Claim Missing Document
Check
Articles

Quantitative Productivity Analysis Of Broiler Farming Business With System Closed House And System Open House Pradiptha, Nizham; Mudawamah; Umi Kulsum,
Jurnal Ternak Vol. 16 No. 2 (2025): Desember, 2025
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jt.v16i2.286

Abstract

This research was conducted in Banjarmasin City, South Kalimantan Province. The study was conducted in October 2023. The objective was to analyze the differences in quantitative productivity between broiler farms maintained under closed and open house systems. The subjects used in the study were 180,000 broilers raised in 15 cages each, each with a population of 6,000 birds per cage. This research was conducted at the broiler partnership farm of PT Mitra Sinar Jaya. The research method used a quantitative descriptive approach, with data obtained from the maintenance records of partner farmers. The number of recordings came from 6,000 broilers per cage, with 15 replications for each type of closed house and open house. The quantitative productivity observed in this study were depletion (mortality + culling), number of birds harvested, Feed Intake (FI), average harvest body weight (ABW), Feed Conversion Ratio (FCR), harvest age, cage density, and Performance Index (IP). Data were analyzed using an Independent t-test. Based on the results of the study, it shows that depletion, the number of harvested chickens, ABW, FCR, FI, broiler harvest age have no significant differences (P>0.05) between closed house and open house cages. While in quantitative productivity, cage density and IP there are differences between broilers raised with closed house and open house cage systems. From the average value there is a tendency for closed houses to be better than open houses seen from the depletion value which is better by 63 heads (174 heads vs. 237 heads); the number of harvested chickens is better by 63 heads (5826 heads vs. 5763 heads); FI is better by 0.034 (2.798 kg/head vs. 2.832 kg/head); ABW is better by 0.05 kg (1.79 kg and 1.74 kg); FCR is better by 0.068 (1.555 kg feed/kg bw vs. 1.623 kg feed/kg bw); A better cage density of 4 birds/m² (13 birds/m² vs. 9 birds/m²) and a 27-point higher Performance Index (PI) (350 vs. 323), except for the same harvest age (32 days vs. 32 days).The conclusion of this study is that the depletion value, number of birds harvested, Feed Intake (FI), ABW, FCR, and cage density of broilers using a closed house system tend to be better than those using an open house system. The success rate of broiler farming is achieved by farmers using a closed house system because the Performance Index (PI) value is higher than that of farmers using an open house system. Based on the research results, which show that closed houses tend to be 8.35% better than open houses, it is recommended that farmers using closed and open house systems improve the quality of human resources and record keeping as a basis for continuous management evaluation to achieve optimal productivity.
PERFORMA BOBOT LAHIR DAN PERTUMBUHAN ANAK BERDASARKAN BOBOT BADAN DAN UKURAN TUBUH INDUK DOMBA CROSS TEXEL Zahrul Ustadhi; Mudawamah Mudawamah; Nisa'us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan serta keeratan antara bobot badan dan ukuran-ukuran linier tubuh induk (bobot badan, panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak) terhadap performa awal keturunan (bobot lahir dan laju pertumbuhan pra-sapih) pada domba Cross Texel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei observasional dengan pendekatan kuantitatif pada populasi ternak di Pandawa Farm, Turen, Kabupaten Malang. Materi penelitian yang digunakan meliputi 30 ekor induk domba Cross Texel paritas 2–4 serta 45 ekor anak domba yang dilahirkannya. Parameter tubuh induk diukur pada fase kebuntingan tua, sedangkan bobot lahir anak ditimbang kurang dari 24 jam setelah kelahiran, dilanjutkan dengan pencatatan pertumbuhan harian hingga masa sapih. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi Pearson, serta analisis regresi linear sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir anak domba adalah 2,87 ± 0,38 kg, sedangkan rata-rata pertambahan bobot badan harian (PBBH) pra-sapih adalah 0,164 ± 0,01 kg/hari. Hasil analisis uji parsial membuktikan bahwa ukuran lingkar dada induk merupakan satu-satunya variabel morfometrik yang memiliki pengaruh signifikan (P < 0,05) terhadap bobot lahir anak dengan nilai korelasi positif (r = 0,380) dan mengikuti persamaan regresi Y1 = 1,20 + 0,023X3. Sebaliknya, variabel bobot badan, panjang badan, dan tinggi pundak induk tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P > 0,05) terhadap performa bobot lahir maupun pertumbuhan anak. Berdasarkan hasil uji simultan, dimensi tubuh induk secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 15,8% terhadap bobot lahir dan hanya 4,7% terhadap pertumbuhan harian anak. Disimpulkan bahwa karakteristik lingkar dada induk merupakan indikator morfometrik paling efektif untuk mengestimasi dan meningkatkan performa bobot lahir anak domba Cross Texel, sementara performa pertumbuhan pasca-lahir lebih didominasi oleh manajemen pakan fungsional dan kapasitas laktasi induk.Kata Kunci: Cross Texel, Lingkar Dada, Bobot Lahir, Pertumbuhan Pra-Sapih, Seleksi Induk Birth Weight and Growth Performance of Lambs Based on Body Weight and Body Measurements of Cross Texel Ewes AbstractThis study aimed to evaluate the correlation and predictive effects of ewe body weight and morphometric traits (body length, chest girth, and withers height) on the birth weight and pre-weaning growth performance of Cross Texel lambs. A quantitative observational survey was conducted on 30 ewes (parity 2–4) and 45 lambs at Pandawa Farm, Malang. Data were evaluated using Pearson correlation, alongside simple and multiple linear regression analyses. The results showed an average lamb birth weight of 2.87 ± 0.38 kg and a pre-weaning growth rate of 0.164 ± 0.01 kg/day. Crucially, ewe chest girth was the only morphometric variable that significantly influenced (P < 0.05) lamb birth weight, showing a positive correlation (r = 0.380) via the regression equation Y1 = 1.20 + 0.023X3. Conversely, ewe body weight, body length, and withers height had no significant effects (P > 0.05) on offspring traits. In conclusion, ewe chest girth serves as the most reliable morphometric selector for predicting lamb birth weight. Keywords: Cross Texel, Chest Girth, Birth Weight, Pre-Weaning Growth, Ewe Selection.
