Claim Missing Document
Check
Articles

Keberhasilan Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) Dalam Sarang Semi – Alami Dengan Kedalaman Yang Berbeda Di Pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur Edi Wibowo Kushartono; CB. Ronaldi Chandra E; Retno Hartati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.312 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.839

Abstract

One of the conservation efforts undertaken to protect the green turtle (C. mydas L.) is by relocation of the nest where the eggs are removed from natural to semi-natural hatchery. The depth of proper needed to achieve the maximum level of hatching and emergence success.The purpose of this research that is to know the level of hatching catch and the emergence success of a nest at a different depth. The methods that used is an experimental research. Treatment that given is the different depth of nest with the green turtle as repetition. The depth of treatment is in 40 cm, 60 cm, and 80 cm, the amount of eggs is 30 eggs in each nest. Measurement and observation environmental conditions carried out during the incubation period. Observation the emergence of hatchlings started in day 50 of the incubation. Nest destruction was conducted on the 66th day incubation then eggs that failed to hatch were manually disected. The results showed that the levels of different depths does not effect the temperature inside the nest and hatching success, but the effect on the success rate of appearance. hatching success at all depths ranging between 93,33% - 94.44% (the same height), but increasingly in the depth of the nest success rate of appearance tends to decrease. Figures shown good appearance at a depth of 40 cm (86.67%), followed by 60 and 80 cm depth is 64.44% and 48.89% (sequential). The results of visual observations of the morphometry and performance lokomotori, hatchlings hatched at a depth of 60 and 80 cm better than hatchlings hatched at a depth of 40 cm both in the size and aggressiveness lokomotori swing flipper.  Salah satu usaha konservasi yang dilakukan untuk melindungi Penyu hijau (Chelonia mydas L.) yaitu dengan tindakan relokasi yang mana telur dipindahkan dari sarang alami ke tempat penetasan semi alami. Kedalaman yang tepat dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat penetasan dan keberhasilan kemunculan yang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan penetasan dan keberhasilan kemunculan pada kedalaman sarang yang berbeda. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah experimental research dengan 3 perlakuan yaitu penanaman telur penyu hijau pada kedalaman 40, 60 dan 80 cm, dengan kepadatan 30 butir telur setiap sarang. Pengukuran dan pengamatan kondisi lingkungan juga dilakukan selama masa inkubasi. Pengamatan munculnya tukik mulai dilakukan pada hari ke 50 masa inkubasi.  Pembongkaran sarang dilakukan pada hari ke 66 masa inkubasi kemudian dilakukan pembedahan secara manual untuk mengamati telur yang gagal menetas. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tingkat kedalaman yang berbeda tidak berpengaruh terhadap suhu dalam sarang dan keberhasilan penetasan, tetapi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan kemunculan. Angka keberhasilan penetasan pada semua kedalaman berkisar antara 93,33% - 94,44% (sama-sama tinggi), namun semakin dalam tingkat kedalaman sarang tingkat keberhasilan kemunculan cenderung mengalami penurunan. Angka kemunculan yang baik ditunjukkan pada kedalaman 40 cm (86,67%), diikuti kedalaman 60 dan 80 cm yaitu 64,44% dan 48,89% (secara berurut). Hasil pengamatan secara visual terhadap morfometri dan performa lokomotori, tukik yang ditetaskan pada kedalaman 60 dan 80 cm lebih baik dibandingkan tukik yang ditetaskan pada kedalaman 40 cm baik dari ukuran maupun lokomotori agresifitas ayunan  flipper.   
Komposisi Makroalga Yang Berasosiasi Di Ekosistem Padang Lamun Pulau Tumpul Lunik, Pulau Rimau Balak Dan Pulau Kandang Balak Selatan, Perairan Lampung Selatan Ita Riniatsih; Munasik Munasik; Chrisna Adi Suryono; Ria Azizah; Retno Hartati; Rudhi Pribadi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.656 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1738

