Claim Missing Document
Check
Articles

Marketing Public Relations dalam Mempopulerkan Seni Modern dan Kontemporer di Museum Emerald, Serena; Paramita, Sinta
Prologia Vol. 8 No. 1 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i1.27575

Abstract

The tourism industry is a growing economic sector worldwide. Art museums are one of the tourism attractions in Indonesia. Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN) is the first museum in Indonesia to display a collection of modern art from Indonesia and around the world. Modern and contemporary art is still relatively new for the Indonesian public. This poses as a challenge for Museum MACAN to introduce itself and communicate modern and contemporary art to the public. As the industrial landscape evolves and competition becomes fiercer the fields of marketing and public relations are becoming more closely intertwined. Marketing Public Relations is the process of planning and evaluating programs by communicating information and creating a credible impression to attract attention and to connect an organization with the public. This research aims to discuss how Marketing Public Relations is implemented by Museum MACAN in popularizing modern and contemporary art. Through a qualitative approach with a case study method, the result shows that Museum MACAN applies Marketing Public Relations which includes push, pull, and pass strategies to popularize modern and contemporary art.  Industri pariwisata merupakan sektor ekonomi yang terus berkembang di seluruh dunia. Museum seni merupakan salah satu daya tarik pariwisata di Indonesia, salah satunya adalah Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN). Museum MACAN merupakan museum pertama di Indonesia yang menampilkan koleksi seni rupa modern dari Indonesia dan internasional. Seni modern dan kontemporer masih tergolong sebagai hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Museum MACAN untuk memperkenalkan dirinya dan mengkomunikasikan seni modern dan kontemporer ke masyarakat luas. Seiring dengan perkembangan industri dan persaingan yang semakin ketat, dunia pemasaran (marketing) dan hubungan masyarakat (public relations) memiliki keterkaitan yang semakin erat. Marketing Public Relations dipahami sebagai proses perencanaan dan pengevaluasian program dengan cara mengkomunikasikan informasi dan menciptakan kesan kredibel untuk menarik perhatian dan menghubungkan perusahaan dengan publik. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bagaimana Marketing Public Relations yang diterapkan Museum MACAN dalam mempopulerkan seni modern dan kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, hasil penelitian menunjukkan Museum MACAN menerapkan Marketing Public Relations yang mencakup strategi push, pull, dan pass untuk mempopulerkan seni modern dan kontemporer. 
Analisis Strategi Komunikasi Pemasaran dalam Meningkatkan Customer Engagement Produk Kecantikan di TikTok Angelin, Angelin; Paramita, Sinta
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27615

Abstract

The presence of TikTok as one of the most widely used social media platforms has been notable. According to data from datareportal.com, the advertising reach potential on TikTok in Indonesia has increased by 40 million, or 58 percent. Alongside this development is the growing popularity of the beauty industry as one of the largest industries in Indonesia. The beauty industry continues to experience significant growth, driven by emerging beauty trends and increased societal awareness of the importance of personal appearance. This situation places Barenbliss, as a beauty brand, in the position of needing to compete in a highly competitive beauty industry.The focus of this research is to analyze marketing communication strategies to enhance customer engagement on the TikTok account Barenbliss_id. The research method employed is a case study with a qualitative approach. The analysis and findings in this research are constructed from the marketing communication theory through the five elements of the promotional mix: advertising, personal selling, public relations, sales promotion, and direct marketing. The results of this research highlight the aspects emphasized in the marketing communication strategy on the Barenbliss TikTok account in enhancing implemented customer engagement. The conclusion drawn is that Barenbliss utilizes a promotion mix in the process of enhancing customer engagement on its TikTok account. Hadirnya tiktok sebagai salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan masyarakat. Dilansir dari datareportal.com, potensi jangkauan iklan di TikTok di Indonesia meningkat sebesar 40 juta atau 58 persen. Seiring perkembangan tersebut, disusul dengan meningkatnya popularitas industri kecantikan sebagai salah industri terbesar di Indonesia. Perkembangan industri kecantikan terus meningkat secara signifikan seiring dengan munculnya tren kecantikan terbaru, dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya penampilan diri. Hal tersebut membuat Barenbliss selaku salah satu brand kecantikan harus mampu bersaing dalam persaingan industri kecantikan yang sangat ketat. Fokus dari penelitian ini adalah menganalisis strategi komunikasi pemasaran dalam meningkatkan customer engagement pada akun TikTok Barenbliss_id. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Analisis dan kajian dalam penelitian ini dikonstruksi dari teori komunikasi pemasaran melalui lima elemen bauran promosi yaitu periklanan, penjualan pribadi, hubungan masyarakat, promosi penjualan, dan pemasaran langsung. Hasil dari penelitian ini menunjukan aspek-aspek yang ditonjolkan dari strategi komunikasi pemasaran pada akun TikTok Barenbliss dalam meningkatkan customer engagement yang diimplementasikannya. Didapatkan kesimpulan bahwa Barenbliss mengimplementasikan promotion mix dalam proses meningkatkan customer engagement pada akun tiktoknya.
Pengaruh Brand Trust dan Brand Awareness terhadap Keputusan Pembelian Produk Kecantikan Harifin, Michelle Gracella; Paramita, Sinta
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27641

Abstract

The cosmetics industry in Indonesia is growing rapidly, but behind this success, the local beauty industry also faces a number of challenges that should not be ignored. A clear example of this challenge can be seen in the case of the quality of one of Looke Cosmetics' products, which received negative attention from consumers on social media. The purpose of this study is to understand and determine the extent to which brand trust and brand awareness influence the purchase decision of the Looke Cosmetics brand. A quantitative approach was used in this study with data collection techniques using a questionnaire with 100 respondents. The data was analyzed using multiple linear analysis methods, coefficient of determination, t-test and f-test. The results of regression analysis show that both have a positive contribution to purchase decisions, where brand awareness has a greater impact than brand trust, expressed in the regression model Y = 8.286 + 0.189X1 + 0.401X2. The results also showed that brand trust and brand awareness together have an influence of 45.9% on the purchase decision of Looke Cosmetics products, while the remaining 54.1% comes from other components. This confirms that both variables have a significant impact on purchase decisions. Industri kosmetik di Indonesia sedang berkembang pesat, namun dibalik kesuksesan tersebut, industri kecantikan lokal juga dihadapkan pada sejumlah tantangan yang tidak boleh diabaikan. Contoh nyata dari tantangan ini dapat ditemukan dalam kasus kualitas salah satu produk Looke Cosmetics yang mendapat sorotan negatif dari para konsumen di media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui sejauh mana brand trust dan brand awareness mempengaruhi keputusan pembelian brand Looke Cosmetics. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner dengan responden sebanyak 100. Analisis data menggunakan metode analisis linear berganda, koefisien determinasi, uji t, dan uji f. Hasil dari analisis regresi menunjukkan bahwa keduanya memberikan kontribusi positif terhadap keputusan pembelian, dimana brand awareness memiliki dampak yang lebih besar daripada brand trust, dinyatakan dalam model regresi Y =  8,286 + 0,189X1 + 0,401X2. Hasil penelitian juga menemukan bahwa brand trust dan brand awareness bersama-sama memberikan pengaruh sebesar 45,9% terhadap keputusan pembelian produk Looke Cosmetics, sedangkan 54,1% sisanya dari komponen lainnya. Hal ini menegaskan bahwa kedua variabel memiliki dampak yang substansial terhadap keputusan pembelian.
Analisis Personal Branding dalam Meningkatkan Brand Awareness di TikTok Kusuma, Vinessa Irene; Paramita, Sinta
Prologia Vol. 8 No. 2 (2024): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v8i2.27658

Abstract

In the era of digitalization, the internet, and social media are not only used for communication but have a big impact in various fields. One of the social media platforms that is currently developing very rapidly is TikTok where users can enjoy and make short videos. Every content creator on social media who wants to create content must have personal branding so that it can adapt to other people's perceptions and build trust with the audience. The purpose of this research is to find out how Erika Richardo's personal branding on Tiktok attracts Brand Awareness By.Painters. The theoretical concepts used are the eight forms of personal branding according to Peter Montoya, namely, specialization, leadership, personality, difference, visibility, unity, steadfastness, and good name. Qualitative research methods were used in this research. Data collection was carried out using observation and interview techniques with 5 research respondents. The research results obtained were that to become a content creator you need to understand the concept of personal branding. From the 8 concepts explained by Peter Montoya, it was found that Erika applied 7 concepts in creating her content. Di era digitalisasi, internet dan media sosial tidak hanya digunakan untuk sebatas berkomunikasi melainkan memiliki dampak besar di berbagai bidang.Salah satu platform media sosial yang saat ini berkembang begitu pesat adalah TikTok dimana penggunanya dapat menikmati dan membuat video singkat. Setiap konten kreator di media sosial yang ingin membuat sebuah konten harus memiliki personal branding agar dapat menyesuaikan persepsi orang lain dan membangun kepercayaan kepada khalayak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Personal Branding Erika Richardo di Tiktok dalam menarik Brand Awareness by.painters. Konsep teori yang digunakan yaitu delapan pembentuk personal branding menurut Peter Montoya yaitu, spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, terlihat, kesatuan, keteguhan, dan nama baik. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Pengambilan data dilakukan menggunakan teknik observasi dan wawancara dengan 5 responden penelitian. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu menjadi seorang konten kreator perlu memahami adanya konsep personal branding dari 8 konsep yang dipaparkan oleh Peter Montoya ditemukan bahwa Erika menerapkan 7 konsep personal branding di dalam pembuatan kontennya.
Pola Komunikasi Orang Tua Etnis Tionghua Medan dalam Mendidik Anak Noviani, Juni; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.15973

Abstract

This study discusses the communication patterns of parents in educating boys and girls in terms of choosing a mate or the position of children in the Chinese Indonesians family. This study uses family communication patterns in interpersonal communication theory. This study uses a qualitative descriptive method with a case study approach. The data were obtained from Chinese Indonesians family or community from Medan, North Sumatera, but they are living in Jakarta, Indonesia. The pattern of communication is seen from the selection of a mate such as the prohibition of marrying people who have the same clan. Boys take precedence over girls. Women occupy the lowest level or position or are lower than men because only boys are able to continue the family clan. Likewise in the case of choosing a mate where boys are free to choose a partner while girls must obey and accept whoever their parents choose. Penelitian ini membahas mengenai seperti apa pola komunikasi orang tua dalam mendidik anak laki-laki maupun perempuan dalam hal pemilihan jodoh atau kedudukan anak dalam keluarga Tionghua. Penelitian ini menggunakan pola komunikasi keluarga dalam teori komunikasi antar pribadi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari narasumber keluarga atau masyarakat Tionghua asal Medan, Sumatera Utara, tetapi menetap di Jakarta, Indonesia. Pola komunikasi dilihat dari pemilihan jodoh seperti larangan menikah dengan orang yang memiliki marga yang sama. Anak laki – laki lebih didahulukan atau diutamakan daripada anak perempuan. Perempuan menduduki tingkatan atau posisi terendah atau lebih rendah dari laki-laki karena hanya anak laki-laki yang mampu meneruskan marga keluarga. Begitupula dalam hal pemilihan jodoh di mana anak laki-laki bebas memilih pasangan sedangkan anak perempuan harus taat dan menerima siapapun jodoh yang menjadi pilihan orang tuanya.
Makna Festival Dongzhi bagi Generasi Z Tionghoa di SMA Ananda Bekasi Putri, Mahesika Yolindri; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21274

Abstract

There are numerous festivals celebrated annually in Chinese culture. One of the most well-known festivities is Dongzhi Festival, which is held at the end of each year. However, in the age of globalization, Chinese people believe that their culture is no longer relevant to the situation. Likewise with Chinese Z generation (born 1995–2010), which prefers foreign cultures since they are viewed as modern culture. This research attempts to discover and explain the meaning of the Dongzhi festival for the Chinese Z generation at Bekasi. The research used descriptive qualitative method, with Chinese Z generation in Bekasi served as the research subject, and the Dongzhi festival served as the research's object. According to the findings of the research, the Dongzhi festival for Chinese Z generation does not have special meaning because this festival simply an ancient tradition that has been passed down from generation to generation with support from people around them. Even this Chinese Z Generation will leave the Dongzhi Festival when they must live apart from their parents and family. Kebudayaan Tionghoa memiliki beragam perayaan yang dirayakan setiap tahunnya. Salah satu perayaan yang terkenal adalah Festival Dongzhi, yang dirayakan setiap akhir tahun. Namun di era globalisasi ini, masyrakat Tionghoa beranggapan bahwa budaya yang dimiliki tidak lagi sesuai dengan keadaan saat ini. Begitu juga dengan generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010) yang lebih menyukai kebudayaan asing karena dianggap lebih kekinian. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan makna festival Dongzhi bagi generasi Z Tionghoa di Bekasi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada generasi Z Tionghoa di Bekasi sebagai subjek penelitian dan festival Dongzhi sebagai objek penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa makna festival Dongzhi bagi generasi Z Tionghoa tidak memiliki makna khusus karena perayaan ini hanya sebuah budaya lama yang dilakukan secara turun-temurun karena adanya dorongan dari orang-orang sekitar. Bahkan para generasi Z ini akan meninggalkan festival Dongzhiketika harus tinggal terpisah dengan orang tua dan keluarga.
Digital Personal Branding dalam Membentuk Kredibilitas Content Creator Yovelin, Very; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21330

Abstract

This research will explore digital personal branding through the social media Instagram @verencialaw. Verencia Law is a fashion, beauty, lifestyle content creator from Tangerang, Indonesia and has more than 70,000 followers. The author wants to explore Verencia Law's digital personal branding and credibility on Instagram. The theory used is Peter Montoya's theory regarding the 8 laws of personal branding and the theory of source credibility. Qualitative research approach, netnographic research method, the research subject is content creator Verencia Law and the research object is digital personal branding on the Instagram account @verencialaw. Methods of data collection using observation, documentation, online data review, and literature studies. Data analysis techniques are data reduction, presentation, and conclusion drawing, and the validity of the data is done by triangulation. The results of this study suggest that Verencia Law fulfills the eight personal branding concepts and fulfills the three components of source credibility. In addition, these two theories are still relevant to use in building digital personal branding and credibility. Penelitian ini akan mengeksplorasi digital personal branding akun media sosial Instagram @verencialaw. Verencia Law merupakan content creator fashion, beauty, lifestyle asal Tangerang, Indonesia, dan memiliki pengikut melebihi 70.000 orang. Penulis ingin mengulik digital personal branding dan kredibilitas Verencia Law di Instagram. Teori yang digunakan adalah teori Peter Montoya mengenai delapan hukum personal branding dan teori kredibilitas sumber. Pendekatan penelitian kualitatif,metode penelitian etnografi, subjek penelitian yaitu content creator Verencia Law dan objek penelitian adalah digital personal branding pada akun Instagram @verencialaw. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi, tinjauan data online, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data adalah reduksi, penyajian, dan penarik kesimpulan data, serta keabsahan data melalui triangulasi. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa Verencia Law memenuhi delapan konsep personal branding dan memenuhi tiga komponen kredibilitas sumber. Selain itu, kedua teori tersebut masih relevan digunakan dalam membentuk digital personal branding dan kredibilitas.
Hashtag dan Kata Kunci di Media Sosial Seputar Fenomena Citayam Fashion Week Yohana, Yohana; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21616

Abstract

Social media online communities are built because of similarities and connectedness. This is also the case with the social phenomenon Citayam Fashion Week, which is popular in Jakarta in 2022. Researchers are interested in the digital communication and virtual opinions that occur through hashtags and keywords in a social phenomenon. The researcher used a qualitative approach with the netnography method. Statistical data was obtained through analyse.io and screenshots of video content on TikTok social media. The results showed that the spread of information about a phenomenon was fast and comprehensive due to the participation of social media users. Communication-related to Citayam Fashion Week involves users as communicators and communicants through open spaces of expression and participation in the TikTok application. The role of hashtags and keywords here also enhances the communication activities to reach a wider audience. Komunitas online media sosial dibangun karena adanya kesamaan dan keterhubungan. Hal ini terjadi pula pada fenomena sosial, Citayam Fashion Week, yang popular di Jakarta pada tahun 2022. Peneliti tertarik untuk mengetahui komunikasi digital dan opini virtual yang terjadi melalui hashtag dan kata kunci dalam sebuah fenomena sosial. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi. Data statistik diperoleh melalui analisa.io dan tangkapan layar konten video di media sosial TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  penyebaran informasi mengenai suatu fenomena begitu cepat dan luas karena partisipasi pengguna media sosial. Komunikasi terkait Citayem Fashion Week berlangsung dengan melibatkan pengguna sebagai komunikator maupun komunikan melalui ruang berekspresi dan partisipasi yang terbuka pada aplikasi TikTok. Peran hashtag dan kata kunci disini turut menyempurnakan kegiatan komunikasi yang berlangsung untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Digital Personal Branding Konten Kreator Penyiar Melalui TikTok Djeke, Stella Clarissa; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.21632

