Irawan Mangunatmadja
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

Published : 51 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Perbandingan Full Outline of Unresponsiveness Score dengan Glasgow Coma Scale dalam Menentukan Prognostik Pasien Sakit Kritis Rismala Dewi; Irawan Mangunatmadja; Irene Yuniar
Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.113 KB) | DOI: 10.14238/sp13.3.2011.215-20

Abstract

Latar belakang. Penilaian kesadaran penting dilakukan pada pasien anak dengan sakit kritis untuk memperkirakanprognosis. Modifikasi Glasgow Coma Scale (GCS) banyak digunakan untuk menilai kesadaran tetapi memilikiketerbatasan terutama pada pasien yang diintubasi. Terdapat skor alternatif baru yaitu Full Outline ofUnResponsiveness score (FOUR score) yang dapat digunakan untuk menilai kesadaran pasien terintubasi.Tujuan. Membandingkan FOUR score dengan GCS dalam menentukan prognosis pasien kritis, sehinggapemeriksaan FOUR score dapat digunakan sebagai alternatif pengganti GCS.Metode. Penelitian prospektif observasional pada anak usia di bawah 18 tahun yang dirawat di Unit PerawatanIntensif Anak RSCM dengan penurunan kesadaran. Waktu penelitian antara 1 Januari – 31 Maret 2011.Masing-masing subjek dinilai oleh 3 orang supervisor berbeda yang bekerja di Unit Perawatan Intensif Anak.Ketiga penilai diuji reliabilitas dalam menilai FOUR score dan GCS. Dibandingkan sensitivitas, spesifisitas, danreceiver operating characteristic (ROC) kedua sistem skor terhadap luaran berupa kematian di rumah sakit.Hasil. Reliabilitas tiap pasangan untuk FOUR score (FOUR 0,963; 0,890; 0,845) lebih baik daripadamodifikasi GCS (GCS 0,851; 0,740; 0,700). Terdapat hubungan yang bermakna antara besar skor danluaran kematian di rumah sakit dengan (pFOUR score = pGCS = 0,001). Nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksipositif dan negatif serta rasio kemungkinan positif masing-masing adalah 93%; 86%; 88%; 92%; 6,6. Areaunder curve (AUC) FOUR score 0,854 dan GCS 0,808Kesimpulan. Prediksi prognostik pada pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Anak dengan FOURscore lebih baik dibandingkan GCS.
Hemofilia A dengan Komplikasi Epilepsi Pasca Perdarahan Intrakranial Irma Rochima Puspita; Pustika Amalia; Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.2.2006.159-62

Abstract

Seorang bayi laki-laki berumur 9 bulan dengan hemofilia A dirawat di RS Dr.Ciptomangunkusumo Jakarta epilepsi pasca perdarahan intrakranial akibat trauma dikepala. Adanya perdarahan intrakranial dipastikan oleh pemeriksaan CT Scan kepala.Diagnosis hemofilia A ditegakkan pada waktu penderita mengalami perdarahanintrakranial, sedangkan diagnosis epilepsi ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan EEG.Pengobatan yang diberikan kepada penderita pada saat terjadinya perdarahan intrakranialialah konsentrat faktor VIII karena penderita alergi terhadap kriopresipitat. Tindakanbedah tidak dilakukan karena orang tua pasien menolak. Asam valproat diberikan untukpengobatan epilepsi.
Profil Darah Tepi pada Anak dengan Infeksi Dengue Citra Raditha; Alan Roland Tumbelaka; Irawan Mangunatmadja; Taralan Tambunan; Najib Advani; Rosalina Roeslani
Sari Pediatri Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.54 KB) | DOI: 10.14238/sp15.1.2013.23-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue merupakan infeksi Arbovirus tersering pada manusia. Insiden global dari infeksi ini telah meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Perjalanan penyakit sulit diperkirakan, dan derajat penyakit bervariasi mulai dari yang bersifat asimtomatik sampai dengan syok.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kombinasi parameter darah tepi dengan derajat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.Metode. Penelitian deskriptif analitik pada anak sepsis umur 1-18 tahun yang dirawat di Departemen. Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, RS Fatmawati, dan RS Harapan Kita. Penelitian dilakukan dari November 2010 – April 2011. Pemeriksaan darah tepi berupa trombosit, leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan limfosit plasma biru dilakukan secara berkala tiap hari, dan pemeriksaan serologi hari ke-5 demam pada setiap subjek. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan kombinasi parameter darah tepi dengan derajat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.Hasil. Terdapat 100 subyek penelitian, terdiri dari 50 DD, 30 DBD derajat I dan II, dan 20 SSD antara bulan November 2010-April 2011. Pada demam hari ke-3, terjadi penurunan jumlah trombosit, leukosit, serta peningkatan nilai hemoglobin, dan hematokrit. Jumlah limfosit plasma biru mengalami peningkatan sejak awal demam. Analisis diskriminan menemukan persamaan antara kombinasi trombosit, hematokrit, leukosit dengan derajat berat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence yaitu y= -6,089 - 0,020 x trombosit (dalam 103) + 0,152 x hematokrit + 0,22 x leukosit (dalam 103). Prediksi diagnosis DD jika memiliki nilai diskriminasi -3,06047 hingga -0,20671, DBD derajat I-II jika nilai diskriminasi -0,25809 hingga 0,78855, dan SSD jika nilai diskriminasi 0,45226 hingga 2,80560.Kesimpulan. Penelitian ini menemukan hubungan antara kombinasi trombosit, hematokrit, leukosit dengan derajat berat infeksi dengue pada saat time of fever defervescence.
Karakteristik Klinis Trauma Kepala pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Msy Rita Dewi MS; Irawan Mangunatmadja; Yeti Ramli
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.354-8

