Octavianus Hendrik Alexander Rogi
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 84 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERPUSTAKAAN YAYASAN KRISTEN EBEN HAEZAR MANADO. Space as Language Muaya, Richie; Rogi, Octavianus H. A.; Wuisang, Cynthia E. V.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17472

Abstract

Perkembangan teknologi yang cukup pesat saat ini menyajikan beragam pilihan hiburan bagi pelajar di Kota Manado dan sekitarnya terlebih bagi siswa siswi Yayasan Eben Haezar. Dimana kecenderungan hiburan saat ini adalah pilihan hiburan yang konsumtif. Maka diperlukan perancangan suatu sarana yang tidak hanya bisa menghibur tapi sekaligus bersifat edukatif dan informative, yaitu Perpustakaan. Perpustakaan didesain dengan konsep yang fleksibel dan adaptif terhadap gaya hidup pelajar yang diaplikasikan dalam waktu dan fasilitas-fasilitasnya. perpustakaan dirancang dengan suasana yang menyenangkan, betah, dan privat sehingga pengunjung dapat membaca dengan suasana akrab seperti di rumah sendiri. Pemilihan site didasarkan pada pertimbangan karakteristik area dengan tingkat aktifitas yang tinggi. Berdasarkan tema Space as Language memungkinkan pengunjung untuk memperoleh pengalaman meruang yang berbeda saat melakukan aktifitas. Aplikasi tema ini terdapat pada pengolahan ruang dan bentuk arsitektural. Setiap  bagian dari tahap ini memiliki fungsi ruang dengan suasana yang membawa pengalaman berbeda-beda bagi pengunjung. Akhirnya tujuan dari perancangan Perpustakaan Yayasan Eben Haezar ini adalah untuk menyebarkan kesenangan akan membaca, menumbuh-kembangkan kebiasaan membaca dan mencari informasi yang menyenangkan, dengan menawarkan pengalaman baru dengan konsep yang nyaman seperti dirumah. Keywords : Membaca, Perpustakaan, Pengalaman Ruang, Gaya Hidup
MANADO CONVENTION AND EXHIBITION CENTER. Neo Vernacular Architecture Linaldo, Joseph L. A.; Rogi, Octavianus H. A.; Mandey, Johansen C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17623

Abstract

Manado Convention Exhibition Center merupakan sebuah convention dan exhibition center yang dilengkapi dengan fasilitas bagi publik yaitu sebuah tempat pemusatan pewadahan pelayanan kegiatan konvensi dan eksebisi. Dimana aktivitas sasaran khususnya peserta juga dimungkinkan dapat menikmati pameran promosi serta paket wisata yang dikemas dalam produk wisata konvensi atau disebut dengan wisata MICE (Meeting Incentive Travel Convention and Exhibition). Dunia MICE adalah dunia yang belum terjamah dengan baik di Indonesia. Padahal dunia MICE merupakan salah satu andalan pariwisata di beberapa negara maju. MICE merupakan salah satu invenstasi bisnis yang menjanjikan.            Berkaitan dengan objek bangunan yang akan dirancang, penulis merencanakan penggunaan langgam arsitektur Neo-Vernacular, yaitu penghidupan kembali elemen tradisional yang memuat bentuk dan bangunan lokal di kolaborasikan dengan arsitektur modern. Aliran Neo-Vernacularism ini menampilkan ciri khas gaya tradisional yang di kembangkan bersamaan dengan arsitektur masa modern. Neo-Vernacularism akan menyuguhkan bangunan tradisional yang sudah berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman di era globalisasi ini, dimana penggabungan atas keduanya di terapkan dalam prinsip double coding.Kata Kunci: Convention Center, Exhibition Center, MICE, Neo-Vernacular
PUSAT KEBUDAYAAN SANGIHE. Eco Architecture Laming, Magdalena Y.; Rogi, Octavianus H. A.; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19210

