Claim Missing Document
Check
Articles

Found 161 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) CABANG SEMARANG SELATAN Nikolas Prima Ginting; Turnomo Rahardjo; Tandiyo Pradekso; Hapsari Dwiningtyas Sulistyani
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.545 KB)

Abstract

Communication climate in organization taking objective in the internal environment of an organization that includes members of the organization's perception based on the events that occur within the organization. conducive and democratic communication atmosphere in an organization made employee satisfactied of their works, made a positive performance and then produce willingness to seek a high level of performance, and facilitate the achievement of corporate goals.The goal of this research is to explain the influence of communication climate on employee performance in Regional Water Company (Perusahaan Daerah Air Minum - PDAM) South Semarang branch. Using a quantitative approach based questionnaire, based on five critical dimensions of communication climate that will be analyzed by the method / theory of science communication climate inventory developed by Peterson and pace (1976)Based on the analysis of data using Kendall tau correlation and the overall results of research, this study produce the conclusion that there is a relationship or correlation between organizational communication climate with PDAM employee performance semarang southern branch. The hypothesis stated that there is a significant relationship between organizational communication climate influence on employee performance. Employees found that organizational communication climate in the company is well run and effectiveAdvice can be given by researchers that the company should pay more attention to supporting factors to improve communication climate in the office, such as supportivenes behavior that used to observe that their communication with the boss to help them build and maintain confidence, can participate, transparency, trustworthy. Employees should be able to create a good atmosphere of the communication quality, both among fellow employees and the office leader to make each individual within the company to trust each other, motivate each other, and cooperate in running the tasks and responsibilities of the job. Employees should be more focused and strive to create harmony in the work, for example by building solid teamwork and also can cooperate with each other to settle the improvement to employee’s job satisfaction
MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOK Erva Maulita; Turnomo Rahardjo; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.834 KB)

Abstract

MEMAHAMI PENGATURAN PRIVASI KOMUNIKASI SANTRI PONDOK PESANTREN MODERN ISLAM TERKAIT DENGAN AKTIFITAS DALAM MEDIA JEJARING SOSIAL FACEBOOKErva Maulita1, Turnomo Rahardjo2, Sunarto3erva_maulita@yahoo.comInformasi privat adalah sebuah informasi yang sangat berharga dan dapat mempengaruhi eksistensi seseorang di tengah lingkungannya. Salah satu informasi privat yang dimiliki oleh santri pondok pesantren modern Islam adalah informasi tentang aktifitas yang dilakukannya di dalam media jejaring sosial facebook. Aktifitas tersebut menjadi sebuah aktifitas privat karena sangat penting bagi keberadaan santri di pondok pesantren modern Islam dimana ketika aktifitas tersebut diketahui oleh pengurus pesantren, maka santri tidak akan terlepas dari hukuman. Di sisi lain santri memiliki keinginan untuk menceritakan aktifitasnya di media jejaring sosial facebook tersebut kepada teman-temannya. Untuk mengatur batasan kepemilikan informasi privat tersebut, maka diadakan pengaturan privasi komunikasi yang di dalamnya terdapat sebuah perjanjian tentang hak dan larangan yang telah disepakati oleh seseorang dengan orang lain sebagai pihak kedua pemilik informasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan oleh santri dengan sahabatnya dalam menyembunyikan atau membuka informasi privat yang dimilikinya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook.Kata kunci: pengaturan privasi, dialektis, informasi privatPendahuluanKehidupan di dalam pondok pesantren modern Islam sangat identik dengan peraturan yang ada di seluruh aspek kehidupan masyarakat pesantren termasuk santri. Adanya peraturan tersebut merupakan suatu pembentuk identitas dari masyarakat pesantren itu sendiri. Dalam Littlejohn disebutkan bahwa identitas adalah sebuah rupa serta usaha apa yang kita lakuka untuk membentuk rupa kita. (Littlejohn, 2009: 295)Adanya berbagaimacam peraturan tersebutt menimbulkan adanya ketakutan komunikasi dimana santri merasa dirinya diawasi oleh keberadaan aturan yang dapat menempatkannya pada posisi bersalah apabila diketahui melanggar aturan tersebut. Ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan berinteraksi, dan keseganan. (Vivian, 2008; 99)Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dampaknya turut masuk ke dalam pondok pesantren modern Islam, santri mendapat sebuah jalan keluar dengan adanya keberadaan internet di lingkungan pesantren. Internet tersebut dapat diakses dengan mudah oleh santri tanpa adanya pengawasan yang ketat dari pengasuh pesantren terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan santri dengan memanfaatkan teknologi internet tersebut. Menurut John Vivian (Vivian, 2008; 262) internet adalah jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan web adalah struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar teks tetapi juga grafis, video, dan audio. Komunikasi web menggeser banyak dari kontrol komunikasi melalui media massa ke penerima, membalikkan proses komunikasi tradisional. Penerima tidak hanyamenerima pesan, seperti biasa kita jumpai dalam siaran berita televisi. Penerima kini bisa berpindah ke lusinan alternatif melalui jaringan yang mirip jaring laba-laba.Salah satu situs yang sering diunduh oleh santri dalam memanfaatkan fasilitas internet di pesantren adalah situs jejaring sosial facebook. Melalui facebook, seseorang bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja. Bagi seorang santri, facebook bisa digunakan sebagai sebuah jalan keluar untuk mengurangi ketakutan komunikasi. Oleh beberapa santri, facebook juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk terbebas dari aturan yang melarang santri bergaul dan berinteraksi dengan lawan jenis.Kajian TeoriSetiap orang memiliki informasi privat dan informasi publik terkait eksistensi dirinya di tengah lingkungannya. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal yang sangat penting bagi seseorang. Oleh karena itu, proses mengkomunikasikan informasi privat tersebut kepada orang lain disebut dengan pembukaan pribadi (private disclosure). (Turner, 2008;256). Menurut Petronio dalam Littlejohn (2009,307) seorang individu yang terlibat di dalam sebuah hubungan akan terus mengatur batasan-batasan antara apa yang umum dan pribadi, antara berbagaimacam perasaan-perasaan yang ingin dibagikannya kepada orang lain atau tidak ingin mereka bagikan.Dalam mengatur privasi komunikasinya, seseorang dihadapkan kepada dua pilihan antara kebutuhan untuk berbagi informasi tentang dirinya dengan kebutuhan untuk melindungi diri. Hal tersebut mengharuskan seseorang untuk menegosiasikan dan menyelaraskan batasan-batasan yang dijalinnya bersama orang lain. Hal inilah yang menjadi latar belakang ditemukannya Teori Pengaturan Privasi Komunikasi (Communication Privacy Management) oleh Sandra Petronio.Asumsi pertama dari teori ini adalah informasi rahasia tentang diri seseorang disebut dengan informasi privat. Teori pengaturan privasi komunikasi memberikan penekanan pada substans dari proses pembukaan pribadi atau pada hal-hal yang dianggap pribadi. Teori ini juga mempelajari bagaimana orang melakukan pembukaan melalui sistem yang didasarkan kepada aturan. (Turner, 2008: 256)Asumsi kedua adalah batasan privat. Batasan privat merupakan demarkasi informasi privat dan informasi publik. Dengan batasan ini, seseorang memberikan tanda informasi tentang dirinya yang bersifat privat maupun informasi yang bersifat publik. Ketika sebuah informasi diceritakan kepada orang lain, maka batasan disekelilingnya menjadi batasan kolektif dan informasi tersebut bukan hanya milik seorang diri namun sudah menjadi milik bersama (kolektif). (Turner, 2008; 257)Pengaturan privasi ini terdiri dari dua hal: pengembangan pengaturan privasi dan atribut pengaturan privasi. Pengembangan aturan privasi dipandu oleh beberapa kriteria yang ditetapkan oleh beberapa orang untuk mengungkapkan atau menyembunyikan informasi pribadi. Lima kriteria tersebut adalah: (1) kriteria budaya, (2) kriteria gender, (3) kriteria motivasi (4) kriteria kontektual, (5) kriteria biaya-manfaat (risk-benefit rasio).Menegosiasikan aturan dengan orang lain untuk kepemilikan informasi pribadi menjadi sebuah informasi bersama membutuhkan koordinasi dan menyelaraskan perilaku mereka yang terlibat di dalamnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: (1)aturan mengenai sifat tembus pandang (boundary permeability), (2) aturan tentang hubungan batasan (boundary linkage), (3) aturan mengenai kepemilikan informasi (boundary ownership). Ketika aturan-aturan tersebut dilanggar mungkin akan ada sanksi yang dijatuhkan. Petronio menyebutkan moment ini sebagai kekacauan batasan (boundary turbulance).Internet merupakan jaringan dasar yang membawa pesan. Sedangkan satu hal yang sangat dekat dengan internet adalah web, yang mengandung pengertian struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya antar eks tetapi juga grafis, video, dan audio (Vivian, 2008; 262). Vivian menyebutkan beberapa kekuatan internet: (1) dari segi isi, internet memuat banyak hal dari berbagaimacam bentuk file, (2) internet mempunyai ciri khas yang biasa disebut dengan daya navigasi yaitu link internal sehingga pengguna dapat dengan mudah berpindah halaman, (3) link eksternal merupakan ciri unik internet dimana dapat melakukan konektifitas antar situs secara global, (4) waktu menungu (loading) yang relatif cepat sehingga pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan informasi yang diinginkan (Vivian, 2008; 277)MetodeTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan pengaturan privasi komunikasi yang dilakukan santri pondok pesantren modern Islam terkait dengan aktifitas yang dilakukannya dalam media jejaring sosial facebook.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi, dimana peneliti akan mengkaji fenomena dari sudut pandang santri sebagai orang pertama yang mengalami secara langsung pengaturan privasi komunikasi yang dilakukannya terkait dengan aktifitas dalam media jejaring sosial facebook. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dan hakikat dari pengalaman pengaturan privasi komunikasi santri pondok pesantren modern Islam, tidak hanya mencari penjelasan mengenai suatu realitas, mendapatkan gambaran yang berasal dari orang pertama yaitu santri pondok pesantren modern Islam melalui wawancara formal dan informal.Situs penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dengan alasan bahwa PPMI Assalaam Surakarta memiliki keterbukaan terhadap media internet. Subjek penelitian adalah santri PPMI Assalaam Surakarta yang duduk di kelas Madrasah Aliyah atau yang setingkat.Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (indepth interview) dan kajian kepustakaan. Analisis interpretasi data menggunakan modifikasi dari Van Kaam (Moustakas, 1994: 120) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) listing and preminary grouping, (2) reduction and elimination, (3) clustering and thematizing the invariant constituens, (4) final identification of the variant constituent and themes by application: validation, (5) individual textural description, (6)individual struktural description, (7) textural-struktural description.PembahasanPondok pesantren modern Islam dekat dengan banyaknya aturan dan sistem punishment dan reward bagi siapa saja yang melanggar dan berprestasi. Aturan tersebut sebenarnya alat pembentuk identitas masyarakat pesantren. Dimana identitas terbentuk dari proses konstruksi makna yang dilatarbelakangi oleh atribur budaya atau sumber-sumber lain yang dapat dijadikan prioritas. Dan identitas tersebut mengacu kepada pelaku sosial. (Castell.2004:6)Proses pembentukan identitas berasal dari dua hal. Proses pembentukan identitas yang berasal dari dalam diri seseorang disebut dengan subjective dimension sedangkan proses pembentukan identitas yang berasal dari apa yang orang lain katakan tentang diri anda disebut dengan ascribed dimension. (Littlejohn, 2009: 131). Penegakan kedisiplinan dan aturan yang ada di pesantren merupakan sebuah upaya subjective dimension. Sedangkan ascribed dimension sangat tergantung dari bagaimana proses subjecive dmension belangsung. Apabila proses “penggemblengan” yang dilakukan oleh pihak pengasuh pesantren sukses dan dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari santri maka masyarakat luar akan dapat menilai sendiri tentang identitas seorang santri.Namun tidak semudah itu dalam membentuk identitas seorang santri. Santri sebagai subjek sekaligus objek dalam pembentukan identitas tersebut memiliki karakteristik yang berbagaimacam. Lebih jauh disebutkan ada empat tahapan pembentukan identitas:Pada tingkat personal layer, santri dihadapkan kepada rasa keberadaan mereka menjadi bagian dari lingkungan pesantren. Dimana identitasnya sebagai seorang santri terkadang berbeda dengan identitasnya sebagai seorang individu. Tingkata kedua adalah enactmen layer dimana dalam tingkatan ini pengetahuan seseorang tentang seorang santri diperoleh dari apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, dan bagaimana dia bertindak. Tingkatan ketiga adalah relational. Hal ini berkaitan dengan siapa diri anda dalam interaksi dengan orang lain. Identitas dalam tingkatan ini mengacu kepada hubungan seseorang dengan orang lain. Tingkatan keempat adalah communal dimana pada tingkatan ini sebuah identitas diikat pada kelompok atau budaya yang lebih besar.Pada tingkatan communal tersebut muncul adanya ketakutan komunikasi dalam diri santri. Menurut John Vivian, ketakutan komunikasi adalah bagian dari kelompok konsep yang terdiri atas penghindaran sosial, kecemasan sosial, kecemasan interaksi, dan keseganan. (Vivian, 2008:99) ketakutan komunikasi ini ditunjukkan pada saat-saat tertentu, diantaranya ketika santri memutuskan untuk melanggar sebuah aturan, maka secara otomatis terdapat gesture tubuh yang aneh untuk sebisa mungkin menyembunyikan apa yang dilakukannya tersebut.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa identitas yang dibebankan kepada seseorang sebagai seorang santri yang diharuskan untuk taat dan patuh terhadap peraturan pesantren yang akan membentuknya menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti dan menggunakan ilmu agama pada setiap kegiatannya hanya berlaku sementara ketika santri tersebut berada di lingkungan pesantren. Ketika berada di luar lingkungan pesantren, maka identitasnya kembali menjadi identitas pribadi. Demikian pula ketika sedang berinteraksi dengan media jejaring sosial facebook.Berbagaimacam aktifitas yang dilakukan oleh seorang santri dalam media jejaring sosial facebook ternyata menjadi aktifitas yang dapat dikategorikan sebagai aktifitas pelanggaran peraturan pesantren. Namun santri berusaha untuk menyembunyikannya agar tidak diketahui oleh pengurus pesantren. Aktifitas-aktifitastersebut menjadi sebuah informasi privat yang aan dijaga dengan sebaik-baiknya oleh seorang santri. Informasi privat adalah informasi mengenai hal-hal penting yang sangat berarti bagi seseorang. Karena pentingnya hal ini bagi konsepsi seseorang akan dirinya dan bagi hubungannya dengan orang lain, maka sangat penting untuk mengkomunikasikan informasi privat ini kepada orang lain (Turner, 2008: 256)Pembukaan diri merupakan proses bercerita dan merefleksikan isi informasi privat seseorang kepada orang lain. Dalam melakukan pembukaan diri, seseorang dihadapkan dengan sebuah ketegangan apakah akan menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain dan menjadi rawan atau tidak. Dalam hal ini seseorang akan mengalami adanya pertentangan. Dimana yang dimaksud dengan pertentangan adalah dua hal yang berbeda dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya dalam diri seseorang dan mampu memberikan tekanan kepada orang tersebut. (Griffin, 2009: 155)Dalam membuat keputusan apakah hendak menceritakan informasi privat tersebut kepada orang lain atau tidak, seseorang membutuhkan orang yang dapat dipercaya untuk berbagi informasi privat tersebut. Dalam hal ini, santri mempercayakan kepada sahabatnya untuk menjadi pemilik kedua informasi privatnya. Yang dimaksud dengan hubungan persahabatan adalah sebuah hubungan yang didalamnya terdapat kegiatan saling mencari, saling memiliki, dan saling menunjukkan keterikatan yang kuat antara satu orang dengan yang lainnya. Persahabatan juga saling menerima, saling berbagi rahasia dan saling mempercayakan rahasia antara satu dengan yang lainnya, saling berbagi ketertarikan terhadap sesuatu, saling mendukung secara emosional, dan dalam hubungan persahabatan tersebut terdapat sebuah harapan untuk dapat mempertahankan hubungan itu sampai akhir. (Gambel. 