Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Virtual Screening the Interaction of Various Compound from Indonesian Plants with the HGXPRT Enzyme to Find a Novel Antimalarial Drug Wilda Nur Rohmatillah; Naura Bathari Winarto; Arthur Hariyanto Prakoso; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
Nusantara Science and Technology Proceedings International Conference on Life Sciences and Biotechnology (ICOLIB)
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2021.0805

Abstract

Medicinal plants have been a notable source for antimalarial agents. This study was aimed to investigate the antimalarial potency of Indonesian medicinal plants used traditionally in malarial fever therapy. A total of 238 compounds derived from 43 plants traditionally used to alleviate malarial fever were collected and loaded into molecular docking protocol. The compounds were screened against Hypoxanthine-Guanine-XanthinePhosphoribosyltransferase (HGXPRT, 3OZF) using the AutoDock Vina software 1.1.2. The compound is important for the purine synthesis of the parasite. The experiment resulted in AM125 (20-isoveratramine) from Cyanthillium patulum to possess the highest affinity with free energy (?G)-11 kcal/mol, which is better than HGXPRT native ligands (-6.4kcal/mol). This suggested Cyanthillium patulum was a potential source for antimalarial agents in which its constituents, 20-isoveratramine might responsible for the claims.
In Silico Study of Histo-aspartic Protease (HAP) Inhibitor from Indonesian Medicinal Plants: Anti-malarial Discovery Dinar Mutia Rani; Muhammad Habiburrohman; Yoshinta Debby; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
Nusantara Science and Technology Proceedings International Conference on Life Sciences and Biotechnology (ICOLIB)
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2021.0803

Abstract

Malaria is an infectious disease caused by Plasmodium sp with the highest clinical incidence of 12.07% in Indonesia. New anti-malaria compounds are needed to replace antimalarial drugs that are already resistant nowadays. One of the efforts to find a new anti-malaria drug is through research on traditional medicinal plants used by Indonesian tribes from the ethnopharmacology database. In silico studies provide saving solutions in the process of computer-aided drug design. Histo-aspartic protease (HAP) is essential for the growth of Plasmodium falciparum and has been validated as an antimalarial drug target. Therefore, molecular docking was used to provide new insights into the development of drugs by targeting HAP protease. There are 238 compounds from 43 medicinal plants used as targeting ligand in this study prepared by Autodock Vina for an automated docking tool. The comprehensive docking protocol was valid showed by the RMSD value of 1,275 Å. The result obtained that AM50 (borrasosides A) from Borassus flabellifer was found to have the least affinity score of -10.1 kcal/mol higher compared to the native ligand. In conclusion, we are assuming that the mechanism of borrasosides A compound might get involved with HAP. Further protocols are required to prove the HAP inhibition towards Plasmodium falciparum.
Isolasi Jamur Tanah dari Muara Sungai di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan Serta Skrining Aktivitas Antibakteri Terhadap Pseudomonas aeruginosa Amrina Rosyada Fajriyanti; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v6i2.44007

Abstract

Kasus infeksi oleh bakteri menjadi sepuluh besar kasus yang mengakibatkan kematian di Indonesia dengan persentase 9,5 %. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat untuk mengatasi masalah infeksi dapat menyebabkan resistensi antibakteri. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak dilakukan pengembangan terhadap agen-agen antibakteri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri dapat ditemukan pada mikroorganisme dalam tanah. Penelitian ini dilakukan penelusuran dan isolasi fungi tanah muara di Desa Kilensari Kecamatan Panarukan serta skrining aktivitas antibakteri terhadap Pseudomonas aeruginosayang bertujuan untuk memperoleh kandidat antibakteri yang potensial.Metode yang digunakan dalam penentuan aktivitas antibakteri pada penelitian ini yaitu metode mikrodilusi berdasarkan protokol Clinical and Laboratory Standards Institute tahun 2015. Hasil yang diperoleh dari tahap isolasi yaitu 6 isolat fungi tanah yang diberi kode IS-PN-A1, IS-PN-A2, IS-PN-T1, IS-PN-T2, IS-PN-B1 dan IS-PN-B2. Isolat yang didapatkan dilakukan skrining awal uji aktivitas antibakteri dengan metode ujikontak langsung dengan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Zona bening yang terbentuk menunjukkan aktivitas antibakteri dari isolat. Isolat fungi tanah muara kemudian dilakukan proses fermentasi untuk memproduksi metabolit sekunder. Hasil fermentasi di lakukan proses ekstraksi menggunakan etil asetat yang nantinya ekstrak akan digunakan dalam uji aktivitas antibakteri menggunakan metode mikrodilusi. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa fungi tanah muara sungai Desa Kilensari Kecamatan Panarukan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Persen penghambatan fungi tanah muara dengan nama isolat IS-PN-A1 menghasilkan persen penghambatan sebesar 74,8±2,4%; IS-PN-A2 33,2±7,0%; IS-PN-T1 70,2±4,8%; IS-PN-T2 53,1±3,6%; IS-PN-B1 29,7±4,0%; IS-PN-B2 45,8±2,1 %. 
Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Tanaman Senggugu (Rotheca serrata (L.) Steane & Mabb.) terhadap Pseudomonas aeruginosa Ifan Arif Maulana; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v5i1.32200

