Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Korelasi Kelimpahan Plankton Dengan Suhu Perairan Laut Di Sekitar PLTU Cirebon Ikhsan Faturohman; Sunarto -; Isni Nurruhwati
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 1 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan plankton dengan suhu perairan laut di sekitar PLTU Cirebon. Penelitian ini dilaksanakan pada 30 Agustus sampai dengan 27 September 2014 dengan menggunakan metode survei dan analisis data secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan plankton memiliki hubungan yang sangat lemah dengan suhu perairan dengan nilai korelasi sebesar 0,006 yang artinya terdapat 0,6% hubungan antara kelimpahan plankton dengan suhu, sedangkan 99,4% kelimpahan plankton dipengaruhi oleh faktor lingkungan lain. Sebaran individu  fitoplankton merata sedangkan zooplankton tidak merata. Jumlah individu dari kelas Bacillariophyceae merupakan yang paling banyak dan ditemukan pada semua stasiun penelitian. Semakin jauh titik lokasi sampling dari Muara dan PLTU maka suhu perairan semakin rendah dan mendekati dengan ketentuan yang ada pada Kep.51/MENKLH/2004 tentang baku mutu air laut untuk biota laut.
Kelimpahan Foraminifera Bentik Berdasarkan Komposisi Dinding Cangkang Di Perairan Pulau Tegal, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung Nindita Oriana; Isni Nurruhwati; Indah Riyantini; Lintang Permata Sari Yuliandi
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 8, No 1 (2017): Jurnal Perikanan dan Kelautan Unpad
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelimpahan berdasarkan komposisi dinding cangkang foraminifera bentik di perairan Pulau Tegal. Dilakukan pengambilan sampel air untuk pengukuran parameter fisika-kimia perairan serta sampel sedimen untuk analisis granulometri dan foraminifera bentik. Titik stasiun sampling dilakukan berdasarkan arah mata angin dan kedalaman yang berbeda, sehingga pada satu arah mata angin diambil 3 titik stasiun.  Hasil pengamatan dari 12 stasiun penelitian ditemukan kelimpahan foraminifera bentik sebanyak 655 ind/gr, diantaranya terdiri dari 3 Subordo dengan jenis komposisi cangkang yang berbeda, yaitu Subordo Rotaliina yang bercangkang hyalin sebanyak 80%, Subordo Miliolina dengan cangkang poselen sebanyak 17%, dan Subordo Textulariina dengan cangkang agglutinin sebanyak 3%. Subordo Rotaliina dengan cangkang calcareous hyalin, ditemukan di seluruh stasiun di Pulau Tegal dan memiliki kelimpahan tertinggi dibandingkan Subordo lainnya dengan spesies penciri Amphistegina sp., sehingga lingkungan perairan Pulau Tegal merupakan perairan laut yang normal dengan kandungan karbonat yang cukup tinggi. 
PENGKAYAAN PAKAN YANG MENGANDUNG MAGGOT DENGAN TEPUNG KEPALA UDANG SEBAGAI SUMBER KAROTENOID TERHADAP PENAMPILAN WARNA DAN PERTUMBUHAN BENIH RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) Hafizd Handi Prayogo; Rita Rostika Rostika; Isni Nurruhwati
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 3 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis tepung kepala udang sebagai sumber karotenoid dalam pakan yang mengandung maggot yang dapat menghasilkan peningkatan warna terbaik pada benih rainbow kurumoi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan tepung kepala udang dengan dosis 0 % (tanpa penambahan), 2,5 %, 5 %, 7,5 %, dan 10 % per kilogram pakan. Benih rainbow kurumoi dengan bobot rata-rata 0,19 g dan panjang rata-rata 2,5 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan 0 %, 2,5 %, 5 %, 7,5 %, dan 10 % tidak menghasilkan perubahan warna oranye kehijauan pada badan atas (ventral), warna oranye pada perut, dan ekor benih rainbow kurumoi serta tidak menghasilkan pertumbuhan panjang dan bobot yang signifikan.   Kata kunci : maggot, pertumbuhan, rainbow kurumoi, tepung kepala udang, warna
Selektivitas Alat Tangkap Purse Seine Di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Muara Angke Jakarta Azlhimsyah Rambun P; Sunarto Sunarto; Isni Nurruhwati
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 7, No 2 (2016): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alat tangkap purse seine adalah alat tangkap terbanyak kedua yang digunakan nelayan di PPI Muara Angke setelah alat tangkap bouke ami. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat selektivitas alat tangkap purse seine berdasarkan hasil tangkapannya. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survey di PPI Muara Angke Jakarta dari 10 Mei - 1 Juni 2016. Data hasil tangkapan ikan dikumpulan dari 4 unit alat tangkap purse seine dengan masing - masing alat tangkap 1 kali trip. Analisis data meliputi komposisi jenis hasil tangkapan dan ukuran panjang cagak pertama matang gonad hasil tangkapan utama. Hasil Penelitian menunjukan bahwa alat tangkap purse seine menangkap sebanyak 14 spesies dengan jumlah total hasil tangkapan 75.945 ekor dengan bobot 9.092 kg.  Komposisi hasil tangkapan sampingan lebih mendominasi yaitu sebesar 78,7% dibanding hasil tangkapan utama 21,3%. Panjang cagak ikan tangkapan utama yang telah mencapai ukuran matang gonad mencapai 50,1% dari total seluruh ikan yang diukur. Secara umum, dengan melihat faktor yang digunakan untuk mengukur tingkat selektivitas alat tangkap, purse seine tergolong alat tangkap yang memiliki tingkat selektivitas yang rendah.
Analisis functional feeding group pada makrozoobentos di Situ Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Aiman Ibrahim; M. Faisal Rapsanjani; Isni Nurruhwati; Zahidah Zahidah
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24706

