Claim Missing Document
Check
Articles

Transformasi Paradigma Pembelajaran Sejarah pada Peserta Didik di Era Revolusi Industri 4.0 Agus Susilo; Khoirul Anwar; Djono Djono
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 7 No. 2 (2024): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/kaganga.v7i2.12559

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana paradigma pembelajaran sejarah pada peserta didik telah berubah di era Revolusi Industri 4.0, serta menganalisis dampak dari adopsi teknologi baru seperti big data, kecerdasan buatan (AI), dan Virtual Reality (VR) dalam proses pembelajaran. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah semakin mengintegrasikan teknologi digital untuk menghadirkan materi secara interaktif dan partisipatif, memungkinkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif dalam proses belajar. Teknologi seperti AI dan VR tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam melalui simulasi dan visualisasi peristiwa sejarah. Transformasi ini juga mempengaruhi peran dosen sebagai fasilitator yang lebih banyak bertindak sebagai pembimbing daripada sumber utama informasi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa era Revolusi Industri 4.0 memicu perubahan signifikan dalam paradigma pembelajaran sejarah, yang mengarah pada pendekatan yang lebih kolaboratif, adaptif, dan berbasis teknologi, namun tetap menekankan pentingnya pemahaman kritis terhadap materi sejarah. Kata Kunci: Pembelajaran Sejarah, Revolusi Industri 4.0, Transformasi Paradigma
Dekonstruksi dan Transformasi Makna Tradisi Mandi Kasai dalam Masyarakat Lubuklinggau Warto, Agus Susilo,
SINDANG: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah Vol 7 No 2 (2025): SINDANG: JURNAL PENDIDIKAN SEJARAH DAN KAJIAN SEJARAH
Publisher : LP4MK STKIP PGRI Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31540/sindang.v7i2.3416

Abstract

Tradisi Mandi Kasai merupakan salah satu praktik budaya yang telah lama melekat dalam masyarakat Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Namun, seiring perkembangan zaman, makna dan fungsi tradisi ini mengalami pergeseran yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi makna dan menelusuri transformasi Tradisi Mandi Kasai dalam konteks masyarakat Lubuklinggau. Melalui pendekatan dekonstruksi, penelitian ini mengkritisi narasi dominan yang melekat pada tradisi tersebut, serta mengungkap konstruksi sosial, politik, dan budaya yang membentuknya. Data dikumpulkan melalui studi literatur, wawancara mendalam dengan tokoh adat, dan observasi partisipatif terhadap pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Mandi Kasai awalnya memiliki makna sakral sebagai bagian dari ritual penyucian diri dan penghormatan terhadap leluhur. Namun, dalam perkembangannya, tradisi ini mengalami transformasi makna akibat pengaruh modernisasi, globalisasi, dan perubahan nilai-nilai masyarakat. Dekonstruksi terhadap tradisi ini mengungkap bahwa beberapa aspek Mandi Kasai telah direkonstruksi untuk kepentingan tertentu, seperti pelestarian budaya dan pariwisata. Selain itu, tradisi ini juga menjadi alat legitimasi kekuasaan bagi elite lokal yang berusaha mempertahankan pengaruhnya di tengah masyarakat. Penelitian ini juga menemukan bahwa transformasi makna Mandi Kasai membuka ruang bagi reinterpretasi dan inovasi tradisi agar lebih relevan dengan nilai-nilai modern, seperti inklusivitas dan kesetaraan gender. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya asli dan adaptasi terhadap perubahan sosial. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika tradisi lokal di tengah arus modernisasi, serta menawarkan perspektif kritis tentang bagaimana tradisi dapat bertransformasi tanpa kehilangan esensi kulturalnya.