Abstract

Latar belakang. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab anak dibawa ke rumah sakit. Pada umumnyatrauma terjadi karena kecelakaan lalu lintas. Di Amerika sekitar 300.000-400.000 anak dirawat karenacedera. Di Indonesia hanya ada data sporadis.Tujuan. Mendapatkan gambaran karakteristik klinis pada anak dengan cedera kepala di RS Dr. CiptoMangunkusumo.Metode. Studi deskriptif retrospektif dengan data sekunder diambil dari data catatan medik dari bulanJanuari 2004 - Juli 2005.Hasil. Selama kurun waktu penelitian ditemukan jumlah kasus trauma kepala pada anak usia <15tahun 503 kasus. Usia terbanyak antara umur 6-10 tahun, rasio laki-laki: wanita adalah 1.7: 1. Keluhanterbanyak adalah nyeri kepala (25,6%), dan muntah (20,9%). Mekanisme cedera banyak yang tidakdiketahui (61,6 %). Skala koma Glasgow (SKG) 13-15 yang paling banyak dijumpai (91,8%), gangguansaraf kranialis dan gangguan motorik (1,2%), dan Jejas hematom 9,5%. Pemeriksaan radiologiksederhana jarang dikerjakan. Enam puluh persen pemeriksaan rawat inap, 61% dan 36,4% hiduptanpa cacat.Kesimpulan. Kasus trauma kepala pada anak usia <15 tahun, lebih sering terjadi pada anak laki-lakidibanding anak perempuan kelompok usia terbanyak antara 6-10 tahun. Fraktur tengkorak dan perdarahanintrakranial jarang terjadi pada anak-anak
Pendekatan Klinis Berbagai Kasus Neurologi Anak yang Membutuhkan Pemeriksan Pencitraan Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.85-90

Abstract

Kelainan saraf pada bayi dan anak relatif sering ditemukan, hampir 20 – 30% pasienrawat inap maupun rawat jalan merupakan kasus neurologis.1 Pada umumnya anak dibawaoleh orang tua berobat akibat gangguan fungsional yang dialaminya, gangguanperkembangan, gangguan kesadaran, kelumpuhan ekstremitas, kelumpuhan saraf otak,kejang dan lain-lain. Anamnesis terarah tentang riwayat penyakit, perkembangan,pemeriksaan fisis pediatrik, pemeriksaan neurologik yang teliti akan sangat membantumenentukan diagnosis fungsional, gangguan anatomik, dan perkiraan etiologik kelainansaraf yang dihadapi.1 Untuk menegakkan diagnosis pasti diperlukan pemeriksaanpenunjang paling sederhana sampai yang paling canggih, seperti transiluminasi kepala,pemeriksaan darah tepi, cairan serebrospinalis, elektroneurofisiologi (elektroensefalografi,potensial cetusan, dan elektromiografi), pemeriksaan pencitraan, patologi anatomi danlain-lainnya.
Angka Kejadian Koagulasi Intravaskular Diseminata pada Pneumonia Marissa Tania Stephanie Pudjiadi; Mardjanis Said; Irawan Mangunatmadja; Hidra Irawan Satari; H F Wulandari; Murti Andriastuti
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.752 KB) | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.52-6