Abstract

Assosiation between macroalga and seagrass ecosystem in South Lampung has been determined.  There were 3 sampling locations, ie. Station 1 (Tumpul Lunik Island), Station 2 (Rimau Balak Island) and Station 3 (Kandang Balak Selatan Island). Observation of macroalga and seagrass were carried out using quadran transect method (0,5 x 0,5 m2) along 100 meter with 10 meter distance berween transect. It is done triplicates. The research showed that there were twelve species macroalgae belong to three families found in seagrass bed. Their distribution were varied. Highest density of macroalga was Halimeda makroloba in habitat of seagrass Enhalus acorides at around Pulau Tempul Lunik Island. The substrat was sand and rubble which support good growth of both species The presence of macroalgae in seagrass bed could be a competitor related to the space for live and nutrient utilization in the waters.    Pengamatan tentang asosiasi antara makroalga di ekosistem padang lamun perairan Lampung Selatan telah dilakukan. Lokasi pengamatan yang terbagi menjadi 3 stasiun, yaitu Stasiun 1 (Pulau Tumpul Lunik), Stasiun 2 (Pulau Rimau Balak) dan Stasiun 3 (Pulau Kandang Balak Selatan). Pengamatan makroalga dan lamun di masing-masing lokasi dilakukan dengan metoda transek kuadran (0,5 x 0,5 m) sepanjang 100 meter dengan jarak pengamatan setiap 10 meter untuk penghitungan dengan kuadran. Pengamatan dilakukan dengan ulangan sebanyak 3 kali garis transek di setiap stasiun pengamatan.  Duabelas jenis makroalga dari 3 Famili telah ditemukan di ekosistem padang lamun dengan sebaran kepadatan makroalga yang beragam. Kepadatan tertinggi makroalga ditemukan pada jenis Halimeda makroloba yang banyak ditemukan tumbuh pada habitat lamun Enhalus acorides di sekitar Pulau Tempul Lunik. Kondisi perairan yang bersubstrat dasar pasir dan pecahan karang sangat mendukung untuk pertumbuhan ke dua jenis vegetasi tersebut. Kehadiran makroalga di ekosistem padang lamun dapat menjadi kompetitor bagi keberadaan dan kondisi  penutupan lamun, terkait dengan persaingan dalam menempati ruang dan pemanfaatan nutrien di perairan.  
The Effect of Ultrasonic Wave Exposure on The Chlorophyll-a, b And Carotene Content of Nannochloropsis sp. Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Widianingsih Widianingsih; Retno Hartati; Robertus Triaji Mahendrajaya; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Ria Azizah
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 2 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.502 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i2.3093

Abstract

Determination of chlorophyll-a, b and carotene content in microalgae is strongly dependent on the destruction of its cell wall during extraction process.  Harvesting of microalgae is important  because it will influence the nutrition content. The objective of present work is to optimize harvesting of Nannochloropsis sp by application of ultrasonic wave with frequency of 40 KHz under different exposure time.  There were 3 treatments, i.e. exposure time of 5, 10 and 15 minutes.  The chlorophyll-a, b, and carotene content were measured to gauge the effect of treatments. The result revealed that the cell wall of Nannochloropsis sp which made from carbohydrate were successfully broken by ultrasonic source equipment. It showed that the exposure time of  5, 10 and 15 minutes affected cell wall’s breaking percentage of Nannochloropsis sp cell by 10,35;  32,15; and 72,09 %, respectively. The longer exposure time of ultrasonic wave, the higher content of  chlorophyll-a, b, and carotene.
Produksi Garam Dan Bittern Di Tambak Garam Nur Taufiq-SPJ; Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.621 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.599

Abstract

Rembang Regency could be named as Salt City because they have very high production after Pati Regency. Along the road of Juwana (Pati) - Rembang, salt pond could be seen as square salt sea equipped with windmill to take the sea water from the channel into the pond and is processed into salt. Although salt localproduction is sufficient enough for raw material of industry, therefore best practical technology it is needed. The objective of present work are  to improve directly the process of salt production and basic technique for diversiificatio of salt production, i.e. salt and bittern. The result of present works as follows. Getrape type salt pond is applied, where  young water embankment is located upstream and the down to seed pond 1, 2, 3, then distributed to cristalization pan. Seawater is taken through primary dykes to pump at elevation of 1.5 m, so still full of water during high tide. On cristalization pan (size of 200 m2) sea water will be settled during 7–10 days until its cristalized. Salt cristal was located under bittern solution could be scrap and collected in collection point.  The left-after bittern of 29–30° Be could be flowed back into seed pan uo be collected in bitter collection point.  
Pertumbuhan ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) di Tambak dengan Pemberian Ransum Pakan dan Padat Penebaran yang Berbeda Ali Djunaedi; Rudhi Pribadi; Retno Hartati; Sri Redjeki; Retno W. Astuti; Bintang Septiarani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.261 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.840

