Ezra Oktaliansah
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

CO2 Gap Sebagai Prediktor Tingkat Mortalitas Pasien Sepsis Berat di Intensive Care Unit Immanuel Wiraatmaja; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.186 KB)

Abstract

Tingkat mortalitas pasien sepsis berat di Intensive Care Unit (ICU) dihitung dengan menggunakan skor Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) II dan memerlukan pemeriksaan yang banyak serta kompleks. Peningkatan p (vena-arteri)CO2 (CO2 gap) berhubungan dengan penurunan indeks jantung, karena itu diharapkan CO2 gap memiliki kemampuan untuk menentukan tingkat mortalitas pasien sepsis berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegunaan CO2 gap sebagai prediktor tingkat mortalitas pasien sepsis berat di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang lebih mudah serta murah.Penelitian ini dilakukan secara prospektif observasional terhadap 50 orang. Penelitian dilakukan di ICU RSHS Bandung dari bulan Agustus 2013–Januari 2014. Setiap subjek penelitian diperiksa nilai CO2 gap. Subjek dibagi ke dalam 2 kelompok berdasarkan nilai CO2 gap menjadi kelompok nilai CO2gap tinggi (nilai CO2 gap ≥6) dan nilai CO2 gap  rendah (nilai CO2 gap<6). Penilaian ulang dilakukan pada hari ke-28 untuk masing-masing kelompok untuk menilai adakah pasien dalam kelompok tersebut yang meninggal. Hasil penelitian menunjukan bahwa CO2 gap memiliki sensitivitas 94,7%; spesifisitas 90,3%; positive predictive value 85,7%; negative predictive value 96,5%; likelyhood ratio positive CO2 gap 9,76; dan likelyhood ratio negative CO2 gap adalah 0,05. Simpulan penelitian adalah CO2 gap dapat digunakan untuk melakukan prediksi tingkat mortalitas pasien sepsis berat.Kata kunci: CO2 gap, mortalitas, sepsisCO2 Gap as a Mortality Incidence Predictor for Severe Sepsis Patient  in Intensive Care Unit The mortality rate of severe sepsis patients in Intensive Care Unit (ICU) is measured by using the Acute Physiology and Chronic Health Evaluation (APACHE) II score, which need various complex examinations. Increased p(venous-arterial) CO2(CO2 gap) relates to decreased cardiac index; therefore, it is expected that CO2 gap can be used to predict mortality incidence in severe sepsis patients in the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS).This study was a prospective study on 50 patients who met severe sepsis criteria conducted in the ICU of RSHS Bandung from August 2013 to January 2014. The CO2 gap was be measured in all the patients. Subjects were divided into two groups according to the CO2 gap value, i.e. high CO2 gap (≥6) and low CO2 gap (<6). Subjects were then assessed on the 28th day to observe the mortality incidence the respective group. It was shown that a CO2 gap value had a sensitivity of 94.7%, specificity of 90.3%, positive predictive  value of 85.7%, and the negative predictive value of 96.5%. The likelihood ratio of  positive CO2 gap  and negative CO2 gap were 9.76 and 0.05, respectively. In conclusion, CO2 gap can be used to predict the mortality incidence in severe sepsis patients in the ICU of RSHS Bandung. Key words: CO2 gap, mortality, sepsis DOI:10.15851/jap.v2n3.331
Perbandingan Teknik Insersi Klasik dengan Teknik Insersi Triple Airway Manoeuvre terhadap Angka Keberhasilan dan Kemudahan Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA) Klasik Nelly Margaret Simanjuntak; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.837 KB)

