Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Comdent: Communication Student Journal

Analisis semiotika Roland Barthes terhadap representasi emerging adulthood dalam film Barbie (2023) Odyn, Dayra Afraa Zahira; Karimah, Kismiyati El; Nurfadila, Frila
Comdent: Communication Student Journal Vol 1, No 2 (2023): November 2023 - April 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v1i2.53202

Abstract

Latar Belakang: Film Barbie (2023) adalah film adaptasi dari boneka mainan anak terlaris sepanjang masa asal Amerika Serikat. Film yang diproduksi Warner Bros. Pictures dan disutradarai oleh Greta Gerwig ini menceritakan perjalanan hidup Barbie bersama Ken yang berfokus pada penyelesaian masalah hidup Barbie, tetapi dalam prosesnya kedua tokoh tersebut mempelajari banyak hal dan mengalami perkembagan diri. Meskipun film ini merupakan adaptasi dari boneka mainan anak-anak, audiens dari film ini berusia remaja ke atas karena banyak pesan-pesan terkait isu sosial seperti feminisme, tuntutan masyarakat, dan krisis eksistensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran emerging adulthood yang didalamnya terdapat pemahaman diri sendiri sebagai bagian dari self atau konsep yang penting dalam manajemen komunikasi orang dewasa. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis Semiotika Roland Barthes yang bertujuan untuk mengetahui pemaknaan tanda dalam adegan-adegan yang ada dalam film Barbie (2023). Hasil: Hasil analisis menunjukkan makna denotasi, konotasi, dan mitos yang ada dalam film melalui beberapa pilihan adegan. Penelitian menunjukkan tanda-tanda visual dan audio pada film yang terlihat pada tokoh film, terutama Stereotypical Barbie dan Beach Ken memunculkan makna denotasi, konotasi, dan mitos yang menggambarkan emerging adulthood sebagai (1) masa eksplorasi identitas diri; (2) masa yang penuh harapan serta rasa optimis; (3) terus mengalami ketidakstabilan; (4) belum bisa berkomitmen terhadap pilihan hidup; dan (5) proses menjadi self-sufficient dengan masih bergantung pada orang lain, terutama orang tua. Kata-kata kunci: Emerging adulthood; semiotika; Roland Barthes; representasi; Barbie
Keterbukaan diri pengguna aplikasi kencan online Bumble dalam Mencari Pasangan Fadilla, Sarah; Setiaman, Agus; Karimah, Kismiyati El
Comdent: Communication Student Journal Vol 1, No 1 (2023): Mei 2023 - Oktober 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v1i1.45735

Abstract

Latar belakang: Dalam mendapatkan pasangan, seseorang mencari calon pasangan dan menjalani masa pendekatan sebelum akhirnya melanjutkan ke tahap selanjutnya. Seiring perkembangan teknologi, mencari pasangan sudah bisa dilakukan secara daring, salah satunya menggunakan aplikasi kencan online. Pada penelitian ini, informan berasal dari Bandung atau Jatinangor yang sudah berpengalaman mendapatkan pasangan melalui Bumble berbagi pengalamannya dalam melakukan self disclosure dengan match nya sehingga menjadi pasangan. Tujuan: Penelitian ini meneliti motif penggunaan Bumble, bagaiman proses komunikasi self disclosure dengan match dan makna pasangan. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Hasil: Temuan penelitian menunjukan bahwa pada tahap awal pendekatan kontak daya tarik yang paling berpengaruh adalah daya tarik fisikdan kepribadian. Sedangkan saat melakukan self disclosure faktor besar kelompok, kepribadian dan efek diadik yang paling berpengaruh. Terjadi keterbukaan diri secara acak yang didasari oleh tujuan masing-masing informan. Kepercayaan mempengaruhi kedalaman self disclosure Informan yang memiliki daerah open self lebih besar dari daerah lainnya menandakan bahwa self disclosure yang terjadi secara mendalam dan self disclosure terjadi karena rasa percaya. Tidak masalah jika self disclosure pada masa pendekatan tidak terlalu dalam. Tetapi, self disclosure mempunyai pengaruh besar terhadap keharmonisan pada saat pendekatan yang mempunyai pengaruh besar juga saat mereka menjadi sepasang kekasih.
Penggunaan Fitur Closefriend Instagram Sebagai Bentuk Self Disclosure Sisnawar, Widya Cantika; Karimah, Kismiyati El; Zein, Duddy
Comdent: Communication Student Journal Vol 1, No 1 (2023): Mei 2023 - Oktober 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v1i1.45736

