Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA WANITA USIA SUBUR PRANIKAH Putri Engla Pasalina; Yusri Dianne Jurnalis; Ariadi Ariadi
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan Vol 10, No 1 (2019): JURNAL ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jikk.v10i1.584

Abstract

AbstrakWanita Usia Subur (WUS) merupakan kelompok usia dengan prevalensi anemia yang cukup tinggi, di Indonesia mengalami peningkatan dari 19,7%(2007)  menjadi 22,4% (2013). Status besi WUS pranikah berdampak pada outcome maternal dan neonatal saat kehamilan. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan anemia masih kontroversial. Berat badan kurus merupakan indikasi rendahnya asupan mikronutrien yang berhubungan dengan anemia. Pada studi lain, berat badan berlebih/ obesitas meningkatkan resiko anemia karena peningkatan sitokin inflamasi (Interleukin-6) yang menstimulasi peningkatan hepsidin dan penurunan penyerapan besi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan Indeks Massa Tubuh  dengan kejadian  anemia  pada WUS  pranikah. Penelitian ini berjenis analitik observasional dengan metode pendekatan cross sectional dilakukan pada 36 WUS pranikah ( 18  anemia dan 18 tidak anemia) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice dan berat badan menggunakan timbangan pegas. Pemeriksaan hemoglobin dengan metode sianmethemoglobin di Laboratorium Biokimia Universitas Andalas. Uji Bivariat dilakukan dengan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkanWUS dengan IMT berlebih merupakan persentase terbesar (66,7%) yang ditemukan pada kelompok anemia. Tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian anemia dengan nilai p 0,7 (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian anemia. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh, Kejadian Anemia AbstractWomen of Reproductive Age (WRA) are an age group with a fairly high anemia prevalence in Indonesia, increasing from 19.7% (2007) to 22.4% (2013). Iron status of premarital women affects maternal and neonatal outcomes during pregnancy. The relationship between the Body Mass Index (BMI) and anemia is controversial. Underweight indicates of inadequate dietary intake of micronutrients associated with anemia. In other study, overweight/obesity also increase anemia risk because release of proinflammatory cytokines (Interleukin-6) and which stimulates release of hepsidin and decrease iron absorbtion. The purpose of this study was to analyze the relationship between body mass index with the incidence of anemia in premarital WRA. This research was an observational analytic type with a cross sectional approach performed on 36 premarital WRA (18 with anemia and 18 without anemia) in Koto Tangah District, Padang. Sampling was done by consecutive sampling. Body height is measured by microtoice and body weight is measured by manual scale. Hemoglobin was examined with the cyanmethemoglobin method at the Andalas University Biochemistry. Bivariate test was carried out by Chi Square test. The results showed overweight women is the highest percentage (66,7%) in anemia group. There was no relationship between BMI and the incidence of anemia (p > 0.05). The study concluded that there was no relationship between BMI and anemia. Keywords: Body Mass Index, Anemia
POLA RESISTENSI KUMAN PENYEBAB DIARE TERHADAP ANTIBIOTIKA Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoet; Aslinar Aslinar
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.867 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakResistensi kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intensitas pemaparan antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada penyakit diare cenderung akan meningkatkan resistensi kuman yang semula sensitif. Perkembangan resistensi kuman terhadap antibiotika perlu dipantau agar dalam pengobatan penyakit diare dengan antibiotika dapat dilakukan pemilihan obat yang tepat.Untuk mengetahui pola resistensi kuman terhadap antibiotika pada pasien diare yang dirawat di bangsal IKA RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari-Desember 2008.Data penelitian diperoleh dari catatan medik pasien diare yang dirawat di bangsal IKA dan dilakukan kultur dan sensitivitas dari sampel feses. Dilakukan uji resistensi terhadap kuman yang terdeteksi dengan antibiotika Ampisilin (Amp), Tetrasiklin (TE), Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX), sebagai antibiotik ang paling banyak digunakan pada pasien diare.Dari hasil uji kultur dan sensitivitas pada 173 sampel feses didapatkan 3 jenis kuman yang terbanyak yaitu E.Coli sebanyak 92 (51.4%), Klebsiela sp 30 (16.8%), dan kuman Enterobacter sp 28 (15.6%). Resistensi kuman E.Coli terhadap antibotika AMP sebesar 53.3%, terhadap TE 67.4% dan terhadap STX 87%. Resistensi kuman Klebsiela sp terhadap antibiotika AMP sebesar 46%, terhadap TE 40% dan terhadap STX 73.3%. Dan resistensi kuman Enterobacter sp terhadap antibotika AMP sebesar 64.3%, terhadap TE 75% dan terhadap STX 82,1%.Kuman penyebab diare menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX).Kata kunci. resistensi, antibiotika, diareAbstractMicroorganisme resistance against antibiotic is highly influenced by intensity of antibiotics exposure. Irrational use of antibiotics in diarrhea tends to increase resistance of previously sensitive microorganism. Monitoring in antibiotics development resistance is required to achieve appropriate diarrhea therapy.ARTIKEL PENELITIAN42To assess microorganism resistance pattern against antibiotics in diarrhea patients hospitalized at Dr. M. Djamil General Hospital pediatric ward from January – December 2008.Study data obtained from culture of feces of diarrhea patients hospitalized in pediatric ward. Resistance test were performed using antibiotics Ampicillin (Amp), tetracycline (TE), sulphamethoxazole-trimethoprim (SXT), as the 3 most common antibiotic used for diarrhea.There were 173 feces samples performed culture and sensitivity test. Three microorganism species found frequently were E. coli (92; 51.4%), Klebsiella sp. (30; 16.8%), Enterobacter sp. (28; 15.6%). E. coli resistance to AMP were 53.3%, TE 67.4%, and SXT 87%. Resistance of Klebsiella sp. to AMP 46.7%, TE 40%, and SXT 73.3%. Enterobacter sp. resistance were 64.3%, 75%, and 82.1%, respectively.Sulphamethoxazole-trimethoprim was the highest resistance antibiotics against microorganism in acute diarrhea patients.Keywords : resistance, antibiotics, diarrhea
AUTOIMMUNE HEPATITIS Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Nelvirina Nelvirina
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1947.713 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i1.p1-24.2010

Abstract

AbstrakHepatitis autoimun merupakan penyakit inflamasi hati yang berat dengan penyebab pasti yang tidak diketahui yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Semua usia dan jenis kelamin dapat dikenai dengan insiden tertinggi pada anak perempuan usia prepubertas, meskipun dapat didiagnosis pada usia 6 bulan. Hepatitis autoimun dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian berdasarkan adanya antibodi spesifik: Smooth Muscle Antibody (SMA) dengan anti-actin specificity dan/atau Anti Nuclear Antibody (ANA) pada tipe 1 dan Liver-Kidney Microsome antibody (LKM1) dan/atau anti-liver cytosol pada tipe 2. Gambaran histologisnya berupa “interface hepatitis”, dengan infiltrasi sel mononuklear pada saluran portal, berbagai tingkat nekrosis, dan fibrosis yang progresf. Penyakit berjalan secara kronik tetapi keadaan yang berat biasanya menjadi sirosis dan gagal hati.Tipe onset yang paling sering sama dengan hepatitis virus akut dengan gagal hati akut pada beberapa pasien; sekitar sepertiga pasien dengan onset tersembunyi dengan kelemahan dan ikterik progresif ketika 10-15% asimptomatik dan mendadak ditemukan hepatomegali dan/atau peningkatan kadar aminotransferase serum. Adanya predominasi perempuan pada kedua tipe. Pasien LKM1 positif menunjukkan keadaan lebih akut, pada usia yang lebih muda, dan biasanya dengan defisiensi Immunoglobulin A (IgA), dengan durasi gejala sebelum diagnosis, tanda klinis, riwayat penyakit autoimun pada keluarga, adanya kaitan dengan gangguan autoimun, respon pengobatan dan prognosis jangka panjang sama pada kedua tipe.Kortikosteroid yang digunakan secara tunggal atau kombinasi azathioprine merupakan terapi pilihan yang dapat menimbulkan remisi pada lebih dari 90% kasus. Strategi terapi alternatif adalah cyclosporine. Penurunan imunosupresi dikaitkan dengan tingginya relap. Transplantasi hati dianjurkan pada penyakit hati dekom-pensata yang tidak respon dengan pengobatan medis lainnya.Kata kunci : hepatitis Autoimmune; Aetiopathogenesis; Lymphocyte disease; Cellular immune attack; Histocompatibility lymphocyte antigen, Immunosuppressive therapy, Cyclosporine, transplantasi hatiAbstractAutoimmune hepatitis is a severe and inflammatory disease of the liver of unknown etiology carrying high morbidity and mortality. All ages and genders are concerned with a peak of incidence in girls in prepubertal age, even if the diseaseTINJAUAN PUSTAKA2has been diagnosed as early as 6 months. Autoimmune hepatitis may be classified in two major subgroups on a presence of a specific set of autoantibodies: smooth muscle antibody (SMA) mostly with anti-actin specificity and/or by antinuclear antibody (ANA) in type 1 and liver-kidney microsome antibody (LKM1) and/or the anti-liver cytosol in type 2. The histological hallmark is “interface hepatitis”, with a mononuclear cell infiltrate in the portal tracts, variable degrees of necrosis, and progressive fibrosis. The disease follows a chronic but fluctuating course usually progressing to cirrhosis and liver failure.The most frequent type onset is similar to that of an acute viral hepatitis with acute liver failure in some patients; about a third of patients have an insidious onset with progressive fatigue and jaundice while 10-15% are asymptomatic and are accidentally discovered by the finding of hepatomegaly and/or an increase of serum aminotransferase activity. There is a female predominance in both. LKM1-positive patients tend to present more acutely, at a younger age, and commonly have immunoglobulin A (IgA) deficiency, while duration of symptoms before diagnosis, clinical signs, family history of autoimmunity, presence of associated autoimmune disorders, response to treatment and long-term prognosis are similar in both groups.Corticosteroids alone or in conjunction with azathioprine are the treatment of choice inducing remission in over 90% of patients. An alternative therapeutic strategy is cyclosporine. Withdrawal of immunosuppression is associated with high risk of relapse. Liver transplantation manages patients with decompensated liver disease unresponsive to “rescue” medical treatment.Key words: Autoimmune hepatitis; Aetiopathogenesis; Lymphocyte disease; Cellular immune attack; Histocompatibility lymphocyte antigen, Immunosuppressive therapy, Cyclosporine, Liver transplantation.
ATRESIA BILIER Julinar Julinar; Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.577 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakAtresia bilier merupakan penyakit yang jarang terjadi dan penyababnya belum diketahui secara pasti. Karakteristik dari penyakit ini adalah terjadinya inflamasi progresif pada duktus bilier sehingga terjadi obstruksi ekstrahepatal yang akhirnya dapat menyebabkan fibrosis dan sirosis hepar. Atresia bilier ada 2 tipe yaitu: 1.) Syndromic atau fetal, disertai beberapa kelainan kongenital (10-20%). 2.) non syndromic, tanpa disertai kelainan kongenital yang lain (80-90%). Atresia bilier akan berakibat fatal tanpa penanganan yang cepat. Kelainan ini dapat ditangani dengan metode operasi Kasai prosedure yang dapat mengalirkan kembali aliran empedu hampir 80% jika dilakukan secepatnya, gold periode >60 hari. Diagnosis dini sangat penting untuk keberhasilan operasi Kasai. Pada penulisan ini akan dilaporkan sebuah kasus atresia bilier tipe fetal, seorang anak laki-laki berusia 58 hari, dengan keluhan tampak kuning sejak usia 3 minggu disertai dengan buang air besar berwarna pucat, buang air kecil berwarna seperti teh pekat. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, laboratorium, USG dan biopsi hepar yang sangat mendukung diagnosis atresia bilier. Operasi Kasai tidak efektif karena disertai dengan komplikasi kholangitis yang akhirnya menyebabkan sirosis hepatis pada 5 bulan kehidupan.Kata kunci : Atresia bilier, Kasai procedure, kholangitis, sirosis hapatisAbstractBiliary atresia is a disease of unknown etiology, characterized by progressive fibro inflammatory of the bile duct and liver that result obstruction of extrahepatic bile duct, leading to the fIbrosis and liver cirrhosis. It has two form of biliary atresia : 1.) syndromic of fetal biliary atresia (10-20%) with various congenital anomalies, 2.) non syndromic biliary atresia (80-90%) with isolated anomaly. In this case we report on an infant with the second form of biliary atresia, with diagnosis and operation was not based on liver biopsy, but on clinical features, laboratorium finding and USG, that were a highly suggestive of fetal form of biliary atresia. A boy 58 days infant with fetal biliary atresia. He developed jaundice in 3 weeks of life, pale stool, dark urine, and liver was palpable. Kasai operation was not effective because he had cholangitis complicated and developed liver cirrhosis at five month of age. Fetal EHBA (Extra Hepatic Biliary Atresia) with worse outcome after Kasai procedure becauseLAPORAN KASUS189of cholangitis complicated. Early diagnosis EHBA is very important for succesfull of Kasai procedure.Key words: biliary atresia, kasai, Cholangitis, liver cirrhosis
INFANTILE HYPERTROPHIC PYLORIC STENOSIS (IHPS) Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Marlia Moriska
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v34.i2.p193-201.2010

Abstract

AbstrakInfantile hypertrophic pyloric stenosis (IHPS) adalah kelainan anatomi pada bayi dengan terjadinya hipertropi pada region pilorik yang menimbulkan obstruksi. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis. Pada kasus yang tidak khas dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Dilaporkan sebuah kasus IHPS di RS. M. Djamil Padang, anak laki-laki usia 2 bulan. Pasien datang dengan keluhan utama muntah yang tidak proyektil setiap selesai menyusui. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan massa di abdomen sebagai tanda obstruksi. Dari pemeriksaan barium meal sesuai dengan IHPS dan terbukti saat operasi. Pasien pulang dalam keadaan baik.Kata Kunci : Infantile hypertrophic pyloric stenosis, barium mealAbstractInfantile hypertrophic pyloric stenosis (IHPS) is misleading anatomic in infant with hypertrophy muscle in the pyloric region leads to gastric obstruction. Diagnosed can determine based on the clinical manifestation. In the case that not characterized such as examination in early onset, onset in the younger ex neonate needs more examination to determine the case as IHPS. Reported a case IHPS in Dr. M. Djamil Hospital in infant, boy, 2 month old. He came with chief complain non projectile vomiting after feeding. In physical examination there was no palbable mass on the abdominal as manifestation of obstruction. The result of Barium meal appropriate with IHPS and was improved in operation. The patient was discharged in good condition.Key word : Infantile hypertrophic pyloric stenosis, barium mealLAPORAN KASUS
PENYAKIT PERLEMAKAN HATI NON ALKOHOLIK PADA ANAK Yusri Dianne Jurnalis; Delfican Delfican; Yorva Sayoeti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.082 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i2.p121-131.2012

Abstract

