Claim Missing Document
Check
Articles

Makrozoobenthos Gastropoda pada Vegetasi Mangrove di Pesisir Utara, Semarang Haryo Farras Raditya Hutama; Retno Hartati; Ali Djunaedi
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.037 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.22453

Abstract

Kerusakan hutan mangrove yang terjadi karena adanya aktivitas manusia cukup mengkhawatirkan dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota yang hidup didalamnya, salah satunya adalah Gastropoda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi jenis makrozoobenthos gastropoda  dan menganalisa struktur komunitasnya. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di 4 lokasi yakni Mangunharjo, Mangkang Wetan, Pantai Maron dan Trimulyo, Semarang. Penentuan lokasi sampling dengan metode purposive sampling method terbagi dari kelebatan mangrove lebat, sedang dan jarang pada setiap lokasi penelitian dengan pertimbangan pengaruh aliran sungai terhadap parameter disetiap stasiunnya.Klasifikasi kelebatan mangrove berdasarkan data sekunder kerapatan mangrove Pesisir Utara Semarang 2015. Pengambilan sampel gastropoda menggunakan metode kualitatif dengan transek 5m x 5m dan 1m x 1m dengan jumlah stasiun sebanyak 8 dan 3 kali pengulangan pada setiap stasiunnya. Hasil penelitian ditemukan 8 jenis spesies yang terdiri dari 4 famili yang berbeda.Famili Potamididae paling banyak ditemukan dengan jumlah 4 spesies. Ditemukan satu spesies Famili Neriitidae yakni Nerita sp. serta satu spesies Famili Ellobiidae yakni Cassidula sp.. Kelimpahan tertinggi terdapat pada Stasiun MR1 (25.667 ind./75m2) dan terendah distasiun MW3 (0.107 ind./75m2). Nilai Indeks Keanekaragaman masuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai indeks keseragaman dalam kategori tinggi.Dalam penelitian ini menemukan spesies yang mendominasi pada 2 stasiun yaitu Stasiun MW1 dan MR1. The damage of the mangrove ecosystem which occur due to human activity is quite alarming and effect on the survival of biota that lived in it, one which is Gastropods. This research was conducted to find out the composition of macrozoobenthos gastropods and analyze its community structure. Sampling did on March 2015 at 4 locations, i.e., Mangunharjo, Mangkang Wetan, Maron and Trimulyo, Semarang. This study was conducted to determine and identify the community structure of gastropod macrozoobenthos in mangrove vegetation on the coast of Semarang The determination of sampling location use purposive sampling method that divide the dense mangrove luxuriance, moderate and rarely at location research. The dense mangrove classification based on secondary data from the landsat image of 8 and the data density of mangrove North Coastal Semarang 2015. Sampling use qualitative method with 5 m x 5 m transects and 12 stations with three-time repetitions for each stations. The results found gastropods 8 types of species comprising in 4 different families. Potamididae family is the most dominant where found 4 species. One species of Neriitidae family is found which Nerita sp. and one species of the Ellobidae family is also found, which Cassidula sp.. The highest abundance was found on Station MR1 (25.667 ind./75m2) and the lowest in station MW3 (0.107 ind./75m2). The value of the Diversity Index can be category as average while the Equitability Index value is high. In this study, found there is 2 dominance species on the whole research station, one at MW1 and the other at MR1.
Hubungan Panjang Berat Teripang Holothuria atra di Pulau Panjang, Jepara Primaswatantri Permata; Suryono Suryono; Frijona F. Lokollo; Widianingsih Widianingsih; Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Retno Hartati
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 2 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i2.36380

