Ezra Oktaliansah
Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 74 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Angka Mortalitas dan Faktor yang Memengaruhi pada Pasien Trakeoesofageal Fistula (TEF) yang Menjalani Operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Unang Sunarya; Ezra Oktaliansah; Ruli Herman Sitanggang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.967 KB) | DOI: 10.15851/jap.v5n2.1111

Abstract

Trakeoesofageal fistula (TEF) merupakan kelainan esofagus yang bersifat kongenital ditandai dengan fistula antara trakea dan esofagus yang merupakan koneksi abnormal yang dapat disertai putusnya antara distal dan proksimal esofagus. Insidensi TEF kongenital mencapai 1:2.400‒4.500 kelahiran hidup. Tujuan penelitian ini mengetahui angka mortalitas dan faktor yang memengaruhi pada pasien TEF yang menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2010–2015. Metode penelitian ini bersifat deskriptif yang dilakukan secara retrospektif terhadap 35 rekam medik pasien TEF yang menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2010‒2015. Hasil penelitian ini menunjukkan angka mortalitas pascaoperasi pasien TEF sebesar 19 dari 34 dan mortalitas tertinggi terjadi pada perempuan 7 dari 12, bayi lahir lahir prematur 5 dari 5, berat badan lahir kurang dari 1.500 gram 1 dari 1, TEF tipe C 19 dari 32, riwayat persalinan di bidan/puskesmas 9 dari 11, disertai kelainan kongenital penyerta selain kelainan anorektal, usia saat operasi lebih dari 7 hari 15 dari 17, penyulit preoperatif lebih dari satu, lama operasi lebih dari 3 jam, tidak dilakukan ekstubasi 15 dari 20, kenaikan berat badan lebih dari 10% 14 dari 18, leakage pascaoperasi dan faktor penyulit pascaoperasi lebih dari satu. Simpulan Angka mortalitas pasien TEF yang menjalani operasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2010–2015 sebanyak 54,3%. Kata kunci: Mortalitas pascaoperasi, operasi, trakeoesofageal fistula Mortality and The Influencing Factors of Trakeoesofageal Fistula (TEF)Patients which Operated in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungTracheoesophageal fistula (TEF) is a disorder of the esophagus that is characterized by congenital fistula between the trachea and esophagus wich is an abnormal connection that can be accompanied by a break between the distal and proximal esophagus. The incidence of congenital TEF reached 1:2,400‒4,500 live births. The purpose of this study to determine mortality and factors affecting mortality in patients TEF in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2010‒2015. This research method was descriptive retrospectively of 35 patients taken from the medical records underwent surgery TEF in Dr. Hasan Sadikin Central Hospital Bandung in 2010‒2015. Results of this study showed a mortality rate of postoperative patients TEF rate of 19 from 34 and the highest mortality among women 7 from 12, premature birth, birth weigth less than 1,500 g, TEF type C 19 from 36, childbirth history at the midwife 9 from 11, congenital abnormalities other than anorectal disease, age at surgery of more than 7 days 15 from 17, preoperative complications more than one, the operating time of more than 3 hours, do not extubation 15 from 20, weight gain more than 10% 14 from 18, the leakage postoperative and more than one complications postoperative factors. In conclusion, mortality of trakeoesofageal fistula (TEF) patients which operated in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2010–2015 was 54.3%.Key words: Postoperative mortality, operatif, tracheoesophageal fistula
Perbandingan Pengaruh Premedikasi per Rektal antara Klonidin 5 μg/ kgBB dan Ketamin 10 mg/kgBB pada Anak Usia 2–5 Tahun pada Skala Pemisahan Prabedah dan Skala Kemudahan Induksi Mira Rellytania Sabirin; Ezra Oktaliansah; Ike Sri Redjeki
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.899 KB)

