Claim Missing Document
Check
Articles

Dari Petani Ke Pengrajin: Industri Aksesoris Dalam Pakaian Adat Bali Tahun 1990-2024 Di Desa Undisan Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali, Dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah Di SMA Ni Putu Satya Oka Dewi; I Made Pageh; Desak Made Oka Purnawati
Widya Winayata : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 13 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjps.v13i3.100678

Abstract

Penelitian ini mengkaji sejarah dan perkembangan industri aksesoris busana tradisional Bali di Desa Undisan Kelod, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, dari tahun 1990 hingga 2024, dan potensinya sebagai sumber belajar sejarah untuk pendidikan sekolah menengah atas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan asal usul industri, (2) menganalisis dinamika perkembangan produk, dan (3) mengidentifikasi aspek-aspek yang relevan untuk tujuan pendidikan. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah termasuk heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Temuan utama mengungkapkan bahwa: (1) Kemunculan industri dipengaruhi oleh empat faktor produksi: sumber daya manusia, bahan baku, modal, dan peralatan; (2) Perkembangannya terjadi dalam dua periode yang berbeda - fase tradisional (1990-2010) dan fase inovatif (2010-2024) - ditandai dengan diversifikasi produk, evolusi sistem pemasaran, dan adaptasi terhadap tren pasar termasuk penggabungan emas asli; (3) Selain manfaat ekonomi, industri ini berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya. Dimensi sejarah, budaya, dan ekonomi menunjukkan relevansi yang kuat sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal, khususnya untuk metodologi penelitian sejarah dalam kurikulum sekolah menengah. Studi ini berkontribusi pada kajian sejarah dan menyediakan kerangka kerja untuk mengembangkan bahan pembelajaran kontekstual dalam pendidikan sejarah. Kata Kunci : Industri Aksesoris, Pakaian Adat Bali, Sumber Belajar Sejarah, Undisan Kelod
PERKAWINAN NYENTANA DALAM PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL DI DESA MUNDEH, KECAMATAN SELEMADEG BARAT, TABANAN DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER BELAJAR SOSIOLOGI DI SMA Kencana, Lidya; Pageh, I Made; Nur, Irwan
Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpsu.v7i2.101072

Abstract

Perkawinan Nyentana merupakan praktik perkawinan unik di Bali yang bertolak belakang dengan sistem patrilineal dominan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan perkawinan Nyentana di Desa Mundeh, konflik internal yang ditimbulkan, serta potensi fenomena ini sebagai sumber belajar sosiologi di SMA. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan Nyentana di Desa Mundeh masih tetap dilaksanakan karena alasan keberlanjutan garis keturunan, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki anak laki-laki. Konflik yang timbul lebih banyak bersifat sosial dan kultural seperti pengakuan status gender dan hak waris. Namun demikian, nilai-nilai sosial, tanggung jawab, dan solidaritas dalam keluarga justru semakin diperkuat. Berdasarkan teori konflik Lewis A. Coser, konflik-konflik ini dapat bersifat fungsional dan memperkuat ikatan sosial. Fenomena ini juga memiliki potensi besar sebagai sumber belajar sosiologi karena mencerminkan dinamika nilai, norma, dan struktur sosial dalam masyarakat lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyentana masih eksis meskipun mengalami tantangan sosial dan kultural seperti konflik hak waris, tekanan sosial, dan perubahan status gender. Konflik tersebut dapat diminimalkan melalui komunikasi keluarga, kesepakatan adat, serta peran aktif tokoh masyarakat. Aspek tradisi, konflik, dan integrasi sosial dalam perkawinan Nyentana dapat dijadikan sebagai sumber belajar kontekstual dalam pembelajaran sosiologi di SMA.
Periode Akhir Revolusi Fisik di Bali, 1946-1949 Arta, Ketut Sedana; Yasa, I Wayan Putra; Pageh, I Made; Pardi, I Wayan
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v8i1.22326

Abstract

This research aims to investigate Puputan Margarana and its impact on the physical revolution in Bali, both from a military and psychological perspective, and then to gain a clearer understanding of the tactics and strategies of resistance in Bali following the Puputan Margarana. This study employs historical methods encompassing heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The research findings indicate that the impact of Puputan Margarana resulted in psychological turmoil for the fighters in the Buleleng region, leading to sadness and a profound sense of loss due to the fall of Ngurah Rai and his staff. The post-Puputan Margarana physical revolution in Bali witnessed the reorganization of MBU-DPRI and the emergence of MBI, along with various persuasive actions to implement the minimum Banyuning program, the infiltration of DPRI's influence into government organs, and acts of violence against those openly supportive of NICA. With the achievement of the Renville Agreement in 1948, the shift in resistance in Buleleng came to be known as the "penurunan" (covert withdrawal) and "penyerahan" (official surrender), as orchestrated by Wijakusuma and the core leaders of MBU-DPRI.
Marjinalisasi Seni Prasi: Genealogi Seni Lukis Wayang Bali di Daun Lontar I Ketut Supir; I Made Pageh
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 3 (2025): September
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i3.28878

Abstract

The marginalization of prasi art as a fine art and craft art on palm leaves which is one of Bali's world cultural heritages is fading and losing its taksu, is very interesting to study. Prasi generally contains a narrative puppet theme that contains a moral message in Hinduism teachings. Traces of prasi art have developed since the ancient Balinese era and as a genealogy of Balinese puppet painting. In accordance with the development of the era in this universal era, its existence is marginalized, it is important to understand several causal factors. The study is packaged in the concept of power relation theory (Foucaultian) and postmodern aesthetic theory, as an eclectic analysis tool to answer the problem that there is a power relation at play behind the marginalization of prasi art. The results obtained are that behind the marginalization of prasi art: there is a power relation and ideology of modern art that plays behind the fading taksu prasi and the ideology of pemrasi. Fabrication of prasi artwork (capitalist ideology) to follow consumers in the pemrasi, as a result the theme of the moral message of the puppet in the form of a puppet narrative is changed into a single figure actor in everyday life, so that there is a stripping of the character and charm of the prasi art. Added to the condition of the transfer of generations of prasi art does not occur, ideologically, the formal education policy of the Balinese government does not accommodate it in the local curriculum at all levels of education, as a result of the appreciation of the community and government, the art of prasi is not known to the community and the younger generation has no interest in studying the art of prasi. In fact, foreign visitors are very impressed with the art of prasi which is very unique and the subtle way of working on palm leaves. Some pemrasi in tourism centers (Tenganan Pegringsingan) for example, to meet consumer tastes, there is commodification and fabrication by the prasi craftsman so that the art of prasi loses its identity. As a result of changing the theme of the puppet (narrative) into a single figure by presenting objects of everyday life, becoming calendar souvenirs, and interpreting the needs of tourists themselves, even though schooler tourists are looking for authentic prasi. The ideology of moneytheism, the government and society's neglect of the art of prasi has resulted in the world heritage of prasi art losing its charm, prestige, and the function and meaning of its authenticity, as a character builder of the Balinese people.
Rekonfigurasi Peran Gender dalam Keluarga Fatherless: Tanggung Jawab Ganda Ibu dalam Ekonomi, Pengambilan Keputusan, dan Pendidikan Anak dalam Perspektif Sosio-Antropologi Agustinasari, Agustinasari; Ni Komang Dwi Eka Yuliati; I Putu Sriartha; Wayan Mudana; I Made Pageh
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3913

Abstract

Artikel ini menganalisis rekonfigurasi peran gender dalam keluarga fatherless dengan menyoroti tanggung jawab ganda ibu pada tiga ranah utama: penyediaan ekonomi, pengambilan keputusan, dan pendidikan anak, dalam perspektif sosiologi keluarga dan antropologi kekerabatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur terhadap 9 artikel ilmiah yang dipilih melalui penelusuran sistematis di Google Scholar, dengan kriteria membahas keluarga tanpa ayah dan relasi gender pada ranah ekonomi, keputusan, dan pengasuhan dalam lima tahun terakhir. Analisis isi dan sintesis tematik menunjukkan bahwa absennya ayah mendorong ibu menggabungkan fungsi instrumental sebagai pencari nafkah dan fungsi ekspresif sebagai pengasuh utama, sementara keluarga besar berperan sebagai safety net dan pengasuh pengganti melalui dukungan ekonomi, pengawasan, dan pendidikan karakter anak. Pergeseran ini mengakibatkan ketidakseimbangan disiplin dan dukungan emosional di tingkat keluarga, tetapi sekaligus melahirkan pola keluarga yang lebih berpusat pada ibu serta mekanisme ekonomi moral kekerabatan yang menopang keberlangsungan rumah tangga. Kajian ini menegaskan bahwa keluarga fatherless tidak hanya memproduksi risiko, tetapi juga menunjukkan daya tahan melalui dukungan kekerabatan dan komunitas.
Double Fatherless: Bias Gender Tak-Sadar, Kelangkaan Guru Laki-laki di TK, dan Keadilan Sosial Dalam Pendidikan Indonesia Yuliati, Ni Komang Dwi Eka; Sriartha, I Putu; Mudana, Wayan; Pageh, I Made
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 10, No 1 (2026): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v10i1.9894

