Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : IMAJI

HOTEL RESORT DI KAWASAN WISATA AIR PANAS GUCI – KABUPATEN TEGAL PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK saragi, samia; setioko, bambang; setyowati, erni
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Tegal merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki potensi alam dan budaya di Jawa Tengah. Salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Tegal yang telah menjadi objek wisata unggulan dalam lingkup Jawa Tengah adalah objek wisata air panas yang berada di Desa Guci. Kawasan Wisata Air Panas Guci memiliki potensi pengembangan wisata berawal dari sumber mata air panas, kearifan budaya lokal yang masih tetap dipertahankan, yaitu wayang dan tarian, komoditi teh dan jamu yang telah melekat dengan kabupaten Tegal. Perkembangan Kepariwisataan ini berdampak pada jumlah pengunjung yang terus meningkat dan berbanding lurus dengan kebutuhan akan sarana akomodasinya. Oleh karena itu, dengan banyaknya fasilitas yang dikembangkan, diperlukan adanya sarana akomodasi berupa fasilitas penginapan yang memberikan pelayanan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam di Guci secara lebih lama. Jenis penginapan yang sesuai adalah Hotel Resort. Hotel Resot merupakan sebuah respon terhadap perkembangan kawasan wisata yang juga menjadi hotel resort pertama yang memberikan fasilitas berupa wahana pertunjukan, tea spa and massage, serta café jamu sebagai salah satu pemasaran dari ciri khas Kabupaten Tegal Penekanan desain pada hotel resort ini adalah arsitektur organik yang dalam proses desain mempertimbangkan unsur organik baik dari bentukan bangunan hingga penyelarasanna terhadap lingkungan sekitar. Penataan Hotel Resot merespon tapak dan view menuju ke bagian bawah desa Guci, yaitu kecamatan Bumijawa, dan beberapa Kecamatan dari Kabupaten Tegal.
GEDUNG BIOSKOP DI KOTA SEMARANG (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST MODERN) laksawicaka, bagas; setioko, bambang; setyowati, erni
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2702.398 KB)

Abstract

Keberadaan bioskop di Indonesia sudah berlangsung hampir 107 tahun, terhitung sejak adanya bioskop yang memutar film pertama kali yang dikenal sebagai “gambar idoep” di Batavia tanggal 5 Desember 1900. Bioskop mempunyai peranan yang strategis dan merupakan ujung tombak industri perfilman Indonesia, sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan produksi film Indonesia bagi masyarakat. Sebagai mata rantai terakhir dalam tata niaga film, usaha perbioskopan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari salah satu fungsi bioskop yaitu sebagai “etalase film”. Dengan pesatnya perkembangan teknologi digital dan pelayanan untuk masyarakat penonton yang memadai adalah suatu tantangan bagi dunia perbioskopan khususnya, untuk bersama-sama membuka pasar film yang lebih luas lagi.
GEDUNG PAMER DAN PERAGA IPTEK KELAUTAN DI SEMARANG ratna, desy; prianto, eddy; setioko, bambang
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1884.429 KB)

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap tahunnya semakin berkembang pesat, hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai macam teknologi yang dapat memudahkan manusia khususnya siswa dalam memahami pelajaran. Indonesia memiliki kekayaan alam berupa dasar laut yang beragam, namun tidak semua masyrakat Indonesia mengetahui hal ini sehingga masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk menjaga dan melestarikan lingkungan laut. Berdasarkan Keputusan Menteri No. 75/M/Kp/XI/2001 perlu adanya wadah mengenai IPTEK di setiap provinsi, kenyataanya Indonesia hanya memiliki empat wadah, diantaranya Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Taman Pintar (Yogyakarta), Science Center Trams Studio (Bandung), IPTEK Sundial (Padalarang). Kota Semarang yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki dua buah pintu masuk kedalam Provinsi Jawa Tengah, yaitu ditunjukan dengan adanya Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara Internasional Ahmad Yani. Namun dengan potensi tersebut Semarang belum mampu mengolah dan mengembangkannya, terutama disektor pariwisata. Sedangkan disektor masyarakat dan pendidikan, Semarang memiliki 6 universitas negeri. Salah satu diantaranya merupakan universitas terbaik di Jawa Tengah yaitu Universitas Diponegoro, dengan kata lain masyarakat kota Semarang mempunyai kualitas pelajar yang berkompeten, hanya saja kurangnya fasilitas edukasi yang dapat mendukung kualitas masyarakat kota Semarang.
STADION AKUATIK DI BANDUNG ahmadi, ichsan; prianto, eddy; setioko, bambang
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1746.48 KB)