Abstract

Red Nile Tilapia  of Larasati strain (Oreochromis niloticus)have capability to digest feed quite efficient, able to grow faster and diseases resistant.  They are also tolerant to high salinity and more resilent to environmental change, therefore very prospecytive to be cultivated in tambaks (brackishwater pond).  The objective of present work was to determine the effect of larvae stocking density and feed ration on the growth and survival rate of Nile Tilapia in brackishwater pond. The larvae was hacthed in freshwater and acclimatized gradually in brackishwater media and then reared ini cage size of 1x1x1,5meter3with different food ration (3, 5 and 7% body weight)andstocking density of 10, 15, 20 indv./m2).The result showed that the more food ration gave the better growth rate of larvae in stocking density of 10 and 15 indv./m2, the best food ration in 20 indv./m2 was 5% body weight. Upon that result it is recommended to  stock the alvae at level of 20 indv./meter and gave food of 5% per body weight.  The treatments was not influenced the survival rate of fish cultured.   Ikan Nila Larasati memiliki kemampuan mencerna makanan secara efisien, memiliki pertumbuhan yang cepat serta lebih resisten terhadap penyakit, daya adaptasi luas dan toleransinya yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan sehingga prospektif dibudidaya di tambak.  Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian tentang pengaruh padat tebar dan ransum pakan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan Nila Larasati yang dipelihara pada tambak air payau.  Ikan Nila Larasati dibenihkan di lingkungan air tawar dan diaklimatisasi secara bertahap di media air payau sebelum digunakan dalam penelitian ini. Percobaan pemeliharaan ikan Nila Larasati dilakukan pada karamba berukuran 1x1x1,5meter3dengan ransum pakan(3, 5 dan 7% bobot biomasa ikan) dan padat penebaran yang berbeda (10, 15, 20 ekor/m2).Hasil penelitian menunjukkan pemberian ransum pakan harian baik 3, 5 dan 7% perhari pada ikan nila dengan kepadatan 5, 10 dan 20 ekor/meter menunjukkan hasil pertumbuhan berat mutlak yang relatif baik, namun untuk efisiensi pakan disarankan untuk melakukan penebaran 20 ekor/meter dengan ransum 5% berat biomasa ikan perhari. Kelulushidupan ikan Nila Larasati tidak dipengaruhi oleh perlakuan.     
Kepadatan Dan Persebaran Kepiting (Brachyura) Di Ekosistem Hutan Mangrove Segara Anakan Cilacap Sri Redjeki; Mas’ad Arif; Retno Hartati; Laras Kinanti Pinandita
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.405 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1739

