Claim Missing Document
Check
Articles

Integrating Tembang Bocah Banyumasan into the PGMI Curriculum for Prospective Elementary School Educators: A Step PGMI Curriculum Towards Decolonizing Music Education Winangsit, Emah; Sunarto; Udi Utomo; Syahrul Syah Sinaga; Fajry Sub'haan Syah Sinaga; Muhammad Asyraf Mohd Bakri
Al-Bidayah : Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 17 No. 2 (2025): Al-Bidayah : jurnal pendidikan dasar Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-bidayah.v17i2.12249

Abstract

This study examines the integration of Tembang Bocah Banyumasan into the PGMI curriculum at UIN Saizu Purwokerto as a decolonizing intervention in music education. In the PGMI context, the longstanding dominance of Western music has limited pre-service teachers’ exposure to local musical knowledge, weakened cultural rootedness, and produced learning practices that are insufficiently aligned with Indonesia’s cultural diversity. The paper aims to examine how this integration unfolds through three key phases: critical awareness, reappropriation, and emancipation and knowledge production, where students create and perform works that integrate local culture, Islamic values, and environmental awareness. The research employs a qualitative descriptive approach, analyzing curriculum structure, weekly learning stages, and empirical findings from student engagement. The results indicate that integrating Tembang Bocah Banyumasan fosters cultural identity, critical thinking, and creativity among PGMI students, while also contributing to a more inclusive, contextually relevant curriculum for elementary schools. Challenges, such as limited access to traditional instruments, were addressed through digital tools and local artist collaborations, ensuring a meaningful and adaptable learning experience. The findings suggest that this integration not only decolonizes music education but also bridges the gap between university and elementary school curricula, offering a model for inclusive and culturally responsive teaching.
The Role of Society and Artists in the Preservation of Bamboo Music in Minahasa David Poluan; Syahrul Syah Sinaga; Udi Utomo
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i1.6420

Abstract

Musik Bambu merupakan kelompok orkes musik instrumen tradisional yang berasal dari suku Minahasa, Sulawesi Utara. Penelitian ini berfokus pada dua jenis Musik Bambu di Minahasa, yaitu Musik Bambu Melulu, dan Musik Bambu Klarinet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pelestarian Musik Bambu yang dilakukan oleh Pelaku seni dan Masyarakat di desa Tumaratas dua, kecamatan Langowan Barat, kabupaten Minahasa, dan desa Liwutung. Kecamatan Pasan, Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan kajian etnomusikologi. Etnomusikologi merupakan disiplin ilmu yang memayungi beberapa disiplin ilmu lain seperti musikologi, organologi, dan antropologi. Hasil yang didapati adalah terdapat perbedaan dalam upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dan pelaku seni di desa Tumaratas Dua, dan desa Liwutung. Musik Bambu Melulu yang merupakan jenis Musik Bambu pertama di Minahasa masih dipertahankan keasliannya oleh pelaku seni di Desa Tumaratas Dua meskipun dihadapi oleh tantangan perkembangan zaman. Meskipun banyak ancaman yang dihadapi dalam pelestaran Musik Bambu Melulu, masyarakat di desa Tumaratas Dua juga masih menggunakan Musik Bambu Melulu dalam acara/kegiatan-kegiatan desa. Di sisi lain, Musik Bambu Klarinet di desa Liwutung hingga saat ini masih dilestarikan oleh pelaku seni dan masyarakat disana. Upaya-upaya yang dilakukan adalah perubahan organologi, pengembangan aransemen, dan keterelibatan masyarakat dari kalangan muda hingga dewasa dalam Musik Bambu Klarinet.Kata Kunci: Pelestarian, Perubahan, Musik Tradisional Abstract Bamboo Music is a group of traditional musical instrument orchestras originating from the Minahasa tribe in North Sulawesi. This research focuses on two types of Bamboo Music in Minahasa: Melulu Bamboo Music and Clarinet Bamboo Music. This study aims to determine the efforts to preserve Bamboo Music carried out by performers and the community in Tumaratas Dua village, West Langowan sub-district, Minahasa district, and Liwutung village. Pasan District, Southeast Minahasa Regency This study combines qualitative research with ethnomusicological studies. Ethnomusicology is a discipline that covers several other disciplines, such as musicology, organology, and anthropology. The results found that there were differences in the conservation efforts carried out by the community and artists in Tumaratas Dua village and Liwutung village. Melulu Bamboo Music, which is the first type of Bamboo Music in Minahasa, is still maintained by artists in Tumaratas Dua Village, despite the challenges of the times. Even though there are many threats to the performance of Melulu Bamboo Music, the community in Tumaratas Dua village still uses Melulu Bamboo Music in village events and activities. On the other hand, the Clarinet Bamboo Music in Liwutung village is still being preserved by artists and the people there. The efforts made are organological changes, arrangement development, and community involvement from young people to adults in Clarinet Bamboo Music.Keywords: Preservation, Change, Traditional Music
Moral Messages in Kompang Traditional Music in Bengkalis Regency, Riau Province Anas Madani; Syahrul Syah Sinaga; Udi Utomo
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i1.6422