Abstract

Holothuria atra merupakan salah satu teripang dan sering dijumpai berasosiasi dengan padang lamun dan  substrat pasir.  Walaupun bernilai ekonomi rendah, secara ekologi mempunyai manfaat sebagai bioturbator dan mempunyai potensi dalam bidang farmaseutical. Teripang ini ditenukan hidup di Pulau Panjang, dengan karakteristik perairan tertutup dan dangkal dengan akses yang mudah untuk wisatawan maupun perikanan tangkap yang dapat menjadi tekanan bagi populasi teripang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan panjang dan berat populasi teripang H. atra di Pulau Panjang, Jepara pada lokasi padang lamun dan pecahan karang dimana H. atra banyak ditemukan. Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode deskriptif eksploratif dengan melakukan pengambilan sampel H. atra dengan teknik sampling complete enumeration pada luas lokasi penelitian yang telah ditentukan.  Hasil penelitian  menunjukkan kepadatan teripang di stasiun padang lamun (Stasiun A) lebih rendah dengan distribusi ukuran yang lebih kecil daripada di stasiun pecahan karang (Stasiun B). Pada semua stasiun dan waktu pengambilan sampel, pola pertumbuhan relatif yang ditunjukkan oleh hubungan panjang dan berat teripang H. atra bersifat allometrik negatif dengan keeratan hubungan yag sangat kecil. Hal ini disebabkan oleh kesulitan pengukuran pada teripang yang bertubuh lunak dengan elastisitas dinding tubuh (integument), isi pada sistem pencernaan makanannya dan kandungan cairan coelomic (rongga tubuh) yang dapat membuat bias analisa.Holothuria atra is one of species sea cucumbers often found in association with seagrass beds and sand substrates. Although it has low economic value, ecologically it has benefits as a bioturbator and has potential in the pharmaceutical. It is found in Panjang Island, which has characteristic of  closed and shallow waters with easy access for tourists and capture fisheries which can put pressure on the sea cucumber population. This study aimed to determine the relationship between length and weight of H. atra population in the seagrass bed and rubble area in Panjang Island, Jepara. The research method used is descriptive exploratory and H. atra were sampled using a complete enumeration sampling technique at a predetermined area of the research location. The results showed that the density of sea cucumbers at the seagrass beds station (Station A) was lower with a smaller size distribution than at the rubble station (Station B). At all stations and sampling times, the relative growth pattern shown by the correlation between length and weight of H. atra is negative allometric with very small relationship value. This was due to the difficulty of measuring soft-bodied sea cucumbers with the elasticity of the body wall (integument), the contents of the digestive system and coelomic fluid in the body cavity which can bias the analysis.
Komposisi Echinodermata Di Rataan Litoral Terumbu Karang Pantai Krakal, Gunung Kidul,Yogyakarta Ken Suwartimah; Dwi Saniscara Wati; Hadi Endrawati; Retno Hartati
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 1 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.512 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i1.15743

Abstract

Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam hal keanekaragaman fauna di daerah terumbu karang. Hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan mencari makan bagi fauna Echinodermata. Salah satu penyebaran biota ini adalah di perairan rataan terumbu karang Pantai Selatan di Pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui species dan kelimpahan Echinodermata di Pantai Krakal, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode transek kuadrat dengan ukuran 1m2. Hasil pengamatan ditemukan beberapa species dari 3 kelas dari filum Echinodermata, antara lain 3 species dari kelas Echinoidea, 3 species dari kelas Ophiuroidea, dan 1 species dari kelas Asteroidea. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan individu tertinggi penelitian adalah Ophiocoma scolopendrina (4.01 ind. /m2) dan terendah adalah Archaster typirus ( 1 ind. /m2). Echinodermata is a important ecosystem component in terms of the diversity of fauna in the coral reefs. This is because the coral reefs act as a refuge and feeding ground for the fauna of the Echinoderms. One of echinoderm habitat is reef flat waters of Krakal Beach, Gunung Kidul, Jogjakarta. The purpose of this research is identify and determine the abundance of Echinoderms. Purpossive sampling method was applied. The samples were taken using 1m2 transect squares. There were 3 classes of Echinodermata found, i.e. 3 species of Echinoidea, 3 species of Ophiuroidea, and 1 species of Asteroidea. The result showed that the highest was Ophiocoma scolopendrina (4,01 ind./m2 and the lowest was Archaster typirus (1 ind./m2)
Analisis Kelimpahan Mikroalga Epifit Pada Lamun Enhalus acoroides Di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara Cantik Sitta Devayani; Retno Hartati; Nur Taufiq-Spj; Hadi Endrawati; Suryono Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.447 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23739

