Claim Missing Document
Check
Articles

BIOGRAFI I KETUT WIDJANA (PERJUANGAN, NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH) ., Purwa Aditya; ., Drs. I Made Pageh,M.Hum.; ., Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.9604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Biografi I Ketut Widjana; (2) Perjuangan I Ketut Widjana; (3) Nilai-nilai kepahlawanan dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen dan studi pustaka); (4) teknik penjaminan keabsahan data; (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa I Ketut Widjana adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Pada masa revolusi fisik I Ketut Widjana pernah menjadi pemimpin pasukan Gabungan II di Tabanan. Nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung dari sosok I Ketut Widjana antara lain: (1) nilai patriotisme; (2) nilai rela berkorban; (3) nilai tanpa pamrih; (4) nilai keberanian; (5) nilai kewibawaan; (6) nilai kerjasama; (7) nilai kejujuran; (8) nilai nasionalisme; (9) nilai persatuan dan kesatuan; (10) nilai disiplin; (11) nilai religius. Nilai kepahlawanan I Ketut Widjana sangat cocok dijabarkan pada materi sejarah (1) Perubahan dan perkembangan politik masa awal kemerdekaan; (2) Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda. Penelitian ini masih jauh dari sempurna sehingga masih membutuhkan pendalaman lebih lanjut.Kata Kunci : Kata Kunci: biografi, nilai kepahlawanan, sumber belajar. This study aims to determine (1) Biography I Ketut Widjana; (2) The struggle I Ketut Widjana; (3) The values of heroism and its potential as a source of learning history. This study used a qualitative approach, namely: (1) determining the location of the study; (2) determination techniques informant; (3) data collection techniques (observation, interviews, document studies and literature); (4) techniques guaranteeing the validity of the data; (5) data analysis techniques. The results showed that I Ketut Widjana is the youngest of four siblings. On the physical revolution I Ketut Widjana been a squad leader Combined II in Tabanan. Heroic values embodied by the figure I Ketut Widjana among others: (1) the value of patriotism; (2) the value of self-sacrifice; (3) the value of selfless; (4) the value of courage; (5) the value of authority; (6) the value of cooperation; (7) the value of honesty; (8) the value of nationalism; (9) the value of unity; (10) the value of discipline; (11) a religious value. Value heroism I Ketut Widjana very suitable translated at the historical material (1) changes and political developments early days of independence; (2) The struggle of the Indonesian nation in defending the independence of the threat of Allied and Dutch. This research is still far from perfect so it still requires further exploration.keyword : Keywords: biography, the value of heroism, learning resources.
Dari Masjid Jami’ Ke Masjid Pahlawan di Desa Airkuning Jembrana Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Tahun 1945-1973 di SMA ., FITRIYANAH; ., Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.14942

Abstract

Secara umum tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengatahui proses berubahnya nama Masjid Jami’ menjadi Masjid Pahlawan di Desa Airkuning; (2) untuk mengetahui fungsi Masjid Jami’ pada masa Revolusi Fisik tahun 1945-1950 di Desa Airkuning; (3) untuk mengetahui nilai-nilai yang dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran sejarah yang berkaitan dengan Masjid Pahlawan di Desa Airkuning. Penelitian ini secara metodologis menggunakan pendekatan kualitatif, teknik penentuan informan dengan purposive sampling dan informan terus dikembangkan dengan teknik snowball. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan: (1) Wawancara ; (2) Observasi partisipasi agar observasi partisipasi bisa terarah, maka ditetapkan aspek-aspek yang di observasi; (3) Analisis Dokumen. Hasil penelitian ini menunjukan hasil bahwa (1) proses perubahan nama masjid jami menjadi masjid pahlawan di karenakan faktor sejarah dimana masjid Jami berperan penting pada masa revolusi fisik 1945-1950 sebagai tempat persembunyian senjata, yang di bawa oleh rombongan I Gusti Ngurah Rai dari Jawa sebagai pertahan melawan serdadu Belanda, mengacu pada peristiwa tersebut masyarakat Airkuning ingin Masjid Jami memiliki nilai sejarah yang terus di kenang keberadaannya, sehingga penduduk Desa Airkuning menginginkan perubahan nama Masjid Jami menjadi Masjid pahlawan untuk mengenang