Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan antara densitas mikrovaskular dan limfoplasmasitik dengan metastasis kelenjar getah bening inguinal pada pasien karsinoma penis di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Silvester Kristian Taopan; Anak Agung Gde Oka; I Gde Raka Widiana; I Wayan Juli Sumadi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.797 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.940

Abstract

Background: Carcinoma is the most common malignancy that occurs in penile tissue. Most of the metastasis of penile carcinoma is lymphogenic to the nearest lymph node. Metastasis is a significant prognosis factor in reflecting the outcome of penile carcinoma patients. To begin a process of metastasis requires the formation of new blood vessels (angiogenesis) and infiltration of mononuclear cells. Both of these can be assessed through micro vessel density and lymphoplasmacytic. This study aims to determine the relationship between microvascular and lymphoplasmic density with inguinal lymph node metastases in penile carcinoma patients at Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia.Methods: This research is an analytic cross-sectional study. Data collection was carried out from the patient's Medical Record during January 2014 - December 2018. From 40 samples of penectomy surgery the micro vessel Density and lymphoplasmacytic readings were first stained with staining of hematoxylin eosin by anatomic pathologist. Cut-off point microvessel density and lymphoplasmacytic is taken by calculating the mean and standard deviation. Bivariate analysis with Chi Square Test and multivariate analysis using logistic regression tests were used for statistical analysis. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: From the Bivariate Analysis it was found that there was a significant relationship between Micro-vessel Density and Metastasis to the inguinal lymph node (P=0.019) and there was a significant relationship between lymphoplasmacytic and metastasis to the inguinal lymph node (P=0.005). The Multivariate Analysis confirms that microvessel density, lymphoplasmacytic and history of phimosis are significantly related to the occurrence of metastasis to inguinal lymph node in penile carcinoma patients (p=0.040).Conclusion: There were significant relationships between Micro vessel Density and Lymphoplasmacytic density with metastasis to inguinal lymph nodes in patients with penile SCC. A history of phimosis was proved to be a dominant risk factor.  Latar Belakang: Karsinoma merupakan keganasan tersering yang terjadi pada jaringan penis. Sebagian besar metastasis karsinoma penis bersifat limfogen menuju Kelenjar Getah Bening (KGB) terdekat. Untuk memulai suatu proses metastasis diperlukan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) dan infiltrasi sel mononuklear. Kedua hal tersebut bisa dinilai melalui densitas mikrovaskuler dan limfoplasmositik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara densitas mikrovaskular dan limfoplasmositik dengan metastasis kelenjar getah bening inguinal pada pasien karsinoma penis   di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang analitik. Pengambilan data dilaksanakan dari Rekam Medis pasien selama Januari 2014 – Desember 2018. Dari 40 sampel Operasi Penektomi dilakukan pembacaan densitas mikrovaskuler dan limfoplasmositik yang telah lebih dulu diberikan pewarnaan Hematoxylin Eosin oleh ahli patologi anatomi. Titik potong densitas mikrovaskuler dan limfoplasmositik diambil dengan cara menghitung rerata dan standar deviasi. Analisis bivariat dengan Uji Chi-Square dan analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik digunakan untuk analisis statistik. Data dianalisis dengan SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Analisis bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara Densitas Mikrovaskuler dengan metastasis ke KGB Inguinal (p=0,019) dan terdapat hubungan yang bermakna antara limfoplasmositik dengan metastasis ke KGB inguinal (p=0,005). Analisis multivariat menegaskan bahwa densitas mikrovaskuler, limfoplasmositik dan riwayat fimosis berhubungan secara bermakna dengan terjadinya metastasis ke KGB Inguinal pada pasien karsinoma penis (p=0,040).Simpulan: Adanya hubungan antara Densitas Mikrovaskular dan Limfoplasmositik dengan metastasis ke KGB inguinal pada pasien dengan KSS penis. Riwayat fimosis merupakan faktor resiko dominan.
Gambaran radiologi lesi litik pada manus: serial kasus Jessica Harlan; Elysanti Dwi Martadiani; Made Widhi Asih; I Wayan Juli Sumadi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.279 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.941

