Claim Missing Document
Check
Articles

The Potential of Fucoxanthin from Sargassum polycystum: Antioxidant, Antibacterial, and Photoprotective Properties Pramesti, Rini; Setyati, Wilis Ari; Subagiyo; Anjani, Devi Oktavia
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 33 No. 2 (2026): March 2026
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.33.2.466-474

Abstract

Sargassum is a genus of seaweed that is known to contain fucoxanthin. The increasing incidence of health issues related to antimicrobial resistance (AMR), free radicals, and ultraviolet (UV) radiation has prompted the exploration of natural compounds as alternative sources of pharmaceutical agents. Fucoxanthin possesses the ability to protect cells from oxidative damage and offers a wide range of health benefits. This study aimed to evaluate the potential of fucoxanthin derived from Sargassum polycystum as an antioxidant, antifungal, antibacterial, and photoprotective (sunscreen) agent. The research methods included the extraction and isolation of fucoxanthin using Open Column Chromatography (OCC), phytochemical screening, thin-layer chromatography (TLC), antibacterial and antifungal assays, antioxidant activity assessment using the DPPH method, and determination of the Sun Protection Factor (SPF). The results showed that the extract of Sargassum polycystum contains secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, tannins, steroids, and saponins. The fucoxanthin fraction was successfully isolated, characterized by a distinct absorption peak at 447.5 nm and a retention factor (Rf) value of 0.93. The fucoxanthin fraction showed antibacterial activity against Staphylococcus aureus, as well as antifungal activity against Trichoderma sp. and Candida albicans. The antioxidant activity of the fucoxanthin fraction was categorized as strong, with an IC50 value of 67 ppm. Its photoprotective ability was classified as maximal, with a Sun Protection Factor value of 13.71. The fucoxanthin fraction derived from Sargassum polycystum exhibits promising potential as an antibacterial, antifungal, antioxidant, and photoprotective agent, and may serve as a valuable natural resource in pharmaceutical and cosmeceutical applications.
Seaweed Diversity and Bioactive Compounds in Panjang Islands, Central Java, Indonesia Setyati, Wilis Ari; Pramesti, Rini; Putri, Angela Salsalina; Risandhi, Danendra Aquila Azfa; Firdaus, Syifa Shafira; Lumban Gaol, Josua Gabriel
HAYATI Journal of Biosciences Vol. 33 No. 3 (2026): May 2026
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4308/hjb.33.3.669-680

Abstract

The biodiversity of seaweed encompasses a wide array of potential bioactive compounds applicable to various industries, particularly pharmaceuticals. This study aimed to collect seaweed diversity data from Panjang Island, Jepara, Central Java, Indonesia, and to identify the bioactive compounds and biological activity of each seaweed species for preliminary screening. Random sampling was used to collect the sample. Qualitative identification of bioactive compounds was performed using the maceration method for extraction, phytochemical screening tests, and pigment identification based on Rf values on TLC. Antibacterial screening tests were performed against Gram-positive (S. aureus) and Gram-negative (E. coli) bacteria, followed by testing against pathogenic fungi (C. albicans) using the disk diffusion method, and an antioxidant test using the DPPH method. The results showed that six species from three phyla (Chlorophyta, Phaeophyta, and Rhodophyta) exhibited distinct morphological characteristics, and the types of bioactive compounds produced by each species differed. The biological activity test results showed a low inhibitory activity. Antibacterial and antifungal biological activities were at the value of (<5 mm), and antioxidant biological activity was (>750 ppm). However, the active compounds and pigments with potential antibacterial, antifungal, and antioxidant properties can be optimized in various fields of bioindustry in the future.
Eksplorasi Potensi Bakteri Asosiasi Polymesoda erosa Sebagai Sumber Antibakteri dan Enzim untuk Bioindustri Rahma, Sayyidatur; Pringgenies, Delianis; Setyati, Wilis Ari
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 1 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i1.29710