2005: 266)Berkaitan dengan pembukaan diri yang dilakukan santri terhadap sahabatnya, kedua belah pihak memerlukan adanya aturan yang dapat mengatur kepemilikan informasi bersama tersebut. Aturan tersebut disepakati secara tidak tertulis dimana santri melakukan perjanjian dengan sahabatnya selaku pemilik kedua informasi privatnya untuk tidak menceritakan kepada pengasuh tentang informasi privat tersebut dalam kaitannya dengan interaksi dan aktifitas di media jejaring sosial facebook.Batasan kepemilikan informasi terdiri dari tiga hal: (1) boundary permeability (batasan mengenai sifat tembus aturan), (2) boundary linkage (aturan tentang hubungan batasan) dan (3) boundary ownership (aturan tentang kepemilikan batasang). (Littlejohn, 2009: 309)Selain melakukan perjanjian tidak tertulis dengan sahabatnya, hal lain yang dilakukan oleh seorang santri adalah mengatur batasan pertemanan. Santri tidak sembarangan menerima permintaan pertemanan. Santri akan menerima permintaan pertemanan oleh seseorang ketika mutual friend lebih dari dua puluh orang.Simpulan dan saranDari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa santri menggunakan media jejaring sosial facebook sebagai suatu upaya untuk terlepas dari adanya aturan yang mengikatnya dalam kehidupan sehari-hari di pesantren. Kegiatan di dalam facebook tersebut merupakan sebuah informasi privat yang di dalamnya terdapat sebah pengaturan privasikomunikasi yang dilakukan oleh santri bersama dengan sahabatnya sebagai pemilik kedua informasi privatnya tersebut. Santri memutuskan untuk membuka informasi privatnya tersebut dilatar belakangi oleh dua hal: (1) pemilik kedua informasi privatnya adalah orang yang memiliki kedekatan hubungan dan dapat dipercaya, (2) santri melakukan perjanjian berupa batasan-batasan kepemilikan untuk mencegah agar informasi privat tersebut tidak diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar pihak pengasuh pesantren lebih aktif dalam mengawasi aktifitas santri dengan menggunakan media internet terlebih lagi jejaring sosial facebook untuk terciptanya pribadi santri yang sesuai atau mendekati visi misi pesantren. Bila mana perlu, penulis menyarankan agar pengasuh pesantren memblokir situs facebook agar tidak dapat diakses oleh santri ketika berada di lingkungan pesantren. Hal ini untuk meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan santri dan dapat mempengaruhi identitasnya sebagai seorang santri yang diharapkan mempunyai akhlak dan kepribadian yang baik.Daftar PustakaCastell, Manuel. (2004). The Power Of Identity (2nd ed). Victoria: AustraliaDenzin, K., dan Lincoln, Y. (2009). Handbook of Qualitative Researh. Jogjakarta:Pustaka Pelajar.Devito, Joseph. (2009). Human Communication The Basic Course (11th ed).United States of Amerika: Pearson Education, Inc.Flew, Terry. (2005). New Media. Oxford: Oxford University PressGambel, M., dan Gambel, T. (2005). Communication Works (8th ed). New York:Mc Graw HillGriffin, EM. (2009). A First Look At Communication Theory (7th ed). New York:Mc Graw HillLittlejohn, S., dan Foss, K. (2009). Teori Komunikasi. Jakarta: SalembaHumanikaMartini, Rina dan kawan-kawan. (2010). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.Semarang: Undip PressMoleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakaryaMoustakas, Clark. (1994). Phenomenological Pesearch Methods. California:Sage PublicationNazir,Moh. (2009). Metode Penelitian (7th ed). Bogor: Ghalia IndonesiaSuswono, Sarlito. (2011). Psikologi Remaja (ed rev). Jakarta: Rajawali PressTata Tertib Dasar Santri (TIBSAR). 2012. Sukoharjo.Assalaam PublisherVivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed). Jakarta: KencanaWest, R., dan Turner L. (2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis danAplikasi (3th ed). Jakarta: Salmeba HumanikaSumber dari InternetIshaq, Muchammad. (2008). Pengertian Jejaring Sosial. Dalam http://ml.scribd.com/doc/78363152/Pengertian-Jejaring-Sosial diakses tanggal 06/09/2012 pukul 06.00.Darmasih, Ririn. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sex Pra Nikah Pada Remaja SMA di Surakarta. Dalam http://id.scribd.com/doc/69586907/11/Karakteristik-remaja diakses tanggal 24/10/2012 pukul 06.07Admin. (2012). Laboratorium Komputer. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/laboratorium-komputer diakses tanggal 19/03.2013 pukul 13.00Admin. (2012). Lapangan Futsal. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/lapangan-futsal diakses tanggal 19/03/2013 pukul 13.01Admin. (2012) Ruang Belajar. Dalam http://www.assalaam.or.id/live-streaming/ruang-belajar diakses tanggal 10/3/203 pukul 13.02
NEGOSIASI IDENTITAS KULTURAL TIONGHOA MUSLIM DAN KELOMPOK ETNISNYA DALAM INTERAKSI ANTARBUDAYA Isti Murfia; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.476 KB)

Abstract

Umumnya masyarakat mengganggap individu berdasarkan budaya dominan yang dilekatkan pada kelompoketnisnya. Tionghoa diidentikkan dengan selain Islam, dan Islam dianggap sebagai perwakilan agama pribumiyang direpresentasikan seperti pribumi itu sendiri, yakni : bodoh, malas, terbelakang (Afif, 2012 : 203).Selain itu, kebijakan Belanda atas penentuan wilayah tempat tinggal pribumi dan Tionghoa, sertapengelompokkan etnis di zaman kolonial memicu berkembangnya stereotip,dan etnosentrisme. Dampaknya,terdapat anggapan di kalangan Tionghoa jika menjadi muslim, maka menurunkan martabat mereka, sehinggamemicu diabaikannya Tionghoa yang menjadi muslim di kalangan etnisnya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan dan pengalaman Tionghoa muslim terhadapidentitas kulturalnya, dan bagaimana pengalaman menegosiasikannya. Metodologi penelitian yang digunakanadalah tipe kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berupaya menjelaskan proses pengalamanTionghoa muslim dalam menegosiasikan identitas kulturalnya dengan kelompok etnisnya. Penelitian ini jugadidukung oleh Teori Pengelolaan Identitas, Teori Negosiasi Identitas dari Stella Ting - Toomey, dan CoCultural Theory. Selain ketiga teori tersebut, terdapat penambahan konsep yaitu pengungkapan diri. Informandalam penelitian ini, terdiri dari Tionghoa muslim dan Tionghoa non muslim.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses negosiasi identitas kultural yang terjadi dipengaruhioleh kemampuan individu dalam mengungkapkan dirinya. Pengungkapan individu dalam proses menujunegosiasi identitas juga dipengaruhi faktor pengungkapan diri itu sendiri, seperti : besar kelompok, topik, danjenis kelamin. Kemudian, faktor kondisi dari intercultural communication ini, seperti kecenderunganinteraksi dan pemahaman (lebih) terhadap suatu hal, ikut serta memengaruhi penunjukkan identitas kultural.Selain itu, kecenderungan informan dalam penelitian ini memiliki upaya pengolahan stereotip melalui sikapproaktif, sehingga memberikan pemahaman yang cukup baik dalam memaknai Islam, kultural Tionghoa, danposisi diri mereka masing-masing. Akhirnya, pemahaman tersebut membantu mereka dalam proses negosiasiidentitasnya sesuai dengan tujuan yang mereka harapkan. Di antara ketiga kategori tujuan yang diungkapkanOrbe dalam Co Cultural Theory, menunjukkan bahwa kedua informan Tionghoa muslim berhasil mencapaitujuan akomodasi, satu informan Tionghoa muslim memilih tujuan asimilasi, dan satu informan lainnyamenetapkan tujuannya ke separasi. Kemudian, hal yang dianggap sebagai penyebab terhambatnya negosiasitidak terlalu memengaruhi karena minimnya interaksi di antara kedua belah pihak yang menjadi informandalam penelitian ini.Kata kunci : Tionghoa muslim, Negosiasi, Identitas Kultural
Memahami Basa Walikan dalam Membentuk Identitas Komunitas Masyarakat Kampung Badran, Yogyakarta Gusti Purbo Darpitojati; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.525 KB)

Abstract

This study aims to describe the process of identity forming in society’s community of Kampung Badran, Yogyakarta by basa walikan. This study is a qualitative study using naturalistic paradigm and phenomenological approach. The data in this study is obtained by doing in-depth interviews with five informants who are natives of Kampung Badran, in the age range of 35-60 years old and owning experiences related to using basa walikan in interactions among their community’s members. The results of this study are the process of identity forming begins with using basa walikan in interactions that occur in society’s community of Kampung Badran, both inside and outside the kampung. The usage of the language inside the kampung triggered other people in that community’s curiosity who then asked to be taught how to speak in that language, and then that language is spread inside society’s community in Kampung Badran. When the speakers were interacting using basa walikan outside Kampung Badran, many people in the outside of Kampung Badran became curious dan wanted to learn about that language, and then the speakers taught them how to use basa walikan. Due to basa walikan being taught to people outside Kampung Badran, that language became spread dan spoken extensively in youth’s intercommuncation in Yogyakarta. The using of basa walikan brings up certain identities that the speakers want to show, such as being “unique” and “different from the others”. Identities are also pinned by others to the language and the speakers based on their knowledge and experience, such as “thug”, “thug’s language”, and “unique”. Along with the degradation of basa walikan’s speakers, the living speakers choose to integrate themselves into the group of dominant cultural identity.
PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE Avianto Aryo Wicaksono; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSINama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : PENGARUH DAYA TARIK IKLAN SENSODYNE TERHADAP MINATPEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNEPenelitian ini dilatarbelakangi dari rasa ingin tahu penulis terhadap sejauhmana dayatarik iklan iklan pasta gigi sensodyne yang ditayangkan di televisi mampu mempengaruhiminat pembelian konsumen terhadap produk pasta gigi sensodyne. Mengingat, masihrendahnya kesadaran masyarakat terhadap persoalan gigi sensitif dan munculnya kompetitoryang juga bersaing dalam pasar gigi sensitif.Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Kota Semarang,berusia 20 tahun keatas, dan pernah melihat tayangan iklan Sensodyne. Tipe yang dipakaidalam penelitian ini adalah eksplanatori, yaitu tipe penelitian yang menjelaskan hubungankausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis.Tekhnik pengambilan sampleyang digunakan adalah teknik accidental sampling, dengan jumlah sample sebesar 40responden. Penelitian menggunakan metode wawancara dengan instrument penelitian berupakuesioner untuk pengambilan data.Berdasarkan hasil penelitian dari jumlah sample yang telah ditentukan, didapatkanbahwa daya tarik iklan Sensodyne di televisi tidak memiliki dampak atau pengaruh terhadapminat pembelian produk pasta gigi Sensodyne. Hal tersebut terlihat ketika daya tarik iklansangat menarik, tidak ada responden yang berminat membeli pasta gigi Sensodyne. Ketikadaya tarik iklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembeliankonsumen yang rendah (52,63%). Ketika daya tarik iklan cukup menarik, pengelompokanresponden terbanyak ada pada minat pembelian konsumen sangat rendah (68,75%). Ketikadaya tarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian yang juga sangat rendah (100%).Berdasarkan hasil penelitian, Sensodyne sebaiknya lebih melakukan pengembanganstrategi kreatif dalam periklanan, kemudian perlu juga ada pengembangan dari sisi strategimedia untuk meningkatkan awareness khalayak untuk memperkuat positioning Sensodyne,dan mengadakan event yang mengedukasi masyarakat tentang segala hal terkait penanganangigi sensitif.ABSTRACTNama : Avianto Aryo W.NIM : D2C006014Judul : INFLUENCE ATTRACTIONS SENSODYNE TOOTHPASTE AD AGAINSTINTERESTS PURCHASE PRODUCT SENSODYNE TOOTHPASTEThe research is motivated out of curiosity how far the author of the ad appealSensodyne toothpaste ad that aired on television can influence consumer buying interest onSensodyne toothpaste products. Whereas, the low public awareness of the problem ofsensitive teeth and the emergence of competitors who also compete in sensitive teeth.The population in this study is that people who live in the city of Semarang, aged 20years and over, and never saw Sensodyne advertising impressions. The type used in this studyis explanatory, that is the type of research that explains the causal relationship between thevariables through testing hipotesis.Teknik sampling used was accidental sampling technique,with a sample size of 40 respondents. Study using interviews with a research instrument inthe form of a questionnaire for data collection.Based on the findings of a predetermined number of samples, it was found that theappeal of Sensodyne ad on television have no impact or effect on the interest in the purchaseSensodyne toothpaste products. It is seen as very attractive advertising appeal, no respondentswere interested in buying Sensodyne toothpaste. When the appeal of attractiveadvertisements, grouping respondents on most consumer purchases of low interest (52.63%).When the advertising appeal is quite interesting, most respondents groupings exist in verylow interest consumer purchases (68.75%). When the appeal of advertising is not interesting,most existing clustering respondents on purchases interest is also very low (100%).Based on research results, we recommend Sensodyne more to develop a creativestrategy in advertising, then there should also be the development of the media strategy toraise public awareness to strengthen the positioning of Sensodyne, and hold events to educatethe public on all matters related to the handling of sensitive teeth.Nam : Avianto Aryo W.Nim : D2C006014Dosen Pembimbing : Dr. Turnomo RahardjoBAB IPENDAHULUANLatar Belakangperiklanan dirancang untuk mempromosikan atau mengkomunikasikan suatu pesan,baik pesan mengenai suatu produk, kegunaan, maupun informasi penting lainnya, dariperusahaan atau produsen kepada khalayak. Melalui pesan iklan ini diharapkan akan adarespon dari khalayak. Untuk mengoptimalkan penyampaian respon yang diharapkankhalayak, Pesan iklan harus dibuat sekreatif mungkin dalam mengkomunikasikan produkyang ditawarkan agar khalayak dapat mengerti, berminat, dan membeli produk yangditawarkan produsen. Oleh karena itulah diperlukan daya tarik iklan untuk calon konsumen.Daya tarik iklan sangat penting karena akan meningkatkan keberhasilan komunikasi dengankhalayak.Sensodyne dalam beriklan selalu konsisten menggunakan daya tarik pesan iklan yangmelibatkan kesaksian endorser. Dalam iklannya saat ini Sensodyne melibatkan endorserseorang yang dianggap ahli dalam persoalan gigi, yaitu drg.Ariandes Veddytarro yangmemberi kesaksian atau testimoni mengenai penyebab gigi sensitif dan bagaimana caramengatasinya dibarengi dengan visual untuk mendukung penjelasannya. Dengan daya tarikini diharapkan attention khalayak akan tergugah dengan keseluruhan iklan tersebut dan dapatmenimbulkan minat yang akhirnya dapat menggunakan produk pasta gigi sensodyne.Iklan merupakan salah satu bentuk promosi dalam komunikasi pemasaran, dimanamembutuhkan media untuk mengkomunikasikan produk yang akan diiklankann. Saat inibanyak perusahaan yang mengiklankan produknya melalui berbagai media, baik cetakmaupun elektronik. Salah satunya adalah melalui media televisi. Media ini dipilih karenaselain media ini sering digunakan di Indonesia, juga dalam waktu relatif singkat pesan dapatsampai khalayaknya dalam jumlah besarRumusan MasalahSensodyne bukanlah brand satu-satunya dalam pasar gigi sensitif. Terdapatkompetitor lain yang ikut dalam persaingan psata gigi sensitif, yaitu Pepsodent SensitiveExpert. Pasta gigi ini juga cukup gencar melakukan periklanan di televisi dengan berbagaidaya tarik pesannya sendiri. Dalam hal ini Sensodyne mencoba untuk tetap konsisten sejaktahun 2006 menggunakan daya tarik pesan dengan strategi gaya pesan bukti kesaksian(Testimonial Evidence) dimana sensodyne mengandalkan seorang ahli dalam menjelaskanpersoalan gigi dan menawarkan solusinya dengan menggunakan pasta gigi Sensodyne.Ditambah juga dari hasil studi GlaxoSmithKline yang menunjukkan bahwa tingkatkesadaran masyarakat terhadap masalah gigi sensitif masih tergolong rendah dimana 52%pasien dengan gigi sensitif tidak berkonsultasi ke dokter gigi dan 75% pasien gigi sensitiftersebut belum pernah menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif atau hanyamenggunakannya secara tidak teratur.Seperti diketahui televisi merupakan salah satu bentuk dari media massa, dimanamedia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lainnya, yaitu bersifataudiovisual. Oleh karena itulah peneliti tertarik untuk mengetahui apakah apakah daya tarikpesan iklan pasta gigi sensodyne di televisi mempengaruhi minat konsumen dalam membeliproduk pasta gigi sensodyne.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana daya tarik pesan iklan pasta gigiSensodyne mempengaruhi minat pembelian Produk Pasta Gigi Sensodyne.Kerangka TeoriTeori penghubung dalam penelitian ini menggunakan teori Model AIDA (Attention,Interest, Desire, Action)(Kotler, 2002: 633).Komunikasi persuasif didahului dengan upaya menarik perhatian khalayak(Attention). Apabila perhatian khalayak berhasil didapatkan, maka upaya selanjutnya adalahmenumbuhkan ketertarikan (Interest) terhadap produk yang dikenalkan melalui periklanan,sehingga timbul rasa ingin tahu secara lebih rinci dalam diri konsumen untuk mengikutipesan-pesan yang disampaikan. Tahap selanjutnya akan menimbulkan hasrat (Desire) untukmenggerakan keinginan atau minat beli khalayak untuk memiliki atau menikmati produk.Dan pada akhirnya konsumen segera dapat melakukan suatu tindakan pembelian terhadapusaha pemasaran yang dilakukan (Action).HipotesisBerdasarkan uraian daiatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin menarik dayatarik iklan pasta gigi sensodyne di televisi maka semakin tinggi pula minat beli konsumenterhadap pasta gigi sensodyneMetodologi Penelitian- Tipe Penelitian : Explanatory research, penelitian yang berusaha menjelaskanhubungan sebab akibat (kausal) antara variabel penelitian melalui pengujian hipotesisyang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalahantara Daya tarik iklan pasta gigi sesodyne di televisi (X) dengan minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne (Y).- Populasi sasaran : Masyarakat yang ada di Kota Semarang, berusia 20 tahun keatas,pernah melihat tayangan iklan Sensodyne.- Teknik sample: accidental sampling.- Sample: 40 sample.