Abstract

Mengingat pembangunan hakekatnya adalah pembangunan manusia untuk kepentingan manusia. Sebab itu di samping pembangunan ekonomi, kita pun terus membangun segi lain dari kehidupan  yaitu : Politik, Sosial, Budaya, Pendidikan, Mental, dan sebagainya. Untuk itu pembangunan Pusat Kebudayaan juga diperlukan untuk mengembangkan dan memajukan budaya yang ada. Karna dapat dipastikan jika fokus pembangunan hanya pada salah satu atau ada segi lain yang ditinggalkan dalam arti pembangunan yang tidak merata maka akan menimbulkan ketimpangan sosial pada manusianya atau penurunan kwalitas sumber daya manusia di wilayah tempat pembangunan itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan itu sendiri adalah faktor dari dalam dan dari luar namun kedua hal ini pun yang menjadikan pembangunan itu semakin berkembang.Kebudayaan yang ada di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi utara, Indonesia juga mengalami berbagai pengaruh dari luar maupun dari dalam. Namun hal ini lebih banyak membawa pengaruh buruk terhadap kebudayaan yang ada, yaitu ketertarikan akan budaya asing lebih besar dari pada budaya yang ada di Sangihe itu sendiri, rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah mulai hilang di mata masyarakat Sangihe, selain itu belum adanya wadah yang menanpung setiap benda-benda bersejarah atau cagar budaya yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe. untuk mengatasi masalah ini dan mencapai tujuan diatas adalah dengan menciptakan suatu wadah yang tetap dan berfungsi secara optimal yang dapat memelihara kebudayaan daerah dari waktu ke waktu.Kata Kunci : Sangihe, Pusat Kebudayaan, Eco-Architecture
TROPICAL SEA WORLD DI SULAWESI UTARA. Biomimetic Architecture Quedarusman, Claudia A.; ., Suryono; Rogi, Oktavianus H.A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19211

Abstract

Rumah merupakan wadah atau acuan konsep-konsep kegiatan sosial untuk memberikan rasa nyaman, aman dari kejenuhan ragam aktivitas di luar rumah. Dalam kaitannya, sebagaimana habitat yang menjadi tempat makhluk hidup tinggal dan berkembang biak merupakan kebutuhan pembangunan wadah yang menciptakan keselarasan harmoni antara makhluk hidup dan lingkungan alam tinggal. Letak geografis Sulawesi Utara yang strategis dikenal akan wisata bahari, jenis biota laut yang khas, namun belum memberikan ketersediaan wadah yang dapat menampung pusat informasi dan konsevasi dalam melestarikan keanekaragaman hayati.Dalam pusat kegiatan rekreasi, edukasi dan konservasi, sangatlah membutuhkan fasilitas-fasilitas yang memadai dan optimal sehingga dapat membuka ruang pendidikan informal dalam kalangan bermasyarakat mengenai kehidupan laut. Untuk mewujudkan public facility tersebut, sehingga perlu adanya Tropical  Sea World sebagai objek yang menyesuaikan dengan lokasi iklim tropis untuk mewadahi kegiatan dengan tambahan fasilitas penunjang.  Potensi dan permasalahan yang timbul dengan keterkaitan antara objek Sea World dengan lokasi, diangkatlah tema Biomimetic Architecture. Adapun dari acuan terhadap alam sebagai mentor sangat mewakili solusi yang sangat kompleks dan terjemahan yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada masalah bentuk. Dalam penerapan tema Biomimetic Architecture berupa konsep arsitektural yang dapat mengakomodir serta berperan dalam pemanfaatan ragam material, bentuk dan kombinasi elemen-elemen lingkungan sekitar untuk menghasilkan atmosfir layaknya sebuah miniatur dunia laut.  Kata kunci : Sulawesi Utara, Tropical Sea World, Biomimetic Architecture
RESORT DI DANAU TONDANO. Floating Architecture Sumarandak, Michelle M.; Rogi, Octavianus H. A.; Makarau, Vicky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19308

Abstract

Setiap tahun jumlah wisatawan yang berkunjung ke Minahasa mengalami peningkatan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. namun, peningkatan jumlah wisatawan tersebut tidak diimbangi dengan kehadiran sarana prasarana pendukung yang baik. Salah satu sarana yang dimaksud adalah fasilitas akomodasi.            Melihat kurangnya fasilitas akomodasi di Minahasa, maka penulis tertarik untuk merencanakan pembangunan Resort di Danau Tondano mengingat Danau Tondano merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Minahasa. Perancangan Resort di Danau Tondano ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengakomodasikan wisatawan yang datang berkunjung ke Minahasa.            Dalam perancangan Resort di Danau Tondano ini menggunakan konsep “Floating Architecture” dimana konsep utama dari perancangan ini adalah penerapan struktur yang sesuai dengan pemahaman Floating Architecture sehingga menghasilkan sebuah rancangan yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan mengingat lokasi dari perancangan ini terletak di Danau Tondano. Kata kunci: Resort, Danau Tondano, Floating Architecture
MANADO EXHIBITIONCENTER. Arsitektur Futuristik Pinontoan, Billy J.; Rogi, Octavianus H. A.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19311

