Claim Missing Document
Check
Articles

FORMULASI SABUN CAIR EKSTRAK DAUN KECOMBRANG SEBAGAI ANTIKEPUTIHAN St Ratnah; Alfrida Monica Salasa
Media Farmasi XXX Vol 15, No 2 (2019): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.173 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i2.1125

Abstract

Etlingera elatior contains chemical compounds that prevent and treat leucorrhoea. However, they are used conventionally, and therefore, they are less effective and efficient. The purpose of this study was to formulate the liquid soap extract of Kecombrang Leaf (Etlingera elatior) and determine the stability of its physical quality and activity as an anti-vaginal discharge. The study uses dried simplicia of Kecombrang leaves extracted by the maceration method with ethanol 96%. It was formulated into liquid soap with a concentration variation of 6.25% and 8.75%. Each formula was evaluated for physical quality, microorganism contamination, and activity tests before and after the storage are accelerated. The results obtained by Etlingera Folium extract could be formulated into liquid soap with a concentration of 6.25% and 8.75%. The stability test results are accelerated, and each concentration meets the requirements of the organoleptic, foam resistance, and pH tests. Microorganism contamination test results also meet the needs of SNI & BPOM and have anti-vaginal discharge activity. The liquid soap preparation of 8.75% has an activity greater than the concentration of 6.25%.Keywords: Candida albicans, Kecombrang leaves, Physical quality, Liquid soapEtlingera elatior mengandung senyawa kimia yang terbukti berfungsi  mencegah dan mengobati penyakit keputihan tetapi penggunaannya masih secara tradisional sehingga kurang efektif dan efisien digunakan. Tujuan penelitian adalah untuk memformulasi sediaan sabun cair ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior), mengetahui kestabilan mutu fisik dan aktivitas sebagai anti keputihan. Penelitian ini menggunakan simplisia kering Daun Kecombrang yang diekstraksi dengan metode maserasi dengan etanol 96%, diformulasi menjadi sabun cair dengan variasi konsentrasi 6,25 % dan 8,75%. Masing-masing formula kemudian dievaluasi uji mutu fisik, uji cemaran mikroorganisme dan uji aktivitas sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat. Hasil yang diperoleh ekstrak Etlingera Folium dapat diformulasi menjadi sabun cair dengan konsentrasi 6,25 % dan 8,75%. Hasil pengujian kestabilan dipercepat, masing-masing konsentrasi memenuhi persyaratan uji organoleptis, uji ketahanan busa dan uji pH. Hasil uji cemaran mikroorganisme juga memenuhi syarat SNI & BPOM serta memiliki aktivitas sebagai anti keputihan, dimana sediaan sabun cair 8,75 % memiliki aktivitas yang lebih besar dari konsentrasi 6,25 %.Kata Kunci : Candida albicans, Daun Kecombrang, Mutu fisik, Sabun cair
UJI POTENSI ANTIMIKROBA HASIL FRAKSINASI EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP Candida albicans PENYEBAB KEPUTIHAN PADA IBU HAMIL St. Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Ismail Ibrahim
Media Farmasi XXX Vol 14, No 2 (2018): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.665 KB) | DOI: 10.32382/mf.v14i2.595

Abstract

Tanaman Kecombrang memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, polifenol,steroid, saponin, dan minyak atsiri, dimana kandungan kimia tersebut dapat berperan dalam pencegahan penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan potensi antimikroba hasil fraksinasi ekstrak daun kecombrang terhadap Candida albicans penyebab keputihan pada ibu hamil. Penelitian ini merupakan eksperimen murni menggunakan ekstrak daun kecombrang, diisolasi menggunakan kromatografi kolom sehingga diperoleh fraksi-fraksi. Hasil fraksinasi selanjutnya diuji potensi antimikrobanya terhadap Candida albicans penyebab keputihan pada ibu hamil.  Zona hambat yang diperoleh diukur untuk menentukan potensi antimikroba hasil fraksinasi ekstrak Daun Kecombrang tersebut. Hasil penelitian Daun Kecombrang (Etlingera elatior), dapat disimpulkan bahwa isolasi senyawa kimia ekstrak etanol Daun Kecombrang (Etlingera elatior) diperoleh 3 senyawa murni. Ketiga senyawa murni tersebut dapat menghambat Candida albicans, rata-rata diameter zona hambat dari senyawa A = 13,66 mm, senyawa  C = 10,40 mm dan senyawa E = 9,33 mm. Hasil statistik one way anava menunjukkan bahwa fraksi A (F.A) memiliki potensi antimikroba yang berbeda dengan fraksi C (F.C) dan Fraksi E (F.E) (sig p < 0,05) sedangkan fraksi C (F.C) dan Fraksi E (F.E) memiliki potensi antimikroba yang sama (sig p > 0,05).
EFEKTIFITAS EKSTRAK BIJI BUAH KELENGKENG (Euphoria longan Stend) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne St. Ratnah; Alfrida Monica Salasa
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.572 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1411