- Analisis Data: Tabulasi silangHasil PenelitianPENGARUH DAYA TARIK IKLAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNETERHADAP MINAT PEMBELIAN PRODUK PASTA GIGI SENSODYNE-Tabulasi Silang-Hubungan Daya Tarik Iklan Produk Pasta Gigi Sensodyne dengan Minat PembelianProduk Pasta Gigi SensodyneDaya TarikIklan (X)Minat Pembelian (Y)TOTALSangatTinggiTinggi RendahSangatRendahSangatMenarik0 0 0 0 0Menarik 01(5,26%)10(52,63%)8(42,10%)19(100%)CukupMenarik0 05(31,25)11(68,75%)16(100%)TidakMenarik0 0 05(100%)5(100%)TOTA L 40Analisa Tabulasi SilangDari hasil tabel tabulasi silang di atas diketahui bahwa tidak terdapat penagruh antara dayatarik iklan pasta gigi sensodyne terhadap minat pembelian produk pasta gigi sensodyne. Halini menunjukan bahwwa penelitian yang dilakukan ini tidak terbukti atau negatif.Hal tersebut terlihat pada tabulasi silang dimana pada baris kedua, ketika daya tarikiklan menarik, pengelompokan responden terbanyak pada minat pembelian konsumen yangrendah, dengan perincian persentase sebesar 52,63%. Kemudian pada baris ketiga, ketikadaua tarik iklan cukup menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minatpembelian konsumen sangat rendah, yaitu sebesar 68,75%. Pada baris keempat, ketika dayatarik iklan tidak menarik, pengelompokan responden terbanyak ada pada minat pembelianyang juga sangat rendah, yaitu sebesar 100%. Secara keseluruhan tabulasi silang tersebutmenggambarkan bahwa seberapapun daya tarik iklan pasta gigi sensodyne, minat pembelianproduk pasta gigi sensodyne tetap berada pada tingkat yang sangat rendah. Sehingga dapatdisimpulkan daya tarik iklan tidak mempengaruhi minat pembelian produk pasta ggisensodyne.Dalam penelitian ini terlihat bahwa daya tarik iklan tidak berbanding lurus denganminta pembembelian yang masih sangat rendah bagi konsumen. Hal ini bisa disebabkan jugamateri iklan yang kurang variatif dan kreatif. Dari awal peluncurannya sampai saat ini,produsen tetap mempertahankan gaya iklan kesaksian, tanpa adanya perubahan ataupenambahan materi iklan dan juga intensitas penayangan iklan yang masih minim, terbuktidari sebagian besar responden masih jarang melihat tayangan iklan sensodyne di mediatelevisi.PenutupBerdasarkan dari hasil temuan penelitian diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut:1. Hasil penelitian menunjukan bahwa daya tarik iklan pasta gigi sensodyne tidakmemberikan dampak atau pengaruh pada minat pembelian konsumen terhadap produkpasta gigi sensodyne.2. Strategi komunikasi atau strategi kreatif dalam bentuk periklanan yang dilakukanprodusen sensodyne belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini terlihat dari hasilpenelitian, yaitu walaupun iklan sensodyne masuk dalam kategori menarik namun minatpembelian konsumen terhadap produk sensodyne masih sangat rendah.SaranSetelah melakukan analisis dan kesimpulan, peneliti mengajukan beberapa saran kepadapihak-pihak yang terkait, antara lain:1. Berdasarkan dari tabulasi silang, daya tarik iklan belum mampu menggugah minatPembelian konsumen. Oleh karena itu sebaiknya sensodyne lebih melakukanpengembangan strategi kreatif dalam periklanan, seperti mungkin menambahkanendorser lainnya berupa kesaksian dari masyarakat yang telah menggunkan sensodyneatau mencoba menambahkan unsur musik dalam iklannya.2. Selain melakukan pengembangan strategi kreatif, sebaiknya juga ada pengembangandalam strategi media. Jadi sensodyne tidak hanya difokuskan melakukan kegiatanberiklan pada media televisi, melainkan juga pada media massa lainnya, seperti mediacetak atau media online. Hal ini dilakukan untuk terus menigkatkan awareness khalayakuntuk memperkuat positioning sensodyne dibanding kompetitornya agar ketikamasyarakat bersinggungan dengan persoalan gigi sensitif, akan ada peluang lebih besarkhalayak akan segera memilih sensodyne sebagai pemecah masalah persoalan mereka.3. Selain melakukan kegiatan promosi melalui periklanan, ada baiknya sensodyne jugamelakukan kegiatan-kegiatan yang langsung bersinggungan dengan khalayak, sepertimengadakan event atau acara-acara yang isinya mengedukasi masyarakat tentang segalahal terkait persoalan gigi sensitif dan juga cara menanganinya.DAFTAR PUSTAKADAFTAR BUKU Suyanto, M. (2007). Markting Strategi Top Brand Indonesia. Yogyakarta:CV. Andi Offset Suhandang, Kustadi. (2010). Periklanan Manajemen, Kiat dan Strategi.Bandung: Nuansa Morissan. (2010). Periklanan Komunikasi Pemasaran Terpadu Jakarta:Prenada Media Group Rakhmat, Jalaludin. (2009). Psikologi Komunikasi. Bandung:PT Remaja Rosdakarya Shimp, A Terence. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan KomunikasiPemasaran terpadu. Jakarta: Erlangga Widyatama, Rendra. (2009). Pengantar Periklanan. Yogyakarta:Pustaka Book Publisher Kasali, Rhenald. (1995). Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti Peter, J. Paul and Jerry C. Olson. (1999). Consumer Behavior: PerilakuKonsumen dan Strategi Pemasaran. Jakarta: Erlangga. Engel, James F., Roger D. Blackwell, Paul W. Miniard. (2000). PerilakuKonsumen. Jakarta: Binarupa Aksara Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-1, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo Kottler, Philip. (2002). Marketing Manajemen. Jilid-2, Edisi Milenium. Jakarta:PT. Prenhallindo Bungin, Burhan. (2005). Metodologi penelitian kuantitatif kopmunikasi, ekonomi,dan kebijakan publik, serta ilmu-ilmu lainnya. Jakarta: Prenada MediaINTERNET: http://www.antaranews.com/view/?i=1236663288&c=PRW&s= (Diunduh padatanggal 4 Oktober 2012 pukul 14.00) http://www.108csr.com/home/news.php?id=12574 (Diunduh pada tanggal 5oktober 2012 pukul 16.00) .http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/397493/44/ (Diunduhpada tanggal 5 oktober pukul 19.00) http://sensodyne.co.id/gigi_sensitive.html (Diunduh pada tanggal 14 Desember2012 pukul 15.00 WIB) -http://www.conectique.com/get_updated/article.php?article_id=4437 (Diunduhpada tanggal 14 Desember pukul 17.00) http://www.beritasurabaya.net/index_sub.php?category=9&id=7672&tags=Kesadaran--Merawat-Gigi-Sensitif-Masih-Rendah (Diunduh pada tanggal 15 Desemberpukul 09.00) file:///D:/LowKer%20Lowongan%20GlaxoSmithKline%20Indonesia%20Januari%202012.htm (Diunduh pada tanggal 15 Desember pukul 13.00)
IDENTITAS AGAMA DAN TOLERANSI DALAM INTERAKSI SOSIAL (STUDI KASUS DALAM MENYUARAKAN PEMBANGUNAN RUMAH IBADAH DI GARUT) Bening Shabilla Utami; Turnomo Rahardjo; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious sentiment often occurs in several areas in Indonesia, and continues to increase, where there are still many cases of religious intolerance. One of the cases was the refusal to build a house of worship for Christians in Dayeuhmanggung village. Christianity as a religion with smaller adherents in Dayeuhmanggung village coexists with Islam with larger adherents. The identity of each religion in which tolerance is established does not always work well due to lack of knowledge and lack of understanding of each other's culture. This study aims to find out how the interaction of the Muslim and Christian religious communities in personal and social activities in the village of Daya Manggung, Cilawu District, Garut Regency. The theory used is the theory of co-culture and the theory of cultural identity. This research is a descriptive study with a case study approach to look at the case in depth and examine the experiences of informants related to a phenomenon experienced with the main focus of communication interaction. In this study, using an in-depth interview technique to 3 adherents of Islam and 3 adherents of Christianity. The findings of this study reveal that the people of Dayeuhmanggung village have been able to realize the existence of religious differences. Public understanding of inter-religious harmony in Dayeuhmanggung Village is still categorized as not good enough due to disagreements regarding church construction. Even though in reality it will still be a proof that there is a community effort that always maintains inter-religious harmony. Informants who adhere to Islam Regarding the case of refusal to build a church in Dayeuhmanggung village themselves, they feel that the tolerance that exists on a daily basis is quite good. However, related to the construction of the church to be built at that time, according to them, it was not something that was easily accepted by local residents because the majority of the people in the village embraced Islam. The informant who is a Christian said that judging from the cases that had occurred some time ago, he felt that tolerance in the area could be paid more attention to. the absence of a church place of worship makes it difficult for them to worship easily. There is a fear based on the concerns of the majority religious group, namely Islam, over events that have occurred previously, such as cases in other areas where there are areas where the majority of Muslims continue to build churches, making other residents convert to religion, which is the reason for the refusal to be carried out by residents.
INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP PEMBERITAAN KASUS KEKERASAN SEKSUAL DI JAKARTA INTERNATIONAL SCHOOL DI TELEVISI Brillian Barro Vither; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.317 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren yang berlangsung. Begitu beranekaragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah program berita.Berita yang memuat peristiwa kekerasan dan kriminalitas mendapat perhatian yang cukup tinggi dari para penonton televisi. Bahkan berita kriminal dan kekerasan sering disiarkan pada jam-jam produktif untuk menarik minat masyarakat. Pemberitaan kekerasan yang berlebihan ditakutkan dapat menimbulkan efek bagi pemirsa yang menyaksikan berita tersebut secara terus menerus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan audiens mengenai pemberitaan kasus kekerasan seksual di Jakarta International School yang tayang pada program berita di televisi. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding pemberitaan dari program berita.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang menerima fakta yang ditayangkan oleh program berita sesuai dengan prefered reading (makna yang ditawarkan media). Kelompok ini diisi oleh mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS merupakan kasus yang menyeramkan. Kelompok negotiated reading, memaknai fakta yang ditayangkan sesuai dengan kenyataan, namun tidak setuju dengan cara penyampaiannya dalam program berita. Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan.Kelompok ini terdiri dari mereka yang menganggap bahwa kasus kekerasan seksual di JIS adalah kasus kriminalitas biasa dan tidak takut terhadap hal tersebutPenelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode berbeda dan menjadi dasar penelitian selanjutnya, terutama hal mengenai pemberitaan pesohor di infotainment dan khalayak aktif sehingga dapat menambah kajian penerimaan khalayak.
Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap Pendidikan Muhammad Syamsul Hidayat; Turnomo Rahardjo; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.212 KB)

Abstract

ABSTRACTIONTITLE :NAMA :NIM :ACCEPTANCE OF EDUCATION AMONG ANAKDALAM TRIBEM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Trough the nine-years compulsory education program, EducationDepartment of Soralangun, Jambi held socialization the importance of educationfor Anak Dalam Tribe. The local government was purpose to prevalent educationfor all Sarolangun citizen, included Anak Dalam Tribe. However, the fact is AnakDalam Tribe have some response about the education ratification by government,some of Anak Dalam Tribe accepting the education, but most of them resist thesocialization by government because they have not been taught by their parents,temenggung, and their ancestor, so they don’t have to accept it and attend school.This Research aims to find out the acceptance of education among AnakDalam Tribe, why most of them who have faith that education never been taughtby their ancestor instead accept it and finally attend school. This research wasconducted by using phenomenological approach by relating the governmentexperience of socialization who with theory of persuasion to encourage andchange the thought and assumption of Anak Dalam Tribe so they accept educationand attend school. Also acceptance and experience of Anak Dalam Tribe afterthey accept and attend school, this research attempts to explain the Anak DalamTribe’s efforts in order to be accepted by people outside agains the stereotypeabout them in the people’s sight and otherwise. The subject of this researchconsists of three people from government dan three Anak Dalam Tribe’s peoplewho attend school and settle outside the forest. The data was obtainedbyinterview, observation, and literature.Results of this study indicate that government was done persuasioncommunication by interacting directly with Anak Dalam Tribe, trying to convinceand changing the thought and behavior of Anak Dalam Tribe. In effort to changethe behavior, the governments formerly try to establish the cognitive and affectivecomponent from Anak Dalam Tribe, the expectation is by changing thecomponent, could change their behavior. To establish the cognitive component,government conveying the importance of education and then the teachers andexperts in their field indirectly has set an example for Anak Dalam Tribe. Thegovernment also gives all equipment and school supplies. Moreover, Anak DalamTribe is free of charge for school. It is done in order to establish the affectivecomponent of Anak Dalam Tribe. After cognitive and affective has been establish,it will be directly followed by changes of behavior, that is Anak Dalam Tribe whowant to attend school.Key words: acceptance, persuasion, Anak Dalam Tribe, educationABSTRAKSIJUDUL :NAMA :NIM :Penerimaan Suku Anak Dalam Terhadap PendidikanM. SYAMSUL HIDAYATD2C606031Dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun, Dinas PendidikanKabupaten Sarolangun, Jambi, mengadakan sosialisasi pentingnya pendidikanterhadap Suku Anak Dalam (SAD). Tujuan dari pemerintah daerah adalahmeratanya pendidikan bagi semua warga masyarakat yang ada di KabupatenSarolangun, termasuk Suku Anak Dalam. Namun, pada kenyataannya adalah,Suku Anak Dalam memiliki beberapa tanggapan tentang disosialisasikannyapendidikan oleh pemerintah, sebagian Suku Anak Dalam menerima adanyapendidikan, namun sebagian besar menolak sosialisasi yang dilakukan olehpemerintah dengan alasan tidak sesuai dengan tradisi yang diajarkan dalamingroup oleh temenggung, hingga nenek moyang mereka, sehingga Suku AnakDalam tidak harus menerima dan bersekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan Suku Anak Dalamterhadap pendidikan, mengapa Suku Anak Dalam yang mayoritas memilikikepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang merekajustru ada yang menerima hingga akhirnya bersekolah. Penelitian ini dilakukandengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang mengaitkan pengalamanpengalamanpemerintah dalam melakukan sosialisasi melalui teori persuasi untukmengajak serta merubah pemikiran serta anggapan Suku Anak Dalam sehinggaSuku Anak Dalam menerima pendidikan dan sekolah. Serta penerimaan danpengalaman Suku Anak Dalam setelah Suku Anak Dalam menerima danbersekolah, penelitian ini juga mencoba menggunakan co-cultural theory untukmenjelaskan usaha-usaha Suku Anak Dalam agar dapat diterima oleh masyarakatluar setelah adanya strereotip negatif tentang Suku Anak Dalam. Subyekpenelitian terdiri dari tiga orang pemerintah dan tiga orang Suku Anak Dalamyang bersekolah dan menetap di luar hutan, dimana pengumpulan data diperolehdari hasil wawancara, observasi, dan studi pustaka.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemaknaan individu Suku AnakDalam yang telah bersekolah terhadap pendidikan telah berubah. Pendidikan danbersekolah dimaknai sebagai salah satu hal yang menyenangkan sertamenguntungkan untuk masa depan individu Suku Anak Dalam. Pengetahuan barusetelah bersekolah membuat cara pandang individu Suku Anak Dalam tentangmasa depan mengalami perubahan, tentang cita-cita dan lapangan pekerjaan yanglebih layak. Pengalaman-pengalaman baru juga dirasakan individu Suku AnakDalam setelah bersekolah, sepertiKey words: penerimaan, persuasi, Suku Anak Dalam, pendidikanPENERIMAAN SUKU ANAK DALAM (SAD)TERHADAP PENDIDIKANSummary SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata IJurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun :Nama : M Syamsul HidayatNIM : D2C606031JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANPendidikan, merupakan salah satu bagian dari hak asasi manusia yang harusterpenuhi, selain menjadi bagian dari hak asasi manusia, pendidikan jugamerupakan salah satu elemen penting dimana suatu kesuksesan dan kemajuanNegara di ukur oleh seperti apa pendidikan di Negara tersebut. Oleh karena itusetiap warga negara Indonesia berhak untuk memperoleh kesempatan belajarsebaik-baiknya dengan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang layak. Sehinggadimanapun mereka berada harus dapat dijangkau oleh fasilitas pendidikan yanglayak sebagai hak-hak asasi bagi mereka.Adanya program wajib belajar Sembilan tahun yang digalakkan olehpemerintah sejak beberapa tahun yang lalu mendapat respon yang positiv bagimasyarakat Indonesia. Tentunya, hampir semua pemerintah daerah juga berperanserta dalam mensosialisasikan program tersebut. Tidak ketinggalan yangdilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten Sarolangun, Jambi. Pemerintahdaerah sarolangun pun tidak pandang bulu, semua elemen masyarakat, baik yangdi kota, pedesaan hingga daerah yang susah dijangkaupun menjadi targetpemerintah guna sosialisasi pentingnya pendidiakn. Salah satunya Suku anakdalam, tentunya menjadi sesuatu yang sangat baru bagi suku anak dalam. Banyakdari mereka yang hingga sekarang masih kurang bisa menerima sosialisasi yangdilakukan oleh pemerintah.Program pendidikan bagi Suku Anak Dalam yang dicanangkan olehpemerintah cenderung memunculkan fenomena perubahan perilaku bagi SukuAnak Dalam. Pasalnya, Suku Anak Dalam atau Suku Kubu yang pada awalnyabelum pernah sama sekali mengenal pendidikan justru mau menerima adanyapendidikan. Meskipun belum semua Suku Anak Dalam (SAD) yang ada maubersekolah, setidaknya, lebih dari 50 anak telah melaksanakan kegiatan belajarmengajar.Namun, Suku Anak Dalam, yang pada hakekatnya lebih suka berburu danmelangun, cenderung kurang bisa menerima adanya perubahan dan serta adanyasesuatu yang baru, yang menutup diri dengan perkembangan serta kemajuan.Suku Anak Dalam lebih susah diatur, dalam arti susah jika diberi penjelasantentang sesuatu yang baru, semisal tentang pendidikan, mereka lebih memilihmelangun daripada harus duduk dikursi sekolah mendengarkan danmemperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh pengajar.Bahkan, beberapa individu Suku Anak Dalam cenderung beranggapanbahwa sekolah adalah sesuatu yang menyesatkan dan sekolah merupakan sesuatuyang belum dan tidak pernah diajarkan oleh nenek moyang mereka, terlebihsekolah tidak membuat mereka kenyang. Padahal, Surjadi dalam bukunyaPembangunan Masyarakat Desa mengatakan bahwa, Bila kesempatan akanlapangan pekerjaan berkembang diluar masayarakatnya, maka sekolah dianggapoleh orang - orang sebagai pintu gerbang bagi anak - anaknya untuk memperolehpekerjaan yang baik diluar masyarakat (Surjadi, 1989: 101). Apa yangdisampaikan oleh Surjadi jelas bahwa pendidikan merupakan elemen serta saranautama untuk membuka masa depan dan cita-cita.Adanya sesuatu yang baru dalam kelompok atau tatanan masyarakattentunya menjadikan pengalaman