Abstract

The bivalve Polymesoda erosa is known to harbor symbiotic bacteria that potentially produce secondary metabolites and extracellular enzymes with applications in health and bioindustry. This study aimed to: (1) characterize bacterial isolates associated with P. erosa from Semarang waters, and examine the enzymatic activity of potential isolates.. The research methods included bacterial isolation and purification using Nutrient Agar (NA), colony morphology characterization and Gram staining, antibacterial activity testing using the agar plug method against Escherichia coli and Staphylococcus aureus, and enzymatic assays (protease, amylase, lipase) on selective media. Selected isolates were further identified molecularly through 16S rRNA gene sequencing, BLAST analysis via NCBI, and phylogenetic tree construction. The results revealed five bacterial isolates with distinct morphological characteristics. Most isolates were Gram-positive with coccus, diplobacilli, and staphylococci forms. One isolate, B1.5.1 (a2), showed antibacterial activity against S. aureus. Enzymatic assays demonstrated that three isolates exhibited proteolytic, amylolytic, and lipolytic activities, with the highest activity recorded in isolate B1.5.1 (a2). Molecular identification confirmed that this isolate belonged to Enterobacter cloacae (100% homolog. In conclusion, the symbiotic bacteria of P. erosa exhibit diversity and possess significant potential as producers of antibacterial compounds and extracellular enzymes, highlighting their prospective role in sustainable bioindustry development.
Evaluasi Pembangunan Ekowisata Mangrove Park Kota Pekalongan, Jawa Tengah Fadila Wahyu Putri Arimbi; Rudhi Pribadi; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 14, No 4 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i4.49280

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pembangunan Ekowisata Mangrove Park Kota Pekalongan dalam kaitannya dengan keberlanjutan lingkungan dan kepuasan pengunjung. Studi ini mengidentifikasi kendala yang dihadapi selama pengelolaan ekowisata, mengukur persepsi dan tingkat kepuasan stakeholder terhadap kondisi fisik, fasilitas, serta layanan yang tersedia, dan menganalisis dampak perubahan lingkungan terhadap ekosistem mangrove. Metode penelitian meliputi observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi, dan analisis data persepsi menggunakan skala Likert. Sepuluh aspek yang dianalisis menggunakan skala Likert mencakup atraksi wisata, kondisi alam, kebersihan, tempat ibadah, toilet umum, gazebo, area parkir, kondisi jalan dan aksesibilitas menuju lokasi, pemasaran ekowisata, serta keterlibatan masyarakat, menghasilkan beragam persepsi sesuai kategori interpretasi. Data nilai aset ekowisata menunjukkan bahwa ekowisata ini belum mampu mengoptimalkan potensinya karena keterbatasan jumlah pengunjung. Selain itu, perubahan lingkungan pesisir, termasuk kenaikan muka air laut dan penurunan tanah, memberikan dampak signifikan terhadap kondisi ekowisata, mengancam infrastruktur, dan menurunkan daya tarik kawasan. Dalam jangka panjang, tanpa mitigasi yang tepat, tren penurunan kualitas lingkungan ini dapat semakin menghambat keberlanjutan Mangrove Park. Oleh karena itu, diperlukan strategi rehabilitasi ekosistem, peningkatan kualitas fasilitas dan layanan, serta optimalisasi pemasaran untuk meningkatkan daya tarik ekowisata ini.
Pengaruh Luasan Tutupan Kanopi Terhadap Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove di Taman Edukasi Mangrove Purworejo, Jawa Tengah Sean Dewa Ramadhan; Wilis Ari Setyati; Sri Redjeki
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.41497