Abstract

Although longan fruit seeds are waste, they contain phytochemical compounds that can be used as antibacterial. The purpose of this study is to determine the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Killing Concentration (MKC) of longan seeds extract on the growth of Staphylococcus aureus and Propionibacterium acnes. The test material was made from dry simplicial and was extracted using 96% ethanol through the sokhletation method. Additionally, the MIC and MKC values were tested using the liquid dilution method. The results indicate that the Minimum Inhibitory Concentration of longan fruit extract on the growth of Staphylococcus aureus and Propionibacterium acne is 2% w / v while the Minimum Killing Concentration for both bacteria is 3% w / v.Keywords: Extraction, MIC, MKC, Staphylococcus aureus, and Propionibacterium acneBiji Buah Kelengkeng merupakan limbah, tetapi mengandung senyawa fitokimia yang dapat dimanfaatkan baik sebagai antibakteri.. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Minimum Killing Concentration (MKC) dari ekstrak biji buah kelengkeng terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne. Bahan uji dibuat simplisia kering, diekstraksi dengan etanol 96 % dengan metode sokhletasi,  diuji nilai MIC dan MKC dengan metode dilusi cair. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Minimum Inhibitory Concentration ekstrak biji buah kelengkeng terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne adalah 2 %b/v dan Minimum Killing Concentration untuk kedua bakteri tersebut adalah 3 %b/v.Kata Kunci : Ekstraksi,  MIC, MKC, Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acne
Formulasi Dan Stabilitas Mutu Fisik Sediaan Gel Wajah Yang Mengandung Ekstrak Daun Afrika Dengan Variasi Konsentrasi Carbopol Dwi Rachmawaty Daswi; Arisanty Arisanty; St Mutmainnah Dewi Reski; Alfrida Monica Salasa; St Ratnah
Media Farmasi XXX Vol 18, No 1 (2022): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v17i2.2299

Abstract

Formulation And Physical Quality Stability Of Facial Gel Preparations Containing African Leaf Extract (Vernonia amygdalina dell.) With Variations In Carbopol Concentrationcontain phenolic compounds including flavonoids that can wardoff free radicals. This study aims to formulate facial gel preparations from African leaf extracts to determine the stability of the physical quality of the preparations. African leaves are extracted using the maceratio method and then formulated into a facial gel made in three variations of the formula. Three gel formulas made with different carbopol concentrations are 0.5%, 1%, 2%. Physical quality testing of facial gel preparations is performed before and after the accelerated stability test (freeze thaw), including organoleptics, homogeneity tests, syneresis tests, pH tests, scatterpower tests and viscosity tests. Based on the results, formula II with 1 % carbopol concentration fulfilled almost all the requirement of the physical quality test carried out before and after the accelerated stability test excep for pH testing, for formula I with 0,5 % carbopol concentration and formula III with 2 % carbopol concentration only met homogenity,synerisis and viscosity test requirement.The result of statistical test showed the result of P>0,05 which means there is no significant difference from the test results before and after accelerateds storage.Keywords : Physical quality test, facial gel, African leaf extract, carbopolDaun Afrika (Vernonia amygdalina Del.) merupakan tanaman yang memiliki manfaat sebagai antioksidan alami karena memiliki kandungan senyawa fenolik termasuk flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas. Memformulasikan sediaan gel wajah dari ekstrak daun afrika dan untuk mengetahui kestabilan mutu fisik sediaan merupakan tujuan dari penelitian ini. Daun Afrika diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi kemudian di formulasikan kedalam gel wajah yang di buat dalam 3 variasi formula. Tiga formula gel yang dibuat dengan konsentrasi carbopol yang berbeda yaitu 0,5%, 1%, 2%. Pengujian mutu fisik sediaan gel wajah dilakukan sebelum dan setelah uji stabilitas dipercepat (freeze thaw), meliputi organoleptik,  uji homogenitas, uji sineresis, uji pH, uji daya sebar serta uji viskositas. Berdasarkan hasil yang diperoleh formula II dengan konsentrasi carbopol 1% memenuhi hampir semua persyaratan uji mutu fisik yang dilakukan sebelum dan sesudah uji stabilitas dipercepat kecuali pengujian PH , untuk formula I dengan konsentrasi carbopol 0,5 %  dan formula III dengan konsentrasi carbopol 2% hanya memenuhi persyaratan uji homogenitas, sinerisis dan viskositas. Hasil uji statistik menunjukkan hasil P> 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil pengujian sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat.Kata Kunci: Uji mutu fisik, gel wajah, ekstrak daun Afrika, carbopol
PENENTUAN NILAI MIC (MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATION) DAN MKC (MINIMUM KILLING CONCENTRATION) EKSTRAK DAUN KECOMBRANG (Etlingera elatior) TERHADAP Candida albicans PENYEBAB KEPUTIHAN Alfrida Monica Salasa; St. Ratnah; ismail ibrahim
Media Farmasi XXX Vol 15, No 1 (2019): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.444 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i1.781

