Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Hubungan Beban Kerja dan Motivasi Perawat dalam Pelaksanaan Rom Exercise Pada Pasien Stroke di Ruang Interna Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV) Timor-Leste Julieta De Carvalho Xavier; Argi Virgona Bangun; Rahmi Imelisa; Iin Inayah; Dewi Umu Kulsum
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.62524

Abstract

Stroke merupakan masalah kesehatan global dengan angka kejadian tinggi yang membutuhkan rehabilitasi dini melalui Range of Motion (ROM) exercise. Pelaksanaan ROM exercise pada pasien stroke sangat bergantung pada motivasi perawat, yang dapat dipengaruhi oleh beban kerja. Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (HNGV) Timor-Leste menghadapi peningkatan kasus stroke signifikan (167 kasus pada 2024 menjadi 226 kasus pada 2025), namun pelaksanaan ROM exercise belum optimal. Menganalisis hubungan beban kerja perawat dengan motivasi perawat dalam pelaksanaan ROM exercise pada pasien stroke di Ruang Interna HNGV Timor-Leste. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel 50 perawat pelaksana diambil menggunakan total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner beban kerja (adaptasi NASA-TLX) dan kuesioner motivasi yang telah diuji validitas dan reliabilitas (Cronbach's Alpha 0,842 dan 0,856). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Likelihood Ratio. Sebagian besar perawat mengalami beban kerja sedang (72,0%), berat (16,0%), dan ringan (12,0%). Motivasi perawat berada pada kategori sedang (62,0%), tinggi (34,0%), dan rendah (4,0%). Uji Likelihood Ratio menunjukkan p-value = 0,000 (p < 0,05), berarti terdapat hubungan signifikan antara beban kerja dan motivasi. Arah hubungan positif dengan Contingency Coefficient 0,527 menunjukkan semakin tinggi beban kerja, semakin tinggi motivasi. Terdapat hubungan signifikan dan kuat antara beban kerja perawat dengan motivasi perawat dalam pelaksanaan ROM exercise pada pasien stroke di Ruang Interna HNGV Timor-Leste. Beban kerja tinggi justru berhubungan dengan motivasi lebih tinggi, menunjukkan perawat mempersepsikan beban kerja sebagai tantangan profesional yang memotivasi.
Efektivitas Model Supervisi Klinik Siklus Edukatif-Suportif-Administratif (ESA-C) Terhadap Peningkatan Kompetensi dan Efikasi Diri Perawat Klinis II di RSPAD Gatot Soebroto Ratu Lia Huslianti; Iin Inayah; Lilis Rohayani; Murtiningsih Murtiningsih; Rahmi Imelisa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63030

Abstract

Kompetensi dan efikasi diri perawat merupakan aspek penting dalam mendukung mutu asuhan keperawatan dan keselamatan pasien. Supervisi klinik yang terstruktur berperan dalam pengembangan profesional perawat, namun pelaksanaannya di rumah sakit masih cenderung berorientasi administratif dan belum terstandar. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan Model Supervisi Klinik Siklus Edukatif-Suportif-Administratif (ESA-C) terhadap kompetensi dan efikasi diri Perawat Klinis II. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest terhadap 49 responden Perawat Klinis II yang dipilih melalui total sampling di RSPAD Gatot Soebroto. Intervensi berupa penerapan supervisi klinik ESA-C yang mengintegrasikan fungsi edukatif, suportif, dan administratif selama 8 minggu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Nurse Professional Competence Scale (NPC Scale) dan General Self-Efficacy Scale (GSES) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan paired t-test dengan α = 0,05. Rata-rata kompetensi meningkat dari 4,12 menjadi 4,37 (p=0,023), sedangkan efikasi diri meningkat dari 3,21 menjadi 3,50 (p=0,001). Kualitas pelaksanaan supervisi meningkat pada seluruh fungsi ESA-C, dengan peningkatan paling menonjol pada fungsi edukatif (mean 5,76 menjadi 7,41). Terdapat hubungan positif antara kualitas supervisi ESA-C dengan kompetensi (r=0,283; p=0,049) dan efikasi diri (r=0,306; p=0,032). Penerapan supervisi klinik ESA-C efektif meningkatkan kompetensi dan efikasi diri Perawat Klinis II. Integrasi fungsi edukatif, suportif, dan administratif berpotensi menjadi pendekatan manajerial dalam memperkuat pembinaan kompetensi dan efikasi diri perawat secara berkelanjutan.
Hubungan Gaya Kepemimpinan Berbasis Empati dengan Kepuasan Kerja Perawat Generasi Milenial di RS Al Islam Bandung Fitrida Yudistia; Iin Inayah; Gunawan Irianto; Murtiningsih Murtiningsih; Rahmi Imelisa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63071