Abstract

Premedikasi pada anak berguna untuk menurunkan kecemasan prabedah dan memudahkan induksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas klonidin 5 µg/kgBB dibandingkan dengan ketamin 10 mg/kgBB per rektal sebagai premedikasi pada anak. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada November 2011–Februari 2012 menggunakan uji klinis terkontrol samar buta ganda pada 32 pasien pediatrik usia 2–5 tahun yang akan menjalani operasi elektif dan mendapatkan klonidin 5 µg/kgBB atau ketamin 10 mg/kgBB per rektal 45 menit sebelum induksi anestesi. Kualitas skala pemisahan dari orangtua dan skala kemudahan induksi saat pemasangan sungkup muka selama pemberian inhalasi isofluran dianalisis memakai Uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95%, dianggap bermakna bila p<0,05. Klonidin 5 µg/kgBB memberikan kualitas yang efektif dan baik dalam hal pemisahan dan penerimaan pemasangan sungkup saat induksi dibandingkan dengan ketamin 10 mg/kgBB dengan perbedaan bermakna (p<0,001). Data ini menunjukkan bahwa klonidin 5 µg/kg rektal merupakan pilihan obat premedikasi alternatif yang efektif dan aman untuk diberikan kepada pasien pediatrik.Kata kunci: Klonidin rektal, ketamin rektal, premedikasi, skala kemudahan induksi, skala pemisahanComparison Between Premedication using Clonidine 5 μg/kgBW and Ketamine 10 mg/kgBW per Rectal in Children Aged 2–5 Years to Preoperative Separation Scale and Acceptance of Mask for Induction ScalePremedication in children is used to reduce pre operative anxiety and to facilitate induction. This study was designed to investigate the efficacy of rectal clonidine 5 µg/kgBW in comparison with rectal ketamine 10 mg/kgBW as a premedication in children. The study was conducted at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during the period November 2011–February 2012 with a double-blind randomized clinical controlled trials on 32 paediatric patients aged 2–5 years undergoing elective surgery and received either clonidine 5 µg/kgBW or ketamine 10 mg/kgBW rectally 45 min before induction of anesthesia. The quality of separation scale from the parent and the acceptance of mask for induction scale application during inhalation isoflurane were analyzed using Mann Whitney Test with 95% confidence interval, p value <0.05 is considered as statistically significant. Clonidine 5 µg/kgBW provide effective and good qualities of separation and acceptance of mask for induction compared to ketamine 10 mg/kgBW. These data indicate that rectal clonidine 5 µg/kgBW is effective and safe as an alternative drug for premedication in paediatric patients.Key words: Acceptance of mask for induction scale, clonidine, premedication, rectal, separation scale DOI: 10.15851/jap.v2n1.230
Efektivitas Analgesik Pascaoperasi pada Pasien Pediatrik di Ruang Pemulihan Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Juni–November 2018 Bernadeth Bernadeth; Ezra Oktaliansah; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.174 KB) | DOI: 10.15851/jap.v7n1.15647

Abstract

Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan. Penyebab utama nyeri akut pada anak adalah prosedur pembedahan, trauma, dan penyakit akut. Penilaian nyeri merupakan bagian penting dari manajemen nyeri. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas analgesik pascaoperasi pada pasien pediatrik  di ruang pemulihan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juni-November 2018. Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional prospektif terhadap 471 pasien pediatrik pascaoperasi di ruang pemulihan. Subjek penelitian dikelompokkan berdasar atas jenis operasi yang menyebabkan nyeri ringan, sedang, dan berat. Jenis analgesik pascaoperasi yang diberikan dan penilaian nyeri selama di ruang pemulihan dicatat untuk melihat efektivitas analgesik pascaoperasi tersebut. Dari hasil penelitian efektivitas analgesik pascaoperasi pada jenis operasi nyeri ringan sebanyak 181 pasien (99,5%), jenis operasi nyeri sedang sebanyak 231 pasien (98,7%), dan pada jenis operasi nyeri berat sebanyak 53 pasien (96,4%). Simpulan penelitian ini adalah efektivitas analgesik pascaoperasi pada pasien pediatrik di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih kurang efektif karena belum memenuhi target rumah sakit 100% bebas nyeri dan pemberian analgesik juga belum efisien karena masih banyak terdapat ketidaksesuaian antara pilihan analgesik dan derajat nyeri.Effectiveness of Post-Operative Analgesia on Pediatric Patients in the recovery room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from June to November 2018Pain is an unpleasant sensory and emotional experience. Pain assessment is an important part of pain management. The main causes of acute pain in children are surgical procedures, trauma, and acute diseases. This study aimed to study the effectuIveness of postoperative analgesics in pediatric patients in the recovery room of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from June to November 2018. This was a prospective observational descriptive study on 471 postoperative pediatric patients in recovery rooms. The research subjects were grouped based on the type of surgery pain, i.e. mild, moderate, and severe. The type of postoperative analgesics given and assessment of pain during the stay in the recovery room were recorded to see the effectiveness of the postoperative analgesic drug. From the results of the study it was identified that the of postoperative analgesics was effective for 181 patients (99.5%) in the mild pain surgery group, for 231 patients (98.7%) in the moderate pain surgery, and for 53 patients (96.4%)  in severe pain surgery. It is concluded that the postoperative analgesics provided to pediatric patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung is still less effective because it has not met the target of 100% pain free set by the hospital and that analgesic administration is also not efficient because there are still many discrepancies in analgesic choices and the degree of pain.  
Efektivitas oksigenasi dan ventilasi saat induksi anestesi umum menggunakan masker bedah dinilai berdasarkan SpO2 dan EtCO2 Linggih Panji Nugraha; Ezra Oktaliansah; Ricky Aditya
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v9n2.2401

