Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search
Journal : Zuriat

Heritabilitas, Kemampuan Genetik dan Korelasi Karakter Daun dengan Buah Muda, Pada 21 Genotip Nenas Neni Rostini; Ema Yuliani; Nani Hermiati
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6732

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemajuan genetik, heritabilitas dan korelasi karakter daun dengan buah muda pada 21 genotip nenas di desa Tambakan Subang. Percobaan telah dilakukan dari bulan Mei 2005 sampai bulan Juli 2005 di desa Tambakan kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan 21 genotip nenas sebagai perlakuan dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria nilai kemajuan genetik yang tinggi terdapat pada panjang daun ke-2, panjang daun ke-3, dan lebar kanopi. Kriteria nilai duga heritabilitas yang tinggi ditunjukkan oleh panjang daun ke-3, lebar kanopi, dan panjang buah. Lebar daun ke-2, lebar daun ke-3, dan diameter mahkota berkorelasi positif secara genotipik dan fenotipik dengan diameter buah dan panjang buah.
Variasi Pola Pita dHubungan Kekerabatan Nanas Berdasarkan Analisis Isozim S. Hadiati; Murdaningsih H. K.; Achmad Baihaki; Neni Rostini
Zuriat Vol 13, No 2 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i2.6728

Abstract

Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Solok mempunyai 30 aksesi nanas yang berasal dari beberapa daerah di Jawa dan Sumatera dengan penampilan fenotipik bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman pola pita dan jarak genetik atau hubungan kekerabatan 30 aksesi nanas berdasarkan isozim. Gel poliakrilamid digunakan untuk elektroforesis dengan enam system enzim (PER, PGM, ADH, MDH, SKDH, dan GPI). Rumus koefisien kemiripan Dice digunakan untuk menentukan kemiripan genetik antar 30 aksesi nanas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan 30 nomor aksesi nanas berdasarkan pola pita isozim PER, PGM, ADH, MDH, SKDH terdiri atas empat kelompok pada kemiripan genetik 0.63; enzim GPI adalah monomorfik. Antar klon Merah/pagar, Hijau dan Merah, Queen, Cayenne, serta dalam klon Queen dan Cayenne terdapat variasi pola pita. Antar klon Merah dan Hijau, serta dalam klon Merah, Hijau, dan Merah/Pagar tidak terdapat variasi pola pita.
Uji BUSS dan Penampilan Fenotipik Beberapa Genotip Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Pasuruan Hendrik Yustra Gunawan; Neni Rostini; Dedi Ruswandi
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6856

Abstract

Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pengujian BUSS terhadap lima genotip cabai merah yang diuji dan mendapatkan informasi mengenai penampilan fenotipik sepuluh genotip cabai merah. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan genotip cabai merah yang mempunyai penampilan fenotipik yang lebih unggul dari varietas pembandingnya. Percobaan dilaksanakan di Dinas Pertanian Kebun Benih Hortikultura, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Ketinggian tempat sekitar 950 diatas permukaan laut (dpl), tipe curah hujan menurut Schmidt-Ferguson (1951) termasuk ke dalam curah hujan tipe D (sedang). Percobaan dilakukan pada bulan Juni sampai bulan November 2010. Genotip-genotip yang diuji adalah RS-07, RM 08A x KRTRM 1B, KRTRM Up Right, RM 08A x RTRM 1A, dan KRT Shatol serta pembandingnya Tanjung-1, Tanjung-2, Tit Super, Laris dan Lembang-1. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan sepuluh perlakuan diulang tiga kali. Hasil uji BUSS menunjukan terdapat 22 karakter yang berbeda dari lima genotip cabai merah yang diuji dengan pembandingnya dan kelima genotip yang diuji memenuhi unsur kebaruan, keunikan, keseragaman dan kestabilan. Berdasarkan karakter bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot, genotip yang memiliki penampilan lebih baik dari pembandingnya adalah genotip RS 07, genotip RM 08A × KRTRM 1B, genotip KRT Shatol dan genotip RM 08A x KRTRM 1A.
Pemetaan QTL Resistensi Tanaman Jagung terhadap Penyakit Bulai Di Bogor M. Azrai; Murdaningsih H. K.; Neni Rostini; Sugiono Moeljopawiro; D. Ruswandi
Zuriat Vol 13, No 2 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i2.6747