Abstract

Irasionalitas terapi antibiotik yang tidak terkontrol dilaporkan menyebabkan bakteri resisten antibiotik, sehingga memicu penemuan agen antibakteri baru. Eksplorasi keanekaragaman tanaman obat Indonesia masih menjanjikan sebagai agen antibakteri yang potensial, termasuk tanaman senggugu (Rotheca serrata (L.) Steane & Mabb.). Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri dan kandungan fitokimia dari ekstrak dan fraksi senggugu terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metanol. Fraksinasi bertingkat dilakukan untuk mendapatkan fraksi n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan residu. Skrining fitokimia dilakukan untuk menentukan alkaloid, terpenoid/steroid, flavonoid, dan polifenol menggunakan metode KLT. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode mikrodilusi untuk menentukan nilai IC50. Ekstrak mengandung terpenoid/steroid, flavonoid, polifenol. Fraksi n-heksana dan diklorometana mengandung terpenoid/steroid. Fraksi etil asetat dan residu mengandung flavonoid dan polifenol. Nilai IC50 terendah dicapai oleh fraksi n-heksana sebesar 176,919 ± 6,303 µg/mL. Ekstrak dan fraksi senggugu memiliki aktivitas antibakteri yang moderat.
Penelusuran dan Isolasi Fungi Tanah Muara Pelabuhan Besuki Serta Skrining Aktivitas Antibakteri Terhadap Pseudomonas aeruginosa ATTCC 27853 Mariatul Kibthiyyah; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v6i2.44275

Abstract

Penyakit infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Terapi infeksi bakteri dengan antibiotik yang tidak tepat penggunaannya dapat menyebabkan resistensi. Penemuan antibiotik baru dapat berasal dari bahan alam, salah satunya fungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etil asetat hasil fermentasi fungi khamir tanah muara terhadap Pseudomonas aeruginosa.Isolasi fungi tanah dilakukan menggunakan media Potato dextrose Agar (PDA) dilarutkan dalam air laut. Proses tersebut menghasilkan 7 isolat fungi kemudian disebut IS-PB-A1, IS-PB-A2, IS-PB-A3, IS-PB-T1, IS-PB-T2, IS-PB-B1, IS-PB-B2. Semua isolat fungi memiliki potensi dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan uji antagonis. Pengujian aktivitas antibakteri  dilanjutkan menggunakan metode mikrodilusi. Aktivitas antibakteri disajikan dalam bentuk persen penghambatan. Hasil uji antibakteri dari tujuh ekstrak konsentrasi 100 µg/mL menunjukkan persen penghambatan tertinggi dari kode IS-PB-A2 (84,7 ± 1,4%) dan terendah dari kode IS-PB-T2 (30,5 ± 3,3 %). Senyawa yang berperan menghambat pertumbuhan bakteri dalam penelitian ini belum bisa dipastikan sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.
Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Daun Senggugu (Rotheca serrata (L.) Steane & Mabb.) terhadap Staphylococcus aureus Nimas Ayu Amanda Putri; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 18 No. 01 Juli 2021
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v18i1.4809

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih memiliki banyak permasalahan di bidang kesehatan, salah satu diantaranya adalah penyakit infeksi. Pencarian atau penelusuran agen antibakteri baru perlu dilakukan untuk mendapatkan alternatif antibiotik yang memiliki aktivitas terhadap mikroorganisme patogen. Salah satu cara untuk mendapatkan antibiotik baru adalah dengan memanfaatkan agen antibakteri yang bersumber dari tanaman seperti senggugu (Rotheca serrata (L.) Steane & Mabb.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan golongan senyawa kimia dan aktivitas anibakteri yang ada pada daun senggugu. Daun senggugu diekstraksi dengan menggunakan metanol. Ekstrak dari daun senggugu kemudian difraksinasi dengan metode fraksinasi bertingkat menggunakan pelarut heksana, diklorometana dan etil asetat. Skrining fitokimia dilakukan dengan menggunakan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) untuk melihat secara kualitatif adanya kandungan alkaloid, terpenoid, polifenol dan flavonoid. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode mikrodilusi untuk mendapatkan nilai IC50 ekstrak dan fraksi daun senggugu terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Uji aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun senggugu menunjukkan bahwa fraksi heksana (323,729±2,025 µg/mL) memiliki aktivitas yang paling besar dengan kandungan senyawa kimia berupa terpenoid.
Global Pharmaceutical Industries, Drugs Exploration and Patenting: Impact On Developing Countries Ari Satia Nugraha
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 05 No. 02 Agustus 2007
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3147.42 KB)