Abstract

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari metode yang dapat meningkatkan angka keberhasilan teknik insersi laryngeal mask airway (LMA) klasik dan mengurangi komplikasi yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka keberhasilan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada teknik triple airway manoeuvre (TAM). Penelitian ini adalah eksperimental prospektif dengan metode acak terkontrol tersamar tunggal terhadap pasien yang menjalani operasi terencana dalam anestesi umum di kamar operasi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan April–Juli 2015. Tiga puluh enam pasien pasien berusia 18–60 tahun, status fisik berdasarkan American Society of Anesthesiologists (ASA) kelas I–II dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok teknik insersi klasik dan teknik insersi TAM. Pada teknik TAM, seorang penolong melakukan protrusi mandibula dan membuka mulut sementara seorang melakukan insersi LMA klasik. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik Eksak Fisher dan Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan angka keberhasilan pemasangan dan kemudahan pemasangan LMA klasik pada kedua kelompok perlakuan berbeda bermakna (p<0,05) dengan teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan lebih tinggi daripada teknik insersi klasik (72,2%) dan teknik insersi TAM memiliki kejadian tahanan di orofaring lebih sedikit dibanding dengan teknik klasik (83,3%). Simpulan, teknik insersi TAM memiliki angka keberhasilan yang lebih tinggi daripada teknik insersi klasik sehingga.Kata kunci: Laryngeal mask airway klasik, teknik triple airway manoeuvre, teknik insersi klasikComparison of Success Rate and Ease of Insertion of Classic Laryngeal Mask Airway when Inserted using Classic Insertion Technique and Triple Airway Maneuver TechniqueAbstractVarious studies are seeking to find new methods to improve techniques of classic laryngeal mask airway (cLMA) insertion and reduce possible complications. This is a clinical study to investigate the succesrate and ease of insertion using triple airway maneuver(TAM) technique and to compare it with the classic technique. This experimental prospective study was conducted using the single-blind randomized controlled trial approach to patients underwent elective surgery under general anesthesia in the operating teather of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during the period of April 2015 to July 2015. Thirty six patients aged 18–60 years old with American Society of Anesthesiologists (ASA) I–II status were randomly divided into two groups receiving either triple airway maneuver (TAM) technique or classic technique. In TAM technique, jaw thrust and mouth opening are facilitated by a technician and the anesthesiologist inserts the LMA. The collected data were analyzed using Fisher Exact and Kolmogorov Smirnov. The statistical analysis showed that the ratio of success rate and the ease of insertion of cLMA between both treatment groups was significantly different (p<0.05) where the TAM technique showed a higher success rate of insertion (72.2%) and less impacts on the oropharynx compared to the classic method (83.3%). Overall , in this study, the TAM technique is associated with higher of success rate compared to the classic technique and the ease of insertion of TAM method makes it worth to be considered as a safe and effective method to establish a secure airway in anesthetized patients.Key words: Classic laryngeal mask airway, ease of insertion, success rate, triple airway manoeuvre DOI: 10.15851/jap.v4n3.900
Perbandingan Pemberian Efedrin 30 mcg/kgBB dengan Efedrin 70 mcg/kgBB Intravena terhadap Skala Nyeri dan Efek Hipotensi pada Penyuntikan Propofol di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Afifuddin Afifuddin; Ruli Herman Sitanggang; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (650.194 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n3.1164

Abstract

Penyuntikan propofol menyebabkan  nyeri dan perubahan tekanan darah. Efedrin merupakan obat yang digunakan untuk mengurangi efek yang tidak diinginkan saat penyuntikan propofol. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian efedrin 30 mcg/kgBB intravena dengan efedrin 70 mcg/kgBB intravena terhadap skala nyeri dan efek hipotensi pada penyuntikan propofol. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan September hingga November 2015 terhadap 60 orang  pasien dengan  American Society of Anesthesiologist  (ASA) kelas I dan II, usia 18 hingga 60 tahun yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum secara uji acak kontrol buta ganda. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, 30 orang menerima efedrin 30 mcg/kgBB dan 30 orang menerima efedrin 70 mcg/kgBB, diberikan 1 menit sebelum penyuntikan propofol. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri pada kelompok efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB tidak berbeda bermakna (p>0,05), dan perubahan tekanan darah sistole dan diastole efedrin 30 mcg/kgBB dengan efedrin 70 mcg/kgBB berbeda bermakna (p<0,05). Simpulan, efedrin 30 mcg/kgBB dan efedrin 70 mcg/kgBB menurunkan skala nyeri saat penyuntikan propofol, dan efedrin 70 mcg/kgBB mencegah efek hipotensi lebih baik dibanding dengan efedrin 30 mcg/kgBB.  Comparison of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW Intravenous Ephedrine on Pain Scale and Hypotension After Propofol Injection in  Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungInjection of propofol causes pain and blood pressure changes. Propofol can cause pain at the injection site and decrease the blood pressure while ephedrine is considered to minimize those adverse effect. The purpose of the study was to compare the effects of 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW intravenous ephedrine on pain score and blood pressure changes after propofol injection. This double-blind randomized control trial was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, September to November 2015, on 60 patients with American Society of Anesthesiologist (ASA) physical status I and II, aged 18 to 60 years old. Patients were divided into 2 groups of 30 persons; the first group received 30 mcg/kgBW ephedrine and the second group received 70 mcg/kgBW ephedrine one minute before propofol injection. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. This study showed no significant difference in pain score between the group that received 30 mcg/kgBW ephedrine and 70 mcg/kgBW (p>0,05), but there were significant differences in blood pressure changes (p<0,05). It can be concluded that 30 mcg/kgBW and 70 mcg/kgBW ephedrine could reduce pain score following propofol injection with 70 mcg/kgBW ephedrine reduces the hypotension effect better than the 30 mcg/kgBW dose.  
Angka Kejadian Delirium dan Faktor Risiko di Intensive Care Unit Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Rakhman Adiwinata; Ezra Oktaliansah; Tinni T. Maskoen
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.923 KB) | DOI: 10.15851/jap.v4n1.744

