Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta ) Fitria Purnama Sari; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.835 KB)

Abstract

Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )AbstrakMahasiswa perantauan merupakan pendatang di sebuah daerah dengan latar belakang budaya yangberbeda dari daerah asalnya. Saat berada di daerah baru, biasanya mahasiswa perantauan akan bergabungdalam sebuah ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmenyatukan mahasiswa perantauan. Namun, ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini terkesan eksklusif,tertutup dan tidak mau berinteraksi dengan budaya di luar ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Kesaneksklusif dan tertutup rentan terhadap konflik dengan host culture. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui cara beradaptasi mahasiswa perantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasisetnisitas, kendala yang dihadapi mahasiswa perantauan selama beradaptasi dan memahami penerimaanhost culture terhadap budaya minoritas mahasiswa perantauan. Upaya menjawab permasalahan dan tujuanpenelitian dilakukan dengan paradigma interpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Anxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst,William : 2005 ), Interaction Adaption Theory ( Gudykunst, William : 2005 ). Subjek penelitian adalahenam mahasiswa perantauan yang tergabung dalam tiga ikatan mahasiswa berbasis etnisitas serta tigaorang host culture yang berstatus mahasiswa. Sedangkan lokasi penelitian ini berada di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa perantauan harus beradaptasi dengan budaya di Yogyakarta,seperti bahasa, adat istiadat dan cita rasa makanan. Mahasiswa perantauan akan menggunakan tigastrategi untuk beradaptasi dengan bahasa, yaitu strategi aktif, pasif dan interaktif. Sedangkan untukberadaptasi dengan adat istadat di Yogyakarta, mahasiswa perantauan mempelajari saat berinteraksidengan host culture. sedangkan untuk beradaptasi dengan cita rasa makanan, mahasiswa perantauancenderung untuk memilih makanan yang cocok dengan selera mereka. Meskipun mereka tergabung dalamikatan mahasiswa berbasis etnisitas, mereka dapat menjalin hubungan baik dengan host culture. Haltersebut dapat dilihat dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan mahasiswa perantauan bersama hostculture. Di sisi lain, host culture masih memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa perantauan.Meskipun begitu, host culture dapat menerima keberadaan mahasiswa perantauan selama mereka dapatmenjaga hubungan baik dengan masyarakat Yogyakarta. Ketika mahasisa perantauan dan host culturesaling beradaptasi, pada akhirnya mereka memiliki kompetensi komunikasi. Adanya sikap mindful antaramahasiswa perantauan,penerimaan host culture serta kompetensi komunikasi antara keduanya dapatmenciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada. Implikasi akademis yangdapat menambah pengetahuan mengenai proses interaksi antarbudaya terutama Anxiety / UncertaintyManagement Theory dari Gudykunst. Cakupan teoritis mengenai komunikasi antarbudaya yang mindfulperlu diperluas dengan memasukkan faktor tingkat pendidikan yang bisa mempengaruhi terciptanyasituasi komunikasi yang mindful.Kata kunci : adaptasi budaya, etnisitas, harmoni sosialCulture Adaptation and Social Harmony( The Adaptation Culture Case of Student BondsBased On Ethnicity in Yogyakarta )AbstractMigrant students are newcomer in a region with different culture background of their region original.When the migrant student in a new region, they join in a student bonds based on ethnicity. The aim of thisstudent bonds based on ethnicity is bringing them together. However, the student bonds based onethnicity is exclusive, enclosed impressed and do not want to interact with the culture outside the studentbonds based on ethnicity. This exclusive and enclosed impressed is conflict vulnerable with host culture.The goals of this research are understand how the migrant student who joined in student bonds based onethnicity can be adapted, obstacles when migrant student are adapted and understand the acceptance ofhost culture to migrant students’ minority culture. Attempting to answer the issue and the goals byinterpretive paradigm and using phenomenological analysis method. The theories in this research areAnxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst, William : 2005 ), Interaction Adaption Theory (Gudykunst, William : 2005 ). The subject of this research are six migrant students who joined in studentbonds based on ethnicity and three student of host culture. This research’s location in Yogyakarta.The outcome of this research shows the migrant student must be adapted with culture in Yogyakarta, suchas language, custom and the taste of food. The migrant students will use three strategies to languageadapted, such as active, passive and interactive strategy. While adapted with the custom is learning whenthe migrant student interact with host culture. while adapted with the taste of food, the migrant studentstend to choose the food which suited to their taste. While the migrant student joined in student bondsbased on ethnicity, they can have a good relation with host culture. This can be seen from the activitieswhich done by migrant students with host culture. In the other hand, host culture still having a negativeperception toward the migrant students. Nevertheless the host culture can accept the existence of migrantstudent during they keep the good relation with the people of Yogyakarta. When the migrant student andhost culture having an adaptation with each other, they have a communication competence. A mindfulattitude from migrant student, acceptance from host culture and communication competence betweenmigrant student and host culture can create social harmony in the diversity of culture. Academicimplication which can increase the knowledge about the process of intercultural interaction especiallyAnxiety / Uncertainty Management Theory from Gudykunst. Theoretical coverage of the mindfulintercultural communication needs to be expanded to include education level factors that can affect thecreation of mindful communication situations.Key word: culture adaptation, ethnicity, social harmonyAdaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya IkatanMahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Fitria Purnama SariNIM : D2C 009 067JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di daerah dengan latar budaya baru, yang kemudianakan disebut sebagai mahasiswa perantauan, mereka akan merasa asing ketika berada di daerahtersebut, terutama daerah yang memiliki latar budaya yang berbeda dari daerah asalnya.Kehadiran mereka pun sangat mudah dikenali, misalnya saja dari bahasa dan logat yangdigunakan berbeda dengan host culture.Sebagai mahasiswa perantauan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan barumereka. Bentuk adaptasi para mahasiswa perantauan dengan host culture dapat berupa adaptasidengan bahasa, adat istiadat, norma, kepercayaan bahkan makanan. Bagaimana paramahasiswa perantauan ini dapat beradaptasi sangat mempengaruhi hubungan dengan hostculture kedepannya.Mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta atau mahasiswa perantauan ini biasanyaakan membentuk satu paguyuban berdasarkan kesamaan latar budaya atau yang biasa disebutdengan ikatan mahasiswa. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmempersatukan mereka selama mereka berada di Yogyakarta.Hal itulah yang memberikan kesan ekslusif yang seolah – olah paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnis ini “ berbeda “ dengan budaya host culture dan tidak mauberinteraksi dengan budaya di luar paguyuban. Tidak mau berinteraksi dengan budaya di luarpaguyuban memiliki arti yaitu budaya yang ada dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitastersebut tidak bisa melebur menjadi satu dengan budaya sekitar yang berbeda sehingga tidakdapat menghargai perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain. Selain itu, ikatanmahasiswa berbasis etnisitas ini dapat menimbulkan solidaritas sempit antar anggotanya.Hal itu juga berbeda dengan semboyan bangsa Indonesia “ Bhinneka Tunggal Ika “ yangmemiliki arti “ Berbeda – beda tetapi tetap Satu Jua “. Berbeda – beda disini merujuk padakebudayaan bangsa Indonesia yang beragam namun tetap harmonis demi terciptanya persatuandan kesatuan bangsa. Harmoni sosial dapat tercipta apabila budaya yang beragam tersebut dapatmelebur menjadi satu dan kelompok antar etnis yang mengusung setiap budaya dapat salingmenghargai tanpa ada pengkotak – kotakan budaya.1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah dalam penelitian ini adalah:1. Bagaimanakah cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture?2. Apa sajakah kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture?3. Bagaimanakah penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal iniadalah budaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas?1.3 Tujuan PenelitianDari penjelasan – penjelasan di atas peneliti di sini berusaha untuk:1. Memahami cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture.2. Memahami kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture.3. Memahami penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal ini adalahbudaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas.1.4 Signifikansi Penelitian1.4.1 Kegunaan TeoritisPenelitian ini secara teoritis atau akademis diharapkan dapat memberikan kontribusiterhadap intercultural adaptation saat ini dalam melihat fenomena antara paguyuban sepertiikatan mahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dalam konteksadaptasi dengan host culture.1.4.2 Kegunaan PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan paguyuban – paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dapat menciptakanharmoni sosial mengingat Indonesia memiliki keberagaman budaya.1.4.3 Kegunaan SosialHasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat mengenaibagaimana cara mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswa beradaptasi danmenciptakan harmoni sosial dengan host culture.1.5.Kerangka Pemikiran Teoretis1.5.1 State of Art1.5.2 Paradigma InterpretifStudi tentang mahasiswa yang tergabung sebagai anggota ikatan mahasiswa berbasis etnisitasdalam menciptakan harmoni sosial dengan host culture, secara teoritik didekati denganmerujuk pada gagasan genre interpretif, yaitu pemikiran – pemikiran teoritik ( komunikasi )yang berusaha menemukan makna dari suatu tindakan dan teks ( Littlejohn, 1999 : 15 )1.5.3 Pendekatan FenomenologiMenurut Littlejohn ( dalam Rahardjo, 2005 : 44 ), sejalan dengan genre interpretatif yangdigunakan sebagai basis berpikir dalam penelitian ini, maka gagasan teoritik yang memilikiketerkaitan dengan genre interpretatif adalah fenomenologi.1.5.4 Teori Manajemen Ketidakpastian ( Uncertainty ) dan Kecemasan ( Anxiety )1.5.5 Teori Interaksi Adapatasi1.6 Operasionalisasi Konsep1.7 Metoda Penelitian1.7.1 Desain PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor ( 1975 :2 ) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan datadeskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapatdiamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan inidvidu tersebut secara holistik ( utuh ).1.7.2 Situs PenelitianLokasi yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah lingkungan tempat berkumpulnyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas yang ada di Yogyakarta.1.7.3 Subjek PenelitianSubjek penelitian adalah mahasiswa – mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang tergabungdalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas seperti BAMANA ( Barisan Mahasiswa Kaimana ),FORMASY ( Forum Mahasiswa Sula Yogyakarta ) dan Forum Keluarga Mahasiswa NTT –Bersatu Yogyakarta serta host culture yang merupakan warga yang berasal dari Yogyakarta yangpernah berinteraksi langsung dengan mahasiswa perantauan yangtergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas.1.7.4 Sumber DataJenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah :1. Data Primer2. Data Sekunder1.7.5 Teknik Pengumpulan DataData dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dari subyek penelitian.1.7.6. Analisis dan Interpretasi DataBAB IIDESKRIPSI TEKSTURAL DAN STRUKTURALADAPTASI BUDAYA DAN HARMONI SOSIAL2.1 Deskripsi Tekstural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.1.1 Informan 12.1.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.1.2 Interaksi Antarbudaya2.1.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.2 Informan 22.1.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.2.2 Interaksi Antarbudaya2.1.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.3 Informan 32.1.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.3.2 Interaksi Antarbudaya2.1.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.4 Informan 42.1.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.4.2 Interaksi Antarbudaya2.1.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.5 Informan 52.1.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.5.2 Interaksi Antarbudaya2.1.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.6 Informan 62.1.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.6.2 Interaksi Antarbudaya2.1.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2 Deskripsi Tekstural Individu ( Host Culture )2.2.1 Informan 12.2.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.1.2 Interaksi Antarbudaya2.2.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.2 Informan 22.2.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.2.2 Interaksi Antarbudaya2.2.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.3 Informan 32.2.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3 Deskripsi Struktural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.3.1 Informan 12.3.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.1.2 Interaksi Antarbudaya2.3.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.2 Informan 22.3.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.2.2 Interaksi Antarbudaya2.3.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.3 Informan 32.3.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.3.2 Interaksi Antarbudaya2.3.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.4 Informan 42.3.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.4.2 Interaksi Antarbudaya2.3.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.5 Informan 52.3.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.5.2 Interaksi Antarbudaya2.3.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.6 Informan 62.3.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.6.2 Interaksi Antarbudaya2.3.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4 Deskripsi Struktural Individu ( Host Culture )2.4.1 Informan 12.4.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.1.2 Interaksi Antarbudaya2.4.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.2 Informan 22.4.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.2.2 Interaksi Antarbudaya2.4.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.3 Informan 32.4.