Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Riwayat Keluarga, Berat Bayi Lahir, Usia Gestasi, dan Riwayat Konsumsi Susu Formula dengan Penyakit Refluks Gastroesofagus pada Bayi Usia 3 Minggu – 12 Bulan Puthisari Zonya Jannata; Yusri Dianne Jurnalis; Muhammad Hidayat
Sari Pediatri Vol 23, No 3 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.3.2021.178-84

Abstract

Latar belakang. Penyakit Refluks Gastroesofagus (PRGE) merupakan kondisi isi lambung kembali ke esofagus atau orofaring kemudian menimbulkan gejala dan/atau komplikasi pada bayi. Patofisiologi PRGE tidak terlepas dari adanya berbagai faktor risiko pada bayi, seperti riwayat keluarga dengan PRGE, berat bayi lahir, usia gestasi, dan riwayat konsumsi susu formula.Tujuan. Mengetahui hubungan riwayat keluarga PRGE, berat bayi lahir, usia gestasi, dan riwayat konsumsi susu formula dengan PRGE pada bayi usia 3 minggu – 12 bulan di Puskesmas Andalas.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada Februari-Maret 2021 terhadap 82 bayi usia 3 minggu – 12bulan di Puskesmas Andalas, Padang. Data didapatkan dengan wawancara orang tua bayi menggunakan kuesioner PRGE IDAI dan kuesioner GERD-Q yang sebelumnya sudah menandatangi lembar persetujuan orang tua. Hasil. Bayi usia 3 minggu-6 bulan dan berjenis kelamin laki-laki paling banyak didapat PRGE. Hasil uji chi-square didapatkan riwayat keluarga PRGE (p=0,455), berat bayi lahir (p=0,029), usia gestasi (p=0,022), dan riwayat konsumsi susu formula (p=0,033) Hasil analisis regresi logistik didapatkan riwayat konsumsi susu formula menjadi faktor paling dominan dengan kejadian PRGE pada bayi dengan OR=3,210. Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara berat bayi lahir, usia gestasi, dan riwayat konsumsi susu formula dengan kejadian PRGE pada bayi.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Anti-Hbs pada Anak Sekolah Dasar Setelah 10-12 Tahun Imunisasi Hepatitis B Di Kota Padang Lydia Aswati; Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Hafni Bachtiar
Sari Pediatri Vol 14, No 5 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.896 KB) | DOI: 10.14238/sp14.5.2013.303-8

Abstract

Latar belakang. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan global. Risiko kronis hepatitis B akan jauh lebih besar apabila infeksi terjadi pada awal kehidupan dibandingkan usia dewasa. Imunisasi merupakan cara efektif mengontrol infeksi hepatitis B sampai saat ini. Anak yang diimunisasi memperoleh proteksi selama 5-10 tahun. Kadar anti-HBs protektif adalah ≥10 mIU/ml. Apabila daya proteksi setelah pemberian imunisasi pada masa bayi tidak dapat melindungi sampai dewasa, maka booster seharusnya diberikan pada umur prasekolah atau remaja.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar anti-Hbs pada anak SD setelah 10 -12 tahun imunisasi hepatitis BMetode. Penelitian cross sectional dari bulan Januari sampai Maret 2011 pada 110 anak SD di kota Padang yang berusia 10-12 tahun dan telah mendapatkan 3 kali imunisasi hepatitis B saat bayi. Analisis data menggunakan Chi-square dengan tingkat kemaknaan p=0,05Hasil. Dari 110 sampel didapatkan kadar anti-Hbs <10 mIU/ml dan ≥10 mIU/ml masing-masing 58 (52,7%) dan 52 (47,3%) orang. Umur 12 tahun didapatkan kadar anti-Hbs ≥10 mIU/ml (35%). Semua subyek mempunyai gizi baik. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar anti-Hbs dengan jenis kelamin (p= 0,399) dan dengan jadwal imunisasi (p= 0,364).Kesimpulan. Subyek yang berumur lebih besar mempunyai kadar anti-HBs protektif lebih rendah. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, jadwal imunisasi dengan kadar anti_HBs setelah 10-12 tahun imunisasi Hepatitis B.
Occult Infection pada Anak Setelah 10 Tahun Mendapat Imunisasi Hepatitis B Asrawati Asrawati; Yusri Dianne Jurnalis; Yanwirasti Yanwirasti
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.179 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.343-348

