Claim Missing Document
Check
Articles

Bencana Banjir Tahunan: Faktor Penyebab Banjir dan Kebijakan Tata Ruang Kota Makassar terhadap Kejadian Banjir Tahunan Salsa Firdausiah; Adi Subiyanto; Ali Rahmat; Nurul Mutmainnah Jamil; Pujo Widodo; Herlina Juni Risma Saragih
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i4.4298

Abstract

Abstrak Selasa, 7 Desember 2021, banjir diketahui menggenangi 16 titik di Kota Makassar, termasuk ruas jalan-jalan protokol seperti JL. AP. Pettarani dan beberapa titik Jalan Perintis Kemerdekaan. Banjir, merupakan salah satu bencana yang beberapa kali terjadi di Kota Makassar. Kota Makassar dengan kondisi topografi dataran rendah yang landai dengan hamparan dataran rendah yang berada pada ketinggian 0-25 meter di atas permukaan laut serta dekat dengan pantai dan tempat bermuaranya 2 (dua) sungai besar yaitu Sungai Jeneberang dan Sungai Tallo. Hal ini menyebabkan presentasi kejadian banjir semakin tinggi akibat kenaikan permukaan laut dan curah hujan yang tinggi. Selain itu, beberapa faktor penyebab banjir di Kota Makassar diantaranya kondisi drainase yang tidak lagi memadai disebabkan oleh sistem perencanaan drainase perkotaan yang buruk dan tidak terkoneksi satu sama lain komponennya, tidak cukupnya Ruang Terbuka Hijau akibat lemahnya RUTRW Kota Makassar, meningkatnya pembangunan kawasan pemukiman yang berakibat pada kurangnya wilayah resapan air, kurangnya komunikasi pemerintah dengan masyarakat dalam penanggulangan banjir, dan ketidaksinkronan program kerja pengendalian banjir dan implementasi SKPD. Tulisan ini fokus dalam pengkajian faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian banjir di Kota Makassar berdasarkan kajian berbagai literatur, dengan harapan mampu memberikan sumbangsih bagi peningkatan mitigasi banjir di Kota Makassar. Kajian literatur ini akan terbatas pada identifikasi dan telaah pada faktor-faktor yang berpengaruh pada kejadian banjir serta tata ruang Kota Makassar. Kata Kunci: Banjir, Tata Ruang, Makassar Abstract Tuesday, December 7, 2021, floods are known to inundate 16 points in Makassar City, including protocol roads such as JL. AP. Pettarani and some points of Independence Pioneer Road. Flood, is one of the disasters that has occurred several times in Makassar City. Makassar City with sloping lowland topographic conditions with a stretch of lowlands located at an altitude of 0-25 meters above sea level and close to the coast and where 2 (two) major rivers emptied, namely the Jeneberang River and the Tallo River. This has led to higher flood events due to sea level rise and heavy rainfall. In addition, several factors that cause floods in Makassar City include drainage conditions that are no longer adequate due to a poor urban drainage planning system and are not connected to each other's components. insufficient Green Open Space due to the weak RUTRW of Makassar City, the increasing development of residential areas which results in a lack of water catchment areas, lack of government communication with the community in flood management, and misalignment of flood control work programs and SKPD implementation. This paper focuses on assessing the factors that influence flood events in Makassar City based on the study of various literature, with the hope of being able to contribute to improving flood mitigation in Makassar City. This literature review will be limited to identifying and reviewing the factors that influence flood events and the layout of Makassar City. Keywords: Flood, Spatial Planning, Makassar
Persebaran Wilayah Rentan Terdampak Perubahan Iklim Global di Kabupaten Lombok Tengah Clara Bilqis Florissa; Adi Subiyanto; Christine Sri Marnani; Pujo Widodo; Herlina Juni Risma Saragih; Kusuma
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i4.4428

Abstract

Abstract This study about distribution of vulnerability area climate change impacts in Central Lombok, Indonesia. The design of research is used descriptive methods and qualitative research types. Spatial planning is closely related to disaster. Indonesia is a region that is very vulnerable to disasters, therefore in the preparation of spatial planning must always refer to the potential dangers or threats that exist in an area. One of the disasters that currently threatens Indonesia is climate change. Climate change is a problem that is faced by all people in the world, including Indonesia. Indonesia is an archipelago state, this situation makes Indonesia very vulnerable to the negative impacts of climate change. Climate change not only impacts the environment, but also has a direct impact on human life. Central Lombok is located on a small island which makes its territory more vulnerable to the impacts of climate change. Keywords: Climate Change, Disaster, Spatial Planning, Impact.
Pemanfaatan SATAID untuk Analisis Kondisi Atmosfer saat Banjir di Kalukku Menggunakan Metode Numerical Weather Prediction Eka Alfred Sagala; Ernalem Bangun; Adi Subiyanto; Arizka Sri Asmita
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i2.5456