Abstract

Mangrove adalah ekosistem yang memiliki ciri habitat khas dan unik dari segi vegetasi dan faunanya. Desa Gedangan merupakan salah satu desa yang memiliki ekosistem mangrove di wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.Vegetasi mangrove di Desa Gedangan mengalami degradasi yang disebabkan oleh penebangan pohon, konversi lahan menjadi tambak ikan dan udang, pembangunan pemukiman dan pembuatan lahan pertanian. Penelitian bertujuan menganalisis persentase tutupan kanopi dan menganalisis tingkat kerusakan mangrove. Penelitian dilakukan di Taman Edukasi Mangrove Desa Gedangan pada bulan Mei-Juni 2022. Materi yang digunakan pada penelitian yaitu tumbuhan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode deskriptif dengan penentuan lokasinya menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan data persentase tutupan kanopi mangrove menggunakan metode Hemispherical photography. Pengambilan sampel pada penelitian bertujuan untuk menganalisis kandungan bahan organik dan karbon di dalam substrat. Parameter lingkungan meliputi suhu, salinitas, pH, dan DO diukur secara insitu yang bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan sekitar mangrove. Hasil penelitian nilai kerapatan mangrove jenis Rhizpohora mucronata yaitu 7567 (stasiun 1), 7467 (stasiun 2), 9433 (stasiun 3). Nilai kerapatan mangrove jenis Rhizophora mucronata memiliki kriteria baik dengan kerapatan yang padat sedangkan pada jenis Sonneratia alba memiliki kriteria rusak dengan kerapatan yang jarang, hal ini berdasarkan analisa kriteria baku kerusakan mangrove. Tutupan kanopi mangrove didapatkan hasil persentase sebesar 87,11% (stasiun 1), 89,38% (stasiun 2), 74,68% (stasiun 3). Kandungan bahan organik memiliki hasil sebesar 8,291% (stasiun 1), 8,541% (stasiun 2), 12,221 (stasiun 3). Kandungan karbon memiliki hasil sebesar 4,809% (stasiun 1), 4,954 (stasiun 2), 7,088% (stasiun 3). Mangroves are ecosystems characterized by unique habitat features and distinctive vegetation and fauna. Gedangan Village is one of the villages with a mangrove ecosystem located in the Purwodadi District, Purworejo Regency, Central Java. The mangrove vegetation in Gedangan Village has experienced degradation due to tree cutting, land conversion into fish and shrimp ponds, urban development, and agricultural land expansion. The research aims to analyze the percentage of canopy cover and assess the level of mangrove damage. The study was conducted at the Mangrove Education Park in Gedangan Village in May-June 2022, using mangrove plants as the research material. The research utilized a descriptive method with location selection through purposive sampling. Canopy cover percentage data of mangroves were collected using Hemispherical Photography. Samples were taken to analyze the substrate's organic matter and carbon content. Environmental parameters, including temperature, salinity, pH, and dissolved oxygen, were measured ex situ to assess the water conditions around the mangroves. The research results indicated that the density value of Rhizophora mucronata mangrove species was 7567 (Station 1), 7467 (Station 2), and 9433 (Station 3). Rhizophora mucronata mangroves were classified as having a "good" condition with dense density, while Sonneratia alba mangroves were categorized as "damaged" with sparse density, based on the analysis using mangrove damage criteria (Minister of Environment Decree No. 201 of 2004). Canopy cover of mangroves yielded percentage results of 87.11% (Station 1), 89.38% (Station 2), and 74.68% (Station 3). The organic matter content was measured at 8.291% (Station 1), 8.541% (Station 2), and 12.221% (Station 3), while the carbon content was found to be 4.809% (Station 1), 4.954% (Station 2), and 7.088% (Station 3).
Analisis Kandungan Klorofil -a dan Kepadatan Diatom Thalassiosira sp. Dengan Penggunaan Konsentrasi Silikat yang Berbeda Syahrial Varrel Cannavaro; Hadi Endrawati; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 13, No 1 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i1.35303

Abstract

Thalassiosira sp. adalah diatom yang digunakan sebagai pakan alami bagi larva udang vanamei. Thalassiosira sp. mempunyai kandungan protein sekitar 44,5 %,karbohidrat 26,1% dan lemak 11,8% dari berat keringnya. Thalassiosira sp. adalah salah satu pakan alami yang baik karena mempunyai nilai nutrisi yang tinngi serta kandungan silika yang bagus untuk larva udang vanamei. Pertumbuhan diatom dibutuhkan media nutrisi dalam mendukung pertumbuhan plankton harus mengandung silika untuk mendukung pertumbuhan dan memperkuat cangkang sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi silikat yang tepat guna mengoptimalkan pertumbuhan kepadatan dan produksi pigmen klorofil pada Thalasiosira sp. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Mikroalga Thalassiosira sp di kultivasi dengan lima taraf perlakuan konsentrasi silikat yang berbeda yaitu 0 ppm, 12 ppm,15 ppm, 18 ppm dan 21 ppm dengan tiga ulangan. Pertumbuhan Thalasiosira sp. diamati selama 13 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi diekstraksi menggunakan pelarut aseton PA. Ekstrak aseton Thalassiosira sp. kemudian dianalisis kandungan pigmen klorofilnya dengan spektrofotometri. Hasil densitas tertinggi terdapat pada konsentrasi (15 ppm) Kandungan Klorofil Thalassiosira sp. tertinggi diproduksi pada konsentrasi (15 ppm) yaitu 184 µg/mL. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi silikat berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan klorofil Thalassiosira sp. Thalassiosira sp is a diatom that is used as natural food for vanamei shrimp larvae. Thalassiosira sp. It has a protein content of about 44.5%, carbohydrates 26.1% and fat 11.8% of its dry weight. Thalassiosira sp. is one of the good natural feeds because it has high nutritional value and good silica content for vanamei shrimp larvae. The growth of diatoms requires a nutrient medium to support the growth of plankton. It must contain silica to support growth and strengthen cell shells. This study aims to determine the appropriate concentration of silicate in order to optimize the growth of density and production of chlorophyll pigment in Thalasiosira sp. The method used is a laboratory experiment using a completely randomized design. The microalgae Thalasiosira sp was cultivated with five different levels of silicate concentration treatment, namely 0 ppm, 12 ppm, 15 ppm, 18 ppm and 21 ppm with three replications. Growth of Thalasiosira sp. observed for 13 x 24 hours and then harvested for biomass calculation. The wet biomass from the cultivation was extracted using acetone PA as a solvent. Thalasiosira sp. acetone extract. then analyzed the content of chlorophyll pigment by spectrophotometry. The highest density results were found at the concentration (15 ppm) of the Chlorophyll content of Thalassiosira sp. The highest was produced at a concentration (15 ppm) which was 184 g/mL. Based on the results of the study, it can be concluded that the salinity treatment had a significant effect on the chlorophyll content of Thalasiosira sp. 
Identifikasi Molekuler dan Uji Potensi Khamir Laut sebagai Penghasil Enzim Esktraseluler Wa Ode Rima Alam Sari Bolu; Wilis Ari Setyati; Sri Sedjati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.41806

