Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PELATIHAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DALAM PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN DI GUGUS 5 KOTA MATARAM Sintayana Muhardini; Sudarwo Sudarwo; Khaerul Anam; Arpan Islami Bilal; Deviana Mayasari; Haifaturrahmah Haifaturrahmah; Aliahardi Winata; Haeruni Haeruni; Asmahul Husnah; Ni Made Santi Pratiwi; Nurjannah Nurjannah; Nurul Hidayanti; Rizky Fitri; Susilawati Susilawati; Baiq Desi Milandari; Ibrahim Ibrahim
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i2.14580

Abstract

ABSTRAK                                                               Kurikulum merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakuri kuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peseta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik. Adapun tujuan pengabdian ini yaitu untuk menambah wawasan guru terkait implementasi kurikulum merdeka dalam penyusunan dan pengembangan perangkat  di SDN 9 Ampenan. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini meliputi tiga tahapan: tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap evaluasi kegiatan pengabdian. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa kegiatan sudah berjalan dengan lancar dan diketahui masih terdapat guru yang belum memahami sistematika penyusunan perangkat pembelajaran, namun dengan adanya pelatihan ini dapat memudahkan guru untuk memahami penyusunan perangkat serta penerapannya dalam kurikulum merdeka. Kata kunci: petunjuk penulisan; template dokumen; format; style. ABSTRACTThe independent curriculum is a curriculum with diverse intracurricular learning where content will be optimized so that learners have enough time to explore concepts and strengthen competencies. Teachers have the flexibility to choose various teaching tools so that learning can be tailored to the learning needs and interests of students. The purpose of this service is to add teachers' insights related to the implementation of the independent curriculum in the preparation and development of tools at SDN 9 Ampenan. The method used in this service is descriptive qualitative. The implementation of this service activity includes three stages: the preparation stage, the implementation stage and the evaluation stage of the service activity. The results of this service show that the activity has run smoothly and it is known that there are still teachers who do not understand the systematic preparation of learning tools, but with this training it can make it easier for teachers to understand the preparation of tools and their application in the independent curriculum. Keywords: author’s guideline; document’s template; format; style.
PELATIHAN PENYUSUNAN LESSON DESIGN BERBASIS LESSON STUDY Muhdar, Syafruddin; Fujiaturrahman, Sukron; Bilal, Arpan Islami; Winata, Aliahardi; Muttaqien, Zedi; Waluyan, Roby Mandalika; Sirajuddin, Sirajuddin
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 6, No 1 (2023): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v6i1.13219

Abstract

Abstrak: Pembelajaran abad 21 diharapkan dapat membekali peserta didik dengan kemampuan 4Cs, yakni kemampuan: 1) berkomunikasi (communication), 2) berkolaborasi (collaboration), 3) berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), dan 4) kreativitas dan inovasi (creativity and innovation). Metode pelatihan melalui 3 tahapan. 1 Tahap perencanaan, 2. Tahap Pelaksanaan dan 3. Tahap Evaluasi. Pelatihan penyusunan Lesson Desain dilaksanakan melalui 3 tahapan. Tahap pertama perencanaan dilalui dengan koordinasi dengan observasi. Tahap kedua dilakukan dengan pemberian materi dan penyususnan lesson desain secara berkelompok. Tahap ketiga evaluasi dengan melakukan penilaian terhadap lesson desain yang dibuat. Jumlah peserta yang terlibat dalam pelatihan ini yaitu 5 orang. Hasil dari pelatihan menunjukkan peserta terlihat antusias dan tertarik membuat lesson desain. Ini terlihat dari hasil yang dibuat peserta sudah sesuai dengan format yang ditentukan.Abstract: 21st century learning is expected to equip students with 4Cs abilities, namely the ability to: 1) communicate, 2) collaborate (collaboration), 3) critical thinking and problem solving (critical thinking and problem solving), and 4) creativity and innovation (creativity and innovation). The training method goes through 3 stages. 1 Planning stage, 2. Implementation Phase and 3. Evaluation Stage. Training on the preparation of Design Lessons is carried out through 3 stages. The first stage of planning is passed in coordination with observation. The second stage is carried out by providing material and compiling design lessons in groups. The third stage of evaluation is by assessing the design lessons made. The number of participants involved in this training is 5 people. The results of the training showed that participants looked enthusiastic and interested in making design lessons. This can be seen from the results made by participants in accordance with the specified format.
Pendampingan kegiatan literasi untuk meningkatkan minat baca peserta didik SDN 2 Senyiur di Lombok Timur Aliahardi Winata; Usman Munir; Zedi Muttaqin; Ahmad Afandi; Arpan Islami Bilal; Tri Purnama Putra; Hilda Arifa; Adefia Lila Pratiwi; Nurafinah Nurafinah; Rahmawati Rahmawati; Marifah Marifah; Ayu Safira; Swahip Swahip; Aulia Muttaqin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27037