kejadian pada masa Revolusi Fisik 1945-1950. atas dasar kesepakatan bersama pada tahun 1973 bergantilah nama masjid Jami menjadi Masjid Pahlawan serta di resmikan oleh bapak presiden Soeharto pada tahun 1996 menetapkan masjid sebagai peninggalan bersejarah (2) fungsi khusus masjid Jami selain sebagai tempat beribadah umat muslim pada masa revolusi fisik yaitu sebagai tempat persembunyian peti yang berisikan senjata dan bahan peledak, yang di sembunyikan di dalam masjid tepatnya di bagian atap masjid (3) nilai-nilai yang terdapat pada masjid pahlawan sebagai sumber pembelajaran sejarah antara lain (a) nilai religius (b) nilai sosial budaya (c) nilai patriotisme (d) nilai toleransi (e) nilai kepahlawanan, masjid jami menjadi salah satu komponen pendukung dalam keberhasilan pemuda desa saat melawan serdadu Belanda yang ada di Jembrana. Kata Kunci : Masjid, revolusi Fisik 1945-1950, sumber belajar sejarah In general the purpose of this study is (1) to know the process of changing the name of the mosque jami become mosque hero in Airkuning village (2) to know the function of mosque mosque jami during physical revolution 1945-1950 (3) to know the values that can be used as a historical learning resource related to the hero mosque in Airkuning village This research methodologically using qualitative approach, technique of determination of informant with purposive sampling and informant continue to be developed by snowball technique. in the data collecting researcher use (1) interview (2) participant observation, so that observation of participation can be focused then in applying aspects observed (3) document analysis The results of this study show that (1) the process of changing the name of the mosque jami become a hero mosque in because of the historical factor where the mosque Jami played an important role during the physical revolution 1945-1950 as a weapon hideout, brought by entourage I Gusti Ngurah Rai from Java as defense against Dutch soldiers, referring to the event the Airkuning people want the Jami Mosque has a historical value that continues in the memory of its existence, so that the residents of the Airkuning Village want to change the name of the Jami Mosque into a hero's mosque to commemorate the events of the 1945-1950 Physical Revolution. on the basis of a collective agreement in 1973 to replace the name of the mosque Jami became the Mosque of Heroes and inaugurated by the father of President Soeharto in 1996 set the mosque as a historic relic. (2) the special function of the Jami mosque as a place to worship Muslims during the physical revolution as a hiding place of a crate containing weapons and explosives, hidden in the mosque precisely in the roof of the mosque (3) the values contained in the mosque heroes as a source of historical learning, among others (a) religious values (b) socio-cultural values (c) patriotism value (d) value of tolerance (e) hero value, jami mosque became one of the supporting components in the success of village youth against the Dutch soldiers is in Jembrana.keyword : Mosque, Physical Revolution 1945-1950, source of learning history
Pondok Pesantren Abul ‘Abbas Nahdhatul Wathan (NW) di Desa Tegallinggah, Sukasada, Buleleng, Bali (Latar Belakang dan Kontribusinya bagi Pembelajaran IPS di MTs) ., MUHAMMAD RIVAI; ., Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum.; ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v8i2.18523

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Abul ‘Abbas Nahdhatul Wathan di Desa Tegallinggah. (2) Perkembangan Pondok Pesantren Abul ‘Abbas NW Pondok Pesantren Nahdatul Wathandi Desa Tegallinggah tahun 2008-2018. (3)Aspek-aspek apa yang dapat dikontribusikan dalam pembelajaran IPS di MTs. Dalam penelitian ini, dapat dikumpulkan dengan menggunakan metode sejarah dengan tahap-tahap; (1) Tahap Pengumpulan Data, (observasi, wawancara, studi dokumen), (2) Kritik Sumber ( verifikasi), (3) Interpretasi ( Analisis Data), dan (4) Historiografi ( Penulisan Sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Abul ‘Abbas Nahdhatul Wathan di Desa Tegallinggah. (2) Perkembangan Pondok Pesantren Abul ‘Abbas NW Pondok Pesantren Nahdatul Wathandi Desa Tegallinggah tahun 2008-2018. (3)Aspek-aspek apa yang dapat dikontribusikan dalam pembelajaran IPS di MTs Abul ‘Abbas NW di Desa Tegallinggah. yang apa yang dapat dikontribusikan dalam pembelajaran IPS sesuai dengan kurikulum 2013. Kata Kunci : Pondok Pesantren, Sejarah, Nilai, Sumber