Claim Missing Document
Check
Articles

DAMPAK DAN PENGARUH PENETAPAN DESA WISATA PANTAI ANYER TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN, EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT (STUDI DI DESA KAMASAN KECAMATAN CINANGKA KABUPATEN SERANG) Ribawati, Eko
Estoria: Journal of Social Science and Humanities Vol 3, No 1 (2022): Estoria: Journal of Social Sciences & Humanities
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/je.v3i1.931

Abstract

Pengembangan desa wisata kini telah menjadi alternative pembangunan ekonomi local yang telah diterapkan diberbagai daerah. Salah satu daerah yang dikembangkan sebagai desa wisata merupakan Desa Kamasan. Desa ini terletak di kecamatan Cinangka Kabupaten Serang Provinsi Banten yang tergabung dalam kawasan desa wisata Pantai Anyer. Desa Kamasan memiliki potensi untuk dikembangkan karena bedekatan dengan kawasan wisata Pantai Anyer. Selain itu, di desa ini mampu menjadi daya tarik yang kuat terhadap wisatawan dan juga memungkinkan untuk menjadi objek wisata unggulan misalnya terkait dengan potensi Agro. Kegiatan wisata ini membuka peluang ekonomi sehingga sangat berpengaruh terhadap penghasilan yang mampu dirasakan oleh masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa wisata berbasis pesisir pantai di Desa Kamasan Pantai Anyer masih diperlukan arahan dan strategi kebijakan pengembangan wisata dengan mempertimbangkan potensi lingkungan, budaya dan sosial masyrakat setempat. Pengelolaan wisata berbasis pesisir pantai yang diterapkan saat ini masih memiliki struktur yang sederhana. Selain potensi ekonomi tentunya ada dampak nagatif dari keberadaan pariwisata itu sendiri, diantaranya dampak lingkungan dan sosial. Penumpukan sampah menjadi momok dan permasalahan yang belum terselesaikan hingga kini serta keberadaan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung negative tentunya. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama dari pihak pemerintah daerah, tidak hanya berupa dana tetapi juga pada kegiatan pemberdayaan masyarakat.
EKONOMI PERINDUSTRIAN DAN PERUBAHAN SOSIAL Ardra Dwiastama, Hanan; Khusnul Khotimah, Marsya; Zahidah Setiawan, Farah; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 4 No. 11 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v4i11.3659

Abstract

Perkembangan industri telah menjadi pendorong utama perubahan sosial di banyak negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak ekonomi perindustrian terhadap perubahan sosial dalam masyarakat. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan analisis data sekunder dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi perindustrian telah membawa perubahan signifikan dalam struktur sosial, pola kerja, gaya hidup, dan nilai-nilai budaya masyarakat. Dampak positif seperti peningkatan taraf hidup, kesempatan kerja, dan modernisasi infrastruktur juga dibarengi dengan dampak negatif seperti kesenjangan sosial, masalah lingkungan, dan pergeseran nilai-nilai tradisional. Kesimpulannya, ekonomi perindustrian merupakan faktor penting yang mendorong perubahan sosial, dan pemahaman yang mendalam tentang dampaknya diperlukan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
EKONOMI TRADISIONAL DAN PERUBAHAN SOSIAL Bubun, Bubun; Miftahurrizqi, Auliya; Naura Artianti, Levina; Fatmala, Mutiara; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 4 No. 11 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v4i11.3661

Abstract

Interaksi antara ekonomi tradisional dan perubahan sosial dalam konteks masyarakat yang mengalami modernisasi. Ekonomi tradisional, yang didasarkan pada praktik ekonomi turun-temurun seperti pertanian subsisten, perikanan, dan kerajinan tangan, seringkali menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat pedesaan. Perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari modernisasi, urbanisasi, dan globalisasi membawa dampak signifikan terhadap ekonomi tradisional ini. Studi ini menyoroti bagaimana perubahan teknologi, perubahan pola konsumsi, serta intervensi kebijakan pemerintah mempengaruhi keberlangsungan ekonomi tradisional. Pemahaman tentang dinamika antara ekonomi tradisional dan perubahan sosial sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang mendukung keberlanjutan ekonomi lokal sekaligus mengakomodasi perubahan sosial yang tak terelakkan. Ekonomi tradisional mengacu pada sistem ekonomi yang didasarkan pada adat istiadat, tradisi, dan kepercayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Perubahan sosial mengacu pada perubahan struktur dan fungsi masyarakat yang terjadi seiring berjalannya waktu. Perubahan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk teknologi, kebijakan pemerintah, pendidikan, dan interaksi dengan masyarakat lainnya. Dalam kondisi ekonomi tradisional, perubahan sosial sering kali didorong oleh modernisasi dan globalisasi, yang menghadirkan teknologi baru, metode produksi yang lebih efisien, dan pandangan dunia yang berbeda. Perubahan sosial dalam perekonomian tradisional mempunyai konsekuensi yang signifikan, baik positif maupun negatif.
KEMISKINAN DAN KRIMINALITAS Refki Maulana, Rio; Irmaliya Yasmin, Muthiyah; Faiza Ammara, Meutia; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i2.3955