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.5 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Mahasiswa Perantauan )2.6 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Host Culture )BAB IIISINTESIS MAKNA TEKSTURAL DAN STRUKTURAL3.1 Proses Adaptasi AntarbudayaSebagai pendatang di Yogyakarta, informan ( mahasiswa perantauan ) mengalami perbedaanbudaya. Perbedaan budaya yang dapat mereka rasakan secara jelas adalah bahasa, cara berbicara,kebiasaan dan cita rasa makanan. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang selalu digunakanoleh masyarakat Yogyakarta dalam kesehariannya, terutama bagi warga Yogyakarta yang sudahberusia lanjut, mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa dibanding bahasa Indonesia.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu beradaptasi terhadap penggunaan bahasa Jawa olehhost culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) juga perlu beradaptasi dengan kebiasaan host culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu memahami kebiasaan host culture seperti menyapadengan anggukan sambil tersenyum yang diikuti dengan sapaan monggo atau bahasa tubuhmenyilakan masuk menggunakan tangan ketika mempersilakan seseorang masuk terlebih dahuluyang terkadang juga diikuti dengan kata monggo. Kebiasaan host culture seperti itu merupakanbentuk dari komunikasi non verbal.Proses adaptasi informan 1, 2, 3 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) terhadap cita rasamakanan di Yogyakarta cukup lama. Pada awal proses adaptasi, mereka makan hanya untukmemenuhi kebutuhan perut yang lapar tanpa mempedulikan rasa yang menurut mereka tidakenak. Bahkan menurut informan 2 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) benar – benar menganggapmakanan di Yogyakarta “ tidak bisa dimakan “, sehingga selama proses adaptasi, mereka hanyamemakan makanan instan saja.Ellingsworth ( dalam Liliweri, 2001:63 ) mengemukakan bahwa setiap individudianugerahi kemampuan untuk beradaptasi antarpribadi. Oleh karena itu maka setiap individumemiliki kemampuan untuk menyaring manakah perilaku yang harus atau yang tidak harusdilakukan. Adaptasi nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan olehdua faktor, yakni pilihan untuk mengadaptasi nilai dan norma yang fungsional atau mendukunghubungan antarpribadi. Atau nilai dan norma yang disfungsional atau tidak mendukunghubungan antarpribadi.3.2 Interaksi AntarbudayaInforman ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari hal – hal yang perlu diadaptasi ketikamereka berinteraksi dengan host culture. Interaksi informan ( mahasiswa perantauan ) denganhost culture banyak terjalin dalam kegiatan ruang publik seperti di kampus, organisasi, gereja,dan lingkungan tempat tinggal. Kampus, organisasi, gereja dan lingkungan tempat tinggalmerupakan wadah bagi informan ( mahasiswa perantauan ) serta host culture untuk dapat salingbertatap muka dan mengenal satu sama lain lebih dekat, sehingga proses adaptasi dapat terjalindiantara mereka.Cara untuk memahami penyesuaian antar budaya adalah dengan bersikap sesuai denganpergaulan dan efektif antar individu dalam host culture. Dalam pandangan ini, stranger telahmenyesuaikan diri saat mereka telah belajar untuk berinteraksi secara efektif dengan host culturedan perilaku mereka sesuai dengan host culture. ( Furnham and Bochner; Grove and Torbiorn;Torbiorn dalam Gudykunst 2005:424 ).3.3 Kendala ketika Berinteraksi serta Cara MengatasinyaPerbedaan bahasa membuat sebagian besar informan ( mahasiswa perantauan ) mengalamiketidakpastian ( uncertainty ) dan kecemasan ( anxiety ). Ketidakpastian ( uncertainty ) dankecemasan ( anxiety ) merupakan salah satu kendala mahasiswa perantauan saat berinteraksidengan host culture.Jika informan 1 ( host culture ) mengalami kendala dalam pemahaman bahasa olehmahasiswa perantauan, bagi informan 2 dan 3 ( host culture ) kendala yang dirasakan selamaberinteraksi dengan mahasiswa perantauan adalah karakteristik masing – masing individu.Setiap mahasiswa perantauan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga perlu adanyapemahaman karakteristik dari masing – masing individu agar dapat terjalin komunikasi yangefektif.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi,makan informan mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensikomunikasi.BAB IVPENUTUP4.1 KesimpulanPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman proses adaptasi mahasiswaperantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas dengan host culture untukmenciptakan harmoni sosial di Yogyakarta. Penelitian ini didasarkan pada fenomena adanyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas dalam menciptakan harmoni sosial. Sebagai kaum minoritasdi sebuah kota perantauan, informan ( mahasiswa perantauan ) diharapkan dapat beradaptasi danberinteraksi dengan host culture.Cara beradaptasi informan ( mahasiswa perantauan ) dapat dilakukan saat berinteraksidengan host culture. Interaksi dengan host culture dapat terjadi saat informan ( mahasiswaperantauan ) melakukan suatu kegiatan secara bersama – sama. Dari proses interaksi tersebut,informan ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari budaya di daerah perantauannya.Dalam beradaptasi dengan perbedaan budaya, individu informan ( mahasiswa perantauan) menghadapi kendala bahasa. Namun, mereka dapat mengatasinya dengan bertanya kepadalawan bicara maupun orang lain yang lebih fasih berbahasa daerah. Selain bertanya, informan (mahasiswa perantauan ) juga dapat mengatasi kendala bahasa dengan cara memperhatikan danmempelajari bahasa non verbal dari lawan bicara. Setelah bertanya maupun mempelajari bahasanon verbal, informan ( mahasiswa perantauan ) memiliki pengetahuan baru mengenai budaya didaerah perantauannya. Pengetahuan barunya itu dapat meminimalisir rasa ketidakpastian dankecemasan saat berinteraksi dengan host culture yang lain.Meskipun informan ( host culture ) masih memiliki stereotipe terhadap informan (mahasiswa perantauan ), namun host culture dapat menerima keberadaan mereka selama merekadapat menjalin hubungan yang baik dengan host culture.Sedangkan informan ( mahasiswa perantauan ) yang menerima perlakuan kurangmenyenangkan yang disebabkan oleh stereotipe host culture bersikap mindful. Informan (mahasiswa perantauan ) memahami stereotipe tersebut sebagai pengetahuan agar dapatmengantisipasi perilaku host culture yang lainnya.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi, makaninforman mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensi komunikasi.Tiga komponen kompetensi komunikasi tersebut adalah motivasi, pengetahuan, keterampilan.Sikap mindful informan ( mahasiswa perantauan ), penerimaan dari informan ( hostculture ) serta kompetensi yang dimiliki informan ( mahasiswa perantauan ) dan informan ( hostculture ) dapat menciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada diYogyakarta.DAFTAR PUSTAKABogdan, Robert C. And Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A.Phenoinenological Approach in The Social Sciences. 1975. John Wiley and Sons – alihbahasa Arief F. Surabaya: Usaha Nasional.Gudykunst, William. Theorizing About Intercultural Communication. 2005. California: SagePublication, Inc.Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication ( Sixth Edition ). 1999. Belmont,California: Wadsworth Publishing Company.Liliweri, Alo. Gatra – gatra Komunikasi Antarbudaya. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rahardjo, Turnomo. Menghargai Perbedaan Kultural: Mindfulness dalam KomunikasiAntaretnis. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Understanding Communication Barriers of New Members on Milis Sehat Annisa Zetta Afiatni; Dra Taufik Spurihartini; Turnomo Rahardjo .; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.639 KB)