Abstract

Abstrak Banjir akibat hujan ekstrem yang terjadi di Kalukku 11 Oktober 2022 merupakan kejadian terparah yang terjadi dibandingkan tahun–tahun sebelumnya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis kondisi atmosfer untuk mengetahui kondisi perawanan dan indeks labilitas atmosfer selama kejadian hujan lebat tersebut. Data yang digunakan untuk melakukan analisis adalah data citra satelit Himawari-8 dengan menggunakan data kanal inframerah dan data Numerical Weather Prediction (NWP) yang diolah menggunakan software SATAID. Metode NWP dipilih untuk menampilkan parameter labilitas atmosfer. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu puncak awan dari tampilan citra satelit megindikasikan pertumbuhan awan konvektif signifikan yang terjadi selama kurun waktu 06.00–08.30 UTC. Suhu puncak awan terendah yaitu -79 ºC yang terjadi sekitar pukul 07.00 UTC dan 08.00 UTC. Data citra satelit menunjukkan fase pertumbuhan awan mulai terjadi pada pukul 06.00 UTC hingga 11.00 UTC. Kondisi curah hujan tinggi diakibatkan oleh adanya pembentukan awan konvektif dan awan merata. Berdasarkan data indeks labilitas atmosfer yaitu K-Index (KI), Lifted Index (LI), Showalter Stability Index (SSI), dan Total-Totals Index (TTI) menunjukkan nilai yang cukup mendukung saat terjadinya hujan sangat lebat tersebut. Indeks labilitas atmosfer berada pada kategori lemah hingga sedang. Kondisi atmosfer labil terlihat terjadi pada pukul 06.00 UTC yaitu saat pembentukan awan mulai terjadi. Kemudian pada fase peluruhan awan terlihat kondisi atmosfer yang cenderung stabil. Hal ini menunjukkan bahwa software SATAID mampu mengolah data citra Satelit Himawari-8 untuk analisis kondisi atmosfer saat kejadian hujan ekstrem sehingga dapat digunakan sebagai pengetahuan untuk meminimalisir dampak apabila terjadi kejadian berulang. Kata Kunci: Banjir, NWP, SATAID, Labilitas Atmosfer Abstract Floods caused by extreme rains that occurred in Kalukku on October 11, 2022, were the worst events that have occurred compared to previous years. Therefore, it is necessary to analyze the atmospheric conditions to determine the condition of the cloudiness and the lability index of the atmosphere during the heavy rain event. The data used to carry out the analysis are Himawari-8 satellite image data using infrared channel data and Numerical Weather Prediction (NWP) data, which are processed using SATAID software. The NWP method was chosen to display atmospheric lability parameters. The results of the analysis show that the cloud top temperature from satellite imagery indicates significant convection cloud growth that occurs during the period 06.00–08.30 UTC. The lowest cloud top temperature is -79 ºC which occurs around 07.00 UTC and 08.00 UTC. Satellite imagery data shows that the cloud growth phase starts at 06.00 UTC and ends at 11.00 UTC. High rainfall conditions are caused by the formation of convective clouds and even clouds. Based on atmospheric lability index data, namely the K-Index (KI), Lifted Index (LI), Showalter Stability Index (SSI), and Total-Totals Index (TTI), this shows values that are sufficient to support when very heavy rains occur. The atmospheric lability index is in the weak to moderate category. Labile atmospheric conditions were seen to occur at 06.00 UTC, which is when cloud formation began to occur. Then, in the cloud decay phase, it can be seen that atmospheric conditions tend to be stable. This shows that the SATAID software is capable of processing image data from the Himawari-8 satellite to analyze atmospheric conditions during extreme rain events so that it can be used as knowledge to minimize impacts if recurring events occur. Keywords: Floods, NWP, SATAID, Atmospheric Lability
Analisis Angin Zonal dan Meridional dalam Menentukan Awal Musim Hujan di Seram Bagian Barat Provinsi Maluku Eka Alfred Sagala; Ernalem Bangun; Adi Subiyanto
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i2.5842