Abstract

Globalization has contributed to the development of pharmaceutical industries in terms of medical exploration and trade among countries araund the world. A number of pharmaceutical companies have been established throughout the world and become international businesses. Nowadays, pharmaceutical businesses in developed countries are more likely to embrace global agreement on intellectual properties and trade designed to keep competition fair. Multinational Pharmaceutical Companies (most of them are from developed countries) play a large role in both drug development and supply. According to ABPI in 2004, more than 60% of the world’s drugs consumption is supplied by only 20 big pharmaceutical corporations. Can it be argued that multinational pharmaceutical companies give benefit for pharmaceutical companies and people in developing countries around the world? This article will focus on several negative impacts occurred on developing countries.
Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Tumbuhan Jelutong Pipit (Kibatalia arborea (Blume) G.Don) terhadap Escherichia coli Ita Husnul Chotimah; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v17i2.4806

Abstract

Infeksi menjadi masalah kesehatan yang serius terutama di negara berkembang seperti di Indonesia.Sejumlah agen antibakteri baru yang berasal dari metabolit sekunder tumbuhan telah banyak diteliti salah satunya adalah Kibatalia arborea (Bl) G.Don.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan kandungan golongan senyawa yang ada pada daun K. arborea. Daun K. arborea diekstraksi dengan menggunakan metanol. Ekstrak dari daun K. arborea kemudian difraksinasi dengan metode fraksinasi bertingkat menggunakan pelarut n- heksana, diklorometana dan etil asetat. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode mikrodilusi untuk mendapatkan nilai IC50 ekstrak dan fraksi daun K. arborea terhadap Escherichia coli ATCC 25922. Skrining fitokimia dilakukan untuk melihat adanya kandungan golongan senyawa alkaloid, terpenoid, polifenol dan flavonoid. Uji aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun K. arborea terhadap E. coli menunjukkan bahwa fraksi etil asetat (516,458±12,073 µg/ml) memiliki aktivitas yang paling besar, diikuti ekstrak (590,665±24,157 µg/ml) dan dua fraksi dengan nilai IC50 yang tidak berbeda secara signifikan yaitu fraksi n-heksana (880,667±22,587 µg/ml) dan fraksi diklorometana (848,616±37,029 µg/ml). Hasil skrining fitokimia ekstrak metanol daun K. arborea menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa dari golongan flavonoid, polifenol, terpenoid. Fraksi heksana mengandung alkaloid dan terpenoid. Fraksi diklorometana mengandung alkaloid, terpenoid dan polifenol. Fraksi etil asetat mengandung terpenoid, polifenol dan flavonoid. Sedangkan residu tidak mengandung golongan senyawa flavonoid, polifenol, terpenoid dan alkaloid.
Pengembangan Indikator Bromofenol Biru dan Metil Merah pada Label Pintar sebagai Sensor Kematangan Buah Tomat Rofiko Nuning Rahayu; Indah Purnamasary; Ari Satia Nugraha
Pustaka Kesehatan Vol 10 No 1 (2022): Volume 10 No.1, 2022
Publisher : UPT Percetakan dan Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/pk.v10i1.18817