Abstract

Latar Belakang: Instagram adalah salah satu media sosial yang sering digunakan saat ini, khususnya oleh generasi milenial usia 18-24 tahun, di dalam Instagram pun terdapat berbagai fitur, salah satunya adalah fitur closefriend. Fitur closefriend merupakan fitur yang memungkinkan penggunanya dapat membagikan berbagai informasi dengan orang-orang yang telah mereka pilih untuk di masukan kedalam fitur tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui motif Mahasiswa Bandung-Jatinangor dalam melakukan self disclosure pada fitur closefriend, mengetahui pengalaman Mahasiswa Bandung-Jatinangor dalam melakukan self disclosure pada fitur closefriend hingga bagaimana Mahasiswa Bandung-Jatinangor memaknai self disclosure yang dilakukannya pada fitur closefriend. . Metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi, dimana peneliti melakukan observasi, wawancara dan studi kepustakaan untuk mendapatkan data penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat faktor yang dapat memotivasi seseorang untuk melakukan self disclosure pada fitur closefriend seperti besaran kelompok, perasaan menyukai, efek diadik, kompetensi, kepribadian, topik dan jenis kelamin. Selain itu setiap individu memiliki tingkat keterbukaan dan batasan privasi yang berbeda-beda. Self disclosure yang dilakukan pada fitur closefriend dilandasi dengan kepercayaan, rasa aman dan nyaman. Fitur closefriend memungkinkan penggunanya untuk dapat lebih berekspresi dan menjadi apa adanya dikarenakan di dalam fitur tersebut hanya berisikan orang-orang yang telah dipercaya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fitur closefriend menjadi wadah yang aman untuk melakukan self disclosure. Kata-kata kunci ; Self disclosure; Fitur Closefriend, Instagram, Faktor Self Disclosure, Batasan  privasi
Persepsi masyarakat mengenai kinerja Kepolisian Resort Pangandaran Sumampouw, Ronaldo Saul; Setiaman, Agus; Karimah, Kismiyati El
Comdent: Communication Student Journal Vol 2, No 2 (2024): November 2024 - April 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v2i2.55084

Abstract

Latar Belakang: Persepsi merupakan hasil pemaknaan dari stimulus yang diterima oleh komunikan. Dalam proses terciptanya persepsi, persepsi yang dihasilkan dapat memiliki perbedaan pemaknaan oleh setiap komunikan walaupun mendapatkan stimulus yang sama. Tidak terkecuali persepsi yang tercipta di masyarakat mengenai kinerja kepolisian, yang tentu saja dapat dipersepsikan berbeda-beda. Persepsi masyarakat akan ditinjau menggunakan Teori Penilaian Sosial dari Muzafer Sherif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat pengguna layanan SPKT Polisi Resort Pangandaran mengenai kinerja kepolisian. Dalam mengukur kinerja kepolisian, peneliti menggunakan 6 dimensi kualitas kinerja kepolisian dari Stephen D. Mastrofski, antara lain Aksesibilitas, keandalan, responsif, kemampuan, sikap, dan keadilan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan fakta-fakta atau fenomena yang terjadi tanpa harus mencari tahu hubungan ataupun pengaruh antar variabel. Hasil: Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa persepsi yang tercipta di masyarakat mengenai kinerja kepolisian SPKT Polisi Resort Pangandaran Baik, Hal ini terbukti dari nilai mean untuk dimensi Aksesibilitas sebesar 3,84; dimensi keandalan sebesar 3,90; dimensi responsif sebesasr 3,96; dimensi kemampuan sebesar 3,91; dimensi sikap sebesar 3,97; serta dimensi keadilan sebesar 4,03 dan nilai rerata sebesar 3,94 dari skala 5,00. Dengan kata lain, persepsi yang dihasilkan setelah merasakan kinerja kepolisian SPKT Polisi Resort Pangandaran adalah persepsi yang positif karena masuk ke dalam zona sikap Lattitude of Acceptence jika ditinjau dari Teori Penilaian Sosial yang dikemukanan oleh Muzafer Sherif.