Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PERSEPSI IBU HAMIL TERHADAP KONSUMSI DADIH SEBAGAI PANGAN PROBIOTIK TRADISIONAL: STUDI KUALITATIF Nur Israyati; Sandy Setiawati; Berliana Irianti
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 11 No. 2 (2023): Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v11i2.4117

Abstract

Dadih merupakan susu kerbau fermentasi tradisional khas Minangkabau yang kaya bakteri asam laktat (BAL) dan berpotensi sebagai pangan probiotik lokal. Tinjauan terbaru menunjukkan bahwa dadih didominasi oleh BAL dan khamir, dengan berbagai sifat fungsional: antimikroba, hipokolesterolemik, antimutagenik, antioksidan, imunomodulator, serta penghasil γ-aminobutyric acid (GABA) dan folat. Probiotik pada kehamilan semakin banyak diteliti, dinilai relatif aman bila menggunakan strain terstandar, dan berpotensi bermanfaat bagi luaran metabolik dan imun ibu dan bayi. Namun, belum banyak kajian yang mengeksplorasi persepsi ibu hamil terhadap konsumsi dadih sebagai pangan probiotik tradisional, terutama terkait manfaat, risiko, dan keamanan. Mengeksplorasi pandangan bidan dan produsen dadih terhadap konsumsi dadih selama kehamilan. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif. Partisipan meliputi ibu hamil, bidan, dan produsen dadih di salah satu kabupaten di Sumatera Barat dengan tradisi konsumsi dadih yang kuat. Pemilihan partisipan dilakukan secara purposif dan snowball hingga tercapai saturasi data. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, diskusi kelompok terarah (FGD), dan observasi proses produksi dadih. Analisis dilakukan dengan analisis tematik menurut Braun dan Clarke. Hasil penelitian ditemukan bahwa dadih sebagai warisan budaya dan identitas lokal, persepsi manfaat dadih bagi kehamilan banyak didasarkan pada pengalaman turun-temurun, ambivalensi antara keyakinan manfaat dan kekhawatiran keamanan, terkait susu mentah dan higiene produksi dan harapan terhadap dadih “aman untuk ibu hamil” yang terstandar, higienis, dan didukung rekomendasi tenaga kesehatan. Untuk itu Diperlukan standardisasi produksi dadih dan edukasi berbasis bukti oleh tenaga kesehatan, serta penelitian lanjutan untuk mengembangkan produk dadih probiotik yang aman dan teruji bagi ibu hamil.
Integrasi Pengukuran Laktat Dengan Pemantauan Intrapartum Untuk Deteksi Dini Persalinan Lama: Narrative Review Berliana Irianti; Nur Israyati; Sandy Setiawati
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 11 No. 2 (2023): Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v11i2.4134

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh realitas bahwa persalinan lama masih kerap terlambat terdeteksi karena penilaian kemajuan persalinan sangat bergantung pada indikator klinis yang definisinya beragam dan interpretasinya dapat berbeda antar fasilitas, sehingga berisiko memicu intervensi yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bahwa asam laktat efektif dalam menentukan persalinan lama sebagai bentuk deteksi dini, khususnya melalui pengukuran pada air ketuban dan darah. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan Narrative Literature Review (NLR), yaitu menyusun tinjauan pustaka naratif untuk memberikan gambaran luas dan mendalam tentang topik berdasarkan penelitian yang tersedia, dengan pemilihan literatur yang bersifat fleksibel namun tetap relevan terhadap kata kunci persalinan lama, air ketuban, dan asam laktat. Data penelitian berupa temuan-temuan dari literatur yang menggambarkan variasi definisi persalinan lama, karakteristik air ketuban sebagai medium biologis dan klinis intrapartum, serta pola pelaporan laktat sebagai indikator metabolik yang dapat diukur dan dikaitkan dengan progres persalinan maupun luaran persalinan tertentu. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa asam laktat berpotensi efektif sebagai biomarker pendukung untuk menentukan persalinan lama secara lebih dini, terutama ketika diintegrasikan dengan pemantauan kemajuan persalinan, sehingga dapat memperkuat ketepatan pengambilan keputusan intrapartum secara lebih objektif dan kontekstual
Pemeriksaan Haemoglobin (Hb) dengan Metode Point of Care Testing (POCT) Sebagai Deteksi Dini Anemia pada Kehamilan di Praktek Mandiri Bidan (PMB) Winarni, SST Berliana Irianti; Nelly Karlinah; Cecen Suci Hakameri; Nur Israyati; Riza Febrianti; Nur Kamsiah; Della Savitri
Jurnal Medika: Medika Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/pajfx270