Abstract

Kota Manado menjadi salah satu pusat perkembangan ekonomi dan bisnis di Sulawesi khususnya Sulawesi Utara, selain itu Manado sendiri memiliki berbagai destinasi wisata. Semakin hari perkembangan ini semakin terlihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di kota Manado. Selain dalam bidang ekonomi dan Bisnis, perkembangan juga terlihat di bidang kesenian. Ada begitu banyak karya seni lokal yang pantas untuk dipamerkan. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah yang dapat memperkenalkan setiap produk-produk perusahaan juga berbagai karya seni lokal dalam satu bangunan. Di kota Manado pun belum memiliki suatu wadah yang dapat mefasilitasi kegiatan-kegiatan tersebut, maka dengan adanya Manado Exhibition Center ini diharapkan dapat menampung segala kegiatan dan aktivitas tersebut.Pendekatan Perancangan Manado Exhibition Center ini menggunakan pendekatan tipologi objek, pendekatan tema perancangan dan pendekatan analisis tapak dan lingkungan. Dalam pendekatan tipologi objek ini dilakukan dengan melalui pengidentifikasian dan pendalaman objek perancangan serta dilakukan juga studi komparasi yang melakukan perbandingan objek atau fasilitas sejenis objek rancangan. Diperlukan pemahaman terhadap tema untuk bisa mengoptimalkan penerapannya dalam rancangan. Tema yang diambil adalah Arsitektur futuristik , yang mengacu pada prinsip-prinsip dalam Arsitektur futuristik, agar dapat menunjang fungsi objek rancangan.Manado Exhibition Center dirancang sebagai tempat pameran, pertemuan, konferensi dan pergelaran yang sangat berguna untuk masyarakat serta dapat menunjang perekonomian daerah. Dengan hadirnya bangunan ini diharapkan dapat mewadahi segala kegiatan aktivitas pameran, pertemuan, konferensi dan pergelaran yang belum di fasilitasi secara baik dalam segi arsitektur yaitu suatu bangunan yang dapat menampung segala jenis kegiatan tersebut.Kata Kunci : Exhibition,  Jasa, Seni, Futuristik
GRAHA ANIMASI DI MANADO. Surrealisme dalam Arsitektur Lintong, Lucky A.; Poluan, Roosje J.; Rogi, Oktavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20828

Abstract

Perkembangan sains dan teknologi semakin pesat tiap tahunnya. Terlebih dalam bidang multimedia yaitu produksi animasi yang mengalami kemajuan pesat. Maka dibutuhkan sebuah fasilitas yang dapat memfasilitasi hal-hal yang berhubungan dengan animasi tersebut. Perancangan Graha Animasi di Manado yang berfungsi sebagai wadah yang menampung aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan dunia peranimasian di Manado. Bangunan ini memiliki fungsi majemuk yaitu sebagai area hiburan, eksibisi, edukasi, komunitas, dan produksi animasi dengan tema Surrealisme dalam Arsitektur yang merupakan upaya menampilkan suatu visual diluar alam nyata kedalam gaya arsitektur yang diimplementasikan kedalam bangunan Graha Animasi tersebut. Saat ini, tingginya minat masyarakat Sulawesi Utara khususnya kota Manado dalam peranimasian sangat tinggi. Tujuan Penulisan ini untuk merancang bangunan Graha Animasi yang dapat menampung minat-minat akan peranimasian tersebut di kota Manado. Metode yang Digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur, observasi/surveying,studi kasus pada tipologi bangunan, tema arsitektur dan tapak. Hasil yang dicapai, bangunan Graha Animasi memiliki unsur Surrealisme melalui bentuk maupun pada fasade bangunan.Perancangan Graha Animasi di Manado dapat memiliki unsur konservasi, preservasi, edukasi, informasi, relaksasi, eksplorasi dan investasi. Kata kunci      : Graha Animasi, Surrealisme, Manado
MALL K5 di MANADO. Hybrid Architecture Pakaya, Gina A.; Rogi, Octavianus H. A.; Anasiru, Mohammad M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20831