Abstract

Segara Anakan area is a lagoon surrounded by mangrove forests and muddy land. Mangrove forests have an ecological function such as spawning ground, nursery ground, and feeding ground for various biota. The destruction of mangrove forests caused by human activities is quite alarming and affects the survival of living biota in it, one of them is crabs. Changes in the structure and composition of the crabs in mangrove ecosystems caused by habitat changes can be used as an indicator for water quality by biological index approach through population monitoring, community composition, or even the ecosystem function. So that, by the study of abundance and distribution of crabs on mangrove vegetation, the results can be used as monitoring of environmental conditions of mangrove ecosystems in Segara Anakan Area. This research was conducted to determine about the composition, abundance, diversity index, uniformity index, dominance index, and pattern of distribution of crabs on mangrove ecosystems in Segara Anakan, Cilacap. The sampling was conducted in July, 2016 in 3 locations namely Panikel, Bondan, and Kalibuntu. To determine the sampling location using random method of stratification. Crab sampling using 5m x 5m transect method in 3 stations with 3 repetitions at each station. The results of this research found 12 species consisting of 3 families of crabs. Ocypodidae Family is the most commonly crabs found in 3 location. The highest abundance of crab is in Kalibuntu (1,56 ind/m2) an the lowest abundance is in Panikel (1,27 ind/m2). There are two pattern of distribution of crabs in this research,  namely random and clumped. The diversity index values are in the medium category, whereas the uniformity index value is in the high category. In this research there is no dominance in all research location.  Kawasan Segara Anakan merupakan laguna yang dikelilingi oleh hutan-rawa mangrove yang luas dan daratan berlumpur. Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis antara lain sebagai tempat pemijahan, pembesaran, dan mencari makan bagi berbagai biota didalamnya. Kerusakan hutan mangrove yang terjadi karena adanya aktivitas manusia cukup mengkhawatirkan dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota yang hidup didalamnya, salah satunya adalah kepiting. Perubahan struktur dan komposisi kepiting pada ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh adanya perubahan habitat dapat dijadikan indikator kualitas perairan dengan pendekatan indeks biologi melalui monitoring jumlah populasi, komposisi komunitas maupun fungsi ekosistemnya. Sehingga dengan dilakukannya kajian tentang Kepadatan dan Persebaran kepiting pada vegetasi mangrove hasilnya dapat digunakan sebagai monitoring kondisi lingkungan ekosistem mangrove di Kawasan Segara Anakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi, kepadatan, indeks keanekaragaman, keseragaman, dominansi, dan pola sebaran kepiting pada ekosistem mangrove di Segara Anakan Cilacap. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Juli 2016 di 3 lokasi yakni Desa Panikel, Bondan, dan Kalibuntu. Penentuan lokasi sampling dengan metode acak berstratifikasi Pengambilan sampel kepiting menggunakan metode transek 5m x 5m dengan jumlah stasiun sebanyak 3 dan 3 kali pengulangan pada setiap stasiunnya. Hasil penelitian ditemukan 12 jenis spesies yang terdiri dari 3 famili kepiting. Famili Ocypodidae paling banyak ditemukan pada 3 lokasi penelitian. Kepadatan kepiting tertinggi terdapat pada Lokasi Kalibuntu (1,56 ind./m2) dan terendah di Lokasi Panikel (1,27 ind/ m2). Terdapat dua pola sebaran kepiting di lokasi penelitian, yaitu acak dan mengelompok. Nilai Indeks Keanekaragaman masuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai indeks keseragaman dalam kategori tinggi. Dalam penelitian ini tidak terdapat dominansi pada seluruh stasiun penelitian.  
Variasi Komposisi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Adi Santoso; Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Ita Riniatsih; W.L. Saputra; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.563 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1702

Abstract

Seagrass has an important role for marine environment as a primary producer also as constituent and ecosystems habitats that support the life on coral reefs and mangrove or coastal. This research is aimed to identify the seagrass species and to undertand thier density and coverage. This research was conducted on June-August 2016 at Ujung Piring waters, Jepara. The research used descriptive method. Sampling was conducted on five stations, where each station performed five repetitions. The seagrasses found in research sites were identified and counted for their density and coverage. Seawater quality parameter were measured in situ. Sediment were take for grain size analysis to undertand their characteristic. The research showed that during the study period there were four species of seagrasses i.e. Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii, Cymodocea Rotundata, and Syringodium isoetifolium. Overall this study indicate the highest and lowest density found in Thalassia hemprichii  (33,87 and 4,35 stands/m²).  E. acoroides had highest coverage (48,67%) while the lowest (8,71%) was T. hemprichii. There were variation in density and covarage of seagrass species due to water quality and showed uneven distribution of the seagrass species in that area.  Lamun memiliki peranan penting bagi kehidupan di laut sebagai produsen primer serta penyusun habitat dan ekosistem yang menyangga kehidupan di terumbu karang dan mangrove atau daratan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis lamun dan variasi kerapatan dan penutupannya di perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni–Agustus 2016 di perairan Ujung Piring Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada lima stasiun, dimana setiap  stasiun dilakukan lima kali pengulangan. Lamun diidentifikasi di lokasi penelitian, dihitung kerapatannya dan penutupannya. Pengukuran kualitas perairan dilakukan in situ, sedangkan sedimen diambil untuk dianalisa butiran untuk mengetahui karakteristik sedimennya. Hasil penelitian ini menunjukkan selama periode penelitian terdapat 4 jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides,  Thalasia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Syringodium isoetifolium. Kerapatan tertinggi dan terendah ditemukan pada Thalassia hemprichii yaitu 33,87 dan 4,35 tegakan/m².  Persentase penutupan tertinggi ditemukan pada E. acoroides dengan nilai 48,67% dan yang terendah 8,71% oleh T. hemprichii. Terdapat variasi komposisi dan kerapatan berdasarkan waktu pengamatan, hal ini menunjukkan adanya pengaruh lingkungan dan tidak terjadi persebaran lamun yang merata pada daerah tersebut. 
Jenis-Jenis Bintang Laut Dan Bulu Babi (Asteroidea, Echinoidea: Echinodermata) Di Perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa Retno Hartati; Endika Meirawati; Sri Redjeki; Ita Riniatsih; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.414 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2417

