Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Journal of Authentic Research

Validitas Bahan Ajar Hidrokarbon Berbasis Model Inkuiri dengan Strategi Konflik Kognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Sabri, Muhammad; Muhali, Muhali; Hulyadi, Hulyadi; Asy'ari, Muhammad
Journal of Authentic Research Vol. 1 No. 1 (2022): January
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v1i1.635

Abstract

Ketersediaan bahan ajar hidrokarbon yang secara eksplisit membelajarkan kemampuan berpikir kritis masih jarang ditemukan. Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru. Penelitian ini bertujuan mengembangkan prototipe berupa bahan ajar model inkuiri dengan strategi konflik kognitif yang valid dan efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dari validitas dan keefektifan bahan ajar berbasis inkuiri dengan strategi konflik kognitif yang merupakan hasil pengembangan dengan rancangan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation). Dua validator ahli, satu validator praktisi dan lima mahasiswa dilibatkan pada evaluasi validitas dan keterbacaan bahan ajar. Data penelitian dianalisis secara deskriptif-kuantitatif menggunakan persamaan N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan dinyatakan (1) valid (rerata= 90,31) dengan keterbacaan sangat baik (rerata= 90,22); dan (2) efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa (pretest= 31,3 dan posttest= 61,3) dengan peningkatan medium (n-gain= 0,4). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis inkuiri dengan strategi konflik kognitif dapat digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. The Validity of the Hydrocarbon Teaching Materials based on Inquiry Learning Model with Cognitive Conflict Strategies to Improve Critical Thinking Ability Abstract The availability of instructional materials explicitly teaching critical thinking skills is still rare. This condition leads to a low level of critical thinking ability among prospective teachers. This research aims to develop a prototype in the form of an inquiry-based instructional material with cognitive conflict strategy that valid and effective to enhance prospective teachers’ critical thinking ability. This study is a quantitative descriptive research on the validity and effectiveness of inquiry-based instructional materials with cognitive conflict strategy, developed using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Two expert validators, one practitioner validator, and five students were involved in evaluating the validity and readability of the instructional material. The research data were analyzed descriptively and quantitatively using the N-gain equation. The results of the study indicate that the developed instructional material is (1) valid (mean=90.31) with excellent readability (mean=90.22), and (2) effective in improving students' critical thinking ability (pretest=31.3 and posttest=61.3) with a medium level of improvement (n-gain=0.4). Based on these findings, it can be concluded that inquiry-based instructional materials with cognitive conflict strategy can be used in teaching to enhance prospective teachers' critical thinking ability.
Dampak Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD terhadap Keterampilan Kolaborasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Fisika Prayogi, Saiful; Sukaisih, Roniati; Muhali, Muhali; Asy'ari, Muhammad
Journal of Authentic Research Vol. 3 No. 2 (2024): July
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v3i2.2126

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) terhadap keterampilan kolaborasi dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran fisika di tingkat sekolah menengah. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yang melibatkan 21 siswa kelas X MAN 3 Lombok Tengah. Pada Siklus I, hasil belajar kognitif menunjukkan bahwa hanya 38% siswa yang mencapai ketuntasan dengan nilai rata-rata 57,43. Namun, setelah penerapan model STAD pada Siklus II, terjadi peningkatan signifikan dengan 86% siswa mencapai ketuntasan dan nilai rata-rata meningkat menjadi 89,62. Selain itu, keterampilan kolaborasi siswa meningkat dari 56% pada Siklus I menjadi 74% pada Siklus II. Hasil ini menunjukkan bahwa model STAD efektif dalam meningkatkan keterampilan kolaborasi dan pemahaman konsep fisika yang kompleks. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran kooperatif dalam pendidikan fisika, serta peran guru sebagai fasilitator dalam menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan mendukung. The Impact of the STAD Cooperative Learning Model on Students' Collaboration Skills and Academic Achievement in Physics Abstract This study examines the impact of implementing the Student Teams-Achievement Divisions (STAD) cooperative learning model on students' collaboration skills and learning outcomes in high school physics. The research was conducted over two cycles, involving 21 tenth-grade science students at MAN 3 Center Lombok. In Cycle I, cognitive learning outcomes showed that only 38% of students achieved mastery with an average score of 57.43. However, after applying the STAD model in Cycle II, there was a significant improvement, with 86% of students achieving mastery and the average score increasing to 89.62. Additionally, students' collaboration skills improved from 56% in Cycle I to 74% in Cycle II. These results indicate that the STAD model is effective in enhancing both collaboration skills and the understanding of complex physics concepts. This study underscores the importance of cooperative learning in physics education and the role of teachers as facilitators in creating a collaborative and supportive learning environment.
Perbedaan Kesadaran Metakognitif Berdasarkan Gender di SMA Negeri 1 Gunungsari Retnasari, Baiq Ayu; Asy'ari, Muhammad; Prayogi, Saiful; Muhali, Muhali
Journal of Authentic Research Vol. 2 No. 1 (2023): January
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v2i1.2134

