Claim Missing Document
Check
Articles

POLA BAKTERI PADA PASIEN KAKI DIABETIK DAN RESISTENSINYA TERHADAP ANTIBIOTIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE 1 JANUARI 2017 – 28 FEBRUARI 2018 Sonia Elvira Salim; I Dewa Made Sukrama; Ni Nengah Dwi Fatmawati; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i10.P17

Abstract

Diabetes adalah salah satu penyakit kronis di dunia. Diabetes sendiri jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi, kaki diabetik merupakan salah satu komplikasinya. Dimana pada umumnya kaki diabetik ini disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Adanya ketidaktepatan pemberian antibiotik pada pasien kaki diabetik menyebabkan terjadinya resistensi antibiotic pada beberapa bakteri. Oleh karena itu pola bakteri dan resistensinya terhadap antibiotik pada pasien kaki diabetik perlu diketahui. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola bakteri pada pasien kaki diabetik dan resistensinya terhadap antibiotik di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah pada periode 1 Januari 2017 – 28 Februari 2018. Potong lintang deskriptif digunakan pada penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan teknik total sampling, dimana semua data uji kultur pasien kaki diabetik yang ada pada buku Registrasi Pemeriksaan Pasien Laboratorium Klinik Mikrobiologi RSUP Sanglah pada periode 1 Januari 2017 - 28 Februari 2018 digunakan pada penelitian ini. Sebanyak 118 data hasil kultur bakteri pada pasien kaki diabetik ditemukan pada buku Registrasi Pemeriksaan Pasien Laboratorium Klinik Mikrobiologi RSUP Sanglah periode 1 Januari 2017 - 28 Februari 2018, dengan 84 isolat bakteri yang berhasil tumbuh. Bakteri klebsiella pneumoniae ssp pneumonia, proteus mirabilis, acinetobacter baumannii merupakan tiga bakteri yang mendominasi. Bakteri-bakteri yang ditemukan juga resisten terhadap beberapa antibiotik. Kata kunci: Kaki Diabetik, Antibiotik, Pola Bakteri, Pola Resistensi
EFEK AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK SABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA L.) VARIETAS DALAM TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI EXTENDED SPECTRUM ?-LACTAMASE PRODUCING ESCHERICHIA COLI SECARA IN VITRO I Kadek Aditya Nugraha; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i4.P18

Abstract

ABSTRAK Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri bersifat non-patogen dan patogen. Meskipun penatalaksaan utama infeksi E. coli adalah pemberian antibiotik, dalam perkembangannya muncul strain E. coli penghasil Extended Spectrum ?-lactamase (ESBL). E. coli penghasil ESBL memiliki kemampuan menghidrolisis antibiotik golongan beta-laktam yaitu penisilin; sefalosporin generasi pertama, kedua, dan ketiga; serta aztreonam. Sabut kelapa (Cocos nucifera L.) memiliki fitokimia utama tanin berupa prosianidin serta fenol berupa katekin dan epikatekin yang memiliki aktivitas antibakteri. Kemampuan produksi kelapa varietas dalam di Provinsi Bali adalah 71.754,68 ton per tahun. Jumlah produksi kelapa varietas dalam yang besar menarik peneliti untuk melakukan telaah mengenai aktivitas ekstrak etil asetat sabut kelapa varietas dalam dalam menghambat pertumbuhan E. coli penghasil ESBL. Penelitian dimulai dengan ekstraksi sabut kelapa dengan pelarut etil asetat dengan metode maserasi. Ekstrak kemudian diuji kandungan fitokimia secara kualitatif untuk mengetahui komposisi fitokimia pada ekstrak. Ekstrak dengan konsentrasi 50 mg/ml, 75 mg/ml, dan 100 mg/ml ditanam pada kultur E. coli penghasil ESBL dengan metode disc diffusion dengan kontrol negatif dan kontrol positif yaitu etil asetat 100% dan meropenem. Kultur kemudian diinkubasi selama 18-24 jam di suhu 35±2oC. Hasil uji fitokimia menunjukkan kandungan ekstrak berupa tanin, saponin, dan fenol. Hasil uji antibakteri ekstrak sabut kelapa varietas dalam konsentrasi 50 mg/ml, 75 mg/ml, dan 100 mg/ml tidak ditemukan adanya diameter zona hambat pada kultur. Ekstrak sabut kelapa varietas dalam tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli penghasil ESBL secara in vitro. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode ekstraksi yang lebih murni dan pemberian fitokimia dengan konsentrasi lebih tinggi. Kata Kunci: E. coli penghasil ESBL, Sabut Kelapa, tanin, katekin, epikatekin
AKTIVITAS DAYA HAMBAT EKSTRAK ETIL ASETAT KULIT PETAI (PARKIA SPECIOSA HASSK) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI KLEBSIELLA PNEUMONIAE Kadek Surya Atmaja; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.787 KB)