Abstract

Delirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31, laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Kata kunci: Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit, delirium, faktor risiko, Richmond agitation-sedation scale Incidence and Risk Factors of Deliriumin in the Intensive Care Unit of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractDelirium ditandai dengan perubahan status mental, tingkat kesadaran, serta perhatian yang akut dan fluktuatif. Keadaan ini merupakan kelainan yang serius berhubungan dengan pemanjangan lama perawatan di Intensive Care Unit (ICU), biaya yang lebih tinggi, memperlambat pemulihan fungsional, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah mengetahui angka kejadian delirium dan faktor risiko terjadinya delirium di ICU Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Pengambilan sampel dilakukan selama tiga bulan (Januari–Maret 2015) di ICU RSHS Bandung. Metode penelitian ini deskriptif observasional secara kohort prospektif, menggunakan alat ukur Confusion Assessment Method-Intensive Care Unit (CAM-ICU), sebelumnya dilakukan penilaian dengan Richmond agitation-sedation scale (RASS) pada pasien yang tersedasi. Hasil penelitian ini dari 105 pasien, 22 pasien dieksklusikan, dari 83 pasien didapatkan 31 pasien positif delirium, angka kejadian 37%. Faktor-faktor risiko pada pasien positif delirium terdiri atas geriatri 15 dari 31, pemakaian ventilator 12 dari 31, pemberian analgesik morfin 9 dari 31, sepsis atau infeksi 9 dari 31, kelainan jantung 8 dari 31, acute physiology and chronic health evaluation (APACHE) II skor tinggi 8 dari 31, kelainan ginjal 7 dari 31 laboratorium abnormal 7 dari 31, pemberian sedasi midazolam 6 dari 31 kelainan endokrin 5 dari 31, pemberian analgesik fentanil 2 dari 31, dan strok 1 dari 31. Simpulan, angka kejadian delirium di ICU RSHS Bandung cukup tinggi sebesar 37% dengan faktor risiko terbesar adalah pasien geriatrik.Key words: Confusion Assessment Methode-Intensive Care Unit, delirium, Richmond agitation-sedation scale, risk factor DOI: 10.15851/jap.v4n1.744
Perbandingan Blokade Kaudal Bupivakain 0,25% dengan Kombinasi Bupivakain 0,25% dan Klonidin 1 µg/kgBB terhadap Waktu Kebutuhan Analgesik Pascaoperasi Hipospadia Agus Fitri Atmoko; Dedi Fitri Yadi; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.552 KB) | DOI: 10.15851/jap.v6n2.1271