Abstract

Makrozoobentos merupakan biota yang berperan dalam fungsi ekosistem perairan dan umumnya digunakan dalam bioasesmen. Peranan dari makrozoobentos dalam fungsi ekosistem perairan dapat diketahui dengan menggunakan analisis Functional Feeding Group (FFG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Functional Feeding Group pada makrozoobentos di Situ Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2019 di lima stasiun meliputi inlet dari kawasan industri dan pemukiman, midlet, kawasan pertanian, dan outlet. Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan dengan menggunakan Ekman grab sebanyak tiga kali dikompositkan. Selain itu, dilakukan pula pengukuran parameter fisik kimiawi perairan dan substrat dasar. Berdasarkan hasil penelitian, secara keseluruhan ditemukan 22 spesies makrozoobentos yang tergolong ke dalam tiga kelompok FFG meliputi scrapers, collector gatherer, dan collector filterers. Kelompok scrapers memiliki kelimpahan tertinggi di semua stasiun pengamatan, diikuti kelompok collector gatherers dan collector filterers. Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa kelompok collector gatherers memiliki korelasi yang sangat kuat dengan parameter kedalaman perairan, turbiditas, dan oksigen terlarut (r > 0,7).
COMMUNITY STRUCTURE OF FORAMINIFERA IN SURFACE SEDIMENTS AND CORRELATION WITH ENVIRONMENTAL CONDITIONS IN OFFSHORE WATERS OF BALIKPAPAN, MAKASSAR STRAIT Suhartati M. Natsir; Aulya Firman; Indah Riyantini; Isni Nurruhwati
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 2 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.683 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v7i2.11059

Abstract

The distribution of foraminifera is influenced by several environmental factors such as depth, sediment type, chemical and physical oceanographic paramaters, and season. The aim of the study was to determine the foraminiferal assemblages and their relationship to physical and chemical parameters in the offshore of Balikpapan waters of Makassar Strait such as depth, temperature, currents, sediment types, and salinity. Surface sediment, physical, and chemical parameters sampling was conducted in April 2012. The results of the observations on the sediment samples recognized planktonic foraminifera in 6 genera and 40 genera of benthic foraminifera from the 6 stations. Biodiversity of planktonic foraminifera was categorized in a low category with a range of 0.198-0.525. However, biodiversity for benthic foraminifera was categorized in a high category with a range of 0.811-0.925. Dominance of planktonic foraminifera was medium to high with range of 0.474-0.802 which was assumed due to the sampling sites as an open waters. Meanwhile, dominance for benthic foraminifera was in a low category with range of 0.075-0.189. The most common planktonic foraminifera was found from Genus Globigerina (10538 individuals). While, the most abundant of benthic foraminifera was found from Genus Amphistegina (3134 individuals).  Keywords: abundance, foraminifera, sediment, and Makassar Strait
Kelimpahan Plankton di Waduk Cirata Provinsi Jawa Barat Isni Nurruhwati; Zahidah Zahidah; Asep Sahidin
Akuatika Indonesia Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (941.65 KB) | DOI: 10.24198/jaki.v2i2.23430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan plankton di Waduk Cirata. Penelitian dilakukan selama 11 bulan dari Bulan Maret 2015 sampai dengan Bulan Februari 2016. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun yaitu inlet, tengah  dan outlet Waduk Cirata. Hasil penelitian menunjukan kelimpahan Stasiun I rata-rata 16,646x103 ind/l dan Stasiun II kelimpahan rata-rata 13,384x103 ind/l dan Stasiun III 11,742x103 ind/l. Pada  Stasiun 1 ditemukan dengan jumlah taxa tertinggi berkisar antara 16-20 taxa. Sedangkan jumlah taxa paling rendah ditemukan pada stasiun III dengan kisaran jumlah 14-18 taxa. Kelimpahan total fitoplankton berkisar 11,052x103-15,692x103 ind/l, sedangkan kelimpahan total zooplankton berkisar 684– 962 ind/l. Berdasarkan hasil pengukuran kelimpahan plankton di Waduk Cirata tersebut masih dalam kelimpahan sedang.
Struktur Komunitas Foraminifera Bentik Pada Sedimen Perairan Pantai Pangandaran, Jawa Barat Isni Nurruhwati; Lintang Permatasari Yuliadi; Herman Hamdani; Yohanes Roy Satria Silalahi
Akuatika Indonesia Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v4i2.23571

