Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AGRIKA

UPAYA PENINGKATAN SERAPAN UNSUR HARA DAN HASIL BAWANG MERAH DI INCEPTISOLS MALANG MELALUI OPTIMALISASI DOSIS PUPUK MAJEMUK Retno Suntari; Sekar Mariam Hapsari; Syahrul Kurniawan
Agrika Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i1.4574

Abstract

ABSTRAKKabupaten Malang termasuk salah satu wilayah penghasil bawang merah terbesar di Jawa Timur pada tahun 2012-2019. Luas panen bawang merah di propinsi Jawa Timur pada tahun 2019 mencapai 42.962 hektar. Produksi bawang merah mengalami peningkatan, namun produktivitas bawang merah nasional masih tergolong rendah. Hal ini diduga akibat rendahnya kesuburan tanah maupun pemupukan yang kurang tepat. Upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dengan aplikasi pupuk majemuk. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 8 perlakuan yaitu M0 (kontrol), M1 (100% pupuk dasar), M2 (50% pupuk majemuk), M3 (75% pupuk majemuk), M4 (100% pupuk majemuk), M5 (125% pupuk majemuk), M6 (150% pupuk majemuk) dan M7 (200% pupuk majemuk) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk majemuk NPS (16:20:16) mempengaruhi pertumbuhan tanaman (panjang dan jumlah daun), produksi bawang merah (diameter umbi, bobot basah dan bobot kering umbi), dan serapan unsur hara tanaman. Pupuk majemuk NPS (50%-200%) tidak mempengaruhi pertumbuhan bawang merah, tetapi mempengaruhi produksi umbi bawang merah dan serapan N serta K. Pupuk majemuk NPS dosis 200% (setara 550 kg/ha) mampu meningkatkan produksi umbi bawang merah yang lebih banyak dibandingkan dengan dosis 50% dan 150% (setara 137,5 kg/ha dan 412,5 kg/ha). Pupuk majemuk NPS dosis 200% menurunkan pH tanah. ABSTRACTMalang Regency is one of the largest shallot producing regions in East Java in 2012-2019. The shallot harvested area in East Java province in 2019 reached 42,962 hectares. Shallot production has increased, but the national shallot productivity is still relatively low. This is thought to be due to low soil fertility and inappropriate fertilization. Efforts to increase production can be done with the application of compound fertilizers. The research was conducted in the experimental field of the Faculty of Agriculture, University of Brawijaya in Jatimulyo Village, Lowokwaru District, Malang City. The study was designed using a randomized block design (RBD) consisting of 8 treatments, namely M0 (control), M1 (100% basic fertilizer), M2 (50% compound fertilizer), M3 (75% compound fertilizer), M4 (100% compound fertilizer) , M5 (125% compound fertilizer), M6 (150% compound fertilizer) and M7 (200% compound fertilizer) with 3 replications. The results showed that NPS compound fertilizer (16:20:16) affected plant growth (length and number of leaves), onion production (tuber diameter, tuber fresh and dry weight), and plant nutrient uptake. NPS compound fertilizer (50%-200%) does not affect shallot growth, but affects shallot bulb production and N and K uptake. NPS compound fertilizer dose of 200% (equivalent to 550 kg/ha) can increase shallot bulb production which is more than the doses of 50% and 150% (equivalent to 137.5 kg/ha and 412.5 kg/ha). The NPS compound fertilizer at a dose of 200% lowers soil pH.
EFEKTIVITAS PUPUK ANORGANIK BERBASIS FOSFAT DALAM MENINGKATKAN SERAPAN HARA DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays) Ishaq, Rizki Maulana; Hilmi, Muhammad; Kurniawan, Syahrul; Hidayat, Muhammad Taufiq; Katili, Wardiman W; Utami, Tri
Agrika Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v18i1.5703