Abstract

Abstrak Prakiraan awal musim dan curah hujan yang dikeluarkan BMKG sangat penting salah satunya bagi komoditas pertanian. Kriteria untuk penentuan awal musim ini sangat bervariasi, namun selama ini hanya didasarkan pada jumlah curah hujan tanpa mempertimbangkan indikator lain. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angin zonal dan meridional dalam penentuan awal musim hujan maupun kemarau di wilayah penelitian Seram bagian barat. Selain itu, juga dideskripsikan hubungan curah hujan saat El Nino mengalami penguatan mengingat fenomena ini juga mempengaruhi sistem sirkulasi angin di wilayah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data angin zonal dan angin meridional bulanan dari NCEP (National Centre For Environmenttal), akumulasi curah hujan bulanan dari Stasiun Klimatologi Seram bagian barat, dan data ONI NOAA (Oceanic Nino Index NOAA). Dengan metode analisa deskriptif dan statistik dengan melibatkan analisa grafik maka diperoleh bahwa pola curah hujan menunjukkan pola lokal dimana awal musim hujan rata-rata dimulai pada bulan Mei. Analisa angin zonal dapat digunakan dalam menentukan awal musim hujan di Seram Bagian Barat saat tidak ada fenomena global. Hal ini diawali dengan berhembusnya angin zonal timuran dan awal musim kemarau ditandai dengan melemahnya angin zonal timuran yang selanjutnya angin zonal baratan mengalami penguatan. Sedangkan angin merdional dari selatan mengalami penguatan setelah puncak musim hujan terjadi dan melemah setelah puncak musim kemarau terjadi. Kata Kunci: Awal Musim, Angin Zonal, Angin Meridional, Curah Hujan Abstract Forecast of seasonal onset and the rainfall issued by BMKG is very important, one of which is for agricultural commodities. The criteria for determining the start of this season are very varied, but so far only based on the amount of rainfall without considering other indicators. Therefore this study aims to analyze the effect of zonal and meridional winds in determining the start of the rainy and dry seasons in the western part of the Seram research area. In addition, the relationship between rainfall during El Niño has also been strengthened, given the fact that this phenomenon also affects the wind circulation system in the research area. The data used in this study are zonal wind data and monthly meridional winds from NCEP (National Center for Environmenttal), monthly rainfall accumulation from the West Seram Climatology Station, and ONI NOAA (NOAA Oceanic Nino Index) data. With the method of descriptive analysis and statistics involving graph analysis, it is found that rainfall patterns show local patterns where the beginning of the average rainy season begins in May. Zonal wind analysis can be used to determine the start of the rainy season in West Seram when there are no global phenomena. This begins with the blowing of zonal winds and the beginning of the dry season is characterized by a weakening of the zonal winds of the timuran which further strengthens the zonal wind. Whereas the national wind from the south has been strengthened after the peak of the rainy season occurred and weakened after the peak of the dry season occurred. Keywords: Onset of Season, Zonal Wind, Meridional Wind, Rainfall
Strategic governance for hybrid maritime threats: A hexa-helix model approach Fakhri Reza; Adi Subiyanto; Sutanto
Economic Military and Geographically Business Review Vol. 3 No. 2: (January) 2026
Publisher : Institute for Advanced Science Social, and Sustainable Future

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61511/emagrap.v3i2.2026.2310

Abstract

Background: Indonesia's eastern maritime region, despite its immense geostrategic importance, faces persistent defense infrastructure gaps, limited naval presence, and fragmented policy implementation. This study aims to address these challenges by proposing the Hexa-Helix collaboration model as a strategic policy framework for maritime defense reinforcement. Methods: Employing qualitative strategic analysis and literature review, the research elaborates the evolution of innovation collaboration theory from the Triple Helix to a novel Hexa-Helix model tailored to the archipelagic defense context. Findings: Findings indicate that existing maritime defense efforts in Eastern Indonesia are hindered by underdeveloped naval infrastructure, limited local shipbuilding industries, and weak stakeholder integration. The Hexa-Helix model incorporates six key actors: government, navy, academia, industry, society, and media to establish a more inclusive and adaptive defense ecosystem, particularly in high-risk zones such as the Sulu Sea. Conclusion: This study concludes that the Hexa-Helix collaboration model provides an effective governance framework for addressing hybrid maritime threats by integrating defense, innovation, and public engagement across key stakeholders. The model strengthens maritime security and institutional resilience in archipelagic regions facing complex transboundary challenges. Novelty/Originality of this article: The novelty of this study lies in institutionalizing the Navy and media as independent helices, expanding conventional innovation frameworks to address hybrid threats in maritime border areas. The model offers strategic pathways for enhancing Indonesia's maritime sovereignty and fostering sustainable local defense industry growth.
PERILAKU TIDAK ETIS PEJABAT DAN KRISIS LEGITIMASI POLITIK INDONESIA 2025 Fajar Cahyati; Heridadi Heridadi; Adi Subiyanto; Wilopo Wilopo
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 11 (2025): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i11.2025.4336-4342