Abstract

Prestasi Indonesia di bidang olahraga air yang semakin meningkat, namun terdapat kekurangan dalam perkembangan proses pembibitan dan pelatihan bagi atlet-atlet renang Indonesia untuk generasi yang akan datang. Salah satu faktor kekurangannya dikarenakan oleh fasilitas-fasilitas olahraga renang yang belum memadai, melainkan hanya terdapat satu stadion olahraga renang yang sesuai dengan standar kompetisi dengan vanue yang memadai baik skala nasional maupun internasional yaitu Jakabaring Aquatic Stadium di Palembang. Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan ajang pentas olahraga paling megah di Indonesia yang diselenggarakan setiap empat tahun. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung terpilih sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016. Salah satu tanggapan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membangun kolam renang bertaraf nasional maupun internasional sebagai persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016.
PENATAAN PEMUKIMAN NELAYAN TAMBAK MULYO SEMARANG Dengan Lingkup Mikro BANGUNAN INDUSTRI PENGASAPAN IKAN wahyu firmandani, satriya; setioko, bambang; setyowati, erni
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.609 KB)

Abstract

Pemukiman  nelayan  merupakan  suatu  aset  berharga  di  setiap  daerahnya.  Pemukiman  ini  menjadi tumpuan  perdagangan  hasil  laut  di  daerahnya.  Sama  halnya  dengan  pemukiman  nelayan  Tambak  Mulyo Semarang  yang  menjadi  pusat  perdagangan  hasil  laut  di  Semarang  dan  sekitarnya.  Namun  ironisnya pemukiman nelayan Tambak Mulyo justru kumuh, padat dan tidak tertata, terlebih dengan bencana rob yang melanda hampir  setiap harinya. Pemukiman nelayan  sejatinya  tidak hanya berkutat dengan  kehidupan  para nelayan yang mencari ikan  di laut, Namun juga menampung kegiatan pengolahan hasil laut tersebut. Selain pemukiman  nelayan  secara  makro,  dalam  proyek  penataan  ini  akan  lebih  dititik  beratkan  pada  kawasan bangunan industri pengasapan ikan yang ada di dalamnya. Ide ini didapatkan dari   menyikapi kondisi buruknya sentra  industri  pengasapan  ikan  di  Bandarharjo  Semarang  yang  sekaligus  akan  ditata  bersamaan  masuk  ke dalam pemukiman nelayan Tambak Mulyo. Penataan  kawasan  industri  pengaspan  ikan  disini  berkonsep  arsitektur  vernakular  demi  melestarikan pemikira-pemikiran lokal  dalam  menghadapi  masalah-masalah  di industri  pengasapan  ikan  seperti bentukan cerobong,  tata  ruang,  bahan  bangunan  dan  lain-lain.  Kawasan  industri  pengasapan  ikan  sebagai  fokus penataan disini pastinya akan memiliki dampak tertentu terhadap lingkungan sekitar di pemukiman nelayan seperti  banyaknya  asap  yang  dihasilkan  oleh  industri  pengasapan  ikan  yang  mencemari  lingkungan  sekitar. Menyikapi  hal  tersebut,  penataan  industri  pengasapan  ikan  secara  mikro  harus  mempertimbangkan keberadaan  lingkungan  sekitar dengan beberapa  solusi desain  seperti  (1)pola  penataan  pemukiman nelayan secara  makro dengan aksis arah angin,  hal  ini berfungsi untuk  mengatur arah  asap  yang dihasilka n industri pengasapan  ikan,  (2)perancangan  barrier  asap  berupa  pepohonan  mengelilingi  industri  pengasapan  ikan, (3)menata ruang dalam industri pengasapan ikan dan bentukan cerobong dengan pendekatan vernakular agar desain sesuai dengan perilaku masyarakat setempat. Penekanan desain pada arsitektur vernakular  juga memiliki peranan penting dalam citra bangunan dan kawasan  yang  dihasilkan  nantinya.  Dengan  konsep  vernakular,  hasil  akhir  desain  disini  juga  memiliki keindahan/estetika,  kesesuaian  dengan  perilaku  setempat,  kemudahan  mendapatkan  material,  kemudahan dalam perbaikan bangunan bila dilakukan oleh masyarakat sendiri, serta menyikapi kondisi alam seperti cuaca dan bencana dalam desain.
KANTOR GUBERNUR SUMATERA SELATAN Rahmiati, Desti; Setioko, Bambang; Hardiman, Gagoek
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1510.8 KB)