Abstract

Perawat generasi milenial mendominasi tenaga keperawatan di rumah sakit, namun memiliki karakteristik kerja yang berbeda, terutama dalam kebutuhan relasi interpersonal dan dukungan emosional dari atasan. Kepemimpinan berbasis empati menjadi pendekatan relevan untuk meningkatkan kepuasan kerja perawat milenial. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan berbasis empati dengan kepuasan kerja perawat generasi milenial. Desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel 167 perawat pelaksana generasi milenial di RS Al Islam Bandung melalui total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring terdiri dari instrumen Kepemimpinan Berbasis Empati dan Job Satisfaction Survey/JSS. Analisis menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden (68,3%) mempersepsikan kepemimpinan atasan pada kategori empati rendah, sementara kepuasan kerja terdistribusi antara rendah (50,9%) dan tinggi (49,1%). Uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,003 (p < 0,05), terdapat hubungan signifikan antara kepemimpinan berbasis empati dengan kepuasan kerja. Responden dengan persepsi empati tinggi memiliki proporsi kepuasan kerja tinggi lebih besar (66,0%) dibandingkan empati rendah (41,2%). Terdapat hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan berbasis empati dengan kepuasan kerja perawat generasi milenial. Manajemen rumah sakit disarankan memperkuat kompetensi kepemimpinan berbasis empati pada kepala ruangan sebagai strategi meningkatkan kepuasan kerja perawat generasi milenial.
Pengaruh Program Mentorship Terhadap Kompetensi Pengkajian Keperawatan Perawat Klinis I di RSPAD Gatot Soebroto Hermayanti Hermayanti; Iin Inayah; Fauziah Rudhiati; Chatarina Suryaningsih; Lilis Rohayani
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63120

Abstract

Kompetensi pengkajian keperawatan merupakan kemampuan fundamental yang menjadi dasar proses keperawatan. Perawat Klinis I (PK I) berada pada tahap awal pengembangan kompetensi klinis sehingga memerlukan pembimbingan terstruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh program mentorship terhadap kompetensi pengkajian keperawatan PK I di RSPAD Gatot Soebroto. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest-posttest control group melibatkan 48 PK I yang dibagi menjadi kelompok intervensi (n=24) dan kontrol (n=24). Kelompok intervensi memperoleh program mentorship selama 4 minggu, sedangkan kelompok kontrol menjalani pembinaan rutin. Kompetensi diukur menggunakan instrumen 20 butir yang telah divalidasi (I-CVI=1,00; S-CVI=1,00). Data yang belum memenuhi asumsi normalitas dilakukan reflected logarithmic transformation. Analisis menggunakan paired t-test dan independent t-test. Rata-rata skor kelompok intervensi meningkat dari 65,75±7,46 menjadi 96,08±2,12, sedangkan kelompok kontrol meningkat dari 65,08±7,66 menjadi 88,42±3,75. Paired t-test menunjukkan perbedaan bermakna antara pretest dan posttest pada kedua kelompok (p<0,001). Independent t-test menunjukkan perbedaan bermakna pada skor posttest antara kelompok intervensi dan kontrol (p<0,001), dengan rata-rata kelompok intervensi lebih tinggi. Program mentorship berpengaruh terhadap kompetensi pengkajian keperawatan PK I dan dapat dipertimbangkan sebagai strategi pembinaan klinis untuk mendukung pengembangan kompetensi perawat.
Faktor Determinan Yang Berhubungan dengan Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien Oleh Perawat di Rumah Sakit I Karawang 2026 Achmad Khusaeri; Iin Inayah; Achmad Setya Roswendi; Mulyati Mulyati; Tantan Hadiansyah
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63210