Abstract

Kota Manado adalah Ibukota dari Provinsi Sulawesi Utara yang merupakan kota kedua terbesar di pulau Sulawesi. Sebagai pusat kegiatan masyarakat se-provinsi, Kota Manado berkembang secara cepat, didominasi oleh bidang Perdagangan dan Jasa sebagai penyumbang terbesar pada pertumbuhan perekonomian kota. Untuk itu, pemenuhan sarana dan prasarana terkait bidang perdagangan dan jasa patut diberi perhatian lebih, termasuk pengadaan pewadahannya. Oleh karena itu, dibutuhkan pembangunan untuk tempat-tempat yang memfasilitasi kegiatan perdagangan. Mall Kaki Lima (Mall K5), sebagai salah satu objek yang berkecimpung di bidang perdagangan menawarkan solusi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi barang dan jasa yang bisa dijangkau seluruh kalangan. Kehadiran aspek kaki lima pada ruang lingkup mall tidak hanya menjadikan bangunan sebagai tempat perbelanjaan terlengkap, juga untuk sarana rekreatif dan hiburan untuk kelas menengah ke bawah. Proses perancangan diambil dari keterkaitan antara objek Mall Kaki Lima dengan ciri khas tema itu sendiri, yaitu “Hybrid Architecture” dimana tema ini merupakan hasil gabungan dari 2 unsur yang bersifat berbeda, seperti halnya penggabungan unsur kaki lima pada bangunan mall. Penerapan tema ini diharapkan mampu menjadi sebuah pusat perbelanjaan dengan ciri khas lain di Kota Manado, dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat juga memberikn dampak pada pertumbuhan Kota Manado.  Kata kunci: Mall, Kaki Lima, Perdagangan, Manado, Hybrid
MUSEUM SENI MODERN DAN KONTEMPORER DI MANADO. Underground Architecture Sadewi, Yohan C.; Erdiono, Deddy; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20835

Abstract

Manado menuju kota yang berorientasi pada bidang komersil dan secara otomatis mempengaruhi berkurangnya interest sebagian besar masyarakat Manado terhadap aspek seni. Hal ini dapat kita lihat dalam pembangunan fisik kota yang lebih pada nilai komersil, seperti menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan modern pada akhir dekade ini. Dengan tidak adanya wadah untuk menampung karya-karya seni, perkembangan seni di Manado semakin minim, untuk itu Manado membutuhkan sebuah wadah. Museum dianggap sebagai wadah yang tepat untuk menampung berbagai karya seni, di mana museum sendiri memiliki 3 fungsi fundamental yaitu apresiasi, edukasi, dan rekreasi. Museum Seni Modern dan Kontemporer di manado didesain menggunakan pendekatan underground architecture yang mengusung konsep ramah lingkungan yang berlandaskan dengan keselarasan manusia, alam, dan seni. Museum Seni bertema underground architecture akan menghadirkan bentuk yang unik dari lingkungan sekitar, sebagai wujud sebuah bangunan museum seni untuk penanda bertujuan agar dapat mendorong visual masyarakat manado untuk datang berkunjung ke museum seni dan membuat masyarakat manado  lebih tertarik terhadap aspek seni.Kata kunci : Museum Seni Modern dan Kontemporer, Underground
REDESAIN PACUAN KUDA DI TOMPASO. Arsitektur Tropis Modern Gijoh, Christ H.; Franklin, Papia J. C.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23670