Belajar The purpose of this study was to find out (1) the background of the establishment of Islamic Boarding School Abul ‘Abbas Nahdhatul Wathan in Tegallinggah Village. (2) Development of Abul ‘Abbas NW Islamic Boarding School Nahdatul Wath Islamic Boarding School in Tegallinggah Village in 2008-2018. (3) What aspects can be contributed to social studies at MTs . In this study, it can be collected using historical methods with stages; (1) Data Collection Phase, (observation, interview, document study), (2) Source Criticism (verification), (3) Interpretation (Data Analysis), and (4) Historiography (History Writing). The results of the study showed that, (1) The background of the establishment of Abul Islamic Boarding School ‘Abbas Nahdhatul Wathan in Tegallinggah Village. (2) Development of Abul ‘Abbas NW Islamic Boarding School Nahdatul Wath Islamic Boarding School in Tegallinggah Village in 2008-2018. (3) What aspects can be contributed to social studies at MTs Abul ‘Abbas NW in Tegallinggah Village. what can be contributed to social studies learning in accordance with the 2013 curriculum. keyword : Islamic Boarding Schools, History, Values, Learning Resource
MUSEUM BALI DI KOTA DENPASAR, BALI (LATAR BELAKANG SEJARAH, KOLEKSI, DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SMA) Yunus, Fahrizal; Pageh, I Made; Purnawati, Desak Made Oka
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v9i3.36025

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah berdirinya Museum Bali, (2) struktur bangunan Museum Bali, (3) koleksi dari Museum Bali yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian sejarah, diantaranya adalah (1) pengumpulan sumber, (2) kritik sumber, (3) Interpretasi (penafsiran), (4) Historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini adalah (1) Kebijakan Baliseering sebagai upaya menjadikan Bali sebagai Museum dilakukan dengan upaya penyelamatan benda-benda bersejarah, (2) struktur bangunan Museum Bali berdasarkan bangunan tradisional tetapi mengikuti fungsi museum, (3) koleksi museum yang berpotensi sebagai sumber belajar. Adapun koleksi Museum Bali yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar sejarah hasil analisis kurikulum dan silabus adalah (1) artefak pra-aksara, (2) berbagai jenis uang kepeng, (3) Cili, (4) Keris, dan (5) peninggalan kolonial yang selanjutnya disusun kedalam Buku Suplemen supaya dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah di SMA.
ETNIK BUGIS MANDAR DI DUSUN MANDAR SARI, DESA SUMBERKIMA, GEROKGAK, BULELENG, BALI (SEJARAH, PEMERTAHANAN IDENTITAS ETNIK DAN KONTRIBUSINYA BAGI PEMBELAJARAN SEJARAH) Dania Fakhrunnisa .; Drs. I Ketut Margi, M.Si .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.8709

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan latar belakang Sejarah Suku Bugis Mandar di Desa Sumberkima, (2) Mendeskripsikan Strategi dan Alasan Masyarakat Bugis Mandar di Desa Sumberkima dalam mempertahankan identitas kesukuannya hingga saat ini, (3) Medeskripsikan Kontribusi Sejarah kedatangan Suku Bugis Mandar ke Desa Sumberkima dan strategi pemertahanan identitas kesukuannya bagi Pembelajaran Sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap-tahap; (1) Tehnik penentuan lokasi penelitian, penelitian ini berlokasi di Desa Sumberkima, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, (2) Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, (3) Tehnik penentuan informan, penentuan informan dalam penelitian ini yaitu purposive sampling, (4) Tehnik pengumpulan data, melalui observasi, wawancara, dan kajian dokumen, (5) Tehnik validasi keabsahan data, dan triangulasi data, (6) Teknik analis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sejarah Suku Bugis Mandar di Desa Sumberkima dilatar belakangi oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong disebabkan karena adanya Hegemoni VOC di Sulawesi abad XVI dan adanya pemberontakan komunis tahun 1926-1927. Dan faktor penarik disebabkan karena letak desa Sumberkima yang sangat strategis terletak di pesisir pantai dan memilliki tanah yang subur untuk dijadikan lahan pemukiman dan perkebunan. Strategi pemertahanan identitas etnik Bugis mandar yaitu menggunakan sistem sosialisasi dalam keluarga, masyarakat dan sekolah. Strategi yang digunakan untuk mempertahankan identitas etnik yaitu dengan sosialisasi melalui agen keluarga, sosialisasi melalui agen masyarakat dan sosialisasi melalui agen keluarga, serta alasan pemertahanan identitas etnik yaitu karena warisan leluhur dan takut untuk kehilangan identitas sebagai suku pendatang. Adapun kontribusi dari sejarah Suku Bugis Mandar di desa Sumberkima serta strategi dan alasan pemertahanan identitas kesukuannya bagi pembelajaran sejarah yaitu dapat dijadikan sumber belajar sejarah dan juga dijadikan sebagai media pembelajaran sejarah pada kurikulum 2013. Kata Kunci : Kata kunci: Suku Bugis Mandar, strategi dan alasan pemertahanan identitas etnik. ABSTRACT This study aims to (1) describe the background history of the Bugis Mandar village Sumberkima, (2) Describe the strategy and reasons Society Bugis Mandar village Sumberkima in maintaining the identity of the tribal till today, (3) Medeskripsikan Contributions history of the arrival of the Bugis Mandar to village Sumberkima and tribal identity preservation strategies for Teaching History. This study uses a qualitative method by stages; (1) Technical determining the location of research, this study is located in the village of Sumberkima, Gerokgak, Buleleng, (2) research approach uses a qualitative approach, (3) Technical determination of the informant, the determination of the informants in this research is purposive sampling, (4) Technical data collection, through observation, interviews, and a review of documents, (5) Technical validation of the validity of the data, and triangulation of data, (6) Technical data analyst. The results showed that the history of the Bugis Mandar village Sumberkima motivated by two factors, namely push and pull factors. The driving factor due to the hegemony of the VOC in Sulawesi sixteenth century and the communist insurgency in 1926-1927. And a pull factor due Sumberkima village is very strategically located on the coast and memilliki arable land to be used as residential land and plantations. Bugis ethnic identity preservation strategy mandated that use the system of socialization in the family, community and school. The strategy used to maintain ethnic identity is by socialization through the agency of family, community and socialization through agents of socialization through the agency of the family, as well as ethnic identity preservation reasons, namely because of the heritage and afraid to lose their identity as ethnic migrants. The contribution of the history of the Bugis Mandar village Sumberkima strategy and tribal identity preservation reasons for teaching history which can be used as a source of learning the history and also serve as a medium of teaching history in the curriculum of 2013. keyword : Keywords: Bugis Mandar, strategy and reason for preservation of ethnic identity.
Pura di Antara Seribu Masjid: Studi Kerukunan Antaretnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat Meri Yuliani .; Drs. I Wayan Mudana,M.Si. .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.8710

Abstract

Pura di antara Seribu Masjid: Studi Kerukunan Antar etnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen, Cakranegra, Lombok Barat. Oleh Meri Yuliani, Dr. I Wayan Mudana, M.Si, Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha E-mail:Meriyuliani123@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kehidupan masyarakat Desa Karang Tapen yang bisa hidup rukun berdampingan satu sama lain dalam perbedaan keyakinan; (2) mengetahui strategi etnis Bali dan Sasak di Desa Karang Tapen dalam mempertahankan kerukunan; (3) Aspek - aspek kerukunan antaretnis Bali dan Sasak di desa Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat, yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tahap-tahap; (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (4) teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan yakni (1) bahwa terciptanya kerukunan, karena masing-masing setiap pemeluk agama saling terbuka dan menerima keberadaan dari agama lain. (2) strategi yang digunakan etnis Bali dan Sasak dalam mempertahankan kerukunan di Karang Tapen yaitu: (a) ikatan kekeluargaan, (b) saling menghormati dan menghargai antarumat beragama. (3) Aspek-aspek dari kerukunan antar etnis yang dapat dipakai sebagai sumber belajar sejarah yakni: (a) aspek kognitif, yang meliputi pengetahuan, pemahaman dan penerapan (b) aspek afektif, meliputi menanggapi, menerima atau memperhatikan (c) psikomotorik, pengamatan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Kata Kunci : Kata Kunci :Kerukunan, Etnis Bali dan Sasak, Sumber Belajar Sejarah ABSTRACT This study aims to (1) determine Karang Tapen community life that could live harmoniously alongside one another in a different beliefs; (2) determine the strategy of ethnic Balinese and Sasak village of Karang Tapen in maintaining harmony; (3) aspects - aspects of interethnic harmony in Bali and Sasak village of Karang Tapen, Cakranegara, Lombok Barat, which can be used as a source of learning history. This study used a qualitative descriptive approach to the stages of (1) a technique of determining the location of the research, (2) determination techniques informant, (3), data collection techniques (observation, interviews, document study), (4) data analysis techniques used in this study is the presentation of the data and drawing conclusions. This research has resulted in findings that (1) that the creation of harmony, because each every religion open to each other and accept the existence of other religions. (2) the strategies used ethnic Balinese and Sasak in maintaining harmony in Coral Tapen namely: (a) a familial bond, (b) mutual respect and respect among religions. (3) aspects of harmony between ethnic groups that can be used as a source of learning history namely: (a) cognitive, which includes knowledge, understanding and application (b) the affective aspects, including responding to, accept or pay attention to (c) psychomotor observation learners during the learning process. keyword : Keywords: Harmony, Community Balinese and sasak village, learning history
BIOGRAFI I KETUT WIDJANA (PERJUANGAN, NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH) Purwa Aditya .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .; Ketut Sedana Arta, S.Pd., M.Pd .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v6i3.9604

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Biografi I Ketut Widjana; (2) Perjuangan I Ketut Widjana; (3) Nilai-nilai kepahlawanan dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu: (1) penentuan lokasi penelitian; (2) teknik penentuan informan; (3) teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen dan studi pustaka); (4) teknik penjaminan keabsahan data; (5) teknik analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa I Ketut Widjana adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Pada masa revolusi fisik I Ketut Widjana pernah menjadi pemimpin pasukan Gabungan II di Tabanan. Nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung dari sosok I Ketut Widjana antara lain: (1) nilai patriotisme; (2) nilai rela berkorban; (3) nilai tanpa pamrih; (4) nilai keberanian; (5) nilai kewibawaan; (6) nilai kerjasama; (7) nilai kejujuran; (8) nilai nasionalisme; (9) nilai persatuan dan kesatuan; (10) nilai disiplin; (11) nilai religius. Nilai kepahlawanan I Ketut Widjana sangat cocok dijabarkan pada materi sejarah (1) Perubahan dan perkembangan politik masa awal kemerdekaan; (2) Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda. Penelitian ini masih jauh dari sempurna sehingga masih membutuhkan pendalaman lebih lanjut.Kata Kunci : Kata Kunci: biografi, nilai kepahlawanan, sumber belajar. This study aims to determine (1) Biography I Ketut Widjana; (2) The struggle I Ketut Widjana; (3) The values of heroism and its potential as a source of learning history. This study used a qualitative approach, namely: (1) determining the location of the study; (2) determination techniques informant; (3) data collection techniques (observation, interviews, document studies and literature); (4) techniques guaranteeing the validity of the data; (5) data analysis techniques. The results showed that I Ketut Widjana is the youngest of four siblings. On the physical revolution I Ketut Widjana been a squad leader Combined II in Tabanan. Heroic values embodied by the figure I Ketut Widjana among others: (1) the value of patriotism; (2) the value of self-sacrifice; (3) the value of selfless; (4) the value of courage; (5) the value of authority; (6) the value of cooperation; (7) the value of honesty; (8) the value of nationalism; (9) the value of unity; (10) the value of discipline; (11) a religious value. Value heroism I Ketut Widjana very suitable translated at the historical material (1) changes and political developments early days of independence; (2) The struggle of the Indonesian nation in defending the independence of the threat of Allied and Dutch. This research is still far from perfect so it still requires further exploration.keyword : Keywords: biography, the value of heroism, learning resources.