Abstract

Anestesiolog memiliki risiko tinggi terpapar aerosol pada saat melakukan tindakan ventilasi maupun intubasi. Anestesiolog harus dapat melakukan ventilasi dengan baik selama induksi anestesi umum. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas oksigenasi dan ventilasi saat induksi anestesi umum pada pasien yang menggunakan masker bedah dinilai berdasar atas SpO2 dan EtCO2. Penelitian ini merupakan penelitian analisis numerik berpasangan dengan rancangan eksperimental pada pasien yang dilakukan operasi elektif dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan November–Desember 2020. Selama induksi anestesi, pasien menggunakan masker bedah kemudian dilakukan penilaian SpO2 dan EtCO2 pada saat sebelum induksi dan selama induksi menit ke-1, 2, dan 3. Hasil penelitian mengungkapkan nilai SpO2 dan EtCO2  preinduksi dan pada menit ke-1, 2, dan 3 diperoleh nilai rerata SpO2 dan EtCO2 induksi menit ke-1, ke-2, dan ke-3 tidak lebih inferior dibanding dengan nilai pra induksi (p<0,05) dengan nilai rerata SpO2 dan EtCO2 dalam batas normal.Simpulan penelitian adalah penggunaan masker bedah selama induksi tidak mengurangi efektivitas oksigenasi dan ventilasipada pasien yang dilakukan anestesi umum dinilai berdasar atas SpO2 dan EtCO2. Effectiveness of Oxygenation and Ventilation During General Anesthesia Induction Using Surgical Mask Assessed by SpO2 and EtCO2 Anesthesiologist have high risk for exposure of aerosol during ventilation or intubation. They must do ventilation during induction of general anesthesia effectively. The study was aimed to know how effective the oxygenation and ventilation during induction of general anesthesia while using surgical mask assessed by SpO2 and EtCO2. The research was a numerical analytic with experimental design performed on elective surgery patients done by general anesthesia in central operating theatre Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in November–December 2020. During induction of anesthesia, patient were using surgical mask and assessment of SpO2 and EtCO2 was done before induction and during induction in the 1st, 2nd, and 3rd minute induction. The result of the study revealed SpO2 and EtCO2  preinduction and 1st, 2nd, and 3rd minute induction had SpO2 and EtCO2 value in 1st, 2nd, and 3rd minute induction not inferior to pre induction value, with SpO2 and EtCO2 value within normal limit.The study has concluded that using surgical mask during induction does not decrease the effectiveness of oxygenation and ventilation in patient with general anesthesia assessed by SpO2 and EtCO2.
Anesthesia Technique Selection Pattern in Patients Undergoing Lower Extremities Surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January–June 2013 Keshina Amalia Mivina Mudia; Ezra Oktaliansah; Ihrul Prianza Prajitno
Althea Medical Journal Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.351 KB)

Abstract

Background: Musculoskeletal problems of the lower extremities are becoming more frequent lately. This problem usually requires surgery to be dealt quickly . The role of the anesthesiologist is needed to determine which anesthesia technique that has to be performed. Selection of proper anesthesia technique can reduce the incidence of complications . Objective of this study was to determine anesthesia technique selection pattern in patients undergoing orthopedic surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January–June 2013.Methods: A quantitative study with retrospective descriptive method was conducted. This study was carried out from September–October 2013 at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Medical records were used as a research instrument. Data collection was conducted using total sampling method. There were 228 data of all cases, but only 151 patients who met the inclusion and exclusion criteria.Results: One hundred fifty one patients were identified. Sixty five subjects (43%) were performed under general anesthesia, 83 subjects (55%) under regional anesthesia and 3 subjects (2%) under combination of general-regional anesthesia. Regional anesthesia techniques consisted of spinal anesthesia (29%), epidural anesthesia (64%), combination of spinal-epidural anesthesia (5%), and peripheral nerve block (2%). Conclusions: Regional anesthesia is the most frequently technique used in lower extremities orthopedic surgery, with epidural anesthesia as the most common regional technique used because of all the benefits. [AMJ.2016;3(1):141–6] DOI: 10.15850/amj.v3n1.717
Pemberian Dini Vasopresor pada Syok Sepsis Ferianto Ferianto; Ezra Oktaliansah; Indriasari Indriasari
Jurnal Ilmu Kedokteran Vol 14, No 2 (2020): Jurnal Ilmu Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26891/JIK.v14i2.2020.69-80

Abstract

Sepsis is life-threatening organ dysfunction caused by a dysregulated host response to infection and become one of leading causes of death in Intensive Care Unit (ICU). The two components of treating sepsis shock are fluid resuscitation and administration of vasopressor. Early administration of vasopressor in conjunction with fluid administration can reduce mortality because it reduces the volume of resuscitation so as to prevent excess fluid in the patient. Recent recommendation from  Surviving Sepsis Campaign (SSC) suggest fluid resuscitation and medication within the first 1 hour including vasopressor administration in concomitant life-threatening cases of hyptension or immediately after fluid resuscitation to maintain MAP level ≥ 65mmHg. Holistic treatment will reduce the mortality of patient with sepsis shock in the ICU
Efektivitas Spray Lidokain pada Pipa Endotrakea terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaoperasi yang Dihubungkan dengan Lama Anestesi/Intubasi Novie Salsabila; Ezra Oktaliansah; Radian Ahmad Halimi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n1.2561

Abstract

Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi <1 jam (kelompok 1), 1–2 jam (kelompok 2), dan >2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 2 (p>0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam.Effectiveness of Lidocaine Spray for Preventing Postoperative Sore Throat in Several Durations of AnesthesiaPostoperative sore throat (POST) is a common postoperative complaint after general anesthesia, which can cause dissatisfaction and discomfort after surgery. Lidocaine is one of the drugs used to reduce or prevent POST. This study aimed to determine the effectiveness of lidocaine in preventing POST at various durations of anesthesia/intubation. The study was conducted from December 2020 to February 2021 at Dr. Hospital. Hasan Sadikin Bandung. This study enrolled 113 subjects who were divided into three groups, namely the group with a duration of anesthesia/intubation of less than 1 hour (group 1), between 1–2 hours (group 2), and the group with a duration of more than 2 hours (group 3). The postoperative sore throat was assessed immediately after the patient was extubated, 1, 6, and 24 hours post-extubation. Nonparametric statistical analysis was performed with the Kruskal Wallis test. The results showed that the severity of POST was statistically different between the groups (p<0.05). Post-hoc analysis using the Mann-Whitney test showed significant differences between groups 1 and 3 and between groups 2 and 3 (p<0.05). The difference was not statistically significant in group 1 compared to group 2 (p>0.05). Administration of a lidocaine spray for preventing POST is effective in an anesthetic duration of fewer than 2 hours. Other modalities may be required for an anesthesia duration of more than 2 hours. 
Penatalaksanaan Kardiomiopati Peripartum pada Primigravida Hamil 33–34 Minggu Gemeli di Unit Perawatan Intensif Maria Agnes Berlian Yulriyanita; Ezra Oktaliansah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.959 KB)