Abstract

 Echinoderms are fundamentally good indicators of health and status of coralline communities in marine waters. Substrat of sandy, rububle and coral reefs are good habitat for Asteroidea dan Echinoidea. This study aim to identify sea star (Asteroidea) and sea urchin (Echinoidea) species from Pulau Cilik waters of Karimunjawa Islands. Asteroidea and Echinoidea observed using the line transect method used, ie subjects within the same distance between the transect and the transect square with observations of 2.5 m on the right and left of transect line line. Morphology, habitat type (substrate & depth) and total number of sea stars and sea urchins at each station were determined. The results showed that Pulau Cilik has six species of Asteroidea (Sea star), ie Linckia laevigata, L. multifora, Neoferdifla ocellata (Family Ophidiasteridae), Luidia alternate (Luidiidae Family), Culcita novaeguineae (Family Oreasteridae) and Acanthaster planci which belongs to Family Acanthasteridae. There were 4 species of Echinoidea Sea urchin) found, i.e. Diadema setosum, D. antillarum, D. savignyi and Echinothrix calamaris, which all were family members of Diadematidae Echinodermata pada dasarnya merupakan indikator kesehatan dan status dari terumbu karang di laut. Dasar perairan yang landai dengan substrat pasir, terumbu karang dan pecahan karang yang merupakan habitat bagi hewan jenis Asteroidea dan Echinoidea. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi henis-jenis bitang laut dan bulu babi dari perairan Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa. Pengamatan Asteroidea dan Echinoidea menggunakan metoda line transect yang dimodifikasi, yaitu mengamati subjek dalam jarak yang sama sepanjang garis transect dan kuadrat transect dengan pengamatan 2,5 m di sebelah kanan dan kiri garis line transect. Morfologi, tipe habitat (substrat & kedalaman) dan jumlah total bintang laut dan bulu babi di tiap stasiun dicatat selanjutnya sampel diidentifikasi berdasarkan ciri morfologi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Pulau Cilik ditemukan enam spesies Asteroidea (Bintang Laut), yaitu Linckia laevigata, L. multifora, Neoferdifla ocellata (Famili Ophidiasteridae), Luidia alternate (Famili Luidiidae), Culcita novaeguineae (Famili Oreasteridae) dan Acanthaster planci yang termasuk dalam Famili Acanthasteridae. Species Echinoidea (Bulu Babi) ditemukan 4 spesies  Diadema setosum, D. antillarum, D. savignyi dan Echinothrix calamaris  semua anggota famili Diadematidae. 
Meta-analysis of Indonesian Octopus laqueus Kaneko & Kubodera 2005 (Cephalopoda: Octopodidae) using Mt-DNA COI as Genetic Marker Nenik Kholilah; Norma Afiati; Subagiyo Subagiyo; Retno Hartati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 24, No 1 (2021): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v24i1.10190

Abstract

O. laqueus was first discovered not long ago in 2005 in the Ryuku Islands, Japan. Its geographical distribution and molecular identification are therefore still rarely. Nucleotide sequences based on mt-DNA COI for O. laqueus that have been uploaded in the GenBank until before this study was carried out were only six sequences. Since DNA barcoding of mt-DNA COI has some advantageous characteristics, this study aimed to analyse the genetic difference of Indonesian O. laqueus to the data available in the GenBank. Samples were collected in 2019 - 2020 from Karimunjawa (n=16) and Bangka-Belitung (n=2). The mt-DNA COI was extracted using 10% chelex methods, PCR amplified using Folmer’s primer and sequenced in Sanger methods. Pairwise alignment and genetic distance were carried out in MEGA-X, whereas the phylogenetic tree was reconstructed using Bayesian methods. BLAST identification resulted in 685 bp with a range of 92,07-99,24  percentages of identity. The genetic mean pair-wise distances within-clade were 0,002 and 0,006, whilst the distance between the clade was 0.0883. Combining the suggestion with the ITF current, it is concluded that O. laqueus taken from Karimunjawa raised from the same species as those in Malaysia (MN711655) and Japan (AB302176). Specimens from Bangka-Belitung were suggested came from different species, as they were separated into the second clade by 8.83%. One single sample from Japan (AB430543) which laid outside the two clades by 11.63%-11.38% was also suggested to represent a different species. Overall, this study opens to various further studies on O. laqueus using other loci of genetic markers.
Komposisi Fitoplankton Pada Tambak Kerang Ken Suwartimah; Ika Desie Wulandari; Retno Hartati; Sri Redjeki
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.524 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1364