Prasasti Cempaga sebagai Simbol Pemersatu Masyarakat Cempaga, Bangli, Bali dan Sumber Belajar Sejarah Lokal di SMA Ni Komang Arya Kusuma Dewi .; Dra. Tuty Maryati,M.Pd .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11304

Abstract

Penelitian dilakukan di Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui: (1) Persebaran Penduduk Desa Cempaga Batur Kintamani; (2) Isi Prasasti Cempaga sebagai Simbol Pemersatu Masyarakat Cempaga; dan (3)Nilai-nilai dari Prasasti Cempaga dalam mempersatukan desa Cempaga yang dapat diimplementasikan sebagai sumber belajar sejarah lokal di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan informan, (2) Heuristik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi dokumen), (3) Kritik Sumber, (4) Interpretasi, dan (5) Penulisan Sejarah Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Pakraman Cempaga sudah ada di abad ke XIII. Dalam Prasasti Cempaga dapat ditemukan petunjuk bahwa Desa Cempaga merupakan sebuah desa yang awalnya terletak di Batur, Kintamani karena konflik dengan Tampurhyang kemudian masyarakat desa Cempaga tersebar ke Bangli dan Buleleng. Prasasti Cempaga menyebutkan bahwa Raja Bhatara Sri Mahaguru memberikan perlindungan dan agar masyarakat desa Cempaga kembali membangun desanya, masyarakat Cempaga yang terpisah masih memiliki identitas yang sama dalam bidang adat istiadat, budaya dan masyarakat Cempaga sebagai masyarakat Bali Aga. Prasasti Cempaga dalam mempersatukan desa Cempaga sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal dapat diambil (a) nilai sejarah, (b) nilai persatuan dan kesatuan, dan (b) nilai cinta damai. Diharapkan peneliti lainnya untuk dapat menyempurnakan penelitian iniKata Kunci : Desa Pakraman Cempaga, Prasasti Cempaga This research was conducted in Desa Pakraman Cempaga, Bangli, Bali which aims to know: (1) Spreading of Cempaga Batur Kintamani Village Population; (2) Contents of Cempaga Inscription as a Unifying Symbol of Cempaga Community; And (3) Cempaga inscriptions in unifying Cempaga village as a source of local history learning. This is a historical research, so the steps taken are (1) informant determination technique, (2) data collection heuristics (observation, interview, document study), (3) Source Criticism, (4) Interpretation, and (5) Historiography. Desa Pakraman Cempaga there is already XIII Saka century. Cempaga is a village originally located in Batur, Kintamani then Cempaga village community spread because of attacks by Tampurhyang village. The Cempaga inscription states that King Bhatara Sri Mahaguru gave protection and for people of Cempaga village to rebuild their village, the separate Cempaga community still has the same identity in their place customs, culture and society of Cempaga as a Bali Aga community. Cempaga inscriptions in unifying Cempaga village as a source of local history learning can be taken (1) historical value, (2) the value of unity and unity, and (3) the value of peace love. For other researchers are expected to be able enhance this research.keyword : Desa Pakraman Cempaga, Inscription Cempaga
PURA PAJENENGAN DI DESA PAKRAMAN PANJI, BULELENG, BALI (SEJARAH, STRUKTUR, FUNGSI PURA DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH BERBENTUK RANCANGAN BUKU SUPLEMEN DI SMA) I Made Cita Adnyana .; Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11402

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah terkait dengan tujuan penelitian: (1) Sejarah Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (2) Struktur dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (3) Fungsi dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (4) Potensi dari Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali sebagai sumber belajar yang berbentuk rancangan buku suplemen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang terdiri dari penentuan lokasi, penentuan informan, pengumpulan data (observasi, keabsahan data dan analisis data. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa (1) Berdirinya Pura Pajenengan di Desa Pakraman Panji, Sukasada, Buleleng, Bali yang berawal dari sebuah puri yang lengkap dengan pemerajan dan pemereman raja Buleleng yang beranama Panji Sakti, putra dari Raja Dalem Segening, Gelgel, (2) Struktur Pura Pajenengan ini menggunakan konsep Tri Mandala yang terdiri dari Nista Mandala (Jaba Sisi), Madya Mandala (Jaba Tengah), dan Utama Mandala (Jeroan), (3) Fungsi Pura Pajenengan meliputi Fungsi Religius, Sosial, Budaya, Rekreasi, dan Pendidikan, (4) Potensi dari Pura Pajenengan sebagai sumber sumber belajar sejarah dapat di lihat dari segi Historis dan segi Peninggalan-peninggalan yang nantinya berbentuk sebuah buku sebagai materi tambahan dalam pembelajaran sejarah. Kata Kunci : Sejarah, Pura Pajenengan, Sumber Belajar This research is aimed to solved the problems which is related to the research objectives: (1) the History of the Pajenengan Temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (2) the Structure of Pajenengan temple In the Pakaraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (3) the Function of Pajenengan temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali, (4) the Potential of Pajenengan temple In the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali as a source of learning in form of a draft book supplements. The method used in this research is a qualitative research method that consists of determination of location, determination of informants, data collection (observation, data validity and data analysis. From these results it can be seen that (1) the Establishment of Pajenengan temple in the Pakraman Village of Panji, Sukasada, Buleleng, Bali which originated from a castle that is complete with pemerajan and pemereman of the king of Buleleng named Panji Sakti, the son of King Dalem Segening, Gelgel, (2) the Structure of the Pajenengan temple using the concept of Tri Mandala, which consists of the Nista Mandala (Jaba Sisi), Madya Mandala (Jaba Tengah), and the Utama Mandala (Jeroan), (3) the Function of Pajenengan temple include the functions of Religious, Social, Cultural, Recreational, and Education, (4) the Potential of Pajenengan temple as a source of learning history can be viewed in terms of Historically and in terms of relics which later become a book as additional material in the teaching of history.keyword : History, Pura Pajenengan, Learning Resources
PURA AGUNG DALEM DIMADE DI DESA GULIANG, BANGLI, BALI (POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL DI SMA) Ni Luh Sulandari .; Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum .; Drs. I Made Pageh,M.Hum. .
Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 7 No. 3 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v7i3.11405

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Pakraman Guliang Kangin, Bangli, Bali yang bertujuan untuk mengetahui : (1) Guliang dijadikan sebagai Pengasingan dan Sejarah berdirinya Pura Agung Dalem Dimade di Desa Pakraman Guliang Kangin; (2) Pura Agung Dalem Dimade sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan; dan (3) Potensi sebagai sumber pembelajaran sejarah Lokal. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) Heuristik (pengumpulan data) dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pencarian informan ditentukan dengan cara Snowball sampling. Penentuan informan diawali dengan menentukan informan kunci, kemudian dikembangkan sampai data lengkap. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) Pura Agung Dalem Dimade berdiri pada tahun 1665 (pada abad ke-17), sejarah berdirinya Pura ini dilatarbelakangi pada saat Ida Dalem kesah ke Desa Guliang, karena terjadinya pemberontakan di Gelgel, sehingga beliau diasingkan ke Desa Guliang, disana beliau membangun Puri serta Merajan untuk memuja para leluhurnya di pengasingan, setelah beliau wafat Puri dan Merajannya dijadikan Pura oleh masyarakat Desa Guliang. (2) Pura Agung Dalem Dimade kini dijadikan sebagai Pemujaan Dinasti Kepakisan di Bali yang piodalannya diperingati 210 hari atau pada hari Anggar Kasih Prangbakat. (3) Potensi yang ada di Pura Agung Dalem Dimade yang bisa dijadikan sebagai sumber belajar sejarah adalah dari aspek sejarah, aspek politik, aspek gotong-royong dan kebersamaan.Kata Kunci : Sejarah, Pura Agung Dalem Dimade dan Sumber Belajar Sejarah. This research was conducted in Pakraman Guliang Kangin village, Bangli, Bali which aims to know : (1) Guliang serve as exile and history of the establishment Agung Dalem Dimade temple in the Pakraman Guliang Kangin village; (2) Agung Dalem Dimade temple as worship dynasty of Kepakisan; and (3) Potential as a source of local history learning. This research is a historical research, so the steps that must be done is (1) the technique of determining the location of research, (2) technique for determining informants, (3) Heuristics (data collection) by using observation, interview, study documents, source criticism, interpretation, and historiography. Informant search is determined by snowball sampling. The determination of informant begins with determining key informants, then developed until the complete data. Based on the results of the study found that : (1) the Agung Dalem Dimade temple stood in 1665 (in the 17th century), the history of the founding of this temple was motivated when Ida Dalem moved to the Guliang village, because of the rebellion in the Gelgel, so he was exiled to the Guliang village, there he built “Puri” and “Merajan” to worship his ancestors in exile, after he died the “Puri” and the “Merajannya” was made a temple by the villagers Guliang. (2) the Agung Dalem Dimade temple is used as worship of dynasty Kepakisan in Bali which ceremony commemorated 210 days or on Anggar Kasih Prangbakat day. (3) the potential that exists in the Agung Dalem Dimade temple that can be used as a source of learning history is from aspects of history, political aspects, aspects of mutual cooperation and mutuality. keyword : History, Agung Dalem Dimade temple,and source of learning history.