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kesadaran metakognitif antara siswa laki-laki dan perempuan di SMA Negeri 1 Gunungsari. Kesadaran metakognitif, yang mencakup kemampuan untuk memantau, mengontrol, dan mengevaluasi proses berpikir, merupakan faktor penting dalam keberhasilan akademik. Penelitian deskriptif ini melibatkan 100 siswa kelas XI IPA, dengan 52 siswa laki-laki dan 48 siswa perempuan yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui angket metakognitif berbasis skala Likert dengan empat pilihan jawaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa perempuan memiliki kesadaran metakognitif yang lebih tinggi dibandingkan siswa laki-laki pada hampir semua indikator yang diukur. Rata-rata nilai kesadaran metakognitif siswa perempuan adalah 2,65 (SD = 0,57), sementara rata-rata nilai siswa laki-laki adalah 2,58 (SD = 0,55). Perbedaan paling signifikan terlihat pada indikator perencanaan, dengan nilai rata-rata siswa perempuan sebesar 2,76 (SD = 0,58) dibandingkan dengan 2,61 (SD = 0,60) pada siswa laki-laki. Berdasarkan hasil ini, direkomendasikan agar strategi pembelajaran yang lebih responsif terhadap gender diterapkan, termasuk pendekatan yang lebih personal dan integrasi teknologi untuk mendukung pengembangan kesadaran metakognitif. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi lebih lanjut pengaruh faktor lain, seperti lingkungan belajar dan dukungan sosial, terhadap kesadaran metakognitif. Gender Differences in Metacognitive Awareness at SMA Negeri 1 Gunungsari Abstract This study aims to analyze the differences in metacognitive awareness between male and female students at SMA Negeri 1 Gunungsari. Metacognitive awareness, encompassing the ability to monitor, control, and evaluate cognitive processes, is a critical factor in academic success. This descriptive study involved 100 randomly selected 11th-grade science students, consisting of 52 male and 48 female students. Data were collected using a Likert-scale-based metacognitive questionnaire with four response options. The results indicated that female students had higher metacognitive awareness than male students across most measured indicators. The average metacognitive awareness score for female students was 2.65 (SD = 0.57), compared to 2.58 (SD = 0.55) for male students. The most significant difference was observed in the planning indicator, with female students scoring an average of 2.76 (SD = 0.58) compared to 2.61 (SD = 0.60) for male students. Based on these findings, it is recommended that more gender-responsive learning strategies be implemented, including personalized approaches and the integration of technology to support the development of metacognitive awareness. Further research is needed to explore the influence of other factors, such as learning environments and social support, on metacognitive awareness.
Pengaruh Pendekatan Saintifik terhadap Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Menengah Asy'ari, Muhammad; Kalean, Arman
Journal of Authentic Research Vol. 3 No. 1 (2024): January
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v3i1.2143

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa kelas VII di SMPN 16 Mataram. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan model post-test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen (28 siswa) yang diajar menggunakan pendekatan saintifik dan kelas kontrol (28 siswa) yang diajar dengan metode konvensional. Data keterampilan berpikir kreatif dikumpulkan melalui tes uraian yang mencakup empat indikator utama: fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rata-rata nilai post-test keterampilan berpikir kreatif di kelas eksperimen mencapai 72,32, sedangkan di kelas kontrol hanya 62,67. Uji-t yang dilakukan menunjukkan thitung? sebesar 3,28 lebih besar dari ttabel? sebesar 1,67 pada taraf signifikansi 0,05, yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan saintifik secara signifikan lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa dibandingkan dengan metode pengajaran konvensional. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pendekatan saintifik diintegrasikan lebih luas dalam kurikulum pendidikan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa secara lebih efektif. The Impact of the Scientific Approach on Enhancing Creative Thinking Skills of Middle School Students Abstract This study aims to analyze the impact of the scientific approach on the creative thinking skills of seventh-grade students at SMPN 16 Mataram. The research employed a quasi-experimental design with a post-test only control group model. The sample consisted of two classes: an experimental class (28 students) taught using the scientific approach and a control class (28 students) taught using conventional methods. Creative thinking skills data were collected through essay tests covering four main indicators: fluency, flexibility, originality, and elaboration. Statistical analysis revealed that the average post-test score of creative thinking skills in the experimental class reached 72.32, compared to 62.67 in the control class. The t-test results indicated a tcount? of 3.28, which is greater than the ttable? of 1.67 at a 0.05 significance level, suggesting a significant difference between the two groups. These findings confirm that the scientific approach is significantly more effective in enhancing students' creative thinking skills compared to conventional teaching methods. Based on these results, it is recommended that the scientific approach be more widely integrated into the educational curriculum to more effectively develop students' creative thinking skills.