Abstract

Redesain adalah suatu proses merancang kembali apa yang telah ada, dalam hal ini Pacuan Kuda akan di rancang kembali untuk orang berolahraga berkuda dan untuk orang menyaksikan perlombaan sambil menikmati fasilitas-fasilitas lain di dalamnya. Sulawesi Utara sudah dari dulu terkenal karena sering mengikuti perlombaan-perlombaan tingkat nasional, bahkan sebelum adanya Pacuan Kuda di Tompaso, Sulawesi Utara sudah mempunyai Pacuan Kuda di Perkamil terlebih dahulu. Tompaso merupakan daerah yang terkenal akan kualitas kuda-kudanya karena faktor tempatnya, latihan dan pakan yang diberikan. Maka dari hal-hal demikian menjadi alasan untuk merancang kembali fasilitas yang sudah ada juga menghadirkan fasilitas yang belum ada, dan hal-hal tersebut dapat mewadahi kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pacuan kuda, seperti stadion dan lintasan pacuan kuda, serta fungsi-fungsi penunjang lainnya, yakni arena ketangkasan berkuda, peternakan kuda, sekolah berkuda, klinik kuda, pengelolaan pakan, pengelolaan limbah, farrier, retail, pelelangan, tempat rekreasi dan resort.Tema “Arsitektur Tropis Modern” digunakan untuk dapat menghasilkan suatu desain objek yang dapat mengurangi dampak klimatik dan dapat memanfaatkan faktor klimatik yang ada tanpa merusak lingkungan (ramah lingkungan) juga membuat nyaman penggunanya dengan suatu permodelan desain, material dan perangkat yang tepat. Selain itu, bentukan geometri juga menjadi suatu hal yang dibutuhkan untuk kenyamanan fisik yang ditawarkan (penglihatan, pendengaran, peraba) sampai memengaruhi persepsi bawah sadar pengamat. Maka dengan penggunaan tema tersebut, data lapangan, studi kasus dan studi pendukung; diharapkan produk desain yang tercipta dapat mewadahi aktifitas-aktifitas pacuan kuda. Kata Kunci : Pacuan Kuda, Arsitektur Tropis Modern
Co-Authors -, Suryono Adriana Renwarin, Adriana Alfonsa Londar, Alfonsa Alvin J. Tinangon Amanda S. Sembel Amanda Sembel Anasiru, Mohammad M. Anastasya E. Rambi, Anastasya E. Andi A. M. Malik Anggreny Purukan Ardi C. Ogelang Arviro Eman Bongi, Anastasia Conny Kandoli Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V Wuisang, Cynthia E.V Datunsolang, Rifqi Akbar Deddy Erdiono Durand, Deo Victor Dwars Soukotta Dwight M Rondonuwu, Dwight M Dwight M. Rondonuwu Elda Siska Sinuraya Esli D. Takumansang Fela Warouw Fennyrian Masarrang Frits O. P. Siregar Frits O.P. Siregar Gijoh, Christ H. Hendriek H. Karongkong Hengkelare, Sularso H. S. Hengkelare, Sularso H.S Herry Kapugu Horhoruw, Hanni Alfio Ingerid Moniaga Irjadi, Arif Jefrey I. Kindangen Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Judy O. Waani Julianus A. R. Sondakh Kevin Usman Kokalinso, Febrianti Margaretha Kolibu, Eunike T. Kowal, Rolando Rischi Kristian Pabeta Kristin N. Johannis Lakat, Ricky S. M. Laming, Magdalena Laming, Magdalena Y. Lasabuda, Muh. Herbian S.P. Leidy M. Rompas Linaldo, Joseph L. A. Linda Tondobala Lintong, Lucky A. Lolokada, Theresia Wangi Longaris, Sendy Magdalena, Enggrila D. Makagiansar, Trifosa Mario D. M. Maahury, Mario D. M. Marshel Pua, Marshel Michael M Rengkung, Michael M Michael M. Rengkung Mosesa, Sola G. P. Muaya, Richie Novalin Y. Titiheru Nur, Ady I. A. P, Norlyvia Jaya Toding Pakaya, Gina A. Palindang, Winda Pangkey, Claudia Pantouw, Christy E Papia J. C. Franklin Pelealu, Veronica L. Pello, Pingkan S. Pierre H Gosal, Pierre H Pierre H. Gosal Pinontoan, Billy J. Poli Hanny, Poli Quedarusman, Claudia A. R. J. Poluan, R. J. Rachmatullah, Michael Rawis, Gloria Mariane Raymond Ch Tarore, Raymond Ch Rieneke L. E. Sela Rieneke Sela Rondonuwu, Dwight Roosje J Poluan Roosje J. Poluan Rukait, Sherina B. Rumayar, Gerika Sadewi, Yohan C. Salatun, Sri Ratni Sangkertadi Sangkertadi Sarapang, Herni Tandi Sawo, Milano Khemal Sela, Rieneke L.E Sembiring, Agita R. Sgerlen M. Tunas Siregar, Frits O Sondakh, Sharon Costansye Sonny Tilaar Steven Lintong Steven R. Kamurahan Sumarandak, Michelle M. Surjadi Supardjo Suryadi Supardjo, Suryadi Suryono . Tambajong, Gifly Jeremy Tangkudung, Fitri Meylinda Tendean, Susi Cinthya Tinaiy, Arflandi Michael Tjoa, Savy C.N. Tomigolung, Billy Adiputra Tompodung, Injilly Tulangow, Pingkan K Tumbelaka, Isabella S. Veronica Kumurur Verry Lahamendu, Verry Vicky H Makarau, Vicky H Vicky H. Makarau Vinny Wasty Nanariain, Vinny Wasty Wahyudi Siswanto Wakari, Viona V. Walintukan, Casey C Wenur, Fabian Bill Zanuddin, Rian