Abstract

Kasus defisiensi besi pada ibu hamil merupakan masalah didunia dengan angka kejadian hampir 75 % terjadi pada semua jenis anemia kehamilan. Anemia kehamilan disebut “potential danger to mather and child” (potensial membahayakan ibu dan anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dari pihak yang terkait dalam pelayanan Kesehatan. Anemia dapat berdampak buruk terhadap mortalitas dan morbiditas ibu maupun janin. Hasil dari kehamilan dengan anemia di antaranya intra uterine growth retardation (IUGR), lahir prematur, berat bayi lahir rendah (BBLR), dan peningkatan risiko kematian neonates, meningkatkan risiko pendarahan saat persalinan, preeklamsia, sepsis dan atonia uteri. Deteksi dini melalui diagnosis anemia dapat dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin (Hb) dengan peralatan POCT (Point of Care Testing). Hasil kegiatan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil didapatkan hasil kadar hb pada ibu hamil dengan menggunakan sampel darah. Dari 10 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan Hb didapatkan 6 ibu hamil yang mendapatkan hb dibawah 10 %gr/dl. Ibu hamil disarankan untuk meningkatkan konsumsi makanan bergizi yakni makanan yang banyak mengandung zat besi dan sumber vitamin dan mineral.
Penyuluhan dan Pemeriksaan Antenatal Care Sebagai Upaya Deteksi Dini Tanda-Tanda Bahaya Pada Kehamilan di Praktek Mandiri Bidan Winarni, SST Nelly Karlinah; Berliana Irianti; Cecen Suci Hakameri; Nur Israyati; Riza Febrianti; Amanda Putri Zulianty; Nur Padilla
Jurnal Medika: Medika Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/669pch13

Abstract

Kurangnya deteksi dini mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan dan faktor-faktor resiko pada kehamilan dapat mengakibatkan kurangnya antisipasi yang cepat pada saat kehamilan sampai proses persalinan sehingga sangat beresiko besar terjadinya kematian ibu. Untuk itu dengan adanya penyuluhan mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan. Penyuluhan tanda-tanda bahaya kehamilan ini dilaksanakan di praktek mandiri bidan (PMB) Winarni, SST Kota Pekanbaru, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2022. Hasil dari penyuluhan ini didapatkan meningkatnya pengetahuan ibu hamil tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan
Menstimulasi Tumbuh Kembang Anak Melalui Pelatihan Pijat Bayi Bagi Ibu dan Kader Posyandu Nelly Karlinah; Berliana Irianti; Diandra Dwitavianty; Windy Wdya Asmita
Jurnal Medika: Medika Vol. 2 No. 2 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/hx2bbp83

