkan agar karir sebagai seorang travel influencer tetap dapat bertahan di karir travel influencer walapun semakin banyak bermunculan travel influencer baru lainnya.
Perkembangan Destinasi Pariwisata, Benarkah Memang Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Fitri Abdillah; Janianton Damanik; Chafid Fandeli; Sudarmadj Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 6, No 2 (2015): Jurnal Khasanah Ilmu - September 2015
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.322 KB) | DOI: 10.31294/khi.v6i2.507

Abstract

Abstract - Pemerintah Seringkali Menyatakan Bahwa Pembangunan Pariwisata Telah Berhasil Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.  Fakta Ini Selalu Ditunjukkan Dengan Data Mengenai Meningkatnya Jumlah Kunjungan, Lapangan Kerja Dan Keterlibatan Masyarakat.  Studi Ini Mencoba Menjelaskan Benarkah Masyarakat Memang Memperoleh Manfaat Dari Perkembangan Tersebut.  Hipotesis Disusun Dengan Menyatakan Bahwa Semakin Tinggi Perkembangan Destinasi Pariwisata Maka Kualitas Hidup Masyarakat Yang Terlibat Akan Semakin Tinggi Pula. Lokasi Penelitian Dipilih Adalah Pangandaran.  Metode Deskriptif Dan Korelasional Bivariat Digunakan Untuk Menganalisis Dua Variabel Utama Yaitu Perkembangan Destinasi Pariwisata Dan Kualitas Hidup Masyarakat Lokal.   Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa Perkembangan Destinasi Berhubungan Positif Signifikan Dengan Standard Hidup Dalam Hal Penurunan Garis Kemiskinan.  Perkembangan Jumlah Wisatawan Juga Berkorelasi Positif Dengan Peningkatan Daya Beli Khususnya Barang-Barang Non Makanan Dan Penurunan Pengangguran Meskipun Secara Umum Belum Dapat Menurunkan Jumlah Penduduk Miskin.   Perkembangan Wisatawan Juga Berkorelasi Positif Dengan Peningkatan Pendidikan.  Kesimpulan Yang Diperoleh  Menunjukkan Bahwa Perkembangan Kepariwisataan Secara Nyata Memberikan Kontribusi Peningkatan Kualitas Hidup Khususnya Material Dengan Ditopang Oleh Keterlibatan Masyarakat Khususnya Pada Tenaga Kerja Perhotelan, Usaha-Usaha Kecil Di Masyarakat Dan Rumah Makan.  Studi Lanjutan Mengenai Pola Keterlibatan Masyarakat Yang Lebih Sustainable Diperlukan Agar Perkembangan Destinasi Pariwisata Tetap Terjaga. Keywords: destinasi pariwisata, kualitas hidup masyarakat lokal
Upaya Mewujudkan Peran Edukasi Melalui Budaya Berfikir Di Museum Biologi Yogyakarta Ani Wijayanti - AKPAR BSI Yogyakarta; Janianton Damanik; Chafid Fandeli; Sudarmadji - UGM
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 8, No 2 (2017): Jurnal Khasanah Ilmu - September 2017
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.687 KB) | DOI: 10.31294/khi.v8i2.2446

Abstract

Abstract - Biology museum is a special museum of biological education that presents a collection of objects of various flora and fauna preserved. The museum is a study destination for school students and researcher. This research is a qualitative descriptive, which is the researcher as an instrument. Respondents were chosen by purposive method of snowball sampling, i.e the students as informants. Data were analyzed by reduction system. The result of data analysis is known that the collection objects of Biology museum more than 4000 can be understood well by the students through the culture of thinking during the visit at the Biology museum. The culture of thinking can be developed through eight aspects, namely; expectations, opportunities, time, modeling, routines, language, environment, and relationships.Keywords : Educational, Culture of thinking, museum.Abstrak - Museum Biologi UGM merupakan museum khusus pendidikan hayati yang menyajikan benda koleksi berupa awetan flora dan fauna yang beranekaragam. Museum ini menjadi tujuan wisata studi bagi para siswa sekolah dan penelitian bagi para mahasiswa. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif, dengan peneliti sendiri sebagai instrumen. Responden dipilih dengan cara purposive yang bersifat snowball sampling, yakni para siswa sebagai informan. Data dianalisis dengan sistem reduksi. Hasil analisis data diketahui bahwa benda koleksi museum Biologi yang berjumlah lebih dari 4000 dapat dipahami dengan baik oleh para siswa melalui budaya berfikir selama kunjungan di museum Biologi. Budaya berfikir sendiri dapat dikembangkan melalui delapan aspek, yakni; harapan, peluang atau kesempatan, waktu, pemodelan, rutinitas, bahasa, lingkungan, hubungan atau relasi.Kata Kunci : Edukasi, Budaya berfikir, Museum 
Persepsi Masyarakat Setempat dan Pegawai Pemerintah Daerah terhadap Dampak Pembangunan Pariwisata: Studi kasus di Kawasan Kota Tua Himawan Brahmantyo - STP Trisakti Jakarta; Muhammad Baiquni; Chafid Fandeli; Tri Widodo - UGM Yogyakarta
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Khasanah Ilmu - Maret 2017
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.217 KB) | DOI: 10.31294/khi.v8i1.892