Abstract

Nowadays, people can take health discussion in cyberspace, Milis Sehat is one that provides a forum for the public. You can consulted directly with doctors without going through face-to-face. The existence of a new way of discussion or consultation about the health from became online that creates barriers in each members. Therefore, researcher interested to discuss what are the barriers that prevent members on Milis Sehat and how they achieve a common understanding when communicating effort. The purpose of this study is to describe the factors inhibiting new members on Milis Sehat when they are not able to reach a mutual understanding and to describe their efforts in reaching a mutual understanding. The theory that used is Accommodation Communication Theory (Howard Giles).This study uses an interpretive paradigm with a phenomenological approach of Moustakas. The results from this study is there are six barriers perceived by new members. The most dominant barriers is a psychological barrier in the form of their feeling less satisfied with the answers or the results of discussions on the mailing list because the answer just a link that contains articles; their discomfort when communicating because doctors in mailing lists according to their fierce; and their anxiety for fear the question is not got a response by anyone. Semantic barriers they experienced as a result of the use of the abbreviation / term health unfamiliar and less familiar to them. To understand this, they look for abbreviations / that term in the search engine Google, asking senior members or doctors in the mailing list. Frame of mind and cultural differences are also preventing them interpret what they read the writing on the mailing list. Barriers for their status within the social and technical barriers caused less supportive tool shared by several informants. In order to achieve mutual understanding, communication barriers have to be overcome first like a psychological barrier, status, culture, and mindset through mutual understanding their individual differences; semantic barriers can be overcome by finding yourself or ask about the language / vocabulary of what you do not understand, once they understand, they can converge (equalization) in order to make it look the same as the other members. Technical barriers can be overcome by using tools that support. Academically, Accommodation Communication Theory (Howard Giles) describes someone convergence for wanting approval. Meanwhile, someone from the findings converge to make it more practical and effective. In practical terms, the findings of this study can be applied to individuals who have a similar situation as in this study. Socially, the benefits that can be taken by the public should be when you are in this situation in order to look the same convergence with new people.
FENOMENA PERILAKU CYBERBULLYING DI DALAM JEJARING SOSIAL TWITTER Salshabila Putri Persada; Djoko Setyabudi; Turnomo Rahardjo; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.725 KB)