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab gejolak politik Indonesia 2025, mengevaluasi respons pemerintah, dan menganalisis dampak perilaku tidak etis para pejabat terhadap stabilitas demokrasi. Metode penelitian kualitatif meliputi studi dokumen kebijakan, tinjauan media. Hasil menunjukkan bahwa 12 gelombang demonstrasi besar sepanjang 2025 dipicu oleh banyaknya kebijakan kontroversial yang dicanangkan seperti kenaikan PPN, larangan LPG 3 kg, dan hingga skandal etika pejabat, termasuk korupsi masif dan tunjangan berlebihan DPR di tengah sulitnya ekonomi. Mekanisme moral disengagement memungkinkan pejabat merasionalisasi tindakan tidak etis tersebut, sementara kepemimpinan etis yang lemah dan tekanan mencapai target memperburuk budaya birokrasi. Respons pemerintah cenderung reaktif dimana jika viral terlebih dulu, baru cabut kemudian. Hal ini justru memperdalam krisis legitimasi. Perwujudan stabilitas demokrasi hanya dapat diperkuat melalui reformasi tata kelola, seperti penerapan kepemimpinan etis, penegakan akuntabilitas, dan peningkatan transparansi dalam proses pembuatan kebijakan. Pendekatan ini diharapkan memulihkan kepercayaan publik dan mencegah terulangnya konflik politik serupa atau lebih parah di masa mendatang. 
Cinema as a medium for disaster literacy and risk communication in Indonesia Benedicta Ayu Indiwara Wuryantari; Anwar Kurniadi; Adi Subiyanto
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 2 (2026): February 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i2.1603

Abstract

This study examines the role of cinema and audiovisual media as strategic instruments for strengthening disaster literacy and risk communication in Indonesia through a qualitative Systematic Literature Review (SLR) guided by the PRISMA framework. A total of 25 articles published between 2021 and 2025 were systematically selected from national indexed databases (SINTA and Garuda) and international academic platforms using keywords related to disaster films, educational media, and disaster literacy. The selected literature was analyzed using thematic synthesis and classified into four analytical dimensions: disaster representation, educational and literacy functions, social and psychological impacts, and mitigation and preparedness practices. The findings show that research in this field is largely oriented toward educational and mitigation perspectives, particularly through documentaries, animations, and digital learning media that convey disaster-related information in accessible and persuasive ways. Cinema is also understood as a cultural medium that integrates technical knowledge with emotional and social narratives, supporting the formation of collective awareness, empathy, and community engagement in disaster-prone areas. Audiovisual media further function as dialogical spaces linking formal education, community-based learning, and institutional risk communication strategies with implications for community preparedness and participatory disaster governance. This study contributes to the theoretical understanding of film as a medium of social representation and disaster communication, identifies gaps in long-term behavioral evaluation, and offers practical recommendations for integrating audio-visual media into disaster education and community outreach. Overall, cinema shows strong potential as a sustainable tool for strengthening disaster preparedness and enhancing social resilience in Indonesia.
Application of Geospatial Technology for Landslide Risk Mapping Using Weighted Overlay Method in Bogor Fakhri Reza; Adi Subiyanto; Sutanto Sutanto
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7381

Abstract

Bogor Regency has a high risk of landslides due to geological factors, steep slopes, high rainfall, and changes in land use. This study analyzes the distribution of landslide risk using a Geographic Information System (GIS) with four main parameters (geology, rainfall, slope, and land use) that are weighted and overlaid using ArcGIS. The results show that the southern part of Bogor, especially Cigudeg, Nanggung, Leuwiliang, and Pamijahan, is at high risk due to a combination of geological and climatic conditions. The resulting landslide risk map provides important input for local governments in spatial planning, land management, and community preparedness. This study highlights the important role of geospatial technology in supporting evidence-based mitigation strategies and sustainable development in disaster-prone areas.
Implementasi Manajemen Bencana dalam Sektor Pariwisata Untuk Mendukung Keamanan Nasional di kepulauan Riau Sherly Arianti Nurfa; Adi Subiyanto; Yuli Subiakto
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.17015