Abstract

Kota Palembang dalam 5 tahun terakhir ini mengalami kemajuan yang begitu pesat, terlihatnya dari maraknya pertumbuhan infrastruktur, sarana dan prasarana kota, dan roda perekonomian yang terus menggeliat. Berdasarkan fenomena tersebut, potensi kota Palembang untuk berkembang sangat besar. Hal inilah yang mendasari penetapan suatu visi strategis, yaitu Palembang sebagai kota bertaraf internasional. Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah provinsi Sumatera Selatan berencana untuk merelokasi Kantor Gubernur Sumatera Selatan sebagai salah satu program pengembangan kawasan Jakabaring sebagai kawasan strategis pertumbuhan ekonomi kota Palembang.Kajian diawali dengan penelusuran mengenai gedung pemerintahan, filosofi struktur pemerintahan provinsi, standar-standar dan kebijakan mengenai tata ruang dalam kantor Gubernur, studi banding beberapa Kantor Gubernur di Provinsi Jawa. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi kantor Gubernur Sumatera Selatan dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Tapak yang digunakan adalah lahan kosong yang diperuntukkan sebagai zona pemerintahan. Selain itu, dibahas pula mengenai massa dan tata ruang, penampilan bangunan, struktur serta utilitas yang diterapkan dalam perancangan “Kantor Gubernur Sumatera Selatan”.Konsep perancangan ditekankan pada desain Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu langgam arsitektur yang memunculkan kembali unsur tradisional setempat kedalam bangunan modern. Penekanan desain arsitektur neo-vernakular diharapkan dapat menghasilkan suatu rancangan kantor pemerintah provinsi yang sesuai standar, yang juga mampu mencerminkan eksistensi dari berdirinya lembaga pemerintahan daerah dan sebagai lambang kebanggaan daerah. Untuk bangunan kantor Gubernur Sumatera Selatan, dirancang dengan konsep denah berbentuk simetris yang mengesankan kesan megah pada bangunan.
GRAHA LANSIA DI TANGERANG Martiani, Erna Rita; Setioko, Bambang
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.77 KB)