yang baru juga bagi manusia atau masyarakattersebut. Masyarakat yang pada awalnya belum mengenal serta mengetahuitentang pendidikan, belajar mengajar dan bersekolah, masyarakat yang padadasarnya masih memegang teguh ajaran-ajaran adat istiadat, sebagian dari merekakini telah mengenal serta melakukan kegiatan belajar mengajar. Namun tidakdemikian bagi sebagian kecil Suku Anak Dalam yang ada di Desa Air HitamKecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun atau yang berada di Taman NasionalBukit Duabelas, sebagian kecil dari Suku Anak Dalam yang ada disana telahmengenal serta melakukan pendidikan atau kegiatan belajar mengajar. Hal inimenjadi pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah dirasakan sertadiperoleh oleh mereka Suku Anak Dalam. Pendidikan menjadi fenomena barubagi mereka, pengalaman serta kahidupan baru tentunya.Disinilah yang menarik. Suku Anak Dalam yang pada dasarnya taat sertamasih menjunjung ttinggi ajaran-ajaran yang diajarkan oleh nenek moyangmereka justru mau serta bisa menerima adanya pendidikan serta kegiatan belajarmengajar. Bagaimana penerimaan Suku Anak Dalam terhadap fenomena baruyang sebelumnya belum pernah mereka rasakan, yaitu pendidikan. Fenomenaserta pengalaman seperti apa yang membuat dan menjadikan mereka maubersekolah. Pengalaman seperti apa yang mereka dapatkan setelah melaksanakankegiatan belajar mengajar selama ini.PEMBAHASANPada awalnya, para individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki pandanganatau persepsi negatif terhadap pendidikan formal. Fenomena tersebut terkaitdengan ajaran dari orang tua, temenggung (kepala suku), dan bahkan nenekmoyang mereka yang mengasumsikan bahwa pendidikan yang diterima darisekolah bukanlah sebuah kegiatan yang wajib untuk dilakukan. Alasannya,dengan mengikuti kegiatan belajar di sekolah, maka waktu mereka untukmelakukan kegiatan seperti berhutan menjadi tersisihkan, sehingga label yangkemudian muncul adalah mereka akan meninggal karena tidak dapat memenuhikebutuhan hidup mereka dari berhutan.Pendidikan formal atau bersekolah adalah salah satu fenomena yang relatifbaru bagi individu Suku Anak Dalam. Sebelumnya, mereka tidak pernahdiperkenalkan adanya istilah pendidikan maupun istilah bersekolah. Seperti yangdisampaikan oleh Edmund Husserl, bahwa fenomenologi berfokus padabagaimana orang mengalami fenomena tertentu, menyelidiki bagaimana individumengkonstruksikan makna dari sebuah pengalaman yang mereka alami danbagaimana makna yang ditangkap oleh individu tersebut bisa memicuterbentuknya makna kelompok atau bahkan membentuk pemahaman baru padakebudayaan tertentu (Vandersteop dan Johnston, 2009: 206). Terkait dalam hal iniadalah kemunculan pengetahuan baru dari pengalaman individu Suku AnakDalam mengenai pendidikan yang diperolehnya, serta menghasilkan beberapapandangan yang berhasil dimaknai oleh individu Suku Anak Dalam.Persepsi awal dari Suku Anak Dalam terhaap pendidikan yang terbentukcenderung negatif. Namun, seiring dengan terus dilakukannya sosialisasi olehpemerintah tentang pentingnya pendidikan serta adanya faktor pendorong internal(cita-cita hidup) dalam diri individu Suku Anak Dalam, sebagian individu SukuAnak Dalam cenderung menjadi lebih aktif untuk mengikuti kegiatan belajar disekolah. Bahkan, pemerintah membangun Sekolah Dasar khusus bagi Suku AnakDalam. Persepsi individu Suku Anak Dalam terhadap pendidikan formal yangpada awalnya menganggap bahwa pendidikan adalah ajaran yang tidak benar,dalam perkembangannya cenderung mulai mengalami perubahan, dan bahkanSuku Anak Dalam telah bersekolah dan menempati rumah yang disediakan olehpemerintah.Sehingga, individu Suku Anak Dalam cenderung memaknai pendidikandan bersekolah sebagai salah satu hal yang menyenangkan sekaligusmenguntungkan. Hal ini disampaikan oleh salah satu individu Suku Anak Dalambahwa dengan bersekolah maka akan mendapatkan makanan ataupun jajanan,bahkan program rekreasi atau berwisata yang diselenggarakan oleh sekolahmenjadi salah satu faktor pendorong bagi Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Fenomena paling menonjol terkait dengan konstruksi makna pendidikan bagiindividu Suku Anak Dalam adalah bahwa dengan mengikuti pelajaran di sekolah,mereka memiliki gambaran tentang cita-cita hidup seperti ingin menjadi seoranganggota kepolisian. Cita-cita tersebut terungkap melalui pengalaman masa laluyang kurang menyenangkan, karena mereka merasa sering menjadi korbanpenipuan dari toke atau pengepul. Hal tersebut mengindikasikan adanyaperubahan dalam memahami makna pendidikan formal yang diterima olehindividu Suku Anak Dalam. Pernyataan tersebut bukan menjadi satu-satunyaalasan informan Suku Anak Dalam memaknai pendidikan dan bersekolah, merekamenganggap bahwa bersekolah adalah salah satu cara untuk mencari temanbermain yang banyak, dan bukan hanya dari kalangan Suku Anak Dalam saja,namun teman dari orang luar (bukan Suku Anak Dalam).Dalam pengalaman sadar yang dialami individu Suku Anak Dalam,terdapat beberapa faktor yang mendorong individu Suku Anak Dalam untukbersekolah, yaitu adanya rayuan serta pemberian sesuatu yang menarik (imingiming)oleh pemerintah dan pihak sekolah, membuat individu Suku Anak Dalamakhirnya bersekolah. Para informan mengungkapkan bahwa dengan adanyapemberian baju baru (seragam sekolah) menjadi salah satu alasan individu SukuAnak Dalam untuk bersekolah. Selain itu, pemberian perlengkapan dan kebutuhansekolah oleh pemerintah daerah, juga menjadi faktor penarik tersendiri bagiindividu Suku Anak Dalam untuk bersekolah.Pada awalnya, keinginan bersekolah terbentuk bukan karena adanyadorongan pribadi (faktor internal) dari individu Suku Anak Dalam. Para informanmengatakan bahwa alasan pertama mereka bersekolah lebih kepada faktoreksternal, yaitu dorongan dari orang tua mereka. Alasan orang tua Suku AnakDalam meminta anaknya untuk bersekolahpun bukan tanpa alasan, para orang tuamengatakan, dengan bersekolah maka akan diberikan makanan serta pakaian barutanpa dipungut biaya. Asumsi orang tua Suku Anak Dalam tersebut didasari dariadanya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah yang menyampaikan suatuinformasi mengenai adanya reward jika anak-anak aktif bersekolah.Fenomena yang paling menonjol terkait dengan minat individu Suku AnakDalam untuk menimba ilmu di sekolah formal adalah adanya pembagian makananyang dilakukan oleh pihak sekolah. Bagi para informan, adanya pembagianmakanan yang dilakukan oleh pihak sekolah secara rutin, membuat merekamenjadi bersemangat untuk tetap bersekolah. Pembagian makanan yang diberikanatau dilakukan oleh pihak sekolah membuat Suku Anak Dalam ahirnyabersekolah, ketertarikan individu Suku Anak Dalam terhadap makanan orang luar(bukan Suku Anak Dalam) menjadi salah satu daya tarik bagi mereka untukberangkat ke sekolah. Hal ini terjadi karena Induvidu Suku Anak Dalam merasatidak memiliki kemampuan untuk membuat makanan selayaknya yang dimakanoleh orang luar, makanan seperti nasi goreng, bubur, dan lauk pauk seperti ikanlaut tidak pernah dirasakan oleh individu Suku Anak Dalam.Suku Anak Dalam beranggapan bahwa sekolah dan belajar telahmemberikan sebuah pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah merekadapatkan. Sekarang, Suku Anak Dalam yang telah bersekolah mengaku menjadisemakin mengenal nama-nama pahlawan perjuangan. Jika dibandingkan dengansebelum Suku Anak Dalam bersekolah, mereka tidak mengenal nama-namamenteri bahkan nama presiden Indonesia. Kemampuan mengoperasikan bendaelektronik juga menjadi salah satu pengalaman berbeda yang sebelumnya tidakmereka dapatkan. Dengan kemampuan membaca yang mereka miliki, kini SukuAnak Dalam yang telah bersekolah mampu mengganti channel televisi yang adadi rumah mereka, serta mengganti dan mencari channel parabola yang telahterpasang di rumah. Kemampuan mengoperasikan benda elektronik lainnyaseperti handphone juga menjadi salah satu pengalaman baru bagi Suku AnakDalam. Ketika Suku Anak Dalam sebelum bersekolah, mereka hanyamenggunakan handphone sekedar untuk menonton televisi dan memutar lagu, kinimereka mampu memaksimalkan kegunaan handphone tersebut, selain untukberkomunikasi, mereka telah mampu meng akses facebook dari handphonemereka.dengan bersekolah dan belajar menjadikan mereka memiliki kemampuanuntuk membaca serta menulis, memiliki kemampuan bersosialisasi danbernegosiasi. Dibandingkan dengan ketika Suku Anak Dalam belum bersekolah,Suku Anak Dalam tidak pernah berhubungan, bersosialisasi, dan berinteraksidengan orang luar, meskipun pernah, interaksi hanya terjadi beberapa kali dantidak se sering sekarang. Hal ini terjadi dikarenakan kehidupan Suku Anak Dalamyang lebih banyak berada di hutan. Sebelum sekolah, Suku Anak Dalam keluardari hutan hanya