Claim Missing Document
Check
Articles

Pembelajaran Sejarah Online Mahasiswa STKIP PGRI Lubuklinggau di Masa Pandemik Covid 19 Agus Susilo; Andriana Sofiarini
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol 3 No 1 (2020): Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.301 KB) | DOI: 10.31539/kaganga.v3i1.1303

Abstract

The research purposes is to find out the online history learning of STKIP PGRI Lubuklinggau students in the Covid Pandemic period 19. This study used a qualitative description method, researchers directly analyze the lecture system of history education students at STKIP PGRI Lubuklinggau. The results were obtained as follows: 1) general history learning for students, which is basically most of history learning is done face-to-face or outside the field. However, due to the Covid 19 epidemic, historical learning was shifted to online learning. 2) Online History Learning STKIP PGRI Lubuklinggau students in the Covid Pandemic Period 19, namely students of STKIP PGRI Lubuklinggau history education are required to conduct online learning to support. The continuation of online learning in the Covid 19 period, made learning history more interesting. Nevertheless, direct learning is still expected in the future. The conclusions of the study are: online learning can be a solution for students of history education in attending lectures during the Covid 19 epidemic. Keywords: Online, STKIP PGRI Lubuklinggau, Pandemic
Kuliah Lapangan Sejarah sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Mahasiswa STKIP PGRI Lubuklinggau Agus Susilo; Ratna Wulansari
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v8i2.9369

Abstract

Pendidikan Sejarah adalah bagian dari pembelajaran menelaah masa lampau yang dikaji berdasarkan masa saat ini. Perguruan Tinggi memiliki program dalam pengembangan Pendidikan Sejarah pada mahasiswanya. Program Kuliah Lapangan Sejarah pada mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau adalah sebuah program yang bersinergi dengan mata kuliah wajib mahasiswanya. Kuliah Lapangan Sejarah adalah bagian dari penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter menjadi kajian dalam kurikulum 2013 yang mengedepankan sikap dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Mahasiswa yang mengunjungi situs-situs Sejarah diharapkan memperoleh pengetahuan dan wawasan langsung dari obyek yang dikunjunginya, serta mampu menyerap ilmu yang didapat dari studi lapangan tersebut. Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat dalam peninggalan sejarah menjadi bahan renungan dan tindakan untuk terus mengembangkan dan memelihara peninggalan bersejarah yang bernilai tinggi. Hasil dari kunjungan Kuliah Lapangan Sejarah oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau diharapkan pembelajaran sejarah di lapangan dapat membangkitkan semangat mahasiswa dalam belajar untuk lebih mengetahui sejarah yang lebih luas. Selain itu, mampu penyerapan pengetahuan terhadap peninggalan bersejarah membentuk karakter mahasiswa yang baik, yang berinovatif, pekerja keras, dan berwawasan global. Kata Kunci: Kuliah Lapangan Sejarah, Pendidikan Karakter
Pemanfaatan Media Visualisasi Interaksi Sosial Masyarakat Zaman Kerajaan Sriwijaya di SMA Negeri 5 Surakarta Agus Susilo
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v5i2.4813

Abstract

Media pembelajaran yang dimanfaatkan adalah media pembelajaran sejarah visualisasi yang telah ada tentang interaksi sosial masyarakat zaman Kerajaan Sriwijaya. Dimana media visualisasi ini akan dipakai dalam penelitian pada siswa di SMA Negeri 5 Surakarta. Jenis penelitian kualitatif ini adalah mengangkat masalah pemanfaatan media pembelajaran dengan memanfaatkan media visualisasi yang berisi materi Kerajaan Sriwijaya untuk diterapkan di SMA Negeri 5 Surakarta. Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta mengumpulkan video pembelajaran terkait Kerajaan Sriwijaya untuk dimanfaatkan sebagai pembelajaran visualisasi. Media Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 5 Surakarta, yaitu dalam proses pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Surakarta, peran seorang guru sangat minim dan terbatas dalam menggunakan atau memanfaatkan sebuah media pembelajaran untuk membantu dan mempermudahkan dalam penyampaian materi pelajaran. Kebutuhan siswa akan media yang berbeda, membuat pembelajaran sejarah di SMA Negeri 5 Surakarta harus bervariasi. Siswa menginginkan pembelajaran yang tidak membosankan hanya berpatok pada satu model pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Media visualisasi yang diterapkan terbukti mampu membuat siswa lebih paham dan mampu menelaah materi pembelajaran sejarah. Kata Kunci: Pembelajaran, Media Visualisasi
Perjanjian Linggarjati (Diplomasi dan Perjuangan Bangsa Indonesia Tahun 1946-1947) Agus Susilo; Ratna Wulansari
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.12683