Abstract

Sebagai bagian dari suatu penelitian kolaboratif AMBIONET (Asian Maize Biotechnology Network), Indonesia turut serta dalam kegiatan marker assisted selection (MAS) untuk pemuliaan jagung tahan bulai. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan 146 marka RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism) yang berasosiasi dengan lokus karakter kuantitatif ketahanan dari 134 populasi genotip RIL (recombinant inbred lines) progeni CML 139 x Ki3. Penelitian dibagi atas dua tahap yaitu tahap analisis molekuler dan tahap pengujian di lapangan. Analisis molekuler memanfaatkan data dari Pusat Penelitian Internasional Jagung dan Terigu (CIMMYT), Mexico. Penelitian lapangan dilakukan di Bogor pada bulan Mei 2002 sampai Juli 2002. Data fenotipik (persentase serangan bulai) dianalisis dengan menggunakan program alpha lattice, sedangkan analisis QTL (Quantitative Trait Loci) menggunakan “software computer” program “Windows QTL Cartographer V.1.21”. Hasil analisis QTL menunjukkan bahwa dari 146 marka RFLP pada 134 populasi genotip RIL progeni CML 139 x Ki3, terdapat 14 marka yang terdistribusi pada enam kromosom dari 10 kromosom berdasarkan fenotaiping di Bogor. Efek aditif yang terdeteksi dalam analisis QTL pada umumnya bernilai negatif yang mengarah ke CML 139 (genotip peka).
Variabilitas Genetik Manggis Hasil Iradiasi Sinar Gamma Melalui Analisis RAPD Hamda Fauza; Murdaningsih H. Karmana; Neni Rostini; Ika Mariska
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6802

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui variabilitas genetik tanaman manggis generasi M1 berdasarkan pola pita RAPD sebagai respon terhadap beberapa dosis irradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan adalah 0 krad, 1 krad, 2 krad, dan 3 krad. Sumber bahan tanaman yang akan diiradiasi berasal dari biji buah manggis yang berasal dari satu tanaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan variabilitas genetik di antara individu tanaman baik antar perlakuan maupun di dalam perlakuan. Perlakuan dengan dosis 1 krad memperlihatkan variabilitas genetik yang lebih luas disbanding perlakuan lain. Untuk mendapatkan variabilitas genetik yang luas disarankan menggunakan dosis iradiasi sinar gamma sebesar 1 krad.
PERTUMBUHAN DAN VARIABILITAS FENOTIPIK MANGGIS HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Hamda Fauza; Murdaningsih H. Karmana; Neni Rostini; Ika Mariska
Zuriat Vol 16, No 2 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i2.6770

Abstract

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura buah-buahan tropik Indonesia, yang bernilai ekonomi tinggi. Manggis termasuk tanaman yang mengalami reproduksi secara apomiksis, sehingga variabilitasnya sempit. Mendapatkan jenis baru menggunakan metode pemuliaan tanaman konvensional dibatasi oleh sempitnya variabilitas genetik yang ada. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan variabilitas genetik adalah melalui mutasi. Mutasi dapat dilakukan melalui induksi mutagen fisik, salah satunya dengan iradiasi sinar gamma. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan variabilitas fenotipik tanaman manggis generasi M1 sebagai respon terhadap beberapa dosis  iradiasi sinar gamma. Dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan adalah 0 krad (A), 1 krad (B), 2 krad (C), dan 3 krad (D). Percobaan di lapangan ditata dalam rancangan acak kelompok (RAK). Sumber bahan tanaman yang akan diiradiasi berasal dari biji buah manggis yang berasal dari satu tanaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan variabilitas fenotipik di antara individu tanaman, baik antar perlakuan maupun di dalam perlakuan. Iradiasi sinar gamma dengan dosis 1 krad memperlihatkan pengaruh yang paling baik pada pertumbuhan tanaman di lapangan. Disarankan untuk melanjutkan penelitian ini ke tahap selanjutnya dalam melihat variabilitas genetik tanaman manggis dengan menggunakan marka DNA.
Korelasi Vegetatif dengan Hasil dan Kualitas Hasil Pada 98 Genotip Nenas dari Beberapa Seri Persilangan Generasi F1 Neni Rostini; Eryk Barlianto; Noladhi Wicaksana
Zuriat Vol 17, No 1 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i1.6793