Abstract

Kardiomiopati peripartum merupakan disfungsi sistol ventrikel kiri yang terjadi pada bulan terakhir periode kehamilan atau 5 bulan pertama masa nifas. Wanita 18 tahun primigravida 33–34 minggu, gemeli dikonsulkan ke ICU karena sesak napas progresif setelah melahirkan spontan dengan ekstraksi forcep di VK. Pasien tampak sesak berat tekanan darah (TD) 160/110 mmHg, laju nadi (HR) 140x/mnt, laju napas (RR) 40x/mnt, saturasi oksigen (SpO2) 75%, ronki basah kasar di kedua lapang paru, akral dingin, basah serta pasien gelisah. Pasien didiagnosis edema paru akut, kemudian diintubasi dan ventilasi mekanik pressure support (PS) 14, positive end expiratory pressure (PEEP) 8 dengan fraksi oksigen (FiO2) 50%. Pasien diberikan terapi dobutamin 5 mcg/kgBB/mnt, midazolam 3 mg/jam, furosemid 5 mg/jam, ceftazidime 3x2 gr dan morfin 10 mcg/kgBB/jam. Pada perawatan hari ketiga, dilakukan weaning ventilator, ekstubasi, kemudian pasien dirawat 2 hari di ruangan dan diperbolehkan pulang. Peningkatan aliran balik vena setelah kontraksi uterus yang intens dan involusi diduga sebagai penyebab kardiomiopati. Kegagalan jantung terjadi karena peningkatan tekanan diastol dari volume darah yang berlebih dan kegagalan ventrikel kiri untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Edema paru interstitial menyebabkan hipoksemia persisten. Cairan yang berlebihan dari dilatasi ventrikel kiri menyebabkan pertukaran gas di kapiler alveolus terganggu sehingga dibutuhkan intubasi dan ventilasi mekanik. Pemberian inotropik dan loop diuretik memperbaiki preload dan kontraktilitas jantung. Penatalaksanaan kardiomiopati peripartum yang tepat akan memberikan prognosis yang baik.
Hiperkapnia Sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19 di Ruang Rawat Intensif Indra Wijaya; Ezra Oktaliansah; M. Erias Erlangga; Iwan Fuadi; Erwin Pradian; Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v10n3.3048

Abstract

Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Proses aktivasi trombosis intravaskular pada COVID-19 menyebabkan komplikasi trombosis mikrovaskular dan makrovaskular sehingga terjadi peningkatan ruang mati paru dan meningkatkan kadar PaCO2. Hiperkapnia menyebabkan banyak perubahan fisiologis dalam tubuh meliputi sirkulasi paru dan sistemik dan meningkatkan risiko mortalitas pasien ARDS. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas pasien COVID-19. Penelitian dilakukan berdasarkan data pasien pada periode Maret 2020–Desember 2021. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Data PaCO2 pasien diambil saat hari pertama pasien dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin dan status mortalitas pasien di hari rawat ke-7 dan 28 hari. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis bivariabel simple regression logistic. Hasil analisis statistik diperoleh nilai p< 0,05 dengan OR = 7,07 (CI 2,519–19,850) pada mortalitas hari ke-7, dan nilai p< 0,05 OR 44,33 (CI 9,182–214,062) pada mortalitas hari ke-28. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas hari ke-7 dan ke-28 perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat di ruang rawat intensif isolasi.Hypercapnia as Mortality Predictor in COVID-19 PatientsThe SARS-CoV-2 virus causes COVID-19, an acute respiratory illness that caused a global pandemic. The activation of intravascular thrombosis in COVID-19 results in microvascular and macrovascular thrombosis complications, which increase lung dead space and PaCO2 levels. The hypercapnia condition causes many physiological changes in the body, including pulmonary and systemic circulation. It is known to increase the mortality risk in ARDS patients admitted to the Intensive Care Unit (ICU). This study aimed to determine if hypercapnia was a mortality predictor in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit at Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This observational analytic study used an observational analytic design with a retrospective cohort. The patient's PaCO2 data was collected on the first day of hospitalization in the ICU, and the patient's mortality status was collected on the 7th and 28th days of hospitalization. According to the statistical analysis, hypercapnia was associated with higher mortality, OR 7.07 (CI 2.519–19.850) on the 7th-day mortality and 44.33 (CI 9.182–214.062) on the 28th-day mortality, P value < 0.05. In conclusion, hypercapnia is a mortality predictor on the 7th and 28th days of treatment in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit. 
Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari sampai April Tahun 2021 Stefi Berlian Soefviana; Ezra Oktaliansah; Radian Ahmad Halimi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15851/jap.v11n1.2792

Abstract

Pasien geriatri dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas saat mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Februari–April tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–April tahun 2021. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rerata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2%, dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%. Simpulan, angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada wanita, 18,5–24,9 kg/m2 komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥3, dan anestesi umum. 
Co-Authors A. Himendra Wargahadibrata A. Himendra Wargahadibrata Achmad Noerkhaerin Putra Afifuddin Afifuddin Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Agus Fitri Atmoko Ahmado Okatria Anggita Marissa Harahap Anggita Marissa Harahap Anna Christanti Anthon Vermana Ritonga Anthon Vermana Ritonga Ardi Janardika Ardi Zulfariansyah Arvianto Arvianto Arvianto Arvianto, Arvianto Asep Deden Komara Atmoko, Agus Fitri Bernadeth Bernadeth Budiana Rismawan Cindy Elfira Boom Cindy Elfira Boom Dedi Fitri Yadi Dendi Karmena Dendi Karmena, Dendi Dhany Budipratama Doddy Tavianto Eri Surahman Eri Surahman Eri Surahman Erwin Pradian Ferianto Ferianto Ferianto Gavrila Diva Amelis Heru Wishnu Manunggal Heru Wishnu Manunggal Ibnu, Muhamad Ihrul Prianza Prajitno Ihrul Prianza Prajitno Ike Sri Redjeki Ike Sri Redjeki Immanuel Wiraatmaja Immanuel Wiraatmaja Indra Wijaya Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Indriasari Irvan Setiawan Irvan Setiawan Iwan Fuadi Jauharul Alam Jauharul Alam Keshina Amalia Mivina Mudia Keshina Amalia Mivina Mudia, Keshina Amalia Mivina Komara, Asep Deden Linggih Panji Nugraha M. Andy Prihartono M. Erias Erlangga Maria Agnes Berlian Yulriyanita Meilani Patrianingrum Meilani Patrianingrum Melliana Somalinggi Mira Rellytania Sabirin Mira Rellytania Sabirin Mohamad Andy Prihartono Mohamad Andy Prihartono Muhamad Adli Boesoirie Muhamad Adli Boesoirie, Muhamad Adli Muhamad Ibnu Muhammad Ibnu Muhari, Andie Naftalena Naftalena Nelly Margaret Simanjuntak Nobelia Carnationi Novie Salsabila Nurchaeni, Ati Nurchaeni Okatria, Ahmado Putra, Rifki Dwi Anugrah Radian Ahmad Halimi Radian Ahmad Halimi Rakhman Adiwinata Rakhman Adiwinata, Rakhman Rangga Saputra Reza Widianto Sudjud Ricky Aditya Rudi K. Kadarsah Rudi K. Kadarsah Ruli Herman Sitanggang Said Badrul Falah Said Badrul Falah, Said Badrul SATRIYAS ILYAS Septian, Dendi Simanjuntak, Nelly Margaret Sitanggang, Ruli H Somalinggi, Melliana Stefi Berlian Soefviana Suryaningrat, IGB Suwarman Tatang Bisri Tatang Bisri Thayeb, Srilina Tinni T. Maskoen Tinni T. Maskoen Tirto Hartono Vick Elmore Simanjuntak Vick Elmore Simanjuntak Wirawan Anggorotomo Wirawan Anggorotomo, Wirawan