Abstract

Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik golongan tertentu menyebabkan terbatasnya pilihan terapi yang tersedia. Salah satu bakteri yang menunjukan peningkatan resistensi terhadap antibiotik adalah Klebsiella pneumoniae. Kulit Petai (Parkia speciosa Hassk) dilaporkan memiliki kandungan senyawa antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas daya hambat ekstrak etil asetat kulit petai terhadap Klebsiella pneumoniae. Kulit petai yang telah terkumpul dikeringkan, kemudian diblender sehingga terbentuk serbuk halus. Serbuk halus di maserasi selama 2 hari menggunakan etil asetat, kemudian dievaporasi hingga terbentuk ekstrak kering. Ekstrak diencerkan dengan konsentrasi 100 mg/ml (P1), 250 mg/ml (P2), 500 mg/ml (P3), dan 1000 mg/ml (P4), selanjutnya diteteskan pada paper disc. Paper disc, kontrol positif berupa gentamicin (K2), kontrol negatif (K1) berupa etil asetat, diletakan diatas 7 cawan petri yang telah dinokulasikan Klebsiella pneumoniae dengan media agar Mueller Hinton. Sampel diinkubasi selama 18-24 jam dengan suhu 370 C. Ekstrak etil asetat kulit petai mampu menghambat pertumbuhan Klebsiella pneumonia dengan rerata zona hambat K1 = 0 mm, K2 = 20,47 mm, P1 = 6,14 mm, P2 = 9,71 mm, P3 = 12,28 mm, dan P4 = 18,00 mm. Rerata zona hambat ada yang berbeda secara signifikan (P < 0,05) pada uji Kruskal Wallis, pada uji Mann-whitney didapatkan hasil yang signifikan antara kelompok kontrol negatif dengan kelompok perlakuan pada keempat konsentrasi. Ekstrak etil asetat kulit petai konsentrasi 100 mg/ml, 250 mg/ml, 500 mg/ml, dan 1000 mg/ml mampu menghambat pertumbuhan Klebsiella pneumoniae dibandingkan kontrol negatif. Kata kunci : Klebsiella pneumoniae, Kulit Petai, Aktivitas Daya Hambat
SPESIFISITAS DAN SENSITIVITAS PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS TBC DIBANDINGKAN PEMERIKSAAN KULTUR TBC PADA PASIEN TUBERKULOSIS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE JANUARI – DESEMBER 2015 Putu Harrista Indra Pramana; Ida Bagus Nyoman Putra Dwija; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i3.P13

Abstract

ABSTRAK Penyakit tuberculosis (TBC) merupakan suatu penyakit infeksi menular yang menyerang system pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ. Di Indonesia, besarnya angka kematian akibat TBC, maka peranan diagnosis dan perawatan menjadi sangat penting. Metode tercepat untuk diagnosa tuberkulosis yaitu dengan pemeriksaan mikroskopis namun diagnosis pasti penyakit TBC ditegakkan bila ditemukan bakteri M. tuberculosis di dalam spesimen, yang berasal dari organ yang terinfeksi,berdasarkan pemeriksaan bakteriologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaaan mikroskopis dibandingkan pemeriksaan kultur pada pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Periode Januari-Desember 2015.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan design study cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita yang dicurigai menderita TBC yang datang ke RSUP Sanglah Denpasar pada Januari 2015-Desember 2015 yang yang melakukan pemeriksaan mikroskopis dan kultur di laboratorium Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling dengan total sampel 124 pasien.Dengan uji chi square didapatkan hasil adanya hubungan bermakna antara uji mikroskopis dan uji kultur dengan nilai p<0,05. Dengan tabel 2x2 didapatkan nilai diagnostik pemeriksaan uji mikroskopis dibandingkan uji kultur menunjukkan sensitivitas sebesar 68% dan spesifisitas sebesar 94,9%. Kata Kunci:Tuberkulosis, Mikroskopis Zn, Kultur LJ, Sensitivitas, Spesifisitas
UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BUAH LERAK (Sapindus rarak) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis I Wayan Windi Artha; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i5.P03