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik apanage dan bekel terhadap kesenjangan ekonomi dan perlawanan di Jawa. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor sosial ekonomi yang melatarbelakangi anditisme di Jawa, memahami pula keterkaitan sikap dasar perbanditan budaya Jawa dengan kemiskinan dan kriminalitas. Penelitian ini mencoba menggambarkan komprehensif hubungan kemiskinan dan keiminalitas di Jawa dari aspek apanage, bekel, banditisme, latar belakang sisoal ekonomi dan sikap dasar perbanditan.
KRISIS EKONOMI 1998 : KRONOLOGI SAMPAI KEBIJAKAN Pratama Adji, Andi; Hanifa Risanda, Mazaya; Eka Septa, Michell; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.3992

Abstract

Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak awal Juli 1997 dan berlangsung hampir dua tahun kemudian berubah menjadi krisis ekonomi, yang menyebabkan perlambatan ekonomi dengan lebih banyak perusahaan yang tutup dan lebih banyak pekerja yang menganggur. Krisis nilai tukar Indonesia tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan nilai tukar yang sangat tajam, menambah beban utang luar negeri perusahaan swasta dan tingginya inflansi Indonesia. Memang, krisis moneter bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan krisis ini secara keseluruhan. Banyak musibah nasional yang muncul secara bertubi-tubi di tengah tantangan ekonomi, seperti hama, kebakaran hutan besar-besaran di Kalimantan, kegagalan panen padi akibat musim kering yang panjang selama lima puluh tahun terakhir, dan kerusuhan yang melanda banyak kota pada pertengahan Mei 1998 lalu dan kelanjutannya.
PETANI MELAWAN: SEJARAH PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN (GEGER CILEGON 1888) Rijkia Alpianti, Putri; Maulana, Aldi; Mafulah, Lailatul; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.3995

Abstract

Pemberontakan petani merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang mencerminkan perjuangan rakyat melawan penindasan dan ketidak adilan. Artikel ini mengkaji secara mendalam terkait pemberontakan petani di Banten yang dikenal sebagai Geger Cilegon 1888, sebagai studi kasus yang signifikan dalam memahami dinamika sosial-ekonomi dan gerakan perlawanan masyarakat pedesaan pada masa kolonial. Melalui analisis sumber-sumber sejarah dan pendekatan multidisiplin, artikel ini menelusuri akar-akar pemberontakan, mengungkap faktor faktor penyebab utama, seperti kebijakan pemerintah kolonial yang membebankan petani dengan pajak berat, serta praktik-praktik eksploitatif yang merampas hak-hak petani atas tanah dan hasil pertanian mereka. Selain itu, artikel ini juga menyoroti peran tokoh-tokoh penting seperti Haji Wasid dan juga Haji Tubagus Ismail yang memimpin gerakan perlawanan dan mengorganisir aksi protes massal petani diwilayah Cilegon dan sekitarnya. Dengan didukung oleh data-data historis yang kuat, artikel ini mengungkapkan bagaimana pemberontakan petani Banten merupakan menifesti dari akumulasi kekecewaan, ketidakpuasan, dan perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial. Dengan demikian, hasil penelitian ini menjelaskan terkait perspektif yang mendalam dan mencerahkan tentang sejarah pemberontakan petani Banten, sekaligus memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika sosial-politik masyarakat Indonesia pada masa kolonial dan perjuangan para petani dalam memperjuangkan keadilan dan kebebasan.
REVOLUSI HIJAU MASA ORDE BARU Nasywa Azahra, Jihan; Waraprada Khoiri, Tegar; Ayu Puspita, Mei Candra; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.3999