Abstract

Padang lamun berfungsi sebagai daerah asuhan, pemijahan, tempat mencari makan dan habitat bagi biota laut, diantaranya: ikan, meiofauna, maupun mikroalga epifit. Mikroalga epifit dapat digunakan sebagai salah satu unsur indikator dalam ekosistem perairan terkait dengan kesuburan dan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan mikroalga epifit pada daun lamun Enhalus acoroides yang  dilakukan pada Oktober 2018 dengan metode diskriptif. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive random sampling dengan tiga stasiun yaitu di perairan Pantai Nyamplungan (Stasiun 1), Pantai Bobi (Stasiun 2) dan Pelabuhan Syahbandar (Stasiun 3). Sampel daun lamun E. acoroides dipotong menjadi tiga bagian, yaitu ujung (UA dan UB), tengah (TA dan TB) dan pangkal (PA dan PB) daun. Untuk mendapatkan sampel mikroalga epifit dilakukan dengan metode pengerikan. Hasil penelitian  di semua  stasiun ditemukan tiga kelas yakni Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax dan Prorocentrum. Kelimpahan total mikroalga epifit tertinggi terdapat pada Stasiun 3 (11.234 sel/cm2) dan terendah pada Stasiun 2 (6.717 sel/cm2). Kelimpahan mikroalga epifit pada ujung daun bagian permukaan atas (UA) menghasilkan jumlah tertinggi yakni 5.682 sel/cm² dan bagian yang terendah terdapat pada posisi tengah daun bagian permukaan bawah (TB) sebanyak 3.292 sel/cm². Posisi menempel pada bagian lamun berpengaruh terhadap kelimpahan mikro alga epifit. Seagrass bed has a function as  nursery, spawning, and feeding ground, as well as a habitat for marine biota such as fish, meiofauna, and epiphytic microalgae. Epiphytic microalgae can be used as one of the indicators in aquatic ecosystems related to productivity and pollution. The aims of this study were to know the composition and abundance of epiphytic microalgae on Enhalus acoroides leaves. This research was done on October 2018 by using descriptive method. The sample was taken from three stations, ie.  Nyamplungan (Station 1), Bobi Beach (Station 2) and Syahbandar Port (Station 3). The seagrass samples of  Enhalus acoroides leaves were cut into three parts i.e. tip (UA & UB), middle (TA & TB)  and base (PA & PB) part of the leaves to obtain the samples of epiphytic microalgae by using scratching method. The results of the study found three classes, i.e.  Bacillariophyceae, Dinophyceae and Cyanophyceae. The genus most commonly found were Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax and Prorocentrum. The highest total abundance of epiphytic microalgae was at Station 3 (11.234 sel/cm2) and the lowest at Station 2 (6.717 sel/cm2). The abundance of  epiphytic microalgae based on different part of seagrass leaves showed that the upper surface of the leaf tip (UA) has highest abundance (5.682 cell/cm²) and the bottom surface of the middle leaf (TB) has the lowest abundance (3.292 cell/cm²). The posisiton of attachment affect on the abundance of epiphyte microalgae.
Komunitas Makrozoobentos pada Substrat Dasar Lunak Di Muara Sungai Wulan, Demak Narendra Prasidya Wishnu; Retno Hartati; Jusup Suprijanto; Nirwani Soenardjo; Gunawan Widi Santosa
Buletin Oseanografi Marina Vol 9, No 1 (2020): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.515 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v9i1.27431

