Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengendalian Persediaan pada Usaha Bengkel Arman Jaya: Studi Lapangan dan Kegiatan Edukasi Rusly, Riyan; Musdalifa, Musdalifa; Sangkala, Masnawaty; Setiawan, Ricky; Ahmad, Syafar; Fitriani, Fitriani
Jurnal Kemitraan Responsif untuk Aksi Inovatif dan Pengabdian Masyarakat Volume 3 Issue No. 1: July 2025
Publisher : Lontara Digitech Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61220/

Abstract

  Pengendalian persediaan merupakan elemen krusial dalam menjaga stabilitas operasional usaha, terutama pada bengkel otomotif yang memerlukan ketersediaan suku cadang untuk memastikan kelancaran pelayanan. Artikel ini membahas hasil studi lapangan dan kegiatan edukasi yang dilakukan pada Bengkel Arman Jaya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pemilik usaha mengenai pentingnya pengendalian persediaan dan memberikan panduan praktis dalam pengelolaan stok suku cadang. Metode yang digunakan mencakup observasi awal, penyusunan materi edukatif, pelaksanaan penyuluhan langsung, serta evaluasi dan tindak lanjut. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemilik usaha mengalami peningkatan pemahaman dan mulai menerapkan pencatatan persediaan harian serta sistem pemesanan yang lebih teratur. Edukasi ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis praktik sangat efektif dalam membangun kesadaran dan keterampilan pengelolaan persediaan sederhana di kalangan pelaku UMKM. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan program serupa di sektor usaha bengkel otomotif lainnya.
The Tradition of Postponing Cohabitation until Walimatul ‘Ursy in Cerenti: Durkheim’s solidarity analysis Musdalifa, Musdalifa; Riyadi, Alif Andaru; Rahmayani, Rahmayani; Nisa, Khoirun; Syahid, Abdur Rahman
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v27i2.36881