Abstract

Staphylococcus epidermidis adalah bakteri gram positif berbentuk kokus yang sering menyebabkan infeksi kulit berupa abses seperti jerawat dan bisul. Pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis dapat dihambat dengan senyawa fitokimia yang berasal dari bahan alam seperti buah lerak (Sapindus rarak). Ekstrak buah lerak diketahui memiliki berbagai jenis senyawa fitokimia yang dapat menjadi agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya hambat ekstrak buah lerak pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Proses ekstraksi buah lerak dilakukan dengan metode maserasi dengan etanol 70% sebagai pelarut. Uji daya hambat dilakukan dengan metode disk diffusion menggunakan media MHA dengan 4 kali pengulangan. Berdasarkan skrining fitokimia ekstrak etanol buah lerak mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, kuinon, steroid, dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah lerak pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% memiliki daya hambat terhadap Staphylococcus epidermidis dengan luas yaitu 16 mm, 18,5 mm, 21,75 mm, dan 20,5 mm. Kontrol positif yang digunakan adalah vankomisin dengan luas zona 18,5 mm. Analisis Kruskal-Wallis menunjukkan hasil 0,003 yang menandakan adanya perbedaan rata-rata luas zona hambat antar konsentrasi pada ekstrak etanol buah lerak yang bermakna signifikan. Sehingga, disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah lerak (Sapindus rarak) memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Kata kunci: Buah Lerak, Uji Daya Hambat Bakteri, Staphylococcus epidermidis
Ekstrak daun kedondong hutan (Spondias pinnata) menghambat pertumbuhan Candida albicans dari penderita oral thrush secara in vitro Desak Made Hari Wijayanti; Made Agus Hendrayana; Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi
Bali Dental Journal Vol. 4 No. 1 (2020): January 2020
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v4i1.255

Abstract

Background: Candida albicans is a microorganism that can cause soft tissue infections in the oral cavity, one of them is oral thrush or candidiasis. To overcome the case, various types of antifungal drugs have been used, but in its development not all therapy gives a positive effect for the body. The use of natural ingredients as an alternative treatment of antifungal is by using the leaves of forest kedondong (Spondias pinnata). Forest kedondong leaves have secondary metabolite compounds namely flavonoids, polyphenols, saponins, and steroids that are suspected to inhibit the growth of C. Albicans. The general objective of this study was to investigate the results of inhibitory test of forest kedondong leaves extract on C. albicans through in vitro. Method: The research type was experimental with Post Test Only Control Group Design using Disk diffusion method (Kirby-bauer) with 25 samples. Each treatment group were given forest kedondong leaves extract with concentration 20%, 60%, and 100%. Then the control group was given ketoconazole as a positive control, and 80% ethanol as a negative control. Result: The result of this research was that inhibitory zone formed at 20% concentration is 18.4 mm, 60% concentration is 25.6 mm and 100% is 28.8 mm. Conclusion: the conclusion of this research shows that the forest kedondong leaves extract can inhibit the growth of C. albicans through in vitro, with the analysis test (comparative test), there is significant difference (p <0.05) between the forest kedondong leaves extract at concentration 20%, 60%, and 100% in inhibiting the growth of C. albicans fungi through in vitro. Latar Belakang: Candida albicans merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi jaringan lunak pada rongga mulut, salah satunya yaitu oral thrush atau kandidiasis. Untuk mengatasi hal tersebut telah digunakan berbagai jenis obat antijamur, namun dalam perkembangannya tidak semua terapi memberi efek positif bagi tubuh. Penggunaan bahan alam sebagai alternatif pengobatan antijamur yaitu dengan menggunakan daun tanaman kedondong hutan (Spondias pinnata). Daun tanaman kedondong hutan memiliki senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, polifenol, saponin, dan steroid yang diduga dapat menghambat pertumbuhan C. albicans. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil uji daya hambat ekstrak daun kedondong hutan terhadap C. albicans secara in vitro. Metode Penelitian: Jenis penelitian yaitu eksperimental dengan Post Test Only Control Group Design menggunakan metode Disk difusi (Kirby-bauer) dengan jumlah sampel sebanyak 25. Kelompok perlakuan masing – masing diberikan ekstrak daun kedondong hutan dengan konsentrasi 20%, 60%, dan 100%. Kemudian kelompok kontrol diberikan ketokonazol sebagai kontrol positif, dan etanol 80% sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian: dari hasil penelitian terbentuk zona hambat pada konsentrasi 20% sebesar 18.4 mm, konsentrasi 60% sebesar 25.6 mm dan 100% sebesar 28.8 mm. Simpulan: penelitian ini menunjukan ekstrak daun kedondong hutan dapat menghambat pertumbuhan C. albicans secara in vitro, dengan hasil uji analisis (uji perbedaan) dinyatakan terdapat perbedaan bermakna (p < 0.05) antara ekstrak daun kedondong hutan pada konsentrasi 20%, 60%, dan 100% dalam menghambat pertumbuhan jamur C. albicans secara in vitro.
Isolasi bakteri Escherichia coli pada lawar merah babi di kota Denpasar Dennis Yulianto; I Dewa Made Sukrama; Made Agus Hendrayana
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 1 (2019): (Available online 1 April 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.254 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i1.238