Abstract

This study aims to determine to determine the species composition, abundance and community structure of phytoplankton in shellfish aquaculture ponds blood (Anadara granosa) in Menco, District Wedung, District Demak.Metode used in this study is Diskriptif method, determination of the location of the study is purposive sampling Methods, namely the determination of the sampling locations should be based on consideration, the station I to III of the sampling stations representing keseluruan research area. Marine research station is Blood Shellfish Farming in Hamlet Menco. Station is divided into three stations, with making four periods. Environmental parameters taken include: salinity, temperature, pH, DO, nitrate, phosphate, dissolved oxygen, organic materials. The results of the study, found 19 genera of phytoplankton. Phytoplankton abundance 2596-18844 cells / L. Diversity index (H ') based on the total period ranged from 1.098 to 1.837. On January 18-March 3, 2014, categorized into the diversity index medium. Uniformity index (e) the entire period ranged from 0.616 to 0.999.   Fitoplankton atau mikroalga merupakan makanan utama kerang di tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, kelimpahan, dan struktur komunitas fitoplankton pada tambak budidaya kerang darah (Anadara granosa) di Menco, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. M etode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif. Sampel fitoplankton diambil dari Tambak Kerang Darah selama empat periode. Parameter lingkungan sebagai data penunjang adalah salinitas, suhu, pH, DO, nitrat, fosfat, oksigen terlarut, bahan organik. Hasil penelitian menjunjukkan terdapat 19 genus fitoplankton, dengan kelimpahan 2.5-18.8x103sel.L-1. Indeks keanekaragaman (H’) berdasarkan total keseluruhan periode berkisar antara 1,098-1,837. Pada tanggal 18 Januari-3 Maret 2014, dikategorikan masuk dalam indeks keanekaragaman sedang. Indeks keseragaman (e) keseluruhan periode berkisar antara 0,616–0,999.
Co-Authors Aan Pratama Abdul Ghofir Abdul Hadi Abdul Latif Mahakar Abdul Muis Prasetia, Abdul Muis Abdullah Afif Abdullah Afif Abidin Nur II Achmad Muhajir Adi Santoso Adiyoga, Diaz Agus Sabdono Agus Trianto Agustiningsih, Luluk Akbarinissa, Rr. Dyah Artati Akhmad Syarifudin Aklif Reza Muttaqin Aldion Adin Nugroho Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Junaedi Ali Ridlo Altysia Putriany Amalia Rofiah Amalia Rofiah Amar, Fahri Ambariyanto , Ambariyanto Ambariyanto Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Anam, Aufa Anastasia Dian R Anindya Wirasatriya Antonius Budi Susanto Apriliani, Seka Indah Ardhan Khanza Adhirajasa Ariel E San Jose Arif Rahman Arumning T. Fauziah Aufa Anam Azizah T.N., Ria Bastiar, Yusuf Bifa Aulia Manuhuwa Bintang Septiarani Broto Wisnu RTD Broto, R. T.D Wisnu Candhika Yusuf Cantik Sitta Devayani Cantika Elistyowati Andanar CB. Ronaldi Chandra E Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adi Suryono Cristiana Manullang David Nugroho Delianis Pringgenies Delianis Pringgenies Denny Nugroho Sugianto Dharma, Laga Adhi Diah Permata Wijayanti Diaz Adiyoga Dina Ayu Magfirani Dinda Richa Kumarahaqi Donna Nur'Aurelya Mahardhika Dwi Haryanti, Dwi Dwi Saniscara Wati Edi Supriyo Edi Wibowo Edi Wibowo Kushartono Edi Wibowo Kushartono Edy Supriyo Edy Supriyo Edy Supriyo Edy Wibowo Edy Wibowo Elis Indrayanti Endika Meirawati Erik Wijaya Kusuma Ervia Yudiati Esti Rudiana Ety Parwati Ety Parwati Ety