Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Keragaman Morfologi, Genetika, dan Patogenisitas Colletotrichum acutatum PenyebabAntraknosa Cabai di Jawa dan Sumatera Ibrahim, Roy; Hidayat, Sri Hendrastuti; widodo, widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 13 No. 1 (2017)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.884 KB) | DOI: 10.14692/jfi.13.1.9

Abstract

Colletotrichum acutatum is known as the major causal agents of anthracnose disease of chilli pepper in Indonesia. This research was aimed to study genetic variability of C. acutatum in Java and Sumatera based on morphological and molecular characteristics and to evaluate pathogenicity of several isolates. Observation on morphological characteristics involved colour and growth of each colony as well as shape and size of conidia. Molecular identification was performed by DNA amplification using specific primer for C. acutatum, i.e. CaInt2/ITS4 followed by sequencing and nucleotide sequence analysis. Pathogenicity test for each isolate on Capsicum annuum and C. frutescens was conducted in the laboratory using detached chilli. Morphology variability was observed from 40 isolates of C. acutatum. Most of the isolates have white/beige colonies with fusiform conidia of 6.11–9.73 µm in length and 2.24­–2.73 µm in width. Pathogenicity of 3 C. acutatum isolates varies from moderate to high based on lesions size on infected chilli. Sequence analysis of 8 C. acutatum isolates indicated high homology among isolates from Java and Sumatera
Sosialisasi Budidaya Cabai Merah dan Kondisi Tanah di Desa Teluk Piyai Pesisir Kecamatan Kubu Kabupaten Rokan Hilir Zafitra, Zafitra; Khoiri, M. Amrul; Silvina, Fetmi; Irfandri, Irfandri; Wahyudi, Eko; Irawan, Joni; Ali, Muhammad; Nurhidayah, T.; Trizayuni, Riska; Ibrahim, Roy; Mulyadi, Dedi
Journal of Rural and Urban Community Empowerment Vol. 6 No. 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jruce.6.2.136-140

Abstract

Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang budidaya tanaman cabai merah dan kondisi tanah di Teluk Piyai Pesisir. Pengabdian telah dilakukan pada bulan Agustus 2024. Pengabdian dilakukan dengan metode diskusi dan praktik lapangan. Dari hasil diskusi dan praktik lapangan diperoleh permasalahan yang dominan pada petani adalah adalah kondisi tanah yang mengandung phyrite dan tergenang pasang air laut, pengolahan tanah, serta masalah yang tidak terlalu signifikan adalah hama dan penyakit serta masalah panen hingga penjualan cabai merah. Dari hasil diskusi direkomendasikan untuk kedepannya agar petani untuk dapat melakukan pemupukan yang sesuai dosis anjuran dan pada pengolahan tanah untuk tidak terlalu dalam saat mencangkul atau mengolah tanah menggunakan traktor pada kedalaman lebih dari 40 cm sudah terdapat kandungan phyrite yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan kondisi tergenang kandungan phyirite lebih mudah tersebar dan larut di permukaan tanah
PENDAMPINGAN DIAGNOSA DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN LIDAH MERTUA (SANSEVIERIA) DI KELURAHAN DELIMA, PEKANBARU Elfina, Yetti; Muhammad Ali; Roy Ibrahim
Jurnal Medika Mengabdi Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Medika Mengabdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/28b1en58

Abstract

Tanaman hias merupakan termasuk komoditas hortikultura yang mamapu dikembangkan dan berpotensi dikembangakan di Indonesia. Budidaya tanaman hias dapat menjadi peluang usaha dan dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tanaman hias Sansevieria merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai tanaman hias baik di dalam maupun di luar rumah karena berbagai warna dan bentuk daunnya. Apabila tanaman hias Sansevieria pada bagian daun terserang penyakit akan menurunkan kualitas dan kuantitas. Belum adanya informasi tentang penyakit yang menginfeksi tanaman hias Sanseviera di lokasi pengabdian Taman Bunga Baginda Sedayu Flower, padahal informasi tentang penyakit tanaman hias ini sangat penting sehingga perlu dilakukan pendampingan usaha tani tanaman hias dalam mendiagnosis penyakit tanaman hias Sanseviera. Pengabdian dalam pendampingan usaha tani ini bertujuaan memberikan pengetahuan tentang penyakit tanamann Sanseviera, diagnosis penyakit, alternatif pengendalian yang dapat dilakukan serta evaluasi kegiatan. Pendampingan usaha tani yang telah dilakukan mengalami peningkatan pemahaman, terlihat dari peningkatan dari tanya jawab yang dilakukan diakhir pengabdian dan nantinya akan diterapkan dalam meningkatkan usaha tani tanaman hias.
Pemberdayaan Kelompok Tani Senyerang Melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Nanas Alhaviz, Alhaviz; Eka Pratiwi, Erviana; Imtaz Sumbari, Ahmad; Utami Lestari, Sri; Ibrahim, Roy; Ihsan, Fikratul
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v5i1.1358