Abstract

Marriage customs in Malay communities continue to evolve amid shifting social values, yet scholarly attention to how local traditions mediate the relationship between Islamic law and indigenous norms remains limited. Although various studies have examined marriage rituals in Indonesia, no research has specifically analyzed the tradition of postponing cohabitation until the walimatul ‘ursy in Cerenti District, nor how this custom functions as a socio-religious mechanism that maintains communal harmony. This gap highlights the urgency of investigating how the practice negotiates the potential tension between Islamic permissibility for immediate cohabitation and customary restrictions rooted in Malay moral philosophy. Its novelty lies in analyzing Malay marriage traditions through the perspective of social cohesion, demonstrating how local and religious values interact in shaping social order. This study discusses the tradition of postponing cohabitation until walimatul ‘ursy (wedding celebration) in the Malay community in Cerenti District as a socio-religious practice that reflects the balance between Islamic customs and sharia, and functions as a social mechanism that strengthens community cohesion. The purpose of the research is to analyze the social function and religious value of the tradition through Emile Durkheim's theory of social solidarity. The research uses a qualitative approach with field data through in-depth interviews with four indigenous figures, data analysis is carried out descriptive-analytically using Durkheim's concept of mechanical and organic solidarity. The results of the study show that postponing cohabitation serves as a mechanism of self-control, family respect, and guardian of the sanctity of marriage. These findings confirm that the tradition strengthens social unity through the common values and collective norms of the Cerenti community. Practically, this research provides insights applicable to family development and the preservation of customs based on Islamic values. In conclusion, this tradition does not restrict individuals freedom but plays a role in maintaining the moral and social balance of the community. Tradisi pernikahan dalam masyarakat Melayu terus mengalami dinamika seiring perubahan nilai sosial, namun kajian ilmiah mengenai bagaimana adat lokal memediasi hubungan antara hukum Islam dan norma budaya masih terbatas. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas ritual pernikahan di Indonesia, belum ada studi yang secara khusus menganalisis tradisi penundaan tinggal bersama hingga pelaksanaan walimatul ‘ursy di Kecamatan Cerenti, maupun bagaimana praktik tersebut berfungsi sebagai mekanisme sosial-keagamaan yang menjaga keharmonisan komunal. Kekosongan kajian ini menunjukkan urgensi untuk menelusuri bagaimana tradisi tersebut merundingkan potensi ketegangan antara kebolehan syariat untuk langsung tinggal bersama dan pembatasan adat yang berakar pada filosofi moral masyarakat Melayu. Kebaruan penelitian terletak pada analisis tradisi pernikahan Melayu melalui perspektif kohesi sosial yang menunjukkan bagaimana nilai lokal dan religius berinteraksi dalam membentuk ketertiban sosial. Penelitian ini membahas tradisi penundaan tinggal bersama hingga walimatul ‘ursy pada masyarakat Melayu di Kecamatan Cerenti sebagai praktik sosial keagamaan yang mencerminkan keseimbangan antara adat dan syariat Islam, serta berfungsi sebagai mekanisme sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Tujuan penelitian adalah menganalisis fungsi sosial dan nilai religius tradisi tersebut melalui teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan data lapangan melalui wawancara mendalam dengan empat tokoh adat, analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menggunakan konsep solidaritas mekanik dan organik Durkheim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penundaan tinggal bersama berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri, penghormatan keluarga, dan penjaga etika kesucian pernikahan. Temuan ini menegaskan bahwa tradisi tersebut memperkuat kesatuan sosial melalui kesamaan nilai dan norma kolektif masyarakat Cerenti. Secara praktis, penelitian ini memberikan wawasan yang dapat diterapkan dalam pembinaan keluarga dan pelestarian adat berbasis nilai Islam. Kesimpulannya, tradisi ini tidak membatasi kebebasan individu, tetapi berperan menjaga keseimbangan moral dan sosial dalam komunitas..
Manajemen Sarana Pembelajaran Melalui Kebijakan Penggunaan Alat Elektronik dalam Mendukung Pendidikan Ganda di Pondok Pesantren Mannallah Umi Habibah; Ahmad Syawal; Sedya Santosa; Musdalifa, Musdalifa
Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan | E-ISSN : 3062-7788 Vol. 2 No. 4 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the management of learning facilities through electronic device restriction policies in supporting dual education at Pondok Pesantren Mannallah. Dual education that integrates diniyah and formal curricula creates complexity in facility needs, especially when pesantren implements strict restrictions on the use of electronic devices. This qualitative research with a case study design involves 29 santri and 5 administrators as research subjects selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, then analyzed using the Miles, Huberman & Saldana model. The research results show: (1) the condition of learning facilities is still conventionally oriented with significant limitations in digital facilities there are no shared computers for santri, internet access is very limited, and the management system is manual-based; (2) the implementation of electronic device restriction policy creates a pedagogical paradox that is effective in maintaining the focus of diniyah learning but hinders the fulfillment of formal education needs; (3) optimization strategies require a controlled digital access model that provides controlled technology facilities without sacrificing pesantren values. The practical implications of this research recommend the provision of digital learning spaces with scheduled access, monitoring systems based on direct supervision, and integration of digital literacy into the pesantren curriculum as solutions to balance value preservation with 21st-century learning technology adaptation.
Pemahaman Makna “Tabarruj” dan Korelasinya dengan Trend Velocity di Tiktok Musdalifa, Musdalifa; Nisa, Khoirun; Ainudzaky, Muhammad; Musyafa'ah, Nur Lailatul
QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan Vol 9 No 2 (2025)
Publisher : FASYA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/qj.v9i2.11845