Abstract

Abstrak Tujuan pengabdian adalah literasi, yang mencakup kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis. Literasi tidak hanya menjadi dasar untuk mempelajari mata pelajaran lain, tetapi juga merupakan keterampilan hidup yang penting di era informasi saat ini. Metode pendampingan yang dilaksanakan secara bertahap  . Berdasarkan penerapan pendampingan kegiatan literasi hasil peningkatan pada minggù ke 4 yaitu 75% keatas. Hal tersebut menunjukan bahwa antusias siswa dalam pendampingan literasi cukup baik, akan tetapi terdapat beberapa kendala pada minggu-awal penerapan pendampingan literasi yaitu seperti kesulitan dalam mengajak siswa dalam melakukan literasi. Kata kunci: minat baca; pembelajaran interaktif ; literasi AbstractThe purpose of the service is literacy, which includes the ability to read, write, and understand information critically. Literacy is not only the basis for learning other subjects, but also an important life skill in today's information age. The mentoring method is implemented in stages. Based on the implementation of literacy activity mentoring, the results of the increase in the 4th week were 75% and above. This shows that students' enthusiasm for literacy mentoring is quite good, but there are several obstacles in the early weeks of implementing literacy mentoring, such as difficulties in inviting students to do literacy Keywords: reading interest; interactive learning; literacy
Tumbuh tanpa tekanan: stop bullying dan perkawinan anak (become agent of change trough awarrnes) Aliahardi Winata; Arpan Islami Bilal; Baiq Hapipah; Nahlya Nahlya; Mohamad Jayadi; Nurkisah Nurkisah; Hayatun Nufus; Isnaini Isnaini; Zedi Muttaqin; Saddam Saddam; Ahmad Afandi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.30229

Abstract

Abstrak Program sosialisasi "Tumbuh Tanpa Tekanan: Stop Bullying dan Hindari Perkawinan Anak (Become agent of change trough awarrnes)" yang dilaksanakan oleh tim mahasiswa PLP 2 KKN-DIK Universitas Muhammadiyah Mataram di SMKN 1 Janapria pada 18 September 2024 berhasil meningkatkan kesadaran siswa terhadap isu bullying dan perkawinan anak. Dengan pendekatan materi yang komprehensif dan interaktif, siswa memahami definisi, bentuk, dampak, serta pencegahan bullying, dan dampak negatif pernikahan di bawah umur. Partisipasi aktif dalam sesi diskusi menunjukkan keterlibatan siswa, sedangkan pembagian instrumen evaluasi mendorong refleksi pribadi terhadap pengalaman mereka terkait kedua isu tersebut. Dukungan dari pihak sekolah, termasuk kepala sekolah dan guru, turut memfasilitasi kelancaran kegiatan. Hasil dari sosialisasi ini menciptakan dasar yang kuat untuk tindakan pencegahan berkelanjutan terhadap bullying dan perkawinan anak di lingkungan sekolah, serta memberikan rekomendasi untuk program sosialisasi yang lebih efektif di masa mendatang. Kata kunci: tumbuh tanpa tekanan; stop bullying; perkawinan anak Abstract The socialization program “Grow Without Pressure: Stop Bullying and Avoid Child Marriage (Become agent of change through awareness)” implemented by a team of PLP 2 KKN-DIK students of Muhammadiyah Mataram University at SMKN 1 Janapria on September 18, 2024 succeeded in raising students' awareness of the issues of bullying and child marriage. With a comprehensive and interactive material approach, students understood the definition, form, impact, and prevention of bullying, and the negative impact of underage marriage. Active participation in discussion sessions demonstrated student engagement, while the distribution of evaluation instruments encouraged personal reflection on their experiences related to both issues. Support from the school, including the principal and teachers, facilitated the smooth running of the activities. The results of this socialization create a strong foundation for sustainable preventive actions against bullying and child marriage in the school environment, and provide recommendations for more effective socialization programs in the future. Keywords: growing up without pressure; stop bullying; child marriage
Sosialisasi program makan bersama guna pembentukan karakter siswa di SMPN 1 Sukamulia kabupaten Lombok Timur Aliahardi Winata; Baiq Nurhayatun; Zedi Muttaqin; Deviana Mayasari; Muhamad Yunus; Sintayana Muhardini; Sirajuddin Sirajuddin; M. Firman Ramadhan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.24633