Abstract

Maraknya penggunaan jejaring sosial twitter dikalangan masyarakat modern saat ini tengah sangat popular. Twitter membawa trend baru dalam masyarakat sebagai ajang untuk melakukan tindakan penindasan secara online atau yang lebih dikenal dengan sebutan cyberbullying. Pengguna twitter dengan mudah dapat melakukan cyberbullying kepada pengguna twitter lainnya, pengguna dapat memposting tulisan kejam atau mengunggah foto yang berhubungan dengan individu lain dengan tujuan mengintimidasi dan merusak nama baik seseorang. Tujuan cyberbullying dalam media twitter adalah untuk memenuhi kebutuhan dimana pada hakikatnya semua orang selalu berjuang dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya dalam hal kesehatan, keamanan, pengaruh, kekuasaan dan kepuasaan hidupnya secara biologis, lahiriah maupun batiniah. Dorongan, alasan dasar dan pikiran dasar bagi seseorang merupakan sebuah penggerak untuk mau bertindak memenuhi kebutuhannya, hal inilah yang disebut sebagai motivasi, motif jika dihubungkan dengan konsumsi media berarti segala alasan dan pendorong dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang menggunakan media.Penelitian ini bertujuan untuk memahami motivasi pelaku dalam melakukan cyberbullying dijejaring sosial twitter. Dalam penelitian ini, teori yang digunakan adalah motif sosiogenis, yaitu motif cinta, motif kompetensi, dan motif harga diri dan kebutuhan untuk mencari identitas. Selain itu motif afektif juga menjadi alasan pelaku melakukan cyberbullying yaitu reduksi, peneguhan dan penonjolan. Kedua motif yang ada didukung dengan Teori Uses And Gratification dan pendekatan emosi. Pengalaman individu ini diungkapkan dengan metode fenomenologi yang mengutamakan pada pengalaman individu secara sadar dalam memaknai suatu hal. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap lima orang informan yang masing-masing merupakan pelaku cyberbullying di dalam jejaring sosial Twitter dan telah menggunakan jejaring sosial ini selama setahun.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam jejaring sosial twitter, perilaku cyberbullying terjadi karena motivasi yang ada pada dalam diri informan, seperti motif sosiogenis dan motif afektif. Dibalik semua motif yang ada, tersimpan perasaan emosi yang dirasakan informan dan membawanya kepada perilaku cyberbullying di twitter. Emosi yang dirasakan informan seperti emosi kesal, sakit hati dan senang menciptakan motif sosiogenis dan afektif yang mendorong informan untuk melakukan perilaku cyberbullying di twitter.Key words :Twitter, cyberbullying, motif, emosi
The Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station Used for the Conflict Resolution Across the Countryside (Case Study Socialization of Batang Coal-Fired Power Station in the Karanggeneng Village, Kandeman Subdistrict, Batang District) Rizki Kurnia Yuniasti; Triyono Lukmantoro; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15504.76 KB)

Abstract

Coal-fired power station development planned by PT Bhimasena Power Indonesia and The Batang District Goverment is one of the innovation for the Karanggeneng civilization, Kandeman Subdistrict of Batang District triggered some conflicts so that development project has been delayed. The research purpose is to describe the socialization and how the Communication Forum of Batang Coal-Fired Power Station can solve the conflict. The research is descriptive qualitative approach to understanding the perspective of interpretive while research method used is a case study method. The research theories are Uncertainty Reduction Theory, Diffussion of Inovation Theory, Triangle of Conflict Theory, The Principle of Negotation theory, and The Convergence of Model Communication. This research result indicates that the socialization of coal-fired power Batang done through the formal and informal sides. The obstacles in this socialization are late socialization, uncertainty of information because the the other hand informations, social estrangement (social estrangement to be two namely pro and contra for Batang coal-fired power station) Batang coal-fired power station development and conflicts namely compensation land and social compensation. The communication forum of Batang coal-fired power station in the Karanggeneng Village have not been able to resolve the conflict in the Karanggeneng village. The communication forum Batang coal-fired power station experienced divergence at the time of the negotiation process due to the absence of mutual understanding. Negotiations containing the equivalent communication, openness information and mutual understanding is the communication models which is proper for the conflict resolution with The Convergence Communication Models.
Pemeliharaan Hubungan Antara Ibu Sebagai Orang Tua Asuh Tunggal Dengan Anak Sessy Refi Sanina; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 8, No 3: Juli 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.631 KB)