Abstract

Muara Sungai Wulan yang terletak di Pantai Demak, Jawa Tengah,merupakan habitat yang baik bagi komunitas makrozoobentos. Habitat tersebutdicirikan dengan sedimen pasir, lanau dan lempung, karena pada beberapa tempat merupakan substrat dasar lunak yang didominasi oleh sedimen lanau. Identifikasi jenis makrozoobentos dan analisis keanekaragamannya penting untuk menentukan kondisi ekosistem substrat lunak tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis dan mengetahui struktur komunitas makrozoobentos pada substrat lunak di perairan Delta Wulan, Demak. Metode survei eksploratif diaplikasikan pada penelitian ini dan purposive random sampling dilakukan pada saat mengambil sample sedimen pada12 titik penelitian dengan menggunakan van veen grab sampler. Analisa makrozobentos dan ukuran butir dilakukan terhadap sampel sedimen. Penelitian menemukan 24 spesies makrozoobentos yang termasuk dalam 4 filum, yaitu Arthropoda, Cnidaria, Echinodermata dan Moluska. Titik 5 adalah titik dengan nilai kelimpahan dan keanekaragaman tertinggi adalah Anadara. Terdapat dominansi 4 species yang berbeda disemua titik pengambilan sampel, yaitu Anadara sp., Paphia sp., Cominella sp. dan Gemmula sp. Sedimen pada daerah penelitian termasuk klasifikasi lanau komposisi pasir 2,5-22,14%, lanau 67,82-94,79% dan lempung 0-22,86% serta kandungan bahan organik total yang dikategorikan rendah-sedang dengan nilai berkisar 3,0-14,83%. Adanya dominasi jenis tersebut, maka substrat lunak merupakan habitat yang baik untuk moluska, khususnya bivalvia, sehingga daerah tersebut menjadi tempat penangkapan kerang.  Wulan estuary, located in Demak regency, Central Java, is a suitable habitat for the macrozoobenthos community. The habitat is characterized by sand, silt, and clay sediments, which in some places are soft substrates dominated by silt sediments. Identification of macrozoobenthos types and diversity analysis is important to determine the condition of the soft substrate ecosystem. The purpose of this study was to identify species and determine the structure of the macrozoobenthos community on soft substrates in the waters of Delta Wulan, Demak. Explorative survey method was applied in this study while purposive random sampling was carried out to collect the sediment samples at 12 research stations using a Van Veen grab sampler. Macrozoobenthos and grain size analyzes were performed used the sediment samples obtained. The study found 24 species of macrozoobenthos, which included 4 phyla, namely Arthropods, Cnidaria, Echinoderms and Molluscs. Station 5 has the highest value of abundance and diversity Anadara. Four different genera are dominant at all sampling points, namely Anadara sp., Paphia sp., Cominella sp., and Gemmula sp. Sediments in the study area included silt classification in which the composition of sand 2,5-22,14%, the silt of 67,82-94,79%, and loam of 0-22,86% and total organic matter content which was categorized as low-moderate with values ranging from 3,0-14,83%. The dominance evidence in this estuary concluded that soft substrate is a suitable habitat for mollusks, primarily bivalves; therefore this was the capture area of bivalve.
Keberadaan Krustasea di Kawasan Vegetasi Mangrove Tugurejo, Semarang Retno Hartati
Buletin Oseanografi Marina Vol 5, No 2 (2016): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.443 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v5i2.15732

Abstract

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik karena terjadi akibat perpaduan antara habitat darat dan laut. Ekosistem mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis hewan benthos termasuk krustasea yang memegang peranan penting dalam ekosistem tersebut. Adanya perubahan fungsi lahan untuk berbagai kepentingan manusia diduga akan berpengaruh terhadap kondisi kelimpahan krustaseayang terdapat di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisais komposisi dan struktur komunitas makrozoobenthos krustasea di kawasan mangrove Tugurejo, Semarang. Pengambilan sampel dilakukan dengan 2 metode yaitu kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 22 jenis makrozoobenthos krustasea, dari Infra Ordo Brachyura ditemukan 14 jenis yang termasuk ke dalam 5 famili, Infra Ordo Macrura ditemukan 4 jenis yang termasuk ke dalam 4 famili, dari Isopoda ditemukan 3 jenis dan dari Copepoda ditemukan satu jenis biota. Nilai indeks keanekaragaman semua stasiun termasuk kategori sedang. Indeks keseragaman rendah sampai  tinggi. Terdapat dominansi species di Stasiun B (vegetasi pohon) dan C (vegetasi sapling).  Pola sebaran krustasea mengelompok. Nilai indeks kesamaan komunitas termasuk kategori rendah dan tinggi. Secara umum jumlah krustasea pada infra ordo Brachyura jantan lebih banyak dari betina, dan jumlah infra ordo Brachyura betina yang bertelur 23,07% dari jumlah betina yang ditemukan. Kata Kunci : Mangrove, Krustasea, Komposisi dan Kelimpahan
Hubungan Nutrien Pada Sedimen dan Penutupan Lamun Di Perairan Jepara Sarah Nabilla; Retno Hartati; Ria Azizah Tri Nuraini
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.015 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4252

