Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pembuatan Artikel Jurnal Nasional Terakreditasi dan Internasional Bereputasi Sebagai Implementasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Sukendar, Astria Yulia Satyarini; Raissa, Amanda; Michael, Tomy
Fajar: Media Komunikasi Dan Informasi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 20 No. 1 (2020)
Publisher : Center of Community Service (PPM), Institute for Research and Community Services (LP2M) UI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jf.v20i1.20324

Abstract

A journal is a scientific work that is owned by one or several people who are competent in their field and published by an agency (institution). Journals have an urgency for the world of education, especially at the tertiary level. Journals are always renewable because each year there will be new journals that can be used as references to write scientific papers or scientific papers. This is the reason why it is very important for education actors to know and understand about accredited national journals and international journals. The existence of training on the making of accredited and internationally reputed journal articles is an implementation of Law of the Republic of Indonesia Number 20 of 2003 concerning the National Education System. Keywords: Journal Training, Accredited National Journal,  International Journal Abstrak:Jurnal merupakan karya ilmiah yang dimiliki oleh seorang atau beberapa orang yang berkompeten di dalam bidangnya dan diterbitkan oleh suatu instansi (lembaga). Jurnal memilki urgensi bagi dunia pendidikan khususnya di tingkat perguruan tinggi. Jurnal selalu bersifat terbarukan karena setiap tahunnya akan ada jurnal-jurnal baru yang dapat dijadikan referensi untuk menulis suatu karya ilmiah atau pun tulisan ilmiah. Hal ini menjadi alasan mengapa sangat penting seorang pelaku pendidikan untuk mengetahui dan memahami tentang jurnal nasional terakreditasi mau pun jurnal internasional. Adanya pelatihan pembuatan artikel jurnal nasional terakreditasi dan internasional bereputasi ini sebagai implementasi dari Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kata kunci: Pelatihan Jurnal, Jurnal Nasional Terakreditasi, Jurnal Internasional Bereputasi
Peraturan Desa Dalam Perspektif Keaktifan Masyarakat (Pengabdian Masyarakat di Koalisi Perempuan Indonesia Jawa Timur) Michael, Tomy
ABDIMAS NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. No 2 (2020): ABDIMAS NUSANTARA (Januari)
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas Islam Majapahit

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan penduduk di Indonesia yang semakin pesat membuat eksistensi desa harus tetap dijaga. Desa diartikan sebagai masyarakat hukum dalam suatu kesatuan yang mempunyai zonasi wilayah dan kepadanya diberi kewenangan mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Dari definisi tersebut, desa pada akhirnya memiliki penyelenggaraan urusan pemerintahan (disebut pemerintahan desa) dan kepala desa dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa (pemerintah desa). Menggunakan pola tatap muka dimana, peneliti memberikan penjelasan, tanya jawab dan praktik membuat rancangan peraturan desa. Pengabdian masyarakat ini dilakukan kepada peserta yang terdiri dari Perempuan Koalisi Perempuan Indonesia Jawa Timur. Pengabdian masyarakat ini menghasilkan kesimpulan melalui data yang diolah sebelumnya sehingga menghasilkan tulisan jurnal ini dimana perempuan KPI cenderung memiiki sifat aktif akan terciptanya perlindungan hukum atas hak-hak kaum perempuan di desa. Mereka menginginkan sanksi yang ketat bagi siapapun yang melanggar peraturan desa atau pemilik kewenangan namun sanksi yang ketat seharusnya diberikan melalui peradilan adat.
Pengaturan Hukum terhadap Frasa ‘Penduduk yang Agamanya Belum Diakui’ dalam Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Amelia, Vina; Michael, Tomy
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4322