Abstract

Background: An alarming incidence rate of food-borne diseases in Indonesia become more worrible, especially the one which is caused by Escherichia coli. Based on Food and Drug Supervisory Agency or Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) in Indonesia, there are 18.144 people who got infected by food-borne illnesses in 2011. These facts are quite alarming for the people who live in Bali and they are more likely to consume lawar merah babi.  Lawar merah babi is a traditional Balinese food made from the mix of vegetable, meat, and some other ingredients as well as it is usually mixed by hand which make it susceptible to be contaminated by bacteria such as Escherichia coli. Aim: The study aims to investigate the E. coli contamination within lawar merah in Denpasar. Method: This descriptive cross-sectional study was conducted using 12 samples of lawar merah babi which were sold in 12 different places all across the Denpasar City. These samples were taken to Microbiology Laboratorium at Medical Faculty, Udayana University. There are three variants of dilution for each sample which are 10-1, 10-2, and 10-3. Each sample was cultured using eosin methylene blue agar as the media. Some of the sample without clear representation in the media will go through further identification. The results of Escherichia coli colonization were counted by the total plating count method to produce them in CFU/g for each of the samples.Result: Some of the samples have been contaminated by Escherichia coli (67%) approximately 17x104 CFU/g contamination average level.Conclusion: The samples exceed the contamination limit which is permitted by the BPOM recommendation, where the maximum Escherichia coli contamination level should not exceed over than 3 CFU/g.
Detection of biofilm formation in clinical isolates of Streptococcus pneumoniae in Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia I Made Sathya Vijayananda; Made Agus Hendrayana; I Dewa Made Sukrama; Ni Nengah Dwi Fatmawati
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.934 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.908

Abstract

Background: Streptococcus pneumoniae causes broad-spectrum infections from mild to severe with high morbidity and mortality rates in almost all of the world, namely pneumonia and meningitis. This bacterium has virulence factors that help their survival, one of which is biofilms. Biofilms help Streptococcus pneumoniae become resistant to antibiotics; thus, treating infections caused by these bacteria is difficult to treat. This study aims to determine the biofilm production ability of Streptococcus pneumoniae isolated from the Clinical Microbiology Laboratory of Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali, Indonesia using the tissue culture plate method.Methods: The research design used was a descriptive observational study with cross sectional type. The clinical isolate of Streptococcus pneumoniae was isolated from the Clinical Microbiology Laboratory of Sanglah General Hospital. Biofilm formation was measured by the tissue culture plate method and carried out at the Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Udayana University. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: Most of the specimens were collected from blood (59.37%), followed by sputum (31.25%), and others (9.38%). It was found that 1 of 32 (3.10%) clinical isolates could form a biofilm with a strong formation category (the optical density value> 0.38). In contrast, the rest did not form biofilms with an optical density value of ?0.095.Conclusions: Not all clinical isolates of Streptococcus pneumoniae isolated from the Clinical Microbiology Laboratory of Sanglah General Hospital Denpasar were able to form biofilms, suggesting that other virulence factors also play a role in pneumococcal infection. However, a molecular approach is necessary for the detection of genes encoding biofilm-producing isolates in future studies.
Antibiogram and biofilm formation among extended-spectrum ?-lactamase-producing Klebsiella pneumoniae clinical isolates in Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia Ichlazul Ma’ruf; Made Agus Hendrayana; I Dewa Made Sukrama; Ni Nengah Dwi fatmawati
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.341 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.909

