Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Efektivitas Teknik Reinforcement Negatif Dalam Mengurangi Perilaku Agresif Motorik Pada Anak Dengan Gangguan Emosional Dan Perilaku Gusria Herlina; Marlina Marlina; Rahmahtrisilvia Rahmahtrisilvia; Safaruddin Safaruddin; Endang Sri Handayani
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i2.1993

Abstract

This study was conducted to address aggressive motor behavior in the form of hitting exhibited by a ninth-grade student with emotional and behavioral disorders (EBD) at Aisyiyah Sijunjung. The behavior occurred spontaneously, repeatedly, and frequently during learning activities, disrupting the learning process and social interactions. The purpose of this study was to examine the effectiveness of negative reinforcement techniques in reducing the frequency of aggressive motor behavior. The research subject consisted of students with EBD, with one student selected as the subject using purposive sampling. The study employed a single subject research (SSR) method with an A-B-A design. Data were collected through direct observation using frequency recording and supported documentation. Data analysis was carried out using visual graphical analysis, focusing on changes in trend direction, level, variability, and overlap between phases. The findings indicated that the frequency of hitting behavior decreased from an average of 7.25 times per session during the initial baseline phase (A1) to 3.67 times during the intervention phase (B), and further declined to 1.8 times during the final baseline phase (A2), with a 0% overlap. The results conclude that negative reinforcement techniques are effective in reducing aggressive motor behavior in students with emotional and behavioral disorders.
Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Menggunakan Metode Fernald Bagi Disabilitas Intelektual Ringan Rindu Sinaga; Mega Iswari; Damri Damri; Safaruddin Safaruddin; Mardhatillah Zulpiani
Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP) Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (JKIP)
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Almatani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/jkip.v7i2.2015

Abstract

This study aimed to improve early reading skills through the implementation of the Fernald method among third-grade students with mild intellectual disabilities at SLB Negeri Pematang Siantar. The study employed a Classroom Action Research (CAR) design conducted in two cycles, each consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages. The research subjects consisted of two students with mild intellectual disabilities, identified as IA and AM. Based on the initial assessment results, the students’ early reading abilities were classified as low, with achievement percentages of 30% for IA and 25% for AM. The implementation of Cycle I showed an improvement in early reading skills for both students, with IA and AM each achieving 45%. Furthermore, a more significant improvement was observed in Cycle II, where IA achieved 80% and AM achieved 75%. Data were collected through observations using an early reading skills assessment checklist, while data analysis was carried out using descriptive quantitative techniques by comparing students’ achievement levels across cycles. The findings indicate that the application of the Fernald method was effective in improving early reading skills among students with mild intellectual disabilities. These results suggest that reading instruction employing a multisensory approach—integrating visual, auditory, kinesthetic, and tactile modalities—can enhance students’ motivation, comprehension, and early reading outcomes in accordance with the characteristics of learners with mild intellectual disabilities.
Meningkatkan Kemampuan Penjumlahan melalui Media Papan Penjumlahan pada Murid Disabilitas Rungu Indri Rahmadhani; Zulmiyetri Zulmiyetri; Mega Iswari; Safaruddin Safaruddin; Rila Muspita
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 4 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i4.4989

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 melalui penggunaan media papan penjumlahan pada murid disabilitas rungu kelas II di SLB Haropana Hilmi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan Single Subject Research (SSR) dan desain A–B–A yang terdiri atas kondisi Baseline-1 (A1) sebanyak 3 sesi, Intervensi (B) sebanyak 8 sesi, dan Baseline-2 (A2) sebanyak 3 sesi. Subjek penelitian adalah seorang murid disabilitas rungu kelas II yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep penjumlahan dan menentukan hasil penjumlahan dalam bentuk simbol bilangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes perbuatan dan observasi. Data dianalisis menggunakan analisis visual dalam kondisi dan analisis visual antar kondisi yang meliputi kecenderungan arah, kecenderungan stabilitas, perubahan level, dan persentase overlap. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 setelah diberikan intervensi menggunakan media papan penjumlahan. Pada kondisi Baseline-1 (A1), kemampuan murid berada pada persentase 30%, kemudian meningkat secara bertahap hingga mencapai 90% pada kondisi Intervensi (B). Selanjutnya, pada kondisi Baseline-2 (A2), kemampuan murid dapat dipertahankan pada persentase 90% pada setiap sesi. Hasil analisis persentase overlap antara kondisi Baseline-1 (A1) dan Intervensi (B) menunjukkan persentase sebesar 0%, yang menunjukkan tidak adanya data yang tumpang tindih antara kedua kondisi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa media papan penjumlahan dapat meningkatkan kemampuan penjumlahan bilangan 1–10 pada murid disabilitas rungu. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa media papan penjumlahan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang konkret dan visual untuk membantu murid disabilitas rungu dalam memahami konsep penjumlahan bilangan 1–10.
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGIKAT TALI SEPATU MENGGUNAKAN MODEL DIRECT INSTRUCTION PADA ANAK DISABILITAS INTELEKTUAL Erlince Sinaga; Gaby Arnez; Mega Iswari; Safaruddin Safaruddin
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 Juni - Agustus 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i3.5084

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan bina diri peserta didik yang berdampak pada kurangnya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model direct instruction dan meningkatkan keterampilan mengikat tali sepatu pada peserta didik disabilitas intelektual. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dengan masing-masing siklus terdiri atas dua kali pertemuan untuk memberikan kesempatan latihan berulang sebelum evaluasi tindakan dilakukan. Teknik pengumpulan data berupa observasi dan tes keterampilan mengikat tali sepatu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model direct instruction memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan peserta didik. Pada Siklus I, nilai rata-rata peserta didik mencapai 68,75 dengan ketuntasan belajar sebesar 50%, sedangkan pada Siklus II meningkat menjadi 84,38 dengan ketuntasan belajar mencapai 100%. Peningkatan keterampilan pada Siklus I sebesar 43,47% dan pada Siklus II sebesar 22,67%. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara langsung, bertahap, dan disertai latihan berulang mampu meningkatkan keterampilan motorik halus, keterlibatan aktif, serta kemandirian peserta didik disabilitas intelektual. Dengan demikian, model direct instruction efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan bina diri, khususnya keterampilan mengikat tali sepatu.
Pengalaman Regulasi Emosi Guru dalam Pembelajaran Murid Disabilitas di SLB YPAC Sumatera Barat: Studi Fenomenologi Hana Salsabila; Antoni Tsaputra; Rahmatrisilvia Rahmatrisilvia; Safaruddin Safaruddin
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 16 No. 4 (2026): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v16i4.4994

Abstract

Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) menghadapi tuntutan emosional yang tinggi dalam mendampingi murid disabilitas sehingga kemampuan meregulasi emosi menjadi kompetensi penting untuk menjaga efektivitas pembelajaran dan profesionalisme. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada hubungan antarvariabel dan pengalaman subjektif guru dalam meregulasi emosi masih jarang dikaji. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman regulasi emosi guru selama proses pembelajaran di SLB YPAC Sumatera Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi transendental dengan melibatkan lima guru yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tema, yaitu ragam emosi yang muncul selama pembelajaran, faktor pemicu emosi, tuntutan pekerjaan, dan kondisi pribadi, pengaruh kondisi emosional terhadap interaksi dan proses belajar, pengalaman psikologis serta fisiologis akibat tekanan emosional, strategi regulasi emosi melalui refleksi diri, pengendalian diri, dan nilai spiritual, sumber dukungan regulasi emosi dari rekan kerja, keluarga, dan lingkungan sekolah, serta makna regulasi emosi sebagai wujud kesabaran, empati, dan profesionalisme dalam mendampingi murid disabilitas. Temuan menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan kompetensi esensial yang mendukung kesejahteraan guru, terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, dan peningkatan kualitas layanan pendidikan khusus.
Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Dalam Mengidentifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Workshop Di Nagari Jaho, Kabupaten Tanah Datar   Endang Sri Handayani; Yosa Yulia Nasri; Elsa Efrina; Johandri Taufan; Rahmahtrisilvia Rahmahtrisilvia; Arisul Mahdi; Antoni Tsaputra; Safaruddin Safaruddin; Damri Damri; Rilla Muspita; Mardhatillah Zulpiani; Salwa Nur Salsabila; Hafizh Farezi
ARSY : Jurnal Aplikasi Riset kepada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): ARSY : Jurnal Aplikasi Riset kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Al-Matani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/2w81cm22

Abstract

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif sangat ditentukan oleh kompetensi guru dalam mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak dini. Namun, masih banyak guru sekolah dasar, khususnya di daerah, yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus melalui workshop di Nagari Jaho, Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan diikuti oleh 10 guru dari tiga sekolah dasar, yaitu SDN 25 Tambangan, SDN 04 Jaho, dan SDN 11 Tambangan. Metode yang digunakan berupa penyampaian materi mengenai jenis dan karakteristik murid disabilitas, konsep pendidikan inklusif, serta praktik identifikasi disabilitas di sekolah inklusif. Efektivitas kegiatan dievaluasi menggunakan desain pretest-posttest terhadap pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti workshop. Rata-rata nilai peserta meningkat dari 23,5 pada saat pretest menjadi 27,8 pada saat posttest, dengan rata-rata peningkatan sebesar 4,3 poin. Delapan dari sepuluh peserta mengalami peningkatan skor, sedangkan dua peserta mempertahankan skor maksimal yang telah dicapai pada saat pretest. Hasil tersebut menunjukkan bahwa workshop efektif dalam meningkatkan kompetensi guru dalam mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus sebagai langkah awal implementasi pendidikan inklusif. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta mendukung terwujudnya pendidikan inklusif di Nagari Jaho. Ke depan, kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan peserta yang lebih luas agar dampaknya terhadap implementasi pendidikan inklusif semakin optimal