Abstract

Kemajuan di bidang ekonomi, jasa dan perdagangan di Tangerang Selatan dibarengi dengan kemajuan bidang kesehatan dan pendidikan yang bermuara dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat akan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Angka harapan hidup Provinsi Banten menunjukkan kenaikan dari 62,4 tahun pada tahun 2007 menjadi 68. Dan angka harapan hidup tertinggi dicapai oleh Kabupaten Tangerang Selatan sebesar 68,2 tahun. (Sumber : Dokumen RPJM Prov. Banten Tahun 2007 - 2012). Disisi lain, meningkatnya bidang perekonomian di Tangerang Selatan sendiri, membuat para masyarakatnya memiliki mobilitas yang cukup tinggi dan terkesan melalikan kewajibannya dalam mengurus orang tua, terutama bagi lansia yang memiliki kelemahan kesehatan. Hal ini sangat mencolok ketika kedua orang tua tersebut tidak tinggal dalam satu atap dan jarang menjenguk maka lansia akan merasa terabaikan dan terasingkan. Maka dari sinilah kebanyakan para lansia memiliih untuk tinggal d panti wredha/panti jompo yang ditempat tersebut mereka akan bertemu dengan para lansia lain yang merasa senasib.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai lansia dan standar-standar mengenai bangunan bagi lansia, studi banding dilakukan ke Panti Jompo yang di kecamatan-kecamatan di Tangerang. Dilakukan juga tinjauan mengenai pertumbuhan jumlah lansia dan kebutuhan para lansia dip anti jompo dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan universal design. Lokasi tapak yang dipilih adalah tapak yang sesuai dengan persyaratan bangunan bagi lansia. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Grha lansia Di Tangerang Selatan”.Konsep perancangan ditekankan desain Universal,yang memiliki 7 prinsip yang sudah dikenal dimana-mana. Prinsip-prinsip itulah yang nantinya akan menjadi pedoman atau dasar adalam mendesain suatu produk maupun rancanngan lingkungan yang dapat digunakan oleh semua kalamngan umur, terutama untuk para lansia. Prinsip tersebut diantaranya : Penggunaan yang Merata, Penggunaan yang Fleksibel, Sederhana dan Intuitif, Informasi yang jelas dan mudah dimengerti, Toleransi akan kesalahan, Meminimalkan usaha dan menghindari bahaya atau hal-hal yang tidak diinginkan, Ukuran dan Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan.
PENATAAN PEMUKIMAN NELAYAN TAMBAK MULYO SEMARANG Dengan Lingkup Mikro BANGUNAN INDUSTRI PENGASAPAN IKAN satriya wahyu firmandani; bambang setioko; erni setyowati
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.609 KB)

Abstract

Pemukiman  nelayan  merupakan  suatu  aset  berharga  di  setiap  daerahnya.  Pemukiman  ini  menjadi tumpuan  perdagangan  hasil  laut  di  daerahnya.  Sama  halnya  dengan  pemukiman  nelayan  Tambak  Mulyo Semarang  yang  menjadi  pusat  perdagangan  hasil  laut  di  Semarang  dan  sekitarnya.  Namun  ironisnya pemukiman nelayan Tambak Mulyo justru kumuh, padat dan tidak tertata, terlebih dengan bencana rob yang melanda hampir  setiap harinya. Pemukiman nelayan  sejatinya  tidak hanya berkutat dengan  kehidupan  para nelayan yang mencari ikan  di laut, Namun juga menampung kegiatan pengolahan hasil laut tersebut. Selain pemukiman  nelayan  secara  makro,  dalam  proyek  penataan  ini  akan  lebih  dititik  beratkan  pada  kawasan bangunan industri pengasapan ikan yang ada di dalamnya. Ide ini didapatkan dari   menyikapi kondisi buruknya sentra  industri  pengasapan  ikan  di  Bandarharjo  Semarang  yang  sekaligus  akan  ditata  bersamaan  masuk  ke dalam pemukiman nelayan Tambak Mulyo. Penataan  kawasan  industri  pengaspan  ikan  disini  berkonsep  arsitektur  vernakular  demi  melestarikan pemikira-pemikiran lokal  dalam  menghadapi  masalah-masalah  di industri  pengasapan  ikan  seperti bentukan cerobong,  tata  ruang,  bahan  bangunan  dan  lain-lain.  Kawasan  industri  pengasapan  ikan  sebagai  fokus penataan disini pastinya akan memiliki dampak tertentu terhadap lingkungan sekitar di pemukiman nelayan seperti  banyaknya  asap  yang  dihasilkan  oleh  industri  pengasapan  ikan  yang  mencemari  lingkungan  sekitar. Menyikapi  hal  tersebut,  penataan  industri  pengasapan  ikan  secara  mikro  harus  mempertimbangkan keberadaan  lingkungan  sekitar dengan beberapa  solusi desain  seperti  (1)pola  penataan  pemukiman nelayan secara  makro dengan aksis arah angin,  hal  ini berfungsi untuk  mengatur arah  asap  yang dihasilka n industri pengasapan  ikan,  (2)perancangan  barrier  asap  berupa  pepohonan  mengelilingi  industri  pengasapan  ikan, (3)menata ruang dalam industri pengasapan ikan dan bentukan cerobong dengan pendekatan vernakular agar desain sesuai dengan perilaku masyarakat setempat. Penekanan desain pada arsitektur vernakular  juga memiliki peranan penting dalam citra bangunan dan kawasan  yang  dihasilkan  nantinya.  Dengan  konsep  vernakular,  hasil  akhir  desain  disini  juga  memiliki keindahan/estetika,  kesesuaian  dengan  perilaku  setempat,  kemudahan  mendapatkan  material,  kemudahan dalam perbaikan bangunan bila dilakukan oleh masyarakat sendiri, serta menyikapi kondisi alam seperti cuaca dan bencana dalam desain.
STADION AKUATIK DI BANDUNG ichsan ahmadi; eddy prianto; bambang setioko
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1746.48 KB)