PENGARUH JARAK KELAHIRAN (LAMBING INTERVAL) TERHADAP JUMLAH ANAK PER KELAHIRAN (LITTER SIZE) DAN BOBOT LAHIR DOMBA CROSS TEXEL DI PANDAWA FARM Ryamizard Ryamizard; Mudawamah Mudawamah; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produktivitas reproduksi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha pembibitan domba. Lambing interval sebagai indikator efisiensi reproduksi diduga berhubungan dengan jumlah anak per kelahiran (litter size) dan bobot lahir anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dan pengaruh lambing interval terhadap litter size dan bobot lahir pada domba Cross Texel di Pandawa Farm. Penelitian menggunakan data sekunder reproduksi dari 35 ekor induk domba Cross Texel yang telah beranak. Variabel yang diamati meliputi lambing interval, litter size, dan bobot lahir. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lambing interval, litter size, dan bobot lahir berturut-turut sebesar 241,34 ± 41,97 hari, 1,60 ± 0,695 ekor, dan 2,80 ± 0,464 kg. Analisis korelasi menunjukkan bahwa lambing interval memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap litter size (r = -0,368; P = 0,029), sedangkan hubungan terhadap bobot lahir tidak signifikan (r = -0,121; P = 0,488). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa lambing interval berpengaruh nyata terhadap litter size dengan persamaan Y₁ = 3,071 − 0,006X, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot lahir dengan persamaan Y₂ = 3,128 − 0,001X. Disimpulkan bahwa peningkatan lambing interval cenderung menurunkan jumlah anak per kelahiran, namun tidak memengaruhi bobot lahir anak domba Cross Texel. Oleh karena itu, optimalisasi manajemen reproduksi untuk mempertahankan lambing interval yang efisien perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas reproduksi, khususnya litter size.. Kata Kunci: bobot lahir, domba Cross Texel, lambing interval, litter size, reproduksi. The Effect of Lambing interval on Litter size and Birth Weight of Cross Texel Sheep at Pandawa Farm AbstractReproductive performance is a key factor determining the success of sheep breeding enterprises. Lambing interval, as an indicator of reproductive efficiency, is assumed to be associated with litter size and lamb birth weight. This study aimed to evaluate the relationship and effect of lambing interval on litter size and birth weight in Cross Texel sheep at Pandawa Farm. Secondary reproductive records from 35 Cross Texel ewes were used in this study. The observed variables included lambing interval, litter size, and birth weight. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation analysis, and simple linear regression. The results showed that the average lambing interval, litter size, and birth weight were 241.34 ± 41.97 days, 1.60 ± 0.695 lambs, and 2.80 ± 0.464 kg, respectively. Pearson correlation analysis revealed a significant negative relationship between lambing interval and litter size (r = -0.368; P = 0.029), whereas the relationship between lambing interval and birth weight was not significant (r = -0.121; P = 0.488). Simple linear regression indicated that lambing interval had a significant effect on litter size (Y₁ = 3.071 − 0.006X) but no significant effect on birth weight (Y₂ = 3.128 − 0.001X). It can be concluded that a longer lambing interval tends to reduce litter size but does not affect the birth weight of Cross Texel lambs. Therefore, optimizing reproductive management to maintain an efficient lambing interval is essential to improve reproductive productivity, particularly litter size. Keywords: birth weight; Cross Texel sheep; lambing interval; litter size; reproductive performance.