Abstract

The novel on-package color indicator label has been fabricated based on bromophenol blue and a mixture between bromophenol blue and methyl red, and tests have been conducted to assess the ripeness of tomatoes (Lycopersicum commune). Bromophenol blue (BPB) and a mixture between bromophenol blue and methyl red (MM) were immobilized onto the Whatman paper membrane via the adsorption method. The BPB and mixture between BPB and MM/ Whatman paper membrane as color indicator work based on pH decrease as the volatile organic compounds. They are produced gradually in the package headspace during the development of tomato fruit. Subsequently, the combination indicator between bromophenol blue and methyl red changes from purple to red foul conditions, while the bromophenol blue indicator changes from blue to yellow foul conditions that can be seen visually. The results showed the color indicator can be used to determine the maturity conditions of tomatoes (Lycopersicum commune) at room temperature and chiller temperature. Furthermore, there are also changes in several parameters (pH, texture, weight loss, sensory evaluation) that are commonly used for the ripeness characteristics of tomatoes (Lycopersicum commune). Therefore, this indicator can be used for visual monitoring of the maturing of the tomatoes in packaging.
Isolasi Fungi Tanah Muara Desa Pasir Putih Kabupaten Situbondo serta Penapisan Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus Ziyan Nihlatul Millah; Bawon Triatmoko; Ari Satia Nugraha
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 20 No 2 (2022): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v20i2.1077

Abstract

Healthcare-Associated Infections (HAIs) is a bacterial infections in Indonesia caused by Staphylococcus aureus. According to the World Health Organization (WHO), the prevalence of HAIs in developing countries varies between 5.7% and 19.1% with a combined prevalence of 10.1%. The prevalence of HAIs in Indonesia is 7.1%. Infections caused by bacteria are a life-threatening disease, which needs to be treated immediately by administering antibacterial agents. One of the natural products with potential as new antibacterial agents, such as soil fungi. This research aims to discover the Antibacterial activity of fungi on estuary land at Pasir Putih village, Situbondo, East Java. This research was initiated by growing the soil on the PDA media to isolate six fungi which were labeled as IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, and IS-B1-B2. All the isolated fungi were separately fermented for 14 d and extracted using ethyl acetate before the microdilution test. The result of antibacterial testing showed all extracts from isolated fungi with code IS-B1-A1, IS-B1-A2, IS-B1-T1, IS-B1-T2, IS-B1-B1, and IS-B1-B2 possessed antibacterial activity against Staphylococcus aureus with percentage inhibition of 51.1±2.6%; 84.6±3.1%; 72.7±7.9%; 82.9±7.6%; 65.6±0.8%; 88.2±2.8% at a concentration of 100 μg/mL.
Co-Authors Adinda Kusuma Pertiwi Afrian Rosyadi Aissa Dinar Yanuariski Amrina Rosyada Fajriyanti Andhika Puspito Nugroho Arthur Hariyanto Prakoso Arthur Hariyanto Prakoso Arthur Hariyanto Prakoso Arthur Hariyanto Prakoso Asia Asia Asia Asia Asia Asia Asia, Asia Ayik Rosita Puspaningtyas1 Azhari, Nuri Putri Azis, Deri Abdul Bambang Kuswandi Bambang Kuswandi Banun Kusumawardani Bawon Triatmoko Dewi, Itut Septiana Dian Agung Pangaribowo Dinar Mutia Rani Dinarwati, Sri Dwi Koko Pratoko Endah Puspitasari Fathunnisa, Fathunnisa Fawwas Batio Putra Pamungkas Febi, Qonita Nafilah Gani Asri Muharam Gani Asri Muharam Ifan Arif Maulana Ilma, Laila Nurul Indah Purnama Sary, Indah Purnama Indah Purnamasary Ita Husnul Chotimah Iyan Setiawan Kartika Senjarini Larissa Tania Lestyo Wulandari Lestyo Wulandari Luh Putu Ratna Sundari Mardani Eka Ningrum Mariatul Kibthiyyah Muhammad Habiburrohman Muhammad Habiburrohman Muhammad Habiburrohman Muhammad Zainul Arifin Muhammad Zainul Arifin Muhammad Zainul Arifin Muhammad Zainul Arifin Muharam, Gani Asri Nafa Rosyida Zanuba Naura Bathari Winarto Nimas Ayu Amanda Putri Ninisita Sri Hadi Nugroho, Irfan Agus Nuri Putri Azhari Pairah, Pairah Prakoso, Arthur Hariyanto Putri Handayani, Maulina Surindri Rike Oktarianti Rofiko Nuning Rahayu Rohmatillah, Wilda Nur Romadhona, Ananda Briliana Rosidah, Malihatul Saeful Akhmad Tauladani Savitri, Ganevi Resta Septianingtyas, Christabel Reviana Silvya Fitri Nur Azizah Sri Untari Siwi Sudarko Sudarko Syubbanul Wathon, Syubbanul Tauladani, Saeful Akhmad Untari, Ludmilla Fitri Wilda Nur Rohmatilah Wilda Nur Rohmatillah Wilda Nur Rohmatillah Wilda Nur Rohmatillah Yandy Noviandri Yashinta Nirmala Siswanti Yoshinta Debby Ziyan Nihlatul Millah