Abstract

This study analyzes the phenomenon of "double fatherless" as a manifestation of unconscious gender bias in the Indonesian education system, focusing on the absence of male figures in both family and school contexts. Through literature review, analysis of training documents (INOVASI), and examination of empirical cases, the research identifies that unconscious bias against men results in stigmatization of male teachers in early childhood education while simultaneously creating a double burden for women who bear both domestic and public roles. This study connects this global phenomenon to local Indonesian context, particularly the nyentana practice in Tabanan Bali which displays gender ambivalence: strengthening women's position as heirs while multiplying their social responsibilities. Using frameworks of relational justice (Nancy Fraser and John Rawls) and critical education theory (Paulo Freire, John Dewey), the research proposes a reorientation of education that accommodates not only gender equality in a narrow sense, but also recognition of male vulnerability and complexity of gender relations in multiethnic Indonesian contexts. Research findings indicate the need for teacher training based on critical awareness of symmetrical gender bias, gender-sensitive curriculum accommodating non-mainstream families, and inclusive policies that position men in caregiving roles without stigma. Practical implications include redesigned teacher training, reform of recruitment policies, research on student resilience in gender-responsive family and school contexts, and important implications for early grade reading literacy development.
Best Practices for Learning Based on Ecological Traditions and Local Culture of the Lambitu Community in Bima Regency Fauzi, Azra; Otta, Gracia M. N.; Sriartha, I Putu; Mudana, Wayan; Pageh, I Made
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 10, No 1 (2026): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v10i1.9959

Abstract

This study aims to formulate learning Best Practices based on the ecological traditions and local culture of the Lambitu community by integrating the values of Tri Hita Karana (THK). Employing a qualitative descriptive approach, data were collected through participatory observation, in-depth interviews with cultural leaders, local artisans, and educators, as well as documentation of cultural artifacts and ecological practices. The findings reveal a strong alignment between Lambitu’s cultural traditions and the three dimensions of THK—Parahyangan, Pawongan, and Palemahan—providing a pedagogical foundation for contextual and character-based learning. Five Best Practices were identified: Uma Lengge–based Eco–Ethno Learning, the “Adopt a Sacred Spring” conservation program, the Tembe Nggoli Character Project, the Eco–Craft Pandan Project, and the Mbolo Weki Education Forum. The study concludes that learning rooted in local culture supports holistic education that reflects harmonious relationships between humans, nature, and spirituality as conceptualized in THK values.
Pendidikan Holistik sebagai Sintesis Multidisipliner yang Komprehensif bagi Pembentukan Manusia Masyarakat Bima Yamin, Muhammad; Hignasari, L. Virginayoga; Sriartha, I Putu; Pageh, I Made
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 12 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Desember 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i12.5410

Abstract

This study aims to examine holistic education as a multidisciplinary approach with strong potential for human development within the Bima community. Holistic education is conceptualized as an educational paradigm that integrates cognitive, affective, psychomotor, moral, social, spiritual, and ecological dimensions in a balanced and interconnected manner. In the context of Bima society, this approach is particularly relevant because it aligns with local philosophical values such as Maja Labo Dahu and Ngaha Aina Ngoho, which emphasize integrity, ethical conduct, diligence, social responsibility, and environmental stewardship. The research employs a descriptive qualitative method through an extensive literature review and phenomenological analysis of educational practices in Bima. The findings indicate that holistic education functions as a multidisciplinary synthesis, drawing upon pedagogy, anthropology, developmental psychology, sociology, and ecopedagogy to support comprehensive human formation. The integration of local wisdom into educational processes has been shown to effectively strengthen character education and ecological awareness, enabling learners to develop competitiveness and global readiness without eroding their cultural identity. Furthermore, holistic education provides a strategic framework for responding to contemporary educational challenges, including moral degradation, environmental crises, and the fragmentation of knowledge. By positioning local culture as the core of educational integration, this approach fosters sustainable human development rooted in local values while remaining responsive to global demands. The study concludes that holistic education represents a viable and contextually grounded strategy for advancing sustainable human development in the Bima community in the era of globalization.
Influencer Dan Kapital Perhatian: Tinjauan Literatur Mengenai Keterlihatan Digital Dan Budaya Fleksing Heni Kumalasari; Noor Akhmad; I Putu Sriartha; Wayan Mudana; I Made Pageh
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 3 No. 12 (2025): GJMI - Desember
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v3i12.1961

Abstract

Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu membangun identitas digital, menjadikan perhatian publik sebagai komoditas bernilai tinggi. Penelitian bertujuan menganalisis hubungan antara influencer, ekonomi perhatian, digital visibility, dan budaya flexing dalam membentuk performativitas diri di platform digital. Penelitian menggunakan kajian literatur naratif dan tematik dari 53 artikel tahun 2016 hingga 2025. Proses analisis meliputi identifikasi artikel melalui basis data internasional, seleksi berbasis kriteria inklusi dan eksklusi, serta sintesis tematik untuk menyoroti tema dominan, kerangka teori, dan metode penelitian yang digunakan. Hasil kajian menunjukkan tren peningkatan publikasi sejak tahun 2020, dengan distribusi disiplin ilmu sebagai berikut: 62% komunikasi, 15% sosiologi, 13% psikologi, dan 10% ekonomi digital. Sebagian besar penelitian berasal dari konteks Barat (70%), sedangkan 30% meneliti konteks Global South. Temuan tematik menegaskan bahwa influencer berperan sebagai produsen visibilitas digital; keterlihatan tersebut memunculkan perhatian publik yang dikonversi menjadi nilai ekonomi dan sosial melalui strategi flexing. Fenomena ini menimbulkan ketegangan antara otentisitas diri, ekspektasi sosial, dan logika algoritma, membentuk ekosistem baru dalam kapitalisme digital. Kesimpulan menunjukkan bahwa digital visibility berfungsi sebagai modal sosial dan simbolik yang mempengaruhi status, peluang ekonomi, dan identitas digital individu. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner untuk memahami performativitas digital dan memberikan panduan praktis bagi influencer dan praktisi media sosial dalam manajemen konten, branding personal, serta pengelolaan ekspektasi audiens. Studi ini juga membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai konteks lintas budaya, authenticity paradox, dan dinamika algoritmik.
INTEGRASI LITERASI DIGITAL DALAM KEBIJAKAN ANTI-BULLYING UNTUK PENCEGAHAN CYBERBULLYING DI SEKOLAH: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR) Rudiarta, I Wayan; Adi, Ni Nyoman Serma; Sriartha, I Putu; Mudana, Wayan; Pageh, I Made
Suluh Pendidikan : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Vol 23 No 2 (2025): SULUH PENDIDIKAN : Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan
Publisher : IKIP SARASWATI TABANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46444/suluh-pendidikan.v23i2.873

Abstract

Tindakan bullying sangat marak terjadi pada siswa di Indonesia. Siswa memandang bahwa bullying sebagai sesuatu yang wajar, tanpa memahami sisi dampak yang bisa ditimbulkan kepada para korban. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan Systematic Literature Review (SLR) guna mengeksplorasi terkait integrasi literasi digital ke dalam kebijakan dan strategi sekolah dalam mencegah serta menangani cyberbullying. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review dengan model PRISMA. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel yang akan direview adalah “literasi digital, anti-bullying, kebijakan anti-bullying, sekolah dan Indonesia”. Pencarian awal menemukan 332 paper relevan yang kemudian setelah dilakukan inklusi serta eksklusi dengan model PRISMA ditetapkan 5 artikel yang dianalisis. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa bahwaintegrasi literasi digital dalam kebijakan dan praktik anti-bullying sekolahmerupakan faktor kunci dalam mencegah cyberbullying. Literasi digital berfungsi sebagai mekanismeprotektif yang membentuk perilaku etis, meningkatkan kesadaran risiko, dan memperkuat budaya digital yang aman di sekolah. Efektivitas kebijakan sangat ditentukan oleh kolaborasi antar-pihak (stakeholder Pendidikan), yaitu guru sebagai fasilitator utama, siswa sebagai agen perubahan sosial, dan keluarga sebagai pengawas digital di rumah. Sebagai upaya implementasi maksimal, perlu juga dilakukan strategi intervensi, adapaun intervensi yang diterapkan, mulai dari edukasi digital, kampanye anti-perundungan, dan penguatan regulasi.
Co-Authors ., ABDUL GOFAR ., DAFID RAHMAN ., Dania Fakhrunnisa ., Fiani Yulistia ., FIRDAUS RAMADANI ., FITRIYANAH ., I Komang Edi Heliana ., I Made Cita Adnyana ., Ilham Yahya ., Jro Kadek Mudiartha ., Komang Gede Arya Bawa ., M BUSAR ., Meri Yuliani ., Mukti Ali Asyadzili ., NAJI SHOLEH ., Ni Komang Arya Kusuma Dewi ., Ni Luh Sulandari ., NUR MINAH ., Nurus Shobah ., Purwa Aditya ., SHOLEH ABDUL GOFAR . Adi, Ni Nyoman Serma Agus Aan Jiwa Permana Agus Wijaksono Agustinasari Agustinasari Albertus Agas Anak Agung Bagus Wirawan Anak Agung Ngurah Anom Kumbara Anantawikrama Tungga Atmadja Andi Firdausi Hairul Izul Haj Andi Noprizal Sahar Arta, K.S. Azra Fauzi DAFID RAHMAN . Dania Fakhrunnisa . Desak Made Oka Purnawati Desak Oka Purnawati Dharma Tari, I Dewa Ayu Eka Purba Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Dra. Luh Putu Sendratari,M.Hum . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Fahrizal Yunus Fathurrahim, Fathurrahim Fiani Yulistia . FIRDAUS RAMADANI . FITRIYANAH . Gracia M. N. Otta Guntur Hari Marcelliant Hedwi Prihatmoko Heni Kumalasari Heni Nursafitri Hignasari, L. Virginayoga I Gusti Made Aryana I Kadek Adi Widiastika I Kadek Meiana Adi Putra I Ketut Ardhana Ardhana, I Ketut Ardhana I Ketut Supir I Komang Edi Heliana . I Made Cita Adnyana . I Nengah Suastika I Nyoman Ananta Wasistha I Nyoman Tri Esaputra I Putu Dandy Riartha I Putu Sriartha I Wayan Pardi I Wayan Pardi I Wayan Putra Yasa I Wayan Rudiarta I Wayan Sumerata I Wayan Surya Eka Saputra I.W.P. Yasa Ida Ayu Gede Megasuari Indria Ida Ayu Made Rai Saraswati Ifandy, M. Rizal Ilham Yahya . Irwan Nur J. Susetyo Edy Yuwono Jro Kadek Mudiartha . K.S. Arta Kencana, Lidya Ketut Sedana Arta Ketut Sedana Artha Komang Gede Arya Bawa . Komang Setemen Krisna Hendro Setiono M BUSAR . M.Si Drs. I Ketut Margi . Meri Yuliani . Mudana, Wayan Muhammad Rivai Muhammad Yamin Mukti Ali Asyadzili . NAJI SHOLEH . Nana Supriatna Ni Ketut Anggriani Ni Ketut Kertiasih Ni Komang Arya Kusuma Dewi . Ni Komang Dwi Eka Yuliati Ni Luh Arjani Ni Luh Sulandari . Ni Made, Putri Oktadewi Ni Putu Desi Wulandari Ni Putu Satya Oka Dewi Ninik styowati, Eva kurnia Noor Akhmad NUR MINAH . Nur, Irwan Nursafitri, Heni Nurus Shobah . Pracasitaram, I Gede Made Surya Bumi Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA . Purnawati, Desak Oka Purwa Aditya . Putu Abda Ursula Putu Adi Sanjaya Putu Sukardja Putu, Putu Intan Novitalia R. Ahmad Ginanjar Purnawibawa Riza Rizki Sukmarini salman, jorghia Saputra Wahyu Wijaya Saraswati, Ida Ayu Made Rai Selamat, I Ketut Seruni, Yuri Sekar SHOLEH . Sindu, I Gede Partha Sriartah, Putu Sumartika, I Wayan Sutiarsana, Putu Rian Syamsiar, Syamsiar Wayan Mudana Wayan Sugiartha Wijaya, I Gede Saputra Wahyu Wirawan, I Gusti Made Arya Suta Yasa, I.W.P. Yuliati, Ni Komang Dwi Eka Yunus, Fahrizal Yuri Sekar Seruni