PENGARUH PENAMBAHAN MINYAK LEMURU DAN TEPUNG KAYU MANIS DALAM PAKAN TERHADAP KUALITAS ALBUMEN TELUR AYAM Moch Fimasy Hudillah; Mudawamah Mudawamah; Brahmadhita Pratama Mahardhika
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

     Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh minyak lemuru dan tepung kayu manis yang di tambahkan dalam ransum terhadap karakteristik albumen telur ayam. Penelitian menggunakan 27 ekor ayam petelur strain Lohmann Brown Platinum berumur 22 minggu yang susunanya dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 × 3 dengan doble faktor, yaitu level minyak lemuru (0; 1,5; dan 3%) serta level tepung kayu manis (0; 2; dan 4%). Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan satu ekor ayam sebagai unit percobaan. Pengamatan parameter meliputi tinggi, panjang, dan lebar albumen. Analisa data menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan akan di lanjurkan uji duncan kalau ada yang berbeda nyata. Penelitian menunjukkan hasil bahwa minyak lemuru dapat berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi albumen, tetapi pengaruhnya tidak nyata (P>0,05) terhadap panjang dan lebar albumen. Tepung kayu manis dapat berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap parameter keseluruhan yang diamati. Interaksi perlakuan di keduanya juga berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada tinggi dan panjang albumen, sedangkan terhadap lebar albumen pengaruhnya tidak nyata (P>0,05). Kombinasi minyak lemuru 1,5% serta tepung kayu manis 4% memberikan hasil tinggi albumen tertinggi sebesar 9,40 mm, sedangkan kombinasi minyak lemuru 3% dan tepung kayu manis 4% menghasilkan panjang albumen tertinggi sebesar 113,89 mm. Rata-rata lebar albumen tertinggi sebesar 73,17 mm diperoleh pada pemberian tepung kayu manis 4%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi minyak lemuru dan tepung kayu manis memberikan respons yang berbeda terhadap karakteristik albumen, dengan pengaruh interaksi yang lebih nyata pada tinggi dan panjang albumen.Kata kunci: albumen; ayam petelur; kualitas telur; minyak lemuru; tepung kayu manis  THE EFFECT OF DIETARY LEMURU FISH OIL AND CINNAMON POWDER ON THE ALBUMEN CHARACTERISTICS OF LAYING HEN EGGS Abstracthe purpose of this study was to determine the effect of fish oil and cinnamon powder added to the diet on the albumen characteristics of laying hen eggs. The study used 27 Lohmann Brown Platinum laying hens aged 22 weeks and was arranged in a 3 × 3 factorial Completely Randomized Design (CRD) with two factors, namely fish oil levels (0, 1.5, and 3%) and cinnamon powder levels (0, 2, and 4%). Each treatment combination was replicated three times, with one hen serving as the experimental unit. The observed parameters included albumen height, length, and width. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and were followed by Duncan's Multiple Range Test when significant differences were found. The results showed that fish oil had a highly significant effect (P<0.01) on albumen height, but had no significant effect (P>0.05) on albumen length and width. Cinnamon powder had a highly significant effect (P<0.01) on all observed parameters. The interaction between the two treatments also had a highly significant effect (P<0.01) on albumen height and length, whereas it had no significant effect (P>0.05) on albumen width. The combination of 1.5% fish oil and 4% cinnamon powder produced the highest albumen height of 9.40 mm, while the combination of 3% fish oil and 4% cinnamon powder produced the greatest albumen length of 113.89 mm. The highest average albumen width of 73.17 mm was obtained from the supplementation of 4% cinnamon powder. Based on these results, it can be concluded that the combination of fish oil and cinnamon powder produced different responses in albumen characteristics, with a more pronounced interaction effect on albumen height and length.Keywords: albumen; cinnamon powder; egg quality; laying hens; lemuru fish oil
PERBANDINGAN KARAKTER FENOTIPE KUANTITATIF SERTA HUBUNGAN UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN PADA INDUK CROSS DORPER DAN CROSS TEXEL Khoirunnisa Saka; Mudawamah Mudawamah; Nisa&#039;us Sholikah
Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal) Vol 9, No 1 (2026): Dinamika Rekasatwa
Publisher : Dinamika Rekasatwa: Jurnal Ilmiah (e-Journal)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset yang telah dilakukan memiliki tujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakter fenotipe kuantitatif yang meliputi bobot badan, panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, dan lebar pinggul, serta mengetahui hubungan ukuran-ukuran tubuh tersebut dengan bobot badan pada induk domba Cross Dorper dan Cross Texel. Penelitian ini menggunakan 40 ekor induk domba berumur poel satu (memiliki sepasang gigi seri permanen), yang terdiri atas 20 ekor induk Cross Dorper dan 20 ekor induk Cross Texel. Uji-t sampel independen, analisis korelasi Pearson, dan regresi linier sederhana Adalah analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil riset menunjukkan bahwa induk Cross Dorper memiliki rataan bobot badan, lingkar dada, panjang badan, tinggi badan, dan lebar pinggul masing-masing sebesar 34,02 kg; 82,82 cm; 56,08 cm; 62,29 cm; dan 20,83 cm, sedangkan pada induk Cross Texel masing-masing sebesar 31,08 kg; 79,53 cm; 45,68 cm; 61,02 cm; dan 19,03 cm. Seluruh parameter fenotipe kuantitatif berbeda nyata antara kedua kelompok domba (P < 0,05), dengan peningkatan ukuran tubuh pada Cross Dorper dibandingkan Cross Texel berkisar antara 2,08–22,77%. Pada induk Cross Dorper, seluruh ukuran tubuh memiliki hubungan positif, sangat kuat, dan signifikan dengan bobot badan, dengan nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,802–0,906 dan koefisien determinasi sebesar 64,25–82,06%. Lingkar dada merupakan parameter terbaik dalam menduga bobot badan Cross Dorper dengan persamaan regresi Y = 1,1115X − 58,054 dan R² = 0,8206. Pada induk Cross Texel, hubungan ukuran tubuh dengan bobot badan berada pada kategori sedang dengan nilai koefisien korelasi berkisar antara 0,429–0,580 dan koefisien determinasi sebesar 18,39–33,57%. Tinggi badan merupakan parameter terbaik dalam menduga bobot badan Cross Texel dengan persamaan regresi Y = 0,8594X − 21,055 dan R² = 0,3357, sedangkan hubungan lebar pinggul dengan bobot badan tidak signifikan (P > 0,05). Disimpulkan bahwa induk Cross Dorper memiliki rataan karakter fenotipe kuantitatif yang lebih tinggi daripada induk Cross Texel. Lingkar dada merupakan penduga tunggal terbaik terhadap bobot badan Cross Dorper. Pada Cross Texel, tinggi badan merupakan penduga tunggal terbaik. Kata kunci: bobot badan, Cross Dorper, Cross Texel, fenotipe kuantitatif, ukuran tubuh.
Co-Authors A, Aulanniam A. A. Mirella AA Sudharmawan, AA Ach. Akmal Basyar Achmad Setiyono Afidhatul Masruroh Agus Budiarto Aisyah Dian Sulistyaningarum Alhikami, Waliyyul Ahdi Anan Matur Anggita, Arnes Armada armada Aulanni'am, Aulanni'am Badriyah B Badriyah B, Badriyah Badrus Sholeh Brahmadhita Pratama Mahardhika Cicik Sulistyo Winarni D. Sunarto Darmawan, Drajad Azis Dedi Suryanto Deni Sartika Diani, Khonita Rahma Eka Putri, Yosephine Angelina Yulia Faiqul Mubarok Fatimah Azzahra Fitriyah Fitriyah Gatot Ciptadi Gusfarisa Rafika Putri Hadiansyah Hadiansyah Hairoh, Nikhmatul Hendy Mahendra Hendy Mahendra Herman Christantyo I Gusti Putu Diva Awatara I.D. Retnaningtyas I.D. Retnaningtyas, I.D. Indrajaya, Putra Inggit Kentjonowaty Juliadi Azhar Kurniawan Khoirunnisa Saka Khoirur Roziqin M. Auzaini M. Faisal Armanda M. Ricky Adi Santoso M. Rizqi Hamdilah M. Z. Anwar M. Z. Fadli M. Zainul Fadli M.F. Wadjdi M.F. Wadjdi, M.F. Mahendra, Hendy Moch Fimasy Hudillah Muh. Ainun Syamsuddin Haris Musdalifah, Faigah Nabila Latifa Hae Nahdiyatul Ummah Nisa&#039;us Sholikah Nur Rohman, Mohamad Agung Nurul Humaidah Oktavia Rahayu Puspita Oktavia Rahayu Puspitarini Pradiptha, Nizham Rahman, A. K. Rahmatullah, Aldin Akbar Retnaningtyas, irawati Dinasari rohimah Rohimah Ryamizard Ryamizard S. Ali S. Susilowati S. Susilowati Sari, Ayu Mufidah Kartika Setiawan setiawan Sholihah, Anis Siswahyudianto Sri Susilowati Sukiman, Anding Sumartono Sumartono Sumartono Sumartono Sumartono Sunaryo Sunaryo Supiyah Puteri Ramdhani Susilowati S Taufiqur Rahman Trijaya Trijaya Trisakti, Adinda Rizky Umi Kalsum Umi Kulsum, Usman Ali Wibowo, Heru Budi widayat, moch widayat Widianto, Tri Yudi Hartoyo Yuwantoro yuwantoro Zahrul Ustadhi Zulchaidi Zulchaidi