Abstract

Penelitian bertujuan memperoleh karakter vegetatif yang memiliki korelasi nyata dengan karakter hasil dan kualitas hasil pada 98 genotip nenas dari beberapa seri persilangan generasi F1 koleksi Neni Rostini. Percobaan telah dilakukan dari bulan September sampai bulan Desember 2004 di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Bahan percobaan menggunakan 98 genotip nenas dari beberapa seri persilangan yang berasal dari tigabelas genotip tetua, yaitu: S, NBJTQ-A-10, NBJTQ-B-004, NPSCC-021-3, NH-SLK-045-5B, NSC-SLK-057-6, NSC-SLK-045-4, N3, NBR-055, NBR-054, NLASBSC-031, NHSLK-045-5A dan NPSC-C-021-5 dengan 15 kombinasi persilangan antar tetua. Metode yang digunakan adalah metode percobaan tanpa rancangan tata ruang dengan analisis korelasi linear sederhana. Untuk menguji signifikansinya digunakan uji t-student. Karakter utama yang diamati adalah karakter vegetatif, karakter hasil dan kualitas hasil. Karakter vegetatif diamati pada empat fase pertumbuhan nenas yaitu saat muncul mahkota, saat muncul bakal buah, saat bunga pertama mekar dan saat bunga terakhir mekar, karakter vegetatif yang diamati diantaranya: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun. Sedangkan untuk karakter hasil diantaranya: diameter buah, panjang buah, bobot buah total, bobot satu buah, dan jumlah mata; serta karakter kualitas hasil yang diamati antara lain: kedalaman mata, diameter core, warna daging buah, padatan total terlarut (TSS) dan pH buah. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi positif nyata pada keempat fase pertumbuhan nenas yaitu antara karakter tinggi tanaman dengan panjang buah, diameter buah, diameter core, bobot buah total, dan bobot satu buah; karakter panjang daun kedua dengan diameter core, bobot buah total, dan bobot satu buah; karakter lebar daun kedua dengan panjang buah, diameter buah, bobot buah total, dan bobot satu buah; serta karakter lebar daun ketiga dengan panjang buah. Terdapat korelasi negatif nyata antara karakter tinggi tanaman dengan warna daging buah saat muncul bakal buah; karakter lebar daun pertama dengan pH saat muncul bakal buah, pada saat bunga pertama mekar dan saat bunga terakhir mekar; karakter lebar daun kedua dengan pH saat bunga pertama mekar.
Keberhasilan Persilangan Tomat Varietas Komersial (Lycopersicum esculentum L.) dengan Tomat Mutan Tahan Simpan Gungun Wiguna; Elfira Rosalita; Anas Anas; Neni Rostini; Syariful Mubarok; Hiroshi Ezura
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.692 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.23205