Abstract

Musik kompang adalah musik tradisi Melayu yang mempedomani dari kitab barzanji berupa nyanyian atau puji-pujian terhadap kebesaran Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW dan diiringi dengan instrumen kompang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pesan moral dalam musik tradisional kompang di Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan interdisiplin. Hasil penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa musik kompang merupakan salah satu sarana yang dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi dalam mendidik melalui syair-syair Al-Barzanji yang dilantunkan, karena bermain musik kompang ini bukanlah suatu tuntutan tetapi merupakan suatu jalan insan berbudaya lebih melengkapi dirinya dengan nilai- nilai ajaran moral yang meliputi: (a) moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan, (b) moral dalam hubungan manusia dengan manusia lain, (c) moral dalam hubungan manusia dengan alam, dan (d) moral dalam hubungan manusia dengan diri sendiri. Penelitian ini mengharapkan untuk kita semua sebagai audience dapat mengambil serta dapat mengaplikasikan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Pesan Moral, Musik Tradisional Kompang. Abstract Kompang music is traditional Malay music which is guided by the Barzanji book in the form of singing or praising the greatness of Allah SWT and the Prophet Muhammad SAW and accompanied by the Kompang instrument. The purpose of this research is to analyze the moral message in Kompang traditional music in Bengkalis Regency, Riau Province. The research method used is a qualitative descriptive research method using an interdisciplinary approach. The results of this study indicate that Kompang music is a means that can be used as a means of communication in educating through Al-Barzanji poems that are sung, because playing Kompang music is not a requirement but a way for a cultured human being to equip himself with moral values which include: (a) morals in human relations with God, (b) morals in human relations with other human beings, (c) morals in human relations with nature, and (d) morals in human relations with oneself. This research hopes that all of us as the audience can take and be able to apply moral values in everyday life.Keywords: Moral Message, Kompang Traditional Music.
Bismillah song aesthetics in Kompang Music in Meskom Village, Bengkalis District, Bengkalis Regency, Riau Province Puteri Vebry Ananda; Syahrul Syah Sinaga; Udi Utomo
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 7 No 1 (2023): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v7i1.6423