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan balita di negara berkembang. Sitokin pada pneumonia yang diproduksi akibat inflamasi paru secara berlebihan. Sehingga menyebabkan kaskade koagulasi sistemik teraktivasi yang berakhir pada trombosis sistemik yang akan menyebabkan keadaan kritis dan seringkali berakhir dengan kematian. Tujuan.Mengetahui profil koagulasi dan prevalensi koagulasi intravaskular diseminata (KID) pada pasien pneumonia yang dirawat inap.Metode. Studi deskriptif analitik dengan desain potong lintang dilakukan di ruang rawat Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM antara 1 Februari 2010 sampai 28 Februari 2011.Hasil. Tiga puluh enam persen subjek penelitian mengalami trombositopenia, 13,4% mengalami pemanjangan protombine time (PT), dan 19,6% mengalami penurunan kadar fibrinogen. Didapatkan 83,5% subjek penelitian memiliki kadar D-dimer yang tinggi dan 64,9% di antaranya meningkat sangat tinggi. Kejadian KID 17,5% subjek dan seluruhnya mengalami perdarahan. Pada 88,2% pasien KID mengalami trombositopenia dengan rasio prevalens 32,5 (95% IK 6,70-157,57).Kesimpulan. Profil koagulasi pasien pneumonia yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM 36% mengalami trombositopenia, pemanjangan PT 13,4%, penurunan kadar fibrinogen 19,6%, dan peningkatan kadar D-dimer 83,5% . Koagulasi intravaskular diseminata terjadi 17,5% (17/97) pasien pneumonia yang dirawat.
Kualitas Hidup Anak Epilepsi dan Faktor–Faktor yang Mempengaruhi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta Winny N Wishwadewa; Irawan Mangunatmadja; Mardjanis Said; Agus Firmansyah; Soedjatmiko, Soedjatmiko,; Bambang Tridjaja
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.272-9

Abstract

Latar belakang. Epilepsi merupakan penyakit kronik yang dapat mempengaruhi kualitas hidup anak di masa depan. Saat ini penelitian untuk menilai kualitas hidup anak epilepsi masih terbatas.Tujuan. Melakukan penilaian faktor-faktor klinis, demografi, psikososial dan obat anti epilepsi (OAE) yang mempengaruhi kualitas hidup anak epilepsi dengan menggunakan instrumen Quality of life in childhood epilepsy questionnaire-parent form (QOLCE).Metode. Penelitian dilaksanakan di Poliklinik Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam kurun waktu Desember 2007 sampai April 2008. Terkumpul 68 orang responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan melakukan wawancara secara langsung oleh peneliti.Hasil. Jumlah serangan kejang dalam 6 bulan terakhir (faktor klinis), usia anak dan jumlah anak dalam keluarga (faktor demografi), kecemasan orang tua (faktor psikososial) mempengaruhi kualitas hidup anak epilepsi. Jumlah obat anti epilepsi (OAE) berkorelasi dengan komponen restriksi fisik pada fungsi fisik yaitu semakin sedikit jumlah OAE semakin tidak dibatasi aktivitas fisiknya.Kesimpulan. Kualitas hidup anak epilepsi dipengaruhi oleh jumlah serangan kejang dalam 6 bulan terakhir, usia anak, jumlah anak dalam keluarga, kecemasan orang tua, dan jumlah OAE. Pengenalan dini terhadap gangguan kualitas hidup pada anak epilepsi dapat memperbaiki kualitas hidup di masa depan.
Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus Herlina Herlina; Nia Kurniati; Titis Prawitasari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Sri Rezeki Hadinegoro; Irawan Mangunatmadja; Darmawan B. Setyanto
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.100-5

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 
Vitamin D levels in epileptic children on long-term anticonvulsant therapy Fathy Pohan; Aryono Hendarto; Irawan Mangunatmadja; Hartono Gunardi
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 3 (2015): May 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.149 KB) | DOI: 10.14238/pi55.3.2015.164-70

Abstract

Background Long-term anticonvulsant therapy, especially with enzyme inducers, has been associated with low 25-hydroxyvitamin D [25(OH)D] levels and high prevalence of vitamin D deficiency. However, there have been inconsistent results in studies on the effect of long-term, non-enzyme inducer anticonvulsant use on vitamin D levels.Objective To compare 25(OH)D levels in epileptic children on long-term anticonvulsant therapy and non-epileptic children. We also assessed for factors potentially associated with vitamin D deficiency/insufficiency in epileptic children.Methods This cross-sectional study was conducted at two pediatric neurology outpatient clinics in Jakarta, from March to June 2013. Subjects in the case group were epileptic children, aged 6-11 years who had used valproic acid, carbamazepine, phenobarbital, phenytoin, or oxcarbazepine, as a single or combination therapy, for at least 1 year. Control subjects were non-epileptic, had not consumed anticonvulsants, and were matched for age and gender to the case group. All subjects’ 25(OH)D levels were measured by enzyme immunoassay.Results There were 31 epileptic children and 31 non-epileptic control children. Their mean age was 9.1 (SD 1.8) years. Most subjects in the case group were treated with valproic acid (25/31), administered as a monotherapy (21/31). The mean duration of anticonvulsant consumption was 41.9 (SD 20) months. The mean 25(OH)D level of the epileptic group was 41.1 (SD 16) ng/mL, lower than the control group with a mean difference of 9.7 (95%CI 1.6 to 17.9) ng/mL. No vitamin D deficiency was found in this study. The prevalence of vitamin D insufficiency in the epileptic group was higher than in the control group (12/31 vs. 4/31; P=0.020). No identified risk factors were associated with low 25(OH)D levels in epileptic children.Conclusion Vitamin D levels in epileptic children with long-term anticonvulsant therapy are lower than that of non-epileptic children, but none had vitamin D deficiency.
Academic achievement of junior high school students with sleep disorders Fijri Auliyanti; Rini Sekartini; Irawan Mangunatmadja
Paediatrica Indonesiana Vol 55 No 1 (2015): January 2015
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.706 KB) | DOI: 10.14238/pi55.1.2015.50-8