Abstract

Tanaman Kecombrang memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, polifenol,steroid, saponin, dan minyak atsiri. Kandungan senyawa fitokimia pada tanaman diketahui mempunyai peranan yang sangat penting bagi kesehatan termasuk fungsinya dalam pencegahan terhadap penyakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan MKC (Minimum Killing Concentration) dari Ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap pertumbuhan Candida albicans dengan metode dilusi cair. Penelitian ini merupakan eksperimen murni menggunakan ekstrak daun kecombrang lalu ditentukan nilai MIC dan MKC dengan menggunakan metode dilusi cair. Konsentrasi yang digunakan adalah 1,25 %; 2,5%; 3,75%; 5%; 6,25%; 7,5%; 8,75%; 10%; 12,5%; 15%; 17,5%; 20%; 22,5%; 25% b/v. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) ekstrak Daun Kecombrang terdapat pada konsentrasi 6,25% b/v dan nilai MKC (Minimum Killing Concentration) terdapat pada konsentrasi 8,75% b/v. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak Daun Kecombrang (Etlingera elatior) efektif untuk menghambat dan membunuh jamur Candida albicans.
Implementasi Siaga Covid 19 Di Kelurahan Sambung Jawa Kota Makassar Sesilia Rante Pakadang; Sisilia Teresia Rosmaladewi; St Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Djuniasti Karim; Dwi Rachmawati Daswi; Arisanty Arisanty; Asmawati Asmawati; Jumain Jumain; Ahmad Murad
Jurnal Pengabdian Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): JURNAL PENGABDIAN KEFARMASIAN
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jpk.v3i1.2730