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai revolusi hijau di Indonesia di zaman orde baru. Menurut Pakar Pertanian Indonesia, Dr. Ir. Mohammad Syafii, M.Sc, revolusi hijau adalah suatu gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan secara drastis melalui penerapan teknologi modern dalam budidaya tanaman. Revolusi Hijau di Indonesia merupakan periode penting dalam sejarah pertanian yang terjadi pada masa Orde Baru, sekitar tahun 1960-an hingga 1980-an. Program ini diluncurkan dengan tujuan utama untuk meningkatkan produksi pangan, khususnya beras, guna mencapai swasembada pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor. Metode dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode deskriptif yang diperoleh dari studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa untuk menggalakkan revolusi hijau, pemerintah melakukan berbagai upaya seperti melakukan intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi. Revolusi hijau juga memiliki berbagai dampak negatif serta positif di indonesia terutama pada sektor pertanian.
KRISIS EKONOMI DAN KONDISI MASYARAKAT TAHUN 1965-1966 Alya, Desi; Yanti, Febi; Rizki Rahman, Muhammad Rafi; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.4014

Abstract

Kondisi perekonomian yang buruk menjadi salah satu alasan Demokrasi Terpimpin (1959-1965) gagal di Indonesia. Kondisi ekonomi kala itu menjadi salah satu kondisi terburuk dalam catatan sejarah Indonesia. Pada masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia baru 15 tahun merdeka. Perekonomian masih sangat lemah. Kondisi politik saat itu masih bergejolak. Berbagai pemberontakan terjadi di daerah. Pemberontakan dan gejolak ini membuat aktivitas perekonomian terganggu. Peristiwa 1965 menjadi salah satu catatan hitam Indonesia. Di tahun tersebut, banyak warga mengalami kekerasan, baik dari militer maupun unsur sipil yang disponsori oleh militer. Peristiwa ini diawali dengan penculikan dan pembunuhan para Jendral pada 30 September 1965 (G30S). Partai Komunis Indonesia (PKI) dituding keras menjadi pelaku penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut. Di Jawa, banyak pembunuhan dilakukan oleh simpatisan aliran. Militer mendorong para santri Jawa untuk mencari anggota PKI di antara orang-orang abangan Jawa. Pembunuhan meluas sampai pada orang- orang yang bukan anggota PKI. Becermin dari melebarnya perbedaan sosial di seluruh Indonesia pada 1950-an dan awal 1960-an, di pulau Bali meletus konflik antara para pendukung sistem kasta tradisional Bali melawan orang-orang yang menolak nilai-nilai tradisional itu. Peristiwa Krisis Nasional 1965 menempatkan PKI dan juga pendukungnya sebagai pihak yang kemudian mengalami penghancuran baik oleh pihak aparat keamanan yang mendukung pihak AD dan juga dari musuh-musuh politik PKI di kalangan organisasi Islam yang selama tahun 1960-an mengalami penggayangan oleh PKI.
KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT INDONESIA MENJELANG KEMERDEKAAN (PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG) Rachmawati, Nindya; Berliana, Andri; Ragiel Mulya, Jaka; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.4027

Abstract

Kondisi social ekonomi masyarakat Indonesia mengalami pergeseran besar sebelum Indonesia bebas dari penjajahan Jepang. Pada periode ini, terjadi berbagai transformasi dalam struktur social dan ekonomi, yang berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Penjajahan Jepang memiliki konsekuensi social yang kompleks. Disisi lain, selama masa penjajahan Jepang mereka juga memberlakukan kebijakan untuk memperkuat control mereka atas Indonesia, seperti mengirimkan tenaga kerja untuk kepentingan perang dan mendirikan kelompok pemuda yang dipimpin oleh Jepang. Ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan dengan memonopoli produksi dan distribusi bahan pangan dan sumber daya alam, Jepang mengambil ahli perekonomian Indonesia menyebabkan kelangkaan pangan dan inflasi. Selain itu, sistem ekonomi Jepang memanfaatkan tenaga kerja local untuk kepentingan mereka. Data sekunder dari buku, jurnal, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian digunakan sebagai sumber penelitian. Oleh karena itu, situasi social ekonomi masyarakat menjelang kemerdekaan selama penjajahan Jepang dapat digambarkan sebagai masa yang penuh dengan ketidakpastian dan konflik. Meskipun mereka berharap untuk kemerdekaan, kontrol yang ketat dari Jepang terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat membuat hidup social ekonomi mereka menjadi sulit.
KRISIS EKONOMI DAN KONDISI MASYARAKAT INDONESIA TAHUN 1965-1966 Nurhidayat, Wahyu; Sri Kurnia, Puja; Putri Andayasari, Meliana; Ribawati, Eko
Sindoro: Cendikia Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2024): Sindoro: Cendikia Pendidikan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9644/sindoro.v5i3.4028

