Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBUATAN MINUMAN FERMENTASI KOMBUCHA DARI BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) (KAJIAN BAGIAN BUAH DAN JENIS GULA) Purwanti, Eni; Kusnadi, Joni; Maligan, Jaya Mahar
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

abstrak
IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIMIKROBA EKSTRAK MIKROALGA LAUT TETRASELMIS CHUII (KAJIAN METODE EKSTRAKSI MASERASI, JENIS PELARUT, DAN WAKTU EKSTRAKSI) Maligan, Jaya Mahar; Widayanti, Vindhya Tri; Zubaidah, Elok
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.386 KB)

Abstract

Tetraselmis chuii dikenal sebagai mikroorganisme photoautotroph yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba sebagai metabolisme atau senyawa alelopati. Berkenaan dengan metabolit yang berharga, penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang ekstraksi dan identifikasi senyawa antimikroba oleh T. chuii menggunakan metode maserasi. Pada penelitian, rancangan acak dikerjakan untuk mengekstrak dan mengidentifikasi senyawa antimikroba oleh T. chuii. Dua faktor dan tiga tingkat yang diperlukan dalam penelitian ini. Faktor pertama adalah jenis pelarut (metanol (L1), kloroform (L2), dan aseton (L3)), kedua adalah waktu ekstraksi (24 (T1), 48 (T2), dan 72 (T3) jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis pelarut dan waktu ekstraksi memberikan pengaruh yang signifikan (P<0.05) pada ekstrak hasil senyawa antimikroba. Hasil tertinggi dan terendah ekstrak senyawa antimikroba yang diperoleh di Runs L3T3 dan L2T1 sekitar, 29.92 dan 2.01%. Hasil menunjukkan bahwa diameter tertinggi zona bening diperoleh di Run L2T3, sekitar 14.30; 16.30; 13.33; 14.33 mm E. coli, S. aureus, C. albicans, dan A. flavus. GC-MS digunakan sebagai alat bantu analisa senyawa antimik-roba T.chuii yang meliputi asam lemak (asam 9-hexadecanoic, asam heksadekanoat (asam palmitat), asam 9-octadecenoic), alcane (Docosane, Tricosane, Eicosane, Nonadecena), cycloalcene (Cyclohexene), senyawa ester (asam heksadekanoat (etil ester), asam 1,2-benzenedicarboxylic), senyawa alkohol (Benzil alkohol), dan di-terpenoide (fitol dan 2,6,10 trimetil). Oleh karena itu, didapatkan hasil bahwa perlakuan terbaik dicapai ketika kloroform digunakan sebagai pelarut dengan waktu ekstraksi 72 jam (L2T3) dan menyebabkan diameter zona bening.
Viability of Immobilized Probiotic Bacteria, Bifidobacterium bifidum, Lactobacillus acidophilus and Lactobacilus casei, in an Emulsion of Corn and Their Survival in Subsequent Treatments Maligan, Jaya Mahar; Kusnadi, Joni; Murtini, Erni Sofia
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 7, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.473 KB)

Abstract

The effectiveness of corn oil emulsion as a protective agent for immobilization of probiotic bacteria cells, B. bifidum, L. acidophilus and L. casei and subsequent treatments, i.e. various conditions of storage and processing, was studied. The immobilized cells were subjected to each of the following: storage conditions at low temperatures 4 ± 1 oC and -10 ± 1 oC, at low pH (pH 1.0 and 2.0), bile salts 2% and processing conditions (25% sucrose solution. 10% brine, and heat treatment up to 80 oC). The statistical approach employed in the experiment was the Post Test Only with control Group Design and a paired sample test was then conducted. The results showed that the viability of the tested probiotic bacteria cells varied with the type of bacteria and conditions of storage processing. The immobilization of probiotics in corn oil emulsion has significant effect on the viability of B. bifidum, L acidophilus and L. casei subjected to temperature of -10 ± 1 oC, at low pH (1.0 and 2.0), heating process and 10% brine. Immobilization process has no significant effect on the viabilities of L. acidophilus and L. casei stored at -10 ± 1 oC, of B. bifidum  subjected to bile salts 2% and 25% sucrose solution. Immobilization process in corn oil emulsion was able to retain the probiotics viability as many as 1.12-4.23 log. Therfore, it can be concluded that an emulsion of corn oil is suitable for immobilization media for B. bifidum, L. acidophilus and L. casei protection them during storage at low temperatures, GI tract condition and above mentioned processing conditions. Keywords: Probiotics, viability, immobilization, corn oil emulsion
Hypocholesterolemics Effects of Yam Tuber (Dioscorea hispida Dennst) flour on Male Wistar Rat with Hypercholesterol Diet Maligan, Jaya Mahar; Estiasih, Teti; Sunarharum, Wenny Bekti; Rianto, Thomas
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.338 KB)

Abstract

Yam tuber (Dioscorea hispida Dennst) contains water soluble polysaccharides.  Itis supposed that water soluble polysaccharides from yam functions as bioactivecompound to decrease blood cholesterol level. The hypocholesterolemic effect of watersoluble polysaccharides in yam tuber (Dioscorea hispida Dennst) flour on Wistar rats(Rattus norvegicus) lipid profile was investigated.   A two month old Wistar rats (Rattusnorvegicus) consisted of three groups (P0, P1 and P2) with five rats of each group wereadapted for one week by giving standard diet (AIN-93). P0 group was treated bystandard diet AIN-93M, P1 group was treated by standard diet and force feeding by eggyolk as cholesterol source, whereas P2 were given modified standard diet (AIN-93M withyam tuber flour). The weight and cholesterol level were measured in 4 weeks. Bloodwas drawn from eyes (retro orbital plexus) every week for analyzing cholesterol levels(total cholesterol, HDL, LDL cholesterol and triglycerides). Research showed thatstandard diet (AIN-93M) which is modified with yam tuber flour (P2) could decrease totalcholesterol as much as 15.37 mg/dL, 18.85 mg/dL of total triglycerides, and 14.24mg/dL of LDL-c level. Conversely this modified diet can increase the HDL-c level asmuch as 27.20 mg/dL.Keywords: hypocholesterolaemic, yam tuber flour, lipid profile, hypercholesterol diet,wistar rat
Production and Identification of Antimicrobial Compounds from Microalgae Tetraselmis chuii with Ultrasound Assisted Extraction Method (Study Type of Solvent and Total Cycle Extraction) Maligan, Jaya Mahar; Adhianata, Heni; Zubaidah, Elok
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.501 KB)

Abstract

Pada ekosistem air, mikroalga merupakan penghasil alami energi dan senyawa metabolit potensial. Mikroalga ekstraseluler memiliki fungsi sebagai penghambat dan memicu pertumbuhan senyawa. Tetraselmis chuii memiliki komponen bioaktif seperti asam lemak dan ester yang digunakan sebagai agen antibakteri. Antimikroba adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Proses ekstraksi dipengaruhi oleh metode ekstraksi, berbagai pelarut, dan kondisi ekstraksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan berbagai pelarut dan ekstraksi siklus total terhadap hasil ekstrak Tetraselmis chuii, mengetahui aktivitas antimikroba ekstrak Tetraselmis chuii terhadap S. aureus, E. coli, A. flavus dan C. Albicans, dan mengidentifikasi senyawa bioaktif ekstrak Tetraselmis chuii yang bertindak sebagai agen antimikroba dengan menggunakan metode GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi dihasilkan dari pelarut aseton pada 3 siklus ekstraksi, yaitu sebesar 35.19%. Uji aktivitas antimikroba terbaik menghasilkan ekstrak dari pelarut kloroform dengan ekstraksi 3 siklus dengan diameter zona hambatan 16.43 mm pada S.aureus, 16.07 mm pada E. coli, 15.46 mm di C. albicans, dan 15.8 mm di A.flavus. Senyawa bioaktif dari ekstrak Tetraselmis chuii berpotensi sebagai senyawa antimikroba, termasuk asam lemak, ester, alkohol, keton, benzene, dan alkana.
The Potential of Bioactive Compounds from Corn Silk (Zea mays L.) that Result from Gradual Fractionation Using Organic Solvents for the Use as a Natural Sunscreen Laeliocattleya, Rosalina Ariesta; Prasiddha, Ismizana Jati; Estiasih, Teti; Maligan, Jaya Mahar; Muchlisyiyah, Jhauharotul
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.594 KB)

Abstract

The study aims to determine how the influence of the solvent on the content of bioactive compounds such as phenols, flavonoids, and carotene and also SPF (Sun Protection Factor) value on corn silk extract and how its potential for natural sunscreen. Dried corn silk was macerated using ethanol 96%, extract was fractionated then obtained extract from the fraction of: ethanol soluble (E1), ethanol soluble – n-hexane soluble (E2), ethanol soluble – ethyl acetate soluble (E3), and ethanol soluble – water soluble (E4). Total phenolic contents respectively was 34029.37 ± 1926.61 mg/kg; 358.28 ± 119.79 mg/kg; 9569.64 ± 1494.01 mg/kg; 41751.41 ± 1390.41 mg/kg. Total flavonoid contents respectively was 211.05 ± 3.73 mg/kg; 0 mg/kg; 36.31 ± 3.85 mg/kg; and 274.73 ± 9.24 mg/kg. Total carotene contents respectively was 11.3 ± 0.95 mg/kg; 434.68 ± 86.5 mg/kg; 41.18 ± 7.08 mg/kg; and 3.97 ± 0.41. SPF value determination by In Vitro spectrophotometry performed at two different concentrations (100 ppm and 1000 ppm), there are also controls in the form of commercial sunscreen (K1), β-carotene (K2), and quercetin (K3). The result showed that higher concentration resulted in a higher SPF value. SPF value (1000 ppm) consecutively was 17.30 ± 0.15; 9.97 ± 1.11; 25.38 ± 2.88; and 16.88 ± 2.09 and the controls consecutively was 31.00 ± 0.36; 39.35 ± 0.10; and 39.20 ± 0.06. The presence of various solvents influences on the content of bioactive compounds and also SPF values in each fraction. Although the SPF value from corn silk were lower compared to the controls. However, it is known that corn silk can be used for sunscreen as it belongs to type of ultra protection with SPF>15.Keywords: sunscreen, corn silk, bioactive compounds, SPF
STUDI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KECAMBAH BERAS COKLAT (PERLAKUAN VARIASI KONSENTRASI ELISITOR KITOSAN DAN LAMA ELISITASI) Maligan, Jaya Mahar; Alin, Alin Alin; Wani, Yudi Arimba
REKAPANGAN Vol 11, No 1 (2017): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas antioksidan adalah kemampuan antioksidan dalam menghambat reaktivitas radikal bebas.Faktor yang dapat meningkatkan aktivitas antioksidan salah satunya adalah konsentrasi elisitor kitosan dan lamaelisitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan aktivitas antioksidan dengan variasi konsentrasielisitor kitosan dan lama elisitasi pada kecambah beras coklat. Penelitian ini menggunakan studi eksperimentaldengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu konsentrasi elisitor dan lama elisitasi, terdiridari enam kelompok perlakuan yaitu 100 ppm 12 jam elisitasi, 100 ppm 18 jam elisitasi, 100 ppm 24 jam elisitasi,200 ppm 12 jam elisitasi, 200 ppm 18 jam elisitasi, dan 200 ppm 24 jam elisitasi dengan tiga kali pengulangan.Sampel dalam penelitian ini adalah beras coklat dengan varietas mentik. Uji aktivitas antioksidan menggunakanmetode 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Analisa data menggunakan One way ANOVA dan uji lanjutan Posthoc Tukey untuk mengetahui kelompok perlakuan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatperbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat pada semua kelompok dengan nilai ρ 0,000 (ρ&lt;0,05).Kelompok perlakuan yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi yaitu 200 ppm 12 jam elisitasi sebesar 31,64%,sedangkan kelompok perlakuan yang memiliki aktivitas antioksidan terendah yaitu 100 ppm 18 jam elisitasisebesar 11,68%. Perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah kelompok perlakuan yang memiliki aktivitasantioksidan paling tinggi yaitu 200 ppm 12 jam elisitasi sebesar 31,64%. Kesimpulan dari penelitian ini adalahterdapat perbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat pada kelompok perlakuan. Berdasarkan hasilpenelitian ini, disarankan agar mengkonsumsi sebanyak 100 g/hari kecambah beras coklat sebagai antioksidanyang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.Kata kunci: kecambah beras coklat, konsentrasi elisitor, lama elisitasi, aktivitas antioksidan
Perbedaan Aktivitas Antioksidan Kecambah Beras Coklat (Oryza Sativa L.) Berdasarkan Lama Proses Elisitasi dan Waktu Perkecambahan Maligan, Jaya Mahar; Lestary, Monica; Wani, Yudi Arimba
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.44 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.5

Abstract

Abstrak Antioksidan adalah zat yang dapat menangkal radikal bebas. Salah satu cara meningkatkan aktivitas antioksidan adalah dengan elisitasi dan perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu lama elisitasi dan lama perkecambahan, terdiri dari enam kelompok perlakuan yaitu 12 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 18 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 12 jam elisitasi 36 jam perkecambahan, 18 jam elisitasi 36 jam perkecambahan, dan 24 jam elisitasi 36 jam perkecambahan yang diulang sebanyak tiga kali. Sampel yang digunakan adalah beras coklat varietas mentik. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-Diphenyl-pycryl-hydracil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan pada semua perlakuan dengan nilai p=0,029 (Anova,p<0,05). Perbedaan signifikan pada perlakuan 18 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan dengan perlakuan terbaik 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan sebesar 15,91% Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada masyarakat untuk mengonsumsi kecambah beras coklat sebagai bahan pangan mengandung antioksidan.Kata Kunci: Aktivitas Antioksidan; Kecambah Beras Coklat; Elisitasi; Kitosan; Perkecambahan  AbstractAntioxidants are substances that can counteract free radicals. One way to improve antioxidant activity is the elicitation and germination. This study aims to determine the antioxidant activity of brown rice sprouts based on the length of the elicitation and germination. This study uses an experimental study with a randomized block design (RAK) composed by two factors, elicitation and germination time which consists of six treatments: 12 hours of elicitation 24 hours of germination, 18 hours of elicitation 24 hours of germination, 24 hours elicitation 24 hours of germination, 12 hour elicitation germination 36 hours, 18 hours elicitation germination 36 hours, and 24 hours of elicitation 36 hours of germination were repeated three times. The samples used were Mentik variety brown rice. The antioxidant activity test of this research is the method of DPPH (1,1-Diphenyl-pycryl-hydracil). The results showed that there are differences in antioxidant activity of germinated brown rice based on the length of elicitation and germination in all treatments with p=0.029 (ANOVA, p<0.05). There are significant differences in treatment 18 hours of elicitation 24 hours of germination and 24 hours elicitation 24 hours of germination with the best treatment that is 24 hours elicitation 24 hours of germination with the antioxidant activity of 15.91%. It is concluded that there is a difference in the antioxidant activity of germinated brown rice based on the length of elicitation and germination. Based on the research results, it is suggested to the public to consume germinated brown rice as foodstuffs containing antioxidantsKeywords: Antioxidant Activity; Germinated Brown Rice; Elicitation; Chitosan; Germination
Studi Preferensi Konsumen terhadap Nasi Putih dan Nasi Jagung Putih pada Pekerja Wanita di Kantor Pemerintah Kota Malang Maligan, Jaya Mahar; Pratiwi, Devitasari Dian; Widyaningsih, Tri Dewanti
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.571 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2019.006.01.5

Abstract

Ketergantungan bangsa Indonesia terhadap konsumsi beras cukup tinggi ketika jumlah produksi beras turun. Diperlukan sebuah upaya untuk mengatasi masalah ketergantungan terhadap komoditas beras dan bahan impor lainnya. Kegiatan diversifikasi dapat digunakan untuk mencari alternatif bahan pangan pokok alternatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan preferensi konsumen pada produk nasi jagung putih dan nasi putih, pengaruh aspek sensori terhadap keputusan pembelian produk beras jagung putih untuk dijadikan sebagai pangan pokok alternatif, serta karakteristik kimia nasi jagung putih dan mengetahui potensi produk beras jagung sebagai pangan pokok alternatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk data laboratorium, metode dependent T-test untuk analisis data organoleptik, dan metode regresi linier berganda untuk mengetahui aspek sensori terhadap keputusan pembelian produk. Hasil pengujian organoleptik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat kesukaan responden terhadap produk nasi putih dengan nasi jagung putih. Sampel nasi jagung putih mengandung protein sebesar 2,73%; lemak 0,08%; kadar air 77,52%; kadar abu 0,62%; karbohidrat 19,04%; total gula 1,66%; serat pangan 19,53%; dan total energi sebesar 87,84%. Hasil keputusan pembelian produk terhadap aspek kenampakan, cita rasa, dan tekstur dihasilkan bahwa aspek cita rasa nasi jagung putih sangat berpengaruh dalam keputusan pembelian produk. Sebanyak 60,67% responden menyatakan bahwa beras jagung putih berpotensi untuk dijadikan pangan pokok alternatif dan proporsi beras jagung putih:beras putih yang dapat dikonsumsi dan diterima oleh responden adalah sebesar 30,4 : 69,6..Kata Kunci: Jagung Putih, Preferensi konsumen, Diversifikasi, Pangan PokokAbstractThe dependence of Indonesian citizen on rice is quite high when the amount of rice production falls. To overcome this problem, efforts are needed to reduce this dependence on rice and other imported food ingredients. Diversification can be used to find other staple food alternatives. The purpose of this study was to determine the comparison of consumer preferences on products of white corn rice and white rice, the effect of sensory aspects on the purchasing decision of white corn rice products as a staple food alternative, the chemical characteristics of white corn rice, and finding the potential of white corn rice products as a staple food alternative. This study used descriptive method for laboratory data, dependent T-test method for organoleptic data analysis, and multiple linear regression method to determine the sensory aspects of product purchasing decisions. The organoleptic test results showed that there were significant differences in the respondents' preference for white rice and white corn rice. The sample of white corn rice contains 2.73% protein; 0.08% fat; 77.52% moisture content; 0.62% ash content; 19.04% carbohydrate; 1.66% total sugar; 19.53% food fiber; and 87.84% total energy. The result of product purchase decisions on aspects of appearance, taste, and texture showed that the taste aspect of white corn rice is very influential in product purchasing decisions. As many as 60.67% of respondents stated that white corn rice has the potential to be used as an alternative staple food and the ratio of white corn rice : white rice that can be consumed and received by respondents was 30.4: 69.6.Keywords:  White corn, Consumer preference, Diversification, Staple food  
INTRODUKSI TEKNOLOGI MEKANIS PADA USAHA BUDIDAYA DAN OLAHAN JAMUR TIRAM DI 2 UKM KOTA BATU Jaya Mahar Maligan; Edyson Edyson

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.127 KB) | DOI: 10.35891/tp.v7i3.520