Abstract

Latar belakang. Occult hepatitis B infection (OBI) adalah suatu keadaan ditemukannya deoxyribose-nucleic acid (DNA) virus Hepatitis B (VHB) pada pemeriksaan HBsAg negatif. Mutasi pada preS2/S menyebabkan sekresi HBsAg menurun sehingga kadar HBsAg dalam serum terlalu rendah yang menyebabkan HBsAg tidak terdeteksi. Virus hepatitis B cenderung mengalami mutasi sebab tidak memiliki sistem koreksi selama replikasi karena tidak adanya 3’,5’exonuclease untuk mengkoreksi kesalahan insersi nukleotida saat transkripsi balik.Tujuan. Mengetahui insiden occult infection setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B.Metode. Penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional study pada anak sekolah dasar di Kota Padang dengan jumlah subjek penelitian 40 anak.Hasil. Jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki dan status gizi baik lebih banyak dari status gizi kurang. Insiden occult infection ditemukan 10% pada anak setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B. Tidak terdapat hubungan antara antiHBs dengan occult infection.Kesimpulan. Occult infection pada anak setelah 10 tahun mendapat imunisasi hepatitis B adalah 10 %.
Pengaruh Pemberian Dadih Terhadap Keseimbangan Mikroflora Usus dan Tinggi Vili Ileum Yusri Dianne Jurnalis
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.207-12

Abstract

Latar belakang. Saat ini dikembangkan paradigma baru bahwa probiotik dapat menjadi suplemen terapi diare. Di Sumatera Barat sendiri dikenal probiotik tradisional, yaitu dadih yang merupakan produk susu kerbau fermentasi.Tujuan. Menilai pengaruh pemberian dadih terhadap keseimbangan mikroflora dan tinggi vili ileum mencit diare yang diinduksi dengan Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC).Metode. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan randomized post test only control group. Sampel adalah 30 ekor mencit diinduksi dengan bakteri EPEC. Penelitian dilakukan pada Juni 2016 sampai Mei 2017.Hasil. Rerata total koloni bakteri asam laktat (BAL) meningkat pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif (p<0,05). Rerata total koloni bakteri patogen dan E.coli menurun pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif dan kontrol negatif (p=0,001). Tinggi vili ileum tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Namun, pada kelompok perlakuan gambaran histopatologis menunjukkan destruksi epitel hanya 30% dan terjadinya reaksi imunologis terhadap infeksi EPEC dibuktikan dengan ditemukannya proliferasi limfoid dilapisan submukosa vili ileum.Kesimpulan. Terdapat pengaruh pemberian dadih terhadap keseimbangan mikroflora, tetapi tidak berpengaruh pada tinggi vili ileum.
Analisis Kesintasan Gejala Gastrointestinal dengan Luaran Pasien Anak Terkonfirmasi Covid-19 Yusri Dianne Jurnalis; Utari Gustiany Gahayu; Diyas Anugrah; Revi Rilliani; Zulfahmi Zulfahmi; Ricvan Dana Nindrea
Sari Pediatri Vol 23, No 4 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.4.2021.255-61

Abstract

Latar belakang. Data nasional menunjukkan proporsi kasus konfirmasi Covid-19 pada usia 0-18 tahun mencapai 12,5% yang artinya 1 dari 8 kasus konfirmasi Covid-19 adalah anak. Data IDAI menunjukkan Case Fatality Rate akibat Covid-19 pada anak mencapai 3-5%. Gejala gastrointestinal pada Covid-19 dapat terjadi tanpa didahului oleh gejala pernapasan. Anak lebih sering menunjukkan gejala gastrointestinal dibandingkan orang dewasa.Tujuan. Untuk mengetahui gejala gastrointestinal terhadap luaran pasien anak terkonfirmasi Covid-19.Metode. Penelitian ini merupakan kohort retrospektif di ruang isolasi Covid-19 RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan selama bulan Mei 2020-Mei 2021. Populasi penelitian adalah semua pasien anak yang terkonfirmasi Covid-19 di RSUP M. Djamil yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Teknik pengambilan sampel diambil dari data rekam medik dengan minimal 24 sampel.Hasil. Berdasarkan gejala gastrointestinal ditemukan bahwa konstipasi, diare, nyeri perut dan perdarahan saluran cerna tidak berhubungan dengan luaran pasien Covid-19 anak yang dirawat (p>0,05). Namun terdapat hubungan muntah dengan luaran pasien Covid-19 anak yang dirawat (p<0,05). Selain itu, ditemukan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata lama rawatan dengan luaran pasien Covid-19 anak yang dirawat (p>0,05).Kesimpulan. Pada penelitian ini, pasien dengan gejala gastrointestinal terbukti sebagai prediktor terjadinya prognosis buruk dari pasien anak Covid- 19 yang dirawat.
Hubungan Kadar Docosahexaenoic Acid Terhadap Perlemakan Hati Non Alkoholik Remaja Obesitas Dhina Lidya Lestari; Yusri Dianne Jurnalis; Hirowati Ali
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.82-7