Abstract

Covid 19 (coronavirus disease 2019) is a type of disease caused by the SARS-CoV-2 coronavirus which causes an acute respiratory infection with a very fast and massive spread. The recommended prevention methods are increasing immunity, wearing masks, keeping a distance and washing hands. Products that can be used to prevent COVID-19 are hand sanitizers, disinfectants and imun boosters (food supplements). The purpose of Community Service is to provide counseling on how to prevent Covid 19 and provide training on how to make natural product products for the prevention of Covid 19, namely hand sanitizers, disinfectants and imun boosters (food supplements). Method Service of counseling and training. The implementation of stage 1 has 60 participants (Connect Jawa village team, community representatives, PKK cadres and posyandu). Phase 2 participants 30 people (PKK cadres, posyandu cadres and housewives) The results of community service, the achievement of the counseling target was an increase in knowledge by 28% (hand sanitizer products); 48% (disinfectant product) and 42% (imun booster product). There was a technology transfer process after training on the manufacture of hand sanitizer, disinfectant and imun booster products (food supplements). Outcomes achieved are Natural Disinfectant Pocket Book and Food Supplement Imun Booster Pocket Book Herbal Candy which are published and registered as copyright, publication in Fajar newspaper, community service articles, community service implementation videos. Conclusion. The activity went smoothly, the target achievement was achieved 100%, namely there was an increase in knowledge and technology transfer in the training and the output of 2 books with ISBN, IPR book copyrights and training products.Keywords: training, hand sanitizer, disinfectant, imun booster, Covid 19Covid 19 (coronavirus disease 2019) adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh coronavirus jenis SARS-CoV-2 yang menyebabkan infeksi saluran napas akut dengan penyebaran yang sangat cepat dan massif. Cara pencegahan yang dianjurkan adalah meningkatkan imunitas, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Produk yang dapat digunakan untuk pencegahan Covid 19 berupa hand sanitizer, desinfektan dan imun booster (food suplemen). Tujuan Kegiatan memberikan penyuluhan tentang cara pencegahan Covid 19 dan memberikan pelatihan cara pembuatan produk bahan alam untuk pencegahan Covid 19 yaitu hand sanitizer, desinfektan dan imun booster (food suplemen).  Metode Pengabdian penyuluhan dan pelatihan. Pelaksanaan  tahap 1 peserta 60 orang (tim kelurahan Sambung Jawa, perwakilan masyarakat, kader PKK dan posyandu). Tahap 2 peserta 30 orang (kader PKK, kader posyandu dan ibu rumah tangga) Hasil kegiatan, capaian target penyuluhan terjadi   peningkatan pengetahuan sebesar 28% (produk hand sanitizer); 48% (produk desinfektan) dan 42% (produk imun booster). Terjadi proses alih teknologi setelah pelatihan pembuatan produk hand sanitizer, desinfektan dan imun booster (food suplemen). Luaran yang dicapai adalah Buku Saku Desinfektan Alami dan Buku Saku Food Supplement Imun Booster Permen Herbal yang diterbitkan dan terdaftar sebagai hak cipta, publikasi pada koran Fajar, artikel kegiatan, video pelaksanaan kegiatan. Kesimpulan. Kegiatan berjalan lancar, capaian target tercapai 100% yaitu terjadi peningkatan pengetahuan dan alih teknologi dalam pelatihan dan luaran   2 buku ber ISBN, HKI hak cipta buku dan produk pelatihan.Kata Kunci:  pelatihan, hand sanitizer, desinfektan, imun booster, Covid 19
Respon Streptococcus pneumonia Terhadap Senyawa Fitokimia Ekstrak Etanol dan n-Heksan Daun Salam (Syzygium polyanthum Wight) Sesilia Rante Pakadang; Nur Hikmah Hasrul; St Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Djuniasti Karim; Andi Muhammad Farid; Asmawati Asmawati
Media Farmasi XXX Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i2.2974

Abstract

Response Of Streptococcus pneumonia To Photochemical Compounds Of Ethanol and n-Hexane Extract Of Salam Leaf (Syzygium polyanthum Wight)Pneumonia due to pneumococcal bacteria is generally caused by Streptococcus pneumonia. Pneumonia cases in Indonesia in 2019 reached 400 thousand and increased due to the impact of Covid-19 on children. The response of bacteria to chemical compounds is scientific proof of the antibacterial properties of a plant extract that is polar or non-polar based on the type of solvent used in the extraction process. Method. Identification of active compounds in extracts based on phytochemical screening. The antibacterial potential was determined based on the ability of the active compound to inhibit the growth of Streptococcus pneumoniae by agar diffusion. The test materials were ethanol extract and n-hexane of salam leaf (Syzygium polyanthum Wight). The results showed that the ethanol extract contained alkaloids, phenols, tannins, flavonoids, glycosides, saponins, and phlobatanins. Hexane extract contains alkaloids, glycosides, and saponins. It was concluded that Streptococcus pneumonia responded to ethanol extract of salam leaves and cephalosporins but did not respond to hexane extract from salam leaves. Ethanol extracts 1,3 and 5% were bacteriostatic but hexane extracts with the same concentration did not inhibit the growth of Streptococcus pneumonia.Keywords:  Syzygium polyanthum Wight; Antibacteria;, Streptococcus pneumoniaePneumonia akibat bakteri pneumokokus umumnya disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae. Kasus pneumonia di Indonesia tahun 2019 mencapai 400 ribu dan  meningkat akibat dampak Covid-19 pada anak. Respon bakteri terhadap senyawa kimia adalah pembuktian ilmiah sifat antibakteri dari suatu ekstrak tanaman yang bersifat polar atau non polar berdasarkan jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi. Metode. Identifikasi senyawa aktif dalam ekstrak berdasarkan skrining fitokimia. Potensi antibakteri ditentukan berdasarkan kemampuan senyawa aktif menghambat pertumbuhan Streptococcus pneumoniae secara difusi agar. Bahan uji ekstrak etanol dan n-heksan daun salam (Syzygium polyanthum Wight). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol 96% mengandung alkaloid, fenol, tannin, flavonoid, glikosida, saponin dan phlobatanin. Ekstrak heksan mengandung alkaloid, glikosida dan saponin. Disimpulkan  Streptococcus pneumoniae memberikan respon terhadap ekstrak etanol daun salam dan cefalosforin  namun tidak memberikan respon terhadap ekstrak heksan daun salam.  Ekstrak etanol 1,3 dan 5% bersifat bakteriostatik namun ekstrak heksan dengan konsentrasi yang sama tidak menghambat pertumbuhan Streptococcus pneumoniae.Kata kunci :  Syzygium polyanthum Wight; Antibakteri;  Streptococcus pneumoniae
Stabilitas Mutu Fisik Losion Ekstrak Air Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Dengan Variasi Emulgator Arisanty Arisanty; Dwi Rachmawaty Daswi; St Ratnah; Alfrida Monica Salasa; Ratnasari Dewi
Media Farmasi XXX Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i2.3044

