Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Biofaal Journal

UTILIZATION OF ACTIVATED CHARCOAL FROM NUTMEG SHELL WASTE AS AN ADSORBENT TO IMPROVE THE QUALITY OF VIRGIN COCONUT OIL (VCO) FERMENTATION METHOD Hitijahubessy, Hendro; Huwae, Laury Marcia Ch
Biofaal Journal Vol 2 No 2 (2021): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.599 KB) | DOI: 10.30598/biofaal.v2i2pp81-86

Abstract

Virgin coconut oil (VCO) is a form of processed coconut that is widely produced by people in Indonesia. VCO is often called pure coconut oil. VCO with good quality is by fermentation method using yeast. The quality of VCO can be measured by 3 types of analysis: water content, free fatty acids and peroxide number. The results of this analysis will be compared with the standards of the Asian and Pacific Coconut Community (APCC). VCO from fermentation method will be combined with the absorption method using nutmeg shell activated charcoal to see if there is a much better quality improvement. The results showed that there was a significant increase in quality with a decrease in the average water content from 0,1665% to 0,1005%. In addition, there was a significant decrease in the average free fatty acid content from 0,4681% to 0,3790% and significant decrease in average peroxide number from 0,1991 meq/kg to 0,0997 meq/kg. The results of the research on three VCO quality standards showed a value that was in accordance with the APCC standard.
ANTIBACTERIAL ACTIVITY EFFICACY OF EXTRACT SEAWEED Kappaphycus alvarezii AND LEAVES OF MANGROVE (Rhizophora apiculata) AGAINST Aeromonas hydrophilla CAUSES OF ICE-ICE DISEASE Hitijahubessy, Hendro; Bandjar, Muniati Nur Aisyah; Huwae, Laury Marcia Ch.; Hanoatubun, M. I. H.
Biofaal Journal Vol 4 No 1 (2023): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v4i1pp40-48

Abstract

Southeast Maluku area, seaweed is the livelihood of the community. However, in its cultivation there are some common obstacles that are often experienced. One of them is ice-ice disease caused by the presence of bacteria such as Aeromonas hydrophilla. Therefore, prevention that can be used as a solution is antibacterial. One of the natural ingredients that can be used as an antibacterial is seaweed, because it contains compounds that can inhibit bacterial growth. In general, the most common bioactive compounds found are flavonoids, phenols, and tannins. In addition to seaweed, mangrove plants also have compounds that can be antibacterial. The extract method used in this study is a simple extraction method that uses only one type of solvent, namely distilled water. And a comparison of concentrations between 100%, 80%, 60% and 40% was carried out. Then the inhibition zone test was carried out using the paper disc diffusion method, where the disc paper was dipped into each extract with different concentrations and placed in a petri dish that had been overgrown with bacteria. Measurement of the inhibition zone formed was carried out after the plates were incubated for 24 hours at 37oC. The measurement results show that both aquades extracts have medium to strong inhibitory power. The conclusion of this research is that aquades extract of seaweed and mangrove leaves has inhibitory power against Aeromonas hydrophilla bacteria.
IDENTIFIKASI KARAKTER MORFOLOGI TURPEPEL (Cuora amboinensis) DI SUNGAI WAIMAMOKANG, DESA HALONG PULAU AMBON Silahooy, Veince Benjamin; Huwae, Laury Marcia Chara
Biofaal Journal Vol 1 No 2 (2020): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.745 KB) | DOI: 10.30598/biofaal.v1i2pp107-111

Abstract

C. amboinensis dalam Bahasa lokal Maluku disebut Turpepel, sering dilaporkan kemunculannya di hutan sepanjang DAS waimamokang Desa Halong. Penurunan populasi hingga 50-80% dalam 20 tahun terakhir mengakibatkan perlu evualuasi kembali dan hasilnya menempatkan spesies ini masuk dalam kategori konservasi lebih tinggi yaitu Endangered (EN). Analisa data dilakukan secara deskripif dengan melakukan pengukuran langsung pada karapas, plastron, kepala, kaki dan massa dari setiap individu. Deskriptif karakter morfologi dijelaskan secara akurat sesuai dengan fakta yang ditemukan di lapangan. Hasil penelitian ini ditemukan 7 individu Turpepel (C. amboinensis) dimana 6 diantaranya berkelamin jantan dan 1 berkelamin betina. Karapas tersusun atas lempengan yang keras berbentuk segi enam yang simetris vertikal. Plastron dapat digerakan terutama pada bagian yang dekat dengan kepala dan ekor. Seluruh bagian kepala dapat disembunyikan, dan tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antara panjang dan lebar pada kaki depan dan kaki belakang
PENINGKATAN KEBERHASILAN IMPLANTASI TIKUS Rattus norvegicus TERPAPAR ASAP ROKOK PASCA DITERAPI EKSTRAK ETANOL RUMPUT KEBAR (Byophytum petersianum Klotzsch) Rahandity, Jeanny Stevani; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La; Huwae, Laury Marcia Chara
Biofaal Journal Vol 2 No 1 (2021): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.913 KB) | DOI: 10.30598/biofaal.v2i1pp19-27

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keberhasilan implantasi tikus Rattus norvegicus terpapar asap rokok pasca diterapi ektrak etanol rumput kebar (Biophytum petersianum Klotzsch). Penelitian mengggunakan metode eksperimental laboratorik dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan yang masing-masing diulang tiga kali, yaitu (-): Kelompok kontrol negatif yaitu tikus yang tidak diberi perlakuan, (+): Kelompok kontrol positif yaitu tikus dipaparkan asap rokok selama 28 hari, (0.067): Kelompok tikus yang dipapar asap rokok selama 28 hari kemudian diberi ekstrak etanol rumput kebar dengan dosis 0.067mg/ekor/hari selama 28 hari, dan (0.135): Kelompok tikus yang dipapar asap rokok selama 28 hari kemudian diberi ekstrak etanol rumput kebar dengan dosis 0.135mg/ekor/hari selama 28 hari. Setelah itu, semua tikus dikawinkan. Pengamatan jumah korpus luteum pada organ ovarium dan titik implantasi pada organ uterus tikus dilakukan pada usia kebuntingan 12 hari. Data yang dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA)-SPSS versi 16.0 dilanjutkan dengan uji Duncan dengan selang kepercayaan 95% (α = 0.05) dan metode nonparametric. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol rumput kebar (Byophytum petersianum Klotzsch) dengan dosis 0.135 mg/ekor/hari mampu meningkatkan keberhasilan implantasi tikus Rattus norvegicus.
SELEKTIFITAS PERTUKARAN ION Mg-K AKIBAT PEMBERIAN LARUTAN NH3 PADA TANAH RENZINA DENGAN BEBERAPA WAKTU INKUBASI Silahooy, Charles; Silahooy, Veince Benjamin; Huwae, Laury Marcia Ch
Biofaal Journal Vol 3 No 1 (2022): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v3i1pp12-18

Abstract

The cation exchange on the adsorbtion complex constitutes an important chemical character of soil in determining soil fertility level. To see which ion that more selective to be separated by NH4+ ion complex absorbtion between Mg and K. The expereiment was done at soil laboratory, faculty of agriculture, pattimura university ambon. The expereiment applied completely randomized desighn. With factorial pattern. NH3 solution treatment consist of 3 hour, 7 and 14 days. the result of the expereiment showed that there was an interaction between NH3 solution treatment and incubation time on the selectivity interchange of Mg-K ion, the availability rate of K and Mg, the change of pH and the conductivity of electricity . the addition of NH3 solution increased soil ph, DHL, Exchangable Mg, exchangeable k, Mg2+ and k+ ions in the soil solution and effected selectivity of Mg-k ion interchange.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI Vibrio sp. DARI DAUN SERNAI (Wedelia biflora) Hitijahubessy, Hendro; Samid, Aprianti; Jalmaf, Welda Kristiyanti; Hasanela, Nurani; Huwae, Laury Marcia Ch
Biofaal Journal Vol 3 No 1 (2022): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v3i1pp43-50