Abstract

The availability of nutrients in seagrass beds can act as growth limiting factors. Absorption of nutrients in the water column is carried out by the leaves while the absorption of nutrients from the sediment is carried out by the roots but does not rule out the transport of nutrients by the roots will also arrive at the leaves of the seagrass. If the nutrient requirement is not met properly, then the growth will be disrupted. Like the difference in distribution and density of seagrass itself. Nutrient concentrations in waters vary. Nitrate and phosphate levels in the waters are strongly influenced by sources of organic material from outside/land (allochthonous) or from the water itself (autocthonous). This research was conducted with the aim of nothing: to determine the relationship between nutrient content (nitrate and phosphate) in sediment to seagrass cover in Teluk Awur and Pantai Blebak, JeparaData collection of seagrass and sediment was carried out on March 2018 in the waters of Teluk Awur and Blebak Beach, Kabupaten Jepara. Type identification, density, and coverage are carried out at the research location. Nitrate and phosphate analysis in sediments is carried out in Laboratorium Pengujian dan Peralatan. Based on the results of research that has been carried out, it can be concluded that there is a very strong positive relationship between nutrients and seagrass closure in the two research locations, each of which is 0.955 (91.1%) in Teluk Awur waters and 0.962 (92.6%) in Blebak Beach.Ketersediaan nutrien di perairan padang lamun dapat berperan sebagai faktor pembatas pertumbuhan. Penyerapan nutrien pada lamun pada kolom air dilakukan oleh daun sedangkan penyerapan nutrien dari sedimen dilakukan oleh akar namun tidak menutup kemungkinan pengangkutan nutrien oleh akar juga akan sampai pada bagian daun. Jika kebutuhan nutrien tidak terpenuhi dengan baik, maka pertumbuhannya mengalami gangguan. Seperti perbedaan sebaran dan kepadatan lamun itu sendiri. Konsentrasi nutrien di perairan bervariasi. Kadar nitrat dan fosfat di perairan sangat dipengaruhi oleh sumber bahan organik yang berasal dari luar/ daratan (allochthonous) maupun dari dalam perairan itu sendiri (autocthonous). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: untuk mengetahui hubungan antara kandungan nutrien (nitrat dan fosfat) pada sedimen terhadap tutupan lamun di Teluk Awur dan Pantai Blebak, Jepara. Identifikasi jenis, kepadatan dan penutupan dilakukan pada lokasi penelitian. Analisa nitrat dan fosfat dalam sedimen dilakukan di Laboratorium Pengujian dan Peralatan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat di ambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan sangat kuat positif antara nutrien dengan penutupan lamun pada dua lokasi penelitian, nilainya masing-masing sebesar 0,955 (91,1%) di Perairan Teluk Awur dan 0,962 (92,6%) di Pantai Blebak.
Studi Keanekaragaman Makrozoobentos Pada Habitat Lamun Hasil Transplantasi dengan Metode Ramah Lingkungan Ita Riniatsih; Retno Hartati; Sri Redjeki; Hadi Endrawati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.821 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2401