Abstract

Antioxidants Potentials of Lotion containing Extract (Water) of Red Dragon Fruit PeelRed Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) is one of Indonesia's most popular fruits. The high antioxidant component in this fruit has become an attraction that makes its use in society more widely. Lotions are liquid or semi-liquid preparations with one or more active ingredients in a suitable vehicle, containing medicaments or non-medications, intended for use on undamaged skin. When using an emulsion base, the use of an emulsifier greatly affects the stability of the preparation. The aim of the research was to find a lotion preparation formula for red dragon fruit peel extract (in this case the tween and span emulsifier composition) with physical quality that meets the requirements and is the most stable in storage. Tests were carried out using the Freeze-Thaw Cycling method and the physical quality tests included organoleptic, pH test, adhesion test, spreadability test, and viscosity test. Testing The results of the evaluation of the physical quality and stability of the lotion formula made with variations in emulsifier concentration, namely the three formulas made met the physical quality and stability requirements for organoleptic, homogeneity, pH, viscosity, and emulsion type tests. Meanwhile, only formula III met the physical quality stability requirements for the spreading power test. Statistically, the results of the normality test, the data are not normally distributed, then proceed with the Wilcoxon nonparametric test, the Wilcoxon test results show that there is a significant difference between the physical quality of the preparation before accelerated storage and the physical quality after accelerated storageKeywords: Lotion, Red dragon Fruit Peel (Hylocereuspolyrhizus), physical stability Buah  Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) adalah salah satu buah yang digemari di Indonesia, komponen antioksidan yang tinggi dalam buah ini telah menjadi daya tarik sendiri yang membuat penggunaannya di masyarakat semakin luas. Losion adalah sediaan cair atau semi cair dengan satu atau lebih bahan aktif dalam pembawa yang sesuai, mengandung obat atau non-obat, yang dimaksudkan untuk digunakan pada kulit yang tidak rusak. Apabila menggunakan pembawa emulsi maka penggunaan emulgator sangat mempengaruhi stabilitas sediaan. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan formula sediaan losion ekstrak kulit buah naga merah (dalam hal ini komposisi emulgator tween dan span) dengan mutu fisik yang memenuhi persyaratan serta paling stabil dalam penyimpanan. Pengujian dilakukan dengan metode Freeze Thaw Cycling dan mutu fisik yang diuji meliputi organoleptis, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar dan uji viskositas. Pengujian Hasil hasil evaluasi mutu fisik dan stabilitas formula losion yang dibuat dengan variasi konsentrasi emulgator, yaitu ketiga formula yang dibuat memenuhi persyaratan mutu fisik dan stabilitas untuk Organoleptis, Homogenitas, pH, viskositas dan uji tipe emulsi. Sedangkan untuk pengujian daya sebar hanya formula III yang memenuhi syarat kestabilan mutu fisik. Secara statistik, hasil uji normalitas, data tidak terdistribusi normal maka dilanjutkan dengan uji nonparametric test wilcoxon, hasil uji wilcoxon menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara mutu fisik sediaan sebelum penyimpanan dipercepat dengan mutu fisik setelah penyimpanan dipercepat.Kata kunci : Potensi Antioksidan,  Losion, Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus )
Pelatihan Serbuk Instan Dan Teh Sachet Herbal Sebagai Upaya Promotif Dan Preventif Di Puskesmas Cendrawasih Kota Makassar Sesilia Rante Pakadang; Sisilia Teresia Rosmaladewi; St Ratnah; Alfrida Monica Salasa
Jurnal Pengabdian Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Jurnal Pengabdian Kefarmasian
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/jpk.v3i2.3097