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur komunitas foraminifera bentik pada sedimen di Perairan Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Metode yang digunakan  adalah metode Survey, dengan enam stasiun penelitian dua,  stasiun di Pantai Barat, dua stasiun di Pantai Timur dan dua stasiun di Cagar Alam. Enam  sampel sedimen dari enam stasiun digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis struktur komunitas foraminifera bentik dalam kaitannya dengan kondisi lingkungan. Hasil analisis terdapat 3 sub ordo foraminifera bentik ditemukan pada penelitian ini, yaitu Rotaliina, Textulariina, dan Miliolina. Kelimpahan foraminifera bentik yaitu 1633 ind/gr yang terdiri atas 1246 ind/gr Rotaliina, 194 ind/gr Textulariina, dan 193 ind/gr Miliolina. Kelompok penciri di lokasi penelitian adalah sub ordo Rotaliina dengan genus penciri yaitu Calcarina dan Streblus yang mengindikasikan bahwa Pantai Pangandaran merupakan perairan dengan suhu normal dan memiliki kandungan nutrien yang tinggi. Pantai Barat dan Timur Pangandaran merupakan lokasi dengan kelimpahan genus yang sama, yaitu Streblus berkisar 101 dan 192 ind/gr, sedangkan Cagar Alam merupakan lokasi dengan kelimpahan genus Calcarina dan Pararotalia berkisar 293 dan 136 ind/gr.
Tingkat Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) pada Tutut (Filopaludina javanica) di Waduk Cirata Jawa Barat Nisha Nurfadhilla; Isni Nurruhwati; Sunardi Sudianto; Zahidah Hasan
Akuatika Indonesia Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Akuatika Indonesia (JAkI)
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Grha. Kandaga (P

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jaki.v5i2.27268

Abstract

Waduk Cirata mengalami penurunan kualitas perairan, penyebab menurunnya kualitas perairan tersebut adalah masuknya limbah yang berasal dari limbah pertanian, domestik, industri, transportasi, peternakan dan perikanan. Terdapat jenis limbah yang masuk ke perairan mengandung logam berat timbal (Pb) seperti limbah industri, limbah transportasi dan limbah pertanian. Timbal berbahaya bagi lingkungan perairan dan organisme, yang banyak tersebar di Waduk Cirata seperti makrozoobenthos jenis tutut (Filopaludina javanica). Tutut dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan bagi warga di sekitar Waduk Cirata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran logam berat timbal (Pb) pada tutut di Waduk Cirata Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada 18 September – 30 November 2018. Metode yang dilakukan adalah metode survey dan penentuan lokasi pengambilan sampel dengan purpose sampling. Pengambilan sampel air, substrat dan biota tutut dilakukan di tiga stasiun pengamatan. Analisis timbal (Pb) dilakukan pada sampel air, substrat, dan biota tutut dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil analisis menunjukkan bahwa Konsentrasi timbal (Pb) pada air yaitu 0,0307 mg/L, substrat berkisar antara 3,26 – 7,32 mg/kg dan tutut sebesar 0,05 mg/kg sedangkan nilai IFK0-s sebesar 0,0106 dan nilai IFK0-a sebesar 1,6286. Nilai konsentrasi yang dihasilkan pada air sudah melebihi ambang batas baku mutu sehingga perairan dapat dikategorikan sudah tercemar sedangkan nilai konsentrasi yang dihasilkan pada substrat dan tutut belum melebihi ambang batas baku mutu sehingga dikategorikan belum tercemar.
Relevance of Local Wisdom to Tourism Education for Fisheries Resources Conservation (The Case Study in West Java Province, Indonesia) Atikah Nurhayati; Dian Yuni Pratiwi; Pringgo Kusuma Dewi Noor Yadi Putra; Isni Nurruhwati; Indah Riyanti; Titi Herawati
ECSOFiM (Economic and Social of Fisheries and Marine Journal) Vol 8, No 2 (2021): ECSOFiM April 2021
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ecsofim.2021.008.02.11

Abstract

Local wisdom that exists in the community is a culture of social institutions that occurs through an educational process, as in West Java Province. The potential for the development of tourism education for fisheries resource conservation through local wisdom approaches continues to be carried out by local governments. This research aims to analyze the relevance of local wisdom to fisheries resource conservation tourism education. The research method used is quantitative description and used primary and secondary data. Research time was carried out February - June 2020 and using purposive sampling 30 respondents using a questionnaire. The analytical tool used validity, reliability, and Spearman's rank correlation coefficient. Based on the research results, West Java Province has a conservation management area based on local wisdom, in Kuningan and Tasikmalaya Regency. Local wisdom that is formed the community through an educational process carried out by collaborating natural tourism with social, economic and environmental aspects. The factors form local wisdom of tourism education fishery resource conservation, that is internal variables of society, which includes beliefs, attitudes and myths as well as external variables that include binding customary norms and policies of local governments to protect and manage conservation of fisheries resources.