Abstract

Krisis ekonomi Indonesia tahun 1965-1966 menjadi titik balik dalam sejarah ekonomi dan politik negara. Penelitian ini melihat krisis dari berbagai sudut pandang, termasuk ekonomi, politik, dan sosial. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan menganalisis berbagai sumber literatur, penelitian ini menemukan penyebab utama krisis, termasuk korupsi yang meluas, kebijakan ekonomi yang tidak terkoordinasi, dan ketidakstabilan politik. Krisis itu memengaruhi stabilitas politik dan sosial serta berbagai sektor ekonomi seperti industri, pertanian, dan perdagangan. Krisis ini juga berdampak pada pergeseran kekuasaan antara Soekarno dan Soeharto, yang dimulai dengan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Respon pemerintah Orde Baru, yang dikenal sebagai Rencana Pembangunan Lima Tahun, sangat penting untuk pemulihan ekonomi dan stabilitas. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya kebijakan ekonomi yang efektif dalam mengelola krisis ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan, meskipun kebijakan ini berhasil secara makroekonomi, tetapi efeknya tidak selalu merata.
Co-Authors Acep Rahmat, Acep Adam Fauzan, Muhammad Adillah, Putry Maharani Afrianto, Muhammad Ridzky Aini, Asri Nul Aisah, Sarah Alya, Desi Ana Nurhasanah, Ana Aprilianti Hasanah, Dwi Ardra Dwiastama, Hanan Arif Permana Putra, Arif Permana Asmunah, Asmunah Aulia Mulyana, Tarra Ayu Puspita, Mei Candra Baitul Maisah, Ari Berliana, Andri Bubun, Bubun Chandra Aditya, Bima Dame Mawarni, Santi Devi Novita Sari Dita Amalia Eka Septa, Michell Elfhani, Nadia Fadillah, Ali Fadillah, M. Ali Fadillah, Moh Ali Fadillah, Muhammad Ramadhan Faiza Ammara, Meutia Faradita, Dira Fatmala, Mutiara Fauzan, Muhammad Shafwan Favian Al Khoza, Re Girindratta Fianka, Azzahra Fitri, Mila Hikmah Hadiwibowo, TB. Umar Syarif Hanifa Risanda, Mazaya Hanitianingrum, Fransisca Ika Alyani, Lalita Ilham Rusdi, Mohammad Ilman Hafiza, Muhammad Fahmi Indah Juwita Sari Irmaliya Yasmin, Muthiyah Jubaedah*, Siti Khusnul Khotimah, Marsya Kirana, Donita Lukmana, Tirta Jaya Lutfiah, Lulu Mafulah, Lailatul Maharani, Afrida Maryuni, Yuni Maryuni, Yuni Maryuni, Yuni Maryuni Maulana Wijaya, Angga Maulana, Aldi Maulidya Hanifah, Zahra Mayla Hadi, Qonita Miftahurrizqi, Auliya Millah, Daiyatul Muhammad Bustomi, Ahmad Muhammad Damar Ilhami, Tubagus Musarofah, Nofa Nashar Nashar Nashar Nashar Nasywa Azahra, Jihan Naura Artianti, Levina Noeriman Achmad Sumantri, Tubagus Noeriman, Tubagus Nofriana, Fenny Nur Afiah, Wilda Nuranisya Fadlah, Siti Nurcahyo, Gunawan Nurhasanah, Apriyani Nurhidayat, Wahyu PERMANA, ARIF Prasadana, Muhammad Anggie Farizqi Pratama Adji, Andi Prayoga, Aditiya Purnawati, Purnawati Putri Andayasari, Meliana Putri, Aulya Putri, Nadia Istiana Rachmawati, Nindya Ragiel Mulya, Jaka Rahmadhina Kamila, Nida Ramliza, Fahri Refki Maulana, Rio Rijkia Alpianti, Putri Rikza Fauzan, Rikza Rizki Rahman, Muhammad Rafi RR. Ella Evrita Hestiandari Rustama, Agus Rustamana, Agus Sabar Wiraguna Sahl, Khansa Hasna Sahroniah, Nur Salsabila, Nela Avrilia Salsabila, Sabrina Solihah Sri Kurnia, Puja Sunardi, Ardi Tanpidiah, Epi Umah, Umah Waraprada Khoiri, Tegar Wibowo, Tubagus Umar Syarif Hadi Wijaya, Sofyan Wulandari Wulandari Yanti, Febi Zahidah Setiawan, Farah