Abstract

Nanas (Ananas comosus) merupakan komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan untuk konsumsi segar maupun olahan industri. Dalam proses pengolahannya, sekitar 30-40% bagian buah menjadi limbah, seperti kulit, batang, dan bagian yang tidak terpakai. Limbah ini sering tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik cair (POC). POC dari limbah nanas dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia serta meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman. Selain itu, POC berperan dalam meningkatkan kualitas hasil panen dan mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan. Pemanfaatan limbah nanas juga dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, termasuk kelompok wanita tani. Kulit nanas mengandung 81,72% air; 20,87% serat kasar; 17,53% karbohidrat; dan 4,41% protein, menjadikannya bahan yang potensial untuk fermentasi menjadi POC. Pupuk ini mengandung 1,12% nitrogen (N), 0,2% fosfor (P), 1,24% kalium (K), dan 3,51% karbon organik (C). POC dari kulit nanas telah terbukti bermanfaat bagi tanaman seperti selada dan mentimun. Pelatihan pembuatan POC dari limbah nanas dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik. Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya mendukung pertanian berkelanjutan tetapi juga memberikan solusi bagi pengelolaan limbah industri nanas.
Pendampingan Petani Tanaman Hias de Garden Arifin Ahmad dalam Diagnosa dan Pengendalian Penyakit Tanaman Anggrek Elfina, Yetti; Idwar; Asiah, Nur; Ibrahim, Roy
Open Community Service Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Open Community Service Journal
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ocsj.v4i1.136

Abstract

Anggrek menjadi salah satu jenis tanaman hias yang populer digunakan, baik di dalam maupun luar ruangan, karena keindahan warna dan variasi bentuk bunganya. Serangan penyakit pada bagian tanaman dapat menurunkan kualitas dan kuantitasnya, sehingga berdampak pada kerugian ekonomi karena konsumen umumnya enggan membeli tanaman yang terinfeksi. Kurangnya informasi mengenai jenis penyakit yang menyerang tanaman hias, khususnya Anggrek, di lokasi pengabdian de Garden menunjukkan pentingnya dilakukan kegiatan pendampingan. Informasi mengenai penyakit tanaman hias sangat diperlukan guna mendukung upaya diagnosis dan pengendalian. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan petani mengenai penyakit pada tanaman Anggrek, cara mendiagnosisnya, pilihan pengendalian yang dapat dilakukan, serta melakukan evaluasi. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini dengan melakukan penyuluhan, pelatihan, pembuatan petak percontohan dan pretetst serta postest dengan kuisioner. Berdasarkan hasil pretest menunjukkan peserta tidak mampu menjawab 15% dari pertanyaan yang diajukan pada kuisioner kemudian setelah dilakukan pendampingan dilakukan posttest dan didapatkan peserta telah mampu menjawab dan memahami 80% kuisioner. Hasil pendampingan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman, yang tercermin dari hasil sesi tanya jawab di akhir kegiatan, dan dapat diimplementasikan untuk mendukung pengembangan usaha tani tanaman hias. Pendampingan yang dilakukan dapat meningkatkan tingkat pengetahuan petani tentang hama dan penyakit dan cara pengendalian dengan sistem pengendalian hama terpadu.
Pengaruh Metode Pirolisis Terhadap Rendemen Arang Hayati dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dengan Variasi Bentuk Bahan dan Sistem Pembakaran Zafitra, Zafitra; Trizayuni, Riskia; Ibrahim, Roy; Jamili, Muhammad Joehari; Khoiri, Muhammad Amrul; Irawan, Joni; Fawrin, Heralda; Nazar, Yeni Etma; Romadhan, Panji
Acta Solum Vol 3 No 2 (2025): Maret 2025
Publisher : Department of Soil, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/actasolum.v3i2.3299

Abstract

This study aimed to determine the effect of pyrolysis methods on the biochar yield from oil palm empty fruit bunches (EFB) using variations in material form and combustion systems. The research was conducted from March to May 2025 in Sorek Satu, Pelalawan Regency, Riau Province, and in the Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Riau University. The study consisted of several treatments: (1) whole EFB – external semi-vacuum combustion, (2) shredded EFB – external semi-vacuum combustion, (3) whole EFB – total internal vacuum combustion, and (4) shredded EFB – total internal vacuum combustion. Collected data from the study were analyzed using descriptive statistics. The results showed that external semivacuum pyrolysis produced a higher biochar yield compared to total internal vacuum pyrolysis, with the highest yield from whole EFB at 45.6% and shredded EFB at 32.8%. The total internal vacuum system failed to produce biochar and only resulted in dry material without undergoing carbonization. The chemical characteristics from the external semi-vacuum combustion system indicated that biochar from whole EFB had higher contents of carbon, potassium, magnesium, boron, and pH, while biochar from shredded EFB tended to have higher contents of nitrogen, calcium, and iron.
PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR PAITAN DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT PEPAYA PADA MEDIA TANAM BERBEDA Ibrahim, Roy
Agrin Vol 28, No 2 (2024): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2024.28.2.772