Abstract

Latar belakang. Penyakit hati berlemak non alkohol (NAFLD) adalah penyakit yang ditandai dengan timbunan lemak yang signifikan di hepatosit dari parenkim hati yang menyebabkan kerusakan hati berupa peradangan. Prevalensi NAFLD meningkat seiring dengan meningkatnya obesitas pada anak dan remaja. Docosahexaenoic acid (DHA) merupakan salah satu pengobatan farmakologis untuk NAFLD dan belum ada data terbaru yang spesifik untuk pengukuran DHA pada anak NAFLD. Tujuan. Menganalisis hubungan DHA dengan NAFLD , dan mengukur nilai DHA setiap derajat NAFLD. Metode. Lima puluh delapan remaja obesitas (31 laki-laki, 27 perempuan), berusia 14-18 tahun yang terpantau di kota Padang, sejak Juni – Juli 2017. Penelitian ini bersifat observasional cross sectional. Hasil. Tidak ada perbedaan jenis kelamin yang diamati pada NAFLD. Indeks massa tubuh pada kelompok NAFLD lebih tinggi daripada non-NAFLD 30,30±4,21kg/m2 vs 28,70±2,65 kg/m2. Pengukuran derajat penyakit perlemakan hati non alkohol dengan hasil USG masing-masing derajat ringan, sedang dan berat adalah 12(37,5%), 15(46,8%) dan 5(15,6%). Selain itu, kandungan DHA memiliki perbedaan yang signifikan pada masing-masing kelompok, penyakit perlemakan hati non-alkohol vs non-NAFLD 40,46±19,23 menjadi 89,26±41,21µg/ml dengan p<0,0001. Kesimpulan. Nilai DHA signifikan lebih rendah pada kelompok penyakit hati berlemak non alkohol yang dikonversi dengan non-NAFLD. Manajemen diet dengan DHA tinggi penting untuk mencegah dan mengelola obesitas dengan lebih baik.
Difference between Hypertrophic Pyloric Stenosis in Child with History of Prematurity and Aterm Farid I Hussein; Yusri Dianne Jurnalis
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 6 No. 3 (2022): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v6i3.463

Abstract

Background: Hypertrophic pyloric stenosis (HPS) is an acquired condition in which the circumferential muscle of the pyloric sphincter becomes thickened, resulting in elongation and obliteration of the pyloric channel. HPS is the most common gastrointestinal disease in the first few weeks of life. Case presentations: Two patient: a girl, 2 month old (aterm baby) and a boy, 2 months old (preterm baby) with diagnosis moderate dehydration ec vomiting, suspect HPS. Both patient got recurrent vomiting since 1 week before admission, and got dehydration, The vomiting was projectile, occuring after the patient was drink the formula milk. We found the olive sign in both patients, but it was not an obligation we should find olive sign, because it just found in 70% patients of HPS. In these patients were found sunken eyes, and slow return turgor that indicating dehydration. Patients were got Ultrasonography and planned for barium meal examination and Ph monitoring. These patients was undergone pyloromyotomi for definite therapy. After surgery preterm baby was still vomiting for 2-3 days in preterm baby, but not in aterm baby. Conclusion: HPS in preterm baby got more complications after surgery than aterm baby, such as: longer length of stay, reflux post operative.
Probiotic Weisella paramesenteroides on enteropathogenic E. coli-induced diarrhea Aslinar Aslinar; Yusri Dianne Jurnalis; Endang Purwati; Yorva Sayoeti
Paediatrica Indonesiana Vol 54 No 1 (2014): January 2014
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.867 KB) | DOI: 10.14238/pi54.1.2014.1-8

Abstract

Background Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC) is a causative agent of intestinal inflammation and microfloral imbalance, leading to diarrhea. The presence of tumor necrosis factor-α (TNF-α) in the feces is an indicator of inflammation in the intestinal mucosa. Dadih, (local made of fermented buffalo milk), contains probiotics and is widely consumed by the people in West Sumatera, Indonesia. Weisella paramesenteroides, a probiotic lactic acid bacteria (LAB), has been isolated from dadih and is believed to be useful for improving intestinal microflora balance and inhibiting the activity of harmful microbes. Objective To determine the efficacy of W. paramesenteroides administration in various doses and durations on bowel frequency, stool’s TNF-α levels, and intestinal microflora balance on mice with EPEC-induced diarrhea. Method This randomized experimental animal study examined two factors relating to the effects of W. paramesenteroides on EPEC-induced diarrhea, namely doses of probiotics (factor A), and durations of observation (factor B). The subjects consisted of 100 male white mice (Mus musculus) aged 8 weeks, with weights of 25-30 grams. The outcomes measured were bowel frequency, stool’s TNF-α levels, and the balance of intestinal microflora on mice with EPEC-induced diarrhea. Subjects were divided into 5 groups: the negative control group (received neither EPEC nor probiotic), positive control group (received only EPEC), and three experimental groups (received EPEC and different doses of W. paramesenteroides ). Probiotics were given twice at the 12-hours and 24-hours for the experimental groups, while the durations of observation conssited of baseline, 12 hours, 24 hours, and 36 hours. Results After 36 hours, subjects with EPEC-induced diarrhea who received W. Paramesenteroides administration in doses of 2 x 108 (A3), were found to have the largest decline of mean defecation (a 4.4-fold decline) and the largest decline of stool’s mean TNF-α levels (48.3 pg/mL), compared to the positive control group, and other experimental groups who received higher doses of probiotics.
Gastroesophageal reflux disease with Thal fundoplication Irwan Effendi; Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Yusirwan Yusuf
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 6 (2010): November 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.564 KB) | DOI: 10.14238/pi50.6.2010.371-4

Abstract

Gastroesophageal reflux (GER) is a common phenomenon among heathy infants, with approximately 50% of infants aged 0 to 3 months and 67% of infants aged 4 months experiencing at least one episode of vomiting per day. GER defined as regurgitation of gastric contents into the esophagus or mouth. GER typically improves through the first postnatal year, with only 5% of healthy 12 month old infants experiencing vomiting.1,2 Complicated GER or gastroesophageal reflux disease (GERD) has been reported to affect up to 8% of infants and children with GER.l,3 Antireflux procedures (ARPs) are increasingly offered to control GERD symptoms. We report a case of a baby with GERD and treated with ThaI fundoplication procedures. Fundoplication procedure is rarely performed in management of GERD, and this is the first fundoplication procedure in children with GERD at M. Djamil Hospital.
Rupture of esophageal varices due to portal hypertension Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Marlinda Marlinda
Paediatrica Indonesiana Vol 50 No 5 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi50.5.2010.316-20

Abstract

Variceal bleeding is the most common cause of serious upper gastrointestinal (UGI) bleeding in children. Most variceal bleeding is esophageal.1 Hemorrhages from esophageal varices due to portal hypertension are a major cause of morbidity and mortality. There is a 30% mortality rate following an initial episode of variceal hematemesis. Mortality increases to 70% with recurrent variceal hemorrhage. Moreover, the one year survival rate after variceal hemorrhage is often poor (32 to 80%).2-4 We report a case of esophageal varices rupture caused by portal hypertension, an emergent case in the Pediatric Gastrohepatology division.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adria Russelly Afdal, . Afriwardi Afriwardi Aisyah Nilakesuma Alfi Maido Alius Alfi Maido Alius Amelia Yendra Amirah Zatil Izzah Andani Eka Putra Ariadi Ariadi As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad Aslinar Aslinar Aslinar Aslinar Asrawati Asrawati, Asrawati Asrawati Nurdin Asviandri Asviandri Besri, Hanifa Zahra Delfican Delfican Delfican Delfican Delmi Sulastri Dhina Lidya Lestari Diyas Anugrah Djusmaini Ismail Edison - Edison Edison Efrida Efrida Endang Purwati RN Eny Yantri Erli Meichory Viorika Eryati Darwin Eti Yerizel Eva Chundrayetti Fadil Oenzil Farid I Hussein Fatmah Sindi Febianne Eldrian Finny Fitry Yani Fitrina, Dewi Wahyu Fitriyana Fitriyana Gustina Lubis Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hamdini Humaira Handre Putra Hirowati Ali Husni Husni Ihsan, Indra Irwan Effendi Iskandar Syarif Iskandar Syarif Jon Efendi Jon Efendi Jon Effendi Julinar Julinar Liza Fitria Lydia Aswati M Hafiz Nasrulloh Maretha Antya Tamimi Marlia Moriska Marlinda Marlinda Masnadi, Nice Rachmawati Mayetti Mayetti Muhammad Hidayat Mutiara Annisa Amadea Nelvirina Nelvirina Nice Rachmawati Masnadi Nindrea, Ricvan Dana Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nurdin, Asrawati Prima Julistia Puthisari Zonya Jannata Putri Engla Pasalina Revi Rilliani Riana Youri Rinang Mariko, Rinang Rinche Annur Rizka Hanifa Rizqa Fiorendita Hadi Rozetti Rozetti Rusdi Rusdi Sari Dewi Selfi Renita Rusjdi Silvia Rane Siti Lestari Trisna Resti Yanti Utari Gustiany Gahayu Violeta, Vonny Widiasteti Widiasteti Wiwi Hermy Putri Yanwirasti Yanwirasti Yorva Sayoet Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yugatama, Andyan Yulfiwanti, Idha Yuliawati Yusirwan Yusuf Yustini Alioes Zulfahmi Zulfahmi