Abstract

Penyakit Vibriosis pada ikan kakap, udang vaname dan rumput laut sering disebabkan disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Penyakit tersebut dapat dideteksi dengan mengisolasi bakteri dan menanamnya pada media agar selektif Vibrio sp. yaitu Thiosulfate Citrate Bile Sucrose (TCBS) agar. Daun sernai (Wedelia biflora) adalah tumbuhan yang banyak diteliti dan berguna sebagi antimikroba atau antibakteri. Berdasarkan kegunaan sebagai anti bakteri diharapkan dalam penelitian ini bahwa daun sernai dapat menjadi antibakteri Vibrio sp. Efektifitas dan efisiensi dari daun sernai sebagai antibakteri Vibrio sp. dalam penelitian ini dapat diperoleh dengan menentukan rendemen ekstrak, analisis fitokimia dan uji aktifitas ekstrak sebagai antibakteri Vibrio sp dengan metode disc diffusion Kirby-Bauer. Rendemen ekstrak daun sernai yang dihasilkan sebesar 11,7 %, dengan kandungan metabolit sekunder hasil uji fitokimia serbuk daun sernai menunjukan positif adanya senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Ekstrak daun sernai dengan konsentrasi 100 % mampu menghambat bakteri dengan respon hambat pertumbuhan bakteri Vibrio sp. yang kuat atau sensitif dan mempunyai respon hambat yang sama dengan tetrasiklin 30 mg.
JUMLAH SEL LEYDIG DAN SEL SERTOLI TIKUS GALUR SPARAGUE-DAWLEY TERPAPAR SOPI PASCA DITERAPI EKSTRAK ETANOL SIRIH CINA (Peperomia pellucida L.) Unitly, Adrien Jems Akiles; Killay, Amos; Moniharapon, Mechiavel; Eddy, La; Silahooy, Veince B; Huwae, Laury Marcia Ch; Moniharapon, Debby Dijola; Lakesubun, Bella Frida
Biofaal Journal Vol 5 No 1 (2024): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v5i1pp010-018

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jumlah sel Leydig dan sel Sertoli tikus terpapar sopi pasca diterapi ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida. L). Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dalam penelitian ini, dengan membagi 15 ekor tikus ke dalam 5 kelompok perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali, yaitu kelompok 5.4 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari selama 14 hari (kontrol negatif), kelompok Vit. C 6.3 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4 ml/ekor/hari kemudian diberi Vitamin C 6.3 mg/ekor/hari selama 14 hari (kontrol positif), kelompok 0.71, 1.43 dan 2.86 adalah 3 ekor tikus yang diberi sopi 5.4ml/ekor/hari selama 14 hari kemudian kemudian masing-masing kelompok diberi ekstrak etanol sirih cina 0.71g/ekor/hari selama 14 hari, 1.43g/ekor/hari selama 14 hari dan 2.86g/ekor/hari selama 14 hari. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi dan Mikroteknik Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pattimura Ambon mencakup persiapan hewan model, pemberian minuman sopi, ekstraksi sirih cina, pembuatan preparat histologis dan pengamatan. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji duncan pada taraf nyata a = 0.05 menggunakan perangkat lunak SAS dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil untuk mengetahui perbedaan perlakuan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian sopi 5.4 ml dapat menyebabkan penurunan jumlah sel Leydig dan sel Sertoli dan setelah diberi ekstrak etanol sirih cina, jumlah sel Leydig dan sel Sertoli mengalami peningkatan, dimana dosis ekstrak etanol sirih cina yang baik untuk sel Leydig adalah 2.86g dan untuk sel Sertoli adalah dosis 1.43g.
SKRINING FITOKIMIA DAN ANTIBAKTERI CANGKANG DAN DURI BULU BABI Diadema setosum Birahy, Deford Cristy; Siahaya, Griennasty Clawdya; Bustomi, Bustomi; Seumahu, Cecilia Anna; Nindatu, Maria; Mainassy, Meillisa C; Huwae, Laury Marcia Ch
Biofaal Journal Vol 5 No 1 (2024): Biofaal Journal
Publisher : Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/biofaal.v5i1pp044-052