Abstract

In general, a whole or a complete family supported by the roles between a father and a mother. Many families end up not living together because of various problems, from divorce to the death of one of the parents. This research is motivated by a singk who experiences problems because of her busy work. It could impact the children with lack of communication and the intensity of face-to-face, which directly affects the quality of the relationship between the mother and her child. This study aims to describe the maintenance of the relationship between Ibu sebagai orang tua asuh tunggals and children using qualitative methods. This study refers to the interpretive paradigm with a phenomenological approach. The subjects of this study were three pairs of informants with mothers who acted as Ibu sebagai orang tua asuh tunggals and had children aged over 17 years, both male and female. The data collected with in-depth interviews technique. The theories used in this study are the theory of Relationship Maintenance, the method of Relational Dialectics, the Role Theory by, and the theory of Equality (Equity Theory). The results of this study indicate that communication patterns between single mother and children have their own way of maintaining relationships, namely in creating positive relationships, closeness, and openness and have different guarantees and assignments. Constraints that often occur between mothers as single foster parents and children occur due to reduced communication intensity, reduced face-to-face frequency and also financial constraints. Effective communication affects the quality of the relationship between mother as a single foster parent and child. The communication patterns applied in this study refer to pluralistic and laissez faire communication patterns. The relationship between a mother as a single mother and a child is not linear, and is always marked by a change, the relationship is always in a changing state when various contradictions arise.
PENERIMAAN KHALAYAK TERHADAP EKSPLOITASI WILAYAH DOMESTIK PESOHOR DALAM TALKSHOW HITAM PUTIH Destika Fajarsylva Anggraini; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.025 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren program yang berlangsung. Begitu beraneka ragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah talkshow.Hitam Putih adalah salah satu program dari talkshow. Tayangan tersebut sangat menarik untuk di teliti, karena Hitam Putih mengandung format mind reading. Mind reading merupakan format membaca pikiran sehingga bintang tamu akan dibuat tidak berdaya ketika “dicecar” pertanyaan oleh pembawa acara Deddy Corbuzier yang memaksa mereka memaparkan kehidupan pribadinya tanpa disadari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens tentang tayangan Hitam Putih. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding tayangan Hitam Putih.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang memaknai tayangan Hitam Putih sesuai dengan preffered reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai tayangan ini dari dua sisi, yaitu menganggap bahwa tayangan ini tidak etis dan menganggap tayangan ini adalah tayangan yang memotivasi serta memberikan
Komodifikasi Keluarga Ustadz Jefri Al Buchori Dalam Tayangan Infotainment Sri Nofidiyahwati; Dr. Sunarto; Adi Nugroho; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.005 KB)

Abstract

Pasca Ustadz Jefri Al Buchori meninggal dunia, infotainment memanfaatkan kesedihan yang melanda keluarga Ustadz Jefri Al Buchori sebagai sebuah komoditas berita. Infotainment secara cerdas menyulap tragedi kehidupan selebriti menjadi bagian bisnis mereka, sehingga hal apa pun dapat diubah menjadi komoditas yang layak tonton dengan mengalami komodifikasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan komodifikasi isi yang terjadi pada keluarga Ustadz Jefri Al Buchori dalam tayangan infotainment beserta ideologi yang dominan di belakangnya. Penelitian ini menggunakan teori komodifikasi sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori ekonomi politik media dalam paradigma kritis melalui metode analisis wacana model Teun Van Dijk. Subjek penelitian ini adalah tayangan infotainment Cek&Ricek, penulis naskah dan redaksi Cek&Ricek, serta pengamat media infotainment. Berdasarakan temuan penelitian, komodifikasi isi terkait pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori berupa dramatisasi dan serialisasi. Dramatisasi berupa munculnya gambar-gambar istri dari Ustadz Jefri Al Buchori yang masih dirudung duka yang ditandai dengan tetesan air mata, selain itu dramatisasi bisa diciptakan dari naskah, yaitu dengan memainkan dramaturgi. Sedangkan serialisasi, tayangan Cek&Ricek menampilkan pemberitaan keluarga Ustadz Jefri Al Buhori dengan tema yang berbeda-beda setiap harinya. Ideologi yang melatarbelakangi tayangan ini dikarenakan adanya sistem rating dalam dunia pertelevisian. Rating menjadi barometer untuk kesuksesan sebuah program televisi. Terbukti dengan adanya kenaikan rating dalam tayangan Cek&Ricekketika memberitakan keluarga Ustadz Jefri Al Buchori, jumlah pendapatan iklan yang diperoleh pihak stasiun televisi juga bertambah.Kata Kunci : Komodifikasi, Kapitalisme, Infotainment
Akomodasi Komunikasi Antarbudaya (Etnis Jawa Dengan Etnis Minang) Nadila Opi Prathita Sari; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.292 KB)

Abstract

Different cultural values can cause several problems during the interaction process. The case raised was the interaction of the Minang and Javanese ethnic groups. Ethnic Minang who studied in Semarang opened intercultural meetings, especially with host culture. The values and norms of Minang and Javanese cultural backgrounds have conflicting differences, which can even cause problems that lead to conflict. This study aims to find out what are the obstacles experienced when interacting and the forms of efforts made by strangers and host culture in accommodating each other. This study uses a phenomenological approach that is used to understand a phenomenon based on the perspective of the informant, this is related to the ongoing interaction between ethnic Minang and Javanese with the main focus of accommodation with each other. The theory used is the Theory of Communication Accommodation and Interaction Adaptation Theory which serves to explain the constraints and forms of accommodation efforts undertaken by ethnic Minang and Javanese. In this study used in-depth interview techniques that were used to four informants with a Minang cultural background and four informants with a Javanese cultural background. The results of the study are the constraints of interaction experienced by Javanese ethnic informants and Minang ethnic informants on speech style, differences in cultural values, and lack of information and knowledge about the culture of the other person. Accommodation efforts carried out by each ethnic Minang individual are diverse, some are converging and divergent. In addition, ethnic Javanese individuals also make accommodations by asking for help from a third person or friend to help him communicate with strangers.
HUBUNGAN ANTARA TERPAAN BERITA KASUS NARKOBA PESOHOR DENGAN CITRA PESOHOR DI MASYARAKAT Febrian Aditya Putra; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.904 KB)