Abstract

Latar Belakang: Pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang belum optimal. Hanya 64,65% perawat memiliki pelaporan insiden baik, sedangkan 35,35% belum baik. Kondisi ini terjadi bersamaan dengan rendahnya beberapa dimensi budaya keselamatan pasien dalam kategori baik, yaitu staffing and workload (6,06%), management support (18,18%), handoffs and transitions (29,29%), supervisor support (30,30%), dan response to error (37,37%). Tujuan: Menganalisis faktor determinan yang berhubungan dengan pelaporan insiden keselamatan pasien oleh perawat di Rumah Sakit I Karawang. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional melibatkan 99 perawat. Sembilan dimensi budaya keselamatan pasien berdasarkan Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) versi 2.0 dianalisis secara univariat, bivariat menggunakan Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Responden didominasi usia 26–35 tahun (67,68%), perempuan (74,75%), dan berpendidikan Ners (55,56%). Dimensi kategori baik adalah teamwork (85,86%) dan open communication (75,76%). Teamwork (p=0,078) dan staffing and workload (p=0,323) tidak berhubungan, sedangkan tujuh dimensi lainnya berhubungan signifikan. Lima determinan independen adalah supervisor support (AOR=60,196; p=0,009), handoffs and transitions (AOR=23,201; p=0,004), overall perception of patient safety (AOR=21,382; p=0,001), response to error (AOR=11,673; p=0,005), dan organizational learning (AOR=11,393; p=0,001). Supervisor support paling dominan. Kesimpulan: Kelima dimensi tersebut merupakan determinan independen yang berhubungan dengan pelaporan insiden, dengan supervisor support sebagai determinan paling dominan. Saran: Rumah sakit disarankan memprioritaskan penguatan supervisor support, handoffs and transitions, response to error, organizational learning, dan overall perception of patient safety untuk meningkatkan konsistensi pelaporan insiden.
Pengaruh Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap Kinerja Dokumentasi Asuhan Keperawatan: Studi Kuasi-Eksperimen Pada Perawat di Timor-Leste Gonzalo José Teixeira; Iin Inayah; Gunawan Irianto; Mulyati Mulyati; Murtiningsih Murtiningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63299

Abstract

Kualitas dokumentasi asuhan keperawatan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan dan motivasi perawat. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan persepsi kepemimpinan, motivasi, dan kinerja dokumentasi asuhan keperawatan setelah pelatihan penguatan kepemimpinan dan motivasi. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sebanyak 28 perawat pelaksana dipilih dengan total sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=14) dan kontrol (n=14). Intervensi diberikan selama tiga minggu. Instrumen terdiri atas kuesioner kepemimpinan 23 item, motivasi 23 item, dan lembar observasi kinerja dokumentasi 10 item. Analisis menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Pada kelompok intervensi, skor kepemimpinan meningkat dari 65,64 menjadi 80,00, motivasi dari 68,21 menjadi 81,14, dan kinerja dokumentasi dari 45,07 menjadi 67,79. Kelompok kontrol menunjukkan perubahan yang kecil. Regresi sederhana menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara kepemimpinan maupun motivasi dengan kinerja dokumentasi (R²=0,994 dan 0,993; p<0,001). Model regresi berganda signifikan secara keseluruhan (R²=0,964; p<0,001), tetapi ditemukan multikolinearitas ekstrem (VIF=199,894; tolerance=0,005), sehingga koefisien individual model berganda tidak dapat diinterpretasikan secara andal. Temuan mendukung perlunya penguatan kepemimpinan dan motivasi, dengan interpretasi kausal yang tetap dibatasi oleh ukuran sampel dan desain penelitian.