Abstract

Pengembangan areal tanaman pepaya berupa adanya penyediaan bibit yang sehat, potensinya unggul dan tepat waktu. Media tanam sangat menentukan tingkat keberhasilan dari suatu tanaman untuk tumbuh dengan baik. Jenis tanah gambut dan podsolik merah kuning (PMK) merupakan lahan marginal dengan produktivitas rendah. Pupuk organik yang digunakan yaitu paitan yang merupakan tanaman liar yang kurang dimanfaatkan dan pupuk sintetik NPK Mutiara 16:16:16 sebagai pupuk majemuk yang mengandung unsur hara nitrogren, fosfor, dan kalium. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui interaksi POC paitan dengan pupuk NPK terhadap bibit tanaman pepaya (Carica papaya) dan mengetahui penggunaan media tanam berbeda terhadap pertumbuhan bibit tanaman pepaya (Carica papaya). Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah pemberian pupuk organik cair (POC) paitan terdiri dari 3 taraf yaitu P0: tanpa POC paitan, P1: POC paitan 100 mL/L, dan P3: POC paitan 200 mL/L. Faktor kedua adalah pemberian pupuk NPK yang terdiri dari 3 taraf yaitu N0: tanpa pupuk NPK, N1: pupuk NPK 2,5 g/polybag, dan N2: pupuk NPK 5 g/polybag. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Penelitian dilakukan pada media tanam berbeda yaitu media tanam gambut dan PMK. Data yang diperoleh dianalisa statistika menggunakan analisis of variance dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test. Untuk mengetahui perbedaan media tanam dilakukan uji t pada taraf ? 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi pupuk organik cair paitan dengan pupuk NPK dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun dengan dosis terbaik 200 mL/L paitan dan 2,5 g/polybag NPK pada kedua media tanam. Tanaman bibit pepaya tidak memberikan respon terhadap perbedaan media tanam Gambut dan PMK.Kata kunci : bibit pepaya, paitan, pupuk organik cair, pupuk NPK
Peningkatan Pemberdayaan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Rumbai Melalui Budidaya Tanaman pada Lahan Tidak Produktif Lestari, Sri Utami; Lidar, Seprita; Ibrahim, Roy; Alhaviz; Pratiwi, Erviana Eka
Open Community Service Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Open Community Service Journal
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/ocsj.v4i2.143

Abstract

Latar Belakang: Pemenuhan kebutuhan hidup menjadi faktor umum yang mendorong para narapidana melakukan perbuatan melanggar hukum, setelah keluar dari penjara, hal ini menjadi persoalan bagi para narapidana dalam menjalani kehidupan baru di tengah masyarakat. Oleh karena tidak mempunyai pekerjaan dan keterampilan yang mampu diandalkan untuk menjadi sumber penghidupannya. Lembaga Pemasyarakatan terbuka ditujukan untuk memperkenalkan kembali kehidupan normal dengan membina para narapidana untuk lebih produktif. Beberapa pendampingan dan pemberdayaan telah diupayakan dalam berbagai program yang dijalankan di Lembaga Pemasyarakatan terbuka salah satunya adalah pemberdayaan di bidang budidaya tanaman pertanian.Tujuan: Target luaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan mitra tentang budidaya tanaman pertanian, meningkatkan keterampilan mitra serta mampu menghasilkan produk serta meningkatkan pengetahuan mitra tentang pengelolaan lahan tidak produktif. Metode: Metode pelaksanaan kegiatan antara lain sosialisasi program, praktek budidaya dan evaluasi keberlanjutan program.Hasil: Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh tim dapat disimpulkan adanya peningkatan pengetahuan kelompok meningkat dari 25% menjadi 90%, pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif 60% telah diolah menjadi lahan produktif, respon positif dari semua pihak Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Rumbai bekerja sama dengan tim pengabdian dalam memberdayakan warga Lembaga Pemasyarakatan menjadi hal yang sangat baik untuk terus ditindaklanjuti kerjasamanya.
Identifikasi dan Analisis Kejadian Penyakit Serta Tingkat Keparahan Penyakit Pada Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Menggunakan Software Plantix di Kabupaten Kampar Provinsi Riau Mulyadi, Dedi; Ibrahim, Roy; Elfianis, Rita
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 13 No. 1 (2025): March
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v13i1.14741

Abstract

This study aims to identify the causes of disease and disease symptoms using plantix software, and to determine the incidence of disease and disease resistance that infect cucumber plants in Kampar Regency. This study used a survey method with direct observation in 3 locations and the data obtained in the field were disease symptoms, the number of affected plants, the percentage and intensity of disease attack. Data analysis was carried out at the Laboratory of Plant Disease, Faculty of Agriculture, Riau University. The results showed that (1) the results of identification carried out using Plantix software found that the pathogen that infects cucumber plants in Kampar Regency is Cucumber green mottle mosaic virus (CGMMV) with symptoms of light green or yellow spots and veins clearly visible on young leaves, yellowing leaves, wrinkles, and changes in shape, plant growth is inhibited, the fruit has spots, stripes or a distorted shape (malformation). (2) The highest disease incidence was found in Kampar Subdistrict, 71.16% with disease intensity of 46.95%, followed by Mine Subdistrict with disease incidence of 55.45% and disease intensity of 34.07%, while disease incidence in North Kampar Subdistrict was 37.25% with disease intensity of 18.79%.