Abstract

Perkembangan media sosial khususnya pada aplikasi TikTok melahirkan beragam tren digital yang memengaruhi gaya hidup dan ekspresi diri generasi muda. Salah satu tren populer adalah Velocity, yakni tarian atau gerakan tubuh dengan efek slow motion yang menonjolkan estetika visual. Fenomena ini, meskipun dipandang sebagai hiburan dan kreativitas, menimbulkan perdebatan etis dalam perspektif Islam, terutama terkait konsep tabarruj. Dalam literatur klasik, tabarruj dipahami sebagai perilaku perempuan yang menampakkan perhiasan, lekuk tubuh, atau kecantikan secara berlebihan di ruang publik sehingga memicu daya tarik lawan jenis. Artikel ini menggunakan metode deskriptif-analitis berbasis studi pustaka untuk menelaah korelasi antara praktik Velocity di TikTok dengan konsep tabarruj. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian konten Velocity, khususnya yang melibatkan pakaian ketat, gerakan sensual, atau interaksi bebas lawan jenis, dapat dikategorikan mendekati tabarruj digital. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis dan pemahaman syariat agar umat Islam, terutama generasi muda, dapat menyikapi tren media sosial secara bijak dengan tetap menjaga etika, kehormatan diri, dan nilai keislaman.
Efektivitas Metode Qoidah Nuroniyyah terhadap Ketepatan Makhraj Bacaan Al-Qur’an Anak TPQ Usia Sekolah Dasar Musdalifa, Musdalifa; Mahyani, Aang
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7026

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Metode Qoidah Nuroniyyah terhadap ketepatan makhraj bacaan Al-Qur’an anak TPQ usia sekolah dasar. Ketepatan makhraj merupakan aspek penting dalam membaca Al-Qur’an karena kesalahan dalam pelafalan huruf hijaiyah dapat memengaruhi makna dan kesempurnaan bacaan. Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang sistematis dan terstruktur untuk meningkatkan kualitas pelafalan sejak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment melalui model pretest-posttest control group design. Penelitian dilaksanakan di Rumah Qur’an Ar Royan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan subjek sebanyak 20 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan membaca Al-Qur’an yang difokuskan pada ketepatan makhraj huruf hijaiyah sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji Paired Sample T-test untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara sebelum dan sesudah penerapan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest sebesar 60 meningkat menjadi 87 pada posttest. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi (p) sebesar 0,001 pada taraf α = 0,05, sehingga p < α dan hipotesis nol ditolak. Temuan ini menunjukkan bahwa Metode Qoidah Nuroniyyah efektif dalam meningkatkan ketepatan makhraj bacaan Al-Qur’an. Metode yang disusun secara bertahap dan menekankan latihan artikulasi terbukti membantu peserta didik melafalkan huruf sesuai kaidah tajwid secara lebih tepat dan konsisten.
Reconstructing the Jihad in Contemporary Islamic Law: An Analysis of the Sheikh Ahmad al-Tayyeb’s Thought Ainudzaky, Muhammad; Musdalifa, Musdalifa; Nisa, Khoirun; Fiqar, Mujahid Sam Dzul
Ma’mal: Jurnal Laboratorium Syariah dan Hukum Vol. 6 No. 6 (2025): December
Publisher : Laboratorium Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya (https://uinsa.ac.id/fsh/facility)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/mal.v6i6.523

Abstract

Today's jihad discourse is polarized in meaning, between ethical-spiritual understanding and militaristic reductionism that is often associated with violent extremism. This study aims to examine how Sheikh Ahmad al-Tayyeb reconstructed the meaning of jihad normatively and contextually, and assess its implications for the development of contemporary fiqh. This research is a literature study with a normative-conceptual approach and analysis of maqāṣid al-sharī'ah. Primary data are obtained from al-Tayyeb's works, fatwas, and official statements as well as documents, while secondary data are derived from classical fiqh literature and contemporary studies of jihad. The analysis is carried out in a descriptive-analytical and critical manner to identify the conceptual construction of jihad and its relevance in the modern context. The results of the study show that al-Tayyeb interprets jihad as a comprehensive effort to uphold justice, maintain human dignity, and protect the public interest. The qitāl dimension is recognized in a defensive framework and is limited by state authority as well as universal humanitarian principles. In practice, jihad is realized through education, moderate da'wah, interreligious diplomacy, and global humanitarian solidarity. This reconstruction contributed to a more contextual, moderate, and harmonized fiqh jihad renewal without abandoning the normative foundations of the Islamic tradition.