Co-Authors ., ABDUL GOFAR ., DAFID RAHMAN ., Dania Fakhrunnisa ., Fiani Yulistia ., FIRDAUS RAMADANI ., FITRIYANAH ., I Komang Edi Heliana ., I Made Cita Adnyana ., Ilham Yahya ., Jro Kadek Mudiartha ., Komang Gede Arya Bawa ., M BUSAR ., Meri Yuliani ., Mukti Ali Asyadzili ., NAJI SHOLEH ., Ni Komang Arya Kusuma Dewi ., Ni Luh Sulandari ., NUR MINAH ., Nurus Shobah ., Purwa Aditya ., SHOLEH ABDUL GOFAR . Agus Aan Jiwa Permana Agus Wijaksono Albertus Agas Anak Agung Bagus Wirawan Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anantawikrama Tungga Atmadja Andi Firdausi Hairul Izul Haj Andi Noprizal Sahar Arta, K.S. DAFID RAHMAN . Dania Fakhrunnisa . Desak Made Oka Purnawati Desak Oka Purnawati Dharma Tari, I Dewa Ayu Eka Purba Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Fahrizal Yunus Fathurrahim, Fathurrahim Fiani Yulistia . FIRDAUS RAMADANI . FITRIYANAH . Guntur Hari Marcelliant Hedwi Prihatmoko Heni Nursafitri I Gusti Made Aryana I Kadek Adi Widiastika I Kadek Meiana Adi Putra I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I Ketut Supir I Komang Edi Heliana . I Made Cita Adnyana . I Nengah Suastika I Nyoman Ananta Wasistha I Nyoman Tri Esaputra I Putu Dandy Riartha I Putu Sriartha I Wayan Pardi I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Sumerata I Wayan Surya Eka Saputra I.W.P. Yasa Ida Ayu Gede Megasuari Indria Ida Ayu Made Rai Saraswati Ifandy, M. Rizal Ilham Yahya . Irwan Nur J. Susetyo Edy Yuwono Jro Kadek Mudiartha . K.S. Arta Kencana, Lidya Ketut Sedana Arta Ketut Sedana Artha Komang Gede Arya Bawa . Komang Setemen Krisna Hendro Setiono M BUSAR . M.Si Drs. I Ketut Margi . Meri Yuliani . Mudana, Wayan Muhammad Rivai Mukti Ali Asyadzili . NAJI SHOLEH . Nana Supriatna Ni Ketut Anggriani Ni Ketut Kertiasih Ni Komang Arya Kusuma Dewi . Ni Luh Arjani Ni Luh Sulandari . Ni Made, Putri Oktadewi Ni Putu Desi Wulandari Ni Putu Satya Oka Dewi Ninik styowati, Eva kurnia NUR MINAH . Nur, Irwan Nursafitri, Heni Nurus Shobah . Pracasitaram, I Gede Made Surya Bumi Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Purnawati, Desak Oka Purwa Aditya . Putu Abda Ursula Putu Adi Sanjaya Putu Sukardja Putu, Putu Intan Novitalia R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa Riza Rizki Sukmarini salman, jorghia Saputra Wahyu Wijaya Saraswati, Ida Ayu Made Rai Selamat, I Ketut Seruni, Yuri Sekar SHOLEH . Sindu, I Gede Partha Sriartah, Putu Sumartika, I Wayan Sutiarsana, Putu Rian Syamsiar, Syamsiar Wayan Mudana Wayan Sugiartha Wijaya, I Gede Saputra Wahyu Wirawan, I Gusti Made Arya Suta Yasa, I.W.P. Yunus, Fahrizal Yuri Sekar Seruni