Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGAMATAN BRUISES PADA MUSCULUS PECTORALIS AYAM BROILER YANG DIJUAL DI PASAR LAMBARO ACEH BESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN JUMLAH MIKROBA Hamdani Budiman; T. Reza Ferasyi; Wulan Windasari; M. Nur Salim; Siti Aisyah; Muhammad Hambal
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2999

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan jumlah mikroba antara ayam normal dengan ayam yang mengalami bruises. Sampel ayam broiler diperoleh di Pasar Lambaro Aceh Besar dengan memilih lima musculus pectoralis ayam normal dan lima musculus pectoralis ayam yang mengalami bruises untuk dilakukan uji mikrobiologis. Bagian musculus pectoralis ditimbang dengan berat 25 g, kemudian dilakukan stomaker untuk mendapatkan ekstrak. Selanjutnya dilakukan uji mikrobiologis, perhitungan jumlah koloni dilakukan selama 24 jam. Jumlah mikroba pada sampelayam normal masing-masing adalah Sn1 (1,6x102), Sn2 (2,6x103), Sn3 (3,5x102), Sn4 (1,3x103), dan Sn5 (1,2x102) Cfu/ml, sedangkan pada sampel ayam yang mengalami bruises masing-masing adalah Sb1 (3,8x104), Sb2 (3,0x104), Sb3 (1,3x105), Sb4 (1,9x105), dan Sb5 (1,6x105) Cfu/ml. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ayam yang mengalami bruises memiliki jumlah mikroba yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam normal.
EFEK PEMBERIAN MINYAK JELANTAH TERHADAP GAMBARANHISTOPATOLOGIS HATI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Siti Aisyah; Hamdani Budiman; Dessy Florenstina BR. G; Dwinna Aliza; M Nur Salim; Ummu Balqis; T. Armansyah
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2989

Abstract

Penelitian ini bertujuan mempelajari gambaran histopatologi hati tikus putih (Rattus norvegicus) akibat mengonsumsi minyak jelantah.  Duapuluh ekor tikus berumur 3 bulan dengan bobot badan ±250 g dibagi atas 4 kelompok perlakuan dan setiap kelompok terdiri at as 5 ekor. Perlakuan K1 (minyak goreng curah), K2, K3, dan K4 (minyak jelantah 3x, 6x, dan 9x pemakaian). Perlakuan dilakukan selama 60 hari, dan pada hari ke 61 dilakukan eutanasia yang dilanjutkan dengan nekropsi. Hati tikus diambil dan difiksasi dalam larutan buffered neutral formaline 10%untuk diproses sediaan histopatologis dan diwarnai dengan hematoksilin dan eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hati berwarna coklat kehitaman, bengkak, dan ditemukan nodul multi fokal dengan konsistensi padat. Secara histopatologi terjadi peningkatan kongesti, degenerasi cloudy swelling, dan nekrosis sel