Abstract

Bayi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik apabila kebutuhan dasarnya terpenuhi, yaitu asah, asih dan asuh. Kebutuhan asah diklaim dengan kebutuhan stimulasi. Pemberian stimulasi perlu diberikan secara dini buat merangsang dan membuat sedini mungkin kemampuan sensorik, emosional bahkan kognitif bayi/anak yaitu menggunakan melakukan pijat bayi. Melalui pemijatan aliran darah akan lancar mengalir keseluruh tubuh, termasuk ke otaknya. Salah satu zat krusial yg dibawa yaitu oksigen. Terpenuhinya oksigen diotak secara relatif menciptakan konsentrasi dan kesiagaan bayi semakin baik. Salah satu manfaat dari pemijatan bayi yaitu merangsang nafsu makan bayi. Dengan dilakukan pemijatan bayi merangsang aktivitas nervus vagus, di mana saraf ini (saraf otak ke-10) yang akan menyebabkan peningkatan kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin, sehingga penyerapan makanan akan lebih baik serta meningkatkan persitaltik usus dan pengosongan lambung meningkat yang dapat merangsang nafsu makan bayi. Tujuan dari PkM ini adalah untuk menstimulasi tumbuh kembang anak melalui pelatihan pijat bayi bagi ibu dan kader posyandu di desa karya indah, Metode pelaksanaan PkM ini ada 3 tahap yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. PkM ini telah dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 2023 di Posyandu desa karya indah. Pelaksanaan PkM ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dan kader posyandu khususnya tentang pijat bayi
Penyuluhan dan Pemeriksaan Triple Elimination Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Menular Pada Ibu Hamil Berliana Irianti; Nelly Karlinah
Jurnal Medika: Medika Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/h3hevf39

Abstract

Ibu hamil merupakan salah satu dari populasi yang berisiko tertular penyakit Human immunodeficiency virus (HIV), Sifilis, dan Hepatitis B pada anak lebih dari 90% tertular dari ibunya. Ketiga infeksi dan penyakit ini dapat menyebabkan morbiditas, disabilitas dan kematian bagi ibu dan bisa menurunkan kualitas hidup anak yang terdampak. Salah satu langkah untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program triple elimination. Deteksi dini HIV, Sifilis, dan Hepatitis B saat ini sudah bisa dilakukan di Puskesmas dan dilakukan dengan tes cepat (rapid diagnostic test) menggunakan sampel darah ibu hamil. Apabila di awal deteksi ini ditemukan hasil yang positif, maka ibu hamil akan diterapi sesegera mungkin dengan tujuan untuk menurunkan risiko penularan kepada bayinya. Pada ibu hamil yang memiliki hasil sifilis yang positif juga akan dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala untuk melihat dan memantau perjalanan penyakit dari sifilis ini. Anak yang lahir dari ibu dengan HIV atau sifilis atau hepatitis B yang positif akan mendapat pelayanan dalam bentuk skrining awal untuk deteksi penyakitnya dan pengobatan apabila ditemukan hasil yang positif pada anak. Upaya untuk penurunan dan eliminasi ketiga penyakit ini sangat penting dan harus dilakukan terintegrasi, baik dari masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah.
EDUKASI REMAJA PEREMPUAN TENTANG BODY IMAGE POSITIF DAN PERAN KELUARGA DI ERA MEDIA SOSIAL DI SMA N 9 PEKANBARU Sandy Setiawati; Nur Israyati; Berliana Irianti
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i3.4227

Abstract

Era media sosial telah memberikan pengaruh besar terhadap cara remaja perempuan memandang dirinya, terutama dalam membentuk persepsi terhadap body image. Paparan konten digital yang menampilkan standar kecantikan ideal dan tidak realistis dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap tubuh, menurunkan kepercayaan diri, serta berdampak terhadap kesehatan psikologis remaja. Keluarga memiliki peran penting dalam membangun pemahaman positif mengenai citra tubuh melalui dukungan emosional, komunikasi terbuka, dan penerapan nilai-nilai kesehatan yang positif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja perempuan mengenai body image positif serta memperkuat pemahaman mengenai peran keluarga dalam mendukung penerimaan diri di era media sosial. Kegiatan dilaksanakan di SMA Negeri 9 Pekanbaru dengan melibatkan 30 remaja perempuan. Metode kegiatan menggunakan edukasi interaktif melalui penyuluhan, pemutaran video edukatif, diskusi kelompok, dan refleksi diri menggunakan body image journal. Evaluasi keberhasilan kegiatan dilakukan melalui instrumen kuesioner pengetahuan sebelum dan setelah edukasi serta observasi terhadap partisipasi dan respon peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan peserta dari 65% sebelum edukasi menjadi 90% setelah edukasi, dengan peningkatan sebesar 25%. Selain peningkatan pengetahuan, peserta menunjukkan perubahan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan diri, penggunaan media sosial secara bijak, serta peran keluarga dalam mendukung kesehatan psikologis remaja. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi upaya promotif dan preventif dalam membangun body image positif serta dapat dikembangkan sebagai model edukasi kesehatan mental remaja di lingkungan sekolah.
Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu Lansia Dalam Mendeteksi Dini Penyakit Tidak Menular Di RW 05 Kel. Lembah Sari Rumbai Pesisir Berliana Irianti
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 4 No. 2 (2023): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v4i2.2761

Abstract

Penyakit tidak menular adalah penyakit yang tidak ditularkan dari individu ke individu lain. perubahan pola makan, merokok, konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas merupakan faktor resiko terjadinya penyakit tidak menular. Deteksi dini penyakit tidak menular merupakan cara untuk mengetahui faktor resiko terjadinya penyakit tidak menular. Tujuan pengabdian masyarakat adalah memberikan pelatihan dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam upaya untuk mengendalikan dan mencegah potensi penyakit tidak menular, untuk memacu kemandirian kader kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengendalian PTM; Metode: pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan ceramah dan diskusi. Diharapkan kegiatan deteksi dini dapat dilakukan secara rutin minimal 6 bulan sekali bagi yang tidak mempunyai riwayat penyakit tidak menular dan dapat dilakukan 3 bulan sekali bagi yang mempunyai riwayat PTM. Deteksi dini tidak hanya dilakukan pada usia produktif tetapi juga pada remaja, dimana saat ini banyak juga remaja yang mengalami PTM.
OPTIMALISASI KIE PERSONAL HYGIENE SAAT MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI Nur Israyati; Ria Harnita Sari; Sandi Setiawati; Berliana Irianti
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i4.4236

Abstract

Masa remaja adalah periode peralihan dari anak-anak menuju dewasa, yang mencakup perubahan secara biologis, psikologis, serta sosial. Pada masa remaja terjadinya pematangan organ reproduksi yang dikenal dengan pubertas, yang merupakan salah satu ciri khas pada perempuan dan ditandai dengan perubahan hormonal yang memicu terjadinya menstruasi. Menstruasi adalah proses keluarnya darah secara alami yang terjadi secara teratur setiap bulan dari vagina, sebagai bagian dari siklus reproduksi wanita. Selama menstruasi perempuan perlu menjaga kebersihan diri atau personal hygiene untuk mencegah penyakit serta meningkatkan kesejahteraan diri. Kurangnya pemahaman tentang personal hygiene pada organ genital dapat mengakibatkan gangguan kesehatan reproduksi, seperti keputihan, Infeksi Saluran Reproduksi (ISR), Penyakit Radang Panggul (PRP), dan bahkan kanker leher rahim. Statistik menunjukkan bahwa kejadian ISR tertinggi terjadi pada usia remaja (35%-42%). Tujuan dilakukan Pengabdian Personal Hygiene Saat Menstruasi Pada Remaja Putri Sebagai Upaya Pencegahan Masalah Kesehatan Reproduksi. Pelaksanaan pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada hari Rabu, 20 Agustus 2025 pukul 09.00 – 12.00 wib di SMAN 9 Kota Pekanbaru. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 30 Siswi. Hasil didapatkan terjadi peningkatan pengetahuan Siswa sebelum penyuluhan Personal Hygiene Saat Menstruasi sebesar 50% dan meningkat 100% setelah diberikan penyuluhan Personal Hygiene Saat Menstruasi. pentingnya peran orang tua dalam mendukung praktik kebersihan menstruasi yang tepat melalui pemberian informasi yang akurat, komunikasi terbuka, dan contoh perilaku sehat, sehingga dapat berkontribusi pada pencegahan gangguan kesehatan reproduksi.