Abstract

Abstract -Tourism development impact on the economic, environmental and social stakeholders to be around tourism destinations.  This study aims to examine how perceptions of stakeholders, namely the local community and local government employees on the impact of tourism development in the old city Jakarta area. The field survey was conducted by distributing questionnaires to local communities (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) and local government employees in the old city Jakarta area. Descriptive statistics were used to measure the perceptions of the impact of differences in perception between the two stakeholders were analyzed using ANOVA and t-test.  The results showed that both stakeholders have a positive perception of the impact of tourism development. Significant differences were found that local communities contribute to tourism judge primarily on the social aspects, while local government officials assess that tourism contributes to the environmental aspects are also social. Keywords: the impact of tourism development, perception, local communities, government officials RegionalAbstrak - Pembangunan pariwisata berdampak terhadap aspek ekonomi, lingkungan dan sosial para pemangku kepentingan yang berada di sekitar destinasi pariwisata. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana persepsi para pemangku kepentingan yaitu masyarakat setempat dan pegawai pemerintah Daerah tentang dampak pembangunan pariwisata di Kawasan Kota Tua Jakarta. Survei lapangan dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat setempat  (kelurahan Pinangsia, Roa Malaka, Penjaringan) dan pegawai Pemda di Kawasan Kota Tua Jakarta. Statistik deskriptif digunakan untuk mengukur persepsi dampak, perbedaan persepsi antara kedua pemangku kepentingan dianalisis menggunakan ANOVA dan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pemangku kepentingan memiliki persepsi positif terhadap dampak pembangunan pariwisata. Perbedaan signifikan dijumpai bahwa  masyarakat setempat menilai pariwisata berkontribusi terutama pada aspek sosial, sedangkan pegawai Pemda menilai bahwa pariwisata berkontribusi pada aspek lingkungan juga sosial.Kata kunci: dampak pembangunan pariwisata, persepsi, masyarakat setempat, pegawai pemerintah Daerah
Kajian Potensi Air Rawa Dan Kearifan Lokal Sebagai Dasar Pengelolaan Air Rawa Yomoth Sebagai Sumber Air Bersih Di Distrik Agats Kabupaten Asmat Provinsi Papua Sri Sapti Hamdaningsih; Chafid Fandeli; Muhammad Baiquni
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.832 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13336