Abstract

HUBUNGAN ANTARA TERPAAN BERITA KASUSNARKOBA PESOHOR DENGAN CITRA PESOHOR DIMASYARAKATJurnal LatpenPENDAHULUANPesohor sering sekali kita lihat di media massa, khususnya televisi dimanapada akhir-akhir ini televisi adalah sebuah media hiburan termudah, termurahyang bias dijangkau oleh banyak masyarakat. Besarnya kebutuhan masyarakatakan informasi dan hiburan pada media televisi memunculkan beberapa jenisprogram televise baru yang menampilkan sosok pesohor idola dan kehidupanpribadinya diluar pekerjaan seakan masyarakat dibawa lebih deakat dengankehidupan pesohor melalui beberapa program pemberitaan di televisi.Kemasan pemberitaan tentang pesohor sering menjadi komoditas utamatelevisi mengingat banyaknya stasiun televisi yang berlomba untuk memilikiprogram yang sama. Infotainment menampilkan sosok pesohor dalam sudutpandang yang lebih dekat, dan menampilkan apa yang belum pernah dilihatmasyarakat tentang idolanya tersebut. Hal ini berpotensi memunculkan prosesgatekeeping pada masyarakat pada saat menerima informasi. Baik informasi yangbaik atau yang buruk dari pesohor idolanya. Pembentukan citra dan stereotipdapat sangat mudah terjadi bila tayangan pemberitaan pesohor tersebut dilakukansecara berulang-ulang. Walaupun terbentuknya citra tidak dapat diukur secarakasat mata karena adanya faktor dan pengalaman yang berbeda, menjadikanpembentukan citra antar khalayak tidak sama.Belakangan ini kabar tentang pesohor yang terlibat kasus narkoba bukansebuah hal yang baru mengingat televisi beberapa kali menayangkan berita yangserupa. Padahal seharusnya pesohor selalu memberi pengaruh baik kepadamasyarakat untuk menjauhi narkoba karena pesohor memiliki kecenderungandijadikan panutan oleh sebagian masyarakat khusunya penggemar. Yangmemilukan, liputan 6 SCTV 27 Jan 2013 memberitakan bahwa BNN menangkap17 orang di rumah artis Raffi Ahmad satu diantaranya anggota legislatif, dan 3sebagai artis, sedangkan 13 lainnya adalah kawan artis pemilik rumah(sumber:liputan6SCTV)Televisi merupakan salah satu media massa, yang paling dekat denganmasyarakat. Memiliki jaringan yang kuat untuk menyampaikan informasi dengancepat dan memiliki jangkauan yang luas. Selain hal tersebut, televisi memilikipengaruh yang lebih besar dibanding media massa seperti koran dan radio. Beritakasus narkoba pada pesohor yang diangkat oleh infotainment, disiarkan secaralugas dan transparan melalui televisi. Sehingga masyarakat mampu mengetahuikasus narkoba yang dialami pesohor, dengan mudah dan gamblang. Terhitungantara tahun 2005 hingga sekarang, kurang lebih sebelas kasus narkoba yangdialami beberapa pesohor di Indonesia dimana setiap kasusnya dibahas padasetiap acara infotainment yang menbahas secara terus menerus pada jadwalmasing masing saluran televisi.Permasalahannya apakah setelah muncul pemberitaan kasus narkoba parapesohor yag ditayangkan secara terus menerus, akan mempengaruhi citra pesohordi masyarakat. Penelitian ini, mengkaji hubungan antara terpaan berita kasusnarkoba pada masyarakat dengan citra pesohor yang di bentuk oleh masyarakat.PEMBAHASANPesohor sudah menjadi bagian hidup dari masyarakat, sebagai inspiratordan penghibur. Kehidupan Pesohor semakin mendapat perhatian dari khalayakdengan adanya infotainment. Beberapa kali pesohor diberitakan tersangkut kasusyang melibatkan narkoba dan obat-obatan terlarang, sedangkan pesohormerupakan sosok yang banyak ditiru oleh penggemar ataupun pemirsa televisi.Media massa memiliki pengaruh besar kepada khalayak, mampu mempengaruhipemikiran, sikap dan perilaku khalayak. Penelitian ini diinspirasi oleh kutipandalam buku Jalaluddin Rahmat: “informasi itu dapat membentuk,mempertahankan atau meredefinisikan citra” (Rakhmat, 2005: 224). Penelitian inimencari tahu dan membahas hubungan dari pemberitaan kasus narkoba pesohordan citra pesohor di masyarakat.Hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa terdapat hubungannegatif antara terpaan pemberitaan kasus narkoba pesohor (X) dengan variabelcitra pesohor di masyarakat (Y). Artinya, semakin tinggi terpaan pemberitaankasus narkoba pesohor di televisi maka citra masyarakat mengenai pesohor akancenderung mengarah ke arah negatif..Cumulative Effects Theory dari Elisabeth Noelle-Neuman menyimpulkanbahwa media tidak punya efek langsung yang kuat tetapi efek itu akan terusmenguat seiring dengan berjalannya waktu. Cumulative Effects Theorymenyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghindari media, karena sudah kemana-mana, atau pesan media (McQuail, 2011: 216). Di sini teori tersebut terlihatdimana pertama, media membentuk formasi sosial dan sejarah dengan menyusunrealita (dalam fiksi maupun berita) dengan cara yang terprediksi dan terpola. Lalukedua khalayak membentuk sendiri pandangan mereka tentang realita sosial dankedudukan mereka di dalamnya, pada interaksi dengan konstruksi simbolik yangditawarkan media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada kecenderungan hubunganantara terpaan pemberitaan kasus narkoba pesohor di televisi dengan citramasyarakat mengenai pesohor. Tidak adanya kecenderungan hubungan antarakedua variabel tersebut, disebabkan oleh berbagai hal. Salah satu penyebabnyaadalah bahwa citra tidak hanya dibentuk berdasarkan