Claim Missing Document
Check
Articles

Implementasi Teknologi CCTV Berbasis Artificial Intelligence Untuk Pemantauan Kendaraan Di Ruas Jalan Brigjen H. Hasan Basri Kota Banjarmasin Adhi Surya Al Banjari; Syahrial Shaddiq Al Banjari; Sulastini Sulastini; Anovan Anshari; Steven Kenli
Jurnal Penelitian Teknik Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Teknik
Publisher : Jurnal Penelitian Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan Brigjen H. Hasan Basri merupakan koridor utama Kota Banjarmasin dengan tingkat kemacetan dan kecelakaan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas implementasi teknologi CCTV berbasis Artificial Intelligence dalam memantau kendaraan di ruas jalan tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi CCTV ANPR, traffic counting, dan AI violation detection mampu menurunkan pelanggaran lalu lintas hingga 38% dan waktu tanggap insiden menjadi <5 menit. Rekomendasi penelitian adalah percepatan pembangunan command center ATCS dan regulasi pemanfaatan data.
Analisis Kinerja Biaya Dan Waktu Pada Proyek Perpanjangan Barge Loading Conveyor Menggunakan Metode Earned Value Adhi Surya; Gilang Samudra
Jurnal Penelitian Teknik Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Teknik
Publisher : Jurnal Penelitian Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja biaya dan waktu pada Proyek Perpanjangan dan Perkuatan Barge Loading Conveyor (BLC) menggunakan metode Earned Value Management (EVM). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif studi kasus berdasarkan dokumen addendum, baseline schedule 240 hari kalender, progres fisik aktual, serta simulasi RAB/RAP lapangan. Analisis difokuskan pada cut-off minggu ke-28 tanggal 14 Maret 2026, ketika pekerjaan terhenti sebelum periode libur Idul Fitri dengan progres aktual 66,668% terhadap progres rencana 93,062%. Indikator yang digunakan meliputi PV/BCWS, EV/BCWP, AC/ACWP, SV, CV, SPI, CPI, EAC, dan EAS. Hasil analisis menunjukkan proyek mengalami keterlambatan signifikan dengan SV sebesar Rp -2.494.969.432,- dan SPI sebesar 0,716. Namun, kinerja biaya masih terkendali karena CV bernilai positif sebesar Rp 517.079.357,- dan CPI sebesar 1,089. EAC berbasis indeks cut-off sebesar Rp 8.677.335.693,-, sedangkan EAC berbasis recovery sebesar Rp 8.828.486.891,- atau masih berada di bawah BAC addendum Rp 9.452.936.644,-. Tanpa recovery plan, EAS berdasarkan SPI menunjukkan estimasi penyelesaian 335 hari kalender, sedangkan dengan recovery plan pekerjaan diproyeksikan selesai pada 04 Mei 2026 atau sekitar 247 hari kalender sejak tanggal mulai. Dengan demikian, EVM relevan sebagai alat pengendalian terpadu dan sistem peringatan dini karena mampu membedakan persoalan jadwal dan biaya serta memberikan dasar kuantitatif bagi keputusan proyek.
Model Pelaksanaan Mass Pondasi (Studi Kasus: Proyek Konstruksi Penunjang Di Kawasan IKN) Adhi Surya; Elma Della Vesellia
Jurnal Penelitian Teknik Vol. 3 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Teknik
Publisher : Jurnal Penelitian Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beton massa pada pekerjaan raft foundation bangunan penunjang di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) berpotensi mengalami kenaikan temperatur tinggi akibat panas hidrasi semen sehingga memerlukan pengendalian suhu untuk mencegah retak termal. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan temperatur beton massa dan mengevaluasi kesesuaiannya terhadap kriteria pengendalian suhu yang digunakan pada proyek. Metode pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif dengan memanfaatkan data hasil monitoring temperatur menggunakan thermocouple pada Tahap 1 dan Tahap 2 pekerjaan raft foundation. Sensor ditempatkan pada lapisan atas, tengah, bawah, dan lingkungan, dengan interval pembacaan setiap 2 jam. Analisis dilakukan dengan menentukan suhu puncak, menghitung selisih suhu antar lapisan beton, serta membandingkannya dengan batas suhu inti maksimum 70°C dan batas selisih suhu internal 20 C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu puncak tertinggi terjadi pada lapisan tengah sebesar 69,4 C pada Tahap 1 dan 68,4 C pada Tahap 2, sehingga masih berada di bawah batas 70°C. Nilai maksimum ΔT1 dan ΔT2 juga masih di bawah 20 C. Dengan demikian, pelaksanaan mass pondasi pada proyek ini masih memenuhi kriteria pengendalian suhu dan berada dalam kondisi aman.