Abstract

Background: Klebsiella pneumoniae is a common cause of healthcare-associated infections (HAIs), and has a high level of resistance to antibiotics first, second, extended-spectrum cephalosporins, and monobactam which are a serious threat to public health worldwide. Besides, it is known that this bacterium can form biofilms as virulence factors that contribute to drug resistance. This study aims to determine the antibiotics susceptibility patterns and the capacity of K. pneumoniae to form biofilms.Methods: K. pneumoniae was isolated from clinical specimens (urine, sputum, pus, blood, and others) for the period 2018-2019. Bacterial identification and antibiotic susceptibility testing were performed using the Vitek Compact 2 (bioMérieux®) test in the Clinical Microbiology Laboratory of Sanglah General Hospital. Biofilm formation was checked using the tissue culture plate method (TCP). Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: Most of Extended Spectrum ?-Lactamase (ESBL)-producing K. pneumoniae showed resistance to antibiotics. The susceptible profiles were only towards ertapenem (97.50%), meropenem (97.50%), amikacin (95.00%), and tigecycline (87.50%). The TCP method detected 72 (90.00%) as biofilm producers among 80 clinical isolates, while 8 (10.0%) as non-biofilm producers. Among the biofilm-producer bacteria, there were 6 (7.50%) as strong, 37 (46.25%) moderate, and 29 (36.25%) weak biofilm-producer isolates.Conclusions: Most ESBL-producing K.pneumoniae clinical isolates in Sanglah General Hospital demonstrate multiple resistance to antibiotics and as biofilm producers. However, further research is needed to be conducted using a molecular approach to see the ESBL- and biofilm-encoded genes.
Uji aktivitas antibakteri ekstrak kulit batang tanaman kenanga (cananga odorata) terhadap bakteri penyebab infeksi kulit Staphylococcus aureus in vitro Putu Gitanjani Mahadewi Semadhi; Ketut Indah Karina Mahardika; Rena Sari Megayanthi; Ni Wayan Prabasiwi Kirana; I Dewa Gde Bagus Panji Palaguna; Made Agus Hendrayana
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.316 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1201

Abstract

Background: Staphylococcus aureus resistance to antibiotics or Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus (MRSA) is a severe problem worldwide with high morbidity and mortality rates, so it is necessary to identify alternative new antibacterial compounds to overcome this problem, especially those that derived from natural ingredients. One of these natural ingredients is the ylang plant (Cananga odorata) because the phytochemical test results show that this plant contains various bacteriostatic compounds. This study aims to determine whether the bark extract of the ylang plant (Cananga odorata) can inhibit the growth of S. aureus.Methods: In vitro experimental research using ylang bark extract (Cananga odorata) with concentrations of 20%, 60%, and 100% with 96% ethanol diluent. Inhibition test was carried out using the disc diffusion test method with five repetitions.Results: The average zone of inhibition of the growth of Staphylococcus aureus bacteria was as follows: 20% extract (P1) 11.8 mm; extract 60% (P2) 12.2 mm; extract 100% (P3) 18.2 mm; positive control (K2) 32.4 mm; and negative control (K1) 0 mm. The statistical analysis results showed that the bark extract of the Cananga plant affected the inhibition of S. aureus bacteria at concentrations of 20%, 60%, and 100%.Conclusion: Ylang plant (Cananga odorata) bark extract with concentrations of 20%, 60%, and 100% was effective in inhibiting the growth of S. aureus bacteria. Latar Belakang: Resistensi bakteri Staphylococcus aureus terhadap antibiotik atau Methicillin Resistance Staphyloccus Aureus (MRSA) merupakan salah satu masalah serius di dunia kesehatan, sehingga perlu diidentifikasi alternatif senyawa antibakteri baru untuk mengatasi masalah tersebut, khususnya yang berasal dari bahan alami. Adapun salah satu bahan alami tersebut yakni tanaman kenanga (Cananga odorata) karena hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung berbagai senyawa bakteriostatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak kulit batang tanaman kenanga (Cananga odorata) dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus.Metode: Penelitian eksperimental in vitro menggunakan ekstrak kulit batang tanaman kenanga (Cananga odorata) dengan konsentrasi sebesar 20%, 60%, dan 100% dengan pengencer etanol 96%. Pengujian daya hambat dilakukan dengan menggunakan metode uji difusi cakram sebanyak lima kali pengulangan.Hasil: Rerata zona hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut: ekstrak 20% (P1) 11,8 mm; ekstrak 60% (P2) 12,2 mm; ekstrak 100% (P3) 18,2 mm; kontrol positif (K2) 32,4 mm; dan kontrol negatif (K1) 0 mm. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa ekstrak kulit batang tanaman kenanga berpengaruh terhadap daya hambat bakteri S. aureus pada konsentrasi 20%, 60%, dan 100%.Kesimpulan: Ekstrak kulit batang tanaman kenanga (Cananga odorata) dengan konsentrasi 20%, 60%, dan 100% efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus
Co-Authors Agastiya, I Made Cahyadi Agus Eka Darwinata Amy Yelly Chandra, Katherine Silvania Dennis Yulianto Desak Made Hari Wijayanti Dewa Ngurah Suprapta Dewa Ngurah Suprapta Dwija, Ida Bagus Nyoman Putra Gandari, NK. Matalia Govinda Vittala Gusti Ngurah Juniartha Handayani, I Gusti Ayu Nastiti Wahyu HARI MULYAWAN Hearty Indah Oktavian Hendrawan, Gresya I Dewa Ayu Made Dian Lestari I Dewa Ayu Rayna Nareswari Wikananda I Dewa Gde Bagus Panji Palaguna I Dewa Made Sukrama I G A Aristi Dhika Pranani I G. A. Ngurah Aswin Panji Sanjaya I Gede Agus Darsana Palgunadi I Gede Bayu Adi Pratama I Gede Pradnya Wisnu Murthi I Gede Raka Adhyatma I Gusti Ngurah Juniartha I Kadek Aditya Nugraha I Kadek Serisana Wasita I Made Ady Wirawan I Made Jawi I Made Nugraha Gunamanta Sabudi I Made Pande Dwipayana I Made Reza Pramudya I Made Sathya Vijayananda I Made Wira Kusuma I P Ananta WS I Putu Bayu Mayura, I Putu Bayu I Wayan Windi Artha I.A.A. Widhiartini Ichlazul Ma’ruf Ida Ayu Andhira Dewi Suarisavitra Ida Bagus Aditya Bhaskara Ida Bagus Nyoman Putra Dwija Ida Bagus Nyoman Putra Dwija Ida Sri Iswari IGM Wijaya P IGP Dhinarananta IP Ananta WS Kadek Adit Wiryadana Kadek Surya Atmaja Ketut Indah Karina Mahardika Komang Januartha Putra Pinatih Kusumajaya, I Gusti Bagus Ari Adi Laksmi, Ida Ayu Agung LUH MERTASARI . Luh Seri Ani Luh Seri Ani Made Indra Wijaya Made Kurnia Widiastuti Giri Made Kurnia Widiastuti Giri Made Widianantara Nathasia Ngurah Agus Sanjaya ER Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi Ni Komang Sulyastini Ni Made Dian Kurniasari Ni Nengah Dwi Fatmawati Ni Nengah Dwi Fatmawati Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Tesi Maratni Ni Wayan Mega Sri Wahyuni Ni Wayan Prabasiwi Kirana Nila Wahyuni P Ananta WS P Yuniadi A Paramyta, I Gusti Ayu Cintya Pramadya PN Putra, I Dw. Gd. Bayu Artha Pratama Putu Agung Satvika Pradnyadevi Putu Gitanjani Mahadewi Semadhi Putu Harrista Indra Pramana Putu Yuniadi Antari Rena Sari Megayanthi Santhi Y, Ni Putu Kusuma Saranova, Hilda Saraswati P. Yogita Sieny Veronica Sonia Elvira Salim Vittala, Govinda Wahyuni, Ni Wayan Mega Sri Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wibisana, I Dewa Nyoman Adi Ningrat Winatha, I Gde Pangestu Putrama Winaya, Made Illene Wira Guna, I Gede Bhima