Abstract

Khamir merupakan jamur bersel tunggal yang memiliki fase reproduksi aseksual berupa pembelahan sel serta reproduksi seksual yang tidak membentuk badan buah. Penelitian mengenai keanekaragaman khamir pada lingkungan terestrial telah dieksplorasi dengan baik, namun penelitian mengenai khamir laut tergolong relatif sedikit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi khamir laut secara molekuler dan menentukan potensi khamir laut sebagai penghasil enzim ekstraseluler. Metode dalam penelitian ini yaitu peremajaan isolat, uji aktivitas enzim, karakterisasi morfologi khamir secara makroskopis meliputi bentuk koloni, margin, elevasi, appearance, tekstur, dan warnanya, serta karakterisasi mikroskopis meliputi bentuk koloni dan kenampakan pertunasan sel. Identifikasi molekuler dilakukan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan tahapan ekstraksi DNA, amplifikasi DNA, pengecekan kualitas DNA, analisis sekuens DNA dan pembuatan pohon filogenetik. Berdasarkan identifikasi molekuler menggunakan primer universal (ITS1 dan ITS4) dengan nilai percent similarity sebesar 99.05%, isolat PB3.2 teridentifikasi sebagai spesies Candida tropicalis. Isolat ini tidak menunjukkan adanya kemampuan dalam memproduksi enzim amilase dan enzim protease.  Yeast is a unicellular fungus with a phase of asexual reproduction through cell division and lacks the formation of fruiting bodies during sexual reproduction. Research on yeast diversity in terrestrial environments has been well-explored; however, research on marine yeast is relatively limited. This study aims to molecularly identify marine yeast and determine their potential as producers of extracellular enzymes. The methods employed in this study include strain isolation, enzyme activity assays, macroscopic morphological characterization of yeast, encompassing colony shape, margin, elevation, appearance, texture, and color, as well as microscopic characterization, involving colony shape and budding patterns. Molecular identification was performed through the stages of DNA extraction, DNA amplification, DNA quality assessment, DNA sequence analysis, and the construction of a phylogenetic tree. Based on molecular identification using universal primers (ITS1 and ITS4) with a percent similarity value of 99.05%, isolate PB3.2 was identified as Candida tropicalis species. This isolate did not exhibit the ability to produce amylase and protease enzymes.
Analisis Perubahan Luasan Mangrove Tahun 2017-2023 Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 Di Desa Lontar, Kabupaten Serang, Banten Atika Siti Nuraisyah; Rudhi Pribadi; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 15, No 1 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i1.45917