faktor tunggal yang dominanTidak adanya hubungan dari kedua variabel disebabkan oleh berbagai hal,antara lain: Informasi yang diterima masyarakat tentang kasus narkoba pesohor tidak sertamerta memengaruhi citra pesohor yang dibentuk masyarakat. Masyarakat membentuk citra pesohor berdasarkan nilai-nilai yang melekat padacitra pesohor, yakni: gaya hidup pesohor,tutur kata dan penampilan pesohor. Banyak prestasi dan keunggulan yang dimiliki pesohor, sehingga membuat citrayang baik pada pesohor.Citra adalah dunia menurut persepsi kita (Rakhmat, 2005: 223).Informasi yang diterima masyarakat tentang kasus narkoba pesohor merupakansalah satu bentuk dari realita pesohor yang selanjutnya dipahami masyarakat. Darihasil kuesioner dan pengolahan data dapat ditemukan bahwa adanya pemahamanmasyarakat yang cukup baik tentang citra pesohor. citra pesohor di masyarakattergolong cukup baik. Hal tersebut ditandai melalui pandangan masyarakat pada,penampilan, gaya hidup dan tutur kata pesohor yang cukup baikPENUTUPPenelitian ini berangkat dari kutipan dalam buku Jalaluddin Rakhmat, yangmengatakan bahwa: “Buat khalayak, informasi itu dapat membentuk,mempertahankan atau meredefinisikan citra”. (Rakhmat, 2005: 224). Sehinggapenelitian ini mencoba membuktikan apakah informasi tentang kasus narkobayang dialami peshor mampu membentuk, mempertahankan atau meredefinisikancitra pesohor. Setelah dilakukan penelitian dengan melakukan wawancara pada 95responden menggunakan instrumen kuesioner, ternyata menunjukkan hasil bahwainformasi tentang kasus narkoba pesohor tidak secara langsung mempengaruhicitra pesohor di masyarakat.Dalam Penelitian ini, citra pesohor di masyarakat ditandai oleh responden melaluipandangan pada, penampilan, gaya hidup dan tutur kata pesohor yang cukup baik,dimana responden mewakili 4 kategori terpaan pemberitaan kasus narkobapesohor yang ditentukan. Terpaan berita kasus narkoba pesohor yang sangattinggi, cukup tinggi, kurang tinggi dan rendah, dengan jumlah masing – masingkategori yang tidak terlalu jauh atau timpang. Dan akhirnya dapat diketahuibahwa citra pesohor di masyarakat tergolong cukup baik. Hal tersebut ditandaimelalui pandangan masyarakat pada, penampilan, gaya hidup dan tutur katapesohor yang cukup baik.DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Irwan. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Ang, Ien. 1990. The Nature of the Audience. Dalam Downing, John, Ali Mohammadi,Annabelle Sreberny-Mohammadi [eds]. Questioning The Media: A CriticalIntroduction. California: SAGE Publication Inc.Barker, Chris. (2008). Cultural Studies, Teori & Praktik. Yogyakarta: KreasiWacana.Blake, Marc.2005. How to be a Comedy Writer. Great Britain: Summersdale PublishersLtd.Helitzer, Melvin. 2005.Comedy Writing Secrets. Ohio: F+W Publications, Inc.Rahardjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
MEMAHAMI ANTILOKUSI PADA POLISI Alifati Hanifah; Agus Naryoso; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.568 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya pemberitaan di media massa dan informasi negatif mengenai perilaku buruk polisi di masyarakat. Pemberitaan tersebut membuat masyarakat memiliki persepsi dan stereotip negatif dan munculnya prasangka terhadap polisi. Ekspresi prasangka terhadap polisi seringkali ditemui dalam taraf antilokusi, yaitu ekspresi menggunjingkan perilaku buruk polisi, dan menyebabkan komunikasi polisi dengan lingkungan sosial tempat tinggalnya menjadi terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana munculnya prasangka terhadap polisi dan bagaimana komunikasi digunakan untuk mengelola prasangka tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk pada paradigma interpretif dan tradisi fenomenologi. Peneliti menggunakan konsep persepsi dan stereotip untuk menjelaskan munculnya prasangka terhadap polisi, dan konsep lima ekspresi prasangka untuk menjelaskan ekspresi prasangka terhadap polisi yang seringkali ditemui di masyarakat. Teknik analisis yang digunakan adalah metode fenomenologi dari Van Kaam. Informan penelitian berasal dari anggota polisi dan masyarakat umum, yang sekaligus merupakan tetangga informan polisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prasangka terhadap polisi tidak selalu disebabkan oleh persepsi dan stereotip negatif yang dimiliki seseorang. Hal tersebut disebabkan adanya faktor lain yang menyebabkan munculnya prasangka yaitu lingkungan budaya informan yang merupakan lingkungan budaya konteks tinggi (high context cultural). High context cultural menjelaskan bahwa anggota budaya ini menggunakan latar belakang sosial untuk menilai seseorang, sehingga prasangka lebih mudah muncul dalam kelompok budaya ini. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa komunikasi untuk mengelola hanya dilakukan oleh informan polisi dikarenakan informan polisi memiliki kepentingan dan tujuan untuk mengurangi prasangka terhadap institusinya. Informan polisi menggunakan pesan verbal dan nonverbal untuk melakukan komunikasi tersebut. Cara yang digunakan informan merupakan ciri khas komunikasi yang dilakukan anggota budaya konteks tinggi. Keyword: Prasangka, Antilokusi dan Budaya konteks tinggi
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida