Claim Missing Document
Check
Articles

PENYULUHAN TENTANG REKORDING PROLIFIK, KONDISI FISIOLOGIS DAN UKURAN TUBUH INDUK KAMBING PERANAKAN ETTAWAH DI AMPEL GADING KABUPATEN MALANG Mudawamah Mudawamah; M. Zainul Fadli; Sumartono Sumartono
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2021
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat tentang pentingnya rekording prolifik kambing Peranakan Ettawah (PE) di desa Mulyoasri Kecamatan Ampel Gading. Tujuan dari kegiatan ini adalah menjelaskan tentang pentingnya dan cara praktis rekording prolifik induk sebagai dasar seleksi dan culling induk serta replacement, sehingga produktivitas tinggi dan diikuti dengan pendapatan yang meningkat. Kelompok peternak yang menjadi sasaran kegiatan adalah kelompok peternak kambing dengan skala pemilikan induk 5 ekor yang sudah beranak minimal 3 kali. Metode kegiatan berupa penyuluhan/pelatihan rekording, demontrasi, praktek langsung recording di lapang, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan participatory, dengan cara penentuan peserta sosialisasi awal tentang recording melibatkan koordinator peternak. Hasil dari kegiatan ini diperoleh identifikasi induk kambing berdasarkan prolifik yang dipelihara lebih dari 2.   Disamping itu, telah dilakukan pemeriksaan kondisi fisiologis ternak sebagai tambahan recording. Produk dari kegiatan ini kartu recording pada induk kambing. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah program pemberdayaan masyarakat tentang recording prolifik pada kambing PE di desa Mulyoasri sangat bermanfaat sebagai dasar seleksi atau culling induk dan pengadaan bibit induk kambing baru agar bisa dilakukan dengan akurat.
KOMPARASI FENOTIPE KUANTITATIF PEJANTAN DAN INDUK KAMBING PERANAKAN ETAWAH UNGGUL DENGAN PETERNAKAN RAKYAT (ARTICLE REVIEW) Nabila Latifa Hae; Mudawamah mudawamah; Sumartono Sumartono
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 01 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komparasi fenotipe kuantitatif menggunakan nilai komparasi dan chi-square yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kambing PE unggul dengan peternakan rakyat. Hasil komparasi (%) sifat kuantitatif pejantan di desa Karangwuni (bobot badan=14,71%), Sidomulyo (lingkar dada=2,82%), Tandasura (bobot badan=78,68% ) dan Banda Aceh (lingkar skrotum=14,76%) dimana sifat dimasing-masing daerah tersebut lebih unggul dibandingkan SNI umur 12-18. Sedangkan umur 18-24 bulan dimasing-masing desa tersebut kecuali Sidomulyo, lebih unggul pada sifat tinggi pundak=3,21%, bobot badan=44,64% serta lingkar skrotum=14,78% dibandingkan pejantan unggul berdasarkan SNI. Pada induk yang berumur 12-18 bulan, sifat bobot badan adalah sifat unggul yang dimiliki yaitu di desa Karangwuni (53,85%), Sidomulyo (59,46%) dan Tandasura (27,08%). Sedangkan umur 18-24 bulan di masing-masing desa tersebut lebih unggul pada sifat bobot badan=17,65%, bobot badan=21,95% dan panjang badan=10,31%. Berdasarkan nilai komparasi disimpulkan bahwa sifat kuantitatif pejantan di peternakan rakyat 75% sama dan 25% lebih unggul dibandingkan dengan pejantan SNI pada umur 12-18 dan 18-24 bulan. Sedangkan nilai komparasi sifat kuantitatif induk di peternakan rakyat 33,3% sama dan 66,7%  lebih unggul dibandingkan induk unggul berdasarkan SNI 12-18 bulan, tetapi 100% sama dengan induk unggul berdasarkan SNI 18-24 bulan. Kata kunci : Kambing, PE, Fenotipe kuantitatif
VARIASI FENOTIPE UKURAN TUBUH DAN DNA HASIL PERSILANGAN KENARI YORKSHIRE DENGAN KENARI LOKAL Khoirur Roziqin; Mudawamah Mudawamah; Sri Susilowati
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 6, No 2 (2023): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Laboratorium Halal Universitas Islam Malang dan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqy, Jln Anjasmoro No.45 G3A, Kecamatan Lawang, digunakan untuk penelitian ini. Penelitian ini membandingkan fenotipe dan DNA burung Yorkshire, Kenari Lokal, dan F1 hasil persilangan jantan untuk menentukan nilai ukuran tubuh burung Yorkshire hijau menggunakan hasil persilangan Kenari Lokal kuning pada warna bon (kuning hijau) Filial 1( F1). Dengan kenari lokal dan Yorkshire. Dengan masing-masing 10 sampel, tiga spesies burung yang digunakan dalam penelitian ini—kenari lokal kuning, burung Yorkshire hijau, dan F1 bon color (kuning hijau)—menjadi total 30 ekor. Variabel panjang badan, lingkar dada, dan DNA diamati, menggunakan DNA kuantitatif (qPCR) dengan menggunakan gen TYR sebagai gen referensi. Metodologi yang digunakan adalah teknik deskriptif kuantitatif. Uji t tidak berpasangan digunakan untuk menilai data. Temuan mengungkapkan varian dalam fenotipe DNA dan ukuran tubuh. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara warna bon F1 (kuning hijau), warna kuning lokal, atau kenari Yorkshire hijau (P>0,05), meskipun ada kecenderungan perubahan yang terlihat dari nilai rata-rata. 18 0,94 cm (Yorkshire), 13,4 0,69 cm (Lokal), dan 16 0,67 cm (F1) adalah rata-rata nilai panjang badan. Pengukuran dada rata-rata untuk Yorkshire, Lokal, dan F1 masing-masing adalah 11,6 0,84 cm, 9,8 0,63 cm, dan 10,5 0,71 cm. Nilai rata-rata hasil qPCR DNA adalah 25,00 11,82 (F1), 32,75 1,14 (Lokal), dan 28,14 18,88 (Yorkshire). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan variasi fenotip warna bulu dan DNA antara burung Yorkshire hijau, kenari lokal kuning, dan F1. Namun ada kecenderungan ukuran tubuh burung Yorkshire hijau lebih tinggi 10,48-12,56% dibandingkan F1. Sebaliknya, nilai DNA rata-rata kenari Yorkshire hijau dan kuning lokal adalah 12,56% dan 31% lebih besar dari F1 bon (kuning hijau), dari perspektif genetik.kata kunci : fenotipe, kenari lokal kuning, yoshire 
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA SIMPAN PADA SUHU REFRIGERATOR TERHADAP TOTAL ASAM DAN JUMLAH BAKTERI ASAM LAKTAT YOGHURT SUSU KAMBING Faiqul Mubarok; Mudawamah Mudawamah; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jenis kemasan dan lama simpan pada suhu refrigerator terhadap nilai keasaman dan jumlah bakteri asam laktat’yoghurt susu kambing.’Materi yang digunakan’dalam penelitian ini yaitu susu kambing sebanyak 2,1 liter, starter komersial, Jenis Plastik PET 9 pieces dan HDPE 9 pieces, media MRS agar 65 gr, aquades 4 liter, alkohol 70% 600 ml, alumunium foil 3 pcs, indikator penolpthalein, NaOH, kapas dan plastik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan Nested Design (pola tersarang) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu total asam dan jumlah bakteri asam laktat yoghurt susu kambing. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of varians (ANOVA) serta dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis kemasan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total asam dan jumlah BAL yoghurt susu kambing. Rataan total asam  (%) yaitu K1=1,05, K2=1. Rataan total BAL (log CFU/ml) K1=7,03, K2=7,02. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama simpan dalam berbagai kemasan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap total asam dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap jumlah BAL. Rataan total asam  (%) yaitu K1L1=0,92a, K1L2=1,07a, K1L3= 1,15b, K2L1=0,93a, K2L2=1,00a, K2L3=1,08a. Rataan total BAL (log CFU/ml) K1L1=6,81a,K1L2=6,71a, K1L3=7,57b, K2L1=6,88a,K2L2=7,02a, K2L3=7,16a. Disimpulkan bahwa dalam pembuatan yoghurt yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) hendaknya dibuat dengan lama simpan 16 hari (kemasan PET) serta lama simpan 12 dan 16 hari (kemasan HDPE) pada suhu 7oC.
HUBUNGAN MUSIM DAN PERFORMAN REPRODUKSI SAPI PERAH PFH TERHADAP KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN DI CV. MILKINDO BERKA ABADI MALANG Setiawan setiawan; Mudawamah mudawamah; Usman Ali
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara unsur-unsur iklim di musim hujan dan kemarau dengan performan reproduksi serta membandingkan keberhasilan inseminasi buatan pada ternak sapi perah berdasarkan nilai performan di musim hujan dan musim kemarau. Penelitian ini memakai metode studi kasus, yaitu pengambilan data sesuai persyaratan yang ditentukan(purposive sampling) dari data sekunder recording IB sapi perah PFH yang sudah laktasi dengan BCS 3 (sedang) tahun 2016 - 2017, dan jumlah akseptor sapi perah di CV. Milkindo Berka Abadi, yang memenuhi syarat untuk dianalisis performan reproduksinya berdasarkan pengelompokan bulan musim hujan dan bulan musim kemarau. Sebagai contoh, nilai S/C pada musim hujandihitung dari sapi-sapi yang di IB dan bunting yang masuk pada bulan musim hujan, demikian sebaliknya pada musim kemarau. Jumlah data akseptor sapi perah yang dianalisis performan reproduksinya di musim hujan yaitu: S/C 72 ekor, DO 41 ekor, SD 81 ekor dan di musim kemarau yaitu: S/C 58 ekor, DO 35 ekor, SD 59 ekor. Data iklim berupa intensitas radiasi matahari, lama penyinaran, curah hujan, suhu dan kelembaban udara, data reproduksi, yaitu: Service per Conception (S/C), Days Open (DO), Service Days (SD), data dianalisis secara deskriptif dilanjutkan dengan Uji F, Uji-t tidak berpasangan, regresi dan korelasi dengan software microsoft Excel 2010. Hasil analisis Uji-t tidak berpasangan menunjukkan unsur-unsur iklim, yaitu: lama penyinaran, curah hujan, suhu dan kelembaban udara berbeda sangat nyata (P<0,01) pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau kecuali unsur iklim intensitas radiasi matahari tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan lama penyinaran di musim hujan 45 ± 8,13% dan di musim kemarau 61,33 ± 7,79%, rataan curah hujan di musim hujan 314,6 ± 105,9 mm dan di musimkemarau 57,44 ± 34,67 mm, rataan suhu udara rata-rata di musim hujan 26,28 ± 0,48°C dan di musim kemarau 25,52 ± 0,71°C, rataan kelembaban udara di musim hujan 84,13±1.64% dan di musim kemarau 80,22 ± 1,92%, rataan intensitas radiasi matahari di musim hujan 350,33 ± 37,19 grcal/cm²/hr dan di musim kemarau 367,22 ± 46,31 grcal/cm²/hr. Hasil analisis Uji-t tidak berpasangan menunjukkan performan reproduksi S/C, DO dan SD berbeda sangat nyata (P<0,01) pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Rataan S/C di musim hujan 3,43 ± 1,59 kali dan di musim kemarau 2,62 ± 1,65 kali. Rataan DO di musim hujan 97,54 ± 42,56 hari danmusim kemarau 62,34 ± 24,59 hari. Rataan SD di musim hujan 73,33 ± 4,95 hari dan di musim kemarau 55,63 ± 29,41 hari. Hasil analisis regresi antara unsur-unsur iklim di musim hujan dan kemarau tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap performan reproduksi seperti S/C, DO dan SD kecuali pada hubungan intensitas radiasi matahari dan DO di musim hujan berbeda sangat nyata(P<0,01) dengan persamaan regresi Y = -0,8226X + 420,98; nilai r -0,87 dan R² 0,75. Unsur-unsur iklim seperti curah hujan, suhu udara rata-rata dan kelembaban udara sangat nyata lebih tinggi di musim hujan daripada musim kemarau, sebaliknya pada musim kemarau lama penyinaran matahari sangat nyata lebih tinggi dibandingkan di musim hujan, sedangkan intensitas radiasimatahari tidak nyata di musim kemarau dan hujan. Performan reproduksi di musim kemarau sangat nyata lebih baik dibandingkan performan reproduksi di musim hujan. Tidak ada hubungan antara unsur-unsur iklim dan performan reproduksi di musim hujan dan kemarau, kecuali pada musim hujan terdapat hubungan antara intensitas radiasi matahari dan DO. Untuk meningkatkanperforman reproduksi pada musim hujan, disarankan perlu pemberian dan pengaturan lama penyinaran buatan seperti lampu. Perlu penelitian lebih lanjut tentang penelitan berbagai intensitas cahaya dan lama penyinaran lampu buatan terhadap performan reproduksi sapi perah di musim hujan.Kata kunci: DO, S/C, SD, sapi, AI
PENGARUH UKURAN MANGKOK BUATAN TERHADAP PANJANG SAYAP DAN CUBITAL INDEX CALON RATU APIS CERANA Fatimah Azzahra; Mudawamah mudawamah; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 4, No 02 (2021): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai ukuran mangkok buatan terhadap panjang sayap dan cubital index calon lebah ratu Apis cerana java genotype. Materi yang digunakan adalah larva Apis cerana umur 1 hari, lilin Apis cerana dan gas CO2, mikrometer okuler dan kaca objektif. Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 6 kotak koloni sebagai ulangannya dan masing-masing 4 unit. Analisa data dengan analisis ragam dan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Perlakuan mangkok buatan terdiri dari P1(ukuran kecil) dengan ukuran berikut: tinggi 7,5 mm; diameter atas dan bawah adalah 6,5 mm dan 4,4 mm. P2 (ukuran sedang) tinggi 8,5 mm, diameter atas dan bawah adalah 7,1 mm dan 5,8 mm, dan P3 (ukuran besar) tinggi 10 mm, diameter atas dan bawah 7 mm dan 6,2 mm. Hasil penelitian menunjukkan berbagai ukuran mangkok berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap panjang sayap dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap cubital index. Panjang sayap diperoleh senilai 14,93 mmb pada ukuran mangkok buatan besar (P3), 13,47 mmab pada ukuran sedang (P2) dan terakhir 12,80 mma pada ukuran kecil (P1). Cubital index tertinggi dengan ukuran mangkok buatan besar (P3) senilai 4,24 mmb, P2 senilai 3,71 mmab dan P1 senilai 3,17 mma. Dapat disimpulkan bahwa panjang sayap dan cubital index calon lebah ratu Apis cerana java genotype dipengaruhi oleh ukuran mangkok buatan. Mangkok buatan dengan tinggi 10 mm, diameter atas 7,1 mm dan diameter bawah 6,2 mm dijadikan patokan agar calon lebah ratu yang dibuat selanjutnya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan optimal.Kata kunci : Ukuran mangkok buatan, calon lebah ratu, Apis cerana java genotype, panjang sayap cubital index.
ESTIMASI RIPITABILITAS DAN MOST PROBABLE PRODUCING ABILITI (MPPA) SIFAT BERAT LAHIR SEBAGAI SELEKSI DAN CULLING KAMBING PERANAKAN ETTAWAH Hadiansyah Hadiansyah; Mudawamah Mudawamah; Sumartono Sumartono
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 3, No 02 (2020): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai ripitabilitas dan nilai MPPA pada sifat berat lahir pada kambing PE sebagai dasar seleksi dan culling yang telah dilaksanakan di BPTU HPT Pelaihari Kalimantan Selatan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data recording berat lahir anak kambing jantan yang mempunyai hubungan saudara tiri sebanyak 15 ekor berasal dari 3 pejantan dengan 15 ekor induk. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kasus, menggunakan analisis ragam hubungan saudara tiri sebapak dengan software excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ripitabilitas berat lahir kambing PE adalah 0,58. Nilai MPPA berdasarkan sifat berat lahir dari pejantan kode 3989 (4,18 kg), 4305 (4,21kg), dan 4131 (4,45  kg). Rangking pejantan tertinggi berdasarkan MPPA adalah pejantan kode 4131. Kesimpulan penelitian ini adalah nilai ripitabilitas berdasarkan berat lahir pada kambing PE adalah kategori tinggi, sehingga seleksi dan culling pada pejantan dapat dilakukan berdasarkan sifat berat lahir anak dengan minimal satu satu recording berat lahir. Nilai MPPA bobot lahir PE bersifat positif berkisar antara 4,18-4,45.Kata kunci : ripitabilitas, MPPA, berat lahir, seleksi dan culling.
PENGARUH PEMBERIAN FORMALIN TERHADAP WARNA BULU KUNING, DAYA TETAS, DAN MORTALITAS DOC PADA SAAT PENETASAN Herman Christantyo; Mudawamah mudawamah; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruhnya formalin terhadap warna bulu kuning, daya tetas, mortalitas DOC pada saat penetasan. Materi penelitian ini menggunakan formalin dan telur strain ayam broiler dengan lama penyimpanan 4 hari. Untuk warna bulu setiap unit percobaanterdiri dari 450 ekor tiap mesin. Pengamatan warna bulu dengan cara membandingkan dengan kamus warna. Sedangkan untuk daya tetas dan mortalitas menggunakan 12 mesin tetas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengakap(RAL), dengan tiga perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis ragam. Hasil analisis ragam menunjukan bahwa pemberian formalin tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap daya tetas dan mortalitas. Rataan frekuensi warna bulu kuning P1; daffodil (10,00%), lemon (13,33%), banana (76,77%), P2; yellow (19,33%), daffodil (2,72%), flaxen (4,72), butter (6,94%), lemon (65,94%),dandellion (0,33%), P3;fire (4,00%), bumbllebee (6,39%), banana (2,28%), butter (1,50%), honey (78,56%), blonde (5,33%), pineapple (1,89%), tuscansun (0,06%). Rata-rata daya tetas P1; 87,82, P2; 87,06, P3; 87,59. Rata-rata mortalitas P1; 6,75 , P2;7,02 , P3;7,20. Kesimpulan penambahanformalin berbagai dosis tidak berpengaruh terhadap daya tetas dan mortalitas, akan tetapi hanya memberikan frekuensi warna bulu yang lebih tinggi. Sebaiknya pemberian formalin dengan dosis 800 ml saja untuk menghasilkan warna yang lebih banyak dan pekat.
PERBEDAAN BANGSA INDUK SAPI TERHADAP KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN DI KECAMATAN WAGIR KABUPATEN MALANG Yuwantoro yuwantoro; Mudawamah mudawamah; Dedi Suryanto
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 2, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keberhasilan Inseminasi Buatan (IB) pada sapi PO, Simmental dan Limousin dengan IB menggunakan straw bangsa sapi yang sama. Metode penelitian adalah studi kasus di peternakan sapi potong rakyat Kecamatan Wagir. Pengambilan sampel secara purposive sampling dengan kriteria induk bangsa PO, Simmental danLimousin yang telah melahirkan, sapi induk diinseminasi dengan pejantan bangsa yang sama, BCS dengan nilai sedang. Variabel yang diamati adalah Conception Rate (CR) pada satu kali IB (Conception Rate) dan BCS (Body Condition Score) pada induk 3 bangsa sapi. Analisa data dengan menggunakan uji Chi-Square untuk CR dan uji t tidak berpasangan untuk nilai BCS. IBdilakukan dengan menggunakan straw sebangsa yaitu PO dengan PO, Simmmental dengan Simmental dan Limousin dengan Limousin. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa CR pada sapi PO, Simmental dan Limousin tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan CR sapi PO, Simmental dan Limousin adalah 80%, 70% dan 60%. Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan bahwa BCSantara PO dengan Simmental, PO dengan Limousin dan Simmental dengan Limousin tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan BCS pada PO, Simmental dan Limousin adalah 2,98, 3,05 dan 3,20. BCS antara sapi bunting dan tidak bunting pada bangsa sapi PO, Simmental dan Limousin berbeda sangat nyata (P<0,01). BCS sapi bunting antara sapi PO dan Simmental serta antara Simmental dan Limousin tidak berbeda nyata (P>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah nilaiBCS dan keberhasilan inseminasi buatan pada induk berbagai bangsa sapi potong di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang adalah sama. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang keberhasilan IB yang lain seperti S/C, Calving Interval pada berbagai bangsa sapi potong.Kata Kunci : bangsa induk, BCS, CR