Abstract

Blokade  kaudal merupakan salah satu blokade regional yang digunakan pada pediatrik. Teknik ini digunakan sebagai tata laksana nyeri pascaoperasi urogenital, rektal, inguinal, dan operasi ekstremitas bawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan waktu kebutuhan analgesik pascaoperasi hipospadia pada blokade kaudal bupivakain 0,25% dengan kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB. Penelitian menggunakan uji klinis acak terkontrol buta tunggal dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung bulan November 2017 sampai Januari 2018. Pasien dibagi menjadi grup bupivakain 0,25% (grup B, n=15) dan grup kombinasi bupivakain 0,25% klonidin 1 µg/kgBB (grup BK, n=15). Uji statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian mengungkapkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama pada grup BK (766,46±75,34 menit) dibanding dengan grup B (344,4±59,46 menit) dengan perbedaan signifikan (p<0,05). Simpulan, kombinasi bupivakain 0,25% dan klonidin 1 µg/kgBB pada blokade kaudal menghasilkan waktu kebutuhan analgesik pertama lebih lama dibanding dengan bupivakain 0,25% pascaoperasi hipospadia. Kata kunci: Blokade kaudal, bupivakain, hipospadia, klonidin, waktu kebutuhan analgesik  Comparison of Bupivacaine Caudal Blockade with Bupivacaine Clonidine Caudal Blockade to Timing of Post-operative Hypospadias Analgesic Requirement Caudal blockade was one of the regional blocks used in pediatrics. This technique was used as a post-operative pain management measure in urogenital, rectal, inguinal and lower extremity surgeries. The purpose of this study was to compare the first analgesic requirement between 0.25% bupivacaine caudal blockade and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine caudal blockade combination for post-operative hypospadia. The study used a single blind randomized control trial conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital (RSHS) Bandung in the period of November 2017 to January 2018. Patients were divided into 0.25% bupivacaine group (B group, n=15) and 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination group (BK group, n=15). Statistical test using unpaired t test and Mann Whitney test. Results revealed that the time of first analgesic requirement was longer in BK group (766.46±75.34 min) than in B group (344.4±59.46 min) with a significant difference (p<0.05). In conclusion, 0.25% bupivacaine and 1 µg/kgBW clonidine combination in caudal blockade resulting in a time analgesic requirement that is longer than 0.25% bupivacaine for post-operative hypospadias.                Key words: Analgesic requirement time, bupivacaine, caudal blockade, clonidine, hypospadias
Perbandingan Kombinasi Tramadol Parasetamol Intravena dengan Tramadol Ketorolak Intravena terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Kebutuhan Opioid Pascahisterektomi Dendi Karmena; Ezra Oktaliansah; Eri Surahman
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.386 KB)

Abstract

Nyeri pascabedah adalah masalah penting dalam pembedahan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kombinasi tramadol parasetamol intravena dengan tramadol ketorolak intravena terhadap nilai numeric rating scale (NRS) dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal. Uji klinik acak terkontrol buta ganda dilakukan terhadap 42 wanita (18–60 tahun) status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) I–II yang menjalani pembedahan histerektomi abdominal dalam anestesi umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus–November 2014. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 21 orang menerima kombinasi tramadol parasetamol intravena dan 21 orang menerima kombinasi tramadol ketorolak intravena yang diberikan saat dilakukan penutupan peritoneum. Penilaian skala nyeri dilakukan dengan menggunakan nilai numeric rating scale baik pada saat istirahat maupun saat mobilisasi. Analisis menggunakan Uji Mann-Whitney. Pada penelitian ini ditemukan nilai NRS pada kelompok tramadol parasetamol dan kelompok tramadol ketorolak tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian kombinasi tramadol parasetamol intravena sebanding dengan kombinasi tramadol ketorolak terhadap nilai NRS dan kebutuhan opioid pascabedah histerektomi abdominal.Kata kunci: Kebutuhan opioid, ketorolak, numeric rating scale, parasetamol, tramadolComparison of Combined Intravenous Tramadol-Paracetamol Versus Tramadol-Ketorolac on Numeric Rating Scale and Opioid Requirement on Post Histerectomy PatientsPostoperative pain is an important problem in surgery. This study aimed to compare the combination of intravenous tramadol paracetamol and tramadol ketorolac to numeric rating scale (NRS) to postoperative opioid requirements in abdominal hysterectomy. Double blind randomized controlled trial was conducted on 42 women (18–60 years) with ASA physical status I–II who underwent abdominal hysterectomy surgery under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung within the period of August–November 2014. Subjects  were divided into two groups: 21 subjects received a combination of intravenous tramadol paracetamol and 21 subjects received combination of intravenous  tramadol ketorolac that was given when peritoneum was closure. The assessment of postoperative pain was performed using a numeric rating scale  both at rest and during mobilization. Correlation analysis is conducted using Mann-whitney test. Result shows that the value of the NRS in group tramadol paracetamol compared to tramadol ketorolac  was not significantly different (p>0.05). This study concludes that the combinations of intravenous tramadol paracetamol and  tramadol ketorolac are the same in terms of the NRS and postoperative opioid requirement after abdominal hysterectomy.Key words: Ketorolac, numeric rating scale, opioid requirement, paracetamol,  tramadol DOI: 10.15851/jap.v3n3.612
PENGARUH PREMEDIKASI KETAMIN 0,3 MG/KGBB TERHADAP RESPONS TUBUH PASIEN SAAT INSERSI JARUM SPINAL DAN KEPUASAN PASIEN Ardi Janardika; Ezra Oktaliansah; M. Andy Prihartono
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n2.2419

