Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : TOTOBUANG

HOMONIM BAHASA KEPULAUAN TUKANG BESI DIALEK KALEDUPA DI KABUPATEN WAKATOBI [The Homonymon of Tukang Besi Island languange in Kaledupa Dialect at Wakatobi Regency] Susiati susiati
TOTOBUANG Vol. 6 No. 1 (2018): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.473 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v6i1.72

Abstract

This study aimed to describe the form of word classes that was deeply conformed in the  Tukang Besi Island languange, Kaledupa dialect at Wakatobi Regency. This research method was qualitative descriptive method. The data source was taken from the native speakers  of Tukang Besi Island language, Kaledupa dialect and it was in oral data. Methods and techniques of data collection were observation methods with participantive observation techniques, recording , and noting techniques. Data analysis techniques were data selection, data classification, meaning, and data analysis. The results proved that the form ofhomonimic word class in  Tukang Besi Island languange, Kaledupan dialect were adjectives with nouns, nouns with nouns, verbs with adjectives, verbs with nouns, nouns with numerals, verbs with verbs, verbs with adverbs, particles with nouns. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kelas kata yang berhomonim dalam Bahasa Kepulauan Tukang Besi Dialek Kaledupa di Kabupaten Wakatobi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber datanya diambil dari para penutur asli bahasa Kepulauan Tukang Besi Dialek Kaledupa dan jenis datanya berupa data lisan. Metode dan teknik pengumpulan data, yaitu metode observasi dengan teknik observasi partisipatif, teknik rekam, dan teknik catat. Teknik analisis data, yaitu penyeleksian data, pengklasifikasian data, pemaknaan, dan penganalisisan data. Hasil penelitian membuktikan bahwa wujud kelas kata yang berhomonim dalam bahasa Kelupauan Tukang Besi Dialek Kaledupa, yaitu adjektiva dengan nomina, nomina dengan nomina, verba dengan adjektiva, verba dengan nomina, nomina dengan numeralia, verba dengan verba, verba dengan adverbia, dan partikel dengan nomina.
NILAI BUDAYA SUKU BAJO SAMPELA DALAM FILM THE MIRROR NEVER LIES KARYA KAMILA ANDINI [The Cultural Values of The Bajo Sampela Ethnic Group in The Mirror Never Lies Film by Kamila Andini] Susiati susiati
TOTOBUANG Vol. 6 No. 2 (2018): TOTOBUANG, EDISI DESEMBER 2018
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/ttbng.v6i2.105

Abstract

This study aims to describe cultural values of the Bajo Sampela Ethnic Group in The Mirror Never Lies film by Kamila Andini. This research is a qualitative research. Data is collected using the audio visual method, namely by seing and hearing an object from the pictures and sound. While, the data collection technique used the tecnique to see and note. The data were analyzed descriptively according to the theory of classification of cultural values by Koentjaraningrat. The results of the study indicate that cultural values of the Bajo Sampela Ethnic Group in The Mirror Never Liesfilm by Kamila Andini covering: (1) system of belief, the SBS community still trusted the sandro (the shaman); (2) system of knowledge, covering knowledge of nature, plants, animals, the nature and behavior of fellow humans, space and time; (3) system of technology, including production equipment, containers/places, weapons, food and beverages, clothing, shelter or houses, transportation equipment; (4) system of society, SBS is very upholding togetherness, helping each other, and entertaining each other; (5) system of livelihood, SBS cultivates seaweed (gelatin), fishes and sells it within SBS community or in the market; (6) language, Bajo and Bahasa Indonesia are used among the SBS community; (7) art, SBS has sound and dance arts.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya Suku Bajo Sampela (SBS) dalam film The Mirror Never Lies karya Kamila Andini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode audio visual, yakni dengan melihat dan mendengar suatu objek dari gambar dan suara. Sementara itu, teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat. Data dianalisis secara deskriptif sesuai dengan teori penggolongan nilai kebudayaan Koentjaraningrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya suku Bajo Sampela dalam film The Mirror Never Lies karya Kamila Andini meliputi (1) sistem kepercayaan,  masyarakat SBS masih mempercayai sandro (dukun); (2) sistem pengetahuan, meliputi pengetahuan tentang alam, tumbuhan, binatang, sifat dan tingkah laku sesama manusia, ruang dan waktu; (3) sistem teknologi, meliputi alat-alat produksi, wadah/tempat, senjata, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung atau rumah, dan alat transportasi. (4) sistem kemasyarakatan, SBS sangat menjunjung kebersamaan, saling tolong menolong, dan saling menghibur. (5) sistem mata pencaharian, SBS membudidaya rumput laut (agar-agar), mencari ikan, dan menjualnya di lingkungan SBS atau di pasar; (6) bahasa, SBS saat berinteraksi menggunakan bahasa Bajo dan bahasa Indonesia; (7) kesenian, SBS mempunyai seni suara dan tarian.
NILAI PEMBENTUK KARAKTER MASYARAKAT WAKATOBI MELALUI KABHANTI WA LEJA [Values for The Formation of The Character of The Wakatobi Community Through Kabhanti Wa Leja] Susiati susiati
TOTOBUANG Vol. 7 No. 1 (2019): TOTOBUANG, EDISI JUNI 2019
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.09 KB) | DOI: 10.26499/ttbng.v7i1.136

Abstract

This study aims to describe the value of forming the character of the wakatobi community through Wa Leja kabhanti. This research is a qualitative research. Data is collected using the refer method. Meanwhile, data collection techniques use note-taking techniques. The results showed that there were twenty-nine values forming the character of the wakatobi community through Wa Leja kabhanti which included (1) social care; (2) love / affection and love; (3) submission; (4) praise; (5) humility: (6) breadwinner; (7) surrender; (8) attention; (9) find out; (10) firm stand; (11) optimistic; (12) advice; (13) loyal friends; (14) keep promises; (15) sincerity; (16) disappointed; (17) hurt; (18) sadness; (19) shame; (20) confidence; (21) confused; (22) convincing; (23) loyal to lovers; (24) regret; (25) pity; (26) hope; (27) forgive each other; (28) application; and (29) reprimand.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai pembentuk karakter masyarakat Wakatobi melalui Kabhanti Wa Leja. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode simak. Sementara, teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua puluh sembilan nilai pembentuk karakter masyarakat wakatobi melalui Kabhanti Wa Leja meliputi (1) peduli sosial; (2) rasa kasih/sayang dan cinta; (3) kepasrahan; (4)  pujian; (5) kerendahan hati: (6) pencari nafkah; (7) berserah diri; (8) perhatian; (9) mencari tahu; (10) teguh pendirian; (11) optimis; (12) nasihat; (13) setia kawan; (14) tepati janji; (15) ikhlas; (16) kecewa; (17) sakit hati; (18) kesedihan; (19) rasa malu; (20) percaya diri; (21) bingung; (22) meyakinkan; (23) setia pada kekasih; (24) penyesalan; (25) rasa kasihan; (26) pengharapan; (27) saling memaafkan; (28) permohonan; dan (29) teguran.