Abstract

ABSTRAK Ruang  terbuka  hijau  di  sekitar  kawasan  perkotaan  yang  semakin berkurang  akan menyebabkan meningkatkan konsentrasi karbondioksida dan menurunnya konsentrasi oksigen di udara. Agar kondisi tersebut tidak terjadi atau setidaknya dapat terimbangi maka diperlukan luasan ruang terbuka hijau yang cukup agar jum­lah vegetasi penyerap karbon sebanding dengan jumlah zat- zat pencemar udara sehingga kualitas lingkungan tetap terjaga dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah  (1) menganalisis kebutuhan hutan kota di Kota Mataram un­tuk  menjaga  kualitas  lingkungan  sekarang  dan  lima  tahun  mendatang, (2) menganalisis  besarnya  kemampuan  berbagai  jenis  vegetasi  hutan  kota  dalam mengurangi akumulasi karbon di udara dan (3) menyajikan sebaran hutan kota yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan konsep tata ruang. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau Kota Mataram yang berupa taman kota dan median jalan. Metode penelitian yang  digunakan  adalah  deskriptif  kuantitatif,  sampel  diambil  secara  purposif (purposive sampling) dimana data diambil pada titik -titik tertentu yang dianggap menarik. Pengamatan dilakukan pada petak ukur berukuran 10 x 10 m. Semua jenis  pohon  yang  ma­suk dalam  petak  ukur  dicatat  jenis,  diameter,  tinggi  dan dipangkas salah satu ran­tingnya untuk kemudian dianalisis berat keringnya dalam rangka menghitung biomassa agar diketahui tingkat penyerapan karbonnya. Hasil penelitian ini adalah (1) berdasarkan pertimbangan kebutuhan oksigen pada manusia, ternak dan ken­daraan bermotor,  maka kebutuhan luasan Hutan  Kota/Ruang  Terbuka  Hijau  di  kota  Mataram  pada  tahun  2008  sebesar 3.996,76  Ha,  sedangkan  untuk  li­ma  tahun  mendatang  yaitu  pada  tahun  2013 meningkat  menjadi  4.981,18  Ha,  (2)  luasan  Ruang  Terbuka  Hijau  di  Kota Mataram  saat  ini  ±  61.839,93 m2atau sekitar6,18 Ha sangatlah kurang bila dibandingkan dengan kebutuhan luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang didasarkan pada kebutuhan oksigen tersebut dan (3) banyaknya karbon dioksida (CO2)  yang diserap dalam per­satuan luas ton/Ha pada penelitian ini terbesar terdapat pada plot V yaitu se­besar 14,895 ton/Ha dan terendah pada plot VI sebesar 3,771 ton/Ha. Me­ngingat kurangnya luasan Hutan Kota/Ruang Terbuka Hijau yang tersedia, maka diperlukan penambahan luasan dengan pendistribusian lokasi yang disesuaikan dengan pola tata ruang yang ada. ABSTRACT A  decreasing open  green  space  in  urban  areas  will  stimulate  Carbon dioxide’s concentration and on the other hand it will reduce the concentration  of Oxygen in the atmosphere. To prevent this condition or to maintain stability of air quality,  the  total  of  open  green  space  in  urban  areas  should  meet  minimum requirement, thus vegetation will be able to absorb Oxygen in equal amount of pollutants in the air to maintain the environmental quality. Research objectives are (1) to analyze the optimal requirement of urban forest in Mataram city in order to maintain the current and the next five years of environmental quality  (2). to analyze  the  capacity of  varied  urban  forest’s  vegetations in reducing  the accumulation of CO2  in the air. (3) to present   the proportion of urban forest in line with the spatial planning concept. Research was conducted around open green space in Mataram city which include city park  and  road median. Research method used is descriptive qualitative. Sample is determined  purposively  in  which  data collected  from interested and selected points. Observation was conducted on plot 10 x 10 m. All vegetation within plot areas was identified in terms of species, diameter, height and then cut of the branch to analyze the dry matter (biomass) and to identify the degree of the carbon sequestration. The research presents (1).based on minimum need of human, cattle and vehicles on the availability of Oxygen in the air, the requirement of open green space in Mataram for 2008 is about 3.996, 76 ha, while for the next five years (2013) increase about 4.981,16 ha. (2) the total of open green space in Mataram is 61.839,93 ha or about 6,18 ha in which  this figure is under minimum requirement compared  to the need of open green space based on the need of oxygen  (3) plot V shows the highest absortion of Carbon dioxide per ton/ ha (14,895 ton.ha) while plot VI presents the lowest (3,772 ton.ha). Considering the total of open green space is still under minimum requirement, it is recommended to increase the areas of urban green forest which incorporated city spatial planning.
Kajian Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen, Karbon Tersimpan, dan Kebutuhan Air di Kota Yogyakarta Muchammad Chusnan Aprianto; Sudibyakto Sudibyakto; Chafid Fandeli
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.223 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13344