Abstract

Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu destinasi strategis pariwisata nasional yang memiliki posisi geografis penting serta potensi ekonomi yang tinggi. Namun demikian, wilayah ini juga memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi dan risiko lingkungan pesisir yang dapat mengganggu stabilitas sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen bencana dalam sektor pariwisata serta kontribusinya terhadap keamanan nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi manajemen bencana di sektor pariwisata masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan koordinasi, rendahnya kesiapsiagaan, serta belum optimalnya integrasi kebijakan. Namun demikian, penerapan manajemen bencana yang efektif terbukti mampu meningkatkan resiliensi destinasi wisata, menjaga stabilitas ekonomi, serta memperkuat keamanan nasional.
PEMETAAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN PESANGGRAHAN, JAKARTA SELATAN BERBASIS ANALISIS SPASIAL MENGGUNAKAN QGIS Hizkia Hengky Yoikov Nainggolan; Adi Subiyanto; Sutanto Sutanto; Pujo Widodo; Wilopo Wilopo
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 6 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i6.2024.2546-2550

Abstract

DKI Jakarta sangat rentan terhadap banjir karena berada di dataran rendah dengan kemiringan lereng yang landai. Pada 30 November 2023, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa 69 wilayah RT di Jakarta tergenang banjir, dengan 19 RT di Jakarta Selatan yang terkena dampak. Banjir ini disebabkan oleh luapan Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan serta hujan lebat sejak 29 November 2023. Pemetaan banjir yang akurat diperlukan untuk mengantisipasi dan mencegah banjir. Memodelkan potensi banjir di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan dengan menggunakan analisis geospasial yang menggunakan QGIS dan OpenStreetMap telah terbukti berhasil. Pemetaan daerah rawan banjir ini dapat membantu pemerintah membuat kebijakan mitigasi yang tepat dan memberikan informasi tentang jumlah orang yang terdampak, infrastruktur yang terkena, dan jalur evakuasi tercepat.
Co-Authors Admiral Musa Julius Sipahutar Ali Rahmat Ali Rahmat Ali Rahmat Anisa Nurur Rachmatika Anwar Kurniadi Anwar Kurniadi Aprilyanto, A Arizka Sri Asmita Arry Aditsya Yoga Astuti, Nurul Indri Atikah, Dina Benedicta Ayu Indiwara Wuryantari Berlian Yogi Ananto, Timotius Berlian, Timotius Bondan Prakoso Cahyati, Fajar Christine Sri Marnani Christine Sri Marnani Christine Sri Marnani Clara Bilqis Florissa Clara Bilqis Florissa Clara Bilqis Florissa Deffi Ayu Puspito Sari Deffi Ayu Puspito Sari Dewi Wahyuni Dewi Wahyuni Djati Cipto Kuncoro Dwi Jati Marta Dwi Jati Marta Dwi Jati Marta Edvin Aldrian Eka Alfred Sagala Eka Alfred Sagala Ernalem Bangun Fajar Cahyati Fakhri Reza Fakhri Reza Fauzi Bahar Fauzi Bahar Bahar hal ichbhal Hal Ichbhal Hayatul Khairul Rahmat Heridadi Heridadi Heridadi Herlina Juni Risma Saragih Herlina Juni Risma Saragih Herlina Juni Risma Saragih Herlina Juni Risma Saragih Hizkia Hengky Yoikov Nainggolan I Dewa Ketut Kerta Widana IDK Kerta Widana IDK Kertra Widana Islami, Hafizh Surya Kurniadi, Anwar Kusuma Kusuma Kusuma, Kusuma Mir'atul Azizah Mir’atul Azizah Mohammad Rivaldy Muhamad Ikhsan Nurfa, Sherly Arianti Nurul Mutmainnah Jamil Nurul Mutmainnah Jamil Presly Panusunan Simanjuntak Pujo Widodo Pujo Widodo pujo widodo Pujo Widodo Pujo Widodo Pujo Widodo, Pujo Rachmat Setiawibawa Ramadhan, Fajar Gilang Reza, Fakhri Rilus Kinseng Rio khoirudin Apriyadi Riskina Tri Januarti Rizaldi Boer Robertus Anugerah Purwoko Putro Salsa Firdausiah Salsa Firdausiah Salsa Firdausiah’adah Say Marina Octavia Say Marina Octavia Sherly Arianti Nurfa Sobar Sutisna Sobar Sutisna Subiakto, Yuli Sudibyo, Reno Sugeng Triutomo Sugeng Yulianto Sutanto Sutanto Sutanto Sutanto Sutanto Sutanto Syamsul Maarif Syamsunasir, Syamsunasir Tri Nur Addin Tri Winugroho Wahyu Kurniawan Wilopo Wilopo wilopo wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo Wilopo, Wilopo Wira Muharromah Wira Muharromah Wuryantari, Benedicta Ayu Indiwara Yuli Subiakto