Abstract

Post-harvest loss is an obstacle for tomato farmers that cause tomato farming being unprofitable. Utilization of mutant genes prolong tomato fruit shelf life through crossing is one of the best solutions to improve the fruit quality. The objective of this study was to determine the success of cross-pollination between commercial tomato varieties and shelf life of mutant tomatoes. Two mutant tomato lines Sletr1-1 and Sletr1-2, and one wild type strain were crossed with four commercial varieties (Intan, Mutiara, Ratna, and Mirah ). The results showed that the success rate of crossing ranged from 77.50% to 100%, with an average of 95.76%. The average maximum growth potential of seeds produced was 89.17% with the lowest value of 75% and the highest 98.5%. The most top success of crosses was built by a combination of crossing Ratna x Sletr1-2, and the combination of Mirah x Sletr1-1 showed the lowest percentage of the crossing. The Intan showed the highest success as female parent of crossing, while Mirah was the lowest production of the crossing. The plant height of all hybrid was smaller compared to the commercial varieties.
INTERAKSI GENOTIP X LINGKUNGAN KARAKTER HASIL DAN INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT ANTRAKNOS (Colletotrichum sp.) PADA SEPULUH GENOTIP CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) Iva Sativa; Neni Rostini
Zuriat Vol 22, No 2 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i2.6857

Abstract

Interaksi genotip x lingkungan digunakan untuk mengukur stabilitas suatu genotip. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi interaksi genotip x lingkungan (lokasi) karakter hasil dan intensitas serangan Antraknos sepuluh genotip cabai merah pada dua lokasi yang berbeda. Percobaan dilaksanakan di  Balai Benih Induk tanaman hortikultura Nongko Jajar Jawa Timur (lokasi I) dengan ketinggian tempat sekitar 900 m dpl tipe iklim menurut Schmidt-Ferguson (1951) termasuk ke dalam curah hujan tipe D dan Pangalengan Jawa Barat (lokasi II) dengan ketinggian tempat 1100 m dpl termasuk ke dalam curah hujan tipe C. Genotip-genotip yang diuji adalah RS-07, RM 08A.KRTRM IB, KRT Shatol, RM 08A.KRTRM IU, dan RM 08A.KRTRM IA, serta pembanding Tanjung-1, Tanjung-2, Tit Super, Laris dan Lembang-1. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan sepuluh perlakuan diulang tiga kali.  Hasil percobaan menunjukkan terdapat interaksi antara genotip x lokasi pada karakter  panjang buah, jumlah buah per tanaman, bobot buah pertanaman, dan bobot buah perplot. Berdasarkan karakter bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot genotip RS 07 dan RM08 x KRTRM IB memilki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan Tanjung, Tanjung 2 dan Tit Super  pada kedua lokasi. Hasil pengamatan karakter ketahanan Antraknos di lapangan dan uji penyimpanan genotip KRT Shatol tergolong toleran terhadap penyakit Antraknos. Kultivar  Laris tergolong tahan di lapangan, tetapi rentan pada saat di penyimpanan di laboratorium.
Korelasi Hasil dan Komponen Hasil dengan Kualitas Hasil Pada 100 Genotip Nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) dari Beberapa Seri Persilangan Generasi F1 Neni Rostini; Yuti Giametri; Suseno Amien
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6729

Abstract

Penelitian bertujuan untuk memperoleh satu atau beberapa karakter hasil dan komponen hasil yang memiliki korelasi dengan kualitas hasil 100 genotip nenas hasil beberapa seri persilangan koleksi Neni Rostini. Penelitian telah dilakukan dari bulan Desember 2004 sampai bulan Februari 2005 di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen tanpa model tata ruang yang menggunakan analisis korelasi linear sederhana. Untuk menguji signifikansinya digunakan t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif nyata antara kedalaman mata dengan panjang buah, bobot buah, bobot buah total dan jumlah mata; diameter core dengan panjang pedunkulus, panjang buah, bobot buah total dan jumlah mata; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan diameter pedunkulus. Terdapat korelasi negatif antara diameter core dengan panjang pedunkulus; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan panjang pedunkulus dan jumlah mata; Organoleptik dengan tinggi mahkota; pH dengan diameter pedunkulus; warna daging buah dengan panjang pedunkulus