Abstract

Social media is a place for the personal branding of internet users. In Indonesia, TikTok is the social media that ranks 2nd with the largest number of users. This is because this social media features audiovisual content accompanied by interesting features. Raye Shabrina is a private radio broadcaster in Jakarta who actively creates content on the TikTok platform. Initially, she uploaded content in the form of duets with foreign broadcasters. The content evolved into broadcast and public speaking exercises. By using the netnography method that utilises data through social media, the researcher intends to find out how Rayes Shabrina builds a positive image through her TikTok account @rayeshabrina. The application of the concept of The Eight Laws of Personal Branding by Peter Montoya (2004) is a reference in finding out the relevance between the concept and the content uploaded by Raye Shabrina. Data collection was carried out by pulling data through the Analisa.io website, supported by interviews, observation, and documentation. This research shows that as a broadcaster, the interviewee succeeded in doing digital personal branding by presenting the image of an educative broadcaster in a cheerful and enthusiastic manner and being consistent in creating content. Media sosial merupakan wadah personal branding para pengguna internet. Di Indonesia, TikTok merupakan media sosial yang menempati urutan ke-2 dengan pengguna terbesar. Hal ini karena media sosial ini menampilkan konten audiovisual disertai dengan fitur menarik. Raye Shabrina merupakan penyiar radio swasta di Jakarta yang aktif membuat konten pada platform TikTok. Awalnya, konten yang diunggah berupa duet dirinya dengan penyiar luar negeri. Konten berkembang menjadi latihan siaran dan public speaking. Dengan menggunakan metode netnografi yang memanfaatkan data melalui media sosial, peneliti bermaksud mencari tahu bagaimana Rayes Shabrina membangun citra positif melalui akun TikTok @rayeshabrina. Penerapan konsep The Eight Laws of Personal Branding oleh Peter Montoya (2004) menjadi acuan dalam mencari tahu relevansi antara konsep tersebut dengan konten yang di unggah Raye Shabrina. Pengumpulan data dilakukan dengan menarik data melalui website Analisa.io didukung dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagai seorang penyiar, narasumber berhasil melakukan digital personal branding dengan menampilkan citra seorang penyiar edukatif dengan pembawaan yang ceria dan semangat serta konsisten dalam membuat konten.
Penetrasi Sosial Generasi Muda Melalui Aplikasi Kencan Online Teguh, Fiola; Paramita, Sinta
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27439

Abstract

This research discusses the phenomenon of social penetration in the context of online dating apps with a focus on the younger generation of Coffee Meets Bagel users. As one of the online dating apps, Coffee Meets Bagel provides a new alternative to finding and establishing romantic relationships by utilizing features such as searches based on preferences, interests, and location. Statistics show a significant increase in online dating app users, especially in Indonesia, with Coffee Meets Bagel as an app that emphasizes quality over quantity. In this context, social penetration is an interesting aspect to research, given its influence on the stages of the communication process in online dating apps. This research asks the main question, namely, how the process of social penetration stages among the younger generation establishes relationships through the Coffee Meets Bagel online dating application. This research is based on the Social Penetration Theory using the phenomenological method through a qualitative approach. The results of this study focus on the four stages of social penetration, according to Taylor and Altman. Through these four stages, the process of stages in a relationship that starts from online dating can be clearly described, both from the process of self-disclosure to the obstacles experienced. Penelitian ini membahas fenomena penetrasi sosial dalam konteks aplikasi kencan daring dengan fokus pada generasi muda pengguna Coffee Meets Bagel. Sebagai salah satu aplikasi kencan online, Coffee Meets Bagel memberikan alternatif baru dalam menemukan dan menjalin hubungan asmara dengan memanfaatkan fitur-fitur seperti pencarian berdasarkan preferensi, minat, dan lokasi. Statistik menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pengguna aplikasi kencan online, khususnya di Indonesia, dengan Coffee Meets Bagel sebagai aplikasi yang mengedepankan kualitas daripada kuantitas. Dalam konteks ini, penetrasi sosial menjadi aspek yang menarik untuk diteliti, mengingat pengaruhnya terhadap tahapan proses komunikasi dalam aplikasi kencan online. Penelitian ini mengajukan pertanyaan utama, yaitu bagaimana proses tahapan penetrasi sosial di kalangan generasi muda dalam menjalin hubungan melalui aplikasi kencan online Coffee Meets Bagel. Penelitian ini berlandaskan pada Teori Penetrasi Sosial dengan menggunakan metode fenomenologi melalui pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini berfokus pada empat tahapan penetrasi sosial menurut Taylor dan Altman. Melalui keempat tahapan tersebut, proses tahapan dalam sebuah hubungan yang berawal dari kencan daring dapat digambarkan dengan jelas, baik dari proses pengungkapan diri hingga hambatan yang dialami.