Abstract

Abstrak: Perjanjian Linggarjati merupakan Perjanjian yang muncul setelah Belanda melakukan serangan pasca diumumkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia berusaha untuk merebut dan menegakkan wilayah kekuasaan di Indonesia. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu untuk menguraikan Perjanjian Linggarjati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perjuangan bangsa Indonesia melalui Perjanjian Linggarjati. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwaalam perjanjian Linggarjati, wilayah Indonesia yang diakui oleh Belanda meliputi Jawa, Sumatera, dan Madura. Belanda juga membentuk negara boneka untuk mempersempit ruang gerak Republik Indonesia. Kesimpulannya, yaitu: Perjanjian Linggarjati membuat wilayah kekuasaan Republik Indonesia semakin sempit yang hanya sebatas Jawa, Sumatera, dan Madura. Untuk mempersempit ruang gerak Republik Indonesia, Belanda membentuk negara boneka. Perjanjian Linggarjati diakhiri dengan perjuangan bangsa Indonesian dalam merebut kemerdekaan secara de facto dan de jure atas seluruh wilayah Republik Indonesia yang dikuasai Belanda.Kata Kunci: Indonesia, Linggarjati, Perjanjian, Perjuangan Abstract: The Linggarjati Agreement is an agreement that emerged after the Dutch carried out the attack after the announcement of Indonesian independence on August 17, 1945. The Dutch, who did not recognize Indonesian independence, tried to seize and enforce the territory of Indonesia. The problem raised in this study is to describe the Linggadjati Agreement. The purpose of this study is to determine the form of the Indonesian nation's struggle through the Linggarjati Agreement. The research method used in this research is the historical method which consists of heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that in the Linggarjati agreement, the Indonesian territories recognized by the Dutch included Java, Sumatra and Madura. The Netherlands also formed a puppet state to narrow the space for the Republic of Indonesia to move. The conclusion, namely: The Linggarjati Agreement made the territory of the Republic of Indonesia narrower, which was only limited to Java, Sumatra and Madura. To narrow the space for the Republic of Indonesia, the Netherlands formed a puppet state. The Linggarjati Agreement ended with the Indonesian nation's struggle to seize independence de facto and de jure over the entire territory of the Republic of Indonesia controlled by the Dutch.Keywords: Indonesia, Linggarjati, Agreement, Struggle 
Perkembangan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Pada Mahasiswa Sejarah di Era New Normal Agus Susilo; Dodik Mulyono
HEURISTIK: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 2 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/hjps.2.1.45-54

Abstract

Character education is education that is related to the character, values, and norms that apply in society. This study aims to determine the development of character education values in history students in the new normal era. Character education in the New Normal is a problem that must be known as the material for this research. The method in this research is descriptive qualitative study. The sources in this study are the results of observations of researchers in the field which were developed with other sources such as interviews, sources of books and relevant research journals to be studied. The results and discussion of this research is that education in New Normal Era Universities is in the pandemic era and the New Normal era due to the Covid-19 pandemic, Universities are experiencing the impact of this. Universities must begin to adjust to the new conditions that occur in Indonesia. Even though it has entered the New Normal era, universities still have to be disciplined in maintaining the process that the government wants. This is very important to save the Indonesian people so that the Covid-19 pandemic outbreak can be resolved properly. While character education in the New Normal era is the condition of History students during learning activities during the New Normal era. The behavior caused by History students during online and face-to-face learning is limited to being studied to determine the level of character that is the subject of research. Basically, the problems that arise during learning in the New Normal era are related to the formation of the attitude of History students to remain conducive during the New Normal era.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENYULUHAN PENDIDIKAN SEBAGAI PENENTU MASA DEPAN BANGSA DI DESA KERTA DEWA KECAMATAN RAWAS ULU KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA Sarkowi S.; Agus Susilo; Yadri Irwansyah
JURNAL CEMERLANG : Pengabdian pada Masyarakat Vol 1 No 2 (2019): JURNAL CEMERLANG: Pengabdian pada Masyarakat
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2308.308 KB) | DOI: 10.31540/jpm.v1i2.221