Abstract

Isu pengaturan hukum mengenai status agama di Indonesia merupakan topik penting mengingat masyarakat Indonesia yang sangat beragam dari segi keyakinan. Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah penggunaan frasa “penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan” dalam sejumlah regulasi. Frasa ini memiliki konsekuensi hukum yang signifikan karena berkaitan langsung dengan pemenuhan hak asasi manusia, khususnya hak atas kebebasan beragama sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 serta berbagai instrumen hukum nasional lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk pengaturan terhadap frasa tersebut dalam berbagai aturan hukum di Indonesia sekaligus menganalisis implikasi yang ditimbulkannya bagi individu yang menganut agama atau kepercayaan di luar enam agama yang secara administratif diakui negara. Metode yang digunakan adalah pendekatan normatif yang berfokus pada analisis dokumen hukum, termasuk undang-undang, peraturan pemerintah, putusan pengadilan, dan doktrin hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun konstitusi Indonesia menegaskan jaminan kebebasan beragama, implementasi pengakuan tersebut masih menghadapi ambiguitas. Frasa mengenai agama yang belum diakui seringkali menimbulkan ketidakpastian bagi pemeluk kepercayaan atau agama minoritas, terutama dalam urusan administrasi kependudukan, hak sipil, dan perlindungan hukum. Kondisi ini berpotensi menyebabkan diskriminasi terselubung dan pelanggaran terhadap prinsip persamaan di hadapan hukum. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya penyempurnaan regulasi dengan melakukan klarifikasi hukum yang lebih tegas serta memperkuat jaminan perlindungan bagi seluruh pemeluk agama dan kepercayaan. Perlu adanya harmonisasi peraturan dan kebijakan agar prinsip kebebasan beragama benar-benar terwujud dalam sistem hukum Indonesia.
Penerapan Asas Ultimum Remidium Terhadap Implikasi Kerjasama Pemanfaatan Barang Milik Daerah Yang Mengalami Kerugian Naftali, Angel May Marta; Michael, Tomy
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4359

Abstract

Penerapan asas ultimum remedium dalam pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) memiliki urgensi tinggi, terutama ketika kerja sama pemanfaatan BMD menimbulkan kerugian bagi keuangan daerah. Asas ini menempatkan hukum pidana sebagai upaya terakhir setelah mekanisme administratif, perdata, dan penyelesaian internal ditempuh secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana asas ultimum remedium diterapkan dalam menangani kerugian yang timbul dari kerja sama pemanfaatan BMD, serta mengevaluasi efektivitas instrumen non-pidana dalam memulihkan kerugian dan mencegah kriminalisasi kebijakan. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan menelaah peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan BMD, perjanjian kerja sama, serta doktrin hukum administrasi dan pidana. Hasil analisis menunjukkan bahwa kerugian yang timbul akibat kesalahan administratif, kelalaian pegawai, atau ketidakseimbangan perjanjian seharusnya diselesaikan melalui mekanisme administratif seperti penilaian kembali nilai aset, renegosiasi kontrak, penjatuhan sanksi administratif, Penerapan hukum pidana hanya dapat dilakukan apabila terdapat bukti kuat mengenai kesengajaan, penyalahgunaan wewenang, atau perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian negara secara nyata, sebagaimana diatur dalam regulasi tindak pidana korupsi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan ultimum remedium tidak hanya relevan dalam konteks hukum pidana, tetapi juga strategis dalam memperkuat manajemen aset daerah dan mencegah penyelesaian yang terburu-buru melalui jalur pidana yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan menghambat inovasi kebijakan di daerah.
PERTANGGUNGJAWABAN NEGARA DALAM PENCEGAHAN PEROMPAKAN DI PERAIRAN INDONESIA Rohmanullah, Nuzul Maulana; Michael, Tomy
COURT REVIEW Vol 5 No 06 (2025): ILMU HUKUM
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY (KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/cr.v5i06.2560

Abstract

Kejahatan perompakan (piracy) di laut lepas telah lama diakui sebagai hostis humani generis (musuh seluruh umat manusia), yang memberikan kewenangan kepada setiap negara untuk menangkap dan menyita kapal perompak di luar yurisdiksi negara manapun, sesuai dengan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 Pasal 105. Meskipun kewenangan penegakan hukum ini bersifat universal, pelaksanaannya tunduk pada batas-batas hukum internasional. Jurnal ini menganalisis secara mendalam kerangka hukum yang mengatur kewenangan penyitaan dan menyoroti ketentuan krusial mengenai tanggung jawab negara penyita. Fokus utama diletakkan pada Pasal 106 UNCLOS 1982, yang secara eksplisit mengatur tanggung jawab negara penyita atas kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penyitaan yang dilakukan tanpa alasan yang memadai (without adequate grounds). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi keseimbangan antara kebutuhan untuk memberantas perompakan dan kewajiban negara untuk menghormati kedaulatan negara bendera serta hak-hak pemilik kapal yang sah di bawah rezim tanggung jawab negara.