Latar Belakang: Pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang belum optimal. Hanya 64,65% perawat memiliki pelaporan insiden baik, sedangkan 35,35% belum baik. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan rendahnya beberapa dimensi budaya keselamatan pasien dalam kategori baik, yaitu staffing and workload (6,06%), management support (18,18%), handoffs and transitions (29,29%), supervisor support (30,30%), dan response to error (37,37%). Tujuan: Menganalisis faktor determinan yang berhubungan dengan pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 99 perawat. Sembilan dimensi budaya keselamatan pasien berdasarkan Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) versi 2.0 dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Responden didominasi usia 26–35 tahun (67,68%), perempuan (74,75%), dan berpendidikan Ners (55,56%). Dimensi kategori baik adalah teamwork (85,86%) dan open communication (75,76%). Teamwork (p=0,078) dan staffing and workload (p=0,323) tidak berhubungan, sedangkan tujuh dimensi lainnya berhubungan signifikan. Lima determinan independen adalah supervisor support (AOR=60,196; p=0,009), handoffs and transitions (AOR=23,201; p=0,004), overall perception of patient safety (AOR=21,382; p=0,001), response to error (AOR=11,673; p=0,005), dan organizational learning (AOR=11,393; p=0,001). Supervisor support paling dominan. Kesimpulan: Kelima dimensi tersebut merupakan determinan independen yang berhubungan dengan pelaporan insiden, dengan supervisor support sebagai determinan paling dominan. Saran: Rumah sakit disarankan memprioritaskan penguatan supervisor support, handoffs and transitions, response to error, organizational learning, dan overall perception of patient safety untuk meningkatkan konsistensi pelaporan insiden.