Parwati Fitriyan, Jodhi Kusumayudha Frijona Fabiola Lokollo Galih Arum Puspitaningtyas Aji Pangastuti Gangsar Bayu Setia Nugroho Gangsar Bayu Setia Nugroho Gazali Salim Ginzel, Fanny Iriany Gunawan Widi Santosa H. Endrawati Hadi Endrawati Hadi Endrawati Hani’atun Nurfajriyah Hariyadi Hariyadi Harmoko Harmoko Haryo Farras Raditya Hutama Hawa, Adnin Kamil Bani Heri Yanti Hermawan Hermawan Hermawan Hermawan Hermin Pancasakti Kusumaningrum Hilal M I Wayan Warmada Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ika Desie Wulandari Ira Kolaya Ira Kolaya, Ira Ireng Sigit Atmanto Irwani Irwani Isai Yusidarta Isti Pudjihastuti Ita Riniatsih Ita Widowati Itsna Yuni H Jelita Rahma Hidayati Johannes Hutabarat Jufri Ubay Julian Ransangan Jumawan Jumawan Jussac Maulana Masjhoer Justin Cullen Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Jusup Suprijanto Käll, Sofia Ken Suwartimah Ken Suwartimah Khairunnisa Khairunnisa Khoerunnisa, Rizka Nabila Kholilah, Nenik Koen Praseno Koen Praseno Kusuma, Erik Wijaya Laras Kinanti Pinandita Lilik Maslukah M. Andry Herdiatma M. Andry Herdiatma Madhu Pinastika Puji Lestari Madhu Pinastika Puji Lestari, Madhu Pinastika Puji Magfirani, Dina Ayu Mahakar, Abdul Latif Mahfud Mahfud Manuhuwa, Bifa Aulia Mas’ad Arif Mayestika, Pingkan Meitri Bella Puspa Mostafa Imhmed Ighwerb Muchammad Miftahul Ulum Muchammad Miftahul Ulum Muhammad Faiz Abadi Muhammad Rafi Tsaqif Muhammad Yusuf Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muhammad Zainuri Muji Wasis Indriyawan, Muji Wasis Mujiyanto Mujiyanto Mustalafin Mustalafin Mu’alimah Hudatwi Nando Arta Gusti Pamungkas Narendra Prasidya Wishnu Natasya Erdza Aulia Ningrum, Malinda Satya Nirwani Soenardjo Njurumana, Steven Nggiku Norma Afiati Nugroho, Suciadi Catur Nur Taufik SPJ Nur Taufiq Nur Taufiq-Spj Orisu, Anthon Apolos Parameswari Iccha Nirmalabuddhi Wishnuputri Petta, Constantein Philipus Uli Basa Hutabarat Pingkan Mayestika Pingkan Mayestika Pradina Purwati Pradina Purwati Pratama, Candrika Primaswatantri Permata Putri Novianingrum, Milka Putri, Dhiya Aflah Luswanto Putri, Ni Putu Purba Nava Vidyadhari Putriningtias, Andika Raden Ario Rafsanjani A. Karim Rafsanjani A. Karim Raka Pramulo Sophianto Ramadhani, Muhammad Rizqi Reny Yesiana Retno W. Astuti Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Ria Azizah Tri Nuraini Rizky Imtihan R. Rizky Imtihan R., Rizky Imtihan Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robertus Triaji Mahendrajaya Robin Robin Rohmah, Ivatur Rotua Malau Rozi Rr. Dyah Artati Akbarinissa Rudhi Pribadi Rudi Pribadi Sarah Nabilla Sari Budi Moria Sartika, Linda Selvi Marcellia Septiani, Nur Alifah Seto Haryoardyantoro Sitti Hartinah DS Sophianto, Raka Pramulo Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Sri Yulina Wulandari Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto, Nenden Rose Suryono Suryono Sutrisno Anggoro Tarigan, Ariyo Imanuel Taufiq-Spj, Nur Tiara Nur Baeti Baeti Tri Karyawati Tria Nidya Pratiwi Ubay, Jufri Ulfah Nurjanah Ulfah Nurjanah Ulfah Nurjanah, Ulfah Umi Fatimah Valentina R Iriani Valentina R. Iriani W.L. Saputra Wahyu Adi Wahyudi, Yudisthio Wibowo, Muhammad Reyhan Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih Widianingsih, - Wilis Ari Setyati Wilis Ari Setyati Wishnuputri, Parameswari Iccha Nirmalabuddhi Wita Kristianty Sirait Yasir, Moh. Yoki Ristadi Yoko Nozawa Yosi Yananda Sijabat Yudho Prasetyo Yunita Anggarini, Yunita Zulfiandi Zulfiandi Zulfiandi Zulfiandi