Abstract

Pemberian premedikasi dapat mengurangi kecemasan preoperatif dan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal. Premedikasi membuat intervensi spinal menjadi lebih nyaman bagi pasien, pasien kooperatif selama penyuntikan, dan mengurangi respons saat insersi jarum spinal. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum dilakukan anestesi spinal terhadap respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan penerimaan pasien terhadap anestesi spinal. Penelitian dilakukan periode Agustus–Desember 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian bersifat komparatif eksperimental dengan menggunakan uji klinis acak buta ganda terhadap 46 subjek yang dibagi acak ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (kelompok C, n=23) dan kelompok premedikasi ketamin (kelompok K, n=23). Pascapemberian premedikasi ketamin dinilai respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal menggunakan prick response score dan penerimaan pasien dengan numeric rating scale. Analisis statistik untuk respons penyuntikan dan penerimaan pasien diuji dengan tes chi-square. Hasil penelitian menunjukkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal berkurang (p<0,01) dan penerimaan pasien meningkat (p<0,01) pada kelompok perlakuan. Simpulan penelitian, yaitu premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum anestesi spinal menurunkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan meningkatkan penerimaan pasien terhadap anestesi spinal. The Effect of Ketamine Premedication 0.3 mg/kgBW before Spinal Anesthesia to Body Response during Spinal Needle Insertion and SatisfactionPremedication may reduce preoperative anxiety and response during spinal needle insertion. Premedication leads to a more comfortable spinal intervention for the patients, making them more cooperative and allaying response during spinal needle insertion. The aims of this study were to determine the effects of 0.3 mg/kgBW ketamine premedication administered 3 minutes before spinal anesthesia on the patient`s body response during spinal needle insertion and patient satisfaction. The study was conducted in August–December 2020 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was a comparative experimental study with a randomized, double blinded clinical trial on 46 subjects randomly divided into 2 groups, a control group (group C, n=23), and a ketamine premedication group (group K, n=23). After premedication with ketamine, the patient`s body response were evaluated during spinal needle insertion using the prick response score and their satisfaction using the numeric rating scale. Statistical analysis for response during needle insertion and patient satisfaction was evaluated using the chi-square test. Results of the study showed that patient`s body response during spinal needle insertion were reduced (p<0.01) and patient satisfaction was increased (p<0.01) in the ketamine premedication group. In conclusion, 0.3 mg/kgBW ketamine premedication administered 3 minutes before spinal anesthesia reduces patient body response during spinal needle insertion and increases patient satisfaction on spinal anesthesia.
Pengaruh Premedikasi Midazolam 0,04 mg/kgBB sebelum Anestesi Spinal terhadap Respons Tubuh saat Insersi Jarum Spinal dan Kepuasan Anna Christanti; Ezra Oktaliansah; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v8n2.2035