Abstract

Damage to seagrass ecosystems resulting in loss of habitat makrozoobentos.The effort to fix them with seagrass transplantation program. Transplantation of seagrass with environment friendly techniques is expected to help to recreate habitat for makrozoobentos. Research on makrozoobentos diversity in habitats seagrass transplantation results using two methods of transplantation techniques bamboo frame and bamboo tubes.  The seagrass Enhalus acoroides type is transplanted. Research conducted in the waters of the Teluk Awur and Bandengan, Jepara and was conducted from August-November 2017. Research carried out with the widest swath of 4x4m with depth 85-100 cm. The number of type makrozoobnetos which is obtained during research is captured as many as 25 types look different at each sampling observations. Until the end of the observation makrozoobentos abundance ranged from 106.1-89.8 ind/m2 on the transplantation of seagrass with bamboo frames and methods of tube bamboo and seagrass pastures in both locations. Index of diversity and uniformity of makrozoobentos obtained in the category of low to moderate from each treatment.  Kerusakan ekosistem padang lamunmengakibatkan hilangnya habitat makrozoobentos. Upaya untuk memperbaikinya dengan melakuka transplantasi lamun.Transplantasilamun dengan metode yang ramah lingkungan diharapkan dapat membantu untuk menciptakan kembali habitat untuk biota bentik (makrozoobentos). Penelitian tentang keanekaragaman makrozoobentospada habitat lamun hasil transplantasi menggunakan dua metode transplantasi yaitu metode frame dan tabung bambu.  Lamun yang ditransplantasikan adalah  jenis Enhalus acoroides. Penelitian yang dilakukan di perairan padang lamun di Teluk Awur dan Bandengan Jepara ini dilaksanakan dari Agustus–Nopember 2017. Penelitian dilakukan dengan petak seluas 4x4m dengan kedalaman 85-100cm.Jumlah jenis makrozoobnetos yang diperoleh selama penelitian adalah sebanyak 25 jenis yang tertangkap terlihat berbeda disetiap sampling pengamatan. Hingga akhir pengamatan kelimpahan makrozoobentos berkisar antara 89,8-106,1 ind/m2 pada transplantasi lamun dengan metode frame bambu dan tabung bambu serta padang lamun asli di kedua lokasi. Indeks Keanekaragaman dan keseragaman makrozoobentos yang diperoleh dalam kategori  rendah hingga sedang pada ketiga perlakuan di atas. 
Morfometri Dan Pertumbuhan Scylla serrata (Filum: Arthropoda, Famili: Portunidae) Di Desa Panikel, Segara Anakan, Cilacap Widianingsih Widianingsih; Ria Azizah Tri Nuraini; Retno Hartati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Cantika Elistyowati Andanar; Hadi Endrawati; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.707 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4207

Abstract

Mud crab is one of fishery commodities which is important in Indonesia . The high demand for mud crabs needs to be balanced with the right management strategy,  so that the population will not extinction.  Penikel Village, Cilacap is one of the fishing villages which catch mud crabs because of the high demand in the big cities such as Jakarta, Bandung and Bali.  The purpose of this study is  to determine the population and growth patterns of mud crabs in the Panikel Village, Kampung Laut District, Cilacap. The location of the study was determined by purposive sampling. Wadong and bubu are fishing tools to catch mud crabs. Sampling 67 mud crabs was carried out  on Juni 2016, after that, measurement of length, carapace width and total weight were carried out. Regression analysis between carapace width and total weight and condition factors were carried out to determine growth patterns. Based on the research, the average value of the S. serrata   length was 63.94±11.31 mm while the female one was 70.29±14.57 mm. The average value of carapace width is 92.28±15.51 mm (male) while for female sex was 98.71±18.38 mm. The average weight of S. serrata male crabs was 190.31±118.43 mm, while those of female sex were 210.77±120.93 mm. Furthermore, based on the analysis of the relationship between the length of weight found negative allomatric growth pattern with the value of the condition factor included in the low category both for male sex 0.73-1.93 and for female sex 0.59-1.66.  The low condition factor shows that the condition of Segara Anakan waters especially Penikel Village does not support the growth of mud crabs (S. serrata). Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan yang terpenting di Indonesia.  Besarnya permintaan  kepiting bakau yang tinggi perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan yang tepat agar populasi tidak punah. Desa Penikel, Cilacap merupakan satu desa nelayan yang banyak menangkap kepiting bakau karena tingginya permintaan di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Bali. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui populasi dan pola pertumbuhan kepiting bakau di Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling. Wadong dan bubu merupakan alat tangkap untuk menangkap kepiting bakau. Pengambilan sampel kepiting sebanyak 67 individu  dilakukan pada bulan Juni 2016, setelah itu dilakukan pengukuran panjang, lebar karapas serta berat total. Analisa regresi kurva antara lebar karapas dan berat total serta  faktor kondisi dilakukan untuk mengetahui pola  pertumbuhan. Berdasarkan penelitian diperoleh nilai rata-rata panjang kepiting bakau S. serrta jantan adalah 63.94±11.31 mm sedang untuk yang betina adalah 70,29±14.57 mm. Nilai rata-rata lebar karapas adalah 92.28±15.51 mm (jantan) sedang untuk jenis kelamin betina adalah 98.71±18.38 mm. Rata-rata berat kepiting jantan S. serrata adalah 190.31±118.43 mm, sedangkan yang jenis kelamin betina adalah 210.77±120.93 mm. Selanjutnya berdasarkan analisa hubungan panjang berat ditemukan pola pertumbuhan allomatrik negatif dengan nilai factor kondisi termasuk dalam katagori rendah baik untuk jenis kelamin jantan 0,73–1,93 maupun untuk kelamin betina 0,59–1,66.  Rendahnya factor kondisi menunjukkan bahwa kondisi perairan Segara Anakan khususnya Desa Penikel tidak menunjang bagi petumbuhan kepiting bakau (S. serrata).
Re-Deskripsi Teripang Stichopus hermanii Dari Kepulauan Karimunjawa Melalui Analisa Morfologi, Anatomi Dan Spikula (Ossicles) Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Umi Fatimah
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.14 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.517