ketika hendak menjual hasil hutan mereka. Berbeda denganketika Suku Anak Dalam telah bersekolah seperti sekarang, bagi Suku AnakDalam yang telah bersekolah, bersosialisasi dengan orang luar kini lebih seringterjadi. Hal ini terjadi karena selain di sekolah mereka harus bersosialisasi denganorang luar, kehidupan sehari-hari juga menuntut Suku Anak Dalan untuk lebihsering bersosialisasi dengan orang luar, karena perumahan yang Suku AnakDalam tempati berada di lingkungan dan di sekitar rumah warga atau hampirsemua tetangga mereka adalah orang luar.Dengan berpindah serta bertempat tinggal Suku Anak Dalam di sekitaratau bertetangga dengan orang luar telah merubah anggapan serta stereotypeSuku Anak Dalam terhadap orang luar. Dengan berteman dengan orang luar,komunikasi serta interaksi mereka menjadi semakin intens dan semakin sering.Fenomena tersebut membuat mereka saling membuka diri satu sama lain, MenurutIrwin Altman dan Dalmas Taylor (Littlejohn, 2005 : 194) dalam teori penetrasisosial (Social Penetration Theory) bahwa seseorang melakukan komunikasi yangbergerak dari unintimate kemudian mencapai puncak pada titik intimate. Prosestersebut adalah penetrasi yang mana syarat mutlaknya yaitu self disclosure atauketerbukaan. Terjadinya keterbukaan diri diantara Suku Anak Dalam denganorang luar lebih dilatar belakangi adanya keinginan untuk saling mengenal satusama lain, memperoleh pengetahuan dari apa yang sebelumnya belum pernahdidapat oleh mereka.Suku Anak Dalam yang telah mampu dan melangsungkan komunikasiatau sosialisasi dengan orang luar merupakan salah satu contoh adanya upaya dariSuku Anak Dalam (kelompok minoritas) agar diterima oleh orang luar (kelompokmayoritas). Orbe menjelaskan dalam co-cultural theory, yang mengkajibagaimana anggota kelompok minoritas berkomunikasi dengan anggota kelompokdominan (Littlejohn, 2009: 264). Usaha yang dilakukan oleh individu Suku AnakDalam cenderung mengarah pada tujuan asimilasi. Fenomena yang terjadi antaraSuku Anak Dalam dengan orang luar, selain telah melakukan komunikasi danbersosialisasi dengan orang luar, Suku Anak Dalam juga mengganti nama mereka.Seperti informan yang penulis temui, dua dari tiga informan Suku Anak Dalamtelah merubah namanya, yang pertama adalah Abdul Rahman, yang memilikinama asli Nyembah, yang ke dua adalah Farida yang memiliki nama asliGemensek.PENUTUPPada awalnya, individu Suku Anak Dalam cenderung memiliki persepsi negatifterhadap pendidikan yang disosialisasikan oleh pemerintah. Hal itu terjadi karenabertentangan dengan ajaran leluhur, sehingga individu Suku Anak Dalam merasatidak perlu bersekolah. Namun seiring dengan perkembangan waktu, persepsimereka mulai berubah. Individu Suku Anak Dalam merasa senang denganbersekolah, karena ketika bersekolah, mereka akan mendapatkan makanan sertajajan yang dibagikan oleh pihak sekolah.Ada beberapa faktor yang akhirnya mampu membuat para individu SukuAnak Dalam menerima pendidikan. Penerimaan individu Suku Anak Dalamdipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, seperti adanya imbalan atau sesuatu yangmenarik yang diberikan dan disampaikan oleh pemerintah. Serta adanya doronganatau ‘perintah’ dari orang tua mereka untuk bersekolah. Meskipun dorongan dariorang tua mereka dilatar belakangi dengan adanya imbalan berupa akandibagikannya pakaian baru (seragam sekolah) dan makanan oleh pihak sekolah.Dengan bersekolahnya individu Suku Anak Dalam, pengalamanpengalamanbaru dialami oleh mereka. Memiliki teman serta bersosialisasi denganorang luar (bukan Suku Anak Dalam) menjadi pengalaman baru yang didapatketika bersekolah. Kemampuan menggunakan dan mengoptimalkan peralatanelektronik, memiliki kemampuan membuat serta log in sosial media sepertifacebook di handphone juga dimiliki oleh individu Suku Anak Dalam setelahbersekolah. Hal ini didasari pada kemampuan menulis, membaca, dan berbahasaInggris yang diajarkan ketika mereka bersekolah.DAFTAR PUSTAKALittlejohn. Stephen W, and Foss. A Karen. 2009. Teori Komunikasi: Theories ofHuman Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Surjadi A. 1989. Pembangunan masyarakat Desa. Bandung: PT. Mandar MajuVanderstoep, Scott W. and Deirdre D. Johnston. 2009. Research Methods forEveryday Life “Blending Qualitative and Quantitative Approaches”. SanFransisco, CA: Jossey-Bass.http://www.kpde.batangharikab.go.id/?p=166 (diunduh pada tangal 7 November2012)http://www.tarungnews.com/fullpost/budaya/1318475559/kehidupan-primitifsuku-kubu-anak-dalam-di-jambi.html (diunduh pada tanggal 10 November2012)
Representasi Nilai-Nilai Ajaran Masyarakat Samin dalam Film Lari dari Blora Indra Bagus Kurniawan; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 9, No 3: Juli 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Samin community is known as an conservative community group, unwilling to attend formal schools, unwilling to submit to government regulations, unwilling to accept outside culture, and a lot of closure to outsiders. The film Lari dari Blora seeks to fight this stigma by presenting the teachings of the Samin community which are used as guidelines for everyday life in the village environment of Samin. This film tells the story of various problems that occur in cultural life, where they must defend their identity even in unfavorable situations. This study aims to explain how the life of the Samin people in Blora Regency which is shown in the film Lari dari Blora and to explain how the representation of the teachings of the Samin people is shown in the film Lari dari Blora using qualitative research methods. This research refers to the constructivism paradigm. The theory used in this research is Roland Barthes' semiological theory. Data collection techniques used in this study are documentation and observation. The results of this study reveal that the film Lari dari Blora wants to give a message that the Samin people in Blora Regency live in a sphere of simplicity and harmony in the midst of technological developments and globalization currents that make the Samin people struggle to maintain the culture that has been adopted and passed down by their ancestors they. The film Lari dari Blora gives a message that the Samin community will no longer close themselves to the presence of outsiders who enter their group, and begin to open themselves up to socialize with groups that have different principles and teachings.
Analisis Bingkai: Konstruksi Koruptor di Majalah Detik Rossa Oktaviyani; Hapsari Dwiningtyas; Dr Sunarto; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.023 KB)

Abstract

Media massa cenderung menggambarkan perempuan pelaku kejahatan seperti pembunuhanmaupun pelecehan seksual dengan menonjolkan penderitaan mental, psikologis dan cacatfisik. Lain halnya jika laki-laki yang melakukan tindak kejahatan, media lebih berfokus padakorbannya, motif pelaku, atau modus kejahatannya. Fenomena yang terjadi sekarang adalahbanyaknya perempuan yang bekerja di sektor publik namun melakukan tindak kejahatankorupsi. Media sebagai sumber informasi turut mengambil andil dalam membentukkonstruksi masyarakat tentang para koruptor iniPenelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana sikap Majalah Detikdalam mengemaspemberitaan laki-laki dan perempuan pelaku korupsi. Teori yang digunakan diantaranya teorikonstruksi realitas sosial, teori konstruksi sosial media massa, konsep media and crime danmaskulinitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatananalisis framing model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki. Analisis framing model inidibagi menjadi empat struktur, yaitu: struktur sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Berdasarkan struktur sintaksis diperoleh frame yang menunjukkan perempuanmanipulator kalah yang sedang menjalani karma dan laki-laki playboy yang bersalah namunmasih berani melawan. Struktur skrip diperoleh frame perempuan manipulator yang jelasbersalah dan sedang menjalani karma dan laki-laki agresor masih berani melawan. Strukturtematik diperoleh frame perempuan manipulator kalah yang sedang menjalani karma danlaki-laki agresor masih berani melawan. Struktur retoris diperoleh frame perempuan cantikyang tidak benar sebagai simbol komersialisme yang sedang menjalani karma dan laki-lakiplayboy yang bersalah namun masih berani melawan. Dari keempat struktur tersebut dapatdiperoleh frame utama yaitu perempuan pelaku korupsi layak mendapatkan hukumansedangkan bagi laki-laki pelaku korupsi frame utamanya adalah laki-laki yang masihmemiliki kekuatan untuk melawanKata kunci: framing, konstruksi, korupsi, Majalah Detik
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kartika, Muh. Medriansyah Putra Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida