Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

Kadar Mangiferin Pada Lima Kultivar Pucuk Daun Mangga (Mangifera indica L.) Tri Cahyanto; Afriansyah Fadillah; Risda Arba Ulfa; Rizal Maulana Hasby; Ida Kinasih
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 13, No 2 (2020): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v13i1.14810

Abstract

AbstrakPemanfaatan pucuk daun mangga (Mangifera indica L.) oleh masyarakat menjadi lalapan dan dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional. Hal ini merupakan suatu proses kearifan lokal berdasarkan pengalaman empiris orang-orang terdahulu yang kemudian dijadikan kajian studi ilmiah, yaitu etnobotani. Kajian studi etnobotani termasuk pemanfaatan pucuk daun mangga sebagai lalapan masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa bioaktif termasuk mangiferin yang terkandung dalam lima kultivar mangga. Sampel kultivar mangga yang digunakan dalam penelitian antara lain Manalagi, Arum manis, Cengkir, Gedong apel dan Golek. Metode penelitian yang digunakan yaitu skrining fitokimia dan pengukuran kadar senyawa mangiferin dengan HPLC. Hasil penelitian menunjukkan sampel positif mengandung senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Kadar senyawa mangiferin paling tinggi secara berurutan terdapat pada kultivar Arum manis (20,83%), Manalagi (20,56%), Gedong apel (18,54%), Cengkir (15,10%), dan Golek (5,05%). Kultivar mangga Arum manis memiliki kadar mangiferin paling tinggi, untuk selanjutnya dapat dikaji pemanfaatannya sebagai obat herbal tradisional. Abstract Utilization young leaf of mango (Mangifera indica L.) by the community as lalapan and it is believed to be efficacious as traditional medicines. This process through of local wisdom based on empirical experience of conservative people used as a scientific study, namely ethnobotany. Ethnobotany studies include the use of mango leaf shoots as fresh vegetables are still rarely performed.This study aims to determine bioactive compounds including mangiferin contained in five cultivars of mango. Mango cultivar samples used in this study include Manalagi, Arum manis, Cengkir, Gedong apel and Golek. The research method used was phytochemical screening and measurement of mangiferin compounds by HPLC. The results showed a positive sample containing bioactive compounds, alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The highest levels of mangiferin compounds were found in Arum manis (20.83%), Manalagi (20.56%), Gedong apel (18.54%), Cengkir (15.10%) and Golek (5.05%). Arum manis cultivars has highest value of mangiferin levels, which can be explored for their use as traditional herbal medicines.
Pengaruh Pemberian Campuran Pakan dan Perbedaan Rasio Seks pada Pertumbuhan dan Tingkat Reproduksi Jangkrik Ciriling (Grillus mitratus Burm.) Ida Kinasih; Astuti Kusumorini; Tri Cahyanto; Nurmina Arofah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 6, No 1 (2013): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.156 KB) | DOI: 10.15408/al-kauniyah.v6i1.2831

Abstract

Cricket is commonly use as feedstuf for fishes and birds. However, most of market demand for this insect fulfilled by natural harvest. Since they could be an alternative nonconventional protein source for livestock industry, it is needed to develop methods for high cricket biomass production such as find their suitable food plants. During this research, Ciriling cricket (Grillus mitratus Burm.) was fed with various plants and mated with different sex ratio. Pakchoi (Brassica sinensis L.), papaya (Carica papaya L.), and carrot (Daucus carota L.) was combined with common commercial fed of cricket. Changes in food consumption, nymph mortality, body size, egg production, and egg hatching rates were measured in order to find best fed combination and sex ratio. The result showed that combination of standard fed with pakchoi preferred by cricket and produced best growth, highest egg production and egg hatching rates while ratio sex of  1:3 (male:female) produced highest number of eggs and best egg hatching rates.
Dampak Aplikasi Border Plant Pada Sistem Budi Daya Mentimun (Cucumis sativus L.) Terhadap Interaksi dengan Serangga Penyerbuk dan Kualitas Buah yang Dihasilkan Fitria Nur Aisyah; Yeyet Setiawati; Ida Kinasih; Ramadhani Eka Putra
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.18840

Abstract

AbstrakPenelitian yang bertujuan untuk melihat dampak aplikasi border plant (bunga kenikir, Cosmos suphureus) pada proses penyerbukan pada tanaman produksi (dengan tanaman mentimun sebagai model) oleh serangga liar maupun serangga domestikasi telah dilakukan. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap aktivitas dari serangga penyerbuk dalam bentuk jumlah kunjungan per bunga (Visitation Rate, (VR)) dan waktu yang dihabiskan pada bunga (Flower Handling Time, (FHT)) serta dampak dari aktivitas tersebut terhadap kualitas dari buah yang ditentukan berdasarkan panjang, diameter, dan bobot buah yang dihasilkan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangga penyerbuk yang mengunjungi bunga mentimun pada sistem border plant adalah Tetragonula laeviceps, Apis cerana, Xylocopa confusa, dan Xylocopa latipes sedangkan pada perlakuan non-border plant (kontrol) adalah Tetragonula laeviceps dan Apis cerana. Aktivitas serangga pada sistem border plant adalah VR dari T. laeviceps, A. cerana, X. confusa, dan X. latipes berturut-turut adalah 29,75%; 13%; 6,25%; dan 9,5% serta (2) FHT adalah 0,39; 12,09; 0,20; dan 0,19 detik. Sementara itu, nilai VR pada perlakuan non-border plant bagi A. cerana dan T. laeviceps adalah 13,5% dan 4% dengan nilai FHT sebesar 0,14 dan 0,92 detik. Kualitas terbaik buah mentimun terdapat pada kelompok perlakuan border plant dengan panjang buah 18,3 cm, diameter 36,9 cm, dan bobot 171,9 gram sedangkan kualitas buah terendah diperoleh pada perlakuan non-border plant dengan panjang buah 10,2 cm, diameter 29,2 cm dan bobot 77,6 g.AbstractThis study was conducted to investigate the impact of using border plant (Cosmos suphureus) on the interaction between crop (cucumber, Cucumis sativus) and pollinating insects, either wild or domesticated. The observation was conducted on the activities of the pollinating insects in term of number of visitation per flower (Visitation Rate (VH)) and times spend in flower (Flower Handling Time (FHT)) and the quality of the harvested products (length, diameter, and weight). The pollinating insects found at area with application of border plant consisted of Tetragonula laeviceps, Apis cerana, Xylocopa confusa, and Xylocopa latipes, while insects found at area without border plant were Tetragonula laeviceps and Apis cerana. The insect activity of T. laeviceps, A. cerana, X. confusa, and X. latipes for observation of (1) VR were 29.75%, 13%, 6.25%, and 9.5%, respectively and (2) FHT were 0.39 s, 12.09 s, 0.20 s, and 0.19 s, respectively. On the other hand, VR of A. cerana and T. laeviceps at non-border treatment area were 13.5% and 4%, respectively, and the FHT were 0.14 s and 0.92 s, respectively. The highest quality of cucumber produced was found at area with border plant treatment with fruit length of 18.3 cm, diameter of 36.9 cm, and weight of 171.9 grams. Meanwhile, the lowest fruit quality was obtained in the non-border plant treatment with fruit length of 10.2 cm, diameter of 29.2 cm and weight of 77.6 grams. 
Perbedaan Keanekaragaman dan Kelimpahan Araknida Antar Zonasi Gua di Kawasan Karst Tasikmalaya Isma Dwi Kurniawan; Ida Kinasih; Tri Cahyanto; Hilda Ayu Emalia; Nida Hidayaturrohmah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.18816

Abstract

AbstrakAraknida merupakan kelompok fauna yang umum dijumpai di gua dan berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem gua. Kelompok fauna ini dapat ditemukan di seluruh zona gua baik terang, remang, maupun gelap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keanekaragaman dan kelimpahan araknida berdasarkan zonasi gua. Pengambilan data dilakukan di 3 gua yang terletak di kawasan Karst Tasikmalaya, yaitu Gua Sarongge, Liang Boeh, dan Liang Seungit. Pencuplikan araknida dilakukan dengan teknik hand collecting, sedangkan penghitungan individu dengan direct counting. Selain itu, dilakukan pengukuran parameter abiotik yang terdiri dari suhu udara, suhu tanah, kelembapan udara, kelembapan tanah, dan intensitas cahaya. Data dianalisis dengan uji indeks similaritas Jaccard, one-way ANOVA, Kruskal Wallis, dan Canonical correlation analysis. Terdapat 311 individu araknida tergolong dalam 3 ordo dan 7 morfospesies yang berhasil dikoleksi. Mayoritas araknida tergolong kategori adaptasi troglofil. Terdapat kemiripan komposisi spesies yang tinggi antara zona remang dan gelap (indeks similaritas 0,833) dibandingkan kemiripan keduanya dengan zona terang (0,571 dan 0,429). Kelimpahan individu araknida antar zona tidak berbeda secara signifikan. Mayoritas spesies memiliki preferensi habitat dengan kondisi intensitas cahaya rendah dan kelembapan tinggi.AbstractArachnid is one of the cave-adapted fauna with diverse cave representatives and plays a vital role in maintaining ecosystem balance. This group is widely distributed in all cave zonation, namely entrance, twilight, and dark zones. This study aimed to reveal the difference in diversity and abundance of arachnids in different caves zonation. The study was carried out in three caves situated in Tasikmalaya karst region, namely Sarongge, Liang Boeh, and Seungit. Arachnids were sampled through hand collecting, while abundance was estimated through direct counting. Air and soil temperatures, relative humidity, soil moisture, and light intensity were also measured. Data were analysed through Jaccard’s similarity index, one-way ANOVA, Kruskal Wallis, and CCA. In total, 311 individuals belonged to 3 orders and 7 morphospecies were identified. Most observed morphospecies were categorized as troglophiles. There was a great degree of similarity in species composition between twilight and dark zones (similarity 0.833) compared to entrance zone (0.571 and 0.429, respectively). Meanwhile, abundance was relatively similar. Most species prefer habitats with low light intensity but high humidity. 
Diet, Feed Preferences, and Nutritional Intake of Hylobates albibarbis in Transit Cage BKSDA Kalimantan Tengah Adisty Virakawugi Darniwa; Ida Kinasih; Nurul Aulia Fitri
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 16, No 2 (2023): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v16i2.27817

Abstract

AbstractHylobates albibarbis is a type of small primate that lives on the island of Borneo with a characteristic black face and white hair on the eyebrows, cheeks, and chin that resembles a beard. H. albibarbis feeding management is important in conservation efforts on ex-situ conservation because of animal welfare. This study aims to determine the composition of the diet, feed preferences and nutritional intake of feed given to H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya-Central Kalimantan Office for Conservation of Natural Resources (named Balai Konservasi Sumber Daya Alam-BKSDA) under the Directorate of Conservation of Natural Resources and Ecosystems of the Ministry of Environment & Forestry of the Republic of Indonesia. The methods used are focal animal sampling and restricted feeding observed in individual male adult and infant of H. albibarbis. The observations show that the feed preferred by adult H. albibarbis was the Ambon banana (98.21%) and the least preferred was the Kepok banana (74.26%). Otherwise, in infants H. albibarbis the most preferred feed was papaya (93.43%), and the least preferred feed was Ambon banana (58.10%). The average daily feed intake for adult H. albibarbis was 658.52 g, and for infant was 378.16 g. H. albibarbis in transit cage at the Palangka Raya BKSDA office, Central Kalimantan had good growth and healthy physical condition assumed from their body weight and length.AbstrakHylobates albibarbis merupakan kera kecil yang hidup di Pulau Kalimantan dengan ciri khas wajah berwarna hitam dan rambut berwarna putih pada alis, pipi, dan dagu yang menyerupai janggut. Pengelolaan pakan H. albibarbis penting dalam upaya konservasi dengan konservasi ex-situ untuk kesejahteraan hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi pakan, preferensi pakan, dan asupan nutrisi pakan yang diberikan pada H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan adalah focal animal sampling dan restricted feeding pada individu jantan dewasa dan jantan bayi H. albibarbis. Observasi dilakukan dalam durasi 12 jam selama 31 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pakan yang disukai H. albibarbis dewasa adalah pisang Ambon (98,21%) dan yang tidak disukai adalah pisang Kepok (74,26%). Pakan yang disukai bayi H. albibarbis adalah pepaya (93,43%) dan yang tidak disukai adalah pisang Ambon (58,10%). Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis dewasa adalah 658,52 g. Total asupan pakan harian untuk H. albibarbis bayi adalah 378,16 g. H. albibarbis di kandang transit kantor BKSDA Palangka Raya Kalimantan Tengah memiliki pertumbuhan yang baik dan kondisi fisik yang sehat berdasarkan berat badan dan panjang tubuhnya.
Efisiensi Penyerbukan Tetragonula laeviceps Pada Budi Daya Tumpang Sari Tomat Dan Mentimun Di Greenhouse Putra, Ramadhani Eka; Novitasari, Novitasari; Rosmiati, Mia; Husna, Inayati Zakiyatun; Setiyarni, Eka; Kinasih, Ida
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.29769