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengintroduksikan teknologi mekanis  dalam proses efisiensi pengisian baglog pada UKM Indie Jamur dan efisiensi pembuatan adonan  cair (batter) dan tepung serta teknologi pengolahan penyedap rasa jamur pada UKM Agronusa  Mushroom. Selain itu dilakukan sosialisasi Good Agriculture Practise (GAP) pada budidaya  jamur di UKM Indie Jamur dan Good Manufacturing Practices (GMP) pada proses pengolahan  produk berbasis jamur tiram putih di UKM Agronusa Mushroom. Dengan adanya alih  teknologi mekanis pengisian baglog dengan introduksi mesin pengisi baglog di UKM Indie  Jamur, terjadi peningkatan efisiensi waktu pengisian baglog. Setelah kegiatan IbM proses  persiapan baglog bisa dipercepat menjadi 1-2 hari. Selain itu, alih teknologi mekanis juga  diaplikasikan pada UKM Agronusa Mushroom yaitu dengan introduksi mesin pengaduk  adonan, mixer dan penambahan freezer untuk produksi lumpia, risoles, dan keripik jamur tiram.  Efisiensi pengadukan tepung dan penyalutan jamur meningkat menjadi 20 menit, sedangkan  pengadukan batter meningkat menjadi 15 menit. Sosialisasi dan pendampingan GAP dan GMP  juga telah dilaksanakan pada kedua mitra. Kata kunci: UKM, jamur tiram putih, introduksi teknologi    
Co-Authors Addiena Hidayati Addiena Hidayati, Addiena Alan Hafiludin Alin, Alin Alin Anna Nur Hidayati Anna Nur Hidayati, Anna Nur Annisa Ayu Pratiwi ARIF HIDAYAT Ayu Nur Aida Ayuningtyas Putri Marditia Ayuningtyas Putri Marditia, Ayuningtyas Putri Bayu Rahayudi Bihanda, Yusuf Gladiensyah Catur Setya Budi Rini Catur Setya Budi Rini, Catur Setya Budi Chairunnisa, Fitri Deonicia Clara Surya Rawi Rorre Deonicia Clara Surya Rawi Rorre, Deonicia Clara Surya Rawi Diah Ratnasari Dr.Ir. Yunianta, DEA Edyson Indawan Ega Parastra Maurinho Ega Parastra Maurinho, Ega Parastra Eka Novanti Eka Novanti, Eka Elok Zubaidah Elok Zubaidah Eni Purwanti Eni Purwanti, Eni Erni Sofia Murtini Eva Putri Arfiani fafa nurdyansyah, fafa Fatchurrahman, Danial Feronika Heppy Sriherfyna Fithri Choirun Nisa Gloria Daniela Ticoalu Hani Rachmayati Hanif, Muhamad Ibnu Harijono Harijono Hasbullah, Umar Hafidz Asy’ari Heni Adhianata, Heni Henita Listianing Raji Putri Henita Listianing Raji Putri, Henita Listianing Raji Hernanto, Danang Pratomo Ika Agustin Puspita Sari Ika Agustin Puspita Sari, Ika Agustin Puspita Ismizana Jati Prasiddha Ismizana Jati Prasiddha Iva Tsalissavrina Jatmiko Eko Witoyo Jayawarsa, A.A. Ketut Jhauharotul Muchlisyiyah, Jhauharotul Joni Kusnadi Kemala Febrianti Khairanny, Neysa Nurjananah Khaqiqi, Taib Kosasih, Swandayani Utami Lailina Mufida Leenawaty Limantara Leni Mitasari Lestary, Monica Lionny Candra Dewi Mar'atus Soleha Maulida Alexianingrum Mega Leny Puspitasari Megy Wida Fitria Mochamad Bagus Hermanto Mochamad Nurcholis Muhammad Naufal Arisyi Muhammad Naufal Arisyi, Muhammad Naufal Nadya Prabaningtias Nelsy Dian Permatasari Nimas Mayang Sabrina Sunyoto Novita Wijayanti Nur Ida Panca Nugrahini Nur, Mokhamad Nuraini, Nabila Nurian Prayoga Nurian Prayoga, Nurian Nurul Abidah Nurul Asthami Nydia Fitriah Sari Ovrida Wahyu Nilasari Panggulu Ahmad Ramadhani Utoro Pratiwi, Devitasari Dian Puspitasari, Ninda Ayu Putri, Salma Rana Rahayu, Aldila Putri Ria Dewi Andriani Rini Yulianingsih Rischa Ayu Fathiya Robby Nasrul Sani Rodhia Dara Albike Rodhia Dara Albike, Rodhia Dara Rosalina Ariesta Laeliocattleya Rosalina Ariesta Laeliocattleya, Rosalina Ariesta Rosyidah Yuniarrachmah Rosyidah Yuniarrachmah, Rosyidah Shinta Chandra Rahmawati Shinta Chandra Rahmawati, Shinta Chandra Sigit Adinugroho SIMON BAMBANG WIDJANARKO Siti Asmaul Mustaniroh Siti Asmaul Mustaniroh Siti Narsito Wulan Sudarma Dita Wijayanti Sudarminto Setyo Yuwono Tara Viantya Wulansari Teti Estiasih Teti Estiasih Thomas Rianto Tri Dewanti Widyaningsih Ujianti, Rizky Muliani Dwi Umiyati, Rini Vindhya Tri Widayanti Vindhya Tri Widayanti, Vindhya Tri Vivianinda, Ange Risna Wahono Hadi Susanto Wenny Bekti Sunarharum Widya Dwi Rukmi Putri Wiranti Dewi Sentiani Wiranti Dewi Sentiani, Wiranti Dewi YOGA DWI JATMIKO Yossi Hendrawan Saraswanta Yudi Arimba Wani Yudi Arimba Wani, Yudi Arimba Yuita Arum Sari YUNIANTA YUNIANTA Zefanya Anggono, Nathania