Abstract

Holothuroidea atau yang lebih dikenal dengan sebutan teripang laut atau timun laut merupakan salah satu kelas dari Echinodermata. Penampakan morfologi teripang yang hampir mirip satu dengan yang lain mengakibatkan sering terjadi kekeliruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih jauh tentang identifikasi Stichopus hermanii berdasarkan morfologi, anatomi serta bentuk dan komposisi spikula yang terdapat pada teripang Stichopus hermanii. Hasil pengamatan morfologi berdasarkan bentuk, corak dan warna serta tipe spikula menunjukkan bahwa Stichopus hermanii berwarna teripang berukuran besar dengan panjang mencapai 50 cm. Teripang ini berwarna kuning-kecoklatan dan pada papila kecil terdapat bercak keabu-abuan di seluruh permukaan tubuh dan bagian dorsal yang berbuku-buku. Bentuk dan komposisi spikula didominasi oleh bentuk roset dan meja dengan bentuk kaki empat.Kata kunci : teripang, Stichopus hermanii, re-deskripsi, morfologi, anatomi, spikula (ossicle)Holothuroidea well-known as sea cucumbers is one class of Echinoderm. Morphology of sea cucumbers are almost similar to each other resulting in frequent error of identification. This study aims to re-describe of Stichopus hermanii based its on morphology, anatomy and the form and composition of the spicules. Results of morphological description based on shape, pattern and color as well as the type of spicules shows that Stichopus hermanii has yelow brownish color. The shape and composition of the spicules is dominated by a rosette shape and a table with four legs form.Keywords : teripang, Stichopus hermanii, re-description, morphology, anatomy, spicule (ossicle)
Co-Authors Aan Pratama Abdul Ghofir Abdul Hadi Abdul Latif Mahakar Abdul Muis Prasetia, Abdul Muis Abdullah Afif Abdullah Afif Abidin Nur II Achmad Muhajir Adi Santoso Adiyoga, Diaz Agus Sabdono Agus Trianto Agustiningsih, Luluk Akbarinissa, Rr. Dyah Artati Akhmad Syarifudin Aklif Reza Muttaqin Aldion Adin Nugroho Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Junaedi Ali Ridlo Altysia Putriany Amalia Rofiah Amalia Rofiah Amar, Fahri Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anam, Aufa Anastasia Dian R Anindya Wirasatriya Antonius Budi Susanto Apriliani, Seka Indah Ardhan Khanza Adhirajasa Ariel E San Jose Arif Rahman Arumning T. Fauziah Aufa Anam Azizah T.N., Ria Bastiar, Yusuf Bifa Aulia Manuhuwa Bintang Septiarani Broto Wisnu RTD Broto, R. T.D Wisnu Candhika Yusuf Cantik Sitta Devayani Cantika Elistyowati Andanar CB. Ronaldi Chandra E Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Cristiana Manullang David Nugroho Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Dharma, Laga Adhi Diah Permata Wijayanti Diaz Adiyoga Dina Ayu Magfirani Dinda Richa Kumarahaqi Donna Nur'Aurelya Mahardhika Dwi Haryanti, Dwi Dwi Saniscara Wati Edi Supriyo Edi Wibowo Edi Wibowo Kushartono Edi Wibowo Kushartono Edy Supriyo Edy Supriyo Edy Supriyo Edy Wibowo Edy Wibowo Elis Indrayanti Endika Meirawati Erik Wijaya Kusuma Ervia Yudiati Esti Rudiana Ety Parwati Ety Parwati Ety Parwati Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Frijona Fabiola Lokollo Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Gangsar Bayu Setia