Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Kuantifikasi Populasi Belangkas Sebagai Dasar Strategi Konservasi di Perairan Mauk Supadminingsih, Fahresa Nugraheni; Pratama, Ginanjar; Prabowo, Nico Wantona; Yanuarti, Rini; Nurdin, Hery Sutrawan
Akuatiklestari Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v9i1.7610

Abstract

Penelitian terkait kuantifikasi terkait distribusi populasi belangkas di Utara Banten masih minim padahal dengan mengetahui spesies, jumlah, ukuran dan jenis kelamin dapat menjadi dasar ilmiah dalam mendukung strategi konservasi belangkas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kuantifikasi belangkas yang tertangkap di Perairan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Penelitian ini dilakukan selama Juli-Agustus 2025 dengan mengikuti 15 trip operasional nelayan jaring insang. Data belangkas tertangkap diidentifikasi secara morfologi untuk kemudian dianalisis berdasarkan spesiesnya terhadap ukuran Panjang total, jenis kelamin dan jumlah. Analisis Hasil penelitian diperoleh jumlah belangkas sebanyak 86% spesies Tachypleus gigas dan 14% Carcinoscorpius rotundicauda. Distribusi panjang total T. gigas berkisar antara 14,795–48,045 cm dengan frekuensi individu terbesar pada interval 16,295–33,445 cm sebanyak 27 ekor. Sementara itu, panjang total C. rotundicauda tercatat antara 16,295–33,445 cm, dengan dominasi pada interval 30,015-33,445 cm sebanyak 7 ekor. Rasio perbandingan jantan dan betina diperoleh jenis T. gigas 1:1 dan C. rotundicauda 1:7. Stadia usia jenis T. gigas didominasi oleh Jantan dewasa 46 ekor, sementara betina dewasa 6 ekor dan betina belum dewasa sebanyak 44 ekor. Jenis C. rotundicauda tertangkap diperoleh betina dewasa 13 ekor, Jantan dewasa 2 ekor dan betina belum dewasa sebanyak 2 ekor. Berdasarkan hasil studi diharapkan dapat mendukung perumusan strategi konservasi dan pengelolaan belangkas yang bersinggungan dengan aktivitas penangkapan penangkapan di wilayah pesisir.
PRELIMINARY STUDY OF POST TRANSPORTATION ADAPTATION RESPONSE OF Esomus metallicus (AHL 1923), AN FOREIGN FISH SPECIES IN INDONESIA AND INITIAL DISCUSSION OF ITS UTILIZATION POTENTIAL Solahuddin, Edo Ahmad; Fadillah, Tia Noer; Suci, Dinda Trie; Putri, Nabila; Fatimah, Fanny Yulianti; Rizki, Exel Muhamad; Herjayanto, Muh.; Syamsunarno, Mas Bayu; Pratama, Ginanjar; Zahro, Fathimah; Wasistha, Intan Nurani Drana; Meata, Bhatara Ayi; Hasanah, Afifah Nurazizatul; Agung, Lukman Anugrah; Roidelindho, Kiki; Munandar, Aris
Jurnal Media Akuakultur Indonesia Vol 1 No 2 (2021): Indonesian Journal of Aquaculture Medium
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/mediaakuakultur.v1i2.357

Abstract

Esomus metallicus merupakan spesies ikan yang secara alami tidak tersebar di Indonesia (non-native). Pada beberapa kasus, jenis ikan non-native telah mengancam ekosistem alami di perairan umum. Melalui ekspedisi ilmiah, dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk mengkaji respons awal adaptasi pascapengangkutan, yaitu sintasan dan tingkah laku ikan E. metallicus liar di dalam wadah terkontrol. Selain itu, juga dilakukan analisis terhadap potensi pemanfaatan untuk bidang akuakultur, pengolahan hasil perikanan, dan strategi edukasi kepada masyarakat tentang ikan E. metallicus. Ekspedisi dilakukan selama dua hari di bagian barat Pulau Jawa. Ikan diangkut menggunakan sistem tertutup selama 6 jam. Pemeliharaan ikan pascapengangkutan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan sintasan ikan E. metalicus selama pengangkutan yaitu 96,72%. Ikan E. metalicus dapat beradaptasi dengan baik di dalam wadah pemeliharaan terkontrol yang terlihat dari sintasan akhir pengamatan 90,96%, tingkah laku berenang yang aktif secara berkelompok dan telah memakan pakan buatan. Potensi sebagai ikan hias dapat dilihat pada warna sisik metalik, ukuran tubuh yang kecil, dan tingkah laku berenang berkelompok dapat menjadi ikan untuk akuaskap. Selain itu, potensi pemanfaatan ikan ini yaitu sebagai pakan hidup untuk ikan predator, tepung ikan, ikan uji di laboratorium, dan bahan makanan. Kajian lebih lanjut hal tersebut sebagai solusi pengendalian ikan non-native perlu dilakukan. Analisis risiko menunjukkan bahwa E. metallicus termasuk ke dalam spesies risiko sedang. Strategi edukasi terhadap masyarakat perlu dilakukan karena masyarakat menganggap ikan E. metallicus adalah “benteur” atau “paray”, yang merupakan nama lokal untuk ikan dari genus Rasbora asli Indonesia karena kemiripan morfologi.
Karakteristik body scrub kombinasi rumput laut hijau dan serbuk kunyit: Characteristics of body scrub from combination of green seaweed and turmeric powder Pratama, Ginanjar; Yanuarti, Rini; Munandar, Aris; Aditia, Rifki Prayoga
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 26 No. 3 (2023): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 26 (3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v26i3.46062

Abstract

Body scrub merupakan salah satu kosmetik untuk mengangkat sel kulit mati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kombinasi perlakuan terbaik rumput laut Boergesenia forbesii dan serbuk kunyit sebagai bahan baku body scrub. Konsentrasi rumput laut B. forbesii dan serbuk kunyit yang digunakan adalah perbandingan 1:1, 1:2, 2:1, dan kontrol. Jenis pengujian yang dilakukan, yaitu tipe emulsi, centrifugal test, homogenitas, kelembapan, pH, dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan produk body scrub termasuk tipe minyak dalam air (O/W), stabil, tidak homogen, lebih lembap, dan memiliki pH yang sesuai (5,58-6,67). Pengamatan organoleptik pada ketampakan, warna, dan aroma menunjukkan penilaian agak suka sampai suka. Perlakuan terbaik pada body scrub kombinasi rumput laut B. forbesii dan serbuk kunyit (2:1) berdasarkan uji obyektif dan organoleptik.
Effectiveness of Green Mussel Shell Waste and Lime Peel as Toothpaste Fauzy, Insan; Hasanah, Afifah Nurazizatul; Pratama, Ginanjar
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.99418

Abstract

The problem is that waste produced from green mussel shells can result in environmental pollution. Green mussel shells can be used as raw material for making toothpaste. Toothpaste is a care product that has the function of caring for healthy teeth to prevent cavities that use a combination of green mussel shells and lime peel as the main ingredients. This study aims to determine the effectiveness of toothpaste derived from green mussel shells and lime peel. This research was carried out in four stages, namely making green mussel shell flour, making lime peel extract, making toothpaste formulations and testing which included organoleptic, carbohydrate, pH, antibacterial, calcium, viscosity, centrifugation and stability testing. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatment levels with different concentrations of green mussel shells, namely P1 (0), P2 (16.5%), P3 (25%), P4 (33.5%), P5 ( 50%).The research results showed that the best treatment was toothpaste with a combination of clam shell powder and lime peel extract in the P5 treatment in the antibacterial test with an inhibitory power obtained of 156.67 ± 15.28. Treatment P5 with a concentration of 50% addition of green mussel shell flour was the best treatment for toothpaste preparations.
EFEK PENGGUNAAN PUPUK BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN SENYAWA FIKOSIANIN Spirulina sp. Suryono, Jundi Putra; Pratama, Ginanjar; Hasanah, Afifah Nurazizatul
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.4.231-237

Abstract

Spirulina sp. adalah mikroalga yang kaya akan senyawa bermanfaat, seperti protein, lemak, mineral, dan pigmen alami (fikosianin, β-karoten, dan klorofil) yang memiliki efek antioksidan. Berbagai macam kandungan yang dimiliki oleh Spirulina sp. sangat dipengaruhi oleh nutrisi dan lingkungan kultivasi. Nutrisi seperti pupuk walne merupakan nutrisi yang sering digunakan dalam kegiatan budidaya Spirulina sp. tetapi dikarenakan harganya yang kurang ekonomis menjadikan hal tersebut sebagai masalah tersendiri. Pupuk alternatif sudah banyak dikembangkan, beberapa bahan seperti magnesium, fosfat, urea, dan molase dapat dijadikan solusi nutrisi yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pupuk walne. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 taraf perlakuan pupuk walne, pupuk buatan, dan pupuk campuran (walne dan buatan) dengan masing-masing 3 ulangan. Tahapan penelitian dibagi menjadi dua fase yaitu fase pertama merupakan proses kultivasi dan pemanenan, dilanjutkan dengan fase dua yaitu ekstraksi fikosianin. Hasil yang diperoleh adalah pada penelitian ini adalah laju pertumbuhan Spirulina sp. berjalan serupa hingga terjadi penurunan nilai optical density pada perlakuan penambahan pupuk buatan (P1) dan penambahan pupuk campuran (P2) di hari ke-21. Protein yang dihasilkan tidak berbeda nyata dengan nilai rata-rata tertinggi pada perlakuan penambahan pupuk buatan (P1) senilai 6,03%. Rendemen biomassa basah terbesar berada pada perlakuan penambahan pupuk walne (K) dengan nilai sebesar 0,09%. Rendemen fikosianin yang terbesar berada pada perlakuan penambahan pupuk campuran (P2) dengan nilai 33.48%. Konsentrasi fikosianin terbesar berada pada perlakuan penambahan pupuk walne (K) dan penambahan pupuk buatan (P1) dengan nilai 2.79%. Berdasarkan hasil yang diperoleh diketahui bahwa pupuk buatan memiliki efek yang serupa dengan pupuk walne dalam aspek kadar protein, rendemen biomassa basah, dan konsentrasi fikosianin. Sedangkan pupuk walne lebih optimal pada aspek laju pertumbuhan dibanding dengan pupuk buatan.