Abstract

Background: Lytic lesion of the hand has been challenging in making the differential diagnoses. Tumor and tumor-like lesions present with a wide spectrum of radiological changes.Cases: The first patient is a 17 years old male presents with a painless lump in the left 5th finger, suggested as benign bone tumor. The second patient is a 28 years old male presents with a painful lump in the left 3rd finger,suggested as close fracture of the left metacarpal of the hand. The third patient is a 11 years old male presents with a painless lump and open wound in the right 2nd finger,suggested as aggressive bone tumor. First patient‘s hand radiographs reveal expansile lytic lesions with narrow transitional zone, endosteal scaloping, ring and arc calcification, no perisoteal reaction, no cortical destruction in metadiaphysis of 5th metacarpal and proximal phalanx of the left hand, suggested as primary benign bone tumor, suggested enchondroma. Histomorphology result suggested as enchondromatosis. Second patient‘s hand radiographs reveal expansile lytic lesion with narrow transitional zone and cortical destruction, no periosteal reaction, no calcification in epiphysis to diaphysis of 3rd proximal phalanx of the left hand, suggested as primary benign bone tumor, suggested giant cell tumor. Histomorphology result suggested as benign giant cell tumors of the bone. Third patient’s hand radiographs reveal fusiform expansile lytic lesion with narrow transitional zone causes enlargement of diaphysis with cortical destruction and soft tissue mass, no periosteal reaction, no calcification in 2nd proximal phalanx of right hand, suggested as tuberculous dactylitis, suggested non tuberculous osteomyelitis. Histomorphology result suggested as tuberculous process.Conclusion: Imaging and histomorphology play an important role in differentiating tumor and tumor-like lesions in bone. Recognition of imaging appearance of these lesions may help clinicians make a decision for the treatment. Latar Belakang: Lesi osteolitik pada manus menjadi tantangan dalam membuat diagnosis banding. Tumor dan lesi yang menyerupai memiliki gambaran radiologi beragam.Kasus: Pasien pertama laki-laki usia 17 tahun dengan keluhan benjolan yang tidak nyeri pada jari ke 5 tangan kiri dengan kecurigaan tumor tulang jinak. Pasien kedua laki-laki usia 28 tahun dengan keluhan benjolan yang nyeri pada jari ke 3 tangan kiri dengan kecurigaan fraktur tertutup pada metacarpal tangan kiri. Pasien ketiga laki-laki usia 11 tahun dengan keluhan benjolan disertai luka terbuka pada jari ke 2 tangan kanan dengan kecurigaan tumor tulang agresif. Radiografi manus pasien pertama mengesankan lesi litik ekspansil dengan narrow transitional zone pada metadiafisis metacarpal digiti V dan phalang proksimal digiti V manus kiri dengan endosteal scalopping, tidak tampak reaksi perisoteal maupun destruksi korteks, matriks kalsifikasi ring and arc yang mengesankan tumor tulang primer jinak, mengesankan enchondroma. Histomorfologi sesuai gambaran enchondromatosis. Radiografi manus pasien kedua mengesankan lesi litik ekspansil dengan narrow transitional zone yang menyebabkan destruksi korteks pada epifisis hingga diafisis phalang proksimal digiti III manus kiri dengan keterlibatan jaringan lunak, tidak tampak matriks kalsifikasi maupun reaksi periosteal yang mengesankan gambaran giant cell tumor. Histomorfologi sesuai gambaran giant cell tumor tulang jinak. Radiografi manus pasien ketiga mengesankan lesi litik ekspansil fusiform dengan narrow trazitional zone yang menyebabkan pelebaran diafisis dengan destruksi korteks dan keterlibatan jaringan lunak pada phalang proksimal digiti II manus  kanan, tidak tampak matriks kalsifikasi maupun reaksi periosteal yang mengesankan suatu daktilitis tuberkulosis dengan diagnosis banding osteomyelitis non tuberkulosis. Histomorfologi sesuai gambaran tuberculosis. Simpulan: Pencitraan dan histomorfologi memainkan peran penting dalam membedakan tumor dan lesi yang menyerupai tumor pada tulang. Mengenali lesi ini sangat penting karena membantu klinisi untuk menentukan terapi.
Atipikal intraoseus hemangioma: laporan kasus Pande Putu Bagus Premana; Elysanti Dwi Martadiani; Ni Nyoman Margiani; I Wayan Juli Sumadi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.937 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.942