Nugroho Gangsar Bayu Setia Nugroho Gazali Salim Ginzel, Fanny Iriany Gunawan Widi Santosa H. Endrawati Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hani’atun Nurfajriyah Hariyadi Hariyadi Harmoko Harmoko Haryo Farras Raditya Hutama Hawa, Adnin Kamil Bani Heri Yanti Hermawan Hermawan Hermawan Hermawan Hermin Pancasakti Kusumaningrum Hilal M I Wayan Warmada Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ika Desie Wulandari Ira Kolaya Ira Kolaya, Ira Ireng Sigit Atmanto Irwani Irwani Isai Yusidarta Isti Pudjihastuti Ita Riniatsih Ita Widowati Itsna Yuni H Jelita Rahma Hidayati Johannes Hutabarat Jufri Ubay Julian Ransangan Jumawan Jumawan Jussac Maulana Masjhoer Justin Cullen Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Käll, Sofia Ken Suwartimah Ken Suwartimah Khairunnisa Khairunnisa Khoerunnisa, Rizka Nabila Kholilah, Nenik Koen Praseno Koen Praseno Kusuma, Erik Wijaya Laras Kinanti Pinandita Lilik Maslukah M. Andry Herdiatma M. Andry Herdiatma Madhu Pinastika Puji Lestari Madhu Pinastika Puji Lestari, Madhu Pinastika Puji Magfirani, Dina Ayu Mahakar, Abdul Latif Mahfud Mahfud Manuhuwa, Bifa Aulia Mas’ad Arif Mayestika, Pingkan Meitri Bella Puspa Mostafa Imhmed Ighwerb Muchammad Miftahul Ulum Muchammad Miftahul Ulum Muhammad Faiz Abadi Muhammad Rafi Tsaqif Muhammad Yusuf Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muji Wasis Indriyawan, Muji Wasis Mujiyanto Mujiyanto Mustalafin Mustalafin Mu’alimah Hudatwi Nando Arta Gusti Pamungkas Narendra Prasidya Wishnu Natasya Erdza Aulia Ningrum, Malinda Satya Nirwani Soenardjo Njurumana, Steven Nggiku Norma Afiati Nugroho, Suciadi Catur Nur Taufik SPJ Nur Taufiq Nur Taufiq-Spj Orisu, Anthon Apolos Parameswari Iccha Nirmalabuddhi Wishnuputri Petta, Constantein Philipus Uli Basa Hutabarat Pingkan Mayestika Pingkan Mayestika Pradina Purwati Pradina Purwati Pratama, Candrika Primaswatantri Permata Putri Novianingrum, Milka Putri, Dhiya Aflah Luswanto Putri, Ni Putu Purba Nava Vidyadhari Putriningtias, Andika Raden Ario Rafsanjani A. Karim Rafsanjani A. Karim Raka Pramulo Sophianto Ramadhani, Muhammad Rizqi Reny Yesiana Retno W. Astuti Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rizky Imtihan R. Rizky Imtihan R., Rizky Imtihan Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robin Robin Rohmah, Ivatur Rotua Malau Rozi Rr. Dyah Artati Akbarinissa Rudhi Pribadi Rudi Pribadi Sarah Nabilla Sari Budi Moria Sartika, Linda Selvi Marcellia Septiani, Nur Alifah Seto Haryoardyantoro Sitti Hartinah DS Sophianto, Raka Pramulo Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto, Nenden Rose Suryono Suryono Sutrisno Anggoro Tarigan, Ariyo Imanuel Taufiq-Spj, Nur Tiara Nur Baeti Baeti Tri Karyawati Tria Nidya Pratiwi Ubay, Jufri Ulfah Nurjanah Ulfah Nurjanah Ulfah Nurjanah, Ulfah Umi Fatimah Valentina R Iriani Valentina R. Iriani W.L. Saputra Wahyu Adi Wahyudi, Yudisthio Wibowo, Muhammad Reyhan Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih, - Wilis Ari Setyati Wilis Ari Setyati Wishnuputri, Parameswari Iccha Nirmalabuddhi Wita Kristianty Sirait Yasir, Moh. Yoki Ristadi Yoko Nozawa Yosi Yananda Sijabat Yudho Prasetyo Yunita Anggarini, Yunita Zulfiandi Zulfiandi Zulfiandi Zulfiandi