Abstract

Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan pendidikan di Desa Kerta Dewa ini dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan mitra dari Pemerintahan Desa Kerta Dewa, yakni rendah motivasi masyarakat dalam mendukung anak-anak desa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilaksanakan Pengabdian kepada Masyarkat (PkM) dengan metode penyuluhan tentang pentingnya pendidikan sebagai penentu masa depan bangsa pada masyarakat Desa Kerta Dewa. Dari keseluruhan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk penyuluhan pendidikan ini menunjukkan hasil yang sangat baik, diantaranya: Pertama, peserta yang terdiri dari masyarakat Desa Kerta Dewa menyambut dengan positif dan antusias pelaksanaan kegiatan PkM ini. Kedua, bertambahnya pemahaman dan pengetahuan peserta tentang pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka, hal ini ditunjukkan dari pertanyaan dan tanggapan mereka pada sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber pada saat kegiatan berlangsung. Dan ketiga, besarnya harapan peserta agar intensitas penyuluhan atau kegiatan sejenisnya sering dilaksanakan di desa mereka.
PENDIDIKAN DAN KEARIFAN LOKAL ERA PERSPEKTIF GLOBAL Agus Susilo; Yadri Irwansyah
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 1 No 1 (2019): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.808 KB) | DOI: 10.31540/sdg.v1i1.193

Abstract

Pendidikan dan kearifan lokal era perspektif global adalah bagaimana peran seorang guru dalam membimbing peserta didik tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam masyarakat. Seorang guru merupakan pelaku perubahan yang mampu membuat peserta didik lebih baik, lebih maju dalam pemikiran dan mempunyai sifat yang bijaksana. Guru pada dasarnya adalah seorang pejuang pendidikan yang terus mengabdikan ilmunya demi kemajuan sebuah bangsa melalui dunia pendidikan. Dalam hal ini guru juga harus memahami lingkungan dalam masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal yang seringkali dilupakan, terus diajarkan oleh seorang guru agar tidak lupa. Masyarakat memiliki peran yang luas dalam membantu dunia pendidikan dalam mengenalkan kearifan lokal dalam hidup anak didiknya. Diharapkan generasi muda yang dihasilkan kelak adalah generasi muda yang siap bersaing dalam tatanan dunia era 4.0. Situs Ulak Lebar yang merupakan situs lokal masyarakat Kota Lubuklinggau yang memiliki ciri khas masyarakat lokal kota Lubuklinggau yang sangat tinggi. Bukti-bukti peninggalannya yang masih ada dan terawat dengan baik akan menjadi bahan kajian Sejarah Lokal. Dalam pembelajaran di Sekolah, khususnya pelajaran sejarah, sudah seharusnya pengenalan sejarah lokal di Kota Lubuklinggau diaktualisasikan ke pada siswanya. Nilai yang ada dalam Situs Ulak Lebar akan menjadi identitas masyarakat Kota Lubuklinggau yang kaya akan nilai karakter bangsa berwawasan global.
PENDIDIKAN DAN KEARIFAN LOKAL ERA PERSPEKTIF GLOBAL Agus Susilo; Yadri Irwansyah
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 1 No 1 (2019): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.808 KB) | DOI: 10.31540/sdg.v1i1.193

Abstract

Pendidikan dan kearifan lokal era perspektif global adalah bagaimana peran seorang guru dalam membimbing peserta didik tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam masyarakat. Seorang guru merupakan pelaku perubahan yang mampu membuat peserta didik lebih baik, lebih maju dalam pemikiran dan mempunyai sifat yang bijaksana. Guru pada dasarnya adalah seorang pejuang pendidikan yang terus mengabdikan ilmunya demi kemajuan sebuah bangsa melalui dunia pendidikan. Dalam hal ini guru juga harus memahami lingkungan dalam masyarakatnya. Nilai-nilai kearifan lokal yang seringkali dilupakan, terus diajarkan oleh seorang guru agar tidak lupa. Masyarakat memiliki peran yang luas dalam membantu dunia pendidikan dalam mengenalkan kearifan lokal dalam hidup anak didiknya. Diharapkan generasi muda yang dihasilkan kelak adalah generasi muda yang siap bersaing dalam tatanan dunia era 4.0. Situs Ulak Lebar yang merupakan situs lokal masyarakat Kota Lubuklinggau yang memiliki ciri khas masyarakat lokal kota Lubuklinggau yang sangat tinggi. Bukti-bukti peninggalannya yang masih ada dan terawat dengan baik akan menjadi bahan kajian Sejarah Lokal. Dalam pembelajaran di Sekolah, khususnya pelajaran sejarah, sudah seharusnya pengenalan sejarah lokal di Kota Lubuklinggau diaktualisasikan ke pada siswanya. Nilai yang ada dalam Situs Ulak Lebar akan menjadi identitas masyarakat Kota Lubuklinggau yang kaya akan nilai karakter bangsa berwawasan global.
Elit Tradisional dalam Onder Afdeling Rawas Masa Kekuasaan Belanda Tahun 1901-1942 Agus Susilo; Sarkowi Sarkowi
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 1 No 2 (2019): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1365.465 KB) | DOI: 10.31540/sdg.v1i2.321

Abstract

Traditional elites are nobles who have a very important role in society. They are highly respected in social life. These traditional elites usually have better knowledge and have better education than ordinary people. In addition, traditional elites are also very vital in land ownership. Some of the land in the Surulangun area belongs to local nobles and indigenous people as managers. Life in Surulangun was also very promising because of the life of activities around the Rawas river which became the meeting point of other traders around the Rawas river. In addition to having the Rawas river which is the lifeblood of trade in Surulangun, this area is also very strategic because it borders the Jambi area. For crops, the Surulangun area is also very large, this is the spirit of the Dutch nation along the Musi and Rawas rivers to get to Surulangun. After taking power in Surulangun, the Netherlands made this area an area of the capital of Onder Afdeling Rawas. The Dutch colonial nation held many friendships with traditional elites to support its government. In the form of Dutch cooperation with these traditional elites by promising better assets and positions, many traditional elites were interested in cooperating. On the other hand, the Netherlands wants a traditional elite as a liaison between the Netherlands and the indigenous people to manage mining and plantations in Surulangun. So that the Dutch Colonial nation became very advanced and developed rapidly after making Surulangun as one of the contributors of wealth to Dutch Colonial.
Elit Tradisional dalam Onder Afdeling Rawas Masa Kekuasaan Belanda Tahun 1901-1942 Agus Susilo; Sarkowi Sarkowi
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 1 No 2 (2019): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1365.465 KB) | DOI: 10.31540/sdg.v1i2.321

Abstract

Traditional elites are nobles who have a very important role in society. They are highly respected in social life. These traditional elites usually have better knowledge and have better education than ordinary people. In addition, traditional elites are also very vital in land ownership. Some of the land in the Surulangun area belongs to local nobles and indigenous people as managers. Life in Surulangun was also very promising because of the life of activities around the Rawas river which became the meeting point of other traders around the Rawas river. In addition to having the Rawas river which is the lifeblood of trade in Surulangun, this area is also very strategic because it borders the Jambi area. For crops, the Surulangun area is also very large, this is the spirit of the Dutch nation along the Musi and Rawas rivers to get to Surulangun. After taking power in Surulangun, the Netherlands made this area an area of the capital of Onder Afdeling Rawas. The Dutch colonial nation held many friendships with traditional elites to support its government. In the form of Dutch cooperation with these traditional elites by promising better assets and positions, many traditional elites were interested in cooperating. On the other hand, the Netherlands wants a traditional elite as a liaison between the Netherlands and the indigenous people to manage mining and plantations in Surulangun. So that the Dutch Colonial nation became very advanced and developed rapidly after making Surulangun as one of the contributors of wealth to Dutch Colonial.