Abstract

Ekosistem mangrove di Indonesia dapat ditemukan di pesisirIndonesia yang memiliki arus dan gelombang yang tidak kencang. Perubahan luasan hutan mangrove di Indonesia terus terjadi tiap tahunnya. Perubahan luasan hutan mangrove disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan iklim, kegiatan rehabilitasi, bencana alam, dan aktivitas antropogenik. Permasalahan degradasi telah menjadi isu tiap tahunnya sehingga dibutuhkan monitoring yang rutin dilakukan untuk mengetahui perubahan dan mempersiapkan penanganan lebih lanjut. Dalam penelitian ini dilakukan pemantauan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan melakukan analisis spasial untuk mengetahui perubahan luasan hutan mangrove di Desa Lontar dalam periode tahun 2017-2023 dengan menggunakan citra sentinel 2. Data satelit diolah dengan Software ArcGIS, QGIS, dan Google Earth Pro. Identifikasi wilayah mangrove dilakukan dengan komposit RGB 8, 11, dan 4 kemudian pemisahan objek mangrove dan non-mangrove menggunakan metode klasifikasi terbimbing. Tahap selanjutnya dilakukan analisis kerapatan dengan formula Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil penelitian menunjukkan wilayah mangrove Desa Lontar mengalami perubahan luasan dalam periode 3 tahun (2017-2020) sebesar 16,79 hektar dan pada periode 3 tahun (2020-2023) sebesar 7,25 hektar dengan laju perubahan dalam periode 3 tahun (2017-2020) sebesar 65,86% dan pada tahun (2020-2023) sebesar 17,14%. Secara umum, luas mangrove di Desa Lontar mengalami peningkatan atau penambahan luasan mangrove.The mangrove ecosystem in Indonesia can be found along the coasts that have calm currents and waves. The extent of mangrove forests in Indonesia changes continuously. These changes caused by several factors, such as climate change, rehabilitation activities, natural disasters, and anthropogenic activities. This degradation issue has become a significant concern, as it is estimated that the extent of mangrove areas changes annually. Therefore, regular monitoring is required to understand these changes and prepare further management actions. In this study utilized remote sensing technology and spatial analysis to monitor and identify changes in the extent of mangrove forests in Lontar village from 2017 to 2023 using Sentinel-2 imagery. The satellite data was processed using ArcGIS, QGIS, and Google Earth Pro software. The identification of mangrove areas was performed using RGB composite 8, 11, and 4, followed by separating mangrove and non-mangrove objects using the supervised classification method. The next step was to perform density analysis using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) formula. The results showed that the mangrove area in Lontar village experienced changes in extent over a three-year period (2017-2020) by 16.79 hectares and over the next three-year period (2020-2023) by 7.25 hectares, with a rate of change in the three-year period (2017-2020) of 65.86% and in the period (2020-2023) of 17.14%. Overall, the mangrove changes in Lontar village showed an increase or expansion in the mangrove area.
Morfometri dan Hubungan Panjang Berat Kerang Batik (Paphia textile) dari TPI Kerang Bungo Kabupaten Demak Jawa Tengah Hafizh Prihindrasto; Wilis Ari Setyati; Ria Azizah Tri Nuraini
Journal of Marine Research Vol 13, No 4 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i4.43930