Abstract

Background Sleep disorders are prevalent in adolescents and may influence their academic achievement. To date, no study has been done in Indonesia on academic achievement in students with sleep disorders and its related factors. Objective To assess for relationships between academic achievement and related factors, including gender, motivation and learning strategies, IQ level, maternal educational level, socioeconomic status, family structure, after-hours education program, presence of TV/computer in the bedroom, sleep duration during school days, as well as bedtime and wakeup time difference in junior high school students with sleep disorders. Methods This cross-sectional study was performed from January to March 2013. Subjects were students from five junior high schools in Jakarta who fulfilled the criteria for sleep disorders based on the Sleep Disturbance Scale for Children questionnaire. Results There were 111 study subjects. The prevalence of sleep disorders was 39.7%, mostly in difficulties initiating and maintaining sleep (70.2%). Below-average academic achievement was seen in 47.6% of subjects. Factors significantly related to below-average academic achievement were after-hours education program (prevalence ratio 5.6; 95%CI 1.36 to 23.18; P = 0.017), average IQ level (prevalence ratio 3.26; 95%CI 1.38 to 7.71; P = 0.007), and male gender (prevalence ratio 2.68; 95%CI 1.06 to 6.78; P = 0.037). Conclusion Among junior high school students with sleep disorders, factors related to below-average academic achievement are afterhours education program (more than 2 types), the average IQ level, and male gender.
Co-Authors A. C. Van Huffelen Abdul Latief Adrian Prasetya Sudjono Agatha Geraldyne Agung Putra Agung Triono Agus Firmansyah Agus Firmansyah Agus Firmansyah Alan Roland Tumbelaka Alifiani H. Putranti Aman Pulungan Amanda Seobadi Andreas, Yana Anna Tjandradjani Anton Dharma Saputra Antonius H. Pudjiadi Antonius Pudjiadi Aryono Hendarto Asep Aulia Rachman Ayuningtyas, Talitha Rahma Bambang Tridjadja, Bambang Bambang Tridjaja AAP, Bambang Tridjaja Budiati Laksmitasari Citra Raditha Conny Tanjung Cut Nurul Hafifah Daisy Widiastuti Danu, Nugroho Darlan, Dewi M. Darmawan B. Setyanto Daulay, Rini S. Deasy Grafianti Dedy Rahmat Dheeva Noorshintaningsih Dina Indah Mulyani, Dina Indah Dini Prima Utami Dwi P. Widodo Dwi Putro Widodo Dwi Putro Widodo Dwi Putro Widodo E S Herini Elisabeth Siti Herini Endang Windiastuti Eva Devita Harmoniati Evita Bermansyah Ifran Fathy Pohan Fatmawaty Fatmawaty Fijri Auliyanti H F Wulandari Hardiono D Pusponegoro Hardiono D. Pusponegoro Hardiono D. Pusponegoro Hardiono D. Pusponegoro, Hardiono D. Hartono Gunardi Hartono Gunardi Haryanti Fauziah Wulandari Herlina Herlina Hidra Irawan Satari Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara I. Budiman Idham Amir, Imral Chair Inez Ayuwibowo Sangwidjojo Iqbal Taufiqqurrachman Irene Yuniar, Irene Irma Rochima Puspita Iskandar Japardi Isman Jafar Ismy, Jufitriani Jasin, Madeleine Ramdhani Joanna Erin Hanrahan KHOIRUL ANAM Kristian Kurniawan Lenny S. Budi Lily Rundjan Luh Karunia Wahyuni, Luh Karunia Mardjanis Said Mardjanis Said Marissa Tania Stephanie Pudjiadi Masayu Rita Dewi Melinda Harini Merci Monica br Pasaribu Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulyadi M. Djer Murti Andriastuti, Murti Muzal Kadim Nahari Arifin Najib Advani Nastiti Kaswandani Nia Kurniati Nur Hayati Pamungkas, Indra Parmaditya Partini Pudjiastuti Trihono Purboyo Solek Pustika Amalia Pustika Amalia Putri, Armitha Putri, Shally Adhina Adhina R. H. J. M Gooskens Rachmawati, Elvie Zulka Kautzia Rafli, Achmad Rina W Sundariningrum Rinawati Rohsiswatmo Rini Sekartini Risma Kerina Kaban Rismala Dewi Rizal Agus Tiansyah Ronny Suwento, Ronny Rosalina Roeslani Rosary Rosary Rulina Suradi Rulina Suradi Rulina Suradi Rusda, Muhammad Safarina G. Malik Santoso, Dara Ninggar Sari, Teny T. Setyanto, Darmawan Budi Setyo Handryastuti Setyo Handryastuti Setyo Handryastuti Setyo Handryastuti, Setyo Sisca Silvana, Sisca Soebadi, Amanda Soedjatmiko Soepardi Soedibyo Sri Rezeki Hadinegoro Sri Sofyani, Sri Sudigdo Sastroasmoro Sudjatmiko Sudjatmiko Sudung O Pardede, Sudung O Sudung O. Pardede Sudung O. Pardede, Sudung O. Sukman Tulus Putra Sukmono, Suryawati Susanti Himawan Tantri, Aida Rosita Taralan Tambunan Taralan Tambunan Taralan Tambunan Taralan Tambunan Tatang M. Puspandjono Teny Tjitra Sari Titis Prawitasari, Titis Tri Lestari Handayani Tuty Victor Prasetyo Poernomo Vimaladewi Lukito Wahyuni Indawati, Wahyuni Wicaksono, Yuda Satrio Winny N Wishwadewa Wulandari, Harjanti F Wulandari, Harjanti F Yazid Dimyati Yeti Ramli Yeti Ramli Yuliarti, Klara Zizlavsky, Semiramis