Abstract

Produksi jagung yang menurun pada tahun 2023 dibanding tahun 2022 mengakibatkan impor jagung meningkat tajam. Upaya meningkatkan produksi jagung dapat dilaksanakan dengan aplikasi pupuk majemuk berimbang. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di Jatikerto, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas: 1) P0=kontrol (tanpa pemupukan), 2) P1=100% pupuk dasar, 3) P2=urea 400 kg/ha+rock phosphate 150 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 4) P3=urea 400 kg/ha+pupuk fosfat uji 150 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 5) P4=urea 400 kg/ha+pupuk fosfat uji 200 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 6) P5=urea 400 kg/ha+pupuk fosfat uji 250 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 7) P6=urea 400 kg/ha+pupuk fosfat uji 300 kg/ha+KCl 75 kg/ha. Data dianalisa anova dan dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Selanjutnya dilakukan analisa korelasi dan regresi untuk melihat hubungan dan pengaruh antar parameter. Hasil penelitian menunjukkan Aplikasi pupuk anorganik berbasis fosfat secara signifikan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang), produksi jagung (panjang dan diameter tongkol, berat kering pipilan), dan serapan unsur hara tanaman. Dosis aplikasi pupuk fosfat Uji (~300 kg/ha) mampu meningkatkan serapan hara tanaman dan produksi jagung, sedangkan dosis aplikasi (200-250 kg/ha) pupuk fosfat uji merupakan dosis pupuk optimal dalam meningkatkan kandungan P total dan P tersedia tanah. Hubungan antara serapan P dengan produksi tanaman jagung memiliki hubungan yang positif dengan tingkat keeratan yang kuat yang berarti dengan serapan hara P yang tinggi dapat meningkatkan produksi tanaman jagung.ABSTRACTCorn production decreased in 2023 compared to 2022, resulting in corn imports increasing sharply. Efforts to increase corn production can be carried out by applying balanced compound fertilizer. The research was conducted at the experimental field of the Faculty of Agriculture, Brawijaya University in Jatikerto, Kepanjen District, Malang Regency. The research design used a randomized block design (RAK) consisting of 7 treatments with 3 replications. Treatments consisted of: 1) P0=control (without fertilization), 2) P1=100% basic fertilizer, 3) P2=urea 400 kg/ha+rock phosphate 150 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 4) P3= urea 400 kg/ha+phosphate fertilizer test 150 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 5) P4=urea 400 kg/ha+phosphate fertilizer test 200 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 6) P5=urea 400 kg/ha+test phosphate fertilizer 250 kg/ha+KCl 75 kg/ha, 7) P6=urea 400 kg/ha+test phosphate fertilizer 300 kg/ha+KCl 75 kg/ha. The data was analyzed by ANOVA and continued with the DMRT test at 5% level. Next, correlation and regression analysis was carried out to see the relationship and influence between parameters. The research results show that the application of phosphate-based inorganic fertilizer can significantly increase plant growth (plant height, number of leaves, stem diameter), corn production (length and diameter of cobs, dry weight of shells), and plant nutrient uptake. The application dose of test phosphate fertilizer (~300 kg/ha) was able to increase plant nutrient uptake and corn production, while the application dose (200-250 kg/ha) of test phosphate fertilizer was the optimal fertilizer dose in increasing total P content and soil available P. The relationship between P uptake and corn production has a positive relationship with a strong level of closeness, which means that high P nutrient uptake can increase corn production.  
Co-Authors Abraham M Ridjal Achmad Jauhar Arifin Aditya Nugraha Putra Adji Ahmad Rinaldo Fernandes Albarki, Georona Kusma Albarki, Georona Kusuma Allysa Puspa Saraswati Amin Setyo Leksono Andarini Puspita Anita Dwy Fitria Anita Dwy Fitria Ariska, Ayu Putri Arpangi . Aura Hanita Salsabila Ayu Putri Ariska Aziz, Novryanti Rizqi ‘Azizah, Siti Nur Bambang Susilo Beauty Laras Setia Pertiwi Budi Prasetya Budi Prasetya Budi Prasetya Budi Prasetya Budi Santoso Cahyo Bagus Susanto Cahyo Prayogo, Cahyo Christanti Agustina Corre, Marife D. Didik Suprayogo Dimas Mahardhika Satriawan Dony Rachmanadi Ema Titisari Endang Arisoesilaningsih Farah Amirat Febiona, Silvia Fitri Wijayanti Futihatu Rizkiani Azizah Fytria Kurniasari Gabryna Auliya Nugroho Gatot Ciptadi Ghani Ilham Prawiradijaya Hadi, Syamsu Ridzal Indra Hidayat, Muhamad Taufiq Hidayat, Muhammad Taufiq Hidayati Karamina Iqbal Rizky Nugroho Iva Dewi Lestariningsih Katili, Wardiman W KIKI FIBRIANTO Kurniatun Hairiah Kurniawan Sigit Wicaksono Kusumawati, Irma Ardi Lenny Sri Nopriani Maghfoer, Moch Dawam Mardiani, Mila Oktavia Marife De Corre Masruroh, Heni Maydella Vista Putri Rinandy Mochtar Lutfi Rayes Muhammad Hilmi Muhammad Nur Fauzan Muhammad Taufik Hidayat Muhammad Taufik Hidayat Muhammad Yusuf Mukharomah, Miftakhul Natajaya, Andrean Navarette, Ian A. Niken R Wandansari Noval Adieb Novalia Kusumarini Novalia Kusumarini Novalia Kusumarini Novryanti Rizqi Aziz Nugroho, Gabryna Auliya Nugroho, Wikan Agung Nunun Barunawati, Nunun Nur Azizah Nur Azizah Nur Azizah Oktari Hermita Putri Omar Nurcholis Purnamasari, Eka Putri Winda Asih Putri, Fenalda Sekar Maretha R Ay Alvisa Talitha Radiananda R Muhammad Yusuf Adi Pujo Nugroho Rahmi Yuniarti Ramadhan, Resa Kharisma Ramadhani, Filka Rana Syahla Refki Aulia Wiwaha Renaldi Sambo Eka Saputra Resa Kharisma Ramadhan Retno Suntari Rinandy, Maydella Vista Putri Rini Dwiastuti Rizki Maulana Ishaq Rizky Eka Putra, Rizky Eka S Sudarto S Sudarto S Sutopo Samudra, Rizki Putra Sekar Mariam Hapsari Siahaan, Adiva Zulaika Azalia Siswanto Siti Azizah Sizilia, Vannya Julia Soemarno Soemarno Soemarno Soemarno Sri Rahayu Utami Sugeng Riyanto Sujarwo Sujarwo Suntyas Siti Nuridayati Syamsu Ridzal Indra Hadi Tri Utami Ursulin Sacer Setyastika Ustiatik, Reni Veldkamp, Edzo W Widianto Wachidiyah Romadhoni Wikan Agung Nugroho Wisynu Ari Gutama Wiwik Handayani Wulandari, Eka Shinta Yulia Nuraini Zaenal Kusuma