Abstract

Kitab Al-Barzanji merupakan karya sastra Arab yang berisi cerita bernafaskan Islam berupa puji- pujian kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya dan puji-pujian kepada Allah SWT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estetika, makna dan bentuk lagu bismillah dalam musik kompang di Desa Meskom Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan interdisiplin yang menggunakan disiplin ilmu estetika dan semiotika. Disiplin ilmu estetika di gunakan untuk mengkaji keindahan pada lagu bismillah, sedangkan disiplin ilmu semiotika digunakan untuk mengkaji makna dan bentuk lagu bismillah. Hasil peneliti menjelaskan tentang estetika lagu bismillah dalam musik kompang di Desa Meskom Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, karena kesenian kompang ini memiliki keindahan dan makna yang mendalam pada setiap lirik lagu yang membuat beberapa dari kalangan masyarakat sangat menggemari kesenian tradisional kompang yang ada di Desa Meskom, sehingga kesenian Kompang ini dapat dinikmati dan di rasakan para penikmatnya.Kata kunci: estetika, al barzanji, kompang, bismillah. Abstract Kitab Al-Barzanji is an Arabic literary work that contains stories with Islamic inspiration in the form of praises to the Prophet Muhammad and his family and praises to Allah SWT. This study aims to determine the aesthetics, meaning, and form of the bismillah song in Kompang music in Meskom Village, Bengkalis District, Bengkalis Regency, Riau Province. This study uses a qualitative descriptive research method with an interdisciplinary approach that uses the disciplines of aesthetics and semiotics. The discipline of aesthetics is used to study the beauty of the bismillah song, while the discipline of semiotics is used to study the meaning and form of the bismillah song. The researcher will examine the aesthetics of the bismillah song in Kompang music in Meskom Village, Bengkalis Regency, Riau Province, because this Kompang art has beauty and deep meaning in each song lyric, which makes some people really like the traditional Kompang art in Meskom Village, so Kompang arts can be enjoyed and felt by connoisseurs.
Innovation of Evaluation of Plating Dance Learning for High School Students Based on “Find the Match” Putri Ajeng Wulan Julitasari; Agus Cahyono; Syahrul Syah Sinaga; Wahyu Lestari
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v8i1.7696

Abstract

Evaluation innovation in art learning using digital media is very necessary. In the era of digitalization development, teachers must have skills in designing and using innovative learning media to attract students' interest. Through evaluating learning innovations using the WorldWall "Find The Match" application in SMA in learning plate dance, students' creativity and interest in learning increase as well as cognitive traits. in developing students. The purpose of this study is to create an evaluation tool using the Wordwall application "Find The Match" to meet the needs of students in the digitalization era by learning plate dance. The research method uses qualitative data Research and Development (RnD) research with descriptive percentage analysis. The results of the study using the wordwall application "find the match" in learning plate dance for high school students and art and culture teachers were very effective and practical which was used in the title "West Sumatra Plate Dance". Using learning through the application makes students' interest in learning dance increase as evidenced by the excellent student response and stimulates students' cognitive development. Keywords: Dance Learning, Evaluation Innovation, Wordwall "Find The Match", Plate Dance.
The Form of Cakatinding Music Presentation at the Wela Rana Art Studio, Manggarai Regency Perseveranda Putra Korsini; Udi Utomo; Syahrul Syah Sinaga
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 1 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v8i1.8272

Abstract

Cakatinding merupakan sebuah kesenian musik tradisional daerah Manggarai Nusa Tenggara Timur yang terbuat dari bahan bambu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis Bentuk Penyajian Musik Cakatinding di Sanggar Seni Wela Rana, dengan harapan dapat mendokumentasikan dan menganalisis bagaimana kesenian ini dipertahankan dan dikembangkan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode dengan jenis penelitian deskriptif yaitu untuk memberikan gambaran tentang Bentuk Penyajian musik Cakatinding di Sanggar Seni Wela Rana Kabupaten Manggarai. Hasil penelitian ini di analisis hingga menjadi sebuah laporan penelitian terkait seni musik Cakatinding. Alat musik ini memiliki bentuk yang mirip dengan kentongan, namun ada beberapa perbedaan mendasar yang membuatnya unik. Yang membedakan alat musik ini adalah keberadaan senar yang terbuat dari irisan tubuh alat musik itu sendiri. Senar tersebut kemudian diganjal menggunakan potongan bambu kecil untuk menciptakan tegangan yang diperlukan agar dapat menghasilkan nada. Kesenian Cakatinding merupakan kesenian tradisionak kabupaten Maanggarai, sehingga lagu-lagu yang dibawakan juga menggunakan lagu-lagu daerah Manggarai. Diantaranya, benggong, so inag so, dere ngkiong lain sebagainya.