Abstract

Bulu babi Diadema setosum relatif melimpah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa fitokimia dan kemampuan antibakteri ekstrak etanol cangkang dan duri bulu babi Diadema setosum terhadap isolat bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella sp. Metode penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi cangkang dan duri bulu babi Diadema setosum dengan cara maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian dilakukan skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skrining fitokimia ekstrak cangkang bulu babi (Diadema setosum) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan saponin. Senyawa yang ditemukan pada ekstrak duri bulu babi Diadema setosum antara lain alkaloid, flavonoid, dan tanin. Pengujian antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa kedua sampel (cangkang dan duri) menghasilkan zona hambat terhadap isolat bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Salmonella sp.
Co-Authors Adhe Fitri Rohly Elys Adrien Jems Akiles Unitly Aidah Z. N. Rohmah Aldeva H. F Mawuntu Aldi Renata Alia U. Mahua Amos Killay Angela Ruban Anggrek, Sevennia Apituley, Edwin T. Avriyanti, Adivya Bandjar, Muniati Nur Aisyah Baszary, Chomsa Dintasari Umi Birahy, Deford Cristy Bustomi Bustomi Buton, Musrifa CECILIA ANNA SEUMAHU Charlota Masully Chrisnata Manihuruk Christiana Manuella Violynn Clifford R. Kundiman Dhea Nurafni Firmansyah DOMINGGUS MALLE Elsy Taruk Linggi Esra Yudha Empra Evanthely N. Ch. M. Tahalele Far Far, Thessa N. Fira A. Rehalat Gian Rumahlatu Gladys R. Pamesti Glaselaria A. Oeijano Gloria A. D. Rante Gloria M Souissa Gloria Sitaniapessy Godwin W. A. Hehanussa Gratia D. Manuputty Gresti Vionae Hanoatubun, M. I. H. Hartati, Dwi Hasanela, Nurani Helmalya Putri Hendra Titawael Hendrikus Sakliressy Hendro Hitijahubessy Hermanto Romera Hubert A. Mainake Hukubun, Wiwien Gaby INDRA RAHMAWATI Inri Chartini Johansz Jalmaf, Welda Kristiyanti Jembris Nustelu Joel Apriyanto Fejacreyo Huka Johan B. Bension Johan Bruiyf Bension Jorgi B. Kurniawan Joshua Amstrong Leuwol Jossep Titirloloby Josua Frans Trianto Juan Marchel Paulus JUNUS PICARIMA Jusuf Leiwakabessy Karan Silaratubun Kesia L. Sahusilawane Kezia Cornelia Klau Kezia Sovici Tuhuleruw Klarita Johana Linansera Kresyan Pentury Kristi Lenci Patty Kuntum N. Lisaholet La Eddy Labibah Nur Dini Lakesubun, Bella Frida Laratmase, Nia D. Laura B. S. Huwae Laura Bianca Silvia Huwae Laura Bianca Sylvia Huwae Lenci Patty, Kristi Lesirolo, Medlin Liklikwatil, Devita Lunmisay, Jelian Lusanra Jacqueline Tutkey M. Aldi Septian Mainassy, Meillisa C Marcia Lainsamputty Marlin C. Wattimena Marlin Chrisye Wattimena Matakupan, Maya M. Megumi I. P. Malle Merlin Getdha Putnarubun Merlyn Andrianne Alfons Michele C. Manuputty Michele F. C. Usmany Moniharapon, Debby Dijola Moniharapon, Mechiavel Mose, Windi Mutia F. Tala Nindatu, Maria Nusaly, Windy Natalia Pattinama, Etty Patty, Kristi Lenci Paulina Ester Linansera Pentury, Kresyan Pingkan Aditiawati Pretty Mitra Kristina Zebua Prezto S. A. Dabutar Rahandity, Jeanny Stevani Ratih C. F. Ratumanan Reasoa, Jesmendy Revi A. Rumbawa Rina S. D. Suganda Riskiya Riskiya Ronald Darlly Hukubun Ruben Mesasnuat S. Tentua, Caroline Safitriyani Safitriyani Salmawati, Mimi Samid, Aprianti Sembiring, Firly H. R. Sherly Lewerissa Siahaya, Griennasty Clawdya Silahooy, Charles Silahooy, Veince B Silahooy, Veince B. Silahooy, Veince Benjamin Sri J. A. Bandu Stefanno M. A. Rijoly Stefano M. A. Rijoly Stela Salamor Suranti Pratiwi Syalvira N. Nasaruddin Trisna Marsadi Tulalessy, Nielmark Veince Benyamin Silahooy, Veince Benyamin Ventia Cika Tanikwele Vivin Ayuasthika WAHYU PURBOWASITO Wakano, Deli Yansen Jagatri Kufla Yayan Asmawan Yoisye Lopulalan Yulia Yunita Mayor Yulius Ruspanah Zusye Latuihamallo