Abstract

Kerang Batik (Paphia textile) merupakan komoditas yang berpotensi dalam pertumbuhan ekonomi dan penyedia nutrisi yang baik bagi masyarakat. TPI Kerang Bungo yang berada di Kabupaten Demak, merupakan salah satu penyedia kerang batik. Penelitian tentang morfometri dan hubungan panjang berat kerang batik masih sangat jarang ditemukan. Penelitian bertujuan untuk mengukur dan mengetahui kelas panjang, berat dan lebar serta mengetahui hubungan panjang berat kerang batik dari TPI Kerang Bungo. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Sebanyak 257 individu sampel kerrang batik diambil secara random. Pengukuran panjang dan lebar cangkang menggunakan kaliper dengan ketelitian 0,01 mm dan penimbangan berat total dengan menggunakan timbangan digital dengan ketelitian 0,01 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang maksimal kerrang batik adalah 53,9 mm dan minimal 35,8 mm dengan rata-rata 49,85 mm. Berat maksimal yang didapatkan 14,61 gr. dan berat minimal 3,84 gram dengan rata-rata 9,21 gr. Lebar maksimal yang didapatkan 32,9 mm dan minimal 18,1 mm dengan rata-rata 28,2 mm. Hasil perhitungan kelas panjang, kelas berat dan kelas lebar pada Kerang Batik (Paphia textile) menghasilkan 9 kelas. Interval pada kelas panjang sebesar 2,02 mm, interval pada kelas berat sebesar 1,20 gr. dan interval pada kelas lebar sebesar 1,65 mm. Hubungan panjang berat Kerang Batik (Paphia textile) memiliki persamaan  dengan nilai b sebesar 2,2725 sehingga pertumbuhan kerang batik bersifat alometri negatif.  Carpet Clam (Paphia textile) is one of the potential commodities for economic growth and nutrition resources for community. Bungo Fish and Clam Auction Market in Demak Regency is one of supplier of carpet clam. Research about carpet clam morphometric is still rare to find. This research aims to measures and know about length, weight and wide also length-weight relation of carpet clam from Bungo Fish and Clam Auction Market. Descriptive quantitative method is used in this research and 257 individu of clam were sampled randomly. Length and wide measured by a calipher with 0,01 mm accuracy and weight measured by a scale with 0,01 gram accuracy. The result of research showed that the maximum length of the clam is 53,9 mm and minimum length is 35,8 mm with average of 49,85 mm. Maximum weight as resulted is 14,61 gram and minimum weight is 3,84 grams with average of 9,21 gram. Maximum wide as resulted is 32,9 mm and minimum is 18,1 mm with average of 28,2 mm. Class of length, weight and wide of Carpet Clam (Paphia textile) divided by 9 class. Length class interval is 2,02 mm, weight class interval is 1,20 gram and wide class interval is 1,65 mm. The length-weight relation of Carpet Clam (Paphia textile) has an equation by  with b value is 2,275 with result that carpet clam growth is negative allometric.
Hubungan Kondisi Padang Lamun dengan Persentase Tutupan Mikroalga Epifit di Ekosistem Padang Lamun Pantai Prawean Bandengan dan Semat, Jepara Muhammad Taufiqur Rahman; Ita Riniatsih; Wilis Ari Setyati
Journal of Marine Research Vol 13, No 2 (2024): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v13i2.42594