PERBANDINGAN UKURAN TUBUH PADA BERBAGAI WARNA BULU DAN NUKLEOTIDA GEN TYROSINASE (TYR) BURUNG KENARI (Serinus canaria) DAN BURUNG MERPATI (Columba livia domestica) Armada armada; Mudawamah mudawamah; Oktavia Rahayu Puspitarini
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 1, No 1 (2019): Edisi Khusus Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan dari tanggal 09 sampai 29 Desember 2017. Lokasi penelitian bertempat di pasar burung Splendid Jl. Brawijaya no. 6, Klojen, Kauman, Kota Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbandingan warna bulu pada nukleotida gen tyrosinase (TYR). Materi yang digunakan adalah 15 burung kenari dan 15 burung merpati (polos ,mosaic,putih). Metode penelitian ini menggunakan (1) survei di pasar burung Splendid Malang untuk data ukuran tubuh kenari dan merpati (2) studi literatur untuk data nukleotida National Center for Biotehnologi Information (NCBI), data nukleotida burung kenari dari hasil penelitian Mudawamah et al. ( 2014). Variabel yang diamati panjang shank, lingkar dada, panjang tubuh berbagai warna bulu serta perbandingan nukleotida gen TYR kenari dan merpati. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan untuk ukuran tubuh, perbandingan nukleotida secara deskriptif dengan software Basic Lokal Alignmant Search Tool (BLAST) NCBI. Hasil analisis uji t tidak berpasangan menunjukkan perbedan yang sangat nyata (P ˂0,01) hanya pada sifat panjangshank mosaic dan lingkar dada putih burung kenari dan merpati. Panjang shank kenari mosaic 2,65 cm dan merpati 4,32 cm, sedangkan ukuran lingkar dada kenari putih 3,84 cm dan merpati 10,93 cm. Jumlah nukleotida pada gen TYR kenari dan merpati 100% sama dengan panjang basa 1995. Kesimpulan penelitian ini adalah burung kenari memiliki kisaran rataan ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan kisaran rataan ukuran tubuh burung merpati. Nukleotida dari gen TYR pada kenari dan merpati sama yaitu jumlah basa adenin (A)= 547, timin (T) = 512, citosin (C) = 475, guanin (G)= 460 dan N (A atau G atau C atau T) =1.Kata kunci : Ukurun tubuh, gen TYR, Kenari, Merpati
Co-Authors A, Aulanniam A. A. Mirella AA Sudharmawan, AA Ach. Akmal Basyar Achmad Iklilul L.L. As’ad Achmad Setiyono Afidhatul Masruroh Agus Budiarto Aisyah Dian Sulistyaningarum Alhikami, Waliyyul Ahdi Anan Matur Anggita, Arnes Armada armada Aulanni'am, Aulanni'am Badriyah B Badriyah B, Badriyah Badrus Sholeh Cicik Sulistyo Winarni D. Sunarto Darmawan, Drajad Azis Dedi Suryanto Deni Sartika Diani, Khonita Rahma Eka Putri, Yosephine Angelina Yulia Faiqul Mubarok Fatimah Azzahra Fitriyah Fitriyah Gatot Ciptadi Gusfarisa Rafika Putri Hadiansyah Hadiansyah Hairoh, Nikhmatul Hendy Mahendra Hendy Mahendra Herman Christantyo I Gusti Putu Diva Awatara I.D. Retnaningtyas I.D. Retnaningtyas, I.D. Indrajaya, Putra Inggit Kentjonowaty Juliadi Azhar Kurniawan Khoirur Roziqin Khonita R. Diani M. Auzaini M. Faisal Armanda M. Ricky Adi Santoso M. Rizqi Hamdilah M. Z. Anwar M. Z. Fadli M. Zainul Fadli M.F. Wadjdi M.F. Wadjdi, M.F. Mahendra, Hendy Meyya L. Zain Muh. Ainun Syamsuddin Haris Musdalifah, Faigah Nabila Latifa Hae Nahdiyatul Ummah Nur Rohman, Mohamad Agung Nurul Humaidah Oktavia Rahayu Puspita Oktavia Rahayu Puspitarini Rahman, A. K. Rahmatullah, Aldin Akbar Retnaningtyas, irawati Dinasari rohimah Rohimah S. Ali S. Susilowati S. Susilowati Sari, Ayu Mufidah Kartika Setiawan setiawan Sholihah, Anis Sri Susilowati Sugiono, Sugiono Sukiman, Anding Sumartono Sumartono Sumartono Sumartono Sumartono Sunaryo Sunaryo Supiyah Puteri Ramdhani Susilowati S Taufiqur Rahman Trijaya Trijaya Trisakti, Adinda Rizky Umi Kalsum Usman Ali Wibowo, Heru Budi widayat, moch widayat Widianto, Tri Yudi Hartoyo Yuwantoro yuwantoro Zulchaidi Zulchaidi