Abstract

Prestasi Indonesia di bidang olahraga air yang semakin meningkat, namun terdapat kekurangan dalam perkembangan proses pembibitan dan pelatihan bagi atlet-atlet renang Indonesia untuk generasi yang akan datang. Salah satu faktor kekurangannya dikarenakan oleh fasilitas-fasilitas olahraga renang yang belum memadai, melainkan hanya terdapat satu stadion olahraga renang yang sesuai dengan standar kompetisi dengan vanue yang memadai baik skala nasional maupun internasional yaitu Jakabaring Aquatic Stadium di Palembang. Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan ajang pentas olahraga paling megah di Indonesia yang diselenggarakan setiap empat tahun. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung terpilih sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016. Salah satu tanggapan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membangun kolam renang bertaraf nasional maupun internasional sebagai persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016.
HOTEL RESORT DI KAWASAN WISATA AIR PANAS GUCI – KABUPATEN TEGAL PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK samia saragi; bambang setioko; erni setyowati
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4215.719 KB)

Abstract

Kabupaten Tegal merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki potensi alam dan budaya di Jawa Tengah. Salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Tegal yang telah menjadi objek wisata unggulan dalam lingkup Jawa Tengah adalah objek wisata air panas yang berada di Desa Guci. Kawasan Wisata Air Panas Guci memiliki potensi pengembangan wisata berawal dari sumber mata air panas, kearifan budaya lokal yang masih tetap dipertahankan, yaitu wayang dan tarian, komoditi teh dan jamu yang telah melekat dengan kabupaten Tegal. Perkembangan Kepariwisataan ini berdampak pada jumlah pengunjung yang terus meningkat dan berbanding lurus dengan kebutuhan akan sarana akomodasinya. Oleh karena itu, dengan banyaknya fasilitas yang dikembangkan, diperlukan adanya sarana akomodasi berupa fasilitas penginapan yang memberikan pelayanan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam di Guci secara lebih lama. Jenis penginapan yang sesuai adalah Hotel Resort. Hotel Resot merupakan sebuah respon terhadap perkembangan kawasan wisata yang juga menjadi hotel resort pertama yang memberikan fasilitas berupa wahana pertunjukan, tea spa and massage, serta café jamu sebagai salah satu pemasaran dari ciri khas Kabupaten Tegal Penekanan desain pada hotel resort ini adalah arsitektur organik yang dalam proses desain mempertimbangkan unsur organik baik dari bentukan bangunan hingga penyelarasanna terhadap lingkungan sekitar. Penataan Hotel Resot merespon tapak dan view menuju ke bagian bawah desa Guci, yaitu kecamatan Bumijawa, dan beberapa Kecamatan dari Kabupaten Tegal.