Abstract

AbstrakProgram pendidikan karakter telah menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu pendekatan yang diadopsi oleh sekolah adalah program makan bersama, yang bertujuan untuk menggabungkan aspek interaksi sosial, nilai-nilai, dan kesadaran nutrisi sebagai sarana pembentukan karakter siswa. Kegiatan pengabdian ini  dilakukan di SMP 1 Sukamulia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Mitra sasaran terdiri dari siswa SMP 1 Sukamulia. Kegiatan ini mengungkapkan bahwa program makan bersama di SMP 1 Sukamulia secara signifikan berkontribusi terhadap pembentukan karakter positif siswa. Terdapat peningkatan yang bermakna dalam aspek kerjasama, tanggung jawab, dan kesadaran sosial di antara peserta program ini. Selain itu, program ini juga berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang nutrisi dan pentingnya makanan seimbang. Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan karakter. Program makan bersama bukan hanya berperan dalam memenuhi aspek gizi siswa, tetapi juga dalam membentuk karakter mereka secara menyeluruh. Implikasi dari temuan ini menggarisbawahi perlunya pengintegrasian program serupa dalam kurikulum pendidikan nasional untuk memajukan pendidikan karakter di Indonesia. Kata kunci : pembentukan karakter; pendidikan karakter; program makan bersama.AbstractCharacter education programs have become the main focus in efforts to improve the quality of education in Indonesia. One of the approaches adopted by schools is the community meal program, which aims to combine aspects of social interaction, values, and nutritional awareness as a means of building student character. This service activity was carried out at SMP 1 Sukamulia, East Lombok, West Nusa Tenggara. The target partners consist of students from SMP 1 Sukamulia. This activity revealed that the communal eating program at SMP 1 Sukamulia significantly contributed to the formation of students’ positive character. There is a significant increase in aspects of cooperation, responsibility, and social awareness among participants in this program. Apart from that, this program also succeeded in increasing students’ understanding of nutrition and the importance of a balanced diet. The results of this research highlight the importance of a holistic approach to character education. The shared meal program not only plays a role in fulfilling students’ nutritional aspects but also in shaping their overall character. The implications of these findings underscore the need to integrate similar programs into the national education curriculum to advance character education in Indonesia. Keywords : character formation; character education; communal dining program
Studi Presepsi Siswa Terhadap Efektivitas Penggunaan Media Sosial Dalam Mendukung Pendidikan Nilai-Nilai Pancasila Arinihubbi Farodisa; Saddam; Aliahardi Winata; Sri Rejeki; Candra; Ayu Sadana Prihatin Ningsih
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v11i02.110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi persepsi siswa terhadap efektivitas penggunaan media sosial dalam mendukung pendidikan nilai-nilai Pancasila. Mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan metode survey, penelitian melibatkan 30 siswa dari SMA dan SMK sebagai subjek penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket Skala Likert dengan 20 item pertanyaan, dirancang untuk mengukur persepsi siswa terhadap manfaat dan dampak penggunaan media sosial dalam konteks nilai-nilai Pancasila. Hasil analisis data menggunakan uji-r menunjukkan nilai korelasi sebesar -0.374 dengan signifikansi (sig) sebesar 0.716. Meskipun nilai korelasi menunjukkan hubungan negatif antara penggunaan media sosial dan pemahaman nilai-nilai Pancasila, signifikansi yang tinggi menandakan bahwa hubungan tersebut tidak bermakna secara statistik. Temuan ini memberikan gambaran bahwa meskipun siswa mungkin memiliki pandangan kritis terhadap penggunaan media sosial dalam konteks pendidikan nilai-nilai Pancasila, hubungan tersebut tidak dapat dianggap sebagai faktor signifikan yang memengaruhi presepsi siswa secara keseluruhan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman kita tentang interaksi antara media sosial dan nilai-nilai Pancasila di kalangan siswa SMA dan SMK. Implikasi temuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan strategi pembelajaran yang lebih efektif yang mengintegrasikan media sosial dalam pendidikan nilai-nilai Pancasila.   This research aims to investigate students' perceptions of the effectiveness of using social media in supporting the education of Pancasila values. Adopting a quantitative approach with a survey method, the study involves 30 students from senior high schools (SMA) and vocational schools (SMK) as research subjects. The research instrument utilized a Likert Scale questionnaire with 20 items designed to measure students' perceptions of the benefits and impacts of using social media in the context of Pancasila values. The data analysis results employing the Pearson correlation coefficient (r) revealed a correlation value of -0.374 with a significance level (sig) of 0.716. Although the correlation value indicates a negative relationship between social media usage and the understanding of Pancasila values, the high significance suggests that this relationship is not statistically meaningful. These findings provide an overview that, despite students having critical views on the use of social media in the context of Pancasila values education, this relationship cannot be considered a significant factor influencing students' overall perceptions. This research contributes to our understanding of the interaction between social media and Pancasila values among high school and vocational school students. The implications of these findings can serve as a foundation for the development of more effective learning strategies that integrate social media into Pancasila values education.