Abstract

Conscious sedation pada pasien yang dilakukan tindakan anestesi spinal membuat pasien menjadi lebih nyaman, kooperatif selama penyuntikan, dan mengurangi respons tubuh saat insersi jarum spinal. Midazolam memiliki efek ansiolitik, sedatif-hipnotik, amnesia, melemaskan otot, dan mengurangi mual-muntah akibat pembedahan. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh premedikasi midazolam 0,04 mg/kgBB yang diberikan 30 menit sebelum dilakukan anestesi spinal terhadap respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan kepuasan pasien terhadap anestesi spinal. Penelitian dilakukan periode September–Desember 2019 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian bersifat prospektif eksperimental menggunakan uji klinis acak buta ganda terhadap 46 subjek yang dibagi acak ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (kelompok K, n=23) dan kelompok premedikasi midazolam (kelompok M, n=23). Pasca- pemberian premedikasi midazolam dinilai respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal menggunakan prick response score dan kepuasan pasien dengan numeric rating scale. Analisis statistik untuk respons penyuntikan dan kepuasan pasien diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal berkurang (p<0,01) dan kepuasan pasien meningkat (p<0,01) pada kelompok premedikasi midazolam. Simpulan, premedikasi midazolam 0,04 mg/kgBB yang diberikan 30 menit sebelum anestesi spinal menurunkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan meningkatkan kepuasan pasien terhadap anestesi spinalThe Effect of Midazolam Premedication 0.04 mg/kgBW before Spinal Anesthesia to Body Response during Spinal Needle Insertion and Satisfaction Conscious sedation leads to a more comfortable spinal intervention for patients, making them more cooperative as well as  decreasing body response during spinal needle insertion. Midazolam has anxiolytic, hypnosis-sedative, amnesia, muscle relaxation effects and ability to reduce nausea and vomiting related to a surgery.  The aim of this study was to determine the effect of 0,04 mg/kgBW midazolam premedication administered 30 minutes before spinal anesthesia on body response during spinal needle insertion and patient satisfaction. The prospective experimental study with a randomized, double blinded clinical trial approach was conducted from September to December 2019 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Forty-six subjects were randomly divided into 2 groups: a control group (group K, n=23), and a midazolam premedication group (group M, n=23). After premedication with midazolam, the patient`s body response during spinal needle insertion were evaluated using the prick response score and their satisfaction was assessed using the numeric rating scale. Statistical analysis used to analyze  body response during needle insertion and patient satisfaction was the Chi-Square test. Results howed that patient`s body response during spinal needle insertion were reduced (p<0.01) and patient satisfaction increased (p<0.01) in the midazolam premedication group. In conclusion, 0.04 mg/kgBW midazolam premedication administered 30 minutes before spinal anesthesia reduces patient body response during spinal needle insertion and increases patient satisfaction on spinal anesthesia.
Perbandingan Angka Keberhasilan Intubasi dan Waktu Intubasi antara Menggunakan Bougie dan Purwarupa Camera–Bougie pada Maneken Simulasi Kesulitan Intubasi Gavrila Diva Amelis; Dhany Budipratama; Ezra Oktaliansah
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.479 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.1585

Abstract

Penatalaksanaan jalan napas merupakan hal fundamental bagi ahli anestesi. Kegagalan penatalaksanaan jalan napas mengakibatkan kematian. Berbagai modalitas tersedia untuk penatalaksanaan jalan napas  sulit, mulai dari alat sederhana seperti stylet dan bougie hingga alat canggih seperti video laryngsocope dan fiberoptic. Fiberoptik masih menjadi standar baku kesulitan intubasi, namun penggunaannya masih terbatas karena harganya mahal dan penggunaannya sulit. Purwarupa camera–bougie  merupakan modalitas baru yang diharapkan dapat mengatasi keterbatasan tersebut dan menjembatani antara bougie yang sederhana dan fiberoptik yang sangat canggih. Tujuan penelitian adalah membandingkan angka keberhasilan intubasi dan waktu intubasi antara bougie dan purwarupa camera–bougie pada maneken simulasi kesulitan intubasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian analitik eksperimental ini dilakukan pada 41 peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung semester 5 sampai dengan 11 yang melakukan intubasi dengan bougie dan purwarupa camera–bougie secara bergantian dengan metode randomisasi permutasi blok pada maneken simulasi kesulitan intubasi. Penelitian dilakukan dari tanggal 16–24 Oktober 2018. Keberhasilan dan waktu intubasi dicatat dan dianalisis secara statistik dengan Uji Mc. Nemar dan Wilcoxon. Keberhasilan intubasi dengan bougie sebesar 39% dan purwarupa camera-bougie 100% (p<0,001). Waktu intubasi dengan  bougie dan purwarupa camera-bougie sebesar 18,81 (12,19) detik dan  7,0 (1,47) detik (p<0,001). Simpulan, purwarupa camera–bougie meningkatkan keberhasilan intubasi dan memperpendek waktu intubasi pada maneken simulasi kesulitan intubasi.Comparison of Success Rate and Duration of Intubation between Bougie and Bougie–Camera Prototype in Simulated Difficult Airway ManikinAirway management is fundamental for anesthesiologist. Fiberoptic is still the gold standard for difficult intubation but its expensive price and complicated handling limit its use. Bougie–camera prototype is one of the new modalities that is expected to overcome these limitations and bridge the gap between simple bougie and very sophisticated fiberoptic. The aim of this study was to compare the success rate and duration of intubation between bougie and bougie–camera prototype in simulated difficult airway manikin at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This experimental analytic study was conducted on 41 fifth semester anesthesiology residents of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital who performed intubation with bougie and bougie–camera prototype alternately on  simulated difficult airway mannequin using permutation block randomization method. This study was held during the period of 16–24th of October 2018. The success rate and duration of intubation were recorded and analyzed statistically by Mc. Nemar and Wilcoxon tests. The rate of successful intubation with bougie was 39% and 100% with bougie–camera prototype (p<0.001). Duration of intubation with bougie and bougie–camera prototype  was 18.81 (12.19) seconds and 7.0 (1.47) seconds (p<0.001). The conclusion of this study is bougie–camera prototype increases the success rate of intubation and shortens the duration of intubation on simulated difficult airway on mannequin.
Perbandingan Kombinasi Bupivakain 0,5% Hiperbarik dan Fentanil dengan Bupivakain 0,5% Isobarik dan Fentanil terhadap Kejadian Hipotensi dan Tinggi Blokade Sensorik pada Seksio Sesarea dengan Anestesi Spinal Ahmado Okatria; Ezra Oktaliansah; Tatang Bisri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.221 KB)

Abstract

Anestesi spinal mejadi teknik pilihan untuk seksio sesarea karena lebih aman dan efisien dibanding dengan anestesi umum. Anestesi spinal pada wanita hamil menyebabkan hipotensi lebih berat dan cepat. Hipotensi berhubungan dengan ketinggian blokade simpatis yang dipengaruhi oleh barisitas anestetik lokal. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kejadian hipotensi dengan tinggi blokade sensorik antara kombinasi bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg dengan bupivakain 0,5% isobarik 12,5 mg-fentanil 25 µg pada anestesi spinal untuk seksio sesarea. Penelitian dilakukan di Central Operating Theatre (COT) Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama bulan April‒Mei 2015 dengan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 40 pasien yang menjalani seksio sesarea dengan status fisik American Society of Anesthesiologist (ASA) II. Kejadian hipotensi dan tinggi blokade sensorik dinilai setelah pemberian anestesi spinal. Data penelitian dianalisis menggunakan uji-t, Mann-Whitney, dan chi-kuadrat. Hasil penelitian bermakna jika nilai p<0,05. Kejadian hipotensi antara kelompok hiperbarik dan isobarik adalah 75% vs 100% (p=0,017). Tinggi blokade sensorik rata-rata antara kedua kelompok di T6 vs T4 (p=0,000). Kejadian hipotensi dan blokade sensorik lebih tinggi pada kombinasi bupivakain 0,5% isobarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg dibanding dengan bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg dan fentanil 25 µg.Kata kunci: Anestesi spinal, bupivakain hiperbarik, bupivakain isobarik, seksio sesareaComparison between Combination of Hyperbaric 0.5% Bupivacain with Fentanyl and 0.5% Isobaric Bupivacain with Fentanyl Use on Incidence of Hypotension and Sensoric Blockade Level in Caesarian Section with Spinal AnesthesiaSpinal anesthesia technic has been the technic of choice for caesarean section due to its safety and efficiency compared to general anesthesia. Spinal anesthesia in pregnancy causes hypotension in a heavier and more rapid manner. Hypotension is associated with the height of the sympathetic block influenced by the baricity of the local anesthetics. This study aimed to compare hypotension incidence and sensory blockade height between combination of 12.5 mg 0.5% hyperbaric bupivacaine with 25 µg fentanyl and 12.5 mg 0.5% isobaric bupivacaine with fentanyl 25 µg in spinal anesthesia for caesarean section. The study was performed at the central operating theatre (COT) of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during April‒May 2015 using double blind randomized control trial method on 40 patients underwent caesarean section with American Society of Anesthesiologist (ASA) II physical status. The hypotension incidence and sensory blockade height were assessed after spinal anesthesia and measured by t-test, Mann Whitney, and Chi-square tests. Significancy was declared when p value <0.05. The hypotension incidence between the hyperbaric and isobaric groups were 75% vs. 100% (p value=0.017). The mean sensory blockade height was at T6 vs. T4 (p value=0.000). The hypotension incidence and sensory blockade are significantly higher in isobaric 12.5 mg 0.5% bupivacainewith 25 µg fentanyl compared to those in 12.5 mg hyperbaric 0.5% bupivacaine with fentanyl 25 µg.Key words: Caesarean section, hyperbaric bupivacaine, isobaric bupivacaine, spinal anesthesia  DOI: 10.15851/jap.v4n2.820
Co-Authors A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Achmad Noerkhaerin Putra Afifuddin Afifuddin Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Agus Fitri Atmoko Ahmado Okatria Anggita Marissa Harahap Anggita Marissa Harahap Anna Christanti Anthon Vermana Ritonga Anthon Vermana Ritonga Ardi Janardika Ardi Zulfariansyah Arvianto Arvianto Arvianto Arvianto, Arvianto Asep Deden Komara Atmoko, Agus Fitri Bernadeth Bernadeth Budiana Rismawan Cindy Elfira Boom Cindy Elfira Boom Dedi Fitri Yadi Dendi Karmena Dendi Karmena, Dendi Dhany Budipratama Doddy Tavianto Eri Surahman Eri Surahman Eri Surahman Erwin Pradian Ferianto Ferianto Ferianto Gavrila Diva Amelis Heru Wishnu Manunggal Heru Wishnu Manunggal Ibnu, Muhamad Ihrul Prianza Prajitno Ihrul Prianza Prajitno Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Immanuel Wiraatmaja Immanuel Wiraatmaja Indra Wijaya Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Irvan Setiawan Irvan Setiawan Iwan Fuadi Jauharul Alam Jauharul Alam Keshina Amalia Mivina Mudia Keshina Amalia Mivina Mudia, Keshina Amalia Mivina Komara, Asep Deden Linggih Panji Nugraha M. Andy Prihartono M. Erias Erlangga Maria Agnes Berlian Yulriyanita Meilani Patrianingrum Meilani Patrianingrum Melliana Somalinggi Mira Rellytania Sabirin Mira Rellytania Sabirin Mohamad Andy Prihartono Mohamad Andy Prihartono Muhamad Adli Boesoirie Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhamad Ibnu Muhammad Ibnu Muhari, Andie Naftalena Naftalena Nelly Margaret Simanjuntak Nobelia Carnationi Novie Salsabila Nurchaeni, Ati Nurchaeni Okatria, Ahmado Putra, Rifki Dwi Anugrah Radian Ahmad Halimi Radian Ahmad Halimi Rakhman Adiwinata Rakhman Adiwinata, Rakhman Rangga Saputra Reza Widianto Sudjud Ricky Aditya Rudi K. Kadarsah Rudi K. Kadarsah Ruli Herman Sitanggang Said Badrul Falah Said Badrul Falah, Said Badrul SATRIYAS ILYAS Septian, Dendi Simanjuntak, Nelly Margaret Sitanggang, Ruli H Somalinggi, Melliana Stefi Berlian Soefviana Suryaningrat, IGB Suwarman Tatang Bisri Tatang Bisri Thayeb, Srilina Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tirto Hartono Vick Elmore Simanjuntak Vick Elmore Simanjuntak Wirawan Anggorotomo Wirawan Anggorotomo, Wirawan