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu komponen paling penting di wilayah pesisir laut. Fungsi lamun berkaitan dengan bioekologi dari interaksi makhluk hidup yang tinggal di wilayah ekosistem tersebut dengan lingkungannya. Komponen makhluk hidup dalam ekosistem lamun salah satunya mikroalga epifit. Epifit menempel pada substrat atau lamun itu sendiri dan menjadi bioindikator kualitas perairan. Tidak selalu memiliki dampak baik, epifit juga terkadang memiliki dampak buruk bagi ekosistem padang lamun dengan jumlah tertentu yang dapat menurunkan produktivitas lamun. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persentase mikroalga epifit ekosistem padang lamun yang berada di Pantai Prawean Bandengan dan Pantai Semat, Jepara. Data yang dikumpulkan berupa data penutupan dan kerapatan lamun dengan metode line transect quadrat, data persentase tutupan epifit yang mengacu pada metode seagrass watch, data parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, kecepatan arus, kecerahan), dan data konsentrasi nutrien (nitrat dan fosfat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis lamun lebih banyak di Pantai Prawean Bandengan (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, Halodule uninervis, Halophila ovalis). Penutupan padang lamun paling tinggi juga terdapat di Pantai Prawean Bandengan dengan nilai rata-rata 39,87% sedangkan pada Pantai Semat memiliki persentase sebanyak 26,94%. Data persentase tutupan epifit tertinggi pada Pantai Semat dengan nilai 27,17% disusul oleh Pantai Prawean Bandengan dengan nilai 25,25%. Hal ini menunjukkan bahwa kategori padang lamun tergolong sedang. Substrat pada Pantai Prawean Bandengan berjenis fine sand sedangkan pada Pantai Semat berjenis gravel. Data menyimpulkan bahwa ekosistem padang lamun baik di Pantai Prawean Bandengan maupun Pantai Semat memiliki kondisi sedang.   Seagrass ecosystems are one of the most important components in coastal marine areas. The function of seagrasses is related to the bioecology of the interaction of living things that live in the ecosystem area with their environment. One of the components of living things in seagrass ecosystems is epiphytic microalgae. Epiphytes attach to the substrate or seagrass itself and become bioindicators of water quality. Not always having a good impact, epiphytes also sometimes have a bad impact on seagrass ecosystems with certain amounts that can reduce seagrass productivity. This study was conducted to determine the percentage of epiphytic microalgae in seagrass ecosystems in Prawean Bandengan Beach and Semat Beach, Jepara, East Java, Indonesia. The data were collected by counting the seagrass closure, seagrass density measure using line transect quadrat method, epiphyte cover percentage data referring to seagrass watch method, water quality parameter data (temperature, salinity, pH, current speed, brightness), and nutrient concentration data (nitrate and phosphate). The results showed that seagrass species composition was more abundant at Prawean Bandengan Beach (Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Oceana serrulata, Halodule uninervis, Halophila ovalis). The highest seagrass cover was also found in Prawean Bandengan Beach with an average value of 39.87% while Semat Beach had a percentage of 26.94%. Data on the percentage of epiphyte cover was highest at Semat Beach with a value of 27.17% followed by Prawean Bandengan Beach with a value of 25.25%. This shows that the seagrass category is classified as moderate. The substrate at Prawean Bandengan Beach is fine sand type while Semat Beach is gravel type. The data concludes that the seagrass ecosystem in both Prawean Bandengan Beach and Semat Beach has a moderate condition.
Co-Authors Abel Kristanto Widodo Adi Santoso Adiyoga, Diaz Agus Indardjo Agus Indarjo Ahmad Fadhil Muzaki Ahmad Saddam Habibi Alburhana, Lathifatusy Syifa Aldo Rizqi Arinianzah Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Alvi Akhmad Arifin Amri, Fahrizal Dwi Ananda Arifidyani Andri Cahyo Kumoro Anjani, Devi Oktavia Antonius Budi Susanto Aprilia Larasati Dewi Arief, Atthariq Fachri Ramadhan Arifin, Alvi Akhmad Arrico Fathur Yudha Bramasta Arya Rezagama Atika Siti Nuraisyah Baskoro Rochaddi Bolu, Wa Ode Rima Alam Sari Bramasta, Arrico Fathur Yudha Cannavaro, Syahrial Varrel Chrisna Adhi Suryono Christy, Yonanda Alodea Dafit Ariyanto Delianis Pringgenies Dewi, Septiyani Kusuma Diah Permata Wijayanti Diaz Adiyoga Dony Bayu Putra Pamungkas Dwi Haryanti Dwicahyo Setiyo Wibowo Dyah Ayu Wulandary Ega Saputra Eldita Amalia Endang Sri Susilo Erni - Martani Erni Martani Fadila Wahyu Putri Arimbi Fahmi Arifan Fahrizal Dwi Amri Feri Setiawan Firdaus, Syifa Shafira Gunawan Widi Santosa Hadi Endrawati Hafizh Prihindrasto Hanif, Marwa Irfan Irwani Irwani Ita Riniatsih Ita Widowati Jan Ericson Wismar Joitry Silvia Sitompul Karina Dewiningsih Laraswati, Yuli Limbong, Maria Fransiska Lumban Gaol, Josua Gabriel M Faisal Alfa Yulianto Ma'ruf, Widodo Farid Mada Triandala Sibero Maya Puspita Monika, Rika Muhammad - Zainuddin Muhammad Salauddin Ramadhan Djarod Muhammad Taufiqur Rahman Muhammad Taufiqur Rahman, Muhammad Taufiqur Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Munasik Munasik Ni Nyoman Widya Triyaningsih Nirwani Soenardjo Novie Susanto Ony Ilham Pradiksa Patrea Nurcholis Afitri Person Pesona Renta Pola Risda Aswita Silitonga Prasetyana Ajeng Refamurty Putri, Angela Salsalina Rahma, Sayyidatur Rahmawati, Tiara Retno Hartati Ria Azizah Tri Nuraini Ria Azizazh Tri Nuraeni Rico Adi Setyanto Rini Pramesti Risandhi, Danendra Aquila Azfa Rudhi Pribadi Sabrina Alisha Devi Sari, Intan Swastika Sean Dewa Ramadhan Sebastian Margino Sebastian Margino Septiyani Kusuma Dewi Sibero, Mada Triandala Siti Rudiyanti Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sugeng Widada Sunaryo Sunaryo Suryani, Askiya Intan Suryono Suryono Syahrial Varrel Cannavaro Sylvia Sari Indah Dongoran Titis Buana Triyaningsih, Ni Nyoman Widya Triyanto - - Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Triyanto Wa Ode Rima Alam Sari Bolu Wahyu Bagio Leksono Widayat, Barra Muzaffar Widianingsih Widianingsih Winda Ariesta Nur Fadilla Wisnu Broto Yonanda Alodea Christy Yuli Laraswati