Abstract

Training Instant Powder And Herbal Sachets Tea As A Promotional And Preventive Effort In Cendrawasih Puskesmas City Of MakassarTraditional health services at the Public health center are training for conventional healers and herbal-based traditional medicine. The Traditional Health Independent Care Group is directly fostered by the pharmacist as the head of the pharmaceutical installation. This activity aims to increase participant's knowledge and provide training in making instant powders and herbal tea sachets. counseling on the function of herbs for promotive and preventive diseases and training on making instant powders for hypertension and tea sachets for tuberculosis. Participants in community service activities were 30 people, namely 20 cadres of traditional health self-care groups, and 10 perpetrators of herbal medicine carrying. There was an increase in participant knowledge of 42.86% as measured by a questionnaire. The success of the training is evidenced by direct practical activities from the participants after being given a training demo. Outputs: pack guidebook, guidebook intellectual property rights, instant powder products, and tea sachets in labeled packaging, 3 videos of packaging implementation online on YouTube, and packer articles. The results of the activity can be concluded that there is an increase in the knowledge and skills of the participants.Keywords: herbs, counseling, training, instant powder, tea sachets, herbsPelayanan kesehatan tradisional di puskesmas adalah pembinaan kepada pelaku pengobat konvensional dan pengobatan tradisional berbasis herbal. Kelompok Asuhan Mandiri Kesehatan Tradisional  dibina langsung oleh apoteker sebagai kepala instalasi farmasi.  Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta dan memberikan pelatihan pembuatan serbuk instan dan teh sachet herbal. penyuluhan tentang fungsi herbal untuk promotif dan preventif penyakit dan pelatihan pembuatan serbuk instan untuk hipertensi dan teh sachet untuk tuberkulosis. Peserta kegiatan pengmas 30 orang yaitu 20 kader kelompok     asuhan mandiri kesehatan tradisional, 10 pelaku jamu gendong  Terjadi  peningkatan pengetahuan peserta sebesar 42,86% yang diukur dengan kuesioner. Keberhasilan pelatihan dibuktikan dengan kegiatan  praktik langsung dari peserta setelah diberikan demo pelatihan.  Luaran: buku panduan pengmas, HaKI (hak cipta)  buku panduan, produk serbuk instan dan teh sachet dalam kemasan berlabel,  3 video pelaksanaan pengmas yang telah Online pada Youtube dan artikel pengmas. Hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta.Kata kunci : herbal, penyuluhan, pelatihan, serbuk instan, teh sachet, herbal 
Formulasi dan Uji Mutu Fisik Sediaan Body Scrub Ekstrak Kulit Buah Pepaya (Carica papaya L) dengan Variasi Konsentrasi Trietanolamin Nurul Hikma; Dwi Rachmawati; Sitti Ratnah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v8i2.218

Abstract

Body scrub merupakan sediaan farmasi berupa produk kecantikan yang dapat menghaluskan dan mengangkat sel kulit mati.Penggunaan kulit buah masih jarang karena kulit buahnya dianggap sebagai produk buangan.Kulit pepaya mengandung serat pangan, senyawa fenolik, abu, vitamin C, dan berbagai zat yang terdiri dari kalium, tembaga, dan belerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas mutu fisik sediaan dan mengetahui daya terima sediaan Body scrub dengan variasi konsentrasi trietanolamin melalui uji hedonik. Sediaan Body scrub dibuat 5 formulasi dengan memvariasikan konsentrasi Trietanolamin sebanyak 1%, 2%, 3%, 4% dan 5% setelah itu dilakukan pengujian mutu fisik melalui beberapa pengujian seperti uji organoleptic, uji homogenitas,  uji pH,  uji viskositas, uji daya sebar yang dilanjutkan dengan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan sediaan Body scrub sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat telah homogen, memiliki pH 5,37- 6,61, viskositas 2380-5841 cps, daya sebar 5-6,6 cm serta pengujian statistik menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan di setiap formula. Pada pengujian hedonik sebelum dilakukan penyimpana dipercepat formula 2 memiliki daya terima yang tinggi dan setelah dilakukan penyimpanan dipercepat formula 1 menjadi formula yang memiliki daya terima yang tinggi. Pada pengujian mutu fisik dan hedonic formula 1 dan 2 menjadi formula yang memenuhi kedua persyaratan.