AbstrakPenyakit perlemakan hati nonalkoholik (NAFLD) ditandai dengan penumpukan lemak di hati pada penderita yang tidak mengkonsumsi alkohol sebelumnya, meliputi steatosis sederhana dan steatohepatitis nonalkoholik (NASH). NAFLD/NASH merupakan manifestasi hepatik dari sindrom metabolik. Prevalensi NAFLD pada anak mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas pada anak. Kelainan ini berhubungan dengan umur, jenis kelamin dan ras. Patogenesisnya diterangkan melalui hipotesis “dua pukulan”. Selain manifestasi klinis, laboratorium dan pencitraan, biopsi hati merupakan baku emas dalam menegakkan diagnosis. Melalui biopsi hati dapat dinilai derajat nekroinflamatori yang terjadi serta fibrosis pada NASH. Terdapat 2 jenis steatohepatitis dengan tipe 2 ditemukan pada 51% penderita NAFLD anak. Walaupun telah dilakukan uji klinis terhadap beberapa obat, namun modifikasi gaya hidup, pola makan dan kebiasaan berolahraga merupakan tatalaksana yang banyak diterapkan saat ini.Kata kunci : penyakit perlemakan hati nonalkoholik, steatohepatits nonalkoholik, obesitasAbstractNonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) is a disease in which excessive fat accumulates in the liver without a history of alcohol abuse. This disease includes simple steatosis and nonalcoholic steatohepatitis (NASH). NAFLD/NASH is recognized as a hepatic manifestation of metabolic syndrome. In recent years, pediatric NAFLD has increased in line with the increased prevalence of pediatric obesity. It is associated with sex, age and ethnicity. The “two-hit” hypothesis is widely accepted as the pathogenesis. Although clinical symptoms, laboratory data and imaging findings are important, liver biopsy is regarded as the gold standard of the diagnosis. It is essential for assessing the degree of necro-inflammatory change and fibrosis in NASH. Two different types of steatohepatitis have been reported, with type 2 NASH being present in as many as 51% of pediatric NAFLD patients. Although pharmacotherapy has been studied in clinical trials, lifestyle modification by diet and exercise remains the mainstay of treatment for NAFLD/NASH.Key word : nonalcoholic fatty liver disease, nonalcoholic steatohepatitis, obesity
STATUS MORBIDITAS ANAK PASCA GEMPA DI KECAMATAN SUNGAI LIMAU KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT Yusri Dianne Jurnalis; Asviandri Asviandri; Eva Chundrayetti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.704 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakGempa bumi yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat, tanggal 30 September 2009 telah memporak porandakan wilayah Sumatera Barat terutama Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Pasca gempa ini akan mempunyai efek terhadap status kesehatan masyarakat terutama anak-anak.Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola penyakit pada anak pasca gempa di Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, sampel adalah seluruh pasien anak yang berobat ke pos – pos pengobatan IDAI di Kecamatan Sungai Limau.selama 11 hari, mulai dari tanggal 6 sampai dengan 16 Oktober 2009.Sampel berjumlah 508 orang, anak perempuan (53,1%) lebih banyak dari pada anak laki-laki (46,9%). Ada 5 penyakit terbanyak adalah penyakit saluran pernafasan (57,5%), penyakit kulit (13,6%), diare (12,6%), observasi demam (5,1%) dan trauma (2%). Kelompok umur yang terbanyak adalah 5-10 thn (36,2%) disusul oleh usia 1-5 thn (35,4%).Penyakit yang terbanyak adalah penyakit saluran pernafasan disusul dengan penyakit kulit dan diare. Ketiga penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan faktor sanitasi dan higienes, karena terbatasnya sumber air bersih, rusaknya sarana MCK.Kata kunci : morbiditas, anak, pasca gempaAbstractAn earthquake that occurred in West Sumatra on September 30th 2009 had been destroyed the city and caused so many victims, especially in Padang City and Padang Pariaman District. It will be impacted to the health state after disaster, especially in children.This study’s objective is to see the pattern of disease of the children after the earthquake in Sub-district of Sungai Limau, Padang Pariaman District, West Sumatra.A retrospective study was collected from medical record of all the children who went to “Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)” medical station in Sungai Limau sub-district during 11 days, starts from October 6th until October 16th 2009.ARTIKEL PENELITIAN121The number of sample is 508 children, girls (53.1%) are greater than boys (46.9%). The top of five disease are acute respiratory infection (57.5%), skin disease(13.6%), diarrhea(12.6%), fever observation (5.1%) and trauma (2%). The dominant ages range is between 5 - <10 years (36.2%), followed by ages 1 - <5 years (35.4%).The dominant disease are acute respiratory infection, skin disease and diarrhea.Key words: morbidity state, earthquake, health disaster
ABSES HATI PIOGENIK Yusri Dianne Jurnalis; Delfican Delfican; Yorva Sayoeti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.543 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p106-112.2012

Abstract

AbstrakAbses hati piogenik merupakan suatu kondisi yang berat dan mengancam kehidupan dengan angka mortalitas yang tinggi sehingga membutuhkan diagnostik dan terapi yang akurat. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri perut bagian atas, hepatomegali, demam tinggi, mual dan muntah. Gejala ini bervariasi sesuai ukuran abses, keadaan umum pasien, adanya penyakit dasar dan komplikasi. Pada sebagian besar kasus, penyakit dasarnya tidak diketahui. Abses biasanya soliter dan terletak di lobus kanan hati. USG dan CT scan abdomen merupakan sarana diagnostik utama. Abses hati piogenik diterapi dengan aspirasi perkutaneus bersamaan dengan antibiotik. Jika gagal, drainase dengan pembedahan dibutuhkan. Dengan adanya terapi invasif yang minimal seperti aspirasi jarum perkutaneus atau drainase kateter yang dipandu secara radiologis serta ketersediaan antibiotik berspektrum luas, pasien jarang membutuhkan tindakan pembedahan saat ini.Kata kunci : abses hati piogenik, aspirasi perkutaneus, drainase bedahAbstractPyogenic liver abscess (PLA) is a serious, life threatening condition with a high mortality rate that represents a diagnostic and therapeutic challenge. The most common presenting clinical symptoms are upper abdominal pain, tenderness, hepatomegaly, high-grade fever, nausea and vomiting. These features are variable depending upon the size of the abscess, general health of the patient, associated diseases and complications. In majority of the cases, the underlying cause could not be identified. Majority of abscesses are solitary and are noted in the right lobe of liver. USG and CT of the abdomen are the main tools of diagnosis. PLAs are mainly treated by percutaneous aspiration under antibiotic cover. If fails, surgical drainage becomes necessary. However, with the advent of minimally invasive therapy such as image-guided percutaneous needle aspiration or catheter drainage and the availability of broadspectrum antibiotics, patients with PLA nowadays seldom require open surgery for treatment.Key word : pyogenic liver abscess, percutaneous aspiration, surgical drainage
PROFIL GANGGUAN ELEKTROLIT DAN KESEIMBANGAN ASAM BASA PADA PASIEN DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI BERAT DI RUANG RAWAT INAP BAGIAN ANAK RS DR. M. DJAMIL PADANG Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Sari Dewi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.773 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p70-74.2008

Abstract

AbstrakDiare akut merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan pada bayi dan anak. Asidosis metabolik dan gangguan elektrolit adalah komplikasi yang serius dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi pada tatalaksana yang tidak tepat. Untuk mengetahui gangguan elektrolit dan asam basa pada pasien diare akut dehidrasi berat, lama rawatan, lamanya diare serta hubungannya dengan komplikasi diare akut dehidrasi berat perlu diteliti. Penelitian ini merupakan studi retrospektif, dilakukan pada pasien rawat inap dengan diare akut dehidrasi berat yang dirawat di bangsal Ilmu Kesehatan Anak RS DR. M. Djamil Padang dari tanggal 1 Januari s/d 31 Desember 2007. Pencatatan dilakukan pada umur, jenis kelamin, lama diare, lama dirawat, dan adanya gejala encephalopati. Juga dicatat hasil pemeriksaan elektrolit dan analisis gas darah. Didapatkan 29 pasien diare akut dengan dehidrasi berat yang memenuhi kriteria penelitian. Umur rata-rata 11,14±7,06 bulan, perempuan 24,1% dan laki-laki 75,9%. Komplikasi diare akut dehidrasi berat adalah asidosis metabolik 75,9%, enchepalopati 13,8%, hiponatremi 44,8%, hipernatremi 10,3%, hipokalemi 62%, hiperkalemi 10,3%. Rata-rata dari perawatan rumah sakit adalah 4,69±1,87 hari, lama menderita diare 8,62±2,98 hari. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita diare dengan kejadian asidosis metabolik (p=0,045) dan hiponatremi (p=0,035). Tidak ada hubungan bermakna antara lama perawatan dengan asidosis metabolik, enchepalopati, hiponatremi, hipernatremi, hipokalemi dan hiperkalemi. Kejadian asidosis metabolik dan hiponatremi berhubungan bermakna dengan lamanya pasien menderita diare akut dehidrasi berat.Kata kunci: Diare, dehidrasi berat, elektrolit, keseimbangan asam basa, lama diareAbstractAcute diarrhea remains one of the most prevalent health problems facing infants and young children. Metabolic acidosis and electrolyte imbalance are serious complications associated with high mortality rate among inappropriately managed patients. To find out the prevalence of electrolyte and acid base imbalance in severely dehydrated diarrhea patients, hospitalisation time, the duration of diarrhea related to complications need to be studied. A restrospective study was done at PediatricARTIKEL PENELITIAN71Department, DR. M. Djamil Hospital Padang from January to December 2007. Age, sex, duration of diarrhea, length of hospitalisation and encephalopathy were recorded. Sodium and potassium level, and gas blood analysis were analysed. Twenty nine hospitalized patients with severely dehydrated diarrhea were enrolled in this study. Mean age were 11.14±7.06 months, female 24.1% and male 75.9%. The complications were metabolic acidosis in 75.9%, encephalopathy 13.8%, hyponatremia 44.8%, hypernatremia 10.3%, hypokalemia 62%, hyperkalemia 10.3%. Mean length of hospitalisation was 4.69±1.87 days, duration of diarrhea was 8.62±2.981 days. The duration of diarrhea related significantly with metabolic acidosis (p=0.045) and hyponatremia (p=0.035). No significant correlation was found between length of hospitalisation with metabolic acidosis, encephalopathy, hyponatremia, hyper-natremia, hypokalemia, or hyperkalemia. Metabolic acidosis and hyponatremia were associated significantly with duration of severely dehydrated diarrhea.Keywords : Diarrhea, severe dehidration, electrolyte, acid babase imbalance, duration of diarrhea.
HUBUNGAN PENYAKIT GONDOK DENGAN PRESTASI BELAJAR DAN TINGGI BADAN ANAK MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) KORONG GADANG KECAMATAN KURANJI KOTA PADANG Yusri Dianne Jurnalis; Yustini Alioes; Prima Julistia
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 2: Agustus 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.961 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i2.p%p.2008

Abstract

AbstrakYodium adalah komponen esensial dalam asupan makanan manusia, yang merupakan bagian dari hormon tiroid yaitu tiroksin (T4) and triyodotironin (T3). Hormon tersebut dibutuhkan untuk menjaga metabolisme basal, metabolisme sel, dan kesatuan jaringan tubuh. Hormon tiroid diperlukan dalam pekembangan sistem saraf janin dan bayi. Kekurangan asupan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok, yaitu pembesaran kelenjar tiroid. Gondok endemik merupakan hasil dari peningkatan kerja kelenjar tiroid oleh Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dalam memaksimalkan penggunaan yodium yang tersedia, hal ini merupakan penyesuaian terhadap keku-rangan yodium. Gangguan paling parah yang dapat disebabkan oleh kekurangan yodium adalah retardasi mental yang menetap dan hambatan pertumbuhan. Selama kurun wktu 5 tahun, prevalensi penyakit gondok di Kota Padang meningkat dari 8,5% menjadi 21,5%.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi penyakit gondok dan hubungannya dengan prestasi belajar dan tinggi badan anak Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang.Telah dilakukan penelitian pada 169 murid kelas II, III, IV, V, dan VI di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang. Data tentang prestasi belajar didapatkan dari hasil ujian semester. Tinggi badan ditentukan berdasarkan tinggi badan per umur.Selama penelitian ini didapatkan 84 anak (49,7%) menderita penyakit gondok. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara penyakit gondok dan prestasi belajar (p>0,05). Penelitian ini juga menemukan tidak terdapat hubungan antara penyakit gondok dan pertumbuhan fisik (p>0,05).Kata kunci : Penyakit Gondok, Prestasi Belajar, Tinggi Badan AnakAbstractIodine is an essential component of human diet, which part of thyroid hormones, thyroxine (T4) and triiodothyronine (T3). These hormones are involved in the maintenance of metabolic rate, cellular metabolism and integrity of connective tissue. Thyroid hormones are necessary for the development of nervous system in the fetus and infant. Lack of dietary iodine is cause of goitre, an enlargement of the thyroidARTIKEL PENELITIAN161gland. Endemic goiter results from increased thyroid stimulation by thyroid stimulating hormone (TSH) to maximize the utilization of available iodine and thus respresents maladaption to iodine deficiency. However, the most damaging disorders induced by iodine deficiency are irreversible mental retardation and growth restriction. Within 5 years, prevalence of goitre in Padang City increased from 8.5% to 21.5%.The aim of this study was to investigate the prevalence of goiter and its relation with academic performance and stature of Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) students in Korong Gadang Kuranji District, Padang City.A cross sectional study has been done in 169 students of the second, third, fourth, fifth, and sixth degree of Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kuranji District, Padang City. Data of academic performance was taken from the result of study in a semester. Stature was determined based on height for age.During the research, there were 84 children (49.7%) who suffered from goitre. The correlation between goitre and academic performance are unsignificant (p>0.05). This study was also found that there was no correlation between goitre and physical growth (p>0.05).Keywords: Goitre, Academic Performance, Child Stature
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adria Russelly Afdal, . Afriwardi Afriwardi Aisyah Nilakesuma Alfi Maido Alius Alfi Maido Alius Amelia Yendra Amirah Zatil Izzah Andani Eka Putra Ariadi Ariadi As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad Aslinar Aslinar Aslinar Aslinar Asrawati Asrawati, Asrawati Asrawati Nurdin Asviandri Asviandri Besri, Hanifa Zahra Delfican Delfican Delfican Delfican Delmi Sulastri Dhina Lidya Lestari Diyas Anugrah Djusmaini Ismail Edison - Edison Edison Efrida Efrida Endang Purwati RN Eny Yantri Erli Meichory Viorika Eryati Darwin Eti Yerizel Eva Chundrayetti Fadil Oenzil Farid I Hussein Fatmah Sindi Febianne Eldrian Finny Fitry Yani Fitrina, Dewi Wahyu Fitriyana Fitriyana Gustina Lubis Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hafni Bachtiar Hamdini Humaira Handre Putra Hirowati Ali Husni Husni Ihsan, Indra Irwan Effendi Iskandar Syarif Iskandar Syarif Jon Efendi Jon Efendi Jon Effendi Julinar Julinar Liza Fitria Lydia Aswati M Hafiz Nasrulloh Maretha Antya Tamimi Marlia Moriska Marlinda Marlinda Masnadi, Nice Rachmawati Mayetti Mayetti Muhammad Hidayat Mutiara Annisa Amadea Nelvirina Nelvirina Nice Rachmawati Masnadi Nindrea, Ricvan Dana Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nolitriani Nurdin, Asrawati Prima Julistia Puthisari Zonya Jannata Putri Engla Pasalina Revi Rilliani Riana Youri Rinang Mariko, Rinang Rinche Annur Rizka Hanifa Rizqa Fiorendita Hadi Rozetti Rozetti Rusdi Rusdi Sari Dewi Selfi Renita Rusjdi Silvia Rane Siti Lestari Trisna Resti Yanti Utari Gustiany Gahayu Violeta, Vonny Widiasteti Widiasteti Wiwi Hermy Putri Yanwirasti Yanwirasti Yorva Sayoet Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yorva Sayoeti Yugatama, Andyan Yulfiwanti, Idha Yuliawati Yusirwan Yusuf Yustini Alioes Zulfahmi Zulfahmi