Abstract

ABSTRAK KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbermotor,jalandangedung. Fasi­litas ini akhirnya menggeser ruang terbuka hijau perkotaan. Akibatnya me­ning­­katkankonsumsioksigen,produksikarbondanber­ku­rangnyaareaserapan airhujan.Salahsatucarauntukmengatasimasalahiniadalahdenganmenjagadan meningkatkanruangterbukahijauyangberupahutankota. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsumsi dan produksi kebu­tuhanoksigen,karbon,dankebutuhanairsertamemberikanrekomendasiluas hutankotayangharusditambahkanuntukmemenuhikebutuhanoksigen,karbon ter­simpan, dan kebutuhan air. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukandis­tribusihutankotadanjenispohonyangharusditambahkanpada tingkatkeca­matan,menentukankesesuaianluashutankotaberdasarkanUndang- UndangNo­mor26Tahun2007dengankebutuhanoksigen,karbonter­simpandan kebutuhanairdanmemperkirakankebutuhanluashutankotapadatahun2010.KotaYogyakartadipilihsebagailokasipenelitian.Sampeldiambilsecara purposif. Variabelyangdiukurlangsungpadapenelitianadalahproduksioksigen pa­da daun dan biomassa pohon. Variabel yang tidak diukur langsung adalah kon­sumsioksigen, produksikarbon, kebutuhan air penduduk dan serapan air hu­tanko­ta.Analisadatapadaperhitunganluashutankotaberdasarkankebutuhan ok­si­gendankarbontersimpanmenggunakanMetodeGerarkis.Sedangkanuntuk kebutuhanairmenggunakanpersamaananalitik.KotaYogyakartamengalamikekuranganpasokanoksigen,areaserapan kar­bondanairdarihutankota.Hutankotaperluditingkatkanmenjadi22%dari luaswilayahuntukme­me­nuhiketigakebutuhanini.Terdapat7kecamatanyang perlu ditambahkan luas hutan ko­tanya yaitu Danurejan, Gedongtengen, Gond­oma­nan, Jetis, Kraton, Ngampilan, dan Pakua­laman dengan  jenis  pohon yangditanamadalah akasia,beringin,danbungur.ABSTRACT Yogyakarta is a growing city. Urban development is in line with the population. The increasing number of people will increase their needs. To meet the needs of the population, then made facilities such as vehicles, roads and buildings. This facility is finally shifting the urban green open space. As a result, increases oxygen consumption, carbon production and reduced water absorption area of rain. One way to overcome this problem is to maintain and increase green open space in the form of urban forest. This study aimed to determine the consumption and production needs oxygen, carbon, and water requirements and provide recommendations urban forest area which must be added to meet the needs of oxygen, carbon stored, and water needs. In addition, this study aims to determine the distribution of urban forest and tree species should be added to the district level, determine the suitability of forest area of the city is based on Law Number 26 Year 2007 needs oxygen, carbon stored and the need for water and estimating the needs of the city in the forest area Yogyakarta 2010.Kota year chosen as the study site. Samples taken purposif.Variabel measured directly in the research is the production of oxygen at the leaves and tree biomass. The variables are not measured directly is oxygen consumption, carbon production, the water needs of the population and water uptake urban forest. Analysis of data on the urban forest area calculation based on the need of oxygen and carbon stored using methods Gerarkis. As for the water needs using equation analitik.Kota Yogyakarta deficient supply of oxygen, carbon and water absorption area of the urban forest. Urban forest needs to be increased to 22% of the area for the third meet this need. There are seven districts that need to be added to its forest area is Danurejan, Gedongtengen, Gondomanan, Jetis, Kraton, Ngampilan, and Pakualaman with the type of trees planted are acacia, banyan, and bungur. KotaYogyakartaadalahkotayangberkembang.Perkembangankotaini sejalandenganjumlahpenduduk.Semakinbertambahjumlahpenduduk  maka akan semakin meningkat ke­­­butuhan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan pendu­duk,makadibuatfasilitassepertiken­­daraanbe<span style="letter-spacing:
Co-Authors Aliman, Rukmini Ambar Kusumandari Anggita Swestiana Ani Wijayanti Ani Wijayanti - AKPAR BSI Yogyakarta Antonio Lelo Taci Arief Budiman Bardi Murachman Bardi Murachman Chondro Suryono Darmakusuma Darmakusuma Darmiyanti Darmiyanti Darmiyanti Darmiyanti, Darmiyanti Dian Iswandaru Djoko Soetrisno Dyah Widiyastuti Edhi Martono Edhi Martono Erny Poedjirahajoe Erny Poedjirahajoe Esa Riandy Cardias Fataha, Malik Feby Hidayani Fitri Abdillah A Guritno Soeleman HA Sudibyakto HA Sudibyakto Hendrie Adji Kusworo Himawan Brahmantyo - STP Trisakti Jakarta, Himawan Hulu, Meitolo Janianton Damanik José Cardoso Kaharuddin Kaharuddin Kiki Syaputri Handayani Lies Rahayu WF Lies Rahayu Wijayanti Faida Lies Rahayu Wijayanti Faida Lies Rahayu Wijayanti Faida Lies Rahayu Wijayanti Faida M Baiquni M Baiquni M Baiquni M. Baiquni Made Gunamantba Made Gunamantba, Made Maria Theresia Sri Budiastuti Muchammad Chusnan Aprianto Muhammad Altab Muhammad Baiquni Muhammad Baiquni Muhammad Baiquni Nanny Roedjinandari Nanny Roedjinandari Nasirudin Niken Wirasanti Ningrum DD. Apsari Nopirin - Universitas Merdeka Malang Nopirin - Universitas Merdeka Malang Prabang Setyono Prihandoko, Diananto Putri, Indah Riadi Radjali Amin Ray March Syahadat Ris Hadi Purwanto Rohmani Sulisyati Rohmani Sulisyati Rukmini A.R Saepulloh Saepulloh Sarto Sarto Sarto Satyawan Pudyatmoko Shalibuddin Djalal Tandjung Shalibuddin Djalal Tandjung, Shalibuddin Djalal Siti Halimah Tusaddiah Sri Sapti Hamdaningsih Sudarmadj Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sudarmadj Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sudarmadji - UGM Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudarmadji Sudibyakto Sudibyakto Sunarto Sunarto Sutikno Sutikno Tri Satyatama Tri Widodo - UGM Yogyakarta Widiyastuti, Dyah Wisjnu Martani Yogi Prambudi Yohanes Sardjono Yoto Widodo Zaenuri Mastur Zaenuri Zaenuri