Abstract

AbstrakPenyerbukan oleh serangga liar merupakan salah satu servis ekosistem yang tidak dapat diperoleh oleh sistem pertanian tertutup. Hal tersebut mungkin dapat digantikan oleh lebah yang didomestikasi, seperti lebah tidak bersengat (Tetragonula laeviceps). Pada penelitian ini, koloni T. laeviceps diuji coba sebagai sistem tumpang sari tomat (Lycopersicon esculentum L.) dan mentimun (Cucumis sativus L.)  yang ditanam pada greenhouse. Kesuksesan penyerbukan diamati pada 100 tangkai bunga tomat dan mentimun oleh koloni T. laeviceps yang ditempatkan pada greenhouse, kemudian dibandingkan dengan kesuksesan penyerbukan pada sistem budi daya yang terdapat di luar greenhouse (penyerbukan terbuka). Untuk dapat menjelaskan peran dari T. laeviceps sebagai penyerbuk maka dilakukan juga pengamatan pada tingkat kunjungan lebah, laju kunjungan, dan waktu yang dihabiskan pada bunga. Efek lanjutan dari proses penyerbukan seperti diameter, panjang, bobot, dan jumlah biji juga diamati dan dibandingkan antara kelompok yang dibudidayakan di dalam dan di luar greenhouse. Efisiensi penyerbukan dan kualitas buah tomat yang dihasilkan di luar greenhouse secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan aplikasi lebah tidak bersengat di dalam greenhouse. Efisiensi penyerbukan mentimun dengan T. laeviceps (14%) sangat rendah dibandingkan dengan penyerbukan terbuka (73%), namun kualitas buah yang dihasilkan lebih tinggi walaupun tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Di sisi lain, efisiensi penyerbukan tomat dengan T. laeviceps (45%) sangat rendah dibandingkan dengan penyerbukan terbuka (80%), dengan kualitas buah jauh lebih rendah. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa T. laeviceps dapat diaplikasikan sebagai agen penyerbuk pada sistem greenhouse, namun belum dapat menggantikan keuntungan dari variasi dari agen penyerbuk (biotik dan abiotik) yang terdapat pada sistem budi daya di sistem terbuka. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk mendesain sistem produksi buah di dalam greenhouse yang berkesinambungan melalui aplikasi servis penyerbukan.AbstractClosed system farming system is lack of natural pollination service which might solve the by application of domesticated bees, such as stingless bees (Tetragonula laeviceps) as pollination agent. This hypothesis was tested in this study in which T. laeviceps was applied as pollination agent of tomato (Lycopersicon esculentum L.) and cucumber (Cucumis sativus L.) cultivated as companion plants inside the greenhouse. During this study, pollination efficiency and its effect on fruit quality (such as dimension, weight, and seed numbers) of application of T. laeviceps as a pollination agent were compared to natural pollination systems outside the greenhouse (open pollination). The variables were observed on 100 flowers of both tomato and cucumber cultivated inside and outside greenhouse. The efficiency of pollination by T. laeviceps (14%) on cucumber was significantly lower than open pollination (73%) and the quality of the fruit produced was lower although insignificant. On the other hand, the efficiency of pollination by T. laeviceps (45%) on tomato was also significantly lower than open pollination (80%) and the quality of the fruit produced was significantly lower. Based on this study, although stingless bees have great potency to be applied as pollinators for cultivated crops inside a greenhouse, they still do not completely replace the benefit of pollinator diversity (biotic and abiotic). Furtherly, this study could be applied as a foundation to design a sustainable fruit production inside greenhouse by applying the pollination services. 
Co-Authors Abdul Rosyad Achadiyani Adawiyah, Ayuni Adin, Adriyanita Adisty Virakawugi Darniwa Afriansyah Fadillah Agus Dana Permana Agus Dana Permana Ahmad Sopian, Ahmad Alfariana Margareta Ana Widiana Ana Widiana Anggita Rahmi Hafsari, Anggita Rahmi ANJARNISA RUSTAM, FAJRINA Ardyanty, Putry Asep Komarudin Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna Ateng Supriyatna, Ateng Azkia, Syifa Raisatul Damanik, Naomi Florenata Dewangga, Rezha Tanu Farah Aini Adiba Fatmalasari, Yenyen Finsa Firlana Gusmara Fitria Nur Aisyah Gunawan, Fikri Iqlilah Hani Hidayah Hermawan, Endang Hery Purnobasuki Hilda Ayu Emalia Hufaizah, Pajar Husna, Inayati Zakiyatun Intan Josefin Purba Julio Subagio Kamilah, Mutiara Mila Kurniawan, Isma Dwi Latama, Zahra Nabila Leksikowati, Sovia Santi Lia Faridah Listia Wati Sophia Margareta, Alfariana Mohamad Agus Salim Mohamad Agus Salim Muhammad Efendi, Muhammad Muhammad Yusuf Nurhadi Nida Hidayaturrohmah Novitasari Novitasari Novitasari Nurmina Arofah Nurul Aulia Fitri Nurulfah, Auliya Oktaviani, Indah Putra, Ramadhani R.C. Hidayat Soesilohadi Raeka Okata Soebakti Rahmat Taufik MA Rahmawati, Tiara Ramadan, D Beta Ramadhani Eka Putra Ramadini Aini Anitasari Rasyid, Sayyidah RIKA RAFFIUDIN Risda Arba Ulfa Risda Arba Ulfa Rizal Maulana Hasby, Rizal Maulana Roma Nugraha Rusputa Rosmiati, Mia Rusdy Syachrul Nugraha Samsul Sulaeman Sari, Anggraeni Arum Sari, Dian Anggria Savira Ekawardhani Setiyarni, Eka SETYARNI, EKA Tri Cahyanto Tri Cahyanto Ucu Julita, Ucu Yani Suryani Yani Suryani Yeyet Setiawati Yuni Kulsum ZAKIYATUN USNA, INAYATI Zhia Rizki Ardian