Abstract

Introduction: Atypical hemangioma is rarely found benign neoplasm which frequently involves the vertebrae and craniofacial bones. Meanwhile, soft tissue hemangioma is a benign vascular neoplasm commonly encountered. When it occurs in long bones, it is usually found at diaphysis and meta-diaphysis. Intraosseous hemangioma can occur at any age and is usually asymptomatic, whereas soft tissue hemangioma is more frequent in women compared to men.Case report: A 26-year-old woman had a complained about pain on the left thigh over the past 10 years, that worsened for the past few months. Her growth and development was normal. Five years before admission, she had fallen while walked, but no history of having surgery. Femur radiograph showed expansile lytic lesion with narrow transitional zone accompanied by sclerotic and ground glass apperance on left femoral diaphysis and soft tissue swelling that contain calcification. CT scan revealed well defined lobulated solid soft tissue mass with calcification within the mass. it contain dilated and turtous vascular component, causing expansile lytic lesion and cortical destruction.Conclusion: Soft tissue Hemangioma is often found to have a higher occurrence in women compared to men. Unlike hemangioma in the axial bone, the diagnosis of hemangioma in the appendicular bone is more challenging due to rare cases and non-specific radiological features. Intraosseous hemangioma can provide varied radiological features and must be included in comparative diagnosis of osteolytic and expansile lesions.  Pendahuluan: Hemangioma atipikal jarang merupakan neoplasma jinak yang jarang ditemukan danering melibatkan tulang vertebra dan kraniofasial. Sedangkan hemangioma jaringan lunak merupakan neoplasma vaskuler jinak yang biasa dijumpai. Ketika terjadi pada tulang panjang, biasanya ditemukan di diafisis dan meta-diafisis. Hemangioma intraoseus dapat terjadi pada semua usia dan biasanya asimtomatik, sedangkan hemangioma jaringan lunak lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Laporan kasus ini akan mendeskripsikan gambaran hemangioma intraoseus atipikal pada seorang laki-laki dewasaLaporan Kasus: Seorang wanita berusia 26 tahun memiliki keluhan tentang nyeri pada paha kiri selama 10 tahun terakhir, yang memburuk selama beberapa bulan terakhir. Pertumbuhan dan perkembangannya normal. Lima tahun sebelum masuk rumah sakit, pernah mengalami kondisi jatuh berjalan, tapi tidak ada riwayat menjalani operasi. Radiografi femur menunjukkan lesi litik yang meluas dengan zona transisi yang sempit disertai dengan munculnya sklerotik dan ground glass pada diafisis femoralis kiri dan pembengkakan jaringan lunak yang mengandung kalsifikasi. CT-scan menunjukkan massa jaringan lunak padat berlobus yang terdefinisi dengan baik dengan kalsifikasi di dalam massa. itu mengandung komponen pembuluh darah melebar dan kura-kura, menyebabkan lesi litik yang meluas dan kerusakan kortikal.Simpulan: Hemangioma jaringan lunak sering ditemukan memiliki kejadian yang lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. Tidak seperti hemangioma pada tulang aksial, diagnosis hemangioma pada tulang apendikuler lebih menantang karena kasus yang jarang terjadi dan gambaran radiologis yang tidak spesifik. Hemangioma intraoseus dapat memberikan gambaran radiologis yang bervariasi dan harus dimasukkan dalam diagnosis komparatif lesi osteolitik dan lesi ekspansil.
Hubungan antara ekspresi Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (VCAM-1) dengan tipe dan stadium T karsinoma epitel permukaan ovarium di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia I Made Wirya Sastra; Luh Putu Iin Indrayani Maker; Anak Agung Ayu Ngurah Susraini; I Wayan Juli Sumadi; I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Herman Saputra; I Made Muliarta
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 2 (2021): (Available Online: 1 August 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.393 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i2.1023

Abstract

Background: Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (VCAM-1) is an important protein in oncogenesis, angiogenesis, tumor development, and metastasis. Studies regarding the expression of VCAM-1 in ovarian carcinoma have found both supportive and contradictory results. Therefore, this study evaluates the relationship between VCAM-1 expression and the type and stage of ovarian surface epithelial carcinoma at Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia.Methods: This study was a cross-sectional analytical study with a sample size of 36, which came from paraffin block of patients with ovarian surface epithelial carcinoma who were examined histopathologically at the Anatomical Pathology Laboratory of Sanglah Hospital Denpasar from 1 January 2017 to 31 December 2019. Samples are grouped into type I and type II, then the stage I or II and III groups. After that, the VCAM-1 immunohistochemical streak was performed to assess high or low expression in these groups and analyzed its relationship with the type and stage T of ovarian surface epithelial carcinoma. Data were analyzed using SPSS version 25 for Windows.Results: The analysis results using the Chi-Square test showed a statistically significant relationship (p=0.001) between the VCAM-1 expression with type and stage surface epithelial ovarian carcinoma (p=0.007). The results of the mean difference test are 0.48 (95% CI=0.33-0.70) and showed a statistically significant difference (p=0.001) between VCAM-1 expression with a type of ovarian carcinoma.Conclusion: In conclusion, there is an association between expression VCAM-1 with the type of surface epithelial ovarian carcinoma and at a stage, with a 2.3 times higher probability of VCAM-1 expression in the stage III group than in stage I or II group. Latar Belakang: Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (VCAM-1) merupakan salah satu protein yang penting dalam onkogenesis, angiogenesis, perkembangan tumor dan metastasis. Penelitian-penelitian mengenai ekspresi VCAM-1 pada karsinoma ovarium mendapatkan hasil yang pro dan kontra. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi VCAM-1 dengan tipe dan stadium T karsinoma epitel permukaan ovarium di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik potong lintang dengan besar sampel adalah 36, yang berasal dari dari blok parafin penderita karsinoma epitel permukaan ovarium yang diperiksa secara histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar dari 1 Januari 2017 sampai 31 Desember 2019. Sampel dikelompokkan menjadi tipe I dan tipe II, kemudian kelompok stadium I atau II dan III. Setelah itu dilakukan pulasan imunohistokimia VCAM-1 untuk menilai ekspresi tinggi ataupun rendah pada kelompok-kelompok tersebut dan dianalisis hubungannya dengan tipe dan stadium  T karsinoma epitel permukaan ovarium. Data dianalisis dengan uji Chi-Square dengan nilai p <0,05.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna secara statistik (p=0,001) antara ekpresi VCAM-1 dengan tipe karsinoma dan stadium T (p=0,007). Hasil uji beda rerata adalah 0,48 (IK 95%=0,33-0,70) dan menunjukkan perbedaan bermakna secara statistik (p=0,001) antara ekspresi VCAM-1 dengan tipe karsinoma ovarium.Kesimpulan: Sebagai simpulan, terdapat hubungan antara ekspresi VCAM-1 dengan tipe karsinoma epitel permukaan ovarium dan pada stadium, dengan kemungkinan 2,3 kali terjadi ekspresi VCAM-1 yang tinggi pada kelompok stadium III dibandingkan stadium I atau II. 
Perbedaan ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) pada meningioma risiko rendah dan risiko tinggi di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Ivana Juliarty Sitanggang; Ni Putu Sriwidyani; I Wayan Juli Sumadi; I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Luh Putu Iin Indrayani Maker; I Made Muliarta
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 2 (2021): (Available Online: 1 August 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.348 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i2.1027

Abstract

Background: Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) is an angiogenic factor that plays an important role in tumor angiogenesis. VEGF in meningioma is up-regulated and indicates its role as a proangiogenic factor. It has an association with tumor recurrence and progression. This study aims to determine the differences in VEGF expression in low-risk and high-risk meningiomas at Sanglah General Hospital, Bali, Indonesia.Methods: This study was a cross-sectional analytical study with a sample size of 52, which came from meningioma patients examined histopathologically at the Anatomical Pathology Laboratory of Sanglah General Hospital from January to December 2019. The VEGF immunohistochemical staining was performed and interpreted using Histo score (H-score). VEGF expression was categorized into high and low expression, with the cut-off value determined based on the median value. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Methods: The results showed that out of 52 meningioma samples, 37 (71.1%) cases of low-risk meningiomas with low VEGF expression, 6 cases (11.5%) of low-risk meningiomas with high VEGF expression, and 9 cases (17.3%) of high-risk meningiomas with high VEGF expression. There was no high-risk meningioma with low VEGF expression. There was a significant difference in VEGF expression between the low-risk and high-risk meningioma groups (p = 0.00), and high VEGF expression had a prevalence risk for the incidence of high-risk meningioma by 2.5 times (95% CI=1.3-4.6).Conclusion: Based on the results of this study, it was concluded that there was a VEGF expression difference between low-risk and high-risk meningiomas in Sanglah General Hospital Denpasar and high VEGF had a prevalence risk for the occurrence of high-risk meningiomas by 2.5 times. Latar Belakang: Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) merupakan faktor angiogenik yang berperan penting dalam angiogenesis tumor. VEGF pada meningioma mengalami up-regulation yang menunjukkan perannya sebagai faktor proangiogenik yang berkaitan dengan rekurensi dan perkembangan tumor. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan ekspresi VEGF pada meningioma risiko rendah dan risiko tinggi di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik potong lintang dengan besar sampel adalah 52, yang berasal dari blok parafin penderita meningioma yang diperiksa histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar dari Januari - Desember 2019. Dilakukan pulasan imunohistokimia VEGF dan penilaiannya menggunakan Histo score (H-score). Ekspresi VEGF dikategorikan menjadi tinggi dan rendah dengan nilai cut-off yang ditentukan berdasarkan nilai median. Data dianalisis dengan SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 52 sampel meningioma, terdapat 37 kasus (71,1%) meningioma risiko rendah dengan ekspresi VEGF rendah, 6 kasus (11,5%) meningioma risiko rendah dengan ekspresi VEGF yang tinggi, dan 9 kasus (17,3%) meningioma risiko tinggi dengan ekspresi VEGF tinggi. Tidak didapatkan meningioma risiko rendah dengan ekspresi VEGF rendah. Didapatkan perbedaan ekspresi VEGF yang bermakna antara kelompok meningioma risiko rendah dan risiko tinggi (p=0,00) dan ekspresi VEGF tinggi mempunyai risiko prevalensi untuk terjadinya meningioma risiko tinggi sebesar 2,5 kali (95% IK=1,3-4,6).Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan perbedaan ekspresi VEGF antara meningioma risiko rendah dan risiko tinggi di RSUP Sanglah Denpasar dan pada VEGF tinggi mempunyai risiko prevalensi untuk terjadinya meningioma risiko tinggi sebesar 2,5 kali.
Rekurensi tinggi pada melanoma maligna konjungtiva: laporan kasus Ni Putu Mariati; Putu Yuliawati; I Wayan Juli Sumadi; I Made Agus Kusumadjaja
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1896.064 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.1091

Abstract

Introduction: Ocular malignant melanoma is a rare but deadly disease that most often appears in the uvea, conjunctiva or orbit. Melanoma can be asymptomatic or give symptoms and signs depending on development of neoplasm. This case report aims to discuss the clinical sign of conjunctival malignant melanoma and the treatment given to better understand the disease.Case Report: Female patient, 57 years old complained lump in the left eye since 1 month ago. Red eyes, pain and blurry vision (-). Previously, patients with a history of malignant melanoma in the left eye and had performed surgery 5 times since 2015. Ophthalmology examination obtained visual acuity on right eye 6/18 and left eye 6/45. Anterior segment evaluation of the left eye found mass on palpebra, size 2x1 cm, color according to skin, mobile (-), tenderness (-). In conjunctiva found CVI (+) and symblepharon. There are 3 masses in conjunctiva. First mass in bulbi conjunctival superior to limbus with round shape, diameter 3 mm, brown color and smooth surface. The second mass in superotemporal conjunctival fornix, brownish color, size 1,5x1,5 cm with solid consistency, mobile (+). The third mass in the superior tarsal conjunctival, oval shape, 5x3 mm, brownish color and smooth surface. Lens of right and left eye found hazy. Segmen posterior on both eye within normal limit. Patient was diagnosed with post wide excision + cryotherapy + 5 fu (8 months) + suspected conjunctival tumor ec malignant melanoma + right left eye immature senile cataract. Patient underwent tumor multiple excision + cryotherapy + PA with general anesthesia. The biopsy results showed histomorphology consistent with malignant melanoma. There were no regional or distant metastasis.Conclusion: There are several therapeutic modalities for conjunctival melanoma, such as wide local excision with adjuvant therapy (brachytherapy, cryotherapy, and the use of topical chemotherapeutic agent like Mytomicin C). If tumor become a multiple recurrence or rapidly growing local tumor, the exenteration is needed.  Pendahuluan: Melanoma maligna okular merupakan suatu penyakit yang jarang dengan angka kematian yang tinggi dan paling sering muncul pada uvea, konjungtiva maupun orbita. Melanoma dapat bersifat asimptomatis hingga menimbulkan sekumpulan gejala dan tanda tergantung dari perkembangan neoplasma. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas tanda klinis melanoma maligna konjungtiva dan tatalaksana yang diberikan untuk lebih dapat memahami mengenai penyakit ini. Laporan kasus: Pasien wanita, 57 tahun, mengeluh muncul benjolan pada mata kiri yang disadari sejak 1 bulan yang lalu. Mata merah, nyeri, keluhan kabur (-). Sebelumnya pasien dengan riwayat melanoma maligna pada mata kiri dan telah dilakukan operasi sebanyak 5x sejak tahun 2015. Pemeriksaan oftalmologi didapatkan tajam penglihatan mata kanan 6/18 dan mata kiri 6/45. Evaluasi segmen anterior pada mata kanan ditemukan lensa keruh minimal. Evaluasi segmen anterior mata kiri ditemukan massa pada palpebra, ukuran 2x1 cm, warna sesuai dengan kulit, mobile, padat, nyeri tekan (-). Pada konjungtiva ditemukan conjunctival vascular injection (CVI) (+) dan simblefaron inferior di konjungtiva serta ditemukan 3 buah massa. Massa pertama pada konjungtiva bulbi superior hingga limbus, bentuk bulat, diameter 3 mm, batas tegas, permukaan licin, warna kecoklatan. Massa kedua di konjungtiva fornix superotemporal, warna kecoklatan, teraba bulat, ukuran 1,5x1,5 cm, permukaan rata, konsistensi padat kenyal, mobile, nyeri tekan (-). Massa ketiga di konjungtiva tarsal superior, bentuk oval, uk 5x3 mm, warna kecoklatan, permukaan licin. Lensa keruh minimal dan segmen anterior lain dalam batas normal. Evaluasi segmen posterior mata kanan dan kiri dalam batas normal. Pasien didiagnosis dengan oculi sinistra (OS) post wide eksisi + cryotherapy + 5 fluorouracil (5fu) (8 bulan) + suspek tumor konjungtiva rekuren ec melanoma maligna dan oculi dekstra et sinistra (ODS) KSI dan dilakukan tindakan eksisi tumor multiple + cryotherapy + patologi anatomi (PA) dengan general anesthesia (GA). Hasil histopatologi dari open biopsy sesuai untuk melanoma maligna. Tidak ditemukan adanya metastase regional maupun metastase jauh.Simpulan: Terdapat beberapa modalitas terapi untuk melanoma konjungtiva yaitu wide local excision dengan terapi adjuvant seperti brachytherapy, cryotherapy, dan penggunaan agen topikal kemoterapeutik (mytomicin C). Apabila dalam perjalanannya penyakit menjadi rekurensi multipel atau tumor lokal yang berkembang pesat maka tindakan eksenterasi sangat diperlukan.
LOW CD8+ T LYMPHOCYTE/TUMOR BUDDING INDEX PREDICT POSITIVE NODAL STATUS IN BREAST CARCINOMA Ni Putu Sriwidyani; I Wayan Juli Sumadi
Journal of Global Pharma Technology Volume 10 Issue 09: (2018) September 2018
Publisher : Journal of Global Pharma Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Death in breast cancer patients are mostly caused by the presence of distant metastasis and nodal status is the strongest prognostic factor of metastasis. CD8+ T lymphocyte/tumor budding index is a representation of the anti/protumor properties interaction. The purpose of this study is to prove the interaction between tumor cells and tumor microenvironment and its relationship nodal status in breast carcinoma. Methods: A cross sectional analytic study using 45 cases of breast carcinoma which were underwent mastectomy and radical axillary lymph node dissection at Sanglah Hospital Denpasar during 1 January until 31 December 2017 was conducted. Tumor budding was a small group of cells at the edge of tumor invasion which was evaluated at H-E slide. CD8+ T lymphocyte was evaluated on immunohistochemical slide and was calculated on the peritumoral stroma. Results: Using ROC curve, cut-off value was 4.05. Of all cases, 23 cases with low and 22 cases with high CD8+ T lymphocyte/tumor budding index. CD8+ T lymphocyte/tumor budding index had a significant inverse correlation with nodal status (p=0.000), meanwhile LVI has linier correlation with nodal status in breast carcinoma (p=0.006). Conclusion: there was an inverse relationship between CD8+ T lymphocyte/tumor budding index with nodal status in patients with breast carcinoma
CLINICOPATHOLOGIC CHARACTERISTICS OF OSTEOSARCOMA POST NEOADJUVANT CHEMOTHERAPY IN SANGLAH CENTRAL GENERAL HOSPITAL, DENPASAR, 2015-2019 Pranata, I Putu Yogi; Sumadi, I Wayan Juli; Saputra, Herman; Ekawati, Ni Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i02.P14

Abstract

ABSTRAK Kemoterapi neoadjuvan merupakan salah satu terapi untuk osteosarcoma yang dapat menyebabkan nekrosis pada tumor dan berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015-2019 berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi tumor, tipe histologik, dan jumlah mitosis. Penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional dengan menggunakan data sekunder pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan yang tercatat dalam pemeriksaan histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar. Teknik pengambilan data yaitu total sampling, didapatkan 11 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian menunjukkan pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan lebih banyak dengan respon kemoterapi buruk (54,5%). Berdasarkan usia, respon baik dan buruk umumnya terjadi pada kelompok usia 0-20 tahun (80,0% dan 50,0%). Berdasarkan jenis kelamin, respon buruk lebih banyak pada laki-laki (83,3%) sedangkan respon baik lebih banyak pada perempuan (60,0%). Berdasarkan lokasi tumor, respon buruk lebih banyak pada tibia (50,0%) sedangkan respon baik lebih banyak pada femur (60,0%). Berdasarkan tipe histologik, respon baik dan buruk umumnya terjadi pada tipe conventional (100,0% dan 83,3%). Berdasarkan jumlah mitosis, respon buruk lebih banyak pada low (60,0%) sedangkan respon baik lebih banyak pada high (100,0%). Kesimpulan penelitian ini adalah pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan lebih banyak memiliki respon buruk. Pasien dengan respon buruk lebih banyak pada usia 0-20 tahun, laki-laki, tumor di bagian tibia, tipe conventional, dan jumlah mitosis low. Sementara itu, pasien respon baik lebih banyak pada usia 0-20 tahun, perempuan, tumor di bagian femur, tipe conventional, dan jumlah mitosis high. Kata kunci : Osteosarcoma Pasca Kemoterapi Neoadjuvan, Karakteristik Klinikopatologi, Respon Kemoterapi
CLINICOPATHOLOGICAL CHARACTERISTICS OF CHRONIC GASTRITIS WITH INTESTINAL METAPLASIA AT SANGLAH GENERAL HOSPITAL DENPASAR PERIOD 2016-2020 Arimbawa, I Wayan Gede Bandem; Saputra, Herman; Ekawati, Ni Putu; Sumadi, I Wayan Juli
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P10

Abstract

ABSTRAK Gastritis kronis relatif umum terjadi di negara berkembang. Gastritis yang berlangsung lama dapat mengakibatkan terjadinya atrofi dan intestinal metaplasia pada mukosa lambung. Ahli patologi mengemukakan terdapat hubungan antara metaplasia intestinal dengan kanker lambung adenocarcinoma tipe intestinal. Sehingga perlu untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi gastirits kronis dengan metaplasia intestinal sebagai prekursor terjadinya kanker lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode potong lintang (cross-sectional), menggunakan data sekunder pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS untuk memperoleh karakteristik klinikopatologi pasien meliputi: usia, jenis kelamin, status H. pylori, dan temuan endoskopi. Penelitian ini memperoleh 25 sampel gastritis kronis dengan metaplasia intestinal. Sampel terbanyak pada kelompok usia >60 tahun (52%), berjenis kelamin laki-laki (80%), tanpa infeksi H. pylori (95,5%) dengan 3 sampel tidak memiliki data status H. pylori, dan temuan endoskopi terbanyak berupa gastritis eritematosa (60%). Pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020 memiliki karakteristik klinikopatologi terbanyak usia >60 tahun, laki-laki, Non-H. pylori, dan gastritis eritematosa. Kata kunci : Gastritis, kronis, intestinal, metaplasia, karakteristik, klinikopatologi.
FAKTOR RISIKO KANKER KOLOREKTAL DI RSUP SANGLAH DENPASAR Mark, Antony; Ayu Dewi, Ni Nyoman; Surudarma, I Wayan; Sumadi, I Wayan Juli
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i05.P12

Abstract

Kejadian kanker kolorektal yang meningkat dengan pesat dan merupakan jenis kanker ketiga terbanyak pada laki-laki maupun perempuan. Meningkatnya kejadian kanker kolorektal terjadi akibat dari perubahan gaya hidup modern. Oleh sebab itu, penelitian ini memiliki tujuan menggambarkan faktor risiko pasien kanker kolorektal di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2017 berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, dan kadar gula darah acak. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Subjek penelitian adalah pasien kanker kolorektal yang dirawat di RSUP Sanglah pada tahun 2017. Data penelitian diambil menggunakan metode total sampling di Laboratorium Patologi Anatomi dan Instalasi Rekam Medis RSUP Sanglah Denpasar, kemudian diolah dan dikelompokkan sesuai variabel yang sudah ditetapkan, kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan penjelasan. Dari 109 pasien kanker kolorektal di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2017, kejadian kanker kolorektal paling banyak pada kelompok lansia (46 – 65 tahun) sebanyak 65 orang (59,6%), diikuti dengan kelompok manula (diatas 65 tahun) sebanyak 27 orang (24,8%), dilanjutkan oleh kelompok dewasa (26 – 45 tahun) sebanyak 15 orang (13,8%), kemudian pada kelompok remaja (12 – 25 tahun) dengan jumlah 2 orang (1,8%), dan tidak ditemukan pasien pada kelompok balita dan kanak-kanak. Untuk jenis kelamin laki-laki sebanyak 63 orang (57,8%) dan perempuan sebanyak 46 orang (42,2%). Kelompok dengan kadar gula darah acak dibawah 200 mg/dL sebanyak 104 orang (95,4%) dan diatas 200 mg/dL sebanyak 5 orang (4,6%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kanker kolorektal cenderung terjadi pada pasien dengan usia tua dan berjenis kelamin laki-laki, akan tetapi tidak pada pasien kanker kolorektal dengan hiperglikemia. Kata kunci: penelitian deskriptif., kanker kolorektal., faktor risiko
Co-Authors -, Jerry Agus Eka Darwinata Anak Agung Ayu Ngurah Susraini Anak Agung Gde Oka Anak Agung Ngurah Satya Pranata Anak Agung Ngurah Satya Pranata Andreliano Yosua Rompis Arimbawa, I Wayan Gede Bandem Ariyanta, Kadek Deddy Ayu Dewi Ni Nyoman Ayu Dewi, Ni Nyoman Butarbutar, Christine Rosalina Eka Wiratnaya Elysanti Dwi Martadiani Erawan, I Putu Putra Febrina, Jessica Gunawan, I Wayan Nico Fajar Gusti Ngurah Mayun Herman Saputra Herman Saputra Herman Saputra I Gde Haryo Ganesha I Gde Raka Widiana I Gusti Ayu Artini I Gusti Ayu Dewi Ratnayanti I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi I Gusti Bagus Lulut Premana Mulia I Gusti Bagus Mulia Agung Pradnyaandara I Gusti Kamasan Nyoman Arijana I Gusti Ngurah Pratama Yuda Atmaja I Gusti Nyoman Sri Wiryawan I Kadek Adi Purnama Sandhi I Ketut Bawantika Adi Putra I Ketut Mulyadi I Made Gotra I MADE MULIARTA . I Made Wirya Sastra I Nyoman Adi Putra I Putu Gede Putra Darmawan I Wayan Sugiritama I Wayan Surudarma I Wayan Wirata I Wayan, Oka Semara Jaya Ida Ayu Ika Wahyuniari Ida Sri Iswari Ivana Juliarty Sitanggang Jayakusuma, I Putu Prabawa Jessica Harlan Jessica Yuwono Johanes Prasetyo Harjanto John Nolan Ketut Mulyadi Luh Made Sudimantini Luh Made Sudimartini Luh Putu Iin Indrayani Maker Luh Yeni Laksmini M. Arif Perdana Ariyansyah Made Agus Kusumadjaja Made Widhi Asih Maker, Luh Putu Iin Indrayani Mark, Antony Marleen Marleen Meiske Margaretha Ni Luh Gede Yoni Komalasari, Ni Luh Gede Yoni Ni Made Linawati Ni Made Maharini Rahayu Ni Made Mahastuti Ni Made Pramita Widya Suksmarini Ni Nyoman Ayu Dewi Ni Nyoman Margiani Ni Putu Ekawati Ni Putu Mariati Ni Putu Sriwidyani Ni Wayan Armerinayanti, Ni Wayan Ni Wayan Winarti Nur Silfiah, Nur Pande Putu Bagus Premana Pranata, I Putu Yogi Putu Agus Aryanda Putra Putu Ayu Widya Pramesti Putu Dessy Wilantari Putu Eka Buana Sari Putu Oka Samirana Putu Yuliawati Saraswati, Ni Ketut Rake Putri Shameni Subramaniam Silvester Kristian Taopan Surudarma, I Wayan Suryaningmara, I Wayan Bagus Tessa Saputri Marmanto Tjokorda Gde